Actions

Work Header

The Begin Of the New Era BOOK ONE

Summary:

Ketika para member Bangtan adalah manusia serigala, penyihir, vampire dan Hybrid.
Berada di bawah Big Hit College.
Fantasy fanfic. Gay Warning. Lil smut and a lot of misgrammar.
will slowly burn you and provide you adventure.
it's YoonMin, Namjin, TaeKook story.

 

How their life goes?
Hope you enjoy

Notes:

This is from my wattpad post,
I hope you enjoy it.
Eng.vers coming soon.

I dedicate this story for my beloved friends : Aerith Crystalist

Chapter 1: Main Alpha and The Dragon

Chapter Text

"apa yang kukatakan padamu... SAAT AKU BEKERJA JUNLEEE!!"

Jin terkejut. Suara Namjoon terdengar seperti raungan. Dan sebuah ledakan keluar dari jendela bersama dengan jilatan api. Junlee terlempar dan mendarat di halaman belakang belakang. Beberapa meter dari tempat Jin berdiri, menjauhi rumah dari para Alfa perempuan.

 

*********

 

Namjoon membuka matanya saat mendengar suara pintu depan di ketuk. Headset yang menutup telinganya melorot saat dia tertidur. Dia tertidur dia atas meja dengan tangan yang masih berada di atas mouse. Suara ketukan itu kembali terdengar.

"Ya, tunggu sebentar!" Terdengar suara lembut dari kamar seberang Namjoon, bersama dengan suara langkah kaki yang terdengar terburu menuruni tangga.

Namjoon mengangkat wajahnya dan meregangkan tubuhnya dan menyeka wajahnya dengan kedua tangannya sambil sedikit mengerang. Dia melihat kalender meja, dan melihat tanggal yang terpampang di tool bar monitornya. Ini sudah hari ketiga dia terkurung dalam kamar untuk mengerjakan lagu yang diminta oleh Bang PD-nim dan beberapa assasement dan re-arrangement lagu yang di minta oleh dosen pembimbingnya. Sebagai mahasiswa jurusan music dan composing tahun kedua masternya, ini bukan hal yang pertama tapi tidak pernah menjadi hal yang mudah untuk Namjoon.

Jin membuka pintu depan dengan serius. Dia bisa merasakan aura yang ada di balik pintu itu saat kakinya meninggalkan anak terakhir menuju lantai dasar. Langsung menghadap pintu depan. Aura Alfa yang pekat.

Jin adalah seorang werewolf omega, namun berbeda dengan werewolf lainnya dia adalah peranakan werewolf dan penyihir, penyihir healer. Penyihir yang mampu memberikan kesembuhan dengan sihir dan ilmu ramuan mereka. Namun, Jin berbeda, dia adalah werewolf healer dan mungkin satu-satunya yang menjadi wolf healer di dunia ini. Dia memiliki kemampuan untuk memberikan pengobatan dengan tangan dan nafasnya. Namun, tetap saja, omega tetap harus tunduk kepada Alfa. Dan salah satu Alfa itu ada di balik pintu yang ada dihadapannya.

Si sulung dan tertua di rumah tidak mampu menyembunyikan wajah terkejutnya terutama saat melihat seorang perempuan kecil, pendek lebih tepatnya. Tingginya mungki sedagu Jin. 160 cm atau kurang. Berrambut biru malam mengenakan jaket jumper ungu dan menggendong tas punggung hitam. Ada sebuah koper silver besar disampingnya, ada banyak stiker dan laber penerbangan dari berbagai Negara dan kota. Perempuan itu memakai masker, hingga hanya matanya yang terlihat. Jin melihatnya sedang menoleh menatap kearah kumpulan pot tanaman kecil yang Jin susun bersama Jimin tahun lalu.

Mata mereka bertemu, perempuan itu nampak terkejut. Namun, tatapan mata yang ramah, namun tajam. Ciri khas seorang alfa. Dia mendongak dan menunduk sambil menurunkan maskernya. Wajahnya kecil, terhitung imut dengan rambut sebahu dan tindikan berwarna senada dengan rambutnya.

"Apa Namjoon tidur?" Ucap perempuan itu tersenyum. Suaranya lembut.

"Sepertinya, dia sedang meng-composing lagu untuk-"

"Bang PD-nim selalu membuat monster itu menunjukkan giginya dengan cara yang tepat. Bisakah kau memanggilnya? Katakan, Junlee Pulang." Potong perempuan itu, tersenyum.

"Maaf, tapi siapa kau?" Tanya Jin.

"Pemilik rumah ini. Perkenalkan namaku, Kim Junlee, tapi aku lebih senang dipanggil Junlee atau JL. Aku baru pulang dari perjalanan di London." Ucapnya menunduk dan memberikan tangannya.

"Kim Seok Jin, tapi kau bisa memanggilku Jin. Kau... Al-"

"Rap mengajarkanmu peraturan dirumah inikan? So, stop talking about those things. Dan bangunkan Rap. Berapa umurmu?" Tanya Junlee menaruh tas punggungnya diatas koper.

"24, tahun ini."

"Aku 26, jadi sekarang aku sangat memohon padamu untuk memanggilnya. Karena ada ritual yang harus kulakukan sebelum masuk. Dan hanya keturunan naga yang bisa melakukannya. RAP! GET THE FUCK OUT TO HERE!!" Jin terkejut akhirnya perempuan kecil itu berteriak, bahkan memaki dalam bahasa lain. Jin langsung berbalik dan Namjoon sudah ada di ujung tangga, menggaruk kepalanya.

"Wait, I need to prepare. Sabar dikit napa sih? Kau tahukan, aku berbeda." Namjoon berjalan dengan malas, namun wajahnya berubah saat dia menggores tangannya. Mata Junlee berubah merah silver. Khas mata Alfa Silver Bolt, Begitu pula Namjoon.

Jin terpana, dia mundur beberapa langkah saat tiba-tiba aura di antara mereka berdua berbeda. Ini pertama kalinya dia melihat Namjoon seperti ini. Tidak setelah kebakaran di Brasil. Saat Jin memeluknya berlumuran darah. Mata Namjoon terbuka, mata kuning dengan pupil khas Naga. Junlee menggores jempolnya dan mencipratkan darah ke pintu depan yang terbuka.

Nafas Jin tertahan dengan apa yang dia lihat, darah itu tidak sampai rumah. Dua titik merah itu tertahan, seperti ada barrier menahannya, Namjoon juga mencipratkan darahnya dan seolah menjadi magnet, darah itu bersatu.

"Hyung! Apa yang terjadi? Siapa anak perempuan itu?" Taehyung muncul di samping Jin sambil tersenyum.

Tae adalah seorang Hybrid, tapi bukan sembarang hybrid. Dia seorang spirit Hybrid, yang merupakan bentuk penggabungan spirit, animal, manusia. Yang membedakan spirit hybrid karena jenis penggabungan mereka berbeda, jauh berbeda dan memiliki kekuatan. Taehyung memiliki kekuatan spirit hybrid, beradaptasi dan teleportasi. Juga merasakan perasaan yang ada di sekitarnya.

"Tae! Kau mengejutkanku!" Ucap Jin terkejut dan menepuk lengan Tae.

Darah mereka bersatu dan mulai berasap, bersama suara retakan. Seperti ada kertas yang terbakar bersama dan menjadi abu. Junlee melangkahkan kakinya ke dalam rumah.

"Welcome home." Ucap Namjoon, mata dan tanda di dahinya menghilang sambil tersenyum.

"Glad to be home." Jawab Junlee tersenyum, dan matanya pun kembali ke coklat gelap.

Junlee menatap ke arah Jin dan menatap Taehyung. Gadis itu menunduk dan menarik kopernya menuju tangga.

"Hyung! Siapa perempuan itu, dia Alfa kan?! Aku bisa merasakan kegelisahan Hyung." Ucap Tae.

"Dia pemilik rumah ini." Jawab Jin singkat mengikuti arah gadis itu menaiki tangga.

Taehyung langsung berteleport dan berada di depan pintu kamar Jin yang dari awal memang tidak tertutup. Taehyung menatap heran, kemana arah anak gadis ini berjalan. Dia berdiri didepan pilar besar di antara pintu kamar namjoon dan jin.

"Hello, my name is Tae. Kim Tae Hyung, umurku 23 tahun, mahasiswa music and art di Big Hit college." Ucap Tae menunduk di pelan dan hormat ke arah Junlee saat Junlee menatapnya.

"Hello, saya Junlee. Aah, kau pacar Jungkook kan? Dia pernah menyebut Taetae saat menelponku." Ucap Junlee langsung tersenyum.

"Hehehe, nice to meet you Noona." Ucap Tae.

Junlee tersenyum, membuka kotak saklar kecil yang lama tidak di gunakan dirumah ini. Taehyung terkejut saat melihat tiba-tiba, salah satu pilar itu menggeser dan menjadi sebuah koridor dengan pintu yang lain. Semua orang bisa melihat dari luar, rumah ini memiliki tiga lantai. Tapi Taehyung baru masuk rumah ini awal dua tahun yang lalu dan dia bahkan tidak berani bertanya kepada Jin Hyung dan Namjoon Hyung.

Junlee menunduk meminta pamit dan menaiki tangga. Saat dia merasakan tatapan mata penasaran Taehyung. Dia menghela nafas dan berbalik.

"Maaf, Tae, tapi jangan sekarang." Junlee berbalik dan menatapnya meminta maaf. Namun, ada uara lain yang membuat Taehyung tidak berani untuk membujuknya lebih jauh. Aura yang seperti Jungkook ceritakan, aura seorang Main Alfa benar-benar tidak bisa dilawan.

Tae hyung menghempaskan tubuhnya di sofa ruang depan. Dan menyalakan TV. Dia melihat jam tangannya, hari ini dia tidak memiliki kuliah apapun. Tapi Jungkook masih latihan di salah satu doujo latihan yang disediakan silver bolt. Taehyung mengintip kearah pintu dan melihat pintu itu tertutup. Tiba-tiba dia merasakan pipinya panas, dia memeluk salah satu bantal kursi dan berharap, Jungkook untuk segera pulang.

Junlee menatap kamarnya. Luas namun hanya memiliki beberapa furniture. Dia menyalakan lampu kamarnya, dan membuka beberapa gorden yang tertutup. Nafasnya tertahan saat melihat kebun belakang yang dulunya tanah lapang tempat biasa dia, Jungkook berbaring diatas rumput. Namun sekarang berubah menjadi seperti hutan dengan beberapa tundra dan tumbuhan rambat lainnya.

Junlee terduduk di salah satu sofa kecil yang ada didekat jendela. Dia menatap kamarnya. Hanya ada beberapa furniture. Kebanyakan tentu saja, buku. Sepanjang dinding kamar di kelilingi oleh rak besar, dengan satu rak utama yang berisi susunan dari atas kebawah, komik, novel dan 5 sacred book yang merupakan buku suci dari setiap makhluk non manusia yang saat ini.

“I need up date. I need…” Ucapnya mengeluarkan telepon genggamnya, menelpon salah satu temannya yang merupakan perusahaan furniture kepercayaan klan silver bolt.
“Halo?”
“Kwangsoo-ya miss me?” ucap Junlee mendengar deep voice kwangso yang khas. Junlee bahkan berusaha menahan tawa saat mendengar deep shigh dari Kwangsoo.
“You don’t like me to call?”
“No, malah teleponmu membawa banyak bonus bulan ini, hanya saja… kalau sudah datang, kami semua langsung sibuk. Apa yang kau inginkan?”
“note it. It will be long. I need 25 novel romance terbaru, kau adalah pemilih novel terbaik untukku.”
“Emanknya game yang kemaren kau pesan sudah kau buka?”

Jleb. Dia menyadari sesuatu, dia berdiri dan menuju salah satu sudut tempat T.V dan elektronik lainnya berkumpul, salah satu tempat yang tidak tertempeli rak buku. Dia melihat kardus game yang masih tersegel utuh dan berdebu. Dia menggigit bibirnya, merasa bersalah.

“hehehe…” Junlee tertawa bersalah. Kwangsoo hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Main Alfa paling ceroboh kata Ayahnya, dan benar, tiap kali dia pulang, Silver Bolt akan menghabiskan banyak uang untuk anak gadis yang satu ini.

“Aku akan membawakanmu sore ini, tapi aku hanya akan menerima tambahan permintaan hingga jam 3 sore, mengerti?”

“Okay. Thank’s.”

“It’s our job. Welcome home by the way. Moga kali ini kamu lebih lama.” Ucap Kwangsoo mengakhiri telepon mereka.
Tapi wajah Junlee mengeras, ada rasa pahit didalam hatinya. Namun, dia lalu menguap dan meregangkan tubuhnya. Dia menarik kain putih diatas tempat tidurnya dan menghempaskan dirinya ke atas kasur kesayangannya.

“Home sweet Home.” Ucap Junlee berbaring, dia merasakan perutnya berbunyi. Dia tersenyum, dia penasaran apa sampai sekarang pun, Namjoon juga memiliki jam makan yang sama?

Junlee menghela nafas, dia ingin makan. Tapi terlalu malas untuk keluar dan mencari makan atau pergi ke kantin kampus. Tapi dia juga tidak enak jika harus meminta siapapun di rumah ini. Dia tidak mungkin meminta Namjoon. Dia bisa membahayakan nyawa semua orang untuk itu. Dia tidak berani menyentuh bagian dapur karena bukan dia yang bertanggung jawab. As the rules of bangtan house no.2, don’t mess up the kitchen or person in charge of it.

Dia juga tidak bisa, dia tidak mampu meminta Jin ataupun Taehyung, sudah menjadi seperti kutukan untuk perintah hal sederhana suara Alfa Junlee akan keluar. suara yang tak terbantahkan. Dan Junlee takkan pernah bisa menikmati makanan yang dilakukan karena perintah. Dan pilihan terakhir yang muncul dalam pikiran Junlee adalah tidur dan menanti bau harum yang mungkin saja akan muncul dari bawah.

Jin keluar dari kamar dengan wajah seperti baru terbangun. Taehyung masih di ruang tengah menonton ancore salah satu reality show music. Taehyung bisa merasakan ‘kepuasan’ dan ‘kebahagiaan’, juga ‘kenyamanan’ dari perasaan Jin. Fikiran Taehyung menjadi liar dan berteriak sambil menahan suaranya dalam bantal.

“Tae, kau tidak kuliah?”

“Hm? Ti…dak.” Ucap Tae, masih sambil tersenyum dan menyembunyikan wajahnya di bantal.
Jin menatapnya heran, dan mengingat kemampuan Taehyung. Wajah jin langsung terasa panas juga memerah, dan mengingat apa yang dia dan Namjoon lakukan di kamar tadi.

“Kau… Merasakan kami?! Kamu ngintip?!” Ucap Jin dengan suara yang setenang mungkin. Namun sangat jelas, wajahnya sudah semerah tomat.

“No, I mean. It’s my natural power. I can’t close it!” Ucap Teahyung membela.
Jin menghela nafas dan mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya kepada Tae.

“Pergilah dan belikan aku gula dan sereal. Ini giliranmu berbelanjakan?”

“Hyung, jangan bilang—”

“Bukaaan, aku tidak mungkin melakukannya lagi! Aku hanya ingin mengendalikan perasaanku terlebih dahulu. Kau juga pasti ingin melihat Jungkook berkeringatkan di doujo, pergilah ke minimarket dekat sana. Gulanya murah.” Ucap Jin. Taehyung tersenyum, dia bisa merasakan apa yang dirasakan Hyung tertuanya. Malu dan bahagia, juga perhatian.
Taehyung meninggalkan rumah, saat dia melihat sebuah mobil mini van yang berisi perempuan-perempuan dengan perasaan yang mengerikan, membuat Taehyung cepat-cepat meninggalkan menjauh, tanpa tahu. Dimana mobil mini van berhenti.

Jin merasakan Aura Alfa yang begitu ramai dan pekat, juga tidak menyenangkan dari pintu depan. Jin menutup kembali kulkas. Saat Jungkook datang dan setengah berlari masuk.

“Hyung, keluarlah di taman belakang sebentar. Aku akan mengurus those bitches. Demi apa Noona membawa mereka ke bangtan house. Bahkan Jessica?!” Jungkook marah dan menaiki tangga dengan mata ungu Alfa campurannya.

“NOONA! Noona ada di ataskan? Keluar dan urus para perempuan itu!”

 

KRAK!

Namjoon terkejut saat merasakan lantai rumah sedikit bergerak dan matanya terkejut saat melihat Kaki Jungkook sudah meretakkan lantai kayu lantai dua. Namjoon melepas headsetnya dengan jengkel.

“He—” Namjoon tidak bisa melanjutkan bentakannya karena seekor serigala berbulu perak telah melompati Jungkook.
Namjoon langsung melompat menjauhi pintu saat melihat Jungkook reflex melempar serigala itu ke PC dan meja computer Namjoon, sehingga berantakan. Serigala itu menggeliat dan terjatuh dan mendekat ketempat tidur dan menghilang.

“KIM…JUN…LEE!!!” Bentak Namjoon marah saat melihat PC dan monitornya yang rusak.
Tiba-tiba sebuah tangan muncul dan berdiri, Junlee.

“Rap, let me... Oh my God! Go hide Jungkook!” Junlee tiba-tiba terkejut saat kilat mata Namjoon dari sudut kamar berubah, mata kuning dengan pupil kucing. Ada asap yang tiba-tiba mengepul dari mulut Namjoon.

Jungkook, terdiam. Dia tidak melihat Namjoon, karena sekarang sang naga sedang membelakanginya, namun wajah Jungkook memucat saat melihat apa yang mengayun di belakang Namjoon.

“H…Hyung..”

“what I said about… ME WHEN WORKING YOU FUCKING JUNLEE!!”

Jin terkejut. Suara Namjoon terdengar seperti raungan. Dan sebuah ledakan keluar dari jendela bersama dengan jilatan api. Junlee terlempar dan mendarat di halaman belakang belakang. Beberapa meter dari tempat Jin berdiri, menjauhi rumah dari para Alfa perempuan.
Para perempuan tiba-tiba terkejut dan menyeruak masuk dan menjerit. Kebanyakan dari mereka bertanya ada apa.

Namjoon berubah, setengah perubahan. Sebagai keturunan Red Fang yang merupakan pencampuran darah Dragon of fire and soil yang terakhir. Dia adalah naga Hungarian Horntail. Yang memiliki ekor dengan ujung bertanduk, karena naga campuran, ujung tanduknya terlihat berbeda. Seperti palu yang memiliki api yang membara.

“Bau busuk apa ini?! Kok ada bau Omega sih, perasaan rumah Junlee cowok semua kan?!” Jerit Taeyeon.

“WOI, CEWEK, KALO SAYANG ROK KELUAR SEKARANG!” Teriak Junlee saat menyadari, mobil mini van yang masih sama itu.

“NAMJOON-AH ITU EKOR DIJAGA! RUMAH INI MAHAL DAN ANTIK! YOU STUPID DRAG!” Teriak Junlee.

Tak lama terdengar suara gemuruh.

“Jin, masuklah ke dalam rumah, dalam hitungan kelima.” Bisik Junlee, berlari menuju rumah

“Apa?!”

“Satu…”

“Dua…”

Jin dan Junlee berlari dengan arah yang berbeda tapi menuju jalan yang sama. Junlee masuk melalui pintu depan dan menarik semua gerombolan alfa girl itu mendorong mereka untuk tiarap. Saat Jilatan api keluar dari tangga atas dan keluar hingga ke pintu depan. Para gadis menjerit dan berlari masuk ke dalam mobil sambil memaki dan menghina. Dan langsung kabur meninggalkan rumah Bangtan.

“Namjoon-a! sayang, kamu dimana?” Jin langsung naik ke lantai 2 yang benar-benar hangus, yang tersisa dari jilatan api hanya kamar jin yang sama sekali tidak terbakar.

Bahkan ada sedikit lubang dikamar Namjoon. Jin melihat kesekitar dengan khawatir. Dia bahkan tidak pernah melihat Namjoon mengeluarkan apinya selama dia mengenalnya. Jin bisa merasakan ada rasa tidak nyaman dalam diri Namjoon sejak kejadian di Brasil. Jin terhenti di depan sebuah pintu besi. Jin memegang gagang itu dan terkejut saat merasakan bahwa pintu itu adalah sebuah ruangan yang tertutup terdiri dari lapisan besi yang berat yang kedap api dan suara.

Jin menatap Namjoon sedih saat menemukan setengah hidupnya sedang terduduk memeluk lutut dengan kepala tertunduk, pundaknya bergetar. Ada beberapa kulit ditangannya berubah memiliki beberapa bekas luka bakar.

“Sayang, apa yang kau lakukan disini?” Jin langsung berlutut dan mendekat, meniupkan healer di tangan Namjoon. Sang Naga mengangkat kepalanya dan disambut dengan tangan Jin.

“A..apa kau baik-baik saja, tidak ada yang terluka? Aku tidak bisa mengendalikannya.. aku… aku—” mata Namjoon terlihat bengkak dengan matanya yang nampak memerah karena menangis.

“ssh…” Ucap Jin mencium kedua mata Namjoon lembut.

Pundak Namjoon tidak bergetar, dia menjadi tenang. Jin memang selalu menjadi penenang Namjoon. Begitupun sebaliknya, Namjoon selalu menjadi pelindung dan menyayangi Jin. Sang omega memeluk kepala Jin dan membiarkan si naga berada dalam pelukannya. Menenangkan dan memberikan waktu, tanpa kata-kata sambil mengelus rambutnya.
Hoseok yang sedang secara tidak sengaja bertemu dengan Jimin di perjalanan kembali terkejut ketika melihat ada jilatan api yang khas di langit Big Hit College bersama suara dentuman. Hoseok tau benar jenis jilatan api itu.

“Rap.” Hoseok berlari meninggalkan Jimin, yang akhirnya mengikutinya dari belakang.
Benar dugaan Hoseok, asal api itu dari Bangtan house. Rumah itu sudah setengah terbakar dengan salah satu jendela hancur dan menyisakan bekas terbakar hebat sedang pintu depan hingga tangga sudah menjadi hitam kelam karena terbakar. Ada rasa rindu dan kenangan yang teringat saat dia melihat situasi rumah. Semua kembali ke masa hanya dia dan Namjoon saat di Brasil.

“W..wah, apa yang terjadi?” Jimin saat melihat rumah mereka setengah hancur.

“Taman belakangku!!” Jerit Taehyung saat melihat semua tundra dan pepohonan kecil di halaman belakang tengah dan yang tersisa hanya halaman yang lapang dan hangus. Dia muncul dengan membawa kantongan belanjaan.

Taehyung langsung menghilang dan masuk lebih dulu. Dia bersyukur karena kamarnya masih utuh tanpa terbakar sama sekali. Dia mencari Jungkook yang sedang terduduk dan langsung memeluk Tae saat melihat Si Rubah ada di kamar.

“Ada apa Kook-ie?”

“Namjoon hyung tadi mengamuk karena aku…” Jungkook menenggelamkan kepalanya kepundak Taehyung.

“Apa kau sudah meminta maaf?” Tanya Tae, mendorong Jungkook keluar dari pelukannya pelan dan memegang wajah pasangannya dengan kedua tangannya yang besar.

Jungkook menggeleng, matanya tertunduk. Tae bisa merasakan apa yang semua orang rasakan di rumah ini. Dia bisa merasakan rasa khawatir dan bersalah dari pasangannya. Sang Rubah mendongak.

“Apa dia masih marah?”

Tae terdiam, dan wajahnya tiba-tiba memerah dan nampak kikuk.

“Ada apa? Bagaimana perasaan Namjoon hyung sekarang?!” Jungkook panic melihat wajah Tae yang tiba-tiba tidak bisa ditebak.

“Apa kau benar-benar ingin tahu?” Pipi Tae tiba-tiba merona saat menanyakan ini. Namun, Jungkook tidak menyadarinya karena rasa khawatir dan bersalahnya.
Taehyung menghela nafas, dan kembali memegang wajah Jungkook dengan hangat sambil menelan ludahnya perlahan. Menatap kedua mata coklat kesayangan yang selalu menunjukkan semangat dan perasaan yang hangat. Mata yang jujur.

Taehyung mencium Jungkook, melumat bibir bawahnya dengan pelan berusaha tidak membuat pasangannya terkejut. lengannya melingkar di leher sang alfa muda. Jungkook tentu saja terkejut, namun menikmati ciuman dan sentuhan yang terasa sangat manis. Jungkook menjawab ciuman dengan membiarkan Taehyung untuk bernafas lalu memasukkan lidahnya dan memainkan lidah Taehyung.

“Mmaah.” Taehyung mendesah, terutama saat tangan Jungkook turun dan dengan lembut membelai punggung sang rubah, turun hingga pinggang Taehyung.
Tae mendorong dan merasakan nafas mereka berburu.

“Kamu sudah tahu ‘kan? Bagaimana perasaan mereka?”

Jungkook hanya mengangguk, dia tersenyum malu dan pipinya memerah, pipi mereka. Taehyung terlihat lega, dia membuka pintu dan melihat Jimin yang keluar dari kamarnya menuju dapur, sedang Hoseok sibuk memberikan mantra perbaikan untuk rumah mereka. Mata Taehyung tiba-tiba tertuju pada barang dibawa seorang kurir menuju lantai atas.

Taehyung menghilang dan naik keatas menahan orang itu. Tepat saat Junlee menuruni tangga kamarnya.

“Ada apa Tae?” Tanya Junlee bingung. Namun, Junlee langsung sadar dengan kearah mana mata Taehyung tertuju. Kardus Game terbaru. Junlee tersenyum.

“Kau mau memainkannya?” Tanya Junlee. Tae menatapnya dengan penuh harap dan mengangguk dengan cepat.

“Baiklah. Tapi hanya 4 jam perhari okay? Atau kupastikan game itu berpindah tempat ke kamarku yang takkan pernah bisa kau masuki.” Ucap Junlee.

“Yes, Ma’am!” Ucap Tae sambil hormat.

Junlee hanya tersenyum. Manis, dia turun dan mendapati Namjoon sedang makan. Dan dia mengingat, kalau dia sendiri belum makan.

“Sini, Aku juga sudah menyiapkan makanan untukmu. Yang lain sedang berbelanja beberapa yang sama sekali sudah menjadi abu. Untung computer Namjoon bisa diperbaiki oleh Hoseok.” Jin menyiapkan makanan untuk Junlee.

Junlee sangat senang melihat dia diberikan makanan secara suka rela tanpa menggunakan suara Alfa-nya. Dia memakannya dan terasa enak. Jin bahkan menyiapkan gelas air minum disamping Junlee. Jin sendiri sebenarnya senang melihat pemilik rumah menikmati makanannya. Namjoon sendiri menghilang ke kamar mandi.

Hoseok bersama Jimin, masuk dan melihat kearah meja makan, dan mendapati Junlee sedang minum air yang di berikan jin dengan santai. Senyumnya manis, menurut Hoseok. Junlee yang mendengar pintu terbuka dan suara Hoesok dan jimin menyapa membuat gadis itu menoleh.
Junlee pertama kali melihat Jimin dan dia menyukainya. Selain karena ukuran tubuhnya lumayan lebih kecil dari yang lain, dia juga terlihat begitu manis memesona. Tipe kekasih Omega idealnya. Bahkan sempat terucap dalam pikiran Junlee untuk menjadikannya Main Alfa imprint-nya, jika dia bisa memilih. Tapi imprint ikatan yang tidak tetap namun mutlak. Tidak ada yang bisa mengendalikan dan menentukan siapa Imprint mereka. Tapi ketika Main Alfa ter-imprint, dia akan sangat mencintai dan merasa memiliki pasangannya. Dan Junlee tidak menginginkan Si Omega muda di rumah ini mengalami penderitaan itu, atau siapapun yang di kenalnya disini. Karena, tanpa mengenal mereka lebih jauhpun, Namjoon selalu di kelilingi oleh orang-orang baik dari dulu.

“Junlee Noona, apa kau mengingatku?” Ucap Hoseok saat melihat mata yang khas dari Junlee. Bukan, bukan dari warna matanya. Namun, dari bentuk mata milik Junlee yang membuat Hoseok mengingatnya dengan baik.

“Hoseok? Teman Rap waktu di Brasil kan? How’s your school now? Penelitian tentang perbaikan barang masih kau lanjutkan sepertinya.” Junlee tersenyum lembut, senyumnya sama sekali tidak berubah.

Jin mendengarkan dengan tenang, dia ingin mengetahui apa yang Junlee tahu tentang Namjoon yang tidak Jin ketahui. Jin tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri, jika dia sangat posesive dengan Namjoon. Dia ingin memastikan kalau perempuan ini tidak akan merebut Naga kesayangannya darinya.
Namun, tanpa menguping pembicaraan mereka, Namjoon memberikan jawabannya dengan caranya sendiri. Namjoon mengendap-endap dengan membawa sebuah ember. Dan langsung menyiramkan isi ember itu seluruh tubuh Junlee.

“RAP MONSTER BRENG—” Tepat saat Junlee akan menghantamkan kedua tangannya yang sudah terkepal kemeja. Sebuah pisau daging tertancap di atas meja. Matanya menjadi merah silver kembali.

“Peraturan Bangtan No.3 don’t mess Person in charge and all around the kitchen. Calm down here Junlee.” Ucap Jin, menatap Junlee. Mata Junlee kembali normal tapi bibirnya melengkung kebawah. Menatap Namjoon melompat ke belakang Jin, seperti anak kecil.

“Kau beruntung, kau memiliki pasangan yang kuat disini, Naga!” Ucap Junlee berdiri dan meninggalkan meja kembali kekamarnya.

“yeah! Dan aku bangga memilikinya! Wee, dasar Alfa jones!” Ucap Namjoon memeluk kekasihnya dan mengeluarkan lidahnya seperti anak kecil. Pipi jin memerah.
Hoseok menahan nafas saat melihat sebuah tattoo wolf besar terbayang dari t-shirt putih Junlee yang basah. Jimin bahkan langsung tertunduk saat merasakan aura Alfanya yang pekat dan amarahnya. Tapi Taehyung yang sedang memiankan game dari Junlee bisa merasakan perasaan yang lain dari rasa jengkel dan amarah member baru. Ada rasa ‘senang, nyaman, dan hidup dihargai’.

Junlee sedang terduduk membaca salah satu novel barunya saat dia merasakan ada ketukan kecil dari anak tangga pintu kamarnya. Sebuah ketukan halus, yang hanya non-human bisa mendengarnya. Junlee menutup bukunya dan segera turun. Dia melihat Jin duduk dengan siku berada disalah satu anak tangga yang lebih tinggi, wajahnya tenang saat mendongak namun, sang Alfa tertua bisa merasakan ada pembicaraan serius yang ingin Jin katakan.

“Terima kasih.” Ucapnya tersenyum.

“Untuk?” Ucap Junlee bingung, dia malah sebenarnya ingin meminta maaf pada semua member rumah karena sudah merusak dan membuat keributan pada hari pertama dia disini.

“Para cewek-cewek Alfa itu… kau memberikan mereka pelajaran. Mereka sudah sangat lama meresahkan para omega pria dan bahkan melakukan mengerjai beberapa omega muda pria dengan cara yang sangat kasar.” Ucap Jin tertunduk.

“Hm… sudah tugasku.” Ucap Junlee kembali tersenyum

“Hah?”

“Aku adalah pemilik rumah ini, rumah Bangtan, aku juga yang akan meneruskan keturunan Main Alfa. Walau saya tidak tahu kapan saya akan memegang posisi itu. But, I do really hate people are hurt people with their position. Omega tidak pernah meminta untuk lahir omega. Tapi menurutku, mereka pantas dengan semuanya. Omega, alfa, beta semua itu hanyalah label. Identitas, yang menunjukkan tanggung jawab kita. Alfa melindungi, Beta bekerja keras, dan Omega menyayangi. Saya hanya melakukan beberapa hal dalam satu kali gerakan. Yang pasti, sudah kewajiba seorang Alfa, bukan, seorang yang tertua melindungi dan menjaga para muda. Diluar posisi dan apa mereka di bangtan house. Karena itulah, we just use no What or Who, not How old you are. Karena umur hal yang crusial. Aku menggunakan hirarki pra vampire” Ucap Junlee. Tatapannya menerawang ke koridor yang terus dan menunjukkan anak tangga dan sedikit lantai dasar.

Junlee sangat menyayangi rumah BangTan, ini adalah rumah pertama keluarganya dan satu-satunya rumah darah murni dari klan Silver Bolt yang keluar dari lingkungan Silver House. Peraturan itu bahkan di buat oleh orang tuanya. Dengan susunan yang tidak jauh berbeda. Hanya saja, kamar Namjoon dulunya adalah ruang kerja. Alasan kenapa mereka menyebut lantai 2 dengan red zone karena sering terjadi perkelahian, pertengkaran dua Alfa di koridor ini. Junlee tersenyum dan rindu.

“Tapi, kau tetap pantas mendapatkan terima kasih.” Ucap Jin menyentuh lutut Junlee. Junlee tersenyum. Jin mengagumi perempuan ini, walau tubuhnya kecil, dan dia perempuan. Dia mungkin satu-satunya perempuan alfa yang memang pantas mendapatkan Alfa-nya. Main Alfa memang beda.

“Turun yuk, kamu belum berkenalan secara resmi dengan semua member Bangtan house kan?” Tarik Jin. Junlee terkejut, tapi tidak menolaknya.

Mereka turun, dan Junlee tersenyum melihat 5 orang lainnya sedang berada di ruang tengah dan meja makan, sepertinya mereka sedang menonton film bersama. Jungkook dan Taehyung duduk dalam salah satu single sofa dan saling memeluk. Hobi dan Jimin duduk disofa yang lebih lebar dengan kaki yang saling menyilang. Namjoon duduk di meja makan, sambil memegang semangkok sereal. Junlee melihat keluar dan melihat langit yang mulai gelap dan si Naga ini malah makan sereal sekarang. Junlee tertawa kecil melihat teman kecilnya itu.