Actions

Work Header

Promotion

Summary:

Kalau orang-orang kantor suka bilang Lee Sangyeon punya big dick energy, sebagai saksi mata yang telah melihat aslinya, menurut Jaehyun sih emang ini orang kontolnya gede banget aja, jadi pantes kelakuannya kayak gitu.

Notes:

This is because I said if Om Jangan Om gets a hundred kudos then I'll write another.

If you're not okay with explicit words such as kontol, memek, etc. then turn back now.

Under any circumstances, DO NOT copy my work or publish it on any other platform. Thank you.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Jaehyun telah lama menantikan promosi jabatan ini untuk akhirnya jatuh ke pangkuannya.

 

5 tahun terhitung sejak ia pertama mengabdi dan 5 tahun pula Jaehyun bersumpah bahwa hidup dan matinya ia persembahkan kepada Lee Corp. Untuk menjadi anggota termuda board of directors di perusahaan tersebut adalah impian terbesarnya. Dan setelah menghadapi proses screening dan evaluasi yang berlapis-lapis, kini Jaehyun tinggal satu langkah lagi dari mewujudkan mimpinya jadi kenyataan.

 

“Jangan panik, interview ini cuma sekedar formalitas kok. Aslinya lebih mirip undangan makan malam kasual supaya Chairman Lee bisa lebih mengenal Anda di luar settingan kantor sebelum bergabung menjadi anggota BOD. Oh, satu hal lagi. Ini cuma buat jaga-jaga, tapi saya sarankan Anda bawa baju ganti besok. Good luck! ” 

 

Begitulah ucap si asisten cantik kemarin saat memberikan Jaehyun sebuah alamat untuk final interview yang ternyata adalah alamat dari tempat tinggal sang direktur sendiri. Maka, setelah menghabiskan 45 menit mengendarai mobilnya dengan seonggok baju ganti di kursi depan yang ia tidak yakin sebetulnya untuk apa, Jaehyun sampai di sebuah komplek perumahan yang lebih cocok disebut benteng dibanding rumah.

 

Malam ini adalah malam di mana Jaehyun akan membuktikan apakah 5 tahun pengabdiannya akan membuahkan hasil atau malah berakhir sia-sia. Sayangnya, tetap tak ada yang dapat mempersiapkannya untuk apa yang akan terjadi di ruang makan kediaman Lee Sangyeon, the Chairman of Lee Corp.



---




“Maaf Pak, sepertinya saya salah dengar pertanyaan Bapak. Boleh diulangi?”

 

“Oke, Jaehyun. Kamu lihat Sunwoo yang duduk di sebelah saya semalaman ini?”

 

“Lihat, Pak.”

 

Memang sedari awal mereka makan malam, Lee Sangyeon ditemani seorang lelaki manis yang hanya duduk membisu di sebelahnya. Jaehyun tidak tahu-menahu, Sangyeon pun juga tidak mengenalkan. Yang pasti, Sunwoo (yang kini Jaehyun tahu namanya) bukanlah salah satu pegawai Lee Corp. Menilai dari tampangnya saja Jaehyun tidak yakin kalau anak ini sudah tamat kuliah.

 

“Menurut kamu Sunwoo bagaimana?”

 

“Gimana apanya ya, Pak? Saya kurang yakin harus jawab apa —”

 

“Cantik kah? Manis? Seksi?”

 

Hah?

 

“Uhm … Manis sih Pak …” jawab Jaehyun sambil sedikit mencuri pandang ke arah si subjek pembicaraan yang sibuk sendiri mendorong-dorong makanan ke ujung piring dengan sebuah garpu. Sunwoo terlihat tak acuh walaupun namanya sudah berkali-kali disebut. Jujur Jaehyun bingung pembicaraan mau dibawa kemana dan Sunwoo-Sunwoo ini tuh siapa?

 

“Kamu mau tidur dengan Sunwoo?”

 

“Ehh?? Maaf, gimana Pak??”

 

“Iya, tadi kamu bilang Sunwoo manis. Berarti kamu ada ketertarikan. Kamu mau tidur dengan dia?”

 

Sumpah.

 

Ini kayaknya job interview teraneh sepanjang masa yang pernah Jaehyun ikuti.

 

“M-maksud saya gak begitu, Pak. Sunwoo … m-muda dan berpenampilan menarik (kenapa tiba-tiba dia ngomong kayak tulisan di kolom lowongan kerja?) Tapi saya gak ada maksud buat ngambil dia dari Bapak.”

 

Aneh. Padahal Sangyeon yang sedari tadi mengucapkan hal-hal absurd bin ajaib, tapi kenapa malah Jaehyun yang terbata-bata dan merasa harus menjelaskan setiap arti dibalik kata-katanya?

 

“Oh, tenang. Saya gak takut kamu ngambil dia dari saya kok, Jaehyun.”

 

Fyuh … Mendengarnya, seketika Jaehyun bernapas lega.

 

“Saya menawarkan. Kamu mau kah tidur dengan Sunwoo?”

 

Tapi gak jadi.

 

Mungkin sebenarnya ia sedang koma karena kecelakaan mobil dalam perjalanan atau mungkin ini halusinasi akibat meminum wine yang disajikan dari awal makan malam. Apapun itu, Jaehyun rasa semua yang terjadi sekarang tak mungkin nyata.




---




Selama berkendara, Jaehyun membayangkan skenario A sampai Z mengenai bagaimana final interview nya akan berlangsung. Tapi tak ada satu pun dari skenario tersebut yang berakhir seperti yang terjadi pada kenyataannya;

 

Di mana dirinya terduduk di kursi makan dengan wajah yang terbenam dalam selangkangan pacar? sugar baby ? keponakan? selingkuhan? dari Lee Sangyeon, orang yang ia percaya dapat mengabulkan mimpi terbesarnya.

 

“Nnngghhh Om … dalem banget …” desah Sunwoo saat lidah Jaehyun mengobrak-abrik liang senggamanya yang bercucuran.

 

Sesuai dengan perintah sang direktur, Jaehyun kini dalam misi untuk memuaskan Sunwoo sampai si remaja manis itu hilang kesadaran. Jaehyun sadar penuh kalau perintah itu sama sekali gak nyambung dengan tujuan kedatangannya. Tapi apa daya, statusnya di sini masih sebagai pegawai yang bisa Sangyeon pecat kapanpun beliau mau. Toh, dia benar-benar sudah selangkah lagi dari mimpinya. Bukankah lebih pengecut kalau dia mundur sekarang?

 

Jadilah Jaehyun dengan giat mengabsen bilik labia Sunwoo satu persatu, meludahi klitorisnya hingga basah tak karuan, lalu menjebloskan indra pengecapnya ke dalam lubang panas yang berkedut hingga hidungnya menabrak kelentit Sunwoo. Dan diulanginya lagi, terus, sampai mata Sunwoo berputar ke belakang dan menyilang nikmat.

 

“Gila sih!” seru Jaehyun dalam hati.

 

Tidak pernah ia seumur-umur bermain dengan memek yang segampang becek ini, padahal dikobel pakai jari pun belum! Lagipula lidahnya sepanjang apa sih sampai si Sunwoo Sunwoo ini sudah meracau keenakan? Kalau mulut Jaehyun tidak lagi sibuk, mungkin ia juga sudah tertawa gemas seperti Sangyeon yang sedang memangku pacar kecilnya di atas meja makan sambil memegangi kedua paha sintal Sunwoo agar tetap terbuka walau bergetar hebat.

 

Eh … beneran pacar kan? Atau cuma lacur aja? Habis gampang crot banget, kayak spek lacur.

 

“Ssshhh … Cantik, hari ini bukan tentang kamu, tapi tentang Jaehyun. Adek mau bantu Jaehyun dapat promosi kan?” Sangyeon berkata dengan nada yang terlampau manis. Sulit dipercaya bahwa ini adalah orang yang sama dengan si direktur kolot yang suka mencak-mencak dan melempar dokumen seenak jidatnya saat rapat.

 

Ketika mendengar namanya dan kata promosi disebut dalam satu kalimat bersamaan, Jaehyun spontan menatap ke atas. Kemeja putih yang Sunwoo pakai di awal sudah hilang entah kemana, sementara dadanya terlihat tembam kemerahan hasil jemari Sangyeon yang tadi iseng memilin kedua puting Sunwoo layaknya seorang yang sedang bosan memainkan stress ball

 

“Yes, please say yes.” doa Jaehyun dalam hati sambil semakin semangat mengerjai memek licin Sunwoo di balik rok kotak-kotak kuningnya, seakan dengan setiap sentuhannya ia dapat meyakinkan si remaja untuk menjawab sesuai isi hatinya.

 

“Hnnnmfff … m-Mauu.”

 

Jawaban Sunwoo teredam di balik telapak tangan mungil yang mencoba menghalau desauan demi desauan yang diciptakan lidah Jaehyun yang menancap di vaginanya dalam-dalam. Rambut hitam Sunwoo  menempel dengan dahi di wajahnya yang penuh peluh. Manis.

 

“Good girl. Kalau gitu kamu harus ngomong apa ke Jaehyun?”

 

“ … th-thank you, Mas J-je-Jaehyun … nggHH-Ahh!”

 

Jaehyun membalas dengan kenyotan di klitoris Sunwoo. Saking kuatnya ia menghisap, pipi Jaehyun sampai kempot dan keluarlah suara seruputan erotis yang bercampur dengan desahan Sunwoo yang menggaungi ruangan.

 

“Lalu?”

 

“Mmhhh … Teruss …”

 

“Terus apa?”

 

“Ahhh … Teruusss m-makan Sunwoo sampe bocorrhh sampe Sunwoo pipiss …”

 

“Yakin cuma itu aja?”

 

“Kobelin Sunwoo juga sampe tolol Masss …” ucap Sunwoo sambil menggoyangkan bagian bawah tubuhnya seperti kesetanan.

 

Masalahnya, liar gerakan Sunwoo yang kepalang sange buat Jaehyun sedikit kewalahan mengimbangi. Akhirnya sang direktur turun andil dan mengunci pergerakan kepala Jaehyun dengan menariknya mendekat ( if that even possible since he’s already nose deep in that pussy ).

 

Sangyeon juga membisikan sesuatu ke telinga si manis yang lalu merespon dengan menjejakan kaki ke paha sang direktur sementara pinggulnya menggelinjang, menunggangi lidah dan hidung mancung Jaehyun bagai naik kuda-kudaan di taman hiburan.

 

Naik-turun atas-bawah. Terus hingga seluruh wajah tampan Jaehyun basah dengan lendir tak berwarna. Sial, tak pernah Jaehyun merasakan dirinya jadi serendah ini. Dengan mata terpejam, dan rambut yang dijambak seenaknya, ia hanyalah sebuah boneka. Bukan, lebih rendah lagi. Ia cuma alat pemuas nafsu bosnya malam ini.

 

Kira-kira bagaimana perasaan ibunya di rumah jika mengetahui anaknya rela melakukan semua ini cuma demi mewujudkan ambisi? Mungkin ibu bisa pingsan kalau tau wajah tampan dan hidung mancung Jaehyun yang selalu dibanggakannya itu hanya dipakai sebagai keset atau alat garuk memek peliharaan bosnya sendiri. Tunggu, itu baru ibunya. Belum ayahnya, kakaknya, dan terakhir … tunangannya. Kayaknya sulit buat Jaehyun bertatap muka lagi dengan Younghoon habis ini. 

 

“Maasss … Mas Jae … Di situ!! A-ah … ahh … AHHHhh!~” Dengan lolongan panjang Sunwoo memuncratkan pelepasan pertamanya langsung ke dalam mulut terbuka Jaehyun yang siap menampung.

 

Menit demi menit berlalu, dan walaupun Sunwoo yang sudah tak bertulang di atasnya itu mulai meracaukan permintaan-permintaan berhenti karena tubuhnya sudah terlalu sensitif, Jaehyun tidak pernah berhenti mengobrak-abrik liang senggamanya, serta menyeruput dan menggigit kelentitnya yang bengkak.

 

Tapi jangan salah, Jaehyun tidak bisa berhenti bukan karena tidak mau berhenti.

 

Tetapi karena hanya Sangyeon seorang lah yang punya suara dipermainan mereka malam ini. 

 

Dan genggamannya di rambut ikal Jaehyun masih sangat erat.




---




Kalau ada orang yang bilang Jaehyun sekarang sudah berada di surga sepertinya ia akan setuju.

 

Karena setiap ia  menatap ke atas, Jaehyun mendapati seorang bidadari berwajah merah, berambut hitam, dengan poni yang menempel di dahinya, sedang menangis bercucuran air mata hasil nikmat duniawi yang tak mampu lagi dibendungnya.

 

Satu setengah jam telah berlalu sejak pertama Jaehyun menginjakan kakinya di rumah/benteng itu. Kini sang direktur Lee tengah menggempur vagina Sunwoo dari belakang sementara Jaehyun berlutut di depan bagai anjing yang setia pada majikannya. Istimewanya, anjing yang ini punya tugas khusus, yaitu melahap klitoris majikannya tanpa henti sementara penis masif seukuran kaleng coca-cola keluar masuk dari lubang senggama di depan mukanya … Which reminds him, he’s definitely not being paid enough for this.

 

Sejujurnya, Jaehyun sedikit culture shock saat pertama Sangyeon melepas gespernya, menurunkan resletingnya, dan mengeluarkan penis yang ketebalannya bisa ia katakan out of this world . Kalau orang-orang kantor suka bilang Lee Sangyeon punya big dick energy , sebagai saksi mata yang telah melihat aslinya, menurut Jaehyun sih emang ini orang kontolnya gede banget aja, jadi pantes kelakuannya kayak gitu.

 

Sangyeon mengunci lengan Sunwoo di belakang punggungnya, sehingga si kecil hanya bisa tersentak maju mundur mengikuti ritme hentakan. Sekali dua kali air mata dan liurnya meleleh jatuh ke wajah Jaehyun dan lantai di bawah mereka.

 

Cantik.

 

Sunwoo benar-benar cantik.

 

Tak ada kata lain yang bisa mendeskripsikan Sunwoo lebih baik dari kata cantik. Tunggu, mungkin kata manis juga cocok? Tapi intinya adalah, Jaehyun mengerti betul kenapa Sangyeon berperilaku begitu berbeda di depan remaja berkulit sawo matang ini. Kalau mampu Jaehyun juga mau memberikan dunia dan segala isinya agar bisa memiliki Sunwoo.

 

Oleh karena itu, beberapa kali Jaehyun dengan sengaja mengusapkan lidahnya ke bagian penyatuan dua sejoli itu. Lantaran setiap ia melakukannya, Jaehyun disambut dengan vagina berkedut yang kian meler dan nafas tercekat si bos yang merasakan penisnya diimpit semakin ketat. Jaehyun rasa ia telah melaksanakan tugasnya dengan baik sejauh ini.

 

“Mmhhh … Omh … S-sunwoo mau keluar lagih …”

 

“Iya? Memek Sunwoo mau crot lagi? Gampang banget sayang? Titit Om aja belom kamu puasin sama sekali. Udah kendor kayaknya kamu karena kebanyakan dipake ya?”

 

Oh ya, satu hal lagi. Jaehyun gak pernah menyangka bosnya yang (dulu) sangat dihormatinya ini ternyata jagonya mengeluarkan kata-kata jorok saat seks.

 

“Ennggakkk … Gak kendorrh … Msih ketat!”

 

“Terus? Kok bocor mulu? Kayak keran aja.”

 

“Sunwoo gak kuathh … Kalo … k-kalo itil S-Sunwoo diemut terushhh … haaa … basahhh … Mas Jeje jago … Mash Jeje enakkhh …”

 

Seketika Jaehyun dan sang direktur bertukar pandang. Sangyeon melihat ke bawah dengan tampang bete, sementara Jaehyun (walau cuma setengah atas wajahnya yang terlihat karena… ya kalian tau sendiri lah setengah bawahnya sedang apa) memandang balik dengan tatapan menantang (segalak mungkin yang ia bisa lakukan dari balik vagina seseorang), seakan berkata “Lah kan saya kan di sini cuma disuruh Pak Bos!”

 

Ckckck, jangan bilang Lee Sangyeon, Chairman of Lee Corp. cemburu dengan karyawan kroco selevel Lee Jaehyun karena sesuatu seperti ini. Bisa-bisanya …

 

“Jaehyun, coba bangun sebentar. Kayaknya Sunwoo mau main yang lain. Iya kan, cantiknya Om?”

Uh-oh … Apa lagi sekarang, ya tuhan …




---




“Pak … Ini yakin …?”

 

Jaehyun menatap di mana kedua bagian tubuh Sangyeon dan Sunwoo menyatu. Ada celah sempit di lubang senggama becek itu yang sudah Sangyeon siapkan dengan tiga jari yang sempat keluar masuk mengkobel disamping penisnya, dan Jaehyun diharapkan mengisi kekosongan itu dengan miliknya sendiri.

 

Alias, yang bener aja, Lee Sangyeon!

 

“Saya kan sudah bilang iya daritadi.”

 

“Tapi ….”

 

“Kamu gak mau? Berubah pikiran?”

 

Siapa yang gak mau kalau sudah disodorin depan mata sih? Tapi… Gimana ya… Ini tuh bukan masalah mau atau enggak, tapi lebih ke mampu atau tidak Sunwoo menampung mereka berdua (itu kontol gede banget, tolong!) dan Jaehyun kesulitan mengungkapkan maksudnya ke sang direktur.

 

“Bukannya saya gak mau pak, tapi Sunwoo ….”

 

“Oh, kamu khawatir gak cukup? Tenang, dia udah sering kok.”

 

Hah sering gimana?!

 

“Iya, dia udah biasa main bertiga. Jadi santai aja, gak bakal robek.”

 

Jaehyun kira dia cuma bicara dalam hati, tapi ternyata isi hatinya melompat keluar dari mulut dengan sendirinya. Mungkin karena saking terkejutnya akan info yang tiba-tiba dibocorkan oleh lelaki paruh baya itu, apalagi ditambah cara Sangyeon mengatakannya; penuh nada bangga sambil mengelus rambut Sunwoo layaknya seseorang yang sedang memamerkan peliharaan terbaiknya.

 

“Jadi gimana? Masih mau join ?”

 

Jaehyun membisu. Mengunyah bibir merahnya yang bengkak karena kebanyakan dipakai. Di hadapannya, Sunwoo menatap sendu dari balik bulu mata lentik dan panjangnya. Menunggu takdirnya, yang Sangyeon serahkan dengan cuma-cuma di tangan Jaehyun.

 

Entah kenapa Jaehyun ada perasaan kalau yang Sangyeon maksud bukanlah sekedar soal bergabung ke ajakan threesome . Namun ada sesuatu yang lebih besar yang keputusannya bisa mempengaruhi masa depannya di Lee Corp.

 

Coba pikir lagi Lee Jaehyun, apa alasanmu ke sini malam ini?




---




Lengan Sunwoo mendekap leher Jaehyun bagai seuntai kalung berharga. Erat, hangat, dan tak mau lepas.

 

Meja makan yang awalnya rapi dengan taplak putih bersih, kini terlihat tak karuan setelah makanan dan minuman yang telah lama mereka tinggalkan menumpahkan isinya di sana-sini. Belum pula bekas pelepasan tiga orang yang masih mengejar surga duniawi yang juga terekam di taplak yang sama.

 

Ia tau ini bodoh, tapi entah kenapa Jaehyun tiba-tiba kepikiran asisten rumah tangga yang nantinya harus membereskan semua ini. Pasti kasihan sekali nasibnya.

 

Setengah tubuh Sunwoo bertumpu di atas meja makan, sementara kaki kanannya diangkat Sangyeon agar membuka lebar dari belakang. Setiap Sangyeon menumbuk penisnya masuk, Jaehyun menyeret penisnya keluar, sehingga tak ada sedetik pun di mana vagina Sunwoo sepi akan pelanggan.

 

“Ngg … ah! Ahhh! Ah! Ommhhh!” teriak Sunwoo panik saat Sangyeon mulai memainkan klitorisnya dengan jempol dan jari telunjuknya. “Jangan dicubit itil Sunwoo nanti lepass!”

 

Bukannya berhenti, Sangyeon malah tersenyum sadis sambil mengecup telinga Sunwoo. Lidahnya menjelajah rongga telinga si remaja dengan usil. Organ kecil basah itu digerakan keluar masuk seirama dengan tumbukan penisnya. Alhasil Sunwoo menggeliat kegelian dan melepas pelukannya dari leher Jaehyun untuk menepis sang direktur dan lidahnya.

 

“Heheh … Om seneng godain kamu, Dek. Memek kamu jadi makin ketat, bikin titit Om tambah enak. Terus, ketatin lagi. Masih bisa kan?”

Shit shit shit.

 

Patuhnya Sunwoo bikin Jaehyun juga merasakan nikmatnya. Tititnya serasa mau putus karena dilumat erat-erat oleh bibir bawah Sunwoo. Walau sudah dijajah dua penis, Sunwoo masih super ketat. Hal ini membuat Jaehyun meragukan kebenaran kata-kata Sangyeon sebelumnya. Masa sih yang kayak gini udah sering main bertiga?




Permainan panas masih berlangsung, Sunwoo yang mulai kelelahan kini terluntang-lantung sambil bersandar di dada bidang sang direktur.

 

Kalau ada yang lihat perbedaan penampilan mereka sekarang, mungkin orang tersebut akan kasihan dengan si remaja, karena tak satupun dari Sangyeon maupun Jaehyun yang melepas pakaian mereka. Kedua pria itu hanya menurunkan celana kerja seperlunya, yang penting penis mereka bisa bebas bermain keluar. Penampilan itu berbanding kontras dengan Sunwoo yang hampir telanjang sepanjang malam.

 

Sunwoo yang sedari awal tidak memakai celana dalam (sumpah Jaehyun shock berat sampai keselek wine ketika Sangyeon pertama kali meminta Sunwoo untuk duduk mengangkang di atas meja makan dan matanya langsung saling sapa dengan memek licin tak berbulu) dan kemeja putihnya sudah hilang entah kemana kini hanya memiliki seonggok rok kuning kotak-kotak yang basah dan kumal melekat di tubuhnya. Sayangnya, rok itu pun ujung kainnya disisipkan Sangyeon ke bagian pinggang, sehingga sia-sia juga karena tidak menutupi kemaluannya barang sekalipun.

 

Selain rok, juga masih ada kaos kaki putih yang menghias jenjang kakinya. Jaehyun suka bagaimana kaos kaki Sunwoo memeluk betisnya, ia kelihatan seperti anak yang baru pulang sekolah.




Di hadapannya, sang direktur yang tersulut nafsu kini tengah sibuk multitasking untuk memanjakan pacaranya.

 

Si kecil digenjotnya sampai mental-mental, tangan kanannya mengkocok klitoris Sunwoo sampai nyaring kecipak basah, dan bibirnya melukis merah-ungu di bagian kulit manapun yang bisa ia temukan.

 

Lucu, tak pernah Jaehyun menyaksikan Sangyeon bekerja sekeras ini di kantor. 

 

Maka sebagai karyawan yang berbakti dan butuh pengakuan, dan dengan contoh teladan sendiri dari seorang Chairman Lee Corp., Jaehyun inisiatif menunduk dan merengut noktah-noktah kecoklatan yang sempat terlupakan. Puting kiri Sunwoo dicoel dan digaruk sampai perih, dan yang kanan dihisap sampai pipi Jaehyun kempot, berharap si remaja bisa memuncratkan susu bagai sapi perah di iklan-iklan.

 

“Ahhh!!! Stop stop stop! Sunwoo sensitif di situ Mas Jej-AHH!!”

 

Tetapi belum selesai si remaja berbicara (mendesah), Sangyeon sudah mencuri perhatiannya lagi dengan menghujamkan penisnya raksasanya sampai mentok. 

 

Dasar, posesif.

 

Sunwoo terjungkal ke depan, kakinya melayang dari tanah. Kalau bukan karena Jaehyun yang menahannya, Sunwoo pasti sudah terjatuh ke lantai.

 

“Takuthh … Ahh! Sunwoo takut hancur! Mentokkk Omm!”

 

“Sssttt … Kamu gak akan hancur karena begini doang sayang. Jangan banyak bergerak, nanti Jaehyun susah nenennya.”

 

Sejujurnya, pose mereka bertiga sekarang terlihat sedikit aneh, dengan Sunwoo mendekap kepala Jaehyun di dadanya erat-erat karena takut jatuh. Namun, karena wajahnya yang menempel di dada Sunwoo itulah, Jaehyun bisa melihat dengan jelas tonjolan yang timbul tenggelam di perut bawah Sunwoo setiap Sangyeon dan ia bergantian memasuki si kecil. Melihatnya bikin Jaehyun tambah sange dan ikut menumbuk titik nikmat Sunwoo lebih keras dan cepat.

 

“Hahhh … Hahhh … Ommmhh … Sunwoo mau pipis ahhh …”

 

“Tahan sebentar sayang.” Napas Sangyeon di telinga Sunwoo bikin merinding seluruh tubuh.

 

“G-gak bisa, Sunwoo mau muncrat banyak-banyak aaa-A-AAHH! Keluarrr aahhh!~”

 

Hangat.

 

Basah.

 

Dan tak kunjung selesai.

 

Tepat seperti kata-katanya, Sunwoo bocor terkencing-kencing, menyemprotkan semua isi kemihnya ke kemeja dan celana Jaehyun, melumuri kedua daging tegang yang ada di dalam lubangnya sampai kuyup. Jari Sangyeon yang masih lekat di kelentit Sunwoo terus mengusap memeknya hingga cipratan pelepasan itu terbang kemana-mana. Gemerciknya terdengar nyaring menyentuh lantai marmer di bawah sana, membentuk genangan dengan cairan lainnya.

 

Tunggu … jangan-jangan ini maksud sang asisten supaya dia menyiapkan baju ganti?

 

Sialan, dia kira Sangyeon hanya akan menyeburkannya ke kolam renang layaknya prank ulang tahun anak-anak remaja. Ternyata yang dimaksud adalah interview ini akan termasuk ngentotin anak orang sampai terkencing-kencing.

 

Shit … Terus, keluarin pipisnya anak pinter. Om mau liat Sunwoo pipis-pipis keenakan,” ucap Sangyeon yang ketawan banget kepalang sange sambil mengecup dahi Sunwoo yang penuh keringat. “Jaehyun, kamu masih mau promosimu? Jangan pernah berenti ngentotin Sunwoo sampai saya bilang berenti. Ngerti?”

 

Jaehyun mengangguk mantap sampai lehernya mau lepas.

 

Aneh. Semua ini aneh buat Jaehyun. Normalnya, keadaan ini seharusnya membuat orang jijik, tapi nyatanya hanya nikmat candu yang ia rasakan.

 

So, Jaehyun fucks like he means it. Well, of course, he does. Karena selain nikmat duniawi tak terbandingkan yang ia rasakan, he also wants need this promotion. So fucking bad.

 

Jaehyun menarik kaki kiri Sunwoo ke atas, sehingga kini si kecil benar-benar tak menyentuh bumi dan hanya bisa menerima serangan gerilya dari dua kontol tanpa ampun. Tangannya dibawa meraba cembung di perut rata Sunwoo dan didorongnya ke dalam, dengan begitu ia bisa merasakan bagaimana penisnya sendiri keluar masuk dari luar.

 

“Ngghhh … Mamaa!!!”

 

Ritme kocokan kedua penis di vagina Sunwoo sekarang sudah tak lagi susul-susulan, tetapi seirama dan setujuan. Saat Sangyeon menusuk masuk, begitu pun juga Jaehyun. Keduanya berlomba-lomba menusuk paling dalam, seakan melonggarkan liang Sunwoo adalah satu-satunya tujuan hidup mereka saat ini. 

 

“AaauuhHh kenceng b-bangethh … Sunwoo udah gak bisaaa … Huhuhu mamaaa … Enakhh Maahh …”

 

Yang bener aja, ini anak lagi dikontolin malah manggil-manggil mamanya? Beneran deh, Sunwoo Sunwoo ini tuh kelahiran tahun berapa sih?

 

“Shhh, jangan tereak-tereak. Adek mau dipejuin sama Om sama Mas Jeje? Hmm? Sama dua kontol sekaligus?”

 

“M-mauu … Tapi Sunwoo … ngghh …” Sunwoo tersedak tangisan dan ludahnya sendiri setiap Sangyeon dan Jaehyun menggenjotnya makin dalam. “S-sunwoo mau pipis lagi-AH! Pleaseee bolehin yaa Ommmhh?”

 

“Jangan tanya Om. Hari ini harinya Jaehyun. Coba kamu tanya dia,” perintah Sangyeon dengan seringai licik ke arah Jaehyun. “Gimana Jaehyun, menurut kamu Sunwoo udah pantas buat crot lagi belum?”

 

Fucking hell. What a sick, sick man he’s working for.




---




Sunwoo squirting bersamaan dengan orgasme pertama dan terakhir Jaehyun malam itu.

 

Setelah Jaehyun mencabut penisnya keluar, Sangyeon menidurkan Sunwoo telentang di meja makan. Tidak, bukan supaya si kecil bisa istirahat. Tetapi supaya ia dapat lebih leluasa menghujam liang Sunwoo beberapa kali lagi sebelum ikut membuang pelepasannya di dalam lubang yang sudah melar dan enggan menutup itu.

 

Saat ia  selesai, sang direktur berdiri menjauh dari meja makan, menatap puas akan hasil karyanya (dan Jaehyun) malam ini; Sunwoo yang diambang kesadaran, tersenyum bodoh sambil mengangkang memamerkan memeknya yang berantakan dan merah membengkak.

 

Sangyeon meninggalkan beberapa tamparan kasar di mulut vagina Sunwoo, namun si remaja masih terbaring lemas tak berdaya. Cuma erangan kecil dan dada yang naik turun satu-satunya tanda bahwa Sunwoo masih bernyawa.

 

Jaehyun tak percaya betapa cantiknya pemandangan di depannya itu. Kalau tadi Sunwoo terlihat seperti bidadari surga, kini ia terlihat seperti bidadari yang diseret iblis ke neraka namun menyukainya.

 

Lamunan Jaehyun dibangunkan suara berat kursi yang digeret Sangyeon mendekat ke tubuh polos Sunwoo. Seketika dada Jaehyun berdebar kencang. Apa lagi kira-kira yang beliau mau kali ini?

 

“Duduk. Bersihin. Make sure gak bersisa.”

 

Perintah, bukan permintaan.

 

Maka kembalilah Jaehyun ke tugasnya di awal. Di mana dirinya terduduk di kursi makan dengan wajah yang terbenam dalam selangkangan pacar? sugar baby ? keponakan? selingkuhan? dari Lee Sangyeon, orang yang ia percaya dapat mengabulkan mimpi terbesarnya.

 

“Oh, gitu doang?” ucap Jaehyun dalam hati.




---




Jaehyun “membersihkan” Sunwoo dengan telaten seakan-akan ia sedang melakukan job interview untuk posisi cleaning service  di Lee Corp.

 

Ia gunakan lidahnya untuk menyeruput spermanya dan Sangyeon, lalu sisanya yang masih menempel tak tergapai dikoreknya keluar dengan dua jari. Jaehyun berhenti “membersihkan” hanya pada saat ia cuma bisa merasakan rasa Sunwoo di mulutnya yang kini bisa dibilang sudah terlampau familiar.

 

Saking antusiasnya Jaehyun untuk pekerjaan ini, ia tak sadar telah tak sengaja merangsang Sunwoo hingga klimaks lagi untuk terakhir kalinya. Sunwoo keluar dengan cipratan lemah di mulut Jaehyun dan langsung pingsan tak sadarkan diri.

 

Kini semua sudah berakhir, Jaehyun hanya bisa menatap kosong ke meja makan di depannya. Melihat tubuh Sunwoo yang berantakan di depannya, merasakan baju dan celananya yang basah, satu hal terlintas dipikirannya;

 

Is it really worth it?

 

Bahu Jaehyun berat sebelah. Namun kali ini bukan bayangan, melainkan tangan Sangyeon yang meremas pundaknya.

 

Jaehyun menatap ke atas. Ia melihat Lee Sangyeon dan senyum bisnisnya yang ia sering temui di kantor. Tangannya mengulur, menunggu Jaehyun untuk menjabatnya.

 

“Congrats on joining the board of directors, Jaehyun. Welcome to the team.”

 

Anjing.

 

Perusahaan gila.

Notes:

Sorry... I know this is unhinged af... Comments and kudos are always appreciated 🥺

As before, if this gets a hundred kudos I'll write another.

Series this work belongs to: