Actions

Work Header

Love Struggle

Summary:

Ketika festival budaya tiba di Akademiya, Kaveh terpaksa harus memakai gaun cheongsam untuk keperluan crossdressing cafe sesuai kesepakatan kelasnya. Namun, tak lama terjadi konflik dengan seorang pengunjung dan Alhaitham datang untuk 'menculik' Kaveh.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“Gue beneran harus pake baju ini?” Kaveh menatap dengan enggan pada pakaian di tangan Tighnari. Ia ragu-ragu meraih kostum tersebut seiring benaknya terisi oleh konflik batin penuh penyesalan.

Apa yang dipikirkannya saat pemilihan tema kelas untuk merayakan festival budaya bulan lalu? Bodohnya ia sampai mengangkat tangan paling tinggi dan meloncat-loncat kegirangan guna mendukung ide dungu ini. Tindakannya dilakukan hanya semata-mata untuk membalas dendam pada temannya, Tighnari, dengan memaksanya memakai busana feminim tanpa berpikir dua kali bahwa dirinya juga tak mampu terhindar dari krisis yang serupa.

Ya, bukan berarti kelasnya akan gagal mengangkat tema crossdressing cafe untuk perayaan festival budaya yang diselenggarakan Akademiya apabila Kaveh tidak seantusias itu menyetujui konsep unik itu sebab hampir semua anggota kelas sepakat dengan usul tersebut. Sehingga mau sebesar apa penolakannya begitu intens, aktivitas kafe tetap berlangsung dan tidak memberikan pengaruh apapun pada situasi penuh krisis yang tengah dialaminya saat itu.

“Kalo udah tau, ngapain nanya,” jawab Tighnari ikut bersungut-sungut. Ia memandang jijik pada setelan baju terusan lain yang dipegangnya sebelum menghela napas pasrah. “Mending cepet ganti dan selesain tugas lu secepatnya biar bisa bebas dari neraka ini,” pesan Tighnari sebelum sosoknya menghilang di balik pintu ruang ganti.

Kaveh menelan salivanya sambil melirik ke arah gaun bagaikan musuh bebuyutannya. Kemudian ia memejamkan mata dengan teguh hati.

Gue serahin nasib gue kepadamu, ya, Archon.

Namun kontradiktif dengan perkiraan awal dan pikiran negatif yang menyita atensinya, Kaveh merasa tubuhnya begitu cocok dibalut oleh kostum cheongsam merah itu. Setelah ia mencoba memakainya dan berpose sedikit di depan kaca besar, Kaveh hampir saja jatuh cinta dengan jelmaan wanita di hadapannya. Sang gaun cheongsam membungkus ketat figurnya hingga menampilkan lekuk tubuhnya yang indah dan ramping. Kemerahan warna bercampur corak bunga peoni pink keputih-putihan menghiasi sekujur pakaian yang sampai menyentuh lututnya. Tak tanggung-tanggungnya pula, garmen tersebut terbuka dari sisi kanan pinggang ke bawah yang menyingkap paha mulus putih Kaveh. Tinggal dirangkap sarung tangan putih yang mencapai siku lengan, Kaveh sudah siap dengan penampilannya.

Betapa anggunnya Kaveh momen itu terlihat sangat menggiurkan bagi para makhluk yang melayangkan pandang padanya.

Sesaat terlintas sebuah pertanyaan dalam otaknya. Apa kali ini gue bisa ngubah muka datarnya Haitham kalo gue ngerayu dia pake cheongsam?

Kala ide itu tertancap dan semakin dimantapkan dalam hati, Kaveh tak membuang waktu untuk segera keluar dari kamar ganti. Begitu ia menapak masuk ke dalam kelas, salah satu murid memanggilnya terdengar tergesa-gesa.

"Buru, Veh! Lima menit lagi kafe bakal buka dan gue denger udah banyak tamu dari luar juga nungguin kita!" Sebelum Kaveh sempat terpana oleh kostum butler yang nampak maskulin dikenakan oleh Dehya, gadis itu sudah terlebih dahulu menarik tangannya menuju area dapur kecil yang disisihkan di belakang kelas dan melempar pena serta kertas pada Kaveh.

"Tugas lu jadi waiter dan shift lu sampai siang jam 12. Terus menunya udah inget semua 'kan?" Mendapat konfirmasi anggukkan dari Kaveh, Dehya tersenyum puas lalu memukul pundah lawan bicaranya. "Bagus. Intinya lu jangan sampai ngelakuin kesalahan apapun. Mau fatal atau nggak, melayani pengunjung dengan baik adalah prioritas utama lu," sambungnya.

Lima menit sehabisnya, Kaveh mendatangi satu per satu meja yang lekas terisi penuh oleh pengunjung ketika pintu kelas dibuka. Sepanjang mencatat pesanan yang diminta selama berjam-jam, Kaveh terus mencoba tersenyum ramah setiap saat. Walau terkadang ada kalanya ia bertemu dengan situasi menjengkelkan seperti detik itu.

"Gue minta dibikinin latte, tapi kenapa yang dateng malah cappuccino?! Lu bisa nulis pesanan gue dengan bener, nggak sih!" Seorang pengunjung menggebrak meja kemudian berdiri menunjuk-nunjuk ke arah Kaveh. Lantas ia menjadi pusat perhatian para tamu kafe yang sedang menyeruput minuman sembari menunggu kelanjutan drama.

Sementara Kaveh masih mempertahankan senyumnya, meski diam-diam berbalik geram sambil mengumpat dalam hati.

Elu yang jelas-jelas minta kopi cappucino, kenapa malah nyalahin gue!

"Emang lu jadi cewek nggak bener! Cantik iya tapi nggak punya otak!"

Seketika tali kesabaran Kaveh terputus. Senyum pun memudar dari wajahnya yang perlahan berganti menjadi ekspresi menakutkan. Ketika ia bermaksud untuk mengeluarkan sumpah serapah berikutnya, seseorang sudah melangkah lebih cepat dan mengintervensi pertikaian tersebut.

"Stop," ucap lelaki bersurai abu-abu menggunakan seragam sekolah. Suaranya begitu lantang dan otoriter sampai-sampai keributan yang terjadi pun mereda. Sepatu hitam si surai kelabu menimbulkan bunyi nyaring di tengah kesunyian itu tiap melangkah menghampiri sumber kericuhan.

Netra sang kelabu mendarat sejenak pada Kaveh dan memandangnya secara lekat-lekat sebelum segera beralih pada pengunjung yang barusan berkata tidak senonoh. Ia pun bersuara, "Karena Anda sudah membuat keributan tak berarti, saya akan menggiring Anda keluar dari area sekolah."

Tentu saja si pengunjung tidak menerima perlakuan tak terhormat itu. "Apa posisi lu sampai bisa nyuruh-nyuruh gue, hah! Lagian yang salah si cewek bodoh ini yang mikirnya pake dengkul!" serunya tampak berapi-api.

Kaveh spontan menyangkal. "Baji–"

"Pak." Suara si kelabu turun beberapa oktaf. Terdengar sangat berat, dan sukses menekan momentum sang pengunjung sampai memaksanya mengambil langkah ke belakang. Apalagi figur si kelabu yang menjulang tinggi di hadapannya sama sekali tidak membantu mengurangi rasa takut terhadap lelaki berwajah datar itu.

"Saya sudah diberitahu oleh rekan saya, Cyno, bahwa Andalah yang melakukan kesalahan pemesanan tersebut. Bukan oleh pelayan ini," si kelabu berhenti sesaat seiring menoleh pada Kaveh, "dan tolong periksalah ke dokter mata karena saya pikir Anda terlalu buta untuk menyadari bahwa pelayan ini berjenis kelamin pria. Satu hal lagi, jangan samakan perempuan dengan tipe orang seperti Anda yang merupakan sampah masyarakat."

Tanpa berlama-lama lagi, si kelabu mengisyaratkan dua siswa lain di dekat pintu masuk untuk mengantarkan sang pengunjung yang sudah kalah telak oleh perkataan pedasnya dan hanya bisa berdiri linglung dengan tatapan kosong. Seusainya, ia menyingkir untuk berkoordinasi dengan timnya sementara Kaveh mendapatkan konsolasi dan pujian dari sekitarnya.

"Nggak usah peduliin omongan sampah seperti itu!"

"Sumpah tapi kamu cantik banget! Kukira cewek tulen awalnya."

"Best crossdress, nggak sih? Anyway, jangan buang-buang emosi buat hal yang gak guna itu!"

Rasanya Kaveh ingin menjejali tiap kata yang keluar ke dalam para pengucapnya lagi saking dongkolnya. Apa yang mereka lakukan ketika Kaveh sedang dihujani ocehan kasar oleh pengunjung tadi? Haruskan Alhaitham datang dulu agar masalahnya terselesaikan?

Beruntungnya penyelamat yang disebutkan akhirnya sudah kembali sebelum Kaveh lepas kendali dan merutuk tamu-tamu lain.

"Kaveh. Ikut gue sekarang," titah Alhaitham tak bisa diganggu gugat.

"Tapi shift gue belum selesai…?"

Alhaitham melirik ke arah jam tangannya. "Nggak ada bedanya udahan sekarang atau sepuluh menit lagi ke jam dua belas. Gue udah minta izin ke Dehya juga." Setelah berkata demikian, Kaveh menemukan Dehya melambaikan tangannya dari balik partisi yang membatasi dapur dengan zona kafe utama. Mulut Dehya bergerak tanpa suara seraya tangannya sibuk menggesturkan ke arah Kaveh.

Kaveh lalu mengalihkan pandang kembali ke Alhaitham. "Apa gue perlu ganti baju dulu?"

Alhaitham terdiam sejenak walau maniknya erat sekali menaruh atensi pada cheongsam merah yang dikenakan Kaveh. "Nggak perlu. Ayo kita pergi," ujarnya berbalik dan melangkah menuju koridor sekolah. Mau tidak mau Kaveh harus menyusulnya setelah meletakkan peralatan di tangannya.

"Emang kita mau ngapain?" tanya Kaveh celingak-celinguk melihat aktivitas di dalam kelas lain yang dilewatinya.

"Apalagi kalo bukan makan siang," jawab Alhaitham singkat.

"Lho, tugas patroli lu udah beres?"

"Lu pikir anggota komdis gue aja?"

"Dih, nggak usah sewot dong."

"Siapa yang nambah kerjaan gue di saat gue lagi istirahat?"

Kalimat yang dilontarkan Alhaitham menjadi pengingat Kaveh akan kejadian buruk tak lama ini. Lantas amarah yang sudah redup dalam dirinya kini tersulut dan menunjukkan tanda-tanda akan meledak.

"Ya, bukan salah gue kalo si orang nggak jelas itu–"

Namun perhatian Kaveh mendadak bergeser pada poin yang sukses mengguncang pikirannya.

"Lu rela ngorbanin waktu istirahat lu buat gue?!" seru Kaveh tiba-tiba dengan wajah terkejut.

Alhaitham memutar bola matanya. "Karena posisi gue paling deket sama tempat lu. Lu pikir gue mau apa?

"Tsk. Gue kira ini saatnya lu mulai peduli sama gue."

"Terus aja mimpi."

"Iya, iya deh. Terus ngapain lu bawa gue keluar kalo nggak peduli. Ngajak makan siang segala. Jangan-jangan lu mau traktir gue? Ya nggak mungkinlah lu–"

"Gue yang traktir."

"--sebaik itu, hah?!!"

Lajurnya terhenti, sedangkan mulutnya ternganga tidak percaya. Bayangkan saja, seorang Alhaitham bersedia untuk mentraktirnya? Ketika sehari-hari Alhaitham selalu bersikap tidak sopan padanya? Bahkan Kaveh lebih memilih untuk mengakui bahwa bumi itu datar daripada mendapati perubahan perilaku Alhaitham yang aneh ini.

"Kenapa. Lu ada masalah?" Alhaitham menengok sambil menaikkan sebelah alis.

"Apa kepala lu kepentok meja sampai cedera parah? Apa mau kita ke klinik sekolah dulu buat ngecek keadaan lu? Atau–"

Belum sempat Kaveh selesai mencurahkan kekhawatirannya, Alhaitham telah mendengus dan melenggang pergi mendatangi salah satu kios. Sosok kelabu itu berpikir waktunya dapat dipakai lebih efisien dengan memesan makanan dahulu dibandingkan mendengarkan cerocosan Kaveh tanpa henti.

"Hei! Gue beneran lagi mikirin buat lu tapi lu kenapa malah lari!" Kaveh buru-buru mengejar Alhaitham yang baru saja selesai membayar dan menerima pesanannya.

"Haitham–"

Sang lelaki yang dipanggil pun membungkam mulut Kaveh dengan memasukkan setusuk yakitori dan menyodorkan sisa bungkusan lain pada dada Kaveh. Refleks Kaveh melahap dan mengunyahnya dalam diam. Kedua pipi si pirang menggembung kala mulutnya terisi penuh oleh makanan layaknya tupai menggemaskan.

Alhaitham memandang tontonan di hadapannya dengan puas lalu lanjut berjalan menyisir koridor sekolah dan berhenti di depan kafe kelas lain yang tampak ramai. Kehadirannya di tengah kesibukkan kafe tidak cukup untuk menghentikan salah satu murid yang menjabat sebagai kasir mendapati sosoknya di luar. Murid tersebut kemudian memanggil temannya dan tengah berbincang sesaat sebelum si teman pergi ke dapur dan mendatangi Alhaitham dengan plastik yang membungkus kotak makanan yang masih hangat.

Setelah menerimanya, Alhaitham berbalik dan bermaksud menginformasikan Kaveh ketika netranya sekilas bergetar dikejutkan oleh aksi Kaveh yang terpaku pada urusannya sendiri.

Kaveh tengah memiringkan sedikit kepalanya seiring ia menggigit pelan ujung sarung tangan putih di bagian puncak jari telunjuk dan menariknya lepas dari tangan kanan. Ditangkapnya salah satu pasang sarung tangan tersebut dan dilemparnya ke Alhaitham yang masih terpukau di tempat. Kemudian Kaveh lebih leluasa memakan yakitori dari kotak yang dipegang pada tangan kirinya tanpa mengotori sarung tangan bersih tersebut.

Di sela-sela menelan camilan lezat itu, Kaveh merasa risih kala Alhaitham hanya mengunci mulutnya dan menatapnya tak berkedip. “Kenapa?” tanyanya bingung.

Alhaitham mengernyitkan dahinya. “Are you trying to seduce me?”

Hening menyelimuti sekitar mereka.

Hingga Kaveh bersuara memecah senyap. “Gue pake kostum ini aja lu nggak bereaksi apa-apa. Gimana caranya gue bisa ngegoda lu?” jawabnya diakhiri kekehan.

Jawaban Kaveh tidak sepenuhnya salah. Sejak semula, Alhaitham tetap memperlakukan Kaveh seperti biasa. Di saat Kaveh sama sekali tidak menemukan perubahan yang signifikan, ekspektasinya pun sirna dalam harapan untuk merayu Alhaitham. Namun tak disangka-sangkanya jika Alhaitham akan mengajukan pertanyaan demikian. Jujur saja, Kaveh akan berbohong bila ia tak berangan-angan akan terwujudnya keinginan awal yang tersampaikan dalam lubuk hatinya tersebut. Sayangnya ia tahu betul bagaimana cara membedakan realita dengan fantasi.

“Apaan sih lu, Tham. Hari ini perasaan lu nggak jelas banget. Apa bener otak lu lagi ada masalah?”

“Elu yang bermasalah.” Setelah berucap, Alhaitham menenteng kantong plastik dan sarung tangan putih Kaveh dalam genggamannya sambil melangkah ruang komite kedisiplinan sekolah.

“Lah kok nyalahin gue?” Lagi-lagi Kaveh harus mengejar Alhaitham yang melangkah dengan lebar. Walau harus sedikit kesulitan bergerak ketika cheongsam yang dipakainya terlalu pendek dan menampilkan sisi pahanya sekalinya berjalan. Tanpa tahu-menahu sorot mata sang kelabu menggelap kala mengintip dari ujung matanya.

“Omong-omong, lu cepet banget udah siap-siap beliin makanan. Mana ini makanan favorit gue lagi. Tumben perhatian.” Kaveh mengambil duduk di seberang Alhaitham seraya membuka kotak makanan. Lantas aroma semerbak yang menggiurkan menampar indera penciumannya. Tanpa sadar Kaveh meneguk salivanya sebab tak sabar menyantapnya habis.

“Karena gue udah ada rencana buat nyulik lu,” respon Alhaitham pendek.

Gerakan tangan Kaveh yang berniat menyentuh sendok pun terhenti. “Anjir! Ternyata lu dateng ke kelas gue buat nyulik gue berkedok bantuin nyelesaian masalahnya?! Pantesan aja gue sampai disogok pake makanan gini?”

Tanpa memedulikan Kaveh tercengang sambil melirik kotak makanan di depannya dengan was-was, Alhaitham sudah melahap sesendok nasi panas yang masih mengepulkan kabut putih transparan. “Nggak ada bedanya lu makan atau nggak. Kalo lu nggak mau makan, mending gue kasih ke orang lain,” sahutnya.

“Enak aja! Gue udah diculik, masa nggak dapet makan gratis,” sanggah Kaveh cepat-cepat menyendokkan nasi dan memasukkannya ke mulut.

“Tapi tujuan lu nyulik gue buat apa?” Sepintas pikiran itu masih terasa janggal oleh Kaveh, dan ia tidak melewatkan kesempatan untuk bertanya kembali sebelum melupakannya.

“Jangan banyak omong kalo lagi makan,” balas Alhaitham menghiraukan pertanyaan Kaveh.

Alhasilnya Kaveh menggembungkan kedua pipinya dengan sebal. Walau cemberut, Alhaitham menemukannya sangat lucu.

"Gue yakin ada yang salah sama lu. Kenapa lu senyam-senyum sendiri?" Kaveh memicingkan matanya.

Entah bagaimana jalan pikiran Alhaitham berusaha untuk menghindari mengemukakan perasaan sebenarnya, ia malah menjawab, "Lu jelek."

"Lu yang buta! Orang-orang pada muji gue karena gue cantik banget pake ginian. Selera lu yang nol." Kaveh mendengus dan menenggelamkan bibirnya pada sebongkah makanan di hadapan untuk segera ditelannya sampai habis. Kemudian ia mengambil botol air minum dan meneguknya sebelum menghantamnya di atas meja dengan keras.

"Ayo kita liat buktinya!" serunya lantang.

Alhaitham meletakkan sendok di atas kotak makanan yang sudah tersapu habis dengan muka buruk. "Gue nggak bilang kita harus–"

Namun ucapannya terpotong kala Kaveh menarik tangannya menuju koridor ramai diisi oleh sejumlah orang berlalu-lalang. Belum sempat Alhaitham menghentikan perbuatan si pirang itu, sepasang gadis telah menghampiri mereka dengan wajah gembira.

"Ah! Kakak cantik banget! Boleh minta fotonya nggak?" Salah satu gadis menjerit kegirangan sembari menyerahkan ponselnya.

"Wah, boleh dong!" Kaveh menerima uluran ponsel tersebut dan mulai memosisikan dirinya dan kedua gadis untuk masuk ke dalam satu bingkai.

"Say cheese!"

Kaveh tersenyum lebar seraya menggesturkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk tanda 'V' serta didekatkannya pada pipi. Bunyi potret mengabadikan momen sekejap itu.

"Makasih banyak, Kak!"

Ketika dua gadis itu akhirnya pergi, Alhaitham beranjak mendekat pada Kaveh dan berupaya memanggil namanya. "Kaveh–"

"Kak!!! Cosplay-nya keren banget kayak cewek asli! Mau minta foto sama tanda tangan, please!"

Sayangnya banyak nyamuk yang bertebaran di sekeliling Kaveh dan mengganggunya. Akhirnya Alhaitham pun terdorong begitu jauh dari jangkauan Kaveh. Ekspresi mukanya sangatlah tak elok dilihat bagaikan badai tengah melandanya sampai-sampai menakuti orang-orang yang berjalan melewatinya.

"Apa Kakak nggak mau nge-date sama aku sehari aja? Pengen ditemenin sama Kakak," rayu salah satu gadis memeluk lengan Kaveh.

Kaveh hanya tergelak tanpa menyadari tatapan menusuk yang dilemparkan kepadanya. "Yah, nggak bisa soalnya gue harus nemenin orang keras kepala satu ini," tolaknya halus.

Si gadis menyembulkan kepalanya guna melihat Alhaitham yang menyendiri di belakang. "Buat apa? Emangnya dia pacar Kakak?"

Kaveh memutar bola matanya dengan dongkol. "Mana ada! Bukannya sia-sia kalo gue udah taken sama dia?"

Si gadis mengulum senyum kala menemukan lelaki surai kelabu itu kian mempertajam pandangnya seolah-olah mata pisau. "Terus sama aku aja dong," lanjutnya.

"Well, nggak bisa. Tapi kalo lu mau bantu gue, coba ke ruang kelas 11-IPS 3. Dijamin lu bakal puas."

Sesudah berkata demikian, sang gadis langsung melambaikan tangan seiring ia melarikan diri menuju tempat yang dimaksud. Namun tanpa sepengetahuan Kaveh, gadis itu melemparkan seringai provokatif ke Alhaitham walau hanya sesaat.

Kaveh lalu berbalik. "Noh, liat. Lu nggak tau seberapa populernya gue. Hmphh! Eh, dipikir-pikir lagi bagus juga kalo gue terus mamerin ini ke orang-orang biar pada mampir ke kafe kelas gue. Itung-itung publisitas dan kelas gue bisa menang penghargaan kelas terbaik nanti!"

"Nggak."

Belum saja Kaveh sempat bergerak, Alhaitham memberikan larangan seakan perintah yang absolut.

Kaveh melipat kedua tangan di depan dada. "Lu nggak berhak ikut campur sama keputusan gue," tukasnya.

Alhaitham mencibir. "Gue punya otoritas buat menghentikan lu sebelum lu buat keributan," sanggahnya.

Kaveh mengangkat sebelah alisnya. "Apa-apaan coba? Lu liat pake mata sebelah mana kalo gue bakal buat keributan?!"

Paras elok dan tubuh menggoda dalam cheongsam merah selutut lu itu bakal memikat lebih banyak perhatian selama lu jalan ke sana kemari kayak burung merak.

Kurang lebih itulah yang ingin dikatakan Alhaitham, tetapi ia tidak bisa memaksa kata-kata itu keluar dari mulutnya.

"Gue penculik lu, jadi lu harus nurutin gue hari ini." Akhirnya Alhaitham memilih untuk bersikap picik daripada menyuarakan isi hatinya.

"Apaan sih, pokoknya gue nggak mau!" Tentunya Kaveh membantah dan ia bergegas meninggalkan Alhaitham sebelum lelaki kelabu itu menangkapnya. Dengan salah satu tangan memegang sisi bawah cheongsam merah yang dikenakannya, Kaveh lincah sekali menyusuri koridor sempit itu menggunakan flat shoes.

Alhaitham terpengarah di tempat selama dua detik kemudian mendecakkan lidah sembari berlari memburu Kaveh. Tak pernah ia bayangkan bahwa ia akan berpartisipasi dalam permainan kanak-kanak ini sampai ditonton oleh publik. Ia yakin martabatnya telah jatuh di depan mata murid-murid Akademiya. Namun tidak ada yang lebih penting di momen itu selain figur Kaveh dalam cheongsam yang melambai-lambai menarik atensi sejumlah pasang manik yang berpapasan.

That rascal…

Pupilnya menyipit seraya Alhaitham mempercepat langkahnya. Jarak keduanya pun menipis hingga Alhaitham telah mengulurkan tangannya untuk menggapai bahu Kaveh yang hanya terpaut beberapa meter di depannya. Akan tetapi, Kaveh memanfaatkan perempatan di hadapannya dengan membungkuk lalu berbelok ke kiri supaya menghindari dirinya dibekuk oleh Alhaitham. Kemudian Kaveh melesat masuk ke dalam atraksi rumah berhantu dari salah satu kelas.

Barulah Kaveh menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan mengatur napasnya yang terengah-engah. Sekitar tujuh detik ia menetap sebelum segera menjauh dari pintu masuk kala telinganya menangkap suara derapan kaki sayup-sayup.

Awalnya Kaveh berpikir untuk mencari tempat persembunyian yang cocok di sekitarnya. Tangannya sibuk mengibas-ngibaskan ke arah wajahnya karena ia merasa gerah, sedangkan matanya awas meneliti keadaan sekeliling. Begitu santai ia berjalan mengeksplor tempat itu walau beberapa kali dicegat oleh berbagai siswa yang bertugas untuk menakut-nakuti pengunjungnya. Naas bagi siswa-siswa tersebut, Kaveh tak sekali pun berkedip melihat mereka dan terus melacak pintu keluarnya.

Namun perlahan-lahan langkah kaki Kaveh melambat sebab ia mulai merasakan hawa dingin menusuk ke dalam pori-pori kulitnya. Telah terlupakan olehnya jika ia sedang memakai gaun pendek sehingga tak heran tubuhnya tidak dapat bertahan lama dari serangan penyejuk udara. Ia mengusap kedua telapak tangannya guna berusaha mencari kehangatan di tengah ia menggigil tak karuan. Akhirnya ia berhenti dan bergeser mendekati sumber penerangan satu-satunya di dalam rumah berhantu tersebut yang membawakan sedikit rasa hangat baginya.

Selagi Kaveh bersandar pada dinding dan menatap dalam kekosongan, pikirannya tiba-tiba mengungkit memori silam.

Apa gue nggak semenarik itu?

Rasa percaya diri Kaveh runtuh seiring ia mengingat respon apatis Alhaitham ketika ia berjerih payah memasang cheongsam merah pada tubuhnya dengan tujuan merayu orang keras kepala itu. Sampai-sampai ia berkorban untuk meletakkan harga dirinya demi mencapainya. Walau hasilnya nihil.

Tangannya menggenggam ujung cheongsam merah seraya ia mengeluarkan helaan napas panjang penuh akan keputusasaan.

Seumur hidupnya, Kaveh tidak pernah merasakan sesal begitu dalam daripada momen ini. Tak pernah ia bayangkan ia akan terperosok dalam ikatan asmara yang membelenggu hatinya. Sekiranya Kaveh gagal memprediksi bahwa diri mudanya akan jatuh cinta diam-diam kepada teman masa kecilnya sekaligus musuh bebuyutannya.

Tentu saja itu merupakan keputusan terbodoh yang pernah ditetapkannya untuk berusaha mengejar afeksi Alhaitham dengan menerapkan berbagai siasat secara sembunyi-sembunyi, padahal orang yang bersangkutan tak henti berargumen dengannya setiap hari. Kaveh sudah kehilangan harapan bahwa lelaki bersurai kelabu itu setidaknya menyadari usaha Kaveh atau bahkan membalas perasaannya dengan afirmasi. Namun dipastikan jika hal ini adalah mustahil. Sampai detik ini, Kaveh cukup bersyukur ketika Alhaitham tidak lagi meledek maupun terkadang memperlakukannya seperti anak kecil.

Tetapi tetap saja Kaveh selalu gagal untuk menyerah. Ia hanya menemukan dirinya kembali terjerumus dalam lubang yang digalinya, kemudian meninggalkan kekecewaan pahit dalam benaknya. Siklus itu terus berjalan tanpa memandang waktu hingga Kaveh tiba dalam satu kesimpulan.

Alhaitham tidak pernah menganggapnya sebagai kandidat kekasih.

Kaveh menaruh telapak tangan guna menutup area penglihatannya sambil memejamkan mata. Ia berusaha meredam emosi campur aduk yang menyeruak keluar itu dan menenangkan pikirannya.

"Haitham bodoh. Kapan lu peka sih."

"Kaveh."

"Akhh–!"

Kaveh lantas melonjak dari tempatnya ketika mendengar sebuah suara familiar muncul di belakangnya. Begitu mengagetkannya sebab ia menyadari siapa pemilik suara bariton tak asing yang memanggil namanya dengan intonasi seperti itu.

"Hai-haitham! Lu datang dari mana? Kok gue nggak denger langkah kaki lu."

Kaveh panik. Tentunya ia betul-betul cemas akan situasi genting tersebut karena tidak salah lagi bahwa Alhaitham menangkap ucapannya barusan. Kaveh pun merutuki dirinya sendiri dalam hati, sedangkan mulutnya mengungkap ocehan untuk mengalihkan perhatian Alhaitham.

"Lu kalo jalan nggak usah ngendap-ngendap deh. Kayak pencuri tau."

Alhaitham mengangkat sebelah alisnya. "Ceritanya gue emang mau nyulik lu," jawabnya singkat tanpa memindahkan pandang dari Kaveh sedikit pun. Lelaki surai abu-abu itu kemudian bergerak melangkah menghampiri Kaveh.

Satu, dua, dan tiga langkah maju ia ambil. Begitu pula dengan Kaveh yang spontan ikut mundur mengikuti irama Alhaitham.

"Haitham, lu mau ngapain? Bisa nggak kita akhiri permainan ini? Kita bukan anak kecil lagi yang main kejar-kejaran," ujar Kaveh berusaha menyetop tindakan Alhaitham yang membingungkan.

Namun sampai punggung Kaveh menempel pada tembok, hingga Kaveh benar-benar terpojok tanpa jalan keluar di sudut ruangan, Alhaitham tidak menanggapi pertanyaan Kaveh. Sepasang manik elangnya yang tajam menyapu Kaveh dari atas sampai bawah. Tatapannya secara teliti menelusuri si pirang yang meneguk salivanya sebab rasa tidak nyaman mulai menguasainya.

"H-haitham?"

Dan netra Alhaitham berhenti. Tepat bersinggungan dengan milik Kaveh yang berkilauan bagaikan bintang.

"Bagian mana dari gue yang nggak peka?"

Pertanyaan tak terduga yang keluar dari mulut Alhaitham kontan membuat Kaveh tercengang. Atau mungkin Kaveh sudah memprediksi hal itu akan terjadi, tetapi tidak dengan cara blak-blakan seperti ini.

Kaveh memalingkan pandangnya ke samping. "Haha, maksud lu apa? Gue nggak paham." Terdengar getaran dalam suaranya.

"Percuma lu mengelak. Gue udah denger semuanya," tukas Alhaitham.

Kaveh tak lagi dapat menahan malunya. "Gue nggak ngomong apa-apa! Anggap aja lu nggak pernah denger gue berkata kayak gitu. Pokoknya lu yang salah denger. Gue nggak bilang lu nggak peka. Titik!" Cerocosan tak karuan lekas tersembur dari benak Kaveh yang terisi penuh oleh kegelisahan. Ia memutuskan untuk pura-pura bersikap tidak tahu-menahu seiring tangannya membekap mata karena tak sanggup dihadapkan dengan raut muka Alhaitham yang mencemooh.

Namun berbanding terbalik dengan ekspektasinya, Kaveh hanya mendengar bunyi-bunyian kecil seperti gesekkan antar kain. Selang beberapa detik sesuatu menggapai pinggangnya dan menarik ke dalam dekapan seseorang. Refleks Kaveh ingin berteriak ketika ada hal yang berat membebani bahunya.

Kaveh melepaskan tangan dari wajah dan menemukan Alhaitham yang sudah mengambil jarak darinya. Netranya lalu terfokus pada dirinya kala ia mendapati sebuah blazer hitam dikenakan pada tubuhnya.

"Sekarang lu bilang gue nggak peka?" tanya Alhaitham menyilangkan kedua tangan di depan dada.

Kaveh mengerjapkan matanya berulang-kali dan bergantian menatap Alhaitham dengan blazer hitam tersebut. Otaknya masih dalam fase mencerna, sedangkan tubuhnya sudah bereaksi secara jujur. Nampak semburat merah mulai merayap dari leher dan ke atas wajah. Sementara pupil mata Kaveh membulat terpana oleh aksi Alhaitham itu.

"Lu…" Mulut Kaveh kembali dikatupkan ketika ia tidak tahu harus membalas apa. Di satu sisi, perasaan gembira sudah meledak-ledak layaknya kembang api dalam hatinya. Tetapi mau tak mau Kaveh mulai bertanya-tanya apa maksud di balik perbuatan Alhaitham itu. Apakah hal tersebut hanya caranya untuk mengolok-olok Kaveh atau bagaimana?

"Kenapa … lu…"

"Ayo kita balik," tegas Alhaitham. Ia beranjak menuju pintu keluar, tetapi lengannya tiba-tiba ditahan oleh Kaveh.

"Nggak. Gue butuh konfirmasi." Entah apa yang merasuki diri Kaveh saat itu, si pirang dengan beraninya menangkap tangan Alhaitham dan menuntut penjelasan dari si kelabu.

Kaveh tidak ingin dirinya terus terkepung oleh simpul tali berantakan yang saling terbelit erat. Berkali-kali ia mencoba mencari jalan keluar dari rantaian kasmaran tanpa akhir ini dengan susah payah. Tak henti membodohi dirinya sendiri untuk pantang menyerah dan terlarut dalam upaya yang tidak membuahkan hasil.

Jika selama bertahun-tahun belakangan ini berujung sia-sia, setidaknya Kaveh membutuhkan alasan kuat yang tertutur dari Alhaitham. Agar dirinya berhasil terlepas dari cinta rahasia yang telah dipendamnya lama. Itulah yang diharap oleh Kaveh.

"Haitham. Apa lu benci gue?"

"Nggak." Jawaban itu sontak terucap dengan mantap.

"Terus…" Kaveh mengintip ke arah Alhaitham, "sebenarnya selama ini lu nganggep gue itu apa? Lu bersikap seolah nggak suka gue dan kata-kata lu kadang sampai kasar. Tapi kenapa lu selalu sukses ngasih gue alasan untuk berharap lebih sama lu?"

Hening.

Mulut Alhaitham terbungkam. Walau ekspresinya tak berubah sedikit pun, terlihat sekilas pupilnya sempat bergetar terkena syok. Meski begitu, mulutnya tetap terkunci rapat dan tatapannya setengah tertunduk ke bawah.

Berlawanan dengan apa yang diterka oleh Kaveh, Alhaitham bukanlah orang yang tidak sensitif akan rayuan Kaveh sepanjang hidupnya. Pasalnya ia sudah menyadari sejak awal dan menemukan Kaveh menyimpan perasaan sayang terhadapnya.

Dan untuk pertama kalinya, Alhaitham kehilangan kata-kata untuk berespon.

Ia gagal menggambarkan apalagi menyimpulkan apa yang dirasakannya pada detik itu. Maka yang dapat dilakukannya hanyalah memanjakan diri di bawah naungan kehadiran Kaveh dan segala taktik godaannya. Sampai-sampai Alhaitham kian terlengah dan tanpa sadar termakan oleh daya tarik Kaveh entah sejak kapan.

Tetapi ketika dikonfrontasi langsung seperti ini, rasanya tenggorokkan Alhaitham tercekat. Entah apa yang menahan dirinya untuk mengungkapkan perasaan sebenarnya. Apakah harga diri terlalu tinggi untuk menyuarakan isi hatinya?

Namun semuanya runtuh kala manik Alhaitham mendapati muka kecewa penuh pilu milik Kaveh. Amarah maupun sesal tumbuh pesat dari benaknya. Persetan dengan egonya. Ia pikir, jika ia tidak mengatakannya saat ini, Alhaitham akan kehilangan sesuatu yang sangat penting dari hidupnya.

"Kaveh, I haven't said this before but you look very beautiful." Alhaitham mengangkat kepala dan netra mereka saling beradu.

Sementara pegangan Kaveh pada blazer hitam yang menggantung di pundaknya semakin dikencangkan. Ia meremasnya dengan harapan dapat menghentikan laju rona merah yang merambat mewarnai wajahnya. Kaveh mengakui ia ingin menyerah, tetapi pertahanannya roboh bagaikan istana pasir di hadapan Alhaitham yang berusaha berterus-terang.

"Lu bilang gue jelek. Lu bilang gue nggak pantas pake baju kayak gini," gumam Kaveh menurunkan level pandangnya.

"Sorry, gue nggak jujur soal hal itu."

"Lu bukan tipe orang yang mau minta maaf," tutur Kaveh..

Alhaitham terdiam sesaat. "... Then I guess you're special."

Mata Kaveh membesar. "Lu nggak pernah bercanda sebelumnya. Jangan main-main deh lagi serius gini."

"Kalo lu tau gue bukan orang yang suka bercanda, harusnya lu udah paham kalo gue gak lagi bercanda sekarang."

Kaveh perlahan mengepalkan tangannya. "Spesial bagi lu itu maknanya beda sama buat gue."

Alhaitham mengambil satu langkah ke depan. Jarak antara keduanya makin menipis seraya kepala Alhaitham ditundukkan mendekati wajah Kaveh. "Kalo gue tarik kesimpulan dari perkataan lu, lu nganggep gue spesial. Terus arti spesial buat lu seperti apa?" tanyanya.

Kaveh bermaksud untuk kembali mundur, tetapi berikutnya ia menyadari bahwa dirinya lagi-lagi sudah terkepung. Kali ini ia mencoba memberontak, namun kedua tangannya cepat sekali disergap oleh Alhaitham.

"Lepasin, Tham."

"Kenapa? Mau kabur lagi?"

"Nggak." Kaveh menarik paksa tangannya walau tak bekerja. Alhasilnya ia hanya bisa menatap Alhaitham sambil mengerutkan keningnya. "Kalo lu mau ngomong, nggak usah deket-deket banget."

"Gue cuma antisipasi karena keliatannya lu bakal lari kalo nggak gue tahan."

Kaveh memutar bola matanya. "Apa lu harus permaluin gue pake cara kayak gini?" Ia bersuara dalam kepedihan.

Jarang sekali rasa bingung tertoreh di wajah Alhaitham. "Maksud lu?"

Kaveh menengadahkan kepala dan menatap Alhaitham. Sorot matanya nampak merefleksikan bibit murka dari dalam dirinya dengan sentuhan agresivitas.

"Haruskah lu selalu menyudutkan gue dulu cuma buat muasin keinginan lu? Ketika lu udah tau perasaan gue ke lu dari awal, tapi masih maksa gue mengatakannya langsung. Apa ini cara baru lu buat menghina gue? Lu suka ngeliat gue kayak orang bodoh menaruh harapan sama orang yang jelas-jelas nggak bisa membalas perasaan yang sama ke gue. Tapi lu tetep pura-pura nggak tau dan sekarang sengaja nipu gue ngomong 'spesial' lah biar gue akhirnya jatuh ke perangkap lu?"

Di momen Kaveh mendengar Alhaitham menyatakan konklusinya dan beranjak ke langkah selanjutnya untuk menanyakan definisi spesial olehnya, Kaveh tersadar bahwa segala usaha dan kehangatan yang diperolehnya hanyalah ilusi belaka. Manis-manis benih cinta yang dirasanya mulai berkecambah pun berakhir gagal tumbuh sebab telah disiram pahitnya kenyataan di balik kebohongan.

Detik itu, harapan Kaveh sirna dalam sekejap.

"Jangan main-main lagi sama perasaan gue." Kaveh segera meloloskan diri di tengah Alhaitham masih terperanjat di tempat. Ia menggunakan kesempatan emas itu untuk berlari ke luar rumah hantu dan lekas meninggalkan lantai itu ke koridor lain.

Isi pikiran Kaveh kala itu seolah teracak-acak diterpa gulungan ombak deras yang menyapu semua kejernihan otaknya. Emosinya pun tercerai-berai dan gagal mencapai satu integrasi rasa yang menguraikan keadaannya itu. Ia memang berhasil memutus rantai yang mengikat hatinya setelah sekian waktu berlalu. Namun ketika ia akhirnya mencapai pintu keluar dan menapak pada dunia baru, sebuah labirin lah yang menyambutnya.

Labirin yang terbuat dari kenangan, fantasi, dan realita bercampur menjadi potongan-potongan puzzle. Kaveh merasa sangatlah tersesat di hadapannya.

Sedari tadi kakinya berjalan tanpa arah dengan linglung 'tuk mencari tempat aman bagi dirinya. Hingga secara tak sadar mengantarkan Kaveh ke atap sekolah yang sepi.

Semiliar angin yang menghantam kulitnya setidaknya sedikit menyegarkan kondisinya. Kaveh menghirup udara sejuk itu seraya mencoba menata pikirannya yang kacau-balau. Tubuhnya terduduk dan disandarkan ke dinding, serta sepasang kaki jenjangnya dijulurkan lurus ke depan.

Kaveh lalu menghela napas panjang. Sedetik kemudian, bulir-bulir air mata menetes dari pelupuk matanya. Deras sekali kesedihannya membanjiri wajah. Sampai-sampai Kaveh tak berupaya sedikit pun untuk menyeka air matanya karena atensinya terlalu terpikat pada kegetiran yang mengambil alih cakrawala awan kelabu yang meneduhi hatinya.

Senyap menyelebungi atmosfer di sela-sela tangis sendu.

Brak!

"Kaveh!" Pintu didobrak dan Alhaitham muncul di baliknya dengan napas tersengal-sengal. Sontak si pemilik nama yang terpanggil mendongak dan menemukan sosok kelabu nampak panik untuk pertama kalinya.

"Jangan ke sini–!"

Alhaitham cepat-cepat berjongkok di samping, mengambil sapu tangan dari saku celana, menarik halus dagu Kaveh, dan mengelap air mata yang mengalir melewati wajah si pirang.

"Kenapa lu cengeng banget. It's annoying that I have to take care of a child like you."

Lantas sumbu amarah Kaveh yang hampir tersulut pun hangus begitu saja dan kedua pipinya digembungkan dengan sebal. "Lu bisa nggak sih ngehibur orang lagi sedih!" Kaveh merebut sapu tangan itu dan mengusap air matanya sendiri dengan kasar.

"Lu yang nggak becus jaga diri lu sendiri," ujar Alhaitham balik merenggut miliknya dan berhati-hati mengusap wajah Kaveh yang basah, "makanya gue harus ngurusin lu."

Kelopak mata Kaveh terlipat turun. "Gue bukan anak kecil lagi," bisik Kaveh.

Alhaitham tidak menjawab, melainkan perhatiannya terjebak di antara sepasang manik merah berbinar yang kian memerah sehabis menangis. Seakan si pirang baru saja dibuli oleh seseorang, yakni Alhaitham sendiri. Entah hatinya tergelitik ketika dihadirkan pemandangan tersebut.

Maka tubuhnya telah bergerak mengikuti komando kata hatinya daripada logika. Alhaitham menunduk lalu membubuhkan kecupan singkat pada mata Kaveh. Ia menciumnya begitu pelan-pelan dan lembut layaknya menyentuh sebuah harta karun berharga.

Sementara Kaveh membelalak terkejut dan tubuhnya hanya bisa membeku. Pandangnya dipenuhi oleh muka Alhaitham yang diperbesar dan kulitnya yang sensitif merasakan gesekkan bibir hangat di sekitar area matanya. Detik itu, jantung Kaveh berdegup sangat kencang dan ia refleks memejamkan mata kala Alhaitham mengecupnya untuk kedua kalinya di bagian netra berlainan.

Baru di saat kehangatan itu sudah pudar, Kaveh perlahan membuka matanya dan disuguhkan wajah Alhaitham tepat di depannya. Jika tidak ada tembok yang menempel di belakang punggungnya, Kaveh kira ia akan terjungkal kaget.

"Ke-kenapa lu ngeliatin gue kayak gitu?!" Kaveh memekik dengan terbata-bata berusaha menjauhi wajah itu darinya.

Namun Alhaitham terlebih dahulu sudah menangkap uluran tangan Kaveh dan menggenggamnya seerat mungkin. Ia termenung sembari jarinya membelai telapak tangan Kaveh membentuk lingkaran.

Kini Alhaitham mengetahui emosi apa yang mengusiknya sejak dini ia melihat Kaveh memakai busana cheongsam merah itu. Kemudian mengasosiasikan dengan perasaan yang telah terpendam beberapa tahun terakhir ini, sebuah ilham terbesit dalam otak Alhaitham.

"Setelah gue pikir-pikir, keputusan gue bener buat nyulik lu. But you just had to show-off in front of others and even let them touch you." Sepintas netra Alhaitham seolah berkilat liar. "Rasanya gue mau gendong lu dan bawa lari ke tempat yang cuma ada kita berdua aja," sambungnya.

"What! You're just as childish as me!" seru Kaveh langsung.

"Don't lump me with the likes of you. And you're missing the point here." Alhaitham berdecak.

"Huh? Ah, maksud lu … oh…" Kaveh diam-diam mencuri lirik ke arah Alhaitham. "Jadi … lu cemburu?" lanjutnya terdengar ragu-ragu.

Alhaitham hanya memalingkan kepala untuk menghindari tatapan Kaveh. Ketika Kaveh berpikir bahwa perkataannya salah, ia mendapati rona merah menghiasi daun telinga Alhaitham. Momen itu, Kaveh merasa perasaannya selama ini memang terbalaskan. Jika saja Alhaitham tidak bersikap seperti orang berengsek terhadapnya.

Refleks Kaveh menyebutkan, "Sumpah, gue ngerasa bodoh banget. Tapi ternyata lu yang lebih dungu daripada gue."

Alhaitham segera menimpali. "Lu yang buta."

Kaveh lalu terkekeh dibuatnya. "Pftt– mulai deh lu salting. Jelas-jelas lu yang nggak peka dan keras kepala sampai sekarang juga baru sadar sama perasaan lu."

"Siapa yang nangis barusan."

"Terus yang cemburu tadi siapa tuh."

Keduanya lalu terdiam sebelum sunyi terpecah oleh gelak tawa Kaveh selama beberapa saat. Berakhir dengan garis lengkungan tajam terukir pada wajahnya yang berseri-seri. Secara tak sadar Alhaitham ikut membalas senyum tulus yang timbul dari lubuk hatinya.

"Kaveh–"

"A-achoo!" Tiba-tiba Kaveh mengeluarkan bersin dan ia menangkupkan kedua tangan lalu menggosoknya seraya tubuhnya bergemetar karena angin sepoi-sepoi yang menamparnya disertai suhu dingin.

Alhaitham mengernyitkan dahinya dan segera bangkit berdiri. "Udah tau pake baju pendek begini, malahan lari ke atap sekolah," tegurnya.

"Nggak usah banyak omong kalo lu nggak mau nolongin gue," gerutu Kaveh memegang blazer hitam milik Alhaitham. Tangan bebas lainnya menyentuh lantai bermaksud sebagai tumpuan bagi dirinya untuk menahan beban tubuh selagi ia berdiri.

Namun percuma Kaveh berusaha ketika Alhaitham sudah membungkuk dan mengangkat tubuh si pirang dalam dekapannya.

"Hai-haitham!" pekik Kaveh terkesiap.

"Gue udah tanggung-jawab. Puas?"

Kaveh memukul bahu si kelabu. "Ya, jangan kayak gini juga! Nanti kita diliatin satu sekolah tau!"

"Tutupin muka lu pake blazer gue juga nggak ada yang liat." Seusai berkata demikian, Alhaitham membopong Kaveh dan membawanya menuruni tangga atap sekolah.

Sayangnya ucapan Alhaitham tidak terwujud sesuai perkiraannya. Ia melupakan fakta bahwa eksistensi Kaveh terlalu populer di Akademiya, apalagi kabar angin mengenai Kaveh melakukan crossdressing sudah tersebar ke seluruh penjuru sekolah sehingga namanya kian tenar di kalangan siswa maupun guru.

Di hari itu, satu sekolah mengetahui berita jadian antara The Scribe dengan The Light of Kshahrewar setelah sekian lama menonton mereka tarik-ulur selama bertahun-tahun, dan merayakan bersama-sama berita baik itu dengan meriah.

Notes:

Thank you for reading till the end!