Work Text:
Jeno as Gilang
Jaemin as Arasya
Tw!
Food play, food sex, multiple partners, free use, overstimulation, shoes licking, slave/master, slut shaming, degrading.
💦
Sinting. Arasya merasa bosnya benar-benar sinting karena memintanya untuk mengirimkan videonya yang tengah membersihkan diri pagi ini. Mau menolak pun, Arasya tak punya hak. Hidupnya sudah benar-benar dikuasai oleh si bos.
Rasya akhirnya mengatur kamera untuk bisa menampilkan kegiatannya membersihkan diri. Ia memberikan bukti kalau dirinya sudah benar-benar bersih luar dan dalam. Lalu, setelah perjuangannya memberikan video itu. Si bos tampan hanya membalas dengan satu kata singkat, ok .
Not even praise, not even a good word for him .
Rasya keluar dari kamar mandinya dan berniat langsung berpakaian untuk ke kantor pun harus terhenti karena sadar lemari bajunya dalam kondisi terkunci. Kepalanya menoleh celingukan, mencari kunci yang tidak terlihat keberadaannya.
Ketika Rasya masih bergerak mengelilingi kamar tanpa pakaian, suara notifikasi di ponselnya pun mengalihkan perhatiannya.
Your dress is in my room. Use that and wear make up. Be pretty for me and my friends ya, sya.
Rasya meringis, ia menundukkan kepalanya untuk melihat penisnya yang menggantung menyedihkan ke bawah. Mau tak mau, eksistensinya sebagai laki-laki kembali berubah menjadi perempuan demi fantasi pemilik dirinya.
Meskipun, payudara rata layaknya laki-laki juga sudah tidak lagi Rasya miliki sejak beberapa bulan yang lalu.
Ya, Gilang benar-benar membuat Rasya memiliki sebuah payudara yang cukup besar.
Rasya sudah hidup dan tinggal bersama Gilang hampir tiga tahun lamanya. Hubungan mereka yang semula bos dan personal assistant berubah menjadi bos dan personal assistant plus plus. Rasya tidak pernah mendapatkan hari libur dan cuti selama masa kerjanya, namun, karena tubuhnya yang juga selalu dipakai sampai otaknya agak kopong ini, Rasya pun lupa akan eksistensi hari libur yang seharusnya ia dapatkan.
Rasya terlalu sibuk melayani tuannya.
Hari ini Gilang pergi lebih dulu, meninggalkan Rasya yang pagi tadi masih telanjang di lantai kamarnya begitu saja. Bukan sekali dua kali Rasya terbangun mengenaskan dengan lubang belepotan pelepasan si bos dan dirinya yang tergeletak di atas lantai. Rasya tak masalah, karena semakin lama, Rasya juga terbiasa dengan perasaan tak dianggap oleh si bos.
Mengingat titah sang bos yang menyuruhnya memakai dress, Rasya pun akhirnya bergegas menuju kamar tuannya. Matanya terpejam ketika melihat dress yang dimaksud Gilang yang kini ia remas kuat dengan tangannya.
This is a damn maid dress .
Harus sejauh apa si bos mempermalukannya?
Seribu keluhan dan sumpah serapah memang keluar dari bilah bibir tipis Arasya, ia seolah tak terima dengan segala titah dari si bos yang menyuruhnya ini itu yang menurutnya tak masuk akal. Termasuk memakai maid dress ini untuk berangkat kerja ke kantornya.
Tapi, apa yang ia keluhkan nyatanya tetap ia lakukan.
Arasya sudah berpakaian layaknya maid perempuan, stocking jaring berwarna hitam juga sudah memeluk kaki jenjangnya dan sebuah sepatu high heels setinggi 10 cm pun ia pakai meski ia akan kesulitan untuk melangkah. Tidak melupakan titah dari bosnya perihal make up, Arasya yang sudah pro untuk make up perempuan pun kini sudah memoles wajahnya sendiri hingga wajah manlynya kini benar-benar terlihat cantik.
It's humiliating for him to wear the damn dress. But Arasya is a good boy for his boss. Arasya is a good pet and a good slave. So, despite the humiliation it is to wear the dress, Arasya still walks out from his boss house to go to work while looking like a slut in the morning.
Gilang tersenyum begitu puas ketika pintu ruangannya diketuk dan menampakkan sosok personal assistantnya yang terlihat cantik. Wajahnya memerah, dan Gilang jelas sadar wajahnya merona karena rasa malu Rasya yang luar biasa.
" Good job, slut. I didn't think you'd wear that slut dress tho. I guess you learn from your mistakes, huh ?"
Rasya menganggukkan kepalanya, ia berjalan mendekati si bos untuk mendapatkan pukulan di pantatnya dengan cukup keras.
"I won't make any mistakes, sir." ujar Rasya yang hanya dibalas tawa oleh bosnya.
Mengingat bagaimana kejamnya Gilang ketika memberi hukuman beberapa waktu lalu, membuat Rasya benar-benar takut pada tuannya. Dia bahkan tidak bisa bangun dari posisinya setelah mendapat hukuman dari Gilang karena terlalu membangkang. Rasya already promised to his boss to be a better slut for him. And he did.
Hari ini, Gilang berencana akan pergi menemui rekan-rekan kerjanya di luar kantor. Rasya tau itu. Lalu, ketika sadar pakaiannya hari ini tidak presentable untuk bertemu dengan rekan bisnis Gilang, Rasya panik.
Apakah Gilang akan membawanya dengan kondisi seperti ini?
Belum sempat berpikir lebih jauh, Gilang sudah lebih dulu memasangkan sebuah choker berbahan kulit yang terhubung dengan sebuah leash rantai. Ujung dari leash itu digenggam erat oleh Gilang sebelum ia tarik kencang hingga membuat si assistant tersedak dan batuk-batuk.
" You must be feeling excited about this, huh ?"
Rasya menggelengkan kepalanya, yang malah membuat tuannya terkekeh dan kembali menarik leashnya sampai Rasya harus berjalan mengikuti tuannya mengelilingi ruangan si bos.
"Hari ini, kamu ikut kemanapun saya pergi. Hari ini, kamu nggak boleh bilang nggak, geleng kepala, dan menolak apapun. Kamu cuma bisa bilang iya dan ngangguk. Tiap penolakan, kamu tau konsekuensinya. Ngerti?"
Gilang menarik leash Rasya hingga wajah mereka saling berdekatan. Rasya belum mengangguk pun mengiyakan, matanya justru terbelalak tiba-tiba ketika sadar peraturan yang dibuat tuannya akan sangat menyiksanya. Maka, Rasya menggelengkan kepalanya dengan ribut.
"Nggak, nggak please, Sir. Yang lain aja peraturannya, tolong! Sir!"
Gilang malah tertawa, ia membiarkan Rasya menolak dengan panik dan memohon terus menerus kepadanya. Ia meninggalkan Rasya tanpa menarik leashnya, lalu assistantnya itu tetap mengikutinya dan terus memberi permohonan agar diringankan peraturannya hari ini.
Bahkan, ketika Rasya juga sudah memohon sambil berlutut, Gilang tetap abai dan malah berfokus pada gawainya. Membiarkan Rasya yang semakin lama akhirnya memohon semakin tunduk ke bawah.
" Please, Sir. I'll lick your shoes clean, but please change the rules, please …"
Gilang terkekeh, ia biarkan Rasya menjilati sepatu pantofelnya hingga tidak ada lagi suara selain suara mulut Rasya yang sibuk menjilati sepatunya.
" That's your place, sya. Kamu paling cocok emang ada di bawah kaki saya. Jilatin sepatu saya, and for your information, the rules are still the same."
Rasya yang masih dalam posisi bersujud dan menjilat sepatu tuannya itu pun hanya bisa merengek pasrah. Sia-sia usahanya yang bahkan sudah membuat lidah dan rahangnya kebas.
Rasya tidak masalah jika Gilang mengerjainya habis-habisan di dalam ruang kerjanya. Rasya akan terima jika tuannya itu mempermalukannya di ruang kerjanya sendiri, yang Rasya tau hanya ada dirinya dan sang tuan. Karyawan lain mungkin bisa mendengar suara desahnya, karyawan lain mungkin juga pernah tanpa sengaja melihatnya telanjang di bawah kaki sang tuan. Tetapi, untuk berjalan mengikuti sang tuan di ruang publik, dengan pakaian perempuan yang cukup tidak normal untuk dijadikan pakaian sehari-hari, dan sebuah leash seperti anjing, jelas saja membuat Rasya keberatan dan malu setengah mati.
Ada banyak mata yang menatap jijik ke arahnya, tak sedikit yang terang-terangan menertawakan dan mengejeknya pelacur ketika melihatnya mengikuti langkah sang tuan susah payah. Everyone knows he is indeed a slut for this fine man in front of him.
Ketika akhirnya Gilang menarik leash Rasya ke dalam sebuah restoran sushi, Rasya merasa ia bisa bernapas lega.
What's the worst case he would face in this resto?
Mereka pasti hanya akan makan siang dengan tenang dan mengabaikan keberadaan Arasya, kan?
"Cantik banget jalang lo, Lang. Bisalah dia jadi plate kita makan?"
Dahi Rasya mengerut bingung, jadi plate? Apa maksudnya? Sementara Rasya kebingungan, tuannya sudah tertawa dan menatap pelacurnya dengan santai.
"Mau, kan, sya?"
The rules.
Rasya menganggukkan kepalanya, ia mengiyakan tanpa mengetahui maksud si tuan yang kini sudah duduk di salah satu kursi dan meninggalkannya berdiri kebingungan.
"Rasya harus apa, Sir?" tanyanya ragu.
Salah satu rekan Gilang yang tadi mengusulkan pun tertawa, ia menekan tombol bell yang ada di meja dan kembali sibuk mengobrol dengan rekannya yang lain. Mengabaikan Rasya yang hanya berdiri kebingungan menatap sang tuan dan rekanannya.
Pintu ruang private itu terbuka dan dua orang waitress datang menghampiri.
" Serves us nyotaimori ya, use her and spread her wide. Make every side of her useful and full, ya mbak."
Gilang memberikan sebuah tas hitam yang ia bawa ke salah satu pelayan, lalu mereka membungkuk dan menarik leash Rasya keluar dari ruangan. Rasya yang masih belum mengerti pun menatap tuannya yang sudah kembali mengabaikan keberadaannya yang kini dibawa oleh dua orang pelayan.
Rasya kira, memakai maid dress di ruang publik sudah cukup buruk untuknya hari ini. Rasya kira, terlihat menjadi pelacur di depan umum sudah menjadi hal terburuk untuknya hari ini. Tapi ternyata, ditarik mengikuti pelayan dan ditelanjangi secara paksa oleh para pelayan jauh lebih buruk dari itu semua.
Rasya menolak dan berusaha memberontak, namun ketika pelayan membuat panggilan suara dengan tuannya dan sebuah kalimat peringatan, " remember the rules, sya. " Rasya pun hanya membiarkan semua orang di sekelilingnya menyentuh tubuhnya. Membiarkan mereka membersihkan lagi tubuhnya luar dan dalam.
Rasya dipaksa menungging di papan stainless steel, lalu tiba-tiba lubangnya dimasukkan sebuah alat spreader yang membuat lubangnya terbuka lebar. Rasya merasa dirinya terlalu murah jika merasa terangsang dengan apa yang dilakukan para pelayan ini ke tubuhnya. Namun, penisnya yang menggantung menyedihkan itu tetap bangun dan mengeras karena semua rangsangan yang diterima tubuhnya.
"Ahhh"
Sebuah cairan dituang masuk ke dalam lubang anal Rasya, lalu cairan itu disedot keluar dengan sebuah alat, seolah divakuum hingga lubang analnya bersih dan kering. Tubuh telanjang Rasya menggelinjang, hampir saja ia mendesah ketika sebuah botol wine dimasukkan ke dalam lubangnya hingga air wine merah itu mengisi lubangnya sampai penuh.
"Full. Udah cukup, tolong, mas, udah." Rasya mencoba menahan pergerakan tangan pelayan yang masih memaksa masuk sebotol wine ke dalam tubuhnya, yang mana malah mendapat tamparan di pipi pantatnya.
"Diem, saya cuma lagi kerja, memohon ke tuan kamu saja."
Rasya pun terdiam, ia bahkan bisa merasakan bagaimana air di dalam lubangnya itu bergerak dan seolah terus mengisi tubuhnya. Ia menarik napas dan menghembuskan napasnya lega ketika si pelayan akhirnya menurunkan botol wine itu ke atas meja, membiarkan Rasya yang masih bertumpu di atas kedua tangan dan lututnya menampung wine itu di dalam lubangnya yang dipaksa terbuka lebar.
"Sedot. Winenya sayang kalau dibuang, you should drink it from your ass."
Rasya baru saja mau menolak, tetapi suara Gilang seolah kembali terngiang di kepalanya hingga akhirnya ia menuruti si pelayan dan menggigit sedotan panjang yang terlihat seperti selang. Rasya memejamkan matanya dan menahan tubuhnya yang tersentak ketika ujung lain dari sedotan dimasukkan terlalu dalam ke lubang analnya. Ujungnya yang tajam itu seolah menembus lubang senggamanya yang membuat Rasya pusing .
"Diminum. We don't have time , lo jangan nyusahin kerjaan kita bisa nggak sih?"
Salah satu pelayan yang masuk membawa tumpukan sushi langsung membentak Rasya yang hanya diam menahan desahannya. Rasya yang tersentak pun langsung menuruti kemauan si pelayan, ia hisap sedotan itu dengan susah payah hingga cairan di dalam lubangnya sendiri itu akhirnya masuk ke rongga mulutnya.
Membayangkan air yang ada di dalam analnya masuk ke dalam mulutnya saja sudah membuat Rasya enek. Lalu ketika wine itu benar-benar masuk ke rongga mulutnya, rasanya Rasya hanya ingin menangis dan memuntahkan wine itu.
But he knows better than disobeying everyone right now.
Lubangnya bersih dan wangi wine, tubuhnya juga sudah dibersihkan total dengan berbagai cairan yang tidak Rasya kenali, yang pasti mereka membahas kalau cairan-cairan ini sudah food grad e. Para pelayan mengganti sarung tangannya, lalu memegang kaki dan tangan Rasya sebelum mengangkat tubuh telanjang itu ke atas meja dorong berbahan stainless steel.
Punggung telanjang Rasya menyapa dinginnya meja stainless steel yang suhunya cukup rendah. Ia meringis dan mencoba menghindar meski yang didapat justru tekanan di tubuhnya yang lebih keras dari para pelayan. Rasya juga tidak diberi kesempatan untuk protes dengan posisinya yang kini terikat di atas meja.
Kakinya dipaksa mengangkang lebar dan pergelangan kakinya diikat ke samping kepalanya, membuat lubang senggamanya yang masih dibuat menganga itu tegak ke atas. Kedua tangannya diikat ke bawah meja, menjauh dari tubuhnya yang kini dioles dan disemprot minyak yang membuat tubuh telanjangnya mengkilat.
Jika lubangnya dibuat terbuka dengan sebuah alat spreader, mulut Rasya kini juga dibuat menganga dengan sebuah ring gag yang dimasukkan ke dalam mulutnya.
Seseorang yang memakai topi chef yang Rasya pikir adalah kepala Chef di restoran ini datang menghampiri tubuh telanjang Rasya. Dia membawa dua mangkok stainless steel besar di tangannya sebelum menyimpan di meja terdekat.
"Plate sudah bersih ya?"
" All clean chef!"
"Put a ring inside ,"
"Empat inci cukup, chef?"
Si kepala Chef mengangguk, ia sempat bersitatap dengan Rasya yang menatapnya penasaran. Lalu ia mengulum senyum ketika Rasya mengerang penuh desah saat cincin selebar empat inci dipaksa masuk dan membuka lubang senggamanya yang menganga.
Si kepala Chef mengambil mangkok stainless steel besar dan mengaduknya, seolah abai kalau plate yang akan ia isi saat ini adalah tubuh Rasya, si kepala Chef kini memasukkan frozen frosting ke dalam lubang anal Rasya. Mengoleskannya perlahan dan menikmati bagaimana Rasya mengejang dan mendesah panjang.
Rasya memejamkan matanya kuat-kuat, dengan tubuh yang terikat kencang di bawah pendingin ruangan dengan suhu rendah, fokus Rasya hanya penuh pada bagaimana spatula karet yang dipegang si kepala Chef mengoleskan frozen frosting di dinding analnya. Setelahnya, ruangan dapur sushi itu hanya dipenuhi oleh suara rintih dan desahan Rasya.
Satu jam terpanjang semasa hidup Rasya akhirnya berakhir. Rasya sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya saat ini. Semua tubuhnya diikat dan ditata dengan tumpukan sushi juga plating cantik di sekujur tubuhnya. Bahkan, lubang uretra yang Rasya kira tidak akan disentuh pun kini terasa sesak dan panas. Si kepala Chef dengan sengaja memasukkan banyak potongan jahe dari pangkal sampai ujung urethranya agar menyumbat jalan keluar cairan peju Rasya selama proses plating . Penis yang berdiri tegak itu pun dihias sedemikian rupa tanpa memedulikan kenyamanan si pemilik tubuh.
Rasya hanya bisa menggerakkan bola matanya untuk melihat bagaimana atap di atasnya berubah dari atap dapur, menjadi atap lorong restaurant hingga akhirnya memasuki ruangan private yang dipenuhi oleh rekanan tuannya. Suara speak dan tawa menyambut kehadiran Rasya, mereka bahkan mengomentari hasil percobaan payudara Rasya yang berhasil dan kini terlihat semakin membesar.
Gilang berjalan mendekat, lalu menatap Rasya tepat di depan wajahnya. Ia tersenyum dan Rasya tanpa sadar ikut tersenyum meski mulutnya dipenuhi oleh es batu. Rasya sudah mengabdi terlalu jauh untuk tuannya, dan Gilang puas dengan pengabdian Rasya untuknya.
"Gimana rasanya dijadiin piring untuk saya dan teman-teman saya makan, sya?"
Hanya ada suara geraman dari tubuh Rasya dan Gilang hanya terkekeh karena egonya merasa melambung ketika temannya memuji bagaimana Rasya bisa begitu patuh menjadi pelacurnya.
" She was born to be my slut , Marv."
He ! Rasya mengoreksi dalam hatinya.
"She is so obedient, Lang. Lo suruh dia ngangkang buat semua orang juga kayaknya nurut." ujar Marvi, salah satu rekan yang sedang menekan puting Rasya dengan kencang.
Rasya berusaha menggelengkan kepalanya, berniat menjawab kalau dia tidak mau melakukan itu. Namun, harapannya seolah pecah di depan matanya sendiri ketika melihat tuannya malah mempertimbangkan ide gila itu.
"Let's see, ya. Udah deh, kita makan aja dulu. The sushi looks delicious ."
Rasya mengepalkan tangannya dan berusaha menggeliat meski tubuhnya sama sekali tidak bergerak. Rasya bisa merasakan bagaimana banyak tangan yang menggerayangi tubuhnya. Terlalu banyak jari yang bisa dirasakan kulit tubuhnya hingga membuat Rasya overwhelmed dan akhirnya menangis.
Oh, Rasya looks so pretty .
Gilang begitu puas melihat assistantnya kewalahan dengan semua rangsangan di tubuhnya. He knows Rasya body too well. Gilang tau penis Rasya yang tersumbat itu bergerak karena dorongan dari pelepasannya yang tertahan.
Satu persatu tumpukan sushi di tubuh telanjang Rasya pun mulai habis dilahap oleh para pria yang berkumpul mengelilinginya. Rasanya memalukan, Rasya tidak bisa melakukan apa-apa di saat salah satu dari rekan tuannya mengocok penisnya dengan sengaja. Tumpukan sushi itu sudah habis be tak bersisa, dan kini mereka seolah bersiap untuk menyantap hidangan utamanya.
"Boleh dipake rame-rame, Lang?"
Gilang tertawa mendengar pertanyaan Radif yang tengah menusukkan sebuah sendok kayu ke dalam anal Rasya. Yang ditusuk pun hanya bisa menggeram tertahan, jika mulutnya tidak menampung banyak es batu, mungkin Rasya sudah berteriak mendesah keras sejak tadi. Namun, setiap kali assistant Gilang itu mendesah, ia malah tersedak dengan air es yang sudah mencair di dalam mulutnya.
It's a total torture for Arasya . Semua kegiatan ini benar-benar menyiksanya, namun, Gilang masih belum puas juga.
"Boleh lah, rusakin juga gapapa tuh lubangnya."
Rasya berusaha menggelengkan kepalanya lagi, tapi nihil, ia tak bisa bergerak! Hingga akhirnya ia berusaha menolak hingga akhirnya tersedak air es.
Mengabaikan Rasya, Radif malah mengaduk isi lubang Rasya dengan kasar. Membuat laki-laki yang terikat di atas meja itu merem melek keenakan dan kesakitan karena ulahnya.
Tidak hanya itu, Rasya juga dibuat kesusahan karena penisnya yang disumbat jahe itu kini dikocok oleh Marv dengan brutal, sengaja membuat pelacur temannya itu mau tak mau bergerak meski ikatan di tubuhnya lama kelamaan melukai kulitnya sendiri.
"Gllrrghhh gllrggh uhuukk uhuukk gahhhh!!"
Mata Rasya merem melek, mulutnya yang terus menganga dan berisi air es itu lama kelamaan tumpah ruah ke pipi dan lehernya. Seolah belum puas dengan segala rangsangan yang diberikan untuk tubuh si pelacur, Haris yang semula hanya menonton pun mengambil lilin yang dipasang di sekeliling tubuh Rasya.
"Aarghhhh grrkkk uhuukk ghrrkk!!"
Suara jeritan yang diiringi suara tersedak pun kembali memenuhi ruangan, Rasya menggelinjang di tempatnya terbaring ketika tetesan lilin panas itu dengan sengaja ditumpahkan Haris di atas puting Rasya yang membengkak.
Dikerjai sebrutal ini membuat Rasya kewalahan, tubuhnya benar-benar terangsang hingga tubuhnya mengejang dan mencapai pelepasan keringnya lagi . Peju Rasya tidak bisa keluar dari penisnya karena banyaknya batang jahe yang disumbat di saluran urethra Rasya. Jika ada pergerakan, Marv tentu akan menekan jahe itu masuk ke dalam lubang kencing Rasya lebih dalam lagi.
Rasya kembali menangis, ia kesakitan, tapi semua penderitaannya masih jauh dari kata selesai.
Gilang kini menonton tubuh Rasya yang tengah dimainkan oleh ketiga temannya. Dimulai dari Marv yang malah menertawai penis Rasya yang mulai membiru. Radif yang keasikan menyetubuhi lubang anal Rasya dengan sushi dan sendok kayu. Juga Haris yang mewarnai tubuh telanjang Rasya dengan tetesan lilin panas berulang kali.
Si bos tertawa, ia bawa kamera untuk mengabadikan momen ini. Ia abadikan wajah penuh air mata Rasya dan menamparnya hanya untuk mendengar suara serak Rasya yang mendesah begitu kencang. Air es sudah habis dari mulutnya dan Gilang mengambil sebuah dildo karet panjang yang disediakan pihak restoran untuk ia masukkan ke dalam mulut si pelacur.
Mata Rasya membelalak kaget ketika Gilang menyetubuhi mulutnya dengan dildo karet yang ukurannya sangat panjang. Matanya semakin lama memburam karena air mata, lalu tersedak lagi dan lagi hingga akhirnya tubuhnya mengejang karena pelepasan keringnya lagi.
" It looks painful, kontol dia udah biru dan pasti dalemnya panas. They put a lot of ginger inside him, Lang."
Gilang tertawa mendengar ucapan Marv, jari temannya itu dengan usil membuka lubang kencing Rasya hingga terlihat potongan-potongan jahe yang mulai diselimuti peju Rasya yang sedikit demi sedikit keluar dari sela-sela jahe.
"Aduh gua mau ngontolin pelacur lu banget, Lang. Nanti sushi hasil dikontolin kita dia makan dari lantai. Is it ok?" Radif yang sudah mengocok penisnya sendiri pun sudah tidak sabar untuk menyetubuhi assistant pribadi Gilang. Marv dan Haris pun mengangguk setuju.
" I don't care about her dif, you can ask her anything . Rasya pasti nurut, iya kan, slut ?"
The rules. Mengingat suara tuannya yang berulang dindalam kepalanya, Rasya pun menganggukkan kepalanya meski dildo karet masih ditinggalkan Gilang di dalam mulutnya.
"Oke, lepasin dia dulu, gua nggak tahan Jing." Ujar Marv yang akhirnya melepaskan penis Rasya dari tangannya.
Tali-tali yang melilit tubuh si pelacur akhirnya dilepaskan. Rasya merasa darahnya seolah baru mengalir di beberapa bagian tubuhnya yang diikat. Belum sempat menyesuaikan tubuhnya, Marv dan Haris sudah menarik tubuhnya untuk menungging.
Tanpa babibu, Haris menarik dildo karet keluar dari mulut Rasya dan menggantinya dengan penisnya sendiri. Di sisi lain, Radif menarik keluar sendok kayu yang ia pakai untuk menyetubuhi lubang anal Rasya dan melepaskan ring spreader yang masih membuka lebar otot lubang si pelacur. Lubang senggamanya yang semula terbuka sangat lebar itu kini tidak bisa menutup sempurna. Maka ketika Radif menekan masuk penisnya ke dalam lubang Rasya, ia malah mendesah kecewa karena otot si pelacur tak bisa menyentuh penisnya.
Rasya hanya bisa pasrah. Pasrah ketika tubuhnya dipakai kasar oleh rekan tuannya tanpa belas kasih.
"Marv, kontolin bareng aja sini, memeknya kendor banget nggak enak."
Rasya merasa tersinggung dengan ucapan itu, sehingga meski mulutnya tersedak karena dicekik oleh Haris, Rasya berusaha mengetatkan lubangnya hingga Radif sadar akan usahanya dan malah tertawa terbahak.
"Lang, pelacur lu berusaha ngetatin memeknya ini, should we give him an applause ?"
Rasya ikut menunggu jawaban dari tuannya, karena tanpa sadar, ia ingin membuat tuannya ikut senang.
"Nggak usah, udah kerjaannya jadi pelacur. Ya, kan, sya?"
Rasya berusaha mengangguk, tapi yang terjadi malah ia memekik saat Marv ikut melesakkan penisnya ke dalam lubang senggama Rasya tanpa aba-aba.
Tangan Rasya mengepal kuat, penis Radif dan Marv menumbuk lubangnya dengan brutal hingga sushi di dalam lubangnya berhamburan keluar dari lubang si pelacur. Tak jauh berbeda dengan brutalnya Marv dan Radif, Haris pun menggenjot mulutnya tanpa ampun.
Kaki Rasya bergetar, tangannya mengepal, matanya berputar ketika Gilang tiba-tiba memasang nipple sucker dan menyedot susu-susu di payudaranya dengan kencang. Dalam sekejap, pelepasannya kembali datang. Namun, jahe yang menyumbat penisnya lagi-lagi menghalangi Rasya untuk mendapat kenikmatan itu.
Gagal menumpahkan pejunya untuk ke sekian kali membuat Rasya mendesah dan menggeram panjang, tubuhnya menggelinjang dan teman-teman tuannya mendesah serentak karena merasakan penis mereka diremas oleh otot-otot tubuh si pelacur.
Mendapat rangsangan enak dari Rasya, Haris yang paling dulu memuntahkan pejunya ke dalam tenggorokan, mulut, dan wajah si pelacur. Marv dan Radif bergerak lebih brutal hingga membawa desahan panjang dari Rasya yang keenakan akan tumbukan di analnya.
Lagi. Rasya menjemput putihnya hingga tubuhnya mengejang dan matanya berputar.
"Kasian, peju si pelacur nggak bisa keluar sama sekali hahaha." Haris menyentil penis biru Rasya dengan dua jarinya, membuat tubuh si pelacur kembali bergetar dan mengejang lagi .
"Ah fuck , memeknya jadi sempit kalau si pelacur ini mau ngecrot." Marv mendesah keenakan sambil masih menggenjot tubuh Rasya hingga tubuhnya terpental-pental cukup kuat.
Payudara besar Rasya juga kini terpental-pental dengan keras yang membuat desahannya semakin menggila.
"Kalau gitu gua bantu nih." Haris melingkarkan jari-jarinya di penis Rasya yang sudah membengkak, si pelacur mencoba menghindar dan menolak sentuhan teman si tuan, tapi, yang didapat justru remasan di penisnya hingga tubuh Rasya kembali bergetar menjemput putihnya.
"Argh fuck !" Pada akhirnya Radif menumpahkan pejunya di dalam lubang si pelacur.
Belum puas, Marv yang kini menyetubuhi si pelacur sendirian pun kembali menggenjot tubuhnya sambil duduk. Ia gerakkan tubuh Rasya ke atas dan ke bawah dengan cepat hingga yang terdengar hanyalah suara tamparan antar kulit mereka juga desah dan rengekan si pelacur.
Penis Marv itu panjang, berurat, dan besar. Rasya tidak bisa merasakan ya langsung di dalam lubang analnya karena banyaknya bahan makanan yang ditumbuk masuk di dalam lubangnya. Namun membayangkan bagaimana penis itu mengerjai tubuhnya, dan bertepatan dengan bayangannya itu, Marv menekan penisnya masuk menekan prostatnya berulang kali, dalam sekejap, tubuh Rasya kembali bergetar. Dia mendesah panjang dan kesakitan karena jahe sialan yang menghalangi pelepasannya.
" Nohhh moreee plisshh, mauu cuumm, siirrr. Plisssh … "
Permintaan Rasya itu tidak penting. Kenikmatan Rasya itu bukan prioritas tuannya. Maka, permohonan apapun yang keluar dari bibir merah Rasya itu hanya dibiarkan mengalun bagai lagu dan kaset rusak.
"Nyahhh!! Nahhh ahhh"
Marv yang masih saja menyetubuhi Rasya kini melingkarkan tangannya di leher si pelacur. Mata sayu Rasya seketika membelalak ketika ia merasa tidak bisa bernapas. Tangannya yang sudah tidak bertenaga pun mencoba meremas tangan Marv dan meminta ampun, namun teman si tuan itu tidak juga memberi ampun.
" Ah fuck !"
Ketika Marv berhasil menumpahkan peju ke dalam lubang Rasya, tubuh si pelacur ikut mengejang dan bergetar begitu hebat. Matanya berputar hingga putih dan penisnya yang tidak mampu berdiri itu bergerak menyedihkan karena pelepasannya kembali tertahan oleh jahe yang masih setengah menyumbat.
Marv yang sudah puas memakai tubuh si pelacur pun menggeletakkan tubuh tak bertenaga itu di atas lantai. Para tuan yang sudah asik merokok seolah abai pada kondisi Rasya yang sudah babak belur disetubuhi tiga orang sekaligus.
Gilang yang sejak tadi asik menonton pun berjalan mendekati pelacurnya. Ia gerakkan tubuh yang terdampar di lantai itu dengan kakinya sampai suara Rasya yang melenguh terdengar di telinganya.
"Sya, permainan kita selesai kalau semua jahe di kontol kamu udah keluar. Kamu harus bisa dorong jahe itu pake peju kamu. No hands or I'll cut your dick off. Ngerti, ya?"
Rasya merengek, ia jelas saja keberatan karena ucapan tuannya. Namun ketika matanya bertatapan dengan mata Gilang, Rasya menghentikan rengekannya, ia hanya bisa terisak dan akhirnya mengangguk mengiyakan.
" C-can I suck you off, sir? "
Gilang langsung melepas ikat pinggangnya, lalu berdiri dan meminta si pelacur untuk melayaninya sambil berlutut. Tak peduli selemas apapun si pelacur saat ini. He'll listen to him and him only.
" Good job, slut."
Rasya tidak seharusnya merasa senang, karena penderitaannya masih belum selesai bahkan setelah rekan tuannya memakainya setelah dua kali putaran, Rasya masih belum bisa mengeluarkan jahe yang menyumbat penisnya hanya dengan peju yang ia hasilkan.
Rasya sudah babak belur, penisnya sudah bengkak dan tidak ada sedikit pun peju yang berhasil keluar dari tubuhnya.
"Sir plisshh hhhhh … "
Haris yang memperhatikan Rasya yang menggeliat di atas lantai pun mencoba membantu. Ia ambil lilin yang masih menyala dan meneteskan di atas bola kembar Rasya yang membiru. Rasya memekik kesakitan, lalu tubuhnya mengejang dan jahe yang menyumbat penisnya naik sedikit lebih banyak.
Lagi. Haris kerjai tubuh si pelacur dengan segala rangsangan menyakitkan yang akhirnya membuat tubuh Rasya gemetaran.
"Nyahhh … ahhh!!"
Dada Rasya membusung tinggi, lalu akhirnya , penis yang membiru itu berhasil memuncratkan peju yang sangat banyak. Cairan putih kental itu tidak berhenti keluar dan berganti dengan cairan bening kekuningan yang memandikan tubuh telanjangnya sendiri.
Gilang, Marv, Haris, dan Radif tertawa melihat bagaimana hancurnya Rasya di bawah mereka. Lelaki yang mereka panggil pelacur itu sudah tak sadarkan diri dengan kondisi penisnya yang masih saja mengeluarkan cairan tubuhnya.
💦
