Work Text:
"Aku pulang." Seusai menutup pintu, Kaveh membungkuk guna melepas sepatu dan meletakkannya di rak kemudian berjalan masuk ke ruang depan. Tangannya terangkat dan bermaksud untuk meraih tas selempang yang tersampir di bahunya, tetapi aktivitasnya mendadak berhenti kala netra merah Kaveh beradu pandang dengan milik Alhaitham.
"Hei, uhm…" Tangan Kaveh berpindah ke atas dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sorry, aku pulangnya kemaleman karena meeting-nya baru kelar. Tapi aku udah pesenin kue buat dianter ke rumah dan seharusnya kamu–"
Manik Kaveh mendarat pada kotak putih besar yang jelas-jelas masih terbungkus utuh di meja sebelah Alhaitham.
"--belum nyentuh kuenya." Kaveh terdiam di tempat. Pikirannya mengalir menuju ingatan di siang hari itu ketika ia memesan seloyang kue di toko langganannya melalui aplikasi online. Menurut memorinya, Kaveh berani bersumpah bahwa ia telah meminta berkali-kali agar jangan lupa 'tuk mengirimkan pesanan kuenya pada alamat rumah yang telah diberikan. Sehingga dalam perencanaannya, Kaveh kira Alhaitham setidaknya akan memakan sepotong atau dua buah potong kue ulang tahun tersebut terlebih dahulu jikalau Kaveh masih terpaksa tertahan oleh urusannya.
Namun, tak disangkanya jika Alhaitham tak membuka bungkus kue tersebut sedikit pun dan malah setia menunggunya hingga detik ini.
"Kamu nyuruh aku makan sendirian? Begitukah maksudmu?" Walau Alhaitham terlihat tidak terburu-buru untuk menutup buku bacaannya dan meski raut mukanya tidak menunjukkan ekspresi apapun, Kaveh bisa menyadari sarkasme dari intonasi lelaki bersurai kelabu itu.
Sekelabat Kaveh membayangkan betapa menyedihkannya sosok Alhaitham yang duduk sendirian di meja besar dengan sebuah kue ulang tahun di hadapannya bersama sebatang lilin menyala yang tertancap di tengah kue.
Kaveh rasa ia bukanlah kekasih yang baik saat ini. Atau lebih tepatnya, ia layaknya seorang bajingan yang menelantarkan buah hatinya untuk menghabiskan hari ulang tahunnya tanpa kehadiran siapapun.
"Aku nggak bilang begitu," elak Kaveh pura-pura menunduk dan menanggalkan tas selempang beserta jas yang dikenakan guna menghindari tatapan selidik Alhaitham.
"Oke, beri aku waktu sepuluh menit buat mandi dulu, ya? Terus kita bisa sama-sama ngerayain ulang tahunmu mumpung masih ada sisa dua jam," tukas Kaveh.
Manik Alhaitham menelusuri tiap sudut ekspresi Kaveh dengan serius selama beberapa saat sebelum akhirnya menyetujui perkataan Kaveh. "Gerak cepet. Jangan pake lama," balasnya.
"Iya, iya."
Kaveh lekas mengambil handuk dan pakaian ganti ke dalam kamar mandi. Buru-buru ia melucuti segala kain yang menempel pada kulitnya dan perlahan mencopot sepasang antingnya. Sehabis itu, Kaveh beranjak ke bawah kepala pancuran dan menarik dinding kaca yang mengunci tempat pemandian itu. Detik berikutnya, air deras memancar dari bolongan kepala pancuran dan mengguyur sekujur tubuh Kaveh.
Suhu panas menyerbak dalam ruang berukuran cukup besar itu. Dinding kaca mulai diwarnai embun tebal seiring Kaveh sibuk menyabuni rambutnya sambil bersenandung melodi favoritnya.
Entah antara bunyi air terlalu bising di telinganya atau rasa penat seharian telah mengendurkan konsentrasinya, Kaveh sama sekali tak bereaksi kala pintu kamar mandi pelan-pelan terbuka. Si pirang sedikit pun tak menyadari eksistensi orang lain di dalam kamar mandi yang mulai berjalan ke arahnya dan mendorong pintu kaca.
Momen suara pantulan air pada dinding kaca tiba-tiba lenyap, barulah ia merasa ada sesuatu yang janggal. Namun, ia tidak diberikan kesempatan untuk membalikkan badan ketika dua tangan berotot menyusup dari belakang punggung dan mengekang tubuh Kaveh. Di saat yang bersamaan, napas hangat membelai halus di sisi telinga kemudian beranjak turun menyusuri leher Kaveh.
Sebelum Kaveh sempat bersuara, Alhaitham telah menggigit dan meninggalkan bercak merah di bagian tulang selangka. Jejak merah itu begitu menonjol dan kontras dengan kulit putih sehat milik Kaveh. Alhaitham memandangnya sesaat dengan puas lalu lanjut menyapu bekas gigitan menggunakan lidahnya.
"Haitham, tunggu. Tunggu sebentar lagi dan biarin aku selesai mandi dulu, oke?" Kaveh berusaha menggapai figur Alhaitham, tetapi jemarinya hanya bertemu dengan tubuh polos kekasihnya.
Kaveh curiga bahwa Alhaitham sudah merencanakan hal ini. Proses dari ia memasuki kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya hingga kini cuma membutuhkan waktu sekitar lima menit. Sementara dalam kurun waktu pendek itu, Alhaitham sudah membuat keputusan dan melepaskan busananya untuk bergabung dengan Kaveh.
Mengapa Alhaitham bergerak cepat sekali? Apa jangan-jangan Alhaitham ingin menghabiskan sisa waktu dua jam sebelum hari ulang tahunnya berakhir dengan melakukan aktivitas intim bersamanya?
Jawabannya adalah 'ya'.
Pikiran Kaveh yang penuh akan konspirasi kembali tertarik ke realita. Suara 'klik' tertangkap jelas oleh pendengarannya yang menandakan bahwa jalan keluar satu-satunya sudah sirna. Selanjutnya, tubuhnya dipaksa diputar kemudian didorong sampai punggungnya menempel erat pada dinding.
Lantas sebuah ciuman yang membakar gairah melahap bibir Kaveh seutuhnya. Berikutnya, lidah Alhaitham menginvasi gua mulut Kaveh dan menyibak semua sudut tanpa terkecuali.
Rasanya kepala Kaveh mengeluarkan asap yang mengepul panas akibat siraman air yang mengucur dari pancuran maupun serangan buas di sekitar area mulutnya. Seolah arus listrik menyetrum setiap titik sensitif inderanya seiring napas dua insan itu melebur menjadi satu yang kian memendek tiap tarikan napasnya.
Kedua tangan Kaveh yang mengudara tanpa pegangan pun berangsur-angsur menemukan kediamannya dan mencengkeram bersilangan pada leher Alhaitham. Sementara lidah mereka saling bergelut dan membelit dalam pertarungan mulut 'tuk memenangkan dominasi, Kaveh menekan lembut punggung kepala Alhaitham guna memperdalam cumbuan. Di satu sisi, Alhaitham menarik pinggang Kaveh ke arahnya.
Sepasang kekasih itu berkutat begitu lama tanpa membuahkan juara adu mulut, sehingga keduanya menyudahi kegiatan tersebut setelah beberapa menit berlalu.
"Dasar otak cabul," gumam Kaveh dengan napas berderu. Ia menggelengkan kepalanya pelan sebagai percobaan untuk menjernihkan pikirannya yang berkobar. Sayangnya usahanya tak bekerja dan malah semakin menyulut api hawa nafsu ketika memori barusan kembali terputar di otaknya.
"Kenapa? Baru ciuman aja udah mabuk?"
"Mabuk matamu! Keluar kamu sekarang! Aku mau mandi tau."
"Coba mandi kalo kamu bisa berdiri tegak." Kaveh menggertakkan giginya dengan sebal sebab ucapan Alhaitham memanglah benar. Meski mereka hanya berciuman, energi Kaveh rasanya terkuras habis begitu cepat. Bahkan sekarang sepasang tangannya masih melingkar dan menopang pada leher Alhaitham agar tubuhnya tak jatuh terduduk akibat kaki lemasnya.
Akhirnya Kaveh yang pertama kali mengangkat tangan dengan pasrah. "Tapi kita masih harus ngerayain ultahmu. Kalo gini caranya, bakal makan waktu berjam-jam."
"Aku lebih milih lanjutin ini."
"Ulang tahun tanpa nyanyian selamat ulang tahun sama kue dan lilin tuh nggak kerasa suasana ultahnya. Ultah harusnya meriah!"
"Aku belum nyentuh kamu seharian."
"Sekarang 'kan udah!"
Alhaitham mengangkat sebelah alisnya. "Yang ulang tahun siapa, tapi kamu yang ngatur-ngatur?"
Kaveh tak sanggup lagi meladeni si kepala batu. "Fine. Tapi sekali aja karena abis itu kamu harus tiup lilin sama potong kuenya."
Alhaitham melemparkan pandangan yang seakan berkata 'apa kamu anak kecil?' kepada Kaveh. Sebaliknya, Kaveh melotot dan mencubit leher Alhaitham.
"Kalo kamu terus keras kepala mau aku makan kuenya, bukannya udah ada kue yang baru matang di sini?"
"Ah, kue mana?"
Alhaitham menunjuk ke depan dengan dagunya.
Netra Kaveh mengikuti arahan Alhaitham lalu menunduk dan melihat badannya sendiri. Endapan sabun bergelembung mirip krim masih tertinggal di tubuhnya yang merekah merah bagai habis keluar segar dari oven. Pandangan Kaveh kian menurun dan mendapati kejantanan miliknya telah menegak. Mendadak terbersit dalam otak Kaveh bahwa benda itu berdiri lurus ke atas dan entah terlihat familiar layaknya sebatang lilin yang tinggal menunggu untuk menyala.
Detik itu Kaveh menyadari makna di balik gestur Alhaitham.
"ALHAITHAM!!!"
"Berisik. Jangan teriak di deket kuping."
"Berisik ndasmu! Apa maksud kamu, hah!"
"Bukannya udah jelas maksud aku apa. Apa kamu masih nggak paham?"
"Diem kamu!"
Alhaitham sudah terlalu malas untuk berdebat dengan Kaveh sehingga ia segera meraih batang kepunyaan Kaveh dan meremasnya.
"Ah! Be-bentar, Haitham–"
"Pegangan yang kuat," titah Alhaitham. Kaveh dengan patuh mempererat pelukkannya seraya membenamkan mukanya pada bahu Alhaitham.
Jemari Alhaitham lihai sekali memijat kelamin Kaveh dari ujung ke ujung secara lembut. Kedua kantung zakar pun tak terlewatkan untuk mendapat perlakuan yang sama. Lambat laun gerakan usapannya kian memacu kecepatan. Perlahan pula, kehangatan berkumpul di ujung tanduk yang tak lagi bisa ditahan.
"Haitham, Haitham, a-aku mau keluar…" Mata Kaveh nampak memerah dan berkaca-kaca. Napasnya mulai tak terkontrol lagi dan kini wajahnya dipoles mengilap oleh semburat merah padam.
Alhaitham merunduk sedikit. "Then come for me," bisiknya tepat di depan telinga Kaveh. Usai kalimat itu terucap, seutas cairan berwarna putih meluncur dari ujung penis Kaveh dan mengotori tangan dan perut Alhaitham.
Tanpa perlu melihatnya, Kaveh tahu bahwa keadaannya saat ini terlalu memalukan. Karena itu, ia semakin menenggelamkan mukanya pada sisi leher Alhaitham dan meracau dengan suara terendam.
"Kaveh?" panggil Alhaitham.
"... cepetan," jawab Kaveh dalam suara kecil.
"Aku tau. Tapi kamu masih bisa berdiri nggak?" Kaveh merespons dengan memukul punggung Alhaitham dengan jengkel. "Diem atau aku nggak kasih izin masuk," ancamnya.
"Oke." Alhaitham lalu melingkari pinggang Kaveh menggunakan tangan bersihnya dan mengangkat tubuh si pirang. Alhasilnya tubuh Kaveh kini sepenuhnya menyandar pada dinding dan wajah meronanya harus tersingkap telanjang.
Aksi Alhaitham mengejutkan Kaveh sehingga ia refleks menyilangkan kedua kakinya lekat-lekat pada pinggang Alhaitham. "Kamu mau apa–"
"Preparing you," jawab Alhaitham pendek. Ketika ia sudah yakin telah menyangga berat badan Kaveh dengan kokoh, barulah jemarinya bergerak ke bawah.
Kaveh hampir melonjak kala sesuatu yang dingin dan licin menyentuh bokong sintalnya kemudian menyusup di antara lipatan dua gundukkan putih susu tersebut. Tubuh Kaveh sedikit gemetar di saat jari Alhaitham mengitari pintu masuk lubang analnya. Jari tersebut bermain begitu sabar meraba membentuk lingkaran di area itu dengan kecepatan konstan. Satu putaran, tiga putaran, lima putaran hingga Kaveh tak bisa lagi menahan gesekkan yang dingin dengan kulit sensitifnya dan kunjung mendesak Alhaitham untuk memasukinya.
"Tham, please masukkin, oke? Aku nggak kuat lagi," pinta Kaveh.
"Cium aku dulu."
Kaveh langsung membungkuk dan mendaratkan kecupan pada bibir Alhaitham. Pada saat itu pula, jari telunjuk dan jari tengah milik si surai kelabu lantas menerobos liang bawah Kaveh dengan lancar.
"Ngghhh, Haitham…" Spontan Kaveh mendesah dan memejamkan matanya dalam kenikmatan. Kedua jari Alhaitham yang dibalur sperma Kaveh leluasa sekali bergerak maju-mundur tanpa ada rintangan.
"Angkat pinggangmu," perintah Alhaitham. Kaveh menurut dan dengan susah payah berusaha menaikkan bokongnya menjadi lebih tegak. Tindakan ini memperluas akses masuk bagi jemari lentik Alhaitham untuk mencapai lebih dalam di liang bawah Kaveh.
"Ahngghh … Haitham, di-di situ!" Rasanya tubuh Kaveh tersetrum hebat ketika jari Alhaitham menyenggol titik sensitifnya. Rangsangan tanpa aba-aba itu menerkam dan menjalar ke seluruh inderanya sampai-sampai Kaveh sontak mencengkeram kuat pada punggung Alhaitham dalam usahanya untuk meredam sensasi nikmat itu.
"Veh, awas aja jangan sampai nyakar punggung–" Sebelum Alhaitham selesai menegur Kaveh, si pirang sudah terlebih dahulu melepas pegangannya dan tangannya berganti mengelus bekas cakarannya sekilas tadi.
Ekspresi datar Alhaitham pun melembut dan kerutan di dahinya mengendur. Namun, Alhaitham tidak memberikan ampun di bagian bawah. Satu jari lagi dijejal amblas ke dalam liang anus Kaveh dan menggenjot ketiga jari tersebut dengan lebih antusias.
"Akhn! Tham … jangan cepet-cepet … mngghhh…"
Kaveh berpikir dirinya akan semakin menggila sebab setiap hentakan jari Alhaitham sukses menyentuh prostatnya dengan akurat.
"Kaveh, why are you so obedient today?" tanya Alhaitham memperpendek jarak antara dirinya dan Kaveh hingga dada mereka saling berbenturan. Alhaitham lalu memagut kulit leher Kaveh dan mulai menandai kepemilikannya dengan posesif.
"Hahnghh … emangnya nggak boleh?"
"Nggak masalah," Alhaitham masih mengecup bahu Kaveh sembari mengeluarkan ketiga jarinya, "jarang aja aku ngeliat kamu kayak gini."
Lenyapnya kehadiran jemari Alhaitham yang mengisi liang bawah Kaveh kini terasa kosong seketika. "Lah, kenapa dilepas?" protes Kaveh sambil menggembungkan kedua pipinya.
Alhaitham tidak mengindahkan omelan Kaveh dan memilih untuk memperbaiki rengkuhannya pada pinggang Kaveh dan berujar, "I'm going in."
"Ah, oh…" Tubuh Kaveh menegang dan posturnya berubah menjadi lebih tegak. Raut mukanya nampak sedikit cemas dan mulutnya ragu-ragu berbicara. "Uhm, Tham. Pelan-pelan, please?" Kaveh memiringkan kepala dan menatap Alhaitham dengan memelas.
Ingin sekali Alhaitham menolak permintaan Kaveh, tetapi hatinya luluh melihat Kaveh seperti itu. Ia mengambil napas panjang untuk menenangkan dirinya sesaat agar tidak impulsif memasukkan seluruhnya ke dalam Kaveh.
"... oke."
Alhaitham memegang dan memandu kejantanannya menuju gerbang liang bawah yang sudah dipersiapkan dengan baik. Pertama-tama, kepala penis Alhaitham melesak perlahan dan lantas disambut oleh jepitan kuat dari dinding dalam Kaveh.
Kaveh sontak merintih kesakitan dalam suara kecil. Alhaitham buru-buru berupaya untuk mendistraksi atensi Kaveh dengan membelai punggung leher kekasihnya. Walau begitu, kondisi Alhaitham tidak berbeda jauh dari Kaveh. Lelaki bersurai abu-abu itu harus menahan bahwa miliknya terus-menerus diapit tanpa ampun seiring ia mendorong lebih dalam dan jauh hingga mencapai dasar.
"... jangan tegang." Akhirnya Alhaitham buka suara setelah gagal menghadapi cobaan maut dalam kognisinya.
"I can't help it," Kaveh menunduk dan menatap lurus ke arah Alhaitham dengan muka dan telinga merona merah, "we haven't done it for a month."
Momen itu Alhaitham terdiam. Dirinya tidak ingin mengakui bahwa ia tercengang melihat Kaveh yang begitu memesona ketika sedang bersikap malu-malu. Sepintas lidahnya terasa kelu.
"... salahku gara-gara aku lagi punya projek penting sampe nggak sempet ngurusin kamu–"
"Berhenti ngomong." Alhaitham tidak pernah suka mendengar Kaveh menyalahkan dirinya. "Sekarang fokus dan rileks," sambungnya.
Satu sekon berikutnya, Alhaitham mengeluarkan batangnya hingga ujung lalu menghujamkan kembali dalam-dalam. Perbuatannya sukses mengalihkan perhatian Kaveh yang kini tertuju pada rasa ngilu di bagian bawahnya.
"Haitham–" Alhaitham merenggut dua buah bibir kenyal Kaveh yang setengah terbuka. Lidahnya cepat sekali menyelip masuk ke dalam dan mulai bertukar saliva dengan Kaveh. Sementara, gerakannya di bawah tak berhenti memompa keras diiringi suara tubrukan kulit dan percikkan air yang sensual.
Salah satu tangan Alhaitham mengangkat paha Kaveh dan ia lagi-lagi menghantam keluar-masuk dalam dinding liang yang terus meremasnya. Posisinya kini berhasil memasuki lebih dalam 'tuk terhubung dengan Kaveh, sekaligus tak sengaja menggesek prostat Kaveh.
Kaveh pun mengerang penuh nikmat seolah rasa sakit barusan menghilang dalam sekejap.
"Mngghhn, Ha-haitham…"
"Hnnh, apa?" Lama-lama napas Alhaitham menjadi tak beraturan, tetapi gerakannya tak melambat sedikit pun.
"Te-terus, jangan berhenti…" Bulu mata Kaveh bergetar seraya Kaveh mengerjapkan matanya. "Di sana, mnhhmn, ka-kamu tau 'kan?"
"En." Maka Alhaitham memenuhi permintaan Kaveh dan menggempur titik sensitif itu sembari mempercepat lajunya. Lalu dirinya sibuk mendaratkan kecupan penuh cinta mulai dari kening, ujung mata, hidung, mulut, leher, dan terus menurun sampai mulutnya mencaplok salah satu puting Kaveh.
Kaveh melenguh lantang kala Alhaitham menggigit pelan dan menyedot putingnya.
"Ja-jangan…! Haitham, akhhnmn…!"
Untuk kesekian kalinya, penis Alhaitham menghajar tepat mengenai prostat Kaveh dengan penuh energi. Kaveh refleks memejamkan matanya dan terlena dalam lautan kenikmatan ini.
"Nggghhh, Tham! A-aku–"
"Aku tau." Setelah berucap demikian, Alhaitham menggapai batang Kaveh yang tergeletak berayun dan mulai mengocoknya. Dengan rangsangan dari kedua sisi yang tak selesai meninjunya menuju euforia, perlahan Kaveh merasakan kehangatan mengepul di ujung.
"Kaveh," sebut Alhaitham memacu kecepatan gerakannya. Dinding liang bawah Kaveh makin mengencang dan menelan milik Alhaitham. Seperti Kaveh pula, Alhaitham merasakan pelepasannya sudah mendekat.
"Kaveh, buka matamu."
Rasanya Kaveh sudah kehilangan akal dalam aktivitas intimnya bersama Alhaitham setelah sebulan lebih menunggu. Meski begitu, rasionalitas Kaveh masih bertahan dan menyalurkan perintah ke otaknya untuk mengikuti arahan Alhaitham.
Sehingga Kaveh pun membuka matanya lebar-lebar.
Di bawah cipratan air pancuran yang masih menyala, rambut abu Alhaitham sudah basah sepenuhnya dan beberapa helai menempel pada wajahnya. Poni rambutnya tergerai ke samping dan menyibak dua netra hijau yang berkilat liar. Sepasang manik yang menyimpan kedalaman tak terbatas kini hanya tertuju kepada Kaveh seorang dan menatapnya sangat lengket seolah Kaveh adalah dunianya. Bulir-bulir air mengalir dari pucuk kepala dan melintas sekujur wajah Alhaitham sampai melewati bibir merah yang jelas-jelas terlihat sehabis berciuman tak henti.
Kaveh benar-benar terkesiap dan tidak bisa melepaskan pandang dari wujud Alhaitham saat ini.
"Kaveh," panggil Alhaitham sekali lagi.
"Y-ya?" Kaveh memberanikan diri untuk membalas tatapan Alhaitham.
"Ayo kita nikah."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Kaveh untuk menjawab, Alhaitham sudah terlebih dahulu melumat bibir Kaveh dan membungkamnya selama ia mencapai puncaknya di dalam liang Kaveh. Di saat yang bersamaan, Kaveh keluar untuk kedua kalinya.
Keduanya lalu terjatuh dalam kesunyian. Mereka sibuk mengatur napas walau netra mereka masih saling bertemu.
Beberapa menit kemudian, Alhaitham akhirnya mengambil inisiatif untuk mencabut kejantanannya dari liang bawah Kaveh. Tak lama cairan putih yang familiar merembes ke luar. Kaveh mengekspresikan ketidaknyamanannya dengan mengerutkan kening. Alhaitham yang mengerti maksud Kaveh pun segera membantu membersihkan diri Kaveh yang sudah tak ada tenaga lagi untuk berbicara.
Sesudah mengeringkan tubuh Kaveh, Alhaitham menggendong kekasihnya ke atas tempat tidur. Kemudian ia beranjak ke luar kamar dan bermaksud untuk memasukkan kue ke dalam kulkas agar tidak basi. Namun, langkah kakinya terhenti kala Kaveh memanggilnya.
"Tham, tolong ambilin tas aku."
Alhaitham mengangguk dan keluar. Setelah tiga menit berlalu, Alhaitham kembali ke sisi Kaveh dan menyodorkan tas. Kaveh memaksa mengangkat lengannya yang letih dan membuka tas lalu merogoh masuk.
Alhaitham mengangkat sebelas alisnya. "Emangnya kamu masih ada kerjaan malem-malem begini?"
"Uhm, nggak."
"Terus?"
"Kado ultah kamu."
"Bukannya kamu udah ngasih aku kue?"
"Kamu kira cukup ngasih kue buat hari spesialmu ini?" Kaveh mengeluarkan kotak merah kecil dan menaruhnya di atas telapak tangan Alhaitham. "Nih, buat kamu."
Tidak perlu bertanya pula, Alhaitham sudah mengetahui hadiah di balik kotak merah tersebut.
"Kamu ngasih gini tanpa ngucapin apa-apa?"
Kaveh mendengus. "Siapa yang ngajak nikah tadi di kamar mandi."
"Terus jawabanmu?"
"Bukannya udah aku jawab!" seru Kaveh terlihat kesal meski semburat merah merayap ke pipinya.
"Tapi kamu belum pakein cincinnya di jariku."
Kaveh melemparkan tatapan mengancam ke arah Alhaitham. Namun, ia menjawab dengan aksinya yang tengah membuka kotak dan memasang cincin di jari manis Alhaitham.
"Udah 'kan. Sekarang aku mau tidur." Habis itu, Kaveh membenamkan wajahnya ke dalam bantal dan menolak untuk menoleh ke Alhaitham.
Walau sekarang Alhaitham ingin sekali menarik Kaveh ke dalam dekapannya dan membisikkan kalimat penuh afeksi di dekat telinga Kaveh, ia tahu bahwa Kaveh kini butuh istirahat setelah seharian bekerja keras.
Beberapa menit adalah waktu yang dibutuhkan Alhaitham untuk terpana dan menonton cincin itu membungkus jarinya dengan ukuran yang cocok. Lalu ia dengan enggan melepaskan cincin tersebut dan menyimpannya di tempat yang aman sebelum ikut bergabung di tempat tidur bersama Kaveh.
Ketika tangan Alhaitham bergerak ke samping untuk memeluk Kaveh, mendadak lelaki surai pirang itu berbicara.
"Sebenernya aku bisa pulang cepet hari ini," ungkap Kaveh terdengar merasa bersalah.
"Abis selesai kerja tuh aku rencananya tinggal ngambil cincin di toko sebelah terus pulang. Tapi, tiba-tiba pemilik tokonya bilang kalo cincinnya ternyata diproduksi di cabang di area lain yang lebih jauh karena waktu itu aku minta custom ring. Jadi aku harus pergi ke cabang sana yang jauh banget, kena macet, dan akhirnya telat pulang."
Seusai bercerita, Kaveh diam sejenak.
"I'm sorry," gumamnya.
Alhaitham lekas melingkarkan tangan pada pinggang Kaveh dan menarik tubuh Kaveh ke arahnya. "Jangan minta maaf," ucap Alhaitham.
"Uhm."
"Dan makasih kadonya."
"Oh."
"Sekarang tidur."
"Ah, iya."
Alhaitham mengulurkan tangan dan mematikan lampu. Di saat ruangan menjadi gelap gulita, Kaveh memberanikan diri untuk berbisik pelan.
"I love you."
Alhaitham membalas dengan mengecup kening Kaveh begitu lama.
Aku juga, batin Alhaitham.
Karena kamulah satu-satunya lentera hidupku.
