Actions

Work Header

Cracked - Anniversary Dinner

Summary:

Their anniversary dinner, the gift(s), the sex, and their true feelings.

Notes:

This is a part of my twitter AU with the tittle Cracked. You can find it here

Work Text:

Seokjin mengecek bayangannya berkali-kali di spion mobil sebelum akhirnya membuka pintu dan turun dari mobilnya. Dengan tas kecil berisi kotak perhiasan, Seokjin melihat bayangannya sekali lagi di kaca mobil dan merapikan kerah kemejanya. Setelah yakin dirinya terlihat cukup baik, dia berjalan menuju lift untuk menuju unit apartemen Namjoon.

 

Sementara itu di unit bernomor 1209, Kim Namjoon menatap bayangannya di cermin untuk yang kesekian kalinya malam itu. Sejak sore, dia sudah mencoba setidaknya dua puluh paduan atasan dan bawahan untuk makan malam bersama Seokjin. Pilihannya akhirnya jatuh ke blus sutra berwarna putih gading dengan potongan v-neck dan celana hitam panjang. Namjoon merapikan rambutnya sekali lagi—rambutnya sudah cukup panjang melewati tengkuk, mungkin dia harus menjadwalkan janji potong rambut dalam waktu dekat.

 

Ding dong!

 

Namjoon sedikit terperanjat mendengar bel apartemennya berbunyi. Dia mengambil napas sebelum melangkah untuk membuka pintu dan tersenyum kepada tamunya. “Kak Seokjin,” sapanya lembut kemudian mempersilakan pria itu masuk.

 

Seokjin tertegun. Dia tidak bisa melepaskan pandangannya dari sang omega sampai-sampai dia lupa harus memberikan kadonya. Entah apa yang berbeda dari Namjoon malam ini; mungkin rambutnya yang ditata dengan cantik membingkai wajahnya, mungkin juga semburat merah yang terlihat samar di pipi, atau pakaian Namjoon yang dengan apik memeluk tubuhnya, atau bisa saja karena dia sudah sangat merindukan sang omega. Seokjin tidak tahu. Yang jelas Namjoon terlihat sangat indah.

 

Seokjin masih terlalu sibuk memperhatikan Namjoon dan dia tidak sadar di depannya sudah terhidang sepiring steak beserta baked potato seperti yang dijanjikan Namjoon di kolom obrolan mereka tadi pagi. Dia baru tersadar saat Namjoon menunjuk piringnya dengan senyum lebar.

 

Makan malam itu terasa menyenangkan. Pasangan alpha dan omega itu berbagi obrolan ringan tentang berbagai hal; tentang bagaimana hari dan pekerjaan masing-masing, tentang anjing lucu yang Namjoon temui beberapa hari yang lalu, dan juga tentang kabar teman-teman mereka. Sudah sangat lama rasanya mereka berdua tidak duduk berdua dan menikmati makan malam bersama seperti ini. Bahkan jauh dari sebelum mimpi buruk ini terjadi, Seokjin terlalu disibukkan oleh pekerjaannya sehingga hampir selalu melewatkan makan malam. Meski mereka tidak makan di restoran mewah dengan lampu temaram dari lilin, bagi Seokjin ini cukup. Berdua saja bersama Namjoon sudah sangat cukup. Bahkan jika mereka hanya makan mie instan di depan minimarket , Seokjin rasa hal itu juga akan terasa sempurna.

 

Setelah selesai makan, mereka berdua mencuci alat makan bersama dan kembali duduk di lantai sambil menghabiskan wine dan melanjutkan cerita. Mereka duduk bersandar di sisi kasur. Dengan jarak sedekat ini, Seokjin bisa mencium aroma Namjoon yang sangat manis. Tidak ada kekhawatiran yang dapat dia cium dari feromon sang omega. Seokjin tersenyum tipis. Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia tidak mencium feromon omeganya semanis ini. Bau Namjoon yang memikat membuat Seokjin merapatkan posisi duduk mereka berdua. Dadanya berdetak lebih cepat saat menyadari Namjoon menempelkan kakinya di lutut Seokjin.

 

“Kak, katanya ada hadiah buat aku?”

 

Oh, Seokjin terlalu sibuk memuja Namjoon dalam pikirannya sampai dia melupakan hadiah yang dibawa. Dia kemudian mengambil tas yang dia simpan di sebelahnya, mengeluarkan dan membuka kotak beludru biru, dan menunjukkan kalung dengan liontin berbentuk bulan sabit itu ke Namjoon. Senyumnya mengembang melihat mata Namjoon yang membesar.

 

“Bakal cantik banget di kamu. Mau aku bantu pakaikan?” tawar Seokjin, yang dijawab Namjoon dengan anggukan cepat.

 

Sementara Seokjin mengambil kalung dari dalam kotak, Namjoon berbalik. Namjoon menunggu sampai Seokjin selesai mengaitkan kalungnya dan memintanya untuk kembali berbalik menghadapnya.

 

Pretty ,” bisik Seokjin menatap kalung di leher Namjoon. Liontin bulan sabit itu jatuh tepat di antara tulang selangka, menambah indah leher sang omega.

 

Pandangan Seokjin bergerak ke atas dengan perlahan, sempat berhenti cukup lama di bibir Namjoon, sampai menatap matanya. Namun saat dia melihat mata Namjoon, dua netra itu tak tertuju pada matanya, melainkan ke—Seokjin duga—bibirnya. Untuk menguji, Seokjin menggigit bibir bawahnya. Dia kemudian tersenyum tipis melihat Namjoon yang juga memimikkan gerakannya. Tertangkap basah, Namjoon menatap Seokjin yang melihatnya dengan seringai tipis di bibir.

 

“Uh …”

 

Belum sempat otak Namjoon bekerja untuk mencari alasan, organ itu kembali berhenti berfungsi saat tiba-tiba Seokjin mendekatkan wajah. Seokjin menatap matanya tajam. Namjoon merasa semua yang ada di dalam tubuhnya berhenti berfungsi, kecuali jantungnya yang berdegup kencang.

 

Dengan jarak sedekat ini, Seokjin dapat mencium aroma Namjoon semakin kuat. Rona di pipi sang omega semakin jelas akibat wine dan juga mungkin karena posisi mereka sekarang. Wajah Seokjin kian mendekat. Dia dapat merasakan deru napas Namjoon di wajahnya.

 

Namun kemudian dia berhenti.

 

Bagaimana jika Namjoon tidak menginginkan ini? Bagaimana jika Seokjin bergerak terlalu cepat sementara Namjoon belum tentu siap menerimanya kembali? Bagaimana jika …

 

Pikiran Seokjin berhenti berikut dengan jantungnya.

 

Namjoon mencium bibirnya.

 

Menyadari Seokjin tidak membalas pagutannya, Namjoon berhenti. Apakah dia salah menerima kode Seokjin? Apakah Seokjin tidak menginginkan hal yang sama dengannya?

 

Sebelum pikiran Namjoon semakin jauh, Seokjin menarik dagunya dan menciumnya dalam. Tangan Seokjin berada di sekitar tubuhnya dan hal berikutnya yang Namjoon tahu, dia sudah berada di atas paha sang alpha. Tarikan ringan di belakang kepala Seokjin membuat pria itu melepaskan pagutan dan beralih ke rahang dan terus turun sampai ke scent gland Namjoon yang berada di bawah telinga. Sang alpha mengecup tanda gigitan yang dia torehkan bertahun lalu sebelum menggigitnya lembut.

 

“Mmhh …”

 

Desahan yang Namjoon keluarkan membuat tubuh Seokjin membara. Sambil menyeringai, mulutnya bergerak naik ke telinga dan berbisik, “ You know you’re turning me on if you moan like that, Omega .”

 

Namjoon merapatkan kaki dan merengek pelan. Seokjin menyunggingkan senyum. Dia tahu pasti apa yang dilakukannya. Aroma birahi Namjoon yang semakin meningkat membuatnya juga merasakan hal yang sama. Mata Namjoon menatapnya sayu dan napasnya terdengar semakin cepat. Seokjin mengerti apa yang Namjoon inginkan.

 

Sang alpha kemudian kembali melumat bibir tebal Namjoon. Dia selalu suka suara yang Namjoon keluarkan setiap kali bibirnya dihisap. Seokjin melingkarkan lengannya di pinggul Namjoon dan menariknya mendekat. Desah panjang yang Namjoon keluarkan saat selangkangan mereka bergesekan membuat celananya terasa semakin sesak. Dua telapaknya kemudian menangkup pantat Namjoon dan meremasnya selagi Namjoon sibuk membuka kancing kemeja Seokjin satu per satu.

 

Namjoon menurunkan kemeja Seokjin setelah seluruh kancingnya terlepas. Dia menelan ludah. Entah kapan terakhir kali dia melihat dada telanjang suaminya. Telapaknya menyentuh dada Seokjin, merasakan hangatnya kulit Seokjin di bawah tangannya yang dingin akibat gugup. Saat tangannya bergerak turun dan jarinya dengan sengaja melewatkan puting Seokjin, Namjoon tersenyum tipis mendengar sang alpha meringis pelan.

 

Tangan Namjoon menemukan pengait celana Seokjin. Dengan terburu-buru dia membuka pengait berikut resletingnya. Namjoon menarik kain itu turun, tapi tidak berhasil karena Seokjin dengan sengaja tidak mengangkat pinggulnya.

 

Please ,” rengek Namjoon menatap Seokjin yang melihatnya sambil tersenyum.

 

Tidak memiliki rencana untuk menggoda yang lebih muda, Seokjin mengecup puncak hidung Namjoon dan menepuk pinggulnya pelan agar berpindah dari pangkuannya. Saat Seokjin berdiri, celananya lolos sampai ke lantai, meninggalkannya dengan hanya terbungkus celana dalam.

 

Namjoon yang sedang berlutut mengangkat kepala menatap Seokjin yang berdiri menjulang di depannya. Ingin segera dia menarik kain terakhir di tubuh alpha itu turun, tapi dia menunggu sampai Seokjin mengizinkan. Segera setelah Seokjin mengangguk, tangan Namjoon tanpa ragu menurunkan celana Seokjin dan menelan ludah saat penis suaminya yang sudah berdiri sempurna, hampir saja menampar pipinya. 

 

Seokjin menggigit bibirnya kuat-kuat merasakan napas Namjoon hangat di kepala penisnya. Napasnya terhenti sebelum keluar bersama geraman panjang saat lidah Namjoon menyapu bagian bawah penisnya. Butuh kekuatan lebih dari Seokjin untuk tidak mendorong pinggulnya lebih dalam saat Namjoon akhirnya memasukkan penis Seokjin ke dalam mulutnya.

 

Melihat Seokjin mendesah akibat aksi mulutnya membuat Namjoon tersenyum puas. Dia suka bagaimana Seokjin berdenyut di dalam mulutnya. Namjoon kemudian meraih tangan sang alpha dan menaruhnya di belakang kepalanya, seakan sebagai tanda bagi Seokjin untuk menggunakan mulutnya sesuai yang dia inginkan.

 

Jari Seokjin yang menjambak rambut belakang Namjoon membuatnya dapat mengontrol gerakan kepala sang omega. Seokjin menahan napas karena Namjoon dengan menurut membiarkan Seokjin masuk lebih dalam meski hal itu membuatnya tersedak. “Oh … baby ,” desah Seokjin sambil melemparkan kepalanya ke belakang.

 

Seokjin dapat merasakan rasa panas yang familier di perutnya. Meski dia sangat ingin untuk tidak berhenti, Seokjin tidak ingin keluar sekarang. Dengan cepat dia menarik kepala Namjoon menjauh sebelum orgasmenya mendekat. Rengekan sang omega yang tak terima kegiatannya dihentikan paksa dia redam dengan mengecup bibir Namjoon yang berkilau oleh saliva.

 

Tangan Seokjin membawa Namjoon naik dari posisinya ke sisi kasur dan perlahan merebahkan tubuhnya. Sementara mulutnya disibukkan dengan meninggalkan kecupan di sepanjang rahang sampai leher, tangan Seokjin membuka kancing kemeja pria di bawahnya. Dia kemudian beralih mengecup dan menghisap dada Namjoon setelah bajunya terbuka. Hisapan yang cukup kencang di puncak dadanya tak hanya membuat Namjoon mengerang, juga meninggalkan bekas kemerahan yang kontras dengan kulitnya.

 

Seokjin menarik diri untuk menatap Namjoon. Cantik sekali . Namjoon yang tengah berbaring di tengah kasur dengan kancing baju terbuka dan terdapat bekas gigitan kemerahan di dadanya terlihat sangat cantik. Mata Seokjin kemudian menatap celana Namjoon sekilas. Oh, celana hitamnya terlihat sesak. Tanpa menunda Seokjin membuka kancing celana Namjoon dan menurunkannya. Matanya terbelalak melihat kain terakhir yang menutupi, oh bahkan benda itu hanya setelah menutupi, kemaluan Namjoon: celana dalam model thong dengan bahan renda berwarna biru muda.

 

“Kamu … pakai ginian dari tadi?”

 

Malu-malu Namjoon mengangguk. Persiapan yang Namjoon lakukan bukan hanya tentang kemeja dan celananya, tapi juga dalamannya. “Suka, ga?” tanya Namjoon malu-malu.

 

Seokjin menatap bagian di bawah perut Namjoon dan menelan ludah. Di waktu intim mereka, Namjoon memang beberapa kali sengaja membeli pakaian dalam baru—terutama yang berbahan dasar renda—yang selalu membuat Seokjin kehilangan akal. Tapi yang satu ini berbeda . Model thong yang Namjoon kenakan bahkan tidak dapat melakukan fungsinya menutupi penis Namjoon saat tidak sedang ereksi. Saat sedang ereksi seperti sekarang, hampir setengah bagian penisnya tidak tertutupi sama sekali.

 

“Kak, look .”

 

Saat Namjoon mengangkat kaki, Seokjin bersumpah nyawanya melayang di atas kepala. Dua tali yang menghubungkan thong itu ke bagian belakang tidak berfungsi untuk menutupi pantat Namjoon sama sekali. Ditambah fakta paha dalam Namjoon berkilau oleh slick -nya, membuat otak Seokjin berhenti.

 

Sambil tertawa Namjoon beranjak duduk dan melingkarkan tangan memeluk Seokjin lalu menciumnya. “ Does it look good? ” tanya Namjoon polos, seolah-olah dia tidak baru saja membuat Seokjin hampir orgasme hanya dengan melihat pakaian dalamnya.

 

No words , Sayang. I almost came ,” jawab Seokjin yang disambut dengan tawa Namjoon. Dia kemudian menciumi Namjoon sampai sang omega kembali berbaring. 

 

Look at you ,” puji Seokjin setengah berbisik. Dia menatap Namjoon dari atas sampai bawah sekali lagi. Otot dadanya yang setengah terbentuk, perutnya yang terlihat lembut tapi padat, pahanya yang kencang, dan oh jangan lupakan pakaian dalam yang menambah kesan seksi di tubuh Namjoon.

 

Namjoon tersenyum puas atas respon Seokjin yang sesuai dengan harapannya. Senyumnya seketika tergantikan oleh erangan saat tangan Seokjin dengan sengaja menggesek penisnya. “ Please ,” pintanya.

 

Biasanya Seokjin akan menggodanya, Mau apa? Ngomongnya yang jelas biar aku bantu. Namun kali ini tampaknya dia sedang tak ingin basa-basi. Meski begitu, Seokjin mengambil waktu dengan menciumi setiap inci kulit Namjoon sampai dia tiba di antara kakinya. Dia kemudian menurunkan celana dalam Namjoon sedikit. Dengan mengunci matanya pada wajah Namjoon, Seokjin menjulurkan lidah dan menjilat penis omeganya.

 

Namjoon membuka kakinya lebih lebar. Seokjin amat terampil dalam memberikan kenikmatan dengan mulutnya. Dia tidak melewatkan bagian yang membuat Namjoon berteriak nikmat. Bagian belakangnya terasa kian lengket. Wajahnya bersemu menyadari Seokjin bahkan belum menyentuh analnya, tapi Namjoon sudah sangat basah di sana.

 

Satu tangan Seokjin bergerak turun ke antara dua kaki pria di bawahnya. Darahnya berdesir saat jarinya menyentuh slick sang omega yang sudah menetes ke atas kasur. Desahan yang Namjoon ciptakan membuat Seokjin tersenyum miring. Dia bahkan belum menyentuh lubang senggama Namjoon, tapi kekasihnya sudah merespon seperti ini.

 

“Ada yang semangat banget kayanya,” goda Seokjin. Sebelum Namjoon dapat protes, jari tengahnya menyelinap masuk, membuat Namjoon berteriak kencang. “Shhh … nanti tetangga kamu denger,” ujar Seokjin sambil menggigit kulit paha Namjoon gemas.

 

Namjoon menggigit bibirnya kuat-kuat. Berbulan-bulan tidak memiliki sesuatu apa pun di bagian belakangnya membuatnya lebih sensitif akan sentuhan Seokjin. Namjoon meremas sprei saat Seokjin menaikkan tempo gerakan tangannya.

 

“Mmmhh … Kak, pelan,” pinta Namjoon terengah-engah.

 

Panik, Seokjin berhenti dan menarik tangannya. “Sakit, ya?” tanya Seokjin khawatir.

 

Namjoon menggeleng dan menggenggam tangan Seokjin yang satu untuk meyakinkannya bahwa dia tidak apa-apa. “Ga mau keluar cepet,” ucapnya manja.

 

Seokjin mengembuskan napas lega. Tubuhnya naik sejajar dengan Namjoon dan mengecup dahi kekasihnya. Jarinya kembali masuk dengan tempo yang sedikit lebih lambat. Meski begitu, rangkaian desahan keluar dari mulut Namjoon tanpa henti.

 

Setelah merasa preparasinya cukup, Seokjin mengeluarkan jarinya dan menepuk paha Namjoon pelan untuk memintanya berbalik. Namjoon sempat merengek sebelum memosisikan diri di depan Seokjin. Pinggulnya terangkat tinggi, memamerkan selangkangan yang basah oleh cairannya sendiri.

 

Seokjin menelan ludah. Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia melihat omeganya seperti ini. Dia lalu mengambil posisi di belakang Namjoon dan mengarahkan penisnya ke lubang senggama prianya. Seokjin melihat Namjoon memutar kepala ke belakang dan mengunci tatapan mereka. Perlahan Seokjin mendorong pinggulnya masuk, membuat sang omega memejamkan mata dan wajahnya berkerut seperti menahan sesuatu.

 

Too much? ” tanya Seokjin menghentikan dorongan pinggulnya. Dia sadar ukurannya di atas rata-rata dan dia khawatir tadi kurang mempersiapkan Namjoon.

 

Namjoon mengangguk lemah. “Gapapa. Pelan-pelan, Kak,” pintanya.

 

“Mau aku berhenti?” tanya Seokjin bersiap untuk menarik pinggulnya sebelum Namjoon menggeleng cepat dan menyentuh pahanya.

 

“Jangan! I’m okay. It’s been too long. Give me a second to breathe .”

 

Seokjin mengangguk kemudian menunduk untuk membubuhkan ciuman di pundak Namjoon. Tangannya membelai sisi tubuh Namjoon untuk membuatnya relaks. Butuh beberapa waktu sampai Seokjin dapat merasakan dinding Namjoon tidak menegang di sekitar penisnya. Satu tangannya bergerak menuju penis Namjoon dan memompanya pelan.

 

Move ,” ujar Namjoon yang direspon Seokjin dengan anggukan dan kecupan ringan di pipi sebelum mendorong pinggulnya lebih dalam. Mata Namjoon kembali terpejam dan tangannya meremas bantal di bawah kepalanya saat Seokjin mulai menaikkan tempo perlahan.

 

Seokjin meremas pinggul Namjoon kuat. Suara basah yang tercipta dari penyatuan tubuh mereka dan juga erangan sang omega membuatnya candu. Beberapa kali Seokjin dengan sengaja memelankan gerakan dan memperhatikan bagaimana penisnya ditelan oleh tubuh Namjoon. Seokjin lalu menunduk, membuatnya terbenam lebih dalam dan kemudian menggigit kecil tengkuk Namjoon.

 

Seokjin kemudian merubah posisinya menjadi duduk dan membawa Namjoon bersamanya sehingga sang omega duduk di pahanya. Dengan lihai Namjoon menggerakkan pinggulnya membuat Seokjin mendesah panjang.

 

“Mmhh … Ah … Alpha … ‘m close …”

 

Turn around ,” bisik Seokjin dan Namjoon berbaring di punggungnya. Seokjin mengangkat satu kakinya dan kembali memasuki Namjoon dengan tempo lebih cepat kali ini. Fokus Seokjin adalah agar omeganya dapat orgasme. Dengan sengaja dia menumbuk titik sensitif Namjoon, mengundang rengekan dan cicitan dari yang muda.

 

“A-ahhh … Alpha … I c-can’t … I can’t …” Namjoon menarik tubuh Seokjin dan memeluknya erat. Sang alpha yang mengerti mengangguk kemudian mencium Namjoon di saat pria itu mencapai puncaknya. Orgasme Seokjin menyusul beberapa detik kemudian. Knot -nya mengembang, membentuk sumbat di lubang Namjoon untuk beberapa menit ke depan. Lelah, Seokjin ambruk di atas Namjoon selagi dirinya menikmati orgasme yang membuat otaknya tak dapat memikirkan apa-apa selain Namjoon, Namjoon, dan Namjoon.

 

Setelah Seokjin kembali dari tingginya euforia pelepasannya, Seokjin menopang berat tubuh dengan kedua tangan agar Namjoon tidak tertimpa berat badannya—meski sejujurnya sang omega tidak keberatan sama sekali. Seokjin tersenyum dan mengecup dahi Namjoon lembut. Feromon mereka yang menyatu di udara, hembusan napas Namjoon yang terasa hangat di wajahnya, dan Namjoon yang tampak bercahaya setelah mencapai puncaknya. Seokjin menatap omeganya lekat-lekat. Dia rasa tidak ada satu kata pun di dunia yang dapat mendeskripsikan betapa sempurnanya pria yang sudah menemani hidupnya ini. Seokjin rasa dia jatuh cinta untuk kesekian kalinya kepada omeganya.

 

Sadar sang alpha menatapnya, Namjoon tersenyum lalu mengecup bibirnya. Dia meraih pipi Seokjin dan membelainya lembut. “Tadi enak banget, Kak,” ucapnya sambil tersenyum.

 

Yeah? ” Seokjin terkekeh saat Namjoon mengangguk cepat. “ We ruined your pretty thong ,” ucapnya cemberut.

 

“Kamu suka aku pakai yang ini?” Seokjin mengangguk dan Namjoon tersenyum puas. “Tadinya aku ragu. Kirain ga bagus buat aku,” lanjutnya.

 

“Seksi banget. Buy 100 more ,” ujar Seokjin membuat keduanya tertawa. Dibelainya pipi Namjoon kemudian menyisir rambut yang menutupi wajah Namjoon. Aku kangen kamu , ingin dia mengungkapkan itu tapi kalimat itu mati di lidahnya. Seokjin takut jika kalimatnya merusak momen magis yang tercipta di antara mereka. Maka dia beralih mencium kening Namjoon, berharap perasaannya dapat tersalurkan.

 

Beberapa menit kemudian, knot Seokjin reda dan dia dapat melepaskan diri. Dengan sigap dia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sekilas sebelum kembali ke atas kasur dengan beberapa helai handuk kecil yang sudah dibasahi air hangat. Dengan telaten Seokjin menyeka tubuh Namjoon agar prianya itu lebih nyaman untuk beristirahat. Setelah itu Seokjin memasukkan handuk kotor ke dalam mesin cuci dan mengambil segelas air untuk Namjoon, sementara Namjoon hanya berbaring menatap sang alpha berjalan di sekitar apartemennya.

 

Seokjin kemudian kembali ke atas kasur. Ditariknya selimut untuk mereka berdua dan berbaring di sebelah Namjoon. Dia berbaring menghadap Namjoon dan menggenggam tangannya. Hati Seokjin terasa penuh dan hangat. Mendapati Namjoon di sebelahnya membuatnya merasa menjadi pria paling bahagia di dunia.

 

Namun Namjoon tidak menunjukkan ekspresi yang sama.

 

Namjoon menatap langit-langit dalam diam. Wajahnya terlihat ragu dan menyimpan sesuatu. Menyadari hal itu, Seokjin mendekat dan menarik Namjoon ke dalam pelukan. Feromon Namjoon tidak berubah terlalu signifikan. Hanya ada sedikit kekhawatiran yang dapat Seokjin rasakan dari aromanya.

 

There were voices, Kak,” ujar Namjoon memecah kesunyian.

 

Seokjin mengernyit bingung dan menatap Namjoon lalu bertanya, “Hm? Suara apa?”

 

Inside my head. They’re telling me that I’m not good enough. It’s getting louder each day and I can’t stop them. I-I’m scared .”

 

Mulut Seokjin mengering. Ingatannya kembali pada hari di mana dia menemukan Namjoon berteriak dan menangis tertunduk sambil menutup kedua telinganya di kamarnya hari itu, sebelum Seokjin memutuskan bahwa Namjoon butuh pertolongan. 

 

“Sejak kapan?”

 

Namjoon menggeleng. “Ga inget. Aku selalu denger suara itu ada setiap hasil testpack -ku negatif. And they’re louder when I’m alone .”

 

Seokjin mengeratkan pelukan. Bagaimana bisa dia tidak menyadari omeganya sedang tidak baik-baik saja? Ini salahnya. Tidak sekali-dua kali dia menyadari Namjoon menyelinap keluar kamar di tengah malam dan tidak kembali sampai pagi. Pendengaran tajamnya juga sering menangkap suara isak tangis sang omega yang dia coba tahan sendirian. Sengaja Seokjin tidak menghampirinya di saat-saat seperti itu karena dia kira Namjoon butuh ruang. Yang gagal dipahaminya adalah saat-saat seperti itu adalah saat-saat di mana Namjoon paling membutuhkan dirinya. 

 

“Kenapa kamu ga cerita apa-apa?” tanya Seokjin setengah berbisik. Rasa hangat yang tadi dirasakannya hilang entah ke mana, digantikan oleh rasa penyesalan akan sikapnya.

 

You have so much on your plate already . Aku kira suara itu bakal hilang sendirinya. Jadi aku ga mau bikin kamu khawatir. Maaf.”

 

Seokjin menggeleng. Bukan Namjoon yang harus meminta maaf. Tidak seharusnya dia abai akan apa yang Namjoon rasakan. Selama ini dia kira hanya dengan ada di samping Namjoon cukup untuk menunjukkan dukungan. Sayangnya Seokjin tidak pernah bertanya tentang apa yang Namjoon benar-benar rasakan. Dia kira membiarkan Namjoon meluapkan emosinya saja sudah cukup. Seokjin salah. Yang dilakukannya hanya membuat Namjoon makin merasa kesepian.

 

“Satu waktu pas suara itu semakin jelas di kepalaku, aku ngerasa harus ngasih tahu kamu. Tapi di saat yang sama, aku takut. Gimana jadinya kalau semua yang suara itu bilang bakal jadi kenyataan? Kata mereka kamu bakal ninggalin aku. Aku takut, Kak. Aku takut kalau kamu beneran ninggalin aku kalau kamu tahu. Aku … ga mau kamu pergi.”

 

Suara Namjoon yang menciut di akhir kalimatnya membuat hati Seokjin seakan patah. Matanya berkedip cepat untuk menahan air mata yang hampir jatuh.

 

When Ahreum things happened , aku bingung harus apa. Semua yang suara itu bilang jadi semakin nyata. It was suffocating. I want to run away but they keep following me. And it got worse when I started to believe that maybe, you’re just too good for me .”

 

“Engga, Sayang, engga. You are always enough , Namjoonie. Always enough. Please don’t say that .”

 

Namjoon mencengkram lengan Seokjin sedikit lebih kuat. Aroma manisnya perlahan menghilang, digantikan aroma sedikit masam yang dipenuhi rasa kekhawatiran. Seokjin lebih merapatkan tubuh dan mengeluarkan feromonnya untuk menenangkan sang omega. Seketika Namjoon sedikit lebih tenang. Dia lalu menempelkan ujung hidungnya di scent gland Seokjin dan menghirup aromanya dalam-dalam.

 

“Kak,” mulai Namjoon kemudian. “ If I ever make you unsatisfied, please do let me know .”

 

Seokjin menggeleng. Namjoon tidak pernah tidak memuaskan untuknya. Tidak akan pernah.

 

“Jangan tinggalin aku tiba-tiba. Let me know so I can step back .”

 

I’m not leaving , Sayang. I’m not and I will never .”

 

Namjoon meraih tangan Seokjin dan bermain dengan jarinya. “ I’d like that. Thinking of leaving you actually kills me. I’m sorry I hurt you, too .”

 

Seokjin menggigit bibirnya kuat-kuat. Entah apa yang Seokjin lakukan di masa lalu sehingga dia pantas memiliki Namjoon di sisinya. Bahkan setelah semua ini, Kim Namjoon masih membuka hatinya untuk Seokjin. Padahal dia menjadi penyebab utama segala kesakitan yang Namjoon rasakan.

 

Ribuan pertanyaan menghampiri kepala Seokjin. Apakah dia benar-benar pantas untuk memanggil dirinya sendiri sebagai seorang alpha untuk Namjoon? Apakah dia pantas mendapatkan maaf dari Namjoon? Apakah dia terlalu egois untuk menginginkan Namjoon agar tidak pergi sementara dia tidak berhenti menorehkan luka di hati sang omega?

 

Seokjin kemudian mencari wajah Namjoon dan menatap matanya lekat-lekat. Diraihnya rahang Namjoon dan mengikis jarak di antara mereka. Ciuman yang Seokjin berikan lembut, seolah ingin menyampaikan betapa menyesalnya dia sekaligus mengungkapkan betapa dia mencintai Namjoon. Pesan itu tersampaikan dengan baik karena Namjoon membalas ciumannya sama lembutnya.

 

***

 

Obrolan mereka membuat Seokjin hampir terjaga semalaman—dia hanya tertidur sebentar sebelum terbangun dan tak mau memejamkan mata. Dia lebih memilih untuk berbaring menghadap Namjoon dan menatap wajah tidurnya sampai pagi. Meski terdengar aneh, Seokjin tidak peduli. Sudah sangat lama sekali sejak terakhir kali Namjoon tidur di sebelahnya dan Seokjin ingin membayar semua waktu yang habis tanpa Namjoon di sisinya.

 

Saat jam menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit, alis Namjoon berkerut dan bibir bawahnya maju sebelum matanya terbuka perlahan. Seokjin tersenyum. Namjoon masih memiliki kebiasaan bangun di jam yang sama, dengan atau tanpa alarm. Senyumnya kian lebar ketika Namjoon menatapnya dengan mata setengah terbuka.

 

“Pagi, Sayang,” sapa Seokjin.

 

Seketika Namjoon tersenyum dan menatap Seokjin lama. Tanpa aba-aba, dia bergerak mendekat dan naik ke atas paha Seokjin, mengejutkan yang tua. Namjoon menyeringai sementara Seokjin masih cukup terkejut untuk memproses apa yang Namjoon lakukan.

 

Fancy for some hot morning sex? ” tanya Namjoon mengedipkan sebelah mata.

 

Seokjin menelan ludah. Siapalah dia yang dapat menolak ajakan sang suami jika sudah begini.