Actions

Work Header

Lighthouse

Summary:

[LuSan]
Setting berada dimana 20 tahun kemudian Monkey D. Luffy, Sang Raja Bajak Laut, telah meresmikan untuk membubarkan semua kru Bajak Laut Topi Jerami dengan memutuskan untuk kembali ke prioritas tujuan dan mimpi kru Bajak Laut Topi Jerami. Satu tahun kemudian, Sanji yang sudah menemukan All Blue dan menetap di sebuah pulau kecil tak berhuni bersama restoran kecilnya dan menara mercusuar, tanpa diundang, ia bertemu kembali lagi dengan kaptennya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter Text

Sudah 1 tahun sejak kru Bajak Laut Topi Jerami sudah bubar. Seperti yang sudah dijanjikan, setelah impian kru masing-masing sudah terwujud seperti Luffy yang sudah menjadi Raja Bajak Laut yang terkenal hingga setiap pulau entah di New World atau Grand Line atau dimana pun, semua penduduk tahu nama "Monkey D. Luffy" yang terkenal dengan mengenakan topi jerami itu.

Kini Sanji tinggal di suatu pulau yang dekat dengan All Blue yang ia incar dan mendirikan sebuah restoran kecil sekaligus tempat tinggalnya. Restoran tersebut lama kelamaan menjadi sangat terkenal yang awal mulanya hanya menjadi tempat singgah untuk makan dan minum bagi para pelaut yang entah tujuannya kemana, hingga ada seseorang menyadari bahwa pemilik restoran tersebut adalah bekas kru bajak laut topi jerami yang terkenal yang tidak lain kalau bukan Vinsmoke Sanji, semua penjuru bajak laut berdatang-datang untuk menemuinya dan penasaran dengan masakan yang dihidangnya.

Sampai suatu ketika, kala itu ada badai angin yang begitu dahsyat hingga pengunjung yang biasa mampir begitu sepi hingga dini hari pun badai masih belum kunjung reda, ketika Sanji sedang membereskan restorannya yang tinggal beberapa piring dan meja dibereskan, tiba-tiba ia mendapat tamu yang tidak diduga.

 

"Ah, cuacanya begitu buruk sekali, kapalku mungkin sudah hanyut terseret ombak..."

 

Tidak disangka, saat ia menoleh ke arah pintu utama, sesosok yang ia sangat ingin ditemui dan yang ia rindukan, berdiri di hadapannya dengan sekujur tubuhnya mulai dari atas hingga ke bawah basah kuyup. Rambut hitam, wajah dengan bekas luka di dekat mata kirinya, serta di dadanya yang hanya ditutupi kemeja putihnya. Tidak salah lagi.

 

"L-Luffy!"

 

Sanji pun buru-buru mengambil handuk baru yang ia siapkan di suatu lemari kecil dan bergegas ke arah Luffy untuk mengeringkan dia. "Kenapa tiba-tiba sekali datang kesini? Kau tahu kan diluar sedang ada badai!"

 

"Shishishi. Yah, untung nya aku bisa menghadapi badainya. Aku kalau tidak tepat waktu mendarat disini bisa-bisa aku mati tenggelam."

 

Seperti biasa, sifatnya yang sembrono dan bernyali besar masih belum berubah. Dan itulah yang membuat Sanji serasa seperti jatuh cinta lagi seperti saat mereka masih muda.

 

"Aku buatkan teh dan daging kesukaanmu. Dan oh ya, kau lepas semua baju itu dibanding kau mengotori lantai yang baru saja aku pel. Untungnya aku masih menyimpan baju untukmu."

"Oh, terima kasih Sanji."

 

Melihat senyuman Luffy yang masih begitu bersinar meski dihadang badai pun tetap terlihat memesona bagi Sanji. Ia pun bergegas mengambil baju ganti untuk Luffy di lantai atas, tepat di kamar pribadinya Sanji. Namun setelah ia balik dari kamar, ia tiba-tiba melihat Luffy benar-benar melepas semua baju yang tinggal menyisahkan celananya yang membuat Sanji menjadi merah dan gegabah.

 

"Ah! Tunggu, jangan langsung ganti baju disitu!!!"

 


 

Setelah Luffy ganti baju dan bisa dibilang cukup bersih dengan penampilannya, si topi jerami tersebut langsung melahap makan yang disajikan oleh si koki ulung itu. Sanji melihat nafsu makan yang masih sama saja seperti saat ia muda membuat ia begitu terkesan sekaligus kagum. Bisa-bisanya sendirian mengarungi lautan luas di tengah badai yang menerjang pulaunya, dan sekarang ia duduk berhadapan dengan Sanji sambil makan dengan porsi yang sama besar yang ia ekspektasi kan.

 

"Sanji,"

"Hm?"

"Makanan mu memang paling terbaik."

 

Pujian yang Luffy sampaikan membuat Sanji seketika menjadi nostalgia. Ah, kalau tak salah saat momen di sebuah pulau Totto yang saat itu juga hujan deras dan hanya berdua saja. Mengapa ia masih tidak melupakan momen tersebut? Ucapan yang begitu sederhana dan tulus itu masih tetap membekas di hati Sanji hingga ia tersipu, meski ia tidak menampilkannya begitu jelas.

 

"Kau masih tetap sama saja seperti dulu ya, kapten." Ucap Sanji sambil mengambil sisa makan yang tersisa di sisi kanan wajah sang kapten tersebut dan menelannya.

 

Luffy yang menyaksikan tersebut membuat ia senang hati bahwa ia bisa membuat kokinya terlena dengan karismanya yang tidak pernah berubah. Dia hanya merespon dengan senyum lebar yang khasnya. Begitu simpel, sahaja, dan hangat. Mungkin itu anggapan orang-orang yang sudah tahu dengan sifat asli Luffy dibalik sosoknya yang adalah seorang raja bajak laut.

 

"Jadi, apa yang membuat sang "Raja Bajak Laut" ini bisa kemari sendirian ditengah badai dan hujan deras seperti ini?" Tanya Sanji sembari ia menyalakan api untuk batang rokok nya yang sudah berada di kedua bibirnya.

 

"Hmmm, entah. Aku tiba-tiba saja kepikiran denganmu dan langsung saja aku mampir kesini."

"Hah?"

"Yah, aku kadang ingin sekali makan yang dimasak oleh mu karena setelah beberapa kali aku kunjung pulau ke pulau lain, dipikir-pikir lagi ternyata masih ada yang kurang. Dan ternyata memang, aku benar-benar kangen dengan masakanmu! Akhirnya aku pergi mencarimu berdasarkan rumor penduduk setempat ada seorang pemilik restoran yang masakannya sangat lezat dan hidup sendirian di pulau kecil bersama gedung mercusuar!"

 

Sanji pun masih tercengang.

 

"Dan ternyata memang benar, kamu masih berada disini! Tidak kusangka setelah satu tahun lamanya aku bisa bertemu lagi denganmu, Sanji."

 

Ia tidak menyangka setelah Luffy membubarkan kru Bajak Laut Topi Jerami satu tahun yang lalu, Sanji berpikir mungkin sudah waktunya berakhir. Ternyata Luffy masih memikirkan salah satu krunya hanya karena ingin? Luffy hanya ingin bertemu dengan si koki ini yang tinggal di pulau antah berantah?

 

"Selain itu, tempat ini begitu menarik, Sanji. Cocok untuk yang mau bersinggah sebentar. Oh ya, apa pulau ini memang begitu selalu badai? Saat aku melihat dari jauh, hanya pulau ini yang selalu gelap."

 

Sanji pun membalas, "Yah, sangat sering terjadi badai dan hujan deras disini. Tapi disini lah tempat yang paling dekat dengan All Blue. Mungkin ada awak kapal yang singgah disini dan membangun mercusuar karena gelapnya pulau ini. Jadi saat aku berada disini, mercusuar yang tepat di sebelah kita ini sudah lama berdiri."

 

"Hmmm, bisa juga. Tapi berkat mercusuar juga aku bisa bertemu lebih cepat denganmu, Sanji. Shishishi!"

 

Respon itu membuat Sanji lagi-lagi tersipu. Kadang kata-kata yang dilontarkan oleh kaptennya bisa jadi ia jatuh cinta dan bodohnya lagi mungkin Luffy tidak sadar ucapan yang begitu simpel terkesan seperti merayu. Tapi itulah sifat yang membuat Sanji begitu suka dengan kaptennya sendiri. Lagi-lagi, mungkin sudah ketiga atau keempat kalinya ia jatuh cinta dengannya.

 


 

"Luffy..."

 

Waktu terasa begitu cepat hingga tak terasa si koki dan si kapten sudah berada di ruang pribadi milik si koki yang berada di lantai atas. Hanya tempat tidur, bangku, lemari, rak buku, serta jendela yang ditutupi oleh gorden tipis yang begitu transparan hingga bisa terlihat begitu derasnya badai di luar.

Sanji mencoba untuk merangkai ingatan dia sebelumnya pelan-pelan disambi Luffy yang masih mengecup bibirnya yang begitu menggoda. Ia masih ingat Sanji masih mengobrol dengan Luffy di tempat yang masih sama, lantai bawah, dimana hanya mereka berdua dan beberapa lampu ublik yang menyala, menanyakan kabar kru lainnya hingga entah apa yang membuat Luffy tiba-tiba mencium tepat di bibirnya disaat Sanji sudah menyelesaikan beberapa rokok yang ia hisap.

Entah pikirannya yang sedang kabur atau nafsu gairah nya yang berteriak begitu kencang menginginkan 'dia', ia tidak merasakan ragu atau bimbang untuk mengajak ke kamar pribadinya di atas dan melanjutkan aktivitas mereka.

Bercumbu dengan sang kapten di kamar milik satu-satunya.

 

"Sanji..." Luffy yang seperti biasa memberi kejutan, kecupan yang ia berikan Sanji di bibirnya beralih ke telinga bagian kanannya. Sanji tidak mengekspektasikan bahwa di uisa empat puluh ini, hasrat seksual Luffy masih begitu tinggi seperti layaknya anak muda. Ia tidak mempermasalahkan sifat kekanak-kanakan yang bodoh sambil pasang muka tidak bersalah yang ia harus hadapi berkali-kali selama ia dan krunya berada di Sunny Go.

Tapi ada rasa sedikit cemas apakah Luffy benar-benar bisa mengontrol libido nya apalagi di tempat sempit dan rapuh seperti ini yang bisa saja dengan tubuh kekar dan tingginya yang mencapai dua setengah meter lebih, ia tidak bisa bayangkan apakah ia benar-benar kuat menghadapinya.

 

"Kau gemetar." Luffy membisikkan dua kata tersebut di bagian telinga yang ia kecup.

 

Kemudian mereka berdua pun saling bertatapan.

Luffy yang begitu ahli membaca perasaan orang, entah itu haki nya atau memang bakat alaminya, ia pun menjeda dengan mengusap pelipis bagian kirinya dan menyibak kecil rambut poninya yang menutupi mata sebelahnya.

 

Oh, ternyata ia ingin melihat wajahku.

 

"Apa kau khawatir?"

"Hmmm."

"Tentang apa?"

"..." Sanji masih memproses apa yang harus ia khawatir. Tentang Luffy? Tentang seks yang mereka akan lakukan? Atau ranjang tidur yang mereka tempati? Apa yang harus ia khawatirkan?

 

"Tidak perlu bilang juga ngga apa-apa kok."

 

Ucap Luffy yang kemudian sedang mencium ringan di sekitar leher, meyakinkan pasangannya untuk tidak perlu merasa gundah. Luffy menginginkan Sanji menikmati momen sesaat ini, ditengah cuaca hujan badai yang melanda di pulau yang mereka tempati. Sanji pun lagi-lagi merasa seperti terbebani tapi ia yakin Luffy hanya mencoba untuk menenangkannya yang mana terlihat begitu manis dan mulia.

 

"Selama ini apa kau selalu sendirian di tempat seperti ini?" Masih mencium di bagian leher, lebih tepat di area antara jakun dan bahu, Luffy mencoba untuk mengajak berbicara pada Sanji. Bermaksud untuk melupakan rasa kegundahan yang dipikirkan oleh dia.

 

"Yah, terkadang-kadang ada beberapa kapal yang hanya singgah sebentar. Ada juga yang butuh beberapa minggu untuk keluar dari pulau sini karena badai. Jadi aku bertemu banyak orang yang ingin menumpang makan atau istirahat."

 

"Hmmm, makanya ada begitu banyak pintu di ruang atas." singkatnya sambil Luffy memijit tangan hingga jari jemari di sisi kanannya Sanji. Pijitan tersebut membuat Sanji merasa lega.

 

"Ah.., aku masih heran bagaimana kau bisa melakukan perjalanan sendirian kesini. Karena aku belum pernah meliat, ada orang yang senekat berlayar kemari, hnggh..., kecuali dirimu sendiri." 

 

Sanji yang berusaha mengikuti pembicaraan Luffy ia bertanya sambil diiringi sedikit rintihan karena pijitan Luffy yang membuat sekujur lengan dan tubuhnya terasa sedikit nyaman. Ia juga heran bagaimana bisa Luffy yang ia biasa kenal begitu tidak peduli dengan hal-hal yang kecil menjadi begitu perhatian sekali?
 

 

"Shishishi, aku ini raja bajak laut. Tidak ada yang mustahil jika aku mau kemari kesini menemui mu."

 

"Ah!"

 

Tiba-tiba saja Luffy mulai jahil mencicipi puting nya dan begitu terasa sensitif bagi Sanji hingga ia refleks memegang kepala Luffy bagian belakang. Seperti biasa, Luffy selalu penuh dalam kejutan bahkan dalam kondisi celah ini.

 

"Kamu itu seperti monster saja, hngggh...."

"Dan kamu juga begitu betahnya tinggal di tempat suram seperti ini." Balas Luffy dengan bermain-main putingnya yang dirasa begitu menggemaskan sedangkan Sanji mulai tak bisa berkata apa-apa.

 

"Luffy..., bisa nggak sih agak cepetan...?" Tak lama Sanji mulai membalas.

 

"Hmmm..., nggak!"

"Kamu ini...!"

"Rileks sebentar, Sanji. Apakah kamu tidak kangen dengan kaptenmu sendiri?"

 

Tentu saja aku kangen! Dalam hati Sanji.

 

"Tanpa mu, mungkin aku tidak akan menjadi yang sekarang ini. Jadi aku ingin lebih berlama lagi..."

 

Curang.

Curang!

 

Mengapa kalimat sederhana yang dilontarkan selalu membuat dia kalah telak? Ia masih ingat jelas apa yang di serukan saat di Totto Land. Ah iya, saat ia mau bertunangan dengan anak dari Big Mom, Pudding.

 

"TANPAMU, AKU TIDAK BISA MENJADI RAJA BAJAK LAUT!!!!"

 

Kata-kata tersebut membuat ia masih terngiang bahkan di saat momen intim seperti ini. Mengapa ia merasa begitu nostalgia saat ia bertemu dengan kaptennya sendiri yang sudah lama tidak ia berjumpa? Sosoknya pun tidak ada yang berubah sama sekali saat semua kru terpisah dimana-mana. Mulai dari topi jerami yang dikenakannya, rambut hitamnya yang bagian depannya sedikit menyibak kebelakang, wajah berseri-seri nya, bahkan bekas luka yang ada di bawah mata kirinya persis, semuanya tidak ada yang berubah. Hanya sedikit kumis dan jenggot yang tumbuh sedikit dan, oh.

Rupanya ia punya banyak bekas luka disekujur tubuhnya terutama pada lengan dan tangannya yang kekar. Berapa banyak tinju dan pukulan yang ia berikan pada musuh selama ia menjadi bajak laut? Dibanding tangannya Sanji yang begitu lembut dan dijaga begitu baik karena ia berprinsip tangannya hanya untuk memasak, bukan untuk bertarung.

 

Ah, dia jatuh cinta lagi.

 

"Hey, Luffy..."

 

"Ya?" Luffy pun berhenti di saat ia sedang melepas celana Sanji yang dikenakan.

 

"Kita.., apa kau ingat sudah berapa kali kita sudah berhubungan seperti ini?"

 

"Ha?" Dengan wajah polos nya, ia berusaha memproses untuk menghitung mulai dari awal bertemu hingga sekarang. Ah sial, nampaknya Luffy tidak bisa ingat.

 

"Hmmm, entah lah. Kita sudah melakukan banyak tempat dan pose kan? Bahkan kita pernah beberapa kali bersama Zoro atau sama orang lain. Oh wow, begitu banyak hingga aku tidak bisa ingat ahahaha!"

 

Sanji merasa begitu malu saat Luffy dengan entengnya menjawab seperti itu layaknya tidak ada dosa di antara wajah berseri-seri tersebut. Rasanya ia ingin menendang keluar si kapten topi jerami bodoh tersebut.

 

"Apa kau kangen dengan yang lain?"

 

Jawaban pun terlihat jelas di raut wajah Sanji. Betul, ia masih kangen momen berada di Sunny Go, memasak masakan pada krunya dan bersenang-senang. Ia juga ingin tahu kabar yang lain bagaimana, tidak hanya Luffy saja.

 

"Mereka baik-baik saja."

 

Setelah itu Luffy pun mengecup di bagian paha di sisi kanannya sambil mengelus betis bagian kirinya yang nampak bulu kakinya yang belum dicukur. Tapi itu membuat Sanji merasa begitu nyaman dengan keberadaan Luffy yang menjaga dia. Ia juga merasa sedikit geli saat Luffy mengecup bagian paha karena kumis tipisnya Luffy yang agak mengganggu. Tapi ia tak merisaukan hal kecil tersebut.

 

"Aku ingin mendengar ceritamu tentang All Blue itu. Alasan kau tinggal disini karena tempat ini satu-satunya yang paling terdekat dengan All Blue, benar kan?"
 

Benar sekali. Ia bahkan ingin menangis dalam hati karena apa yang Luffy entah mengapa selalu benar dan menusuk di hatinya. Dan itu selalu. Selalu benar.

 

"Sebelum aku ceritakan, mungkin kau bisa melanjutkan apa yang kau jalani sekarang ini..." pita Sanji mengelus kepala Luffy sebagai kode darinya. Dan Luffy sudah pastinya menangkap kode tersebut dengan senyuman sinis dan jahil nya yang khas.

 


 

Sial.

Apakah karena sudah satu tahun lebih ia tidak berjua melihat sosok kaptennya sendiri sehingga ia begitu double sensitif dari biasanya. Atau apa karena sudah lama ia tidak merasakan kegairahan yang begitu ekstasi dari bawah ke atas yang membuat ia tidak bisa berpikir jernih?

Apapun itu, Luffy selalu hebat dalam memegang kontrol saat sedang seks.

 

"Luffy..." Posisi kepala Sanji yang berada di bawah dan panggul di atas yang sekarang sedang dipegang oleh Luffy saat ini, betapa ia rindukan sensasinya hingga ia merenggam kain putih yang sedang ia berbaring.

Dan oh, betapa Luffy menikmati momen seperti ini. Rasa frustasi yang ia rasakan sebelum bertemu Sanji, kini ia lepaskan. Rasanya begitu hangat dan begitu adiksi. Suara nyanyian yang begitu spesial dan hanya bisa didengarkan oleh satu-satunya, topi jerami, membuat Luffy semakin biadab. Bajingan.

 

"..Ah.., aku..."

"Aku juga, Sanji..."

 

Luffy pun makin mempercepat hingga membuat Sanji semakin menggila. Rasa orgasme yang Sanji rasakan sama seperti saat masih muda membuat makin gila. Ia bahkan berpikir mungkin Luffy lah, yang membuat ia ingat rasanya seperti menjadi muda seperti apa. Tapi tiba-tiba, tanpa aba-aba Luffy mulai menarik sedikit rambut pirangnya hingga ia otomatis terbelalak kedua matanya.

 

"T-Tunggu...!"

"Maaf Sanji, aku gak bisa nahan..."

 


 

Wow.

Luffy benar-benar kurang ajar.

Si topi jerami tersebut dengan santainya duduk di sebelahnya sambil bersender dan merangkul Sanji yang sedang cemberut dan menutupi semua wajahnya dengan bantal. Bagi Luffy mungkin berhubungan dengan Sanji sesuatu yang hal yang puas, namun tidak bagi Sanji karena ia merasa pinggul hingga selangkangannya terasa nyut-nyutan nyeri. Seperti biasa, peju yang dikeluarkan terlalu banyak hingga membuat seluruh kakinya lemas seperti jeli hingga saat ini.

 

"Ahahahaha, maaf maaf, aku kelepasan ya?"

"Bukan kelepasan lagi! Kau ini sudah tua tapi stamina mu nggak ada yang berubah!"

 

Sanji mencubit pipi Luffy hingga melar panjang (karena tentu saja dia manusia karet) yang membuat Luffy nampak tak menyesal sudah keluar terlalu banyak dari dalam. Ugh, kalau saja dia ada sedikit kontrol atau masih ingat umur, mungkin nyeri nya lebih berkurang dari ini. Tapi tetap saja, berhubungan seks saat mereka sudah di atas kepala empat penuh dengan resiko. Apalagi mereka beru saja bertemu sekali ini dalam tahun ini.

Sanji bahkan penasaran, apakah Luffy pernah berhubungan dengan orang lain setelah membubarkan kelompok bajak lautnya? Ia tahu Luffy bukan tipe orang yang suka sendiran. Apakah ia akan berhubungan seks untuk melepas stress akan kesendiriannya? Lagi-lagi begitu banyak yang ingin ia tanyakan pada kaptennya.

 

"Jadi," 

"Hm?"

"Apa kau benar-benar menemukan itu?"

"All Blue?"

"Ou!"

 

Si koki pun kembali tersenyum. Sambil posisi tidur, ia menghadap ke kaptennya dan memulai untuk bercerita petualangnya selama satu tahun ini. Mengarungi All Blue yang ia impikan dan melihat berbagai makhluk perairan yang ia belum pernah ia lihat di laut manapun. Sebuah cerita fiksi dongeng belaka yang kemudian menjadi kenyataan di hadapannya langsung dengan mata kepalanya sendiri. Ia ceritakan pengalaman yang begitu mendebar-debarkan tersebut kepada satu-satunya kapten topi jerami yang ia percayai. Mungkin karena begitu kesepian di pulau kecil tak berpenghuni ini, tanpa sadari ia bercerita begitu panjang dan lebar. Tapi itu tak menghentikan mata birunya yang berbinar-binar dan oh, begitu mempesona kedua mata tersebut bagi Luffy.

Meski Luffy tak begitu paham dengan makhluk peraian yang disebut oleh Sanji karena yang ia hanya pedulikan adalah membayangkan rasa 'makanan' tersebut apabila dimasak. Apalagi yang dimasak adalah Sanji sendiri, oh begitu nikmatnya menikmati makanan yang ia belum pernah rasakan dan dimasak oleh koki yang ia percayai.

 

"Hey Sanji, mungkin setelah badai reda, aku penasaran ingin mencoba ikan-ikan yang kau sebutkan itu tadi!"

"Benarkah? Tapi kau harus menetap disini kira-kira paling sebentar satu minggu. Kau lihat, hujan badainya masih belum reda sepenuhnya."

 

Melihat cuaca yang anginnya begitu kencang dan rintikan hujan yang deras dibalik jendela tersebut, Luffy agak kecewa pertamanya. Tapi ia cepat berganti suasana hatinya kalau dipikir-pikir bersama Sanji di kamar tidak begitu buruk. Ia pun merangkul lebih dekat dan mengelus bagian pundak belakang yang membuat Sanji sedikit luluh.

 

"Yah setidaknya ada kamu meski badai belum reda."

 

Lagi-lagi ucapan yang Luffy katakan membuat hatinya benar-benar luluh seketika. Semua rasa sakit dan lara begitu terhapus seketika sambil berada di dekapan kaptennya yang begitu lebar dan hangat. Rasanya ia seperti disayangi yang mungkin bagi Luffy tak begitu seberapa karena ia adalah tipe yang suka memeluk orang lain. Tapi bagi Sanji dekapan ini begitu intim dan hangat yang membuat ia rasanya ingin bersamanya lebih lama lagi.

Entah mengapa ia ingin badai yang dilanda hari ini tidak kunjung usai meski ia selalu menantikan untuk cuaca cerah tiap kali ia membuka kedua matanya setelah tidur terlelap.

 


 

"-Sanji!"

 

Ia mendengar ada suara memanggil namanya. Namun kedua mata masih terlelap.

 

"Sanji bagun!"

 

Ia pun membuka kedua matanya. Terlihat seorang lelaki berambut hitam dan mempunyai bekas luka di bawah mata kirinya menyapa harinya. Ah iya, ia ingat kejadian sebelum ia tidur terlelap. Ia tidur bersama lelaki ini dan melakukan ini-itu bersamanya dengan waktu yang cukup lama. Dan sekarang ia mencoba untuk bangkit dari tidurnya dan melihat cuaca sekarang di balik jendela.

 

"Lihat, badainya sudah reda." Pita Luffy sambil membukakan jendelanya untuk Sanji yang ingin melihat pemandangannya. Ah sudah malam hari. Ia hampir belum pernah melihat langit-langit malam yang begitu jernih akan bintang-bintang yang gemerlap. Terakhir mungkin pas selama ia berlayar bersama kru di Sunny Go.

Entah Tuhan mengirimkan seorang utusan yang membuat hari malamnya lebih cerah dan menenangkan dari biasanya.

 

"Indah..."

 

Luffy yang melihat Sanji yang bergumam memandangi langit-langit di jendela membuat ia lega. Mungkin Sanji selama ini selalu sendirian di tengah cuaca buruk yang entah berapa hari akan reda. Apakah ia selalu sendirian di kamar kecil ini, atau menyibukkan diri di bawah, memasak masakan kesukaannya dengan rokok yang digantungi di kedua bibirnya? Begitu banyak pertanyaan yang ia ingin tanyakan pada Sanji, tapi itu tidak perlu.

Luffy bukan tipe yang memusingkan diri dengan pertanyaan rumit di kepalanya.

Ia memutuskan untuk menggenggam telapak tangan Sanji yang begitu dingin karena angin malam dan mendekatkan dirinya pada Sanji untuk mendekapkan dirinya agar pasangannya begitu nyaman dengannya. Hanya berdua, terbuka, dan mesra. Momen seperti ini, Sanji ingin berlama sedikit lagi

 

"Apa kau akan meninggalkan pulau ini?"

"Yaah. Aku tidak berlama-lama disini."

"Dan kau akan mengarungi lautan luas itu lagi,"

"Ya...,"

"..."

"..."

 

Mereka berdua pun membisu. Masih dalam dekapan masing-masing. Bagi Sanji, hati dia begitu sesak untuk menanyakan ke Luffy. Saat ia melihat wajahnya, ia begitu penasaran, mengapa pria yang ada di depan matanya ini sama sekali tidak menunjukkan takut atau sesal? Ia hanya melihat wajah yang penuh dengan ketenangan dan yakin. Di balik mata hitam legam tersebut, sampai sekarang ia penasaran apa yang ada dibenaknya Luffy. Luffy selalu menunjukkan cara yang membuat ia..., terkagum.

 

"Apa kau tidak pernah merasa kesepian setelah kita berpisah?"

 

Sanji pun akhirnya mulai memberanikan diri. Namun apa yang ditanyakan Luffy pun membuat ia sedikit tercengang apa yang ditanyakan oleh Sanji.

Kesepian.

Mungkin itu rasa ketakutan terbesar Luffy sepanjang momen ia alami. Ah iya, ia belum pernah cerita siapa-siapa masalah seperti ini. Tapi entah kenapa, Sanji memulai yang bertanya sefrontal ini. Akhirnya Luffy pun menjawab mau tidak mau.

 

"Yah, sedikit sih..."

 

Ah....

 

"Tapi saat aku tiba di beberapa pulau berpenghuni, mereka selalu menyambut dengan baik dan terkadang mengadakan pesta hingga larut tengah malam. Mereka selalu berteriak kalau saya adalah pahlawan atau penyelamat dan semacamnya meski sudah aku katakan kalau saya ini adalah "Raja Bajak Laut". Terkadang ada saat dimana rasanya begitu kesepian meski begitu banyak orang-orang berkumpul..."

 

Tunggu.

Tunggu dulu.

Sejak kapan Luffy bisa pintar dalam mengelola kata???

Disaat Sanji masih tertegun mendengar ceritanya, Luffy pun mengambil begitu saja sebatang rokok dan korek api milik Sanji yang tergeletak di meja lampu tidur dan mulai menyalakannya. Tanpa babibu untuk minta izin dari pasangan sebelahnya.

 

"Ah tunggu! Jangan seenaknya ambil punya orang lain!"

"Hm? Kukira kau pakai semacam pipa gitu?"

"Haaah..., aku masih nyimpan kalau pakai pipa. Tapi aku malas buatnya itu lho."

 

Ia tidak menyangka Luffy bakal merokok di depan matanya sendiri. Malah Sanji bakal mengira kalau Luffy tipe yang bukan perokok. Tapi nyatanya, ia bisa menyaksikan momen langka seperti ini secara privat dan tidak diketahui siapa-siapa. Bahkan mungkin semua kru bajak laut topi jerami kecuali Sanji tidak tahu kalau Luffy bisa merokok.

Momen seperti ini yang membuat Sanji makin tidak suka karena ia bakal obsesif terhadap kaptennya sendiri. Ia ingin Luffy tetap tinggal disini bersama.

 

"Kalau begitu aku juga ikutan." Ikut Sanji dengan mengambil sebatang rokok lagi yang tersedia di bungkusnya.

 

Luffy pun tersenyum dengan wajahnya yang lebar dan khas tak lupa dengan rokok yang ia gantung di antara mulutnya. Langsung saja, Sanji menyalakan rokoknya dengan menyentuh bersamaan dengan rokok yang dihisap oleh Luffy.

Mungkin ini adalah momen paling terintim yang ia lakukan bersama topi jerami. Dan ia tak mungkin akan melupakannya.

 

 

Notes:

TBC dulu, aslinya ini one shot tapi eh malah keterusan :"))))

kudos dan komen sangat diapresiasikan :3