Chapter Text
“Will it be okay?”
“Apa? Yang bikin kamu ragu sama aku, apa? Gimana biar aku bisa bikin kamu yakin sama aku?”
“Kamu — Kamu Jaehyun.”
“Terus?”
“Aku gatau. Tapi, aku takut.”
“Taeyong.”
“Hm?”
“Aku gabisa janjiin kalo jalan kita bakal mulus aja. Bahkan, mungkin lebih berat dari hubungan yang pernah kamu jalanin. Tapi, satu hal yang aku pengen kamu tau; aku sayang kamu, aku ga rela kamu sama yang lain.”
“Kalo gitu, janji satu hal sama aku.”
—
Dia lelah.
Rapat saling gilir tiada henti dan akhirnya dia bisa bernafas lega meski malam sudah nyaris pamitan. Sejuk suasana dini hari lewat jendela besar di rumahnya yang dia buka.
Pukul tiga dini hari. Beruntung dia sudah izin libur untuk hari ini, sehingga waktu istirahatnya bisa dia perpanjang untuk menikmati semilir angin yang menerpa wajah. Dia lepas heals merah yang dia kenakan, meregangkan betisnya yang naik kaku, kemudian dia lirik televisi yang ada di sisi kanan ruangan.
Taeyong nyalakan, awalnya hanya untuk temani dia pecahkan hening yang buat badannya menggigil. Namun, kepalanya jadi menoleh saat melihat cuplikan yang tengah terputar TV.
Re-run, dari sebuah drama yang kerap kali orang-orang di kantor bicarakan. Kepala Taeyong jadi makin pusing, apalagi kembali dia dengar berisik bisikan karyawan menggema di kepala.
‘Nonton A Wish Upon You, ga? Sumpah — “
“NONTON!”
“Jaehyunnya ganteng banget ga si?”
“Eh, lawan mainnya tuh mantannya bukan?”
“Iya, yang ketauan pernah pacaran waktu mereka uda putus, kan?”
“Serius? Cewenya tuh mantannya? Semoga balikan ga sih? Cocok banget.”
“Iya. Udah punya pacar lagi belum sih, Jaehyun? Yang kemarin katanya jalan bareng itu, udah ada konfirmasi kalo beneran pacarnya, belum?”
“Gaada info lagi, palingan juga cuma staff. Tapi, gue juga doain deh semoga balikan lagi. Cocok banget mereka tuh.”
“Anjir iya, Jaehyun ganteng gitu terus cewenya juga cantik parah. Gue rasa, cewe yang satu-satunya cocok sama Jaehyun cuma dia ga sih?”
“Bener, gila. Mereka berdua cocok banget. Chemistry-nya itu, loh?”
Hah.
Taeyong mual mendengar semuanya.
Awalnya, Taeyong masih biasa saja. Namun, kalau tiap hari dengar percakapan seperti itu, melihat dan menguping betapa antusias orang-orang tiap kali mendokaan Jaehyun dengan orang lain.
Sementara, dia di sana, duduk dalam diam, dengan kalung berliontin cincin pernikahan mereka.
Terkadang, Taeyong hanya lihat kalungnya di depan kaca dan bertanya — kenapa harus dia sembunyikan? Kenapa dia setuju untuk jadikan hubungan mereka rahasia? Kenapa dia bisa sok hebat dan mengira dia akan kuat melewati semuanya.
Jaehyun memang bilang, akan umumkan setelah projek drama terakhir suaminya itu selesai.
Tapi, kenapa di berita yang kini tv-nya siarkan mengabarkan kalau akan ada season 2 untuk drama yang Jaehyun bawa?
Kenapa dia tidak tahu?
Dia — sampai kapan dia akan disimpan dibalik asap kelam yang begitu pekat, yang rampas kebebasannya untuk bernafas, yang cekat dia sampai rasanya ajal mulai menjulurkan tangan di ujung mata.
—
MESSAGE
♡
♡
Taeyong, maaf. Aku belum bisa pulang.
Ada take tambahan. Tapi, aku usahain sore ini bisa nyampe rumah.
♡
Maaf, sayang.
Kalo lusa, kamu lembur juga, ga?
Aku bisa ko perpanjang libur kalo cuma sehari.
♡
Aku baru bisa dapet day off hari rabu;(
♡
I'll get you something. Anything for dinner?
No need.
Get here safely.
Aku baru pulang.
Tidur dulu, ya.
Taeyong rasa, dia demam.
Memang baiknya, ambil air setelah dan segera menyapa kasur.
Toh, ini juga bukan kejadian pertama kali.
Harusnya, rasa sakit yang kini menyapa tidak hadir lagi.
—
Justru, Jaehyun bukan tipe orang yang mudah untuk mereka sapa dan tukar senyum. Walaupun, Jaehyun sebenarnya ramah, lelaki itu selalu membungkukkan badan dan berikan salam kepada mereka — tapi, tidak ada satupun diantara mereka yang tidak segan dengan Jaehyun.
Satu-satunya yang bisa menyapa hangat Jaehyun adalah lawan mainnya — Kim Jungwoo.
“Eih, Jaehyun aslinya baik, kok.”
Kim Jungwoo, lawan main Jung Jaehyun itu bahkan berani menggandeng tangan Jaehyun ketika kamera masih padam. Mungkin, karena mereka berdua sudah pernah punya hubungan yang lebih intim sebelumnya dan agaknya perpisahan bukanlah hal yang menghadirkan canggung untuk keduanya.
Terbukti, Jaehyun paling hanya bergeming saat Jungwoo datang dan langsung merangkul disela istirahat syuting.
Disamping itu, mereka berdua memang punya kemampuan yang tidak perlu diperdebatkan lagi. Terlepas drama kali ini melejit karena banyak yang haus akan melihat interaksi keduanya setelah terbit berita kandasnya hubungan mereka, banyak juga yang tersihir untuk tetap menonton dengan setia karena hebatnya mereka di depan kamera.
Kontras dengan Jaehyun, Jungwoo memang terkenal jauh lebih hangat, bisa cepat dekat dengan orang baru, sekalipun staff seperti mereka. Tidak jarang Jungwoo duduk diantara mereka dan berbincang ketika jam istirahat tiba — dan, sebagai staff, mereka tetap punya etika dimana sekalipun begitu penasaran terhadap alasan kenapa hubungan keduanya bisa terhenti, mereka tidak akan pernah berkenan untuk menanyakan.
Sangat disayangkan, sebenarnya. Banyak rumor diantara mereka berdua dan pada berita yang tersiar, alih-alih mengabarkan mekarnya hubungan mereka, justru malah sebaliknya.
Jam makan siang selesai dan mereka berbondong-bondong kembali untuk menggarap set-list tambahan. Mereka jadi harus tambah jadwal syuting untuk tambal beberapa bagian yang kurang memuaskan.
Semua berharap cepat selesai, menanti libur yang sudah ditunggu-tunggu — dan, harapan itu juga muncul tidak terkecuali pada Jaehyun.
Si produser yang memohon jam tambahan untuk menyempurnakan beberapa potong adegan menghadap ke arahnya dengan kaki bergetar di ruang ganti — jadi, Jaehyun juga tidak sampai hati untuk menolak, meski dia sadar sudah janji dengan Taeyong untuk seharian di rumah hari ini.
Maka, dia bergegas dengan skrip baru di tangan setelah jam makan siang selesai.
Jaehyun cek lagi ponselnya yang tidak menerima pesan apapun dari Taeyong selain percakapan mereka dini hari tadi.
Ragu, ingin dia sampaikan kalau sepertinya bahwa sepertinya dia lagi-lagi harus patahkan janji yang dia buat sendiri saat Jaehyun terima lagi lima lembar skrip baru.
“Bakal selesai kapan? Gue harus pulang sore ini.”
Jaehyun mengarah ke manajernya, dengan mata menyipit kesal.
“Duh, gatau. Gue udah bantu omongin, kok. Katanya bentar lagi selesai, tapi ini aja mulainya molor banget.”
Jadi, Jaehyun juga hanya bisa hela nafas panjang dan berharap semuanya selesai sesuai perkiraan.
—
Keningnya masih hangat, badannya masih sempoyongan, namun melihat jam menunjukkan pukul empat sore membuat dia merasa lebih bersemangat.
Taeyong putuskan menuju dapur untuk buat makan siang — atau, malam? — yang super telat. Setelah minum obat pereda demam, dia tidur begitu lama dan dapati Jaehyun masih juga belum pulang.
Tidak ada pesan baru dari Jaehyun, jadi Taeyong harap suaminya memang sedang berada di perjalanan pulang.
Badannya masih belum segar meski sudah terguyur air dingin. Dia masih merasa meriang, namun Taeyong kesampingkan rasa tidak nyaman yang membalur tubuhnya dengan membuat makanan hangat.
Jaehyun biasanya suka masakannya. Awal-awal masa pernikahannya dulu, sebelum Jaehyun mulai sibuk dengan kerjaannya lagi, Jaehyun akan memintanya memasak berbagai macam menu — dimana, nanti Jaehyun juga ikut bantu. Menghabiskan waktu di dapur, berdua, merupakan memori indah yang selalu Taeyong kenang saat dia sedang masak sendirian.
Tepat saat kompor dia matikan, Taeyong dengar dering bel rumah menyapa telinga.
Antusias, Taeyong lepas celemek yang membungkus badan lalu lari menuju pintu depan.
Ponsel di tangannya juga bergetar, pasti Jaehyun yang umumkan kepulangan.
Namun, langkah Taeyong terhenti saat sosok yang dia dapati pada layar kecil di samping pintu bukanlah orang yang dia damba ingin temu.
Taeyong buka pintu, tetap dia sapa si tamu yang tengah bawa sebuket bunga berukuran sedang.
“Taeyong.”
Taeyong berdiri bingung dengan bibir bawah yang bergetar.
Sementara lelaki di depannya tersenyum manis.
“Aku boleh masuk, ga?”
Hah.
Dia menghela nafasnya panjang, penuh kecewa.
MESSAGE
♡
♡
Baby
♡
Have you eaten yet?
♡
Sayang
Dia lirik ponselnya singkat, kemudian Taeyong persilakan si tamu untuk masuk bersamanya.
Dia seduhkan coklat panas, dia bikinkan untuk dirinya juga sebagai pengganjal lapar.
“Kamu tau alamatku dari siapa?”
“Dari manajer kamu.” Lelaki itu duduk tepat di seberang dirinya, menikmati waktu yang hanya terisi mereka berdua.
“Jadi, kamu mau bahas apa sampe dateng ke rumahku gini?”
“Aku rasa, kamu udah bisa tebak.” Si cangkir terletak rapih di atas meja. Kepulan asap dari panas minuman yang dia buat masih menari dengan jelas. Namun, bahasan mereka begitu cepat untuk menyapa inti pertemuan.
Dia kenal, terlampau tahu siapa temannya bicara.
Hubungan mereka selama satu tahun bersama itu cukup untuk Taeyong menerka bahwa lelaki di depannya terlalu malas untuk perpanjang basa-basi belaka.
“Apa yang bikin kamu ragu untuk kita balikan?”
“Aku udah bilang, aku gabisa balikan sama kamu.”
“Iya, kenapa?” dan lelaki itu akan tuntut jawaban sejelas-jelasnya — yang mana, Taeyong tidak bisa berikan dengan mudah, mengingat konsekuensi besar di baliknya.
“I am not into you anymore. Move on.”
“Have you?”
“Hm?”
“Moved on?”
“Oh,” Taeyong tersenyum tipis, “I am. Moved on.”
“But — “ lelaki itu terkekeh, “We were about to kiss, that one night — “
“I was drunk, sorry,” Taeyong menarik nafasnya dalam-dalam untuk redakan kedua tangannya yang gemetar, “And- no, we were not. You got it wrong. Maaf kalau kesan yang kamu tangkap jadinya kaya gitu, tapi aku udah gaada perasaan sama sekali untuk kamu.”
“Taeyong, kamu ga akan bilang gini kalau waktu itu asisten kamu ga manggil kamu, kan? You want me to kiss you, won’t you?”
“I said, you got it wrong.”
Taeyong letakkan gelas di atas meja dan bangkit dari duduknya.
Terulang lagi, jelas terekam di kepala, saat dia sadar di atas ranjangnya sendirian, lalu terulang cuplikan yang buat badannya gemetar.
Taeyong bukan orang yang pintar minun, cepat untuk sadarnya mengawang terbang, sehingga apa yang matanya lihat kerap kali bentuk visualisasi dari apa yang otaknya bayangkan — dimana, dia memang benar hendak cium siapapun orang di depannya karena menganggap mereka adalah Jaehyun, suaminya.
Dia mual, tiap kali tersadar bahwa nyaris mencium orang lain selain Jaehyun. Dia merasa geli terhadap fakta bahwa dia bisa mudah sekali jatuh dan tersungkur, tenggelam dalam hasil pikirannya yang maya — kalau saja asistennya tidak selamatkan dia hari itu, entah apa yang bisa terjadi hari ini.
“Udah, ya. Aku ada urusan.”
“Taeyong — “
“Ini adalah terakhir kalinya kita bahas masalah ini. Tolong, jangan usik aku lagi.”
Taeyong ambil mantel yang dia sampirkan di kursi meja makan, tadinya hanya untuk sekedar hangatkan tubuhnya yang masih demam.
Gemetar dia raih kunci mobil, mengusir si tamu untuk juga segera keluar dari rumahnya.
Kepala Taeyong semakin pening. Belum lagi, mengetahui seseorang selain Jaehyun bersamanya di rumah yang mereka bangun penuh cinta ini membuat perutnya gaduh, mual merayap saling sahut dengan rasa tangis yang buat dia sesak.
Segera Taeyong menuju mobil dan melaju entah kemana.
Haruskah —
Haruskah dia —
—
“Masuk scene selanjutnya, ya.”
Astrada 1 mengarahkan Jaehyun menuju lokasi syuting selanjutnya. Ternyata, malam mulai menyapa. Jingga di langit mulai pudar tertelan gelap, membuat perasaan bersalahnya kian membuncah, terlebih karena pesannya tidak dapat balasan sama sekali.
Taeyong pasti kecewa.
Namun, bisa apa Jaehyun selain tarik nafasnya dalam-dalam dan berjalan menuju setting tempat yang sudah disediakan. Mini van yang dijadikan sebagai ruangan khusus untuk dirinya itu kini kembali tertutup rapat, menyimpan bukti sekeras apa dia mencoba semuanya agar berjalan lancar — kemudian tersadar kalau semuanya sia-sia, ini kerja tim bukan tentang perseorangan, dan meski dia bersusah payah untuk usahakan semuanya selesai tepat pada waktu yang dijanjikan, dia tetap lemah dan kalah kalau partner main atau kru lainnya menentang inginnya.
Jaehyun gagal menghadiri perayaan untuk mengingat satu tahun pernikahannya — dan dia rasa, dia bisa lebih mudah memainkan peran dimana dia menangis tersedu-sedu dibandingkan melakukan apa yang kini skripnya pandu.
Taman menghampar sepanjang matanya tangkap dan cantiknya rembulan di antara awan membuat tubuhnya linu mendadak — ingat, kencan pertamanya dengan Taeyong pun di taman, di bawah purnama yang menyinar terang.
“Camera, rolling. Action.”
Namun, kini yang di sisinya adalah lawan mainnya.
“Jaehyun.”
Memanggil namanya dengan begitu mudah, tidak ada rintangan berarti untuk lihat dirinya menoleh dan merespon panggilan.
Bagian mereka kini hanyalah berjalan beriringan dengan dialog bebas — extra footage yang sutradara rasa perlu dan punya nilai penting dalam alur dram mereka.
“Inget waktu itu, kita pernah ada projek iklan bareng?”
Jaehyun tidak bisa menyiratkan ekspresi tidak suka — dia harus tetap menyorot Jungwoo hangat.
“Engga.”
“Kamu lupa? Padahal, habis itu kita pulang ke rumahku. Tapi, bisa-bisanya gaada yang tau kalo waktu itu kita pacaran.” Jungwoo dengan mudah menggandeng tangannya dan Jaehyun harus ikut mendekatkan badan selama kamera masih menyala, “Padahal, kita lumayan sering jalan bareng. Kamu juga sering mampir rumahku.”
“Jungwoo.”
“Aku juga sering main ke rumahmu.”
Jaehyun memilih untuk senyum, dibanding harus menuang minyak pada api yang Jungwoo nyalakan.
“Jaehyun.”
“Hm.”
“I was thinking — “
“CUT!”
Jaehyun langsung tarik tangannya, detik dia dengar sutradara menghentikan rekaman gambar untuk adegan mereka. Tepuk tangan riuh terdengar, tubuh saling bungkuk mengucapkan terima kasih atas berakhirnya jadwal hari ini.
Manajer Jaehyun langsung bawakan jaket tebal — dinginnya malam menggerogoti tubuhnya sampai gemetar, matanya menyipit terhalang angin yang berhembus lebih kencang dari biasanya.
Jaehyun hendak menuju mini van-nya, namun tangannya ditahan — tangannya digenggam perempuan yang tadi adu peran dengannya dan seketika seluruh manusia yang dari tadi aktif bergerak ikut statis mematung ditempat.
Jaehyun menoleh bingung dan sepertinya gadis itu baru saja minum.
“Jaehyun — “ memanggil namanya dengan nada lemah begitu, membangkitkan alarm untuk bunyi mengisi kepalanya, “ — can we talk?”
“Mau ngomong apa?”
“Aku perlu ngomong berdua aja sama kamu.”
“Tentang apa?” Jaehyun merasa panik — dia tidak bisa tolal mentah-mentah karena harus jaga imejnya didepan orang banyak, namun juga tidak bisa beramah-tamah karena bisa dia rasakan ada jebakan yang disiapkan untuk dirinya.
“Can you just follow me instead of asking too much question?” Jungwoo terdengar frustasi dengan pipi yang merona — sejak kapan Jungwoo minum? Bukankah tadi gadis itu masih segar-bugar saja?
“Jungwoo, get yourself together, will you?” jadi Jaehyun berbisik dengan sorotnya yang masih belum bisa tenang, dia genggam erat tangan Jungwoo dan berharap gadis itu meringis sampai tersadarkan — namun tingkahnya malah buat Jungwoo jauh lebih berani, dimana gadis itu tarik badannya, membuat dia terhuyung karena awasnya yang terpasang tipis, sehingga mudah untuk Jungwoo peluk badannya.
Di depan semua orang yang masih sibuk merapikan setting lokasi syuting.
Jaehyun juga bisa dengar suara kamera yang berbunyi nyaring — Oh, Tuhan. Jaehyun terusik.
Lalu teringat dia pada ponselnya yang belum berdering.
Sampai detik ini, pesannya belum dibalas Taeyong sama sekali.
Lihat. Bahkan, dia di sini menghabiskan waktu yang tidak perlu karena kakinya ditali oleh momen yang berada di luar kehendaknya. Jika dia memutuskan pergi tanpa permisi, maka dia akan dinilai tidak sopan — memperburuk penggambaran dia di depan orang-orang. Sementara, jika dia ikuti tata cara untuk menjadi orang sebagaimana layaknya orang harapkan dia bersikap; dia dirantai hingga kini berdiri di tempat dengan canggung yang menerkam.
“Let’s get back together, Jaehyun.”
Kalimat yang barusan Jungwoo katakan menendang dia telak. Badannya beku tidak bisa berkata apa-apa, awasnya luruh dan kini dia bingung harus bagaimana karena amarah memuncak sampai kepalanya pening luar biasa.
Terutama, ketika bayangan Taeyong kembali muncul di pucuk mata, membuat Jaehyun harus kepalkan tangan kuat-kuat agar gemetar badannya tidak terlihat dengan jelas.
“I’ll pretend I had never heard whatever you’re saying.”
Jaehyun hela nafasnya panjang — penuh sesal, frustasi, menumpuk sampai dadanya sesak.
“Aku harus pergi. Kalau memang ada yang perlu dibicarakan, bisa hubungi Manajerku atau nanti di jadwal selanjutnya.”
Carut marut isi kepalanya sampai saat dia masuk mobil, jambakan yang dia lakukan sendiri itu tidak menghasilkan efek apa-apa.
Mungkin, sangat tidak bijak untuk langsung pergi, namun persetan atas semuanya ketika Taeyong kian akusisi otaknya — dimana dia pilih untu turuti kemana hatinya menarik dia untuk berlari. Hingga lepas sebagian beban yang begitu berat menduduki hati, sisanya yang dia bisa harap manajernya mampu menyetir dengan laju tinggi.
“Masih buka ga ya jam segini?” dia bergumam dalam hati.
—
Terlepas pulang atau tidaknya Jaehyun — hal itu juga dia yakini bukan semata-mata kehendak suaminya — maka Taeyong rasa dia harus mampir untuk beli beberapa bahan masak dan merayakan perayaan satu tahun pernikahan mereka, meski harus sendirian — atau mungkin bisa saja sambil telfon Jaehyun, semoga masih bisa terhubung.
Agaknya dia rasakan suntikan energi hanya dengan bayangkan suara Jaehyun menyapa telinga. Semangat dia cari bahan masak untuk dia olah, terlepas kakinya masih lemas dan demamnya yang kian parah.
“Taeyong!”
Namun, orang gila itu terus-terusan merusak suasana.
Supermarket sedang jauh lebih ramai dari biasanya dan Taeyong berharap dia masih punya sisa kewarasan untuk melewati satu permasalahan yang melintang menghadang jalannya.
Taeyong mencoba mengacuhkan dan tutup mata tutup telinga. Dia fokus pilih sayur-sayuran yang ada, sampai akhirnya bahunya ditarik dan badannya berputar menoleh ke arah si mantan yang kehabisan nafas.
“Lo tau kalo ini tuh stalking, ga?” Taeyong sudah kelewat lelah, dia malas beramah-tamah, “Don’t make a scene. I beg you.”
“Then, come to me, Taeyong. Kita bisa mulai semuanya dari awal. I will give you my time — “
“Oh, for fuck sake. Shut up.”
“I am so miserable without you. I need you.”
“Denger,” Taeyong tarik nafasnya tajam, “It was all in the past. Don’t act like we never talked this through. Hubungan kita udah selesai. Jangan dibahas lagi.” Begitu kata Taeyong seraya dia hadapi lelaki yang kini juga berdiri, menjulang didepannya, “Lo sibuk, gue juga sibuk. Kita selalu kaya gitu dan akan selalu kaya gitu. Gue rasa gaakan ada jalan keluar untuk kita, sekalipun lo maksa buat balikan.”
Kepala Taeyong jadi makin pening.
“Jadi — “
Apa yang barusan dia kata, ikut menghujam dadanya begitu telak sampai dia merinding.
Apa yang barusan dia cakap merupakan sebuah ironi yang buat dia terkekeh getir, menertawakan takdir yang begitu lucu menghampar di sepanjang jalan hidupnya.
Rasanya dia ingin kabur dan lebur. Tungkainya sudah tidak bisa lagi menjaga agar tubuhnya tetap tegak, tetap sengak menyorot lelaki menyebalkan yang kini mematung dihadapannya.
Lalu, dia rasa hangat menyapa punggung — dia tebak, tim keamanan tengah menenangkan aksinya yang ribut dan mengganggu.
Namun, detik selanjutnya dia rasakan dekap yang begitu dia rindu, membuat dia mengernyit bingung. Orang-orang yang matanya tangkap punya ekspresi kontras; mereka terlihat kaget ke arahnya — namun, tidak menjurus tepat ke arahnya, melainkan kepada orang yang kini tengah memeluknya.
Taeyong menoleh saat harum parfum yang dia kenal menyapa hidung, dikala itu baru dia berani sandarkan badannya yang sudah terlampau linglung.
“Tolong, jangan ganggu istri saya lagi, ya.”
Begitu, yang Taeyong dengar terakhir kali sebelum kemudian gelap menyita pandangan — lalu sunyi tanpa akhir, namun begitu menenangkan, dengan melodi mengalun merdu sembari seluruh fungsi tubuhnya dimatikan.
