Work Text:
Dukun gila.
"Oh, ini sih gue bilang ya, lo butuh ngewe sama laki-laki."
Nanami Kento mengerutkan dahi dalam-dalam hingga alis nyaris bertaut, tatap di balik sepasang kacamata hitam berubah datar, dan garis rahangnya mengeras. Menambah kesan kaku dari ekspresi sehari-harinya usai dia mendengar hal paling bodoh di dunia selama 27 tahun hidupnya. Padahal telinganya sudah sering cukup mendengar hal bodoh dari orang di sekelilingnya, terutama bos di tempat kerjanya yang sering kali memberikan ekspektasi dan pekerjaan tambahan yang jauh dari kata berguna. Sekarang, jauh-jauh dari Jakarta dan pergi ke pedalaman yang terletak di kaki sebuah gunung di Jawa Tengah, dia harus mendengar hal bodoh lainnya. Sia-sia sudah waktunya.
Tanpa menjawab dan berkata apa-apa karena menurut Kento segalanya percuma, dia segera berdiri, mengabaikan dukun di hadapannya dengan seluruh pertunjukkan dagelannya.
"Eh, mau ke mana?" Dukun terkenal seantero pulau Jawa di antara rumor-rumor beredar itu masih berjongkok. Penampilannya kontras. Rambut putih seperti uban tapi kulitnya jelas menunjukkan mereka sepertinya sebaya. Pakaiannya serba hitam. Biarpun memandang ke arahnya, sebuah kain hitam menutupi tatapan Si Dukun.
Mbah Sat Si Dukun dikenal oleh orang banyak.
Bang Sat alias Bangsat, Kento baru saja memberikan julukan.
"Pulang," tegas Kento.
Si Dukun cuma menyeringai sambil menelengkan kepala, "Yakin?"
Kento bungkam, dia berbalik menuju pintu. Sayang, baru langkah pertama dia ambil dia sudah jatuh ambruk. Sebuah energi tak kasatmata menekan bahu, memberikan beban luar biasa berat; di pergelangan kakinya dia seperti mengenakan belenggu, ada sesuatu yang menahannya di sana. Dengan serangan dari energi-energi yang mampu dia rasakan namun tak bisa dia lihat, akhirnya di atas lantai papan kayu tubuhnya berbaring. Menahan nyeri di hidung dan beberapa bagian tubuh. Menghidu sisa-sisa bau khas kemenyan dari kayu lapuk karena hidungnya jatuh mencium lebih dulu.
Kayu lapuk berderenyit menemani suara tapak langkah menganggu timpani. Kento menengadah saat sepasang kaki berhenti di hadapan wajah. Sang empunya menunduk, sambil menyelipkan kedua tangannya ke saku celana, Si Dukun menyeringai lebar.
"Mau sembuh? Ngewe dulu sama laki."
***
Beberapa bulan belakangan Nanami Kento mengalami gangguan mistis.
Bukan cuma gangguan berat 'poltergeist' di mana benda-benda melayang di sekitarnya, suara barang dijatuhkan, atau sekadar lampu mati-nyala; tetapi gangguan mistis itu mampu pula menggerakkan tubuhnya. Semakin lama semakin parah.
Awalnya, dia terkadang terhuyung jatuh menimpa seorang laki-laki, lama kelamaan dia berakhir memeluk mereka, mencium dan terakhir tahu-tahu saja dia bangun dengan seorang laki-laki menindih, tengah melucuti pakaiannya. Sekarang dia sedang menimbang-nimbang untuk berganti pekerjaan setelah rumornya sebagai homoseksual penggoda laki-laki semerbak menyebar ke seantero gedung.
Setan sialan.
Jika dia boleh berserapah.
"Hantu perawan."
Mereka berdua balik saling berhadapan. Dia duduk bersila, menikmati denyut nyeri di pucuk hidung. Kerut dahinya masih belum menghilang, malah semakin cekung seolah ingin menyaingi palung Mariana. Si Dukun, tetap berjongkok di hadapannya, dari tadi sulit duduk laiknya punya bisul di pantat. Dan entah dari mana lolipop di genggaman si dukun berasal, dukun itu sibuk menunjuk-nunjuknya dengan lolipop yang terkadang dia jilat dan kulum.
Ada-ada saja kesulitan hidupnya.
"Gue bilangin nih ya, hantu yang nempel di badan lu tuh hantu perawan," si dukun menjeda dengan melamuti lolipopnya. Bunyi 'pop' pelan kedengaran saat Si Dukun mengeluarkan lolipop dari mulut untuk menunjuk ke arahnya. "Jadi lu butuh ngewe sama laki-laki, soalnya si hantu perawan ini masih keiket sama dunia karena matinya perawan. Ngerti enggak?"
Tidak.
Pemahamannya nol.
Zero.
Di antara 8 milyar orang di dunia kenapa harus dirinya?
"Kalau begitu, kenapa harus menempeli seorang laki-laki juga?"
Kenapa harus dirinya?
Si Dukun diam sebentar. Lalu melirik ke belakangnya. Sempat terkesan seperti sedang melamun, akhirnya dukun itu mengangguk-angguk beberapa kali dan balik menatap ke arahnya.
"Hantunya bilang, soalnya dia jeles, makanya nggak mau milih perempuan."
Kenapa harus dirinya?
"Jika demikian, di dunia ini ada banyak laki-laki lain."
Kenapa harus dirinya?
Dukun itu terdiam, masih melirik ke belakangnya meski mata tertutupi kain. Sambil menjilati lolipopnya Si Dukun lagi-lagi mengangguk-angguk. Akan tetapi, kali ini berbeda. Cara dukun itu menyeringai berbeda.
Dan tanpa sadar Kento menggigil, merasakan ruangan gelap dengan penerangan seadanya dari cahaya lilin dan lampu minyak mendingin. Angin berembus menyapu tengkuk, membangkitkan bulu roma yang semula tertidur, hingga seperti digigit nyamuk Kento menepuk tengkuknya. Saat atensinya kembali bersirobok dengan Si Dukun, Kento agak sedikit bergidik. Bukan apa-apa, senyum, seringai timpang di wajah Si Dukun membawakan kesan mengerikan hingga dia yang selama ini jarang merespons tiap situasi di sekitarnya selain dengan kedataran sampai mampu bergidik, merasakan bulu kuduknya berdiri. Dia ingin berlari.
Benar.
Dia ingin berlari.
Melihat seringai timpang dan tatap yang bahkan masih tersembunyi di balik selembar kain hitam, Nanami Kento ingin berdiri, lari. Kabur dan pergi dari sini. Persetan soal hantunya.
"Kata hantunya,"
Lari!
Dia harus lari!
"Si hantu setuju buat pergi ninggalin lu asal lu ngewe sama gue sekali aja."
Nanami Kento berdiri, memutar tungkai, berniat buat keluar dan lari — tapi sayang, lagi-lagi si energi tak kasatmata membuatnya jatuh ambruk mencium papan kayu bau lapuk.
***
Tawa milik Si Dukun menggema berulang bukan hanya dalam gua melainkan juga di telinganya.
"Lo harus tau, nih hantu perawan lucu juga, masa dia malu-malu bilang katanya gue ganteng padahal muka gue aja setengah kena sensor — eh apa hantu bisa ngeliat nembus kain ya?"
Nanami Kento enggan menyahut.
Sewaktu Si Dukun menoleh ke arahnya, dia tahu benar kalau dukun itu memandang ke hantu entah sedang melayang di sebelah mananya. Yang jelas dukun bernama 'Bangsat' tersebut malah terkikih-kikih sendiri.
"Anjir, baru kali ini seumur hidup gue liat setan malu-malu naksir ama dukun."
Kento bersidekap. Urat leher dan pelipisnya agak menonjol kalau seseorang benar-benar memperhatikannya. "Bisakah kita mulai saja ritualnya?"
Sebelum dia keburu masuk angin.
"Sabar, sabar," ujar Si Dukun di sela-sela kikihannya sambil mengibas-ngibaskan tangan sebelum akhirnya berdiri. Meski baru separuh berdiri Si Dukun memandang ke arahnya dan menyengir lebar. "Atau sudah sebegitunya kamu nggak sabar buatku sentuh."
Satu kalimat nyaris berbisik dan rendah terdengar sukses membuat Kento semakin bergidik.
Dia mengembuskan napas panjang. Entah apa masalahnya sampai seorang hantu perawan berakhir menempelinya. Ketempelan di mana pun dia benar-benar tidak tahu. Si Dukun cuma bilang sepertinya dia membawa si hantu perawan secara kebetulan. Saat dia tanya kenapa si hantu memilihnya, dukun itu cuma menjawab, 'soalnya muka lu keliatan paling kesepian'.
Hantu sialan.
Sekarang berada di dalam gua dengan penerangan seadanya dari lampu minyak dan lilin, dia harus duduk bersila dengan kondisi hampir sepenuhnya telanjang. Proses ritual akan segera berlangsung, dukun itu bilang.
Kento mengamati sekeliling. Dia sepertinya duduk di tengah-tengah lingkaran, tepatnya pada bagian tengah sebuah gambar bintang besar yang di beberapa bagiannya berbubuhkan aksara-aksara tak familier untuknya. Mungkin Sansekerta, mungkin pula bukan. Di beberapa titik, tepatnya di sudut-sudut pertemuan pucuk bintang dan lingkaran, terletak lilin-lilin yang apinya meliuk-meliuk entah dihembus angin atau jejadian. Bersama hembusan angin pula terhidu aroma basah tanah dan bebatuan, samar-samar bahu tahi kelelawar seperti yang sepatutnya dia bayangkan nampaknya terusir berkat pekat wangi bebauan dari kemenyan dan minyak-minyak asing untuknya. Seandainya cuma harus menyimpulkan dari aromanya saja, dia merasa seperti terperangkap di toko parfum palsu yang biasa dia temukan di deret pertokoan trotoar.
Akan tetapi Kento jelas bukan berada di sebuah toko parfum. Kalau ahli peracik parfumnya seperti dukun berpakaian serba hitam yang sedang sibuk mengaduk-aduk sebuah kuali hitam yang nampaknya berisi campuran kelopak-kelopak bunga, dedaunan dan entah apa minyak yang sedang dituangkan ke dalam kuali itu, dia jelas menolak membeli apa lagi memakainya. Bisa-bisa dia alergi.
Baru membayangkan saja sudah membuat kulit telanjangnya gatal-gatal.
"Ini bakal dingin lho, ya," kata Si Dukun sembari menyiduk air di kuali. Beberapa lembar kelopak bunga nampak mengambang di permukaan air di gayung kay—
"Akh—!"
Kento terperanjat. Dingin mengigit sekujur tubuhnya. Refleks dia melindungi bagian wajahnya dengan lengan kiri seolah-olah dia sudah tahu jika siraman berikutnya akan terjadi. Dan benar saja, posisi kuali dan meja yang berada sedikit di luar lingkar mantra yang tak terlalu besar memudahkan Si Dukun menyiduk air dan menyiramnya sekali lagi. Hembus angin di gua semakin menusuk indra saat basah membasuh kulit telanjangnya. Sensitifitasnya seolah menjerit meski dia berusaha menahan diri dari mencicit. Enggan membuat Si Dukun makin kesenangan, sebab di antara guyuran air dan riap pirang basahnya, dia masih mampu menangkap lebar seringai dari dukun itu.
Namun pada akhirnya cicit terhempas dari mulut. Sontak Kento melompat mundur dengan posisi terduduk saat sentuh bertemu konak, kaki mengangkang lebar karena tekanan di antara selangkangan — di mana satu-satunya panas tercipta.
"Eh, ternyata lo masokis ya?"
Kento mengernyit, memandangi sepatu hitam di atas selembar handuk putih yang menjadi pertahanan akhir diri; sampai sengat di antara pangkal paha menyentak dan dia perlahan kehilangan kontrol akan diri. Kedua tangan menopang pada tanah, mencengkeram pasir dan mengusik lingkar mantra. Gemetar tubuh mulai kelihatan saat desir hasrat perlahan menjalar menuju ujung kepala dan ujung kaki.
Tidak normal.
Segalanya jelas tidak normal.
Melirik ke arah meja di mana kuali berada, periuk-peruk kecil tempat kemenyan terbakar menampakkan asap membumbung dari persembunyiannya. Mungkinkah ada sesuatu yang dibakarkan di sana? Karena respons tubuhnya begitu cepat. Atau jejadian, setan, hantu — apalah sebutannya si perawan ternyata bukan lagi sekadar menempel namun sudah menguasai.
"Lihat," Si Dukun menyingkirkan kaki dari handuknya. Semakin jelas terlihat gunduk di sana. "Masa baru gitu aja udah berdiri. Jangan-jangan lu emang suka diginiin ya?"
Mendengarnya, Kento mengeraskan rahang. Sepasang cokelat terang yang sudah tidak tertutupi kacamata hitam menyalang, melempar tajam tatap penuh ketidaksukaan pada dukun yang cuma mengedikkan bahu.
"Gue kan cuma nanya," katanya sederhana.
"Respons normal," Kento balas menjawab biarpun agak gemetar bariton sengaunya terdengar. Dia menyisir helaian rambut pirang basahnya ke belakang dengan tangan kanannya, sempat dia mengusir beberapa lembar kelopak bunga warna-warni yang menempel di kepalanya. "Lagipula, jujur saja, setan perempuan itu sudah mulai merasuki bukan?"
Si Dukun cuma tersenyum. "Entahlah."
Kento berdecak. "Cepat selesaikan ritualnya."
Bukan menurutinya, Si Dukun malah menyusupkan masuk ujung sepatunya ke bawah handuk. Pinggulnya berjengit, tubuh bergidik ngeri karena gertak sensasi yang menghampiri saat ujung sepatu bertemu dengan ereksi.
"Hen ... ti ... kan ...." Kento mengerut dalam, tangan kirinya yang masih menopang berat tubuh mengepal kuat. Dan biarpun tangan kanannya mencengkeram kaki Si Dukun berniat untuk menyingkirkan, dia tahu dia kalah kuat. Nyatanya Si Dukun memaksanya merasakan sensasi lain saat ujung sepatu menekan, menelusur turun dan mendesak zakarnya seolah-seolah hal seperti ini wajar untuk dilakukan.
Panas merambat bersama sentak sensasi. Ujung sepatu Si Dukun memijat, mempermainkan kantong spermanya hingga dia kepayahan. Napas memberat, cengkeraman melemah, dan jemari kakinya menekuk menahan hasrat yang terkatrol naik. Tubuhnya basah dan dingin, namun memanas oleh usik libido pada akal sehat.
Hentikan, dia bilang.
Akan tetapi, sayup-sayup suara di sudut kepala merintih agar segalanya tetap berlanjut. Dia seperti perawan, baru pertama kali merasakan enak dan akhirnya ketagihan. Padahal selama 27 tahun dia hidup, bukan sekali dua kali dia berhubungan badan dengan wanita.
"Henti—kannh—" Kento mengigit bibir bawahnya. Nanar mata memandang saat sepatu menyingkap handuk, mempertontonkan kemaluannya yang berkedut dan ereksi hebat. Di bagian pucuknya basah bening berkumpul, menetes menelusuri batang kemaluannya.
"Oh—luar biasa," Si Dukun berdecak kagum.
Dia ingin berdiri. Pergi.
Namun di saat yang sama dia ingin lebih.
Nyatanya, keinginan keduanya terkabulkan. Di bawah Si Dukun Nanami Kento bernaung. Si Dukun menjenggut dagunya, memaksa agar dia menengadah, dan belum sempat napas terhela barang sekalipun, Si Dukun penuh nafsu meraup dan memagut bibirnya di dalam sebuah ciuman intens. Terpaksa pula akhirnya Kento membuka mulut, membiarkan Si Dukun mereguk dan berbagi rasa dengannya saat lidah menjamah rongga mulutnya. Langit-langit. Bagian dalam pipi. Deret gigi hingga lidah mereka bertaut. Ciuman mereka berisik dan basah. Sebasah selangkangannya menjadi.
Kento merebah setelah Si Dukun mendorongnya berbaring. Kasar pasir, kerikil dari lantai gua menggesek dan menyakiti kulitnya. Akan tetapi abai pada nyeri, dia menikmati isap di bibir sebelum kecupan turun menyusur ke dagu dan ceruk lehernya. Meninggalkan dia dengan rasa ingin lebih dan kedut pada sembab di bibir.
"Ah ... berhenti ...." dia mendesah.
Sayup di kepala menolak.
Nanar dia memandang pada Si Dukun yang sibuk mengecupi dada telanjangnya, tubuhnya mengigil saat sensasi elektris menggelitik datang berkumpul di puting kanannya. Basah dan panas bergumul menjadi satu, dibawakan oleh isap dan gigitan Si Dukun di sana. Di saat dia sudah kelimpungan akan sengat-sengat elektris dari lihainya cubit dan godaan Si Dukun di dada kirinya yang meninggalkan remang di sekujur tubuhnya sebagai reaksi.
"... Henti ... kan ... hentikan ...," sengau baritonnya rendah meminta.
Tentu Si Dukun bertindak sebaliknya. Tekanan hasrat bertambah di perut bersama dengan kecup demi kecup di sana.
Otot-ototnya lantas menegang detik ereksinya terpegang. Kento refleks mengangkat tubuh, meski posisi mereka hanya mampu membuatnya mengangkat sampai separuh.
"Kau—" Kento menggertakkan gigi, tangan kanannya terulur mencengkeram riap putih Si Dukun. Di mana dia memaksa ringis terhempas dari mulut yang sedari tadi berucap seenaknya sendiri.
Jelas begitu saja belum cukup untuk menghentikan tindakan seenaknya Si Dukun. Hangat menyelubung, dan dia gemetar. Pinggulnya bergerak naik-turun melawan kewarasannya bersama isap dan kecup liar di sekujur antusiasme miliknya. Biarpun dia memohon dan meminta, Si Dukun tetap berlaku seenak jidat. Meremas, mengocok, menjilat. Menunjukkan kelihaian akan mulut dan gerak lidah yang tidak semestinya dipertunjukkan oleh seorang lelaki pada lelaki lainnya.
"A—ah—!" Tubuhnya menyentak ke belakang. Kento erat mencengkeram rambut Si Dukun di genggamannya sampai sang empunya meringis. Meski demikian belum cukup dia menghentikan pertunjukkan kelihaian Si Dukun pada tubuhnya saat satu titik di sapu oleh basah dan hangat lihainya lidah Si Dukun.
"Lo masih perawan ya di sini?" gumam dari mulut itu sulit dia dengar. Berkat deru napas memburunya dan hebat degup jantungnya di balik rusuk.
Terlebih bagaimana kemudian dia mendesah dan mengerang, hanya karena lidah menelusup pada liang yang tak semestinya.
Cecap dan isap berbarengan dengan pergerakan lidah menderanya tanpa ampun. Biar Kento berusaha menahan desah serta nyatanya dia kalah berkat tiap serangan. Hingga sulit dia menyadari akan samar-samar erang dan desah feminin yang turut menyertai hempasan dari mulutnya.
Belum puas menderanya, Si Dukun balik membayangi tubuhnya yang terkulai lemah merasakan bara di antara pangkal paha. Sosok berambut putih separuh berantakan memandangnya dari balik kain hitam, seringai timpang balik muncul usai sang empunya menjilat bibir, nampak puas dengan pertunjukkan awalnya.
"Andai lu bisa liat seberapa imutnya lu sekarang," Si Dukun terkekeh. Entah pada siapa pujian itu tertuju. "Padahal baru segini aja, perawan emang seimut ini, ya?"
Tentu Kento tetap bungkam. Dia terlena dalam merdu alunan napas berdengapnya. Panas berkumpul di area perut hingga selangkangan. Tekanan di sana mendesaknya dengan sebuah penantian dan harapan.
Dia ingin ....
"Akh—"
Dia ingin disentuh lagi.
Dengan tangan kanannya Kento erat mencengkeram lengan kiri Si Dukun ketika ketuk dia rasakan pada titik sensitifnya. Becek di sana mempermudah segalanya. Bagaimana hanya butuh satu dorongan pelan untuk dirinya menerima telunjuk dan terhempas oleh sensasi yang membuat tubuhnya bergidik. Sedikit ngeri sedikit nikmat. Karena rasa yang diantarkan kepadanya begitu berbeda seperti saat dia menjamah tubuh wanita yang pernah dia kencani. Seperti perawan pula mungkin dia menjadi dengan isak dari mulut dan geliat tubuhnya mengikuti pergerakan keluar masuk dari jari yang mengantarkannya sensasi nikmat dan nyeri. Asing pelan-pelan berubah jadi familier ketika satu bertambah jadi dua. Lantas tiga.
Kemudian—
"Segini cukup," Si Dukun berbisik di telinganya usai mengecupnya. "Sori, tapi gue udah gak tahan."
"Tu-Tunggu—" Kento mengernyit dalam, gigi menggemerutuk. Sesaat dia menahan napas detik dia tak diberi izin untuk mereguk sisa-sisa kenikmatan dari keberadaan jari-jemari Si Dukun di tubuhnya. Pipinya memanas, menyadari apa yang mendesak pada liangnya yang telah menjadi begitu sensitif. Telah bertambah fungsi dan siap dipergunakan untuk sanggama.
Di lekuk lehernya Si Dukun membenamkan wajah. Kecup mendahului sebelum Si Dukun memberikan gigit dan isap di kulitnya. "Lebarin kaki lo."
Kento menurut.
Si Dukun menahan kaki kanannya, sembari sosok itu memosisikan tubuh sedemikian rupa.
"Rileks."
Mana bisa.
Kali ini Kento mencengkeram kedua bahu dari si Dukun yang masih hampir sepenuhnya berpakaian sementara dia telanjang. Dahinya mengerut dalam. Alisnya nyaris bertaut. Jujur dia takut, di saat bersamaan dia ingin lebih, ingin lebur dalam panas yang dibawakan oleh dukun itu pada tubuhnya. Dan dia mendapatkannya.
Bengkak ereksi Si Dukun memenuhinya. Seperti ombak sensasi luar biasa nikmat di antara perih menerpanya. Awalnya dia kesulitan bernapas, namun dalam sekejap mampu terhidu olehnya maskulin keringat Si Dukun bercampur dengan bebauan di sekelilingnya. Lembaran kelopak bunga, tanah basah, dinginnya hembus angin malam, dan seks.
Sempat pula penglihatannya menggelap, momen di mana sebersit cahaya laiknya hamparan kembang api lewat melintas. Di antara erang tertahannya, dia mendengar desah feminin yang lama-lama kedengaran makin jelas. Sejelas penampakan seorang gadis berkulit putih dengan rambut panjang sebahunya yang nampaknya berantakan.
"Nnh—!"
Kento memejamkan mata tepat pada hentakan menghujam hingga membuat tubuhnya gemetar hebat karena hantaman sensasi. Napasnya berat. Terputus-putus. Kepalanya pusing hebat hingga gagal dia menemukan cara untuk mengatur deru napasnya hingga hangat telapak tangan besar menangkup dan mengusap pipinya. Ibu jari mengusap bibirnya yang masih sembab dan menikmati remang sisa dari intensitas ciuman mereka. Lantas ibu jari itu menarik bibir bawahnya, menyusup masuk dan mendesak agar dia membuka mulut. Menunjukkan padanya bagaimana sebaiknya dia bernapas saat si pemilik ibu jari sibuk mengecupi rahangnya. Bisa dia mendengar bagaimana Si Dukun berdengap-dengap berusaha mengatur napas dan mengendalikan diri.
"Gue gerak," Si Dukun berkata.
Membelalak sebentar, Kento kembali memejamkan mata. Erang dan desah berusaha dia tahan dengan mengigit bagian dalam bibir bawah. Sayang, hempas nyeri-perih bercampur kenikmatan yang aneh saat ereksi di tubuhnya ditarik keluar perlahan dan dihujamkan balik kuat-kuat membuatnya memekik, akhirnya pasrah mendengarkan suara.
"A-ah! Aahn!"
Akan tetapi itu bukan suaranya.
"Nn-h! Mn—ngh!"
Bukan pula suara Si Dukun.
Kento mengerjap-ngerjap, menoleh ke kiri dan kanan demi menemukan di mana sumber erang feminin berasal. Hanya saja sulit dia menemukan ketika Si Dukun terus bergerak, mendesaknya dengan pergerakan kuat dan cepat hingga untuk bergantung pada akal sehatnya barang sedikit saja dia kesulitan.
Si Dukun mendera dan menghentak, menggesek titik-titik sensitifnya tanpa ampun yang dia balas dengan meremas lebih kencang. Hingga bisa dia mendapati bagaimana Si Dukun merintih pelan, nampak kewalahan pula dengan nikmat yang menyelubung kemaluan.
"A-ah, tu-tungg—"
Namun jelas tidak ada kata tunggu. Deraannya tanpa ampun. Panas semakin bertambah di tubuhnya, meledak-ledak di tiap saluran pembuluh. Sensasi berat menusuk perutnya dengan hujaman ereksi Si Dukun yang begitu dalam dan beringas.
Kento cuma bisa mereguk nikmat dan sedikit demi sedikit kecanggungan menguap saat pinggul yang awalnya cuma bisa menekuk, diam saat terhujam mulai menyambut pergerakan yang datang. Erat dia memeluk leher dari Si Dukun yang lantas di tengah gempuran hebatnya berbisik,
"Satoru, panggil nama gue, Satoru ...."
Dia mengerjap. Tatapnya nanar dan basah. Otak kesulitan memrotes.
"Ha-hah?"
"Sa ... Satoru ...."
Lenguh feminin menggema di kepala bersama dengan sekelibat bayang wanita berambut hitam panjang yang nampak kepayahan.
Tanpa memberinya kesempatan untuk berpikir Si Dukun memeluknya erat dan lanjut mengayun kuat. Tanpa ampun menderakan nikmat ke sekujur tubuhnya yang telah melupakan betapa dingin udara dalam gua tempat desah, geram dan rintih mereka menggema semakin larut malam bertambah. Menemani becek dan tamparan di setiap pergerakan dan deraan si pria kepadanya.
Kento membuka mulut, namun kembali mengatup. Lagi-lagi bertahan dengan mengigiti bibir. Usahanya pun gagal di kali kesekian tiap kali friksi dan tekanan menggesek bagian tersensitifnya di dalam.
"Pe ... pelan sedi ... kit ...." baritonnya berat, sengau, dan merengek.
"Sulit ...." Suara Si Dukun — Satoru serak. Nampak terengah-engah, dan memberitahunya bila semakin terbakar bara nikmat tubuh mereka semakin kesulitan mereka bernapas. Meski demikian serangan Satoru menjadi lebih keras dan lebih dalam di setiap gesekan mereka di dalam dirinya, pada saat yang sama, semakin jauh pula dia dari kewarasannya.
Dia didorong ke dalam kegilaan. Kegilaan yang membuatnya semakin putus asa untuk meraih keadaan euforia.
"Satoru! Satoru!"
"Sa—ngh!"
"Satoru! Sa ... toru!"
"Satoru ... panggil nama gue, Kento."
"A-ah ...."
Dari mana pria ini tahu namanya?
"Satoru. Panggil 'Satoru'."
"Satoru! Nnh!"
Oh, ya, tadi di awal kedatangannya dia memang memberitahu namanya saat diminta.
"Kento ... "
"Sa—"
Membenamkan hidungnya ke ceruk leher Satoru, Kento pelan-pelan membuka mulut, "Satoru ... ah ... Satoru, Satoru," dia mendesah.
"Kento, Kento," Satoru menggeram seraya mengecupi pipi dan rahangnya.
Semakin tenggelam mereka berdua pada kenikmatan serupa, gerakan mereka pun menjadi satu irama. Kento mengayunkan pinggul, menyapa setiap dorongan yang datang. Erangan dan geraman mereka yang terengah-engah, suara ketika kulit lembab mereka bertemu, dan detak jantungnya yang cepat berubah menjadi melodi yang indah di telinganya.
"A-ah Kento, gue bentar lagi ...."
Nyatanya dia juga sudah berada di puncak ambang batasnya. Bara di tubuh membakar hebat. Pucuk antusiasmenya berdenyut-denyut ingin melepaskan.
Kento berbisik rendah, "Aku ... juga ...."
Cukup dengan kata-kata itu dari mulutnya deraan Satoru semakin menggila di tubuhnya, memberitahunya kalau mereka berdua benar-benar akan mencapai puncak euforia mereka secara bersama-sama.
Namun, apakah mereka benar-benar berdua?
Saat panas menyembur memenuhi renggang sanggamanya, sekelibat bayang akan perempuan yang mencapai klimaksnya pula seolah lewat di pandangnya. Dia tidak mengerti. Mungkin itu hantu si perawan. Fokusnya terbagi antara melepas benih yang berantakan memerciki abdomen dan pakaian Si Dukun, serta mereguk nikmat dari rasa penuh di perutnya.
Dan ketika di antara samar-samar kesadarannya dia mencari sekelibat bayang si perempuan, Satoru lebih dulu memaksanya untuk bersipandang pada iris biru terang yang kini tak lagi terhalang oleh kain hitam.
"Puas?" Di antara napas terputus Satoru bertanya, senyumnya tipis dan caranya memandang lembut.
"Puas."
Lantas entah sejak kapan di sekitar mereka terdapat pendar cahaya yang berterbangan menuju langit-langit gua. Semula temaram, kini gua bertambah terang.
"Terima kasih, Satoru, Kento."
Di antara cahaya itu nampak sosok seorang gadis berambut hitam sebahu yang kini terlihat begitu ceria dan cantik. Senyumnya puas. Gaun putihnya berkibar-kibar seperti helai riap hitamnya yang diombang-ambing oleh angin. Detik sentuhan dia rasakan di pipinya, bayangan gadis itu akhirnya memudar. Kini seluruh atensinya dia berikan pada sepasang biru laut yang membuatnya merasa jika dia memandang terlalu lama, maka dia akan selamanya terperangkap di sana.
"Puas, nggak?" Sekali lagi Satoru, Si Dukun bertanya.
Kento meneguk saliva yang mencekat di leher. Masih agak gemetar bibirnya, dia berbisik, "Puas."
Dan segalanya pun seharusnya usai.
***
Rambut pirang sudah tersisir rapi, belahan 7:3 seperti biasa. Kento merapikan kerah kemeja dan jasnya mengabaikan kikih penuh kebahagiaan yang datang dari Si Dukun yang sudah kembali duduk di singgasana kebesarannya (cuma bantal di belakang hamparan kemenyan dan dupa) di ruang prakteknya.
"Enak, kan?"
Kento mengeraskan rahang. Badannya memang sekarang sudah terasa lebih ringan tanpa ada rasa seperti yang menggelantung lagi padanya.
"Besok-besok datang lagi, ya, Kento."
"Tidak, terima kasih," katanya sesudah dia berbalik dan mengeluarkan sejumlah uang yang kemudian dia letakkan di sebuah periuk dupa kosong di hadapan Si Dukun.
"E-eh??"
Tanpa banyak berkata-kata, Kento berbalik keluar, kali ini dia tidak lagi ambruk. Tidak ada lagi yang menahan dirinya. Dengan bebas, dia bisa meninggalkan tempat dukun itu dan kembali melanjutkan kesehariannya tanpa perbuatan-perbuatan bodoh karena dikendalikan hantu perawan lanjut terjadi. Setidaknya begitu, sampai lengannya ditarik begitu saja dan dia dipaksa menghadap Si Dukun yang berada terlalu lamat-lamat dengannya.
"Datang lagi," Si Dukun mengecup bibirnya singkat dan lantas menyeringai lebar, "kalau enggak ntar lo gue samperin."
"Dasar, dukun gila," kata Kento seraya menarik tangannya, dan kemudian pergi meninggalkan kediaman Si Dukun demi menyongsong pagi serta hari yang lebih baik.
#
