Work Text:
Solomon mengerjap ketika rangkaian bunga itu diletakkan di atas kepalanya. Berwarna-warni, biru dan putih yang berpadu seperti awan kapas di langit yang cerah. Perpaduan yang sangat manis jika disandingkan dengan rambutnya yang berwarna perak. Dia lalu memegangnya seakan ingin membetulkan posisinya yang miring, dan tersenyum. Suaranya yang menyusul selanjutnya terdengar amat merdu dan ibarat sanggup memuaskan haus di padang pasir. “Cantik sekali!”
Sosok di hadapannya terkikik pelan, rona merah pada wajahnya menggambarkan perasaan yang berseri-seri. Sebelum ini, mereka sudah membincangkan soal mahkota itu seharian, dan berhubung Simeon masih memiliki sisa-sisa bunga yang digunakannya untuk benda serupa beberapa hari silam, mereka pun memutuskan untuk memintanya dan membuatnya juga. Hasilnya berhasil memuaskan keduanya. Senyum simpul itu tak kunjung lepas dari wajahnya yang tampan — dan awet muda. Pria itu mengetukkan tongkat sihir untuk menyulap rangkaian bundar bunganya, menghiasnya sesaat dengan kilauan yang khas, meskipun keabadian yang diselimutkan adalah selamanya.
Sedangkan, sosok itu menukas, “Kalau begini, kamu kelihatan seperti dewa Apollo!”
“Dewa Apollo, ya? Kenapa begitu? Apakah karena kami sama-sama ganteng?” kelakar Solomon, yang kemudian mereka tertawakan bersama.
“Aku suka mahkota bunga ini, loh,” lanjut sang penyihir seusai tawa mereda. “Kita membuatnya bersama-sama. Kubuat dia awet dengan sihirku barusan supaya bisa selalu kusimpan sampai kapan pun.”
Sosok itu tersenyum semakin lebar, jelas senang dengan ide yang cemerlang itu. Solomon sendiri terdiam, sementara senyum itu masih terpatri. Binar cokelat pada matanya memandang sosok sang murid, yang memperhatikannya dengan seksama, dan berwajah polos seolah akan selalu percaya dengan apa pun yang dia utarakan — sosok itu bagai permata, tak menjemukan untuk dilihat, indah walau melalui tempaan api yang ganas. Sosok ini adalah muridnya, dan juga rekannya, dan juga saudara sebangsanya.
“Mahkota bunga,” Solomon menjelaskan, “selalu dikaitkan dengan keagungan dewa dalam sejarah Yunani kuno, bahkan orang-orang Romawi pada zaman dahulu memakaikan mahkota ini kepada jenderal mereka untuk perang yang dimenangkan. Sangat spesial karena hanya pernah terjadi beberapa kali. Dan mahkota ini pun, dianggap oleh sebagian orang sebagai kemenangan hidup atas kematian.”
“Kalau begitu, aku lebih senang menghubungkanmu dengan artian yang terakhir.”
Sang penyihir kemudian memiringkan kepala. “Artian yang terakhir? Maksudmu kemenangan hidup atas kematian?”
Orang di depannya itu mengangguk. “Aku percaya bahwa selama perjalanan hidupmu yang panjang, kamu sudah pasti sering menghadapi kematian secara tatap muka. Tetapi, setelah semua itu, kamu masih hidup dan berada di sini bersamaku.”
Senyum redup dari wajah Solomon, digantikan keseriusan yang menenangkan, dan disusul anggukan penuh persetujuan. “Ucapanmu membuatku sangat tersentuh.”
“Dan, yah, di ulang tahunmu yang entah ke berapa ini—tolong jangan mulai tersenyum geli seperti itu, kamu akan membuatku tertawa! …. Aku … ingin merayakannya dengan sepenuh hati. Terima kasih sudah hidup, ya, Solomon!”
“Biasanya lebih sering dikaitkan dengan kehidupan setelah kematian, sih, — tapi, oh, lupakan. Aku paham apa maksudmu, kok. Inikah hadiah darimu untuk ulang tahunku?”
“Betul. Dan semoga saja kebersamaan kita ini juga bisa menjadi hadiah yang indah untukmu … kalau kamu tidak keberatan ….”
“Aku senang.” Solomon menarik sosok itu mendekat, dan bahu mereka bersentuhan. “Aku senang menghabiskan waktu bersamamu. Terima kasih untuk semua hadiahnya, ya.”
Solomon memandangi mahkota bunga itu sekali lagi, matanya berbinar seperti sedang memuja dengan sukacita yang manis, sebelum menurunkannya dan meletakkannya di atas kepala sosok yang kini berada di sampingnya itu. Sang rekan balas menatapnya dan mendapati dirinya sendiri diam-diam tercekat — ya, benar apa kata orang, mata adalah jendela hati, karena sorot mata sang penyihir itu tak sanggup berbohong, hanya menampilkan ketulusan yang begitu mencerahkan — dan mencandu.
Mereka saling percaya bahwa mahkota bunga itu ibarat ikatan mereka. “Terima kasih sudah hidup dan bersamaku di sini,” ucap Solomon, lalu mereka berpelukan.
