Work Text:
Aku menggigit bagian dalam mulut, berharap bahwa dengan begitu suaraku akan tertelan dengan sendirinya, tetapi pada titik ini aku bahkan tidak tahu apa yang sedang kulakukan. Tanganku mencengkeram erat kedua pintu lemari yang kupaksa tutup dari dalam, di mana aku sedang bersembunyi. Mataku terus memperhatikan— lebih tepatnya, mengintip apa yang terjadi di baliknya. Seluruh anggota badanku kaku selagi orang itu menjerit-jerit. Orang yang sedang dimakan hidup-hidup oleh sesosok monster.
Hanya sekilas yang kutangkap dari celah pintu lemari. Semoga tanganku tidak gemetaran, sebab kalau tidak, bisa saja aku akan menjadi santapan berikutnya bagi monster itu. Ya Tuhan, seisi perut orang itu tercerai-berai. Ya Tuhan, kapan ini berakhir?
Kemudian, di tengah kengerian itu, ada suara maskulin yang menggema di ruangan, yang menghentikan rentetan pikiranku. Sayangnya aku tidak tahu apa yang dibicarakannya, tetapi itu membuat sang monster segera menghentikan aktivitasnya, mengabaikan manusia yang pasti sudah setengah dimakannya— Ya Tuhan. Manusia itu sudah tidak bergerak. Sementara aku berusaha sebisa mungkin untuk fokus pada monster itu saja, tanpa sadar aku menghela napas keras. Sakit sekali luka yang ada di bahuku ini. Namun, aku mungkin menghela napas terlalu keras, karena kudengar monster itu mengeluarkan suara menggeram setelahnya. Oh, Yoshina bodoh! Tidak sayang nyawa rupanya!
“Sekali lagi saya minta kamu agar keluar dari sini.”
Suara yang sama pun mengalun lagi, kali ini dengan ucapan yang bisa kupahami. Aku yakin siapa pun yang berbicara ini bukan manusia— makhluk mana yang bisa menghadapi monster semengerikan itu dengan begitu kalemnya? Sementara itu, sang monster terdengar menggeram lagi dengan lebih kasar. Dia tidak terima diusir. Kuharap itu maksudnya. Aku sudah tidak bisa melihat apa-apa lagi karena pintunya sudah kututup sepenuhnya. Kupasrahkan takdirku kepada penyelamatku yang bukan manusia itu.
Lalu, terdengar ledakan. Monster itu mengeluarkan rentetan pekikan, sebelum mereka saling berkejaran. Tak lama, pintu mendebam. Oh, seandainya tadi aku tidak sembarangan membuka pintu itu, aku takkan ada di tempat terkutuk ini. Aku tidak mengira akan disusul oleh salah satu dari mereka dalam pelarianku. Bodoh sekali aku.
“Kamu bisa keluar. Dia sudah saya usir.”
Jantungku mencelot ketika suara itu berbicara tepat di depan pintu lemari. Aku tidak mendengarnya berjalan. Bisa kurasakan tangannya berusaha membuka pintu ini, tetapi aku enggan melepaskan. Lebih tepatnya, tanganku enggan. Tubuhku pasti masih terlalu syok dengan kengerian yang baru saja kusaksikan. Namun, rupanya itu tidak berlangsung lama. Orang itu akhirnya berhasil membuka pintu lemari— dan aku tercengang.
Yang pertama tertangkap olehku adalah sepasang mata biru pucat yang menatap lurus padaku. Ada sesuatu yang memuntir usus dan seisi perutku karenanya. Kedua alisnya beradu, dahinya sedikit mengerut. Hidungnya mancung. Tulang pipinya tinggi. Bibirnya penuh. Ya Tuhan, dia tampan. Tampan sekali. Rambutnya pirang yang sama pucatnya dengan matanya. Keduanya menggambarkan ketenangan yang mendalam. Penyelamatku adalah seorang laki-laki. Aku sudah hampir memeluknya seandainya tidak melihat sepasang sayap besar di belakang punggungnya. Aku pun terkesiap.
“Napas yang tercekat. Kedua mata melebar. Bibir sedikit terbuka. Ini adalah ekspresi terkejut,” ucapnya, seperti sedang menganalisis. “Ini di luar dugaan.”
Apa yang harus kulakukan? Ini monster juga. Aku tidak percaya aku akan bertatap muka secara langsung dengan sosok yang bukan manusia. Terlebih, dia bisa berbicara dengan bahasa manusia. Dia mengerti bahasa Inggris. Aku sedikit mengenal bentuk sayapnya sebagai sayap gargoyle, monster yang konon hidup sebagai penjaga bangunan tua, seringnya gereja-gereja abad pertengahan. Sial, ternyata aku menemui salah satunya di sini, padahal niat awalku hanya ingin berlibur di negara ini. Tak kusangka malam paling ganjil yang pernah kualami dalam hidup ini belum berakhir.
“Jika kamu tidak keberatan, saya ingin kamu beranjak dari lemari perabot ini. Majikan saya tidak suka barangnya dirusak.”
Aku langsung meloncat keluar dan hampir menabrak tubuhnya yang jangkung seandainya dia tidak sigap memegang kedua tanganku. Kami pun berhadap-hadapan, dan kusadari tinggi badan kami berselisih agak jauh— mungkin dua puluh sentimeter? Saking dekatnya wajah kami, aku sampai bisa melihat bahwa kulit wajahnya tidak berpori-pori, melainkan bertekstur pasir yang mengingatkanku pada permukaan gerabah.
Aku tertawa kikuk. Wajahnya tetap tanpa ekspresi selagi kedua tangannya mengangkatku, mungkin bermaksud supaya aku bisa berdiri tegap. Cepat-cepat kutegakkan kaki agar aku tidak terpeleset jatuh.
“Uhm, maaf,” cicitku. “Aku takut setengah mati karena monster tadi.”
“Jangan khawatir. Majikan saya juga dulu tidak berani menatap mata gargoyle. Namun, lama setelah saya berada di sini, dia bahkan sanggup membakar mereka hidup-hidup.”
“Bukan takut itu yang kumaksud ….” Apakah majikannya juga bukan manusia? “Makasih sudah mengusirnya. Monster itu, maksudku.”
“Ini sudah menjadi tugas saya untuk mengusir siapa pun atau apa saja yang mengusik kediaman ini.” Sepertinya gaya bicaranya memang selalu datar begini, tetapi ada sesuatu yang menggugah setiap kali dia memberikan penjelasan. Dia mengucapkannya dengan percaya diri, seolah yakin pada apa-apa yang dikerjakannya.
“Berarti, aku termasuk orang yang harus kamu usir juga, dong?” tanyaku, lebih karena penasaran daripada takut.
“Seharusnya.”
Aku mengangkat alis, dan dia segera menjelaskan lagi.
“Sudah lama sejak terakhir kali manusia memasuki tempat ini. Dan lagi,” dia menunjuk bahu dan telingaku, “luka-luka ini akan menarik perhatian mereka. Majikan saya tidak suka membiarkan manusia pergi dari wastu ini dalam keadaan cedera.”
Wajahnya terlihat tanpa emosi. Aku sempat berpikir dia akan memakanku kalau dia tidak segera melanjutkan perkataannya sendiri, “Kamu harus dirawat terlebih dahulu.”
Selanjutnya, dia menyuruhku berdiri di dekat tangga sementara dia membersihkan bekas kecelakaan mengerikan monster itu. Aku tidak akan pernah lupa dengan mayat manusia itu. Bentuknya sudah tidak karuan. Darah dan seisi badannya berserakan di mana-mana, yang menguarkan bau amis menyengat. Monster itu pasti menemukannya di jalan. Memang agak malang nasibku malam ini karena harus menyaksikan pembantaian brutal itu dengan mata kepalaku sendiri.
Pada titik ini, aku tidak yakin siapa yang harus kupercaya. Aku tidak melihat siapa-siapa di wilayah ini selain monster-monster tadi. Penyelamatku ini memang tidak terlihat berbahaya, setidaknya untuk saat ini, tetapi dia juga bukan manusia.
“Aku bukannya menganggapmu musuh, tapi aku harus bertanya: apa aku bisa percaya padamu?” kataku.
Sambil mengikat kantong besar yang memuat mayat, dia melirik sekilas padaku. Itu bukan tatapan marah, tetapi jelas dia tidak senang dengan pertanyaanku. Sepertinya dia tersinggung.
“Saya tidak mendapat keuntungan apa-apa dengan mencelakai kamu.” Suaranya tenang dan lugas seperti tidak terjadi apa-apa.
“Apa kamu tidak makan manusia? Soalnya …, uhm …, sayapmu ….”
“Masuk akal bahwa kamu curiga karena saya tidak terlihat normal bagi manusia biasa.” Dia memanggul kantong itu. “Saya memang bukan manusia. Adapun pertanyaan kamu tentang makanan, saya mengonsumsi kacang-kacangan yang saya panen dari kebun di belakang wastu ini.”
Dia lalu menyuruhku untuk tetap berada di tempat karena berbahaya jika mengikutinya keluar. Aku sibuk menahan rasa sakit di bahu dan telinga, tetapi karena aku tidak tahu apakah tersedia obat-obatan di tempat ini, jadi aku diam saja menunggunya kembali. Untungnya, bau amis sudah tidak tercium lagi, digantikan bebauan aneh yang tidak pernah kucium sebelumnya, meski tetap lebih baik daripada bau darah. Pria itu bekerja cepat. Mungkin kira-kira sepuluh menit kemudian, dia sudah kembali ke dalam wastu. Menurut penuturannya, mayat tadi dikuburkannya beserta kantongnya supaya bau busuknya nanti tidak terlalu menyengat.
“Lalu, bagaimana dengan kuburannya? Maksudku, biasanya perlu waktu yang agak lama untuk menggali ….”
Dia tidak menjawab pertanyaanku dan langsung menanyakan keadaanku lagi. Kubilang kepadanya bahwa bahuku terasa sakit.
“Bekas cakaran gargoyle tidak beracun. Kita hanya perlu menutup lukanya,” ujarnya. “Tunggu sebentar.”
Selagi dia berjalan naik tangga, aku duduk di sofa kayu yang berada di tengah ruangan. Untuk mengalihkan perhatian dari rasa sakit yang kuderita (sial, ternyata tadi aku sangat takut sampai tidak sadar dengan hal ini), aku memperhatikan sekelilingku. Ruangan ini terbilang luas sekali bagiku yang sejak kecil tinggal di rumah yang sempit. Ada banyak perabotan antik yang hanya pernah kulihat di dalam film-film jadul khas Eropa. Warna porselennya seperti tidak lekang oleh waktu, meski harus kuakui nuansanya menambah kesuraman tempat ini. Untungnya, langit-langit ruangan yang tinggi memberikan akses udara yang leluasa, terlebih karena tempat ini memiliki banyak ventilasi. Hanya, suasana hening yang menggantung memberiku perasaan mencekam. Apalagi kalau kuingat barusan ada manusia yang dicabik-cabik monster di dalam ruangan ini ….
Kembalinya pria itu ke sisiku benar-benar membuatku terkejut.
“Tenang, ini saya,” ucapnya.
Aku tertawa kikuk. “Ya ampun, bisa-bisa aku kena serangan jantung kalau kelamaan di tempat ini.”
“Apakah kamu memiliki riwayat penyakit itu? Saya akan berusaha meminimalkan faktornya di sini.”
Aku mendapat firasat bahwa memang sudah menjadi kebiasaannya untuk bergerak diam-diam. Namun, hal ini menimbulkan pertanyaan di dalam benakku. “Apakah majikanmu ada di sini? Apakah ada orang lain juga?”
“Dia sudah lama meninggal dunia.”
Dia menunjukkan baskom berisikan air jernih dan gumpalan kain beserta sekotak obat-obatan. “Bersihkan lukamu selagi saya mencari obat.”
Aku pun menuruti arahannya sementara dia mulai membuka kotak itu. Aku terkejut karena isinya ternyata berupa botol-botol transparan yang isinya didominasi cairan hijau dan cokelat yang kental. Dia pasti menyadari tatapanku yang mengarah pada botol-botol itu karena dia menjelaskan, “Saya diajarkan cara membuat obat herbal oleh majikan saya karena rumah sakit jauh dari sini.”
“Majikanmu orangnya serba bisa, ya …,” gumamku kemudian berjengit ketika luka di telinga bersentuhan dengan air hangat.
“Pekerjaannya memungkinkannya mempelajari banyak hal, salah satunya terkait obat-obatan dan pembasmian monster.”
“Oh, majikanmu pemburu monster?”
“Benar.”
Dia mengoleskan cairan kental itu pada telingaku. Mengejutkan karena rasanya tidak sakit, malah menyejukkan. Dengan telaten, dia menuangkannya sedikit pada perban yang kemudian direkatkan pada luka menggunakan plester.
“Padahal penampilanmu menyeramkan, tapi gerakanmu luwes dan lembut sekali. Sepertinya kamu terbiasa melakukan ini,” ujarku tersenyum.
Komentarku itu rupanya membuat mata birunya yang pucat mengarah padaku. Dia memperhatikanku dalam diam seperti sedang menganalisis wajahku. Aku mulai bertanya-tanya apakah aku mengatakan sesuatu yang salah, atau apakah seharusnya aku diam saja menerima pengobatan darinya. Padahal, melebihi rasa takut, aku sangat penasaran dengan sosok yang sudah menyelamatkan nyawaku ini.
Aku tidak menduga ini akan terjadi bahkan ketika tadi sedang bepergian dari tempat wisata menuju penginapan. Saat itu, mobil yang aku dan temanku tumpangi mengalami mogok, jadi temanku mencari bantuan. Tak kusangka, aku yang sedang menunggu di dalam mobil mendapat kunjungan mengerikan dari monster-monster itu.
“Saya sudah selesai. Bagaimana dengan luka pada bahu kamu?”
Tersadar dari lamunan, aku mengerjap dan memandangi matanya sekali lagi. Aku tidak melihat emosi apa-apa di sana. “Oh, apa separah itu?”
“Baju kamu basah dengan darah.” Tangannya menyentuh bagian atas lenganku. Rasa sakit pasti tergambar jelas pada wajahku setelahnya, karena dia kemudian menarik tangan. “Tampaknya parah, tetapi seharusnya tidak fatal jika segera ditangani.”
Aneh sekali rasanya disentuh oleh sosok yang bukan manusia seperti ini. Kalau bukan karena nyeri ini, mungkin aku sudah merasakan permukaan porselen yang mengusapku. Aku pun syok ketika dia berbicara lagi, “Buka baju.”
Aku tahu maksudnya supaya dia bisa lebih leluasa membersihkan luka di sana, tetapi dia pastinya tidak sadar bahwa itu bukan hal yang normal untuk diucapkan apalagi kepada orang asing. “Uhh …, oke. Tapi, aku sendiri saja yang membalurkan obatnya. Apa aku boleh pinjam kamar di sini?”
Dia memandangiku seolah baru saja aku bilang aku sebenarnya gargoyle juga seperti dirinya, tetapi dia tidak membantah dan mengangguk. “Baiklah.”
Lalu, aku diarahkan ke lantai dua. Tidak habis-habisnya aku berdecak kagum karena aku seperti sedang melakukan perjalanan waktu ke abad pertengahan. Aroma apak bisa dihirup dalam setiap langkahku, sementara suhu dingin mulai menggigit kulit. Semakin banyak pernak-pernik khas gothic yang menghias dinding dan lantai di sepanjang koridor. Warna hitam dan cokelat mendominasi penglihatan, dengan sedikit paduan putih dan abu-abu di sana-sini. Aku mengenali guci di samping kamar itu sebagai guci yang sama dengan yang kulihat di museum beberapa hari silam. Kemudian, bebungaan yang menggantung, yang pasti rutin diganti oleh pria tadi karena bebungaan itu terlihat masih segar. Akan sangat menyenangkan menjelajahi tempat ini seandainya ada banyak pengunjung juga di sekitarku (yang tentu saja manusia) dan penerangan tidak remang-remang seperti sekarang. Hanya ada pelita di sana-sini yang digantung di dinding pada interval yang seragam, menciptakan kesan kuno yang menunjukkan ketiadaan sambungan listrik di tempat ini.
Aku mencoba mengingat bahwa majikan monster ini adalah orang yang suka kerapian dan teliti.
Kami pun berhenti di depan kamar nomor empat dari lorong masuk. Tidak ada perbedaan pada tiap pintu kamar, jadi semoga saja aku tidak tersesat kalau harus kembali lagi ke sini nanti. “Silakan gunakan kamar ini. Saya tunggu di sini.”
Selanjutnya aku bertanya apakah ada baju ganti di dalam lemari kamar ini, dan dia menjawab ada tetapi untuk laki-laki. Kubilang aku tidak peduli asalkan bersih dan bebas aroma darah. Tidak banyak yang terjadi ketika aku mengobati diriku sendirian di dalam kamar itu. Aku sempat terpana memperhatikan setiap perabotan yang ada—bahkan mereka punya lemari kecil dengan hiasan kelelawar di bagian atasnya. Mengesankan. Dia bilang bahwa majikannya sudah lama meninggal dunia, dan kemungkinan besar sejak itu wastu ini hanya ditempatinya seorang diri. Apakah gargoyle juga bisa mati?
Tetap saja, selalu ada perasaan gelisah yang melandaku ketika hanya ada aku sendiri di sini—perasaan sedang diawasi.
Ah, mungkin itu hanya si monster berparas tampan itu—tunggu, aku belum tahu siapa namanya. Sebaiknya kutanyakan begitu aku bertemu dengannya lagi.
Sekilas kuperhatikan baju ganti yang dimaksud adalah kemeja biru cerah dan celana kain hitam. Besar sekali, tetapi tidak apa-apa. Semoga bisa membuatku tetap hangat. Cepat-cepat kupakai kedua potong kain itu dan kuselesaikan sebelum keluar dari kamar itu. Sial, ke mana dia? Kenapa aku lagi-lagi sendirian di sini? Belum sempat aku beranjak untuk mencari sosoknya, angin berembus dan membuat api yang berada di dalam pelita-pelita itu bergoyang. Secara naluriah, aku mencari-cari asal angin itu dan menemukan jendela di ujung koridor ini.
Ada bayangan seseorang di sana. Suaraku tercekat dengan kedua mata membelalak. Sekilas aku seperti melihat ada yang bergerak cepat di dinding terdekat. Baru kusadari pelita yang berada di dekat jendela sudah mati apinya, jadi cahaya bulan dari luar sana benar-benar melipatgandakan kengerian yang dikeluarkan bayangan itu, karena aku tidak bisa melihat jelas siapa pemilik bayangan itu.
Oh, inikah saatnya aku harus merapal doa pengusir setan?! Tapi, aku tidak hafal! Dan lagi, apakah setan juga bisa mengerti bahasa doaku?! Kalau tidak mengerti, ‘kan, jadinya sia-sia saja!
“Kamu selalu terkejut melihat saya.”
Ya, Tuhan! Ternyata itu gargoyle penyelamatku. Masih dengan ekspresi datar dan kedua matanya yang biru pucat. Kuperhatikan rambutnya yang pirang itu tetap berantakan seperti tadi. Oh, dia mengenakan kemeja cokelat dan celana kain hitam, yang dipadukan dengan jubah abu-abu. Aku menghela napas lega dengan suara yang terdengar agak dramatis, tetapi aku tidak peduli. Aku jatuh terduduk, sementara langkah kaki tergesa menghampiriku. “Apakah ada yang terjadi?”
“Tidak, tidak ada apa-apa.” Aku mengusap wajah. “Aku cuma kaget.”
Ketika aku mengarahkan tatapan pada wajahnya, dia terlihat mengerutkan dahi. Lagi-lagi, matanya menganalisis ekspresi wajahku. Barangkali dia tidak percaya bahwa ada manusia yang gampang takut seperti aku ini. Padahal, toh, hanya ada kami berdua di sini, tidak ada monster itu …, meskipun, bayangan monster yang memakan manusia terlintas kembali di dalam benakku, dan tanpa sadar aku menarik lengan baju milik sosok di hadapanku.
“M-maaf,” cicitku dengan mata yang terasa panas. “Aku takut.”
Dia menjaga jarak bahkan ketika aku berusaha menempel padanya. Sepertinya dia tidak nyaman dengan kontak fisik, kendati dia tidak menepis tanganku. Rupanya beberapa menit setelahnya, aku hanya diam menangis di hadapannya, dengan kepala tertunduk dan kedua tangan mencengkeram jubah yang dikenakannya. Sementara, berbagai pemikiran muncul ke permukaan: seharusnya tadi kuturuti saja saat dia menyuruhku membuka baju, atau setidaknya aku tetap menggunakan obat itu di hadapannya, daripada sok ngide meminjam kamar supaya dia tidak melihatku bertelanjang dada. Aku lupa bahwa aku sedang berada dalam bahaya. Sekarang aku berada di tempat asing, di mana tidak ada siapa pun yang kukenal, dan aku dikelilingi monster-monster yang siap memakanku kapan saja.
Tidak terkecuali monster di hadapanku ini.
.
Perutku keroncongan. Saat aku memeriksa bufet dapur, hanya ada beberapa makanan kaleng yang kedaluwarsa.
“Apakah majikanmu sudah meninggal selama itu?” gumamku pada monster yang dari tadi mengikutiku itu.
“Menurut pengamatan saya terhadap matahari, sudah berlalu enam puluh ribu dua ratus tiga puluh hari sejak kematiannya,” jawabnya. Kenapa dia bisa menjawab sedetail itu? Daya ingatnya pasti kuat. Atau, dia mencatatnya di buku? Itu kalau dia bisa menulis.
“Wow, lama juga, ya.” Secara insting aku merogoh telepon genggam untuk membuka kalkulator. Namun, karena gawai itu sedang kumatikan untuk menghemat daya, akhirnya aku hanya mengira-ngira sambil menatap langit-langit dapur. “Sekitar seratus tahun lebih?”
Aku sudah berusaha menghubungi temanku dan kontak lainnya dengan telepon genggam ini, tetapi ternyata tidak ada sinyal di sini. Akan kucoba lagi besok di luar wastu.
“Jadi, itu terakhir kalinya kamu melihat manusia?” Kusinggung lagi soal itu karena dia sempat membahasnya.
“Benar.”
Untungnya, pria itu—aku tidak tahu harus menyebutnya apa, aku tahu dia laki-laki tapi sudah pasti bukan manusia—dia bersedia membantuku mencari makanan. Atau, lebih tepatnya, dia hanya pergi ke pekarangan belakang wastu dan membawakan sekeranjang kacang tanah. Karena tidak ada pilihan lain, dan aku juga sudah sangat kelaparan, lantas kurebus saja semua kacang itu. Terdapat beberapa perabot kayu yang dipatahkan monster itu (dengan tangan kosong) untuk digunakan sebagai bahan bakar perapian. Perapian yang dimaksud adalah perapian di dapur yang memiliki model batu, sehingga terkesan agak kuno. Pria itu membantuku menyalakan api sementara aku merebus kacang menggunakan panci kuali. Dia bilang hanya ada panci kuali karena majikannya sering menyuruh pelayan memasak dalam jumlah banyak di mana sisa makanannya akan dibawanya pergi bekerja.
Selagi menunggu kacangnya matang, aku memperhatikan sekeliling. Aku meremehkan model rumah yang kukira kental dengan nuansa abad pertengahan ini, karena wastu ini tidak memiliki gaya yang konsisten. Adakalanya aku seperti melihat rumah-rumah yang ditinggali bangsawan di Eropa barat, kemudian ketika menelisik ke dalam, kudapati bahwa arsitekturnya juga mengadaptasi rumah-rumah lama di daerah Asia utara.
“Majikan saya sering berganti-ganti model rumah,” jawabnya ketika aku bertanya soal itu.
“Itu berarti, sering ada tukang yang merenovasi ke sini?”
“Ya. Lebih tepatnya, karena dulu ada banyak pelayan, hampir tidak pernah ada orang asing yang datang kemari. Semuanya dikerjakan sendiri.”
“Apa kamu makan kacangnya dengan direbus juga? Aku pernah coba makan mentah-mentah, dan rasanya menjijikkan.”
“Tidak. Saya memiliki indera perasa yang berbeda dari manusia. Lebih efisien jika langsung saya konsumsi.”
Rasanya sangat hambar, tetapi lebih baik daripada mentah—atau tidak ada makanan sama sekali. Karena aku makan di samping perapian, kurasa begini saja sudah cukup. Kacang tanah tidak akan membuatku kenyang, tetapi daripada perut kosong? Kutawari dia kacang rebus itu dan dia menolak. Kuangkat bahu sebelum terus menghabiskannya seorang diri. Sementara itu, dia hanya diam mengawasiku. Aku menatap wajahnya, memperhatikan bahwa dia nyaris terlihat seperti manusia normal pada momen itu, sebelum kulitnya, yang tetap pucat meskipun disinari pelita berwarna kekuningan itu, mengingatkanku fakta sebaliknya. Benar juga, ya. Di sini, aku adalah seorang penyusup. Aku diperbolehkan duduk tenang di kursi makan ini karena aku sedang terluka. Katanya, seandainya masih hidup, majikannya tidak akan mengizinkan aku pergi dalam keadaan begitu.
“Namaku Yoshina.” Aku meminggirkan mangkuk yang isinya sudah kutandaskan, kemudian tersenyum ke arahnya yang duduk di seberang meja. “Namamu siapa? Maksudku, supaya aku tahu harus memanggilmu apa kalau-kalau sesuatu terjadi.”
“Sesuatu terjadi ….” Dia tepekur. “Seperti di lantai dua tadi.”
“Betul.” Aku meringis. Untung dia tidak mempertanyakan saat kujelaskan bahwa itu hanya aku yang ketakutan sehingga mengira dia adalah monster pemakan manusia tadi.
Dia memperhatikanku lagi. Pada jarak segini, dia tampak sangat tampan. Terlalu tampan untuk dikatakan sebagai manusia normal. Penciptanya pasti pecinta keindahan dan kesempurnaan, karena penjaga rumahnya saja setampan ini. Apakah tidak sopan kalau aku menanyakan dia ini sebenarnya apa? Aku hanya ingin tahu.
“Federico.”
Mataku berkedip pelan, mengarah lurus kepadanya. Barusan pria itu mengucapkan sebuah nama. Namanya Federico. Nama yang sangat manusia. Aku bertaruh itu diberikan oleh penciptanya karena dia ingin pria ini tetap bisa dekat dengan manusia meskipun fisiknya tidak berupa darah dan daging. Sungguh hal yang ganjil, sekaligus menakjubkan, betapa obsesi sanggup menciptakan banyak hal luar biasa.
Senyum pun mengembang di wajahku. “Salam kenal, ya, Federico. Mohon bantuannya.”
.
Besoknya aku sudah mau pergi dari wastu sebelum badai melanda. Aku tidak terlalu bisa tidur, jadi aku hanya berbaring di kamar yang kutempati sebelumnya sambil memandangi langit-langit yang berwarna putih polos. Pagi harinya terasa sejuk dan menyegarkan. Sayangnya aku tidak punya waktu untuk menikmatinya lama-lama. Aku merutuki keputusanku untuk datang kemari pada musim gugur, karena hujannya sangat dingin. Kupinjam selimut dari Federico dengan alasan: “Aku akan mati kedinginan kalau tidak duduk di depan perapian sambil berselimut.” Dia bilang aku melebih-lebihkan, tetapi setelah kujawab bahwa aku ini gampang sakit, dia bungkam dan mengabulkan permintaanku.
Pada mulanya, rencana kami (ya, kalian tidak salah lihat, dia bersedia membantuku keluar dari daerah terkutuk ini), baiklah, rencana kami adalah pertama-tama aku akan mencoba mencari sinyal di sekitar wastu. Seandainya tetap tidak ada—berhubung Federico bilang dia sudah lama tidak melihat manusia di sekitar sini, aku akan mencoba berjalan lebih jauh dari wastu. Barangkali, mencari jalan raya. Aku bisa terus mencari sinyal telepon di sana, atau sekalian meminta bantuan dari penduduk setempat. Daerah sini hanya akan berbahaya pada malam hari, jadi keadaannya cenderung aman pada siang hari.
“Masalahnya, aku tidak bisa keluar kalau hujannya deras begini,” gumamku. “Mungkin majikanmu dulu punya semacam jas hujan atau payung?”
Federico mengalihkan tatapan ke arah lain. Aku mulai menganggap itu sebagai kebiasaannya ketika sedang mengingat-ingat. “Ada jas hujan di gudang, tetapi tetap tidak efektif untuk digunakan di bawah hujan deras.”
“Lalu, bagaimana caranya majikanmu bepergian kalau harinya sedang hujan? Jangan bilang dia berhujan-hujan.”
“Dia tidak pergi. Sama seperti yang kamu lakukan sekarang.”
Oh, baiklah. Aku bersandar lesu pada kursi tamu yang kududuki. Namun, karena sandarannya sangat keras, aku semakin mengeluh dan akhirnya kuputuskan untuk selonjoran di lantai.
“Aku mau pulang,” bisikku. “Aku mau mencari temanku.”
Dia bukan benar-benar temanku. Kami hanya kebetulan bertemu di stasiun dan dia bilang dia butuh teman untuk pergi ke tempat wisata. Karena aku juga datang ke negara ini sendirian, jadi aku rasa tidak ada masalah jika menyanggupi permintaannya.
Ya, pelajaran yang kita terima hari ini, adalah bahwa jangan bepergian ke mana-mana sendirian. Seandainya aku di rumah saja ….
“Kawanan gargoyle itu mengintai di sekitar wastu ini.”
Suara Federico yang terdengar lugas dan datar itu sedikit membuatku tenang di cuaca yang suram ini. “Apa karena ada aku di sini?”
Dia tidak langsung menjawab dan hanya meletakkan telunjuk yang ditekuk di bawah hidung. Oh, jadi ini kebiasaannya saat sedang berpikir keras. “Bukan.”
Atau, kebiasaannya ketika merasa aku tidak bisa dipercaya.
“Habisnya, aku yakin mereka pasti hanya mengincar daging manusia. Kalau bukan karena di sini ada manusia, apa lagi alasannya?”
“Mereka memiliki hubungan dengan wastu ini.”
“Oh, apakah mereka saudaramu?” Aku tidak akan heran kalau itu alasannya. Meski begitu, ada beberapa hal ganjil mengenai pernyataannya ini. “Kalau mereka makan manusia, berarti kamu begitu juga, dong?”
Ada cemberut pada wajah tampan Federico. Rupanya dia bisa melakukannya juga. “Sudah saya katakan, saya hanya mengonsumsi kacang-kacangan.”
Ya Tuhan, mengapa monster ini tidak mau mengatakan apa pun? Aku mulai merasa kesulitan bernapas. “Sebaiknya aku mencoba menerobos hujan.”
“Yoshina, di luar berbahaya.”
“Hmm, kurasa tidak ada bedanya masuk ke kandang buaya daripada terjebak di dalam sarang singa.”
“Tidak ada kandang buaya maupun sarang singa di sini.”
Kuabaikan sahutannya meskipun ada perasaan geli dan kesal yang menggelitik di dalam dadaku. Sepertinya orang ini tidak terbiasa diberikan jawaban kiasan. Meski demikian, aku tetap berjalan menuju pintu. Dia tidak menghentikanku, bahkan ketika aku sudah memegang gagang pintu raksasa itu. Pintu ganda ini terasa agak berat ketika kucoba untuk menariknya. Aku pasti panik sekali tadi malam sehingga waktu itu bisa membukanya dengan gampang. Benda menyebalkan ini tidak dikunci, ‘kan? Oh, ya. Tidak dikunci. Aroma tanah yang bercampur dengan air hujan pun menyeruak masuk ke dalam hidung. Mengapa baunya berbeda dengan kampung halamanku? Apakah karena ini adalah tanah kematian? Aku tidak menutup pintu itu, tetapi lebih karena aku malas berurusan dengan benda super berat itu lagi. Bukannya pria itu sendiri yang bilang bahwa lingkungan sini aman pada siang hari? Kuperhatikan matahari masih ada di atas sana, tersembunyi di balik tumpukan awan mendung yang bersedih.
Menerobos hujan, aku berjalan mengikuti jalan setapak usang yang tergenang air. Jalan ini ditumbuhi rerumputan yang tinggi, di bawah rimbun pepohonan yang tidak kukenal namanya. Aku sering melihat pemandangan seperti ini di film-film klasik Inggris, di mana terdapat pemandangan hijau kekuningan dengan pohon-pohon dan semak-semak yang tumbuh di samping jalan, lalu di seberangnya ada ilalang yang terhampar luas, membentuk semacam lautan yang dipagari kayu keropos di sekelilingnya. Sudah berapa lama, ya, tempat ini ditinggalkan manusia? Apakah selama ini hanya dihuni oleh monster-monster bersayap raksasa itu?
Gargoyle …. Federico juga gargoyle. Aku tidak salah mengenali sayap yang dimilikinya dengan sayap monster pemakan manusia itu. Mereka serupa, sama malah. Seringkali dia berjaga jarak denganku, membuatku berpikir apakah mungkin itu karena dia menahan diri untuk tidak menyerangku? Karena apa? Aku sudah mencoba memusatkan perhatian pada pemikiran tentang Federico dan asal-usulnya yang tidak jelas, tetapi hawa dingin yang menusuk-nusuk tulangku sama sekali sulit diabaikan. Ya Tuhan, kalau bukan karena dimakan hidup-hidup oleh monster, barangkali kedinginan benar-benar akan menjadi penyebab matinya aku di sini.
Akhirnya kutemukan juga sebuah tempat naungan berupa pohon besar. Apakah ini pohon beringin? Meski tidak begitu mengetahui jenis pohon ini, karena tanah di bawahnya kering, jadi kuasumsikan cukup aman berlindung di bawahnya. Begitu menemukan titik yang tepat, sambil menggigil kedinginan, aku menepuk-nepuk seluruh tubuhku dan menyalakan telepon genggam. Kubiarkan gigiku bergemeletuk tak karuan dengan suaranya yang teredam oleh hujan deras di luar sana. Tanpa mempedulikan layar telepon yang basah kuyup, aku mencoba mengusapkan jariku yang paling sedikit basahnya di atas permukaannya.
Tetap tidak ada sinyal.
Sepertinya aku memang harus mencari jalan raya atau rumah penduduk untuk mencari bantuan.
Perlahan, ada aroma lain yang terdeteksi oleh hidung. Ini bau busuk yang dahsyat, mengingatkanku pada bangkai tikus, meski bau ini jauh lebih mengerikan. Aku mendapat firasat buruk bahwa terjadi sesuatu di tempat ini.
Oh, benar saja, aku melihat ada sesuatu yang menempel pada batang pohon itu. Aku baru menyadarinya sekarang setelah berhasil menenangkan diri dari guyuran hujan. Rasa penasaran mendorongku untuk berjalan maju semakin ke dalam naungan daun pohon beringin ini. Ya Tuhan, Ya Tuhan, itu mayat manusia. Sudah mulai membusuk. Dan, aku mengenali rambut dan pakaian yang dikenakannya. Itu teman yang bepergian bersamaku ke tempat wisata kemarin.
.
Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke wastu itu. Meskipun aku tidak yakin aku ingat dengan jalannya, aku tetap harus kembali. Benar, aku harus kembali. Aku tidak peduli Federico itu gargoyle pemakan manusia atau bukan, tetapi aku harus kembali kepadanya.
Sebenarnya apa yang sudah kulakukan? Mengapa aku berada di sini? Untuk apa aku sok ngide travelling sendirian ke negara asing, hanya dengan bermodalkan uang dan telepon genggam yang tidak berguna di momen ini? Aku harus mencari jalan pulang. Ada monster-monster mengerikan yang saat ini sedang berkeliaran mencari mangsa, dan bersembunyi untuk menerkam mangsa yang lengah. Akulah mangsa yang lengah. Barangkali sebentar lagi mereka akan menyerbu ke arahku, mencabik-cabik tubuhku seperti yang mereka lakukan pada manusia malang di wastu tadi malam.
Hujan masih turun dengan deras. Ini badai. Bodoh sekali aku, keras kepala. Aku benar-benar kehilangan arah. Aku tidak kenal pepohonan ini. Mana padang ilalang kekuningan itu? Padang itu dekat dengan wastu, jadi bisa dijadikan sebagai patokan untuk kembali ke sana. Oh, benda apakah yang terbang itu? Apakah itu pesawat? Atau ….
Hawa dingin semakin menjadi-jadi menguasai tubuhku ketika aku sadar bahwa itu bukan benda buatan manusia. Itu burung. Atau, sesuatu yang mirip burung. Aku bersembunyi di balik pohon terdekat, dengan panik mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk memeriksa. Apakah aku aman di sini? Rupanya luka pada bahu kembali terbuka disebabkan oleh tubuhku tidak henti-hentinya menggigil. Sakit sekali. Kesadaranku mulai menurun, membuatku sulit berkonsentrasi. Aku menempelkan tubuh pada batang pohon yang keras dan kasar, berharap bisa bersatu saja dengannya. Aku tidak henti-hentinya berdoa agar apa pun itu tidak tahu aku ada di sini. Samar-samar di tengah guyuran hujan, kutangkap suara kibas sayap, yang mustahil bisa kulakukan seandainya tidak sedang terpacu adrenalin seperti sekarang ini. Lalu, dia berjalan, suaranya mendekat. Apakah dia mencium bau darah dari lukaku?
Di saat yang sama, ada kilat putih yang menyambar dari sudut mataku, diiringi suara guntur yang sangat nyaring. Ada pohon tumbang, mengguncangkan bumi di sekitar. Aku menutup kedua bibir rapat-rapat ketika terdengar sebuah pekik yang terasa meremas jantung, mungkin dari sesuatu yang mirip burung itu. Ada kepak sayap lagi, yang lambat laun menjadi pelan seiring berjalannya waktu.
Ingatkan aku untuk tidak pernah lagi berjalan-jalan di tengah badai yang menerjang.
Untungnya padang ilalang itu tidak jauh dari tempatku hampir disambar petir tadi, jadi tidak butuh lama untuk menemukan kembali wastu itu. Aku sudah terbiasa berdiri di bawah hujan deras sehingga kusempatkan untuk memperhatikan penampilan depan wastu itu. Dihiasi latar belakang langit yang gelap, bangunan ini tampak sangat suram. Warna yang mendominasi adalah hitam dan cokelat, persis seperti rumah kediaman bernuansa gotik. Walau begitu, aku mengenali pintu ganda besar itu, yang baru kubuka tadi pagi. Apakah aku hanya pergi sebentar? Cuaca hujan ini membuatku buta waktu.
Tidak ada tanda-tanda keberadaan Federico dari luar rumah. Bagaimana, ya, kira-kira reaksinya melihatku pulang dengan keadaan menyedihkan seperti ini? Menghentikan pemikiran-pemikiran muram itu, aku lalu berjalan menghampiri teras wastu yang bersih, tampaknya sering dibersihkan Federico. Kuperhatikan bagian depan pintu dengan berhati-hati, dan setelah memastikan bahwa lingkaran besi yang menggantung di permukaan pintu bukan hiasan kelelawar seperti yang pernah kulihat di kartun, yang bisa berubah menjadi hidup jika didekati, aku pun meraih besi itu dengan tangan gemetar untuk mengetuk pintu. Suara mengkeret yang menyayat hati pun mengudara, membuatku setengah kepikiran apakah suaranya yang menggelegar itu akan mengundang monster mengerikan untuk datang kemari.
Sial, kenapa, sih, kepalaku ini tidak bosan-bosannya membayangkan hal-hal buruk di situasi mengerikan seperti sekarang? Ada suara kepakan sayap lagi, jaraknya sangat dekat. Aku mulai mengetuk dengan panik, sambil kupanggil nama Federico meskipun aku tidak yakin suaraku bisa menyamai hujan badai yang mendera. Ah, apakah kali ini dia akan menyambutku? Bukannya tadi malam aku sudah datang sebagai penyusup, sehingga dia tidak punya alasan untuk menerima kedatanganku kali ini? Dia adalah penjaga, dari apa pun dan siapa pun yang tidak memiliki kepentingan terhadap wastu ini.
Di luar dugaan, pintu dibuka. Baru ketika aku melihat ekspresi datar pada wajah Federico, yang sudah mulai terasa akrab bagiku, aku bisa menghela napas lega. Mataku yang terasa berat karena dari tadi sibuk kupakai membelalak di tengah terpaan hujan deras pun menutup dan aku jatuh terduduk.
.
“Kamu tidak mendengarkan.”
Aku memekik ketika dia mengulangi jahitan pada luka di bahuku yang terbuka itu. Sudah sekitar lima menit dia mengomeliku karena aku tidak bilang luka itu terlalu lebar sehingga semestinya tadi malam langsung dijahit. Ya, mana kutahu kalau lukanya memang separah itu? Alih-alih menjawab, aku hanya memberengut dan membuang muka.
“Terlebih, kamu sudah bertindak sembrono dengan bepergian keluar sendirian.”
Diam-diam kucuri lirik pada wajahnya. Kedua alisnya tertekuk, matanya memiliki sorot tajam yang mengarah pada pekerjaan menjahitnya. Bibirnya memberengut. Rambut pirang cerahnya masih bersih seperti terakhir kali kulihat. Kalau dia sadar bahwa dia sedang kuperhatikan, dia tidak memperlihatkannya. Dia sigap menyelesaikan jahitan dan kemudian bilang bahwa luka itu hanya butuh empat jahitan.
“Aku sepertinya melihat monster itu lagi di luar tadi,” gumamku.
“Gargoyle tidak aktif mencari mangsa di siang hari. Barangkali dia tertarik karena aroma darah kamu.”
“Sebenarnya dia itu vampir atau gargoyle, sih …?”
Dia membalurkan obat tadi malam pada luka yang sudah dijahit. Kali ini aku tidak menolak ketika dia menyuruhku membuka baju di hadapannya, berhubung aku juga tidak yakin dia akan bertindak macam-macam karena dia sendiri bukan manusia. Dia hanya melihat sekilas pada tubuh bagian atasku yang telanjang, mungkin untuk memeriksa siapa tahu ada luka lain yang tidak kuberitahukan kepadanya. Kami duduk di depan perapian, dengan tubuhku yang banjir keringat karena menahan rasa sakit dijahit (sial, Federico sepertinya tidak kenal dengan yang namanya obat bius, atau barangkali ini karena dia tidak punya persediaan obat bius sehingga akhirnya memutuskan untuk melakukan operasi dengan peralatan ala kadarnya). Sementara, di luar sana hujan terus turun.
“Seharusnya kamu mendengarkan saya.”
“Ya, ya. Kamu sudah bilang itu dari tadi.” Aku menurunkan kaki dari meja. Aku mulai bertanya-tanya kenapa aku masih hidup setelah semua yang kualami sejak malam tadi. “Maaf merepotkan.”
Dia tidak menyahut. Sekilas kulihat tangannya yang berwarna putih pucat itu berlumuran darah, membuatku tidak bisa menahan lagi rasa penasaranku. “Kamu gargoyle, ‘kan? Kenapa kamu tidak seperti gargoyle di luar itu? Ya, aku tahu kamu cuma makan kacang-kacangan, tapi apa yang membedakan kamu dengan mereka?”
Lagi-lagi dia bergeming saja, sembari membersihkan tangannya dengan air baskom yang digunakan untuk membersihkan lukaku. Tidak habis pikir aku jadinya dengan sosok ini, yang sejak tadi malam sudah terus-terusan menyelamatkan nyawaku ini, padahal katanya dia hanya penjaga wastu. Aku tidak akan mempermasalahkannya seandainya dia manusia.
“Kamu memberikan terlalu banyak pertanyaan.” Apa-apaan itu? Begitu saja sahutannya?!
“Ya, maaf, deh. Aku, ‘kan, mau lebih mengenal monster yang sudah …,” aku merasa tidak seharusnya aku menyebutnya monster secara terang-terangan, tetapi sudah pasti ucapanku tidak lolos dari pendengarannya, jadi kuhabiskan saja kalimatku, “yang sudah menolongku ….”
Kedua mata biru pucatnya menilik padaku. Setiap kali dia melakukannya, seolah ada percikan api yang menjalar di tulang sumsumku, membakar habis. Aku tentu saja tidak mau terlihat mudah diperdaya apalagi oleh sosok yang bukan manusia seperti dirinya, jadi aku balas menatapnya. Pada titik ini, aku sudah tidak peduli lagi mau dia tampan atau buruk rupa sekali pun. Jika dia terbukti berbahaya, aku akan melawan. Meski demikian, kuakui seandainya aku sudah tidak percaya dengannya sejak awal, aku tidak akan sudi repot-repot kembali ke wastu ini, karena sudah tahu betul bahwa Federico si gargoyle yang akan kutemui di sini.
Kuputuskan untuk mengikuti intuisi bahwa apa pun yang terjadi, aku akan aman bersamanya. Aku hanya perlu tahu apa yang sedang kuhadapi saat ini, sehingga aku tahu apa yang harus kulakukan.
“Saya khawatir saya tidak tahu cara menjelaskannya dengan benar,” ucap Federico akhirnya. “Barangkali kamu perlu melihatnya sendiri.”
Melihat apa? Pertanyaan itu sudah hendak kulontarkan kepadanya, tetapi aku hanya mengangguk dan mengikuti langkahnya. Dia membawaku melalui lorong menuju dapur, tetapi kali ini dia berbelok menuju sebuah ruangan bercat putih di mana terdapat pintu cokelat tua di tengah dindingnya.
“Coba kutebak, kita ke bawah tanah?” tanyaku, yang hanya dijawab bisu oleh Federico. “Uhmm, aku jadi banyak bicara kalau lagi gelisah, hehe. Maaf.”
Benar saja, kami selanjutnya menuruni tangga. Tangga itu sendiri, yang bertolak belakang dengan lantai ruangan tadi yang terdiri dari papan-papan kayu mahoni, terbuat dari batu-batu granit yang dipahat sedemikian rupa, sehingga langkah kaki kami hampir tidak terdengar walaupun kami mengenakan sepatu (Federico mengenakan sepatu bots, sedangkan aku flat shoes yang kelihatan jelek sekali gara-gara kubawa ke tempat ini). Apalagi karena langit-langit lorongnya sangat rendah, Federico harus menunduk sedikit agar tidak terbentur bebatuan di atas kepala kami. Ada bau apak yang samar, tetapi tidak kentara. Untungnya, atau sialnya, penerangan di tempat ini sama dengan penerangan yang ada di lantai dua, yaitu pelita-pelita yang digantung di dinding. Bayangan-bayangan kami yang panjang ketika berada agak jauh dari pelita terdekat memberikan kesan mistis, di mana selalu ada kemungkinan bahwa kami tidak sendirian di tempat ini.
Ohh, kenapa aku mau-maunya diajak ke tempat seperti iniiii ….
Kami menemui satu pintu lagi yang sama seperti pintu masuk, dan aku tercekat karena apa yang kulihat di baliknya. Pintu yang tidak menimbulkan bunyi apa pun ketika dibuka itu membawaku ke sebuah ruangan yang dipenuhi botol-botol kosong dan peti-peti yang menyerupai peti harta karun. Yang membuatku merinding adalah keberadaan sebuah peti mati berukuran sedang di salah satu sudut ruangan. Peti itu tertutup rapat.
Sial, aku tidak suka tempat ini. Suasananya yang hening semakin mengerikan seiring berjalannya waktu. Meski begitu, aku sudah memutuskan untuk mempercayai pria ini. Akan kutanggung apa pun risiko yang menanti.
“Apakah ada isinya?” tunjukku pada peti mati itu.
Aku baru bisa menghela napas lega setelah Federico menjawab, “Tidak ada.”
“Bukan suatu kebetulan kalau aku yang akan kamu masukkan ke dalam situ, ‘kan?”
Aku sebenarnya berusaha bercanda karena, seperti yang kukatakan kepadanya tadi, sekarang aku sedang gelisah. Namun, dia tidak mengerti maksudku dan membalas dengan datar, “Untuk apa saya masukkan kamu ke dalam sana?”
“Yah, siapa tahu, ‘kan ….”
Dia mulai membuka peti di samping meja yang dipenuhi botol-botol. “Dulu majikan saya memang menggunakan peti itu untuk tidur.”
“Dia vampir?”
“Bukan. Dia manusia tulen. Dia hanya orang yang agak eksentrik.”
Kalau begitu, ruangan yang kami tempati saat ini adalah kamar tidur majikannya. Aku merasa agak tidak pantas berada di tempat yang pasti dianggapnya sangat berharga ini, tetapi sesuatu yang ingin Federico tunjukkan kepadaku mungkin hanya ada di kamar ini. Dia kemudian mengeluarkan sepucuk surat dan hendak merentangkannya. Aku refleks membersihkan permukaan meja dengan tanganku sendiri, tetapi rupanya Federico adalah orang yang tidak sabaran, jadi tanpa mempedulikan tanganku, dia segera membentangkannya di atas meja. Untungnya, pucuk surat itu tidak besar. Tulisan tangan yang acak-acakan pun segera menarik perhatianku.
“Kamu bisa baca tulisan ini?” tanyaku.
Federico hanya bergeming sambil menatapku. Aku mengangkat bahu saat aku mengerti bahwa dia ingin aku yang membacanya. Sekilas pandang pada surat itu membuatku bertanya-tanya apakah sebenarnya aku salah baca atau aku hanya berhalusinasi karena terlalu lama berada di tempat ini (padahal mungkin baru lima menit waktu yang berlalu), sebab tulisannya terlihat seperti berubah. Apakah ini sihir? Setelah aku mengamatinya dengan lebih saksama, ternyata surat itu dipenuhi tulisan tangan yang indah. Biar kubacakan apa bunyi tulisannya:
“xx Oktober 19xx
Teruntuk jiwa yang tenang dan pemberani, yang kuyakini tersesat kemari di luar kehendaknya sendiri. Surat ini pastinya tiba di tanganmu karena diantarkan langsung oleh penjagaku yang setia. Oh, menurutmu, apakah penjagaku ini berparas tampan? Aku memang membangkitkannya dari tanah liat khusus, agar ia murni luar-dalam. Katakan, apa kau sudah mencoba berbicara dengannya? Namanya Federico. Kurasa kau harus segera membiasakan diri dengan kehadirannya. Ia gargoyle jinak yang kupelihara dan kubesarkan sendiri di dalam wastu kuno ini, jadi seharusnya ia berbeda dari monster-monster di luar sana. Kusampaikan dukacita yang tulus atas apa yang sudah terjadi kepadamu dalam perjalanan kemari. Aku tahu kau pasti sudah disambut oleh banyak monster berbahaya, yang mana menjadi alasan mengapa wilayah ini sepi akan penduduk. Ini adalah salah satu dosaku, karena aku mereka ada. Cepat atau lambat, mereka akan musnah dengan sendirinya, meski membutuhkan waktu yang amat lama. Sebagai permohonan maaf (dan hadiah, jika kau anggap dirimu optimis), izinkan aku menganugerahimu monster kesayanganku ini, berhubung aku pun pasti sudah terlalu sibuk menyeruput teh di alam baka untuk mengawasinya lagi. Sebagian besar ilmu yang kupunya sudah kulimpahkan kepadanya, jadi jangan sungkan bertanya tentang apa pun kepadanya. Ia jinak dan akan menjagamu dengan segenap jiwa raganya, aku bersumpah.
Sesungguhnya Federico mempunyai saudara kembar, tetapi tiga belas tahun yang lalu (sejak hari aku menulis surat ini) ia kukirim ke daratan dingin yang sangat jauh. Kau sudah lihat, bukan, Federico pasti kesepian hidup seorang diri di wastu bobrok ini? Mintalah ia agar ikut denganmu. Lagi pula, aku tidak sudi karya seniku yang luar biasa seperti dirinya berakhir sia-sia di tanah terkutuk ini. Rawatlah ia baik-baik. Kuharap kau cukup menyukai monster kuno dan dapat menerimanya dengan hangat. Apa pun yang dikatakannya tentang makanannya sehari-hari, kau bisa mempercayainya.
P.S: Kejutan lainnya dariku. Coba minta dia rapal mantra “facti sunt vincuntur”. Sudah teruji dan tidak akan melukai kalian.
Salam hormat,
Baron xxxxxxxxxx dari N -shire”
.
Ketika badai berhenti, bulan purnama sudah menampakkan diri di angkasa malam yang sunyi. Aku makan kacang tanah rebus lagi, setengah enggan karena makanan itu tidak membuatku kenyang. Aku mulai merasa mual, tetapi itu bisa diatasi berkat obat-obatan herbal ajaib Federico (aku baru sadar tidak ada seekor pun hewan yang berkeliaran selama aku berada di sini). Situasi yang tenang dan kondusif seperti saat ini membuatku menyadari banyak hal yang terlewatkan olehku di hari sebelumnya. Mengesampingkan gaya bangunan yang klasik meski sedikit menyeramkan ini, aku mendapati bahwa lingkungan tempat ini tidak berbeda jauh dari tempat asalku.
“Tidak, tempat ini berbeda. Apakah saya harus mengingatkan kamu bahwa ada banyak gargoyle yang berkeliaran di luar sana pada waktu ini?”
Aku menatap monster itu, yang senantiasa berdiri di sampingku itu, dengan menyipitkan mata. “Aku lagi menghibur diri sendiri, tahu?”
Tidak banyak yang kami lakukan di dalam wastu. Karena aku masih ketakutan jika memikirkan kejadian di lantai 2 kemarin, jadi aku menghabiskan sebagian besar waktu di ruang tengah, di mana Federico sendiri seringkali bepergian ke sana-kemari meski tetap di lingkungan wastu; aku malah sempat mendapatinya sedang terbang di sisi bangunan, mungkin memeriksa sesuatu di sana. Aneh sekali, karena tak pernah terbayangkan di dalam mimpi terliar sekalipun bahwa aku akan berteman dan berinteraksi dengan monster seperti ini.
“Kamu harus pergi dari sini secepatnya,” ucapnya tiba-tiba ketika sudah berada di sampingku. “Majikan saya mengatakan bahwa wilayah ini bukan untuk manusia. Tidak pernah ada yang diperbolehkan memasuki wilayah ini.”
Aku mengangguk. “Aku tahu, kok. Federico, kamu ikut aku, ya?”
Dia lalu bergeming dengan sorot mata mengarah padaku. Dia tidak menampakkan ekspresi terkejut sama sekali—tidak ada kedua alis terangkat atau mata melebar. Namun, aku tahu dia tidak menduganya karena dia tidak langsung menjawabku. Oleh karenanya, aku melanjutkan, “Uhm, kamu tidak baca surat itu?”
Perlahan, matanya beralih ke lantai. “Surat itu hanya bisa dibaca oleh penerima yang sah.”
Oh.
“Saya hanya dipesani oleh majikan saya, seratus enam puluh lima tahun yang lalu, bahwa saya harus menyerahkan surat itu kepada manusia pertama yang saya jumpai setelah kematiannya.”
“Dan, manusia itu adalah aku?”
“Benar.”
Kesadaran itu membuatku sesak napas. Kupandangi dengan takjub sosok yang kini berdiri di hadapanku itu, yang balas menatapku dengan teguh dan tak tergoyahkan. Apa sebenarnya yang terjadi? Monster ini berwujud manusia dengan sayap besar yang menyerupai gargoyle, yang merupakan sesuatu yang tidak dapat kuabaikan begitu saja. Namun, pada momen itu, aku sudah tidak mempedulikannya. Seolah tersihir, aku mendekati Federico dengan langkah ringan, lalu menarik lengan jubah abu-abunya.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanyanya.
Aku menjawabnya setengah meracau, “Aku mau melihat kamu.”
“Kamu sudah melihat saya dari tadi.”
“Bukan. Kamu ….” Berbeda dari kontak fisik pertama kami di malam sebelumnya, kali ini dia tidak menghindar atau menjaga jarak. Sekarang aku memegangi tangannya yang begitu kokoh namun tidak berdaya di bawah kendaliku. Aku tergoda untuk menyentuh pipinya. Aku ingin bersikap lebih jauh lagi, tetapi aku teringat dengan catatan di surat itu. “Federico, coba kamu rapal facti sunt …, uh, apa, ya ….”
Aku cepat merogoh saku celanaku yang kedodoran. Sial, semua baju di wastu ini terlalu besar untuk badanku! “Facti sunt vincuntur.”
Dalam sepersekian detik, ada kilat di dalam matanya. Dengan perlahan dan mantap, dia mengulangi ucapanku. Suaranya begitu dalam dan memikat, sampai aku nyaris berpikir jangan-jangan dia yang berusaha mengguna-gunai aku. Dia kemudian melepaskan diri dan berlutut di depanku, yang membuatku refleks panik dan menyuruhnya berdiri kembali. Aku tidak melihatnya sebagai sosok yang berderajat di bawahku, tidak peduli dia monster atau apa pun itu, jadi aku tidak mau dia melakukannya kepadaku.
“Kamu percaya denganku begitu saja?” ucapku menyelidik. “Kamu tidak takut aku sihir?”
“Kamu tidak bisa melakukan sihir,” jawabnya lugas. “Dan, saya selalu memiliki pilihan untuk mengabaikan pesan majikan saya. Namun, saya tidak melihat adanya alasan untuk itu. Kenyataannya, saya tidak merasakan adanya ikatan sihir dengan wastu ini.”
“Jadi, ngapain kamu menjaga wastu ini? Selama seratus … enam tahun lebih pula?!”
Alih-alih menjawabku, dia berjalan menghampiri jendela besar yang berada di sisi lain ruang tengah. “Badai telah berhenti. Namun, kemungkinan penyerbuan sangat tinggi. Saya sarankan kita pergi pada pagi hari.”
Oh, Tuhan. Dia bersedia pergi bersamaku. “Uhmm, aku mulai merasa perkembangan ini terlalu cepat ….”
Terlalu cepat dan terlalu lama. Rasanya seperti sudah bertahun-tahun aku tinggal di wastu ini, padahal baru malam kemarin.
“Jika yang kamu maksud adalah perkembangan konflik yang ada, yang mana dimulai ketika kamu menyelinap masuk ke dalam wastu, lalu kamu melarikan diri pada pagi harinya, dan kembali pada sore hari tadi, maka saya setuju dengan pernyataan itu.”
“Apa kamu ada kesibukan setelah ini, Federico? Aku mau lihat-lihat—”
Suara beling memotong kalimatku. Di momen yang sangat singkat itu, aku teringat saat aku merangsek masuk ke tempat ini untuk pertama kalinya, yaitu melalui pintu depan yang kubuka paksa, yang mana setelahnya terjadi adegan yang membuka awal cerita ini. Aku mengeluarkan pekikan kecil ketika jendela menunjukkan mulut raksasa penuh gigi tajam yang menempel pada kacanya.
Bayangkan seandainya kaca itu tidak cukup kuat untuk menahan beban monster itu.
Aku spontan berdiri di belakang Federico.
“Dia mencium aroma tubuh kamu. Mereka menyerang. Saya harus melumpuhkan mereka.”
“M-melumpuhkan bagaimana—”
Belum sempat aku selesai berbicara, Federico sudah berlari menuju pintu. Dia menutupnya tepat saat aku ingin menyusulnya, secara tidak langsung memberitahuku bahwa dia ingin aku berlindung di dalam saja. Aku bukan orang yang punya kecenderungan bunuh diri, jadi aku senang tidak perlu terlibat perkelahian begitu. Lagi pula, bukannya dia bilang aku yang diincar?
Melihat ke jendela saja aku tidak berani, makanya aku memutuskan untuk mencari sudut tersembunyi di ruang tengah. Aku menemukannya di samping lemari perabotan yang memiliki celah kosong dengan dinding beton yang bisa kumasuki. Di tengah malam buta begini, di suasana yang hening, rentetan suara pekikan mengerikan itu seolah mengeluarkan gema yang bersahut-sahutan. Seperti kata Federico, suara itu ada banyak, berarti monsternya ada banyak. Kenapa bisa ada sebanyak itu yang menyerang kemari?!
Cuma gara-gara aku?
Aku sempat mencari-cari mana suara Federico di antara semua suara keributan yang ada, tetapi yang bisa kudengar hanya pekikan khas kelelawar, teriakan seperti hyena, cabikan, dan ledakan. Apakah Federico bahkan mengeluarkan suara saat berkelahi begitu? Aku tahu tingkahku ini terdengar konyol karena sekarang aku sedang berada dalam bahaya; aku hanya sedang menghibur diri.
Perkelahian itu tidak berlangsung lama, dan aku menarik napas ketika pintu dibuka kembali oleh Federico. Sekujur tubuhnya, yang terbalut jubah abu-abu, penuh lumpur tanah dan cairan hitam yang tampak menjijikkan. Sudah pasti itu bukan darahnya, karena dia terbuat dari tanah liat, … ‘kan?
Meski begitu, aku mengabaikannya dan tetap berlari menghampiri pria itu.
“Kamu … tidak apa-apa? Mereka …, apa ada yang bisa kulakukan?” tanyaku gagap. Kulihat rambut pirangnya kotor. Aku refleks membersihkan rambutnya dan dia tidak melawan.
“Saya tidak apa-apa.” Wajah datarnya benar-benar terlihat biasa saja, tetapi matanya menatap lurus kepadaku. “Mereka yang menyerang sudah saya lumpuhkan, tetapi saya khawatir akan ada serangan balasan. Perubahan rencana: kita harus pergi sekarang.”
“T-tapi, bagaimana denganmu?”
“Jangan khawatir. Saya akan ikut pergi dari sini dan memprioritaskan keselamatan kamu hingga keluar dari wilayah ini.”
.
Kami memutuskan untuk berlari di tanah saja karena akan sangat mencolok jika kami pergi melalui udara. Apalagi, sebentar lagi pagi menyingsing. Siapa pun pasti akan ketakutan melihat sayap Federico yang besar itu. Di tengah pelarian kami, tiba-tiba sebuah pikiran mencuat.
“Tahu, tidak, Federico, makhluk sepertimu …, tidak lazim berada di masyarakat tempat asalku,” aku mengatur napas sambil tergopoh-gopoh menyusul langkahnya, “aku …, aku benar-benar mau membawamu bersamaku, tetapi … apa ada cara lain …?”
Cepat sekali Federico ini berjalan! Untungnya, dia berhenti untuk memikirkan jawaban atas pertanyaanku, dengan kepalan tangannya menempel pada bibirnya, yang mana menjadi kebiasaannya ketika sedang berpikir keras. “Saya mengetahui satu mantra yang barangkali sesuai untuk itu.”
Kami berjalan kembali sebentar sampai ke suatu titik di belakang pepohonan rindang yang terawat baik, kemungkinan besar menandakan bahwa kami sudah dekat dengan peradaban manusia.
Federico berbalik dan menurunkan satu kaki di tanah di hadapanku. Dia mendongak padaku. “Tolong tangkupkan tangan kamu seperti ini.”
Setelahnya, sebuah rapalan pun mengalun dan terdapat banyak energi mengudara. Aku bisa merasakannya di setiap jengkal kulitku. Perlahan, asap memenuhi penglihatan dan Federico sudah lenyap dari hadapanku.
Atau, tidak, dia tidak lenyap. Dia berubah. Dia ada di tanganku sekarang, dalam wujud boneka kecil menggemaskan yang ukurannya pas di dalam tangkup tanganku.
“Ya Tuhan, dunia memang penuh keajaiban,” gumamku memberikan ciuman yang dalam pada pucuk kepalanya. Ternyata rambutnya memang lembut. Dia tidak bereaksi apa-apa terhadap perlakuanku itu; matanya pun tidak berkedip sama sekali. Mungkin dia sedang mendalami peran barunya sebagai boneka? Aku diam-diam terkekeh karena pemikiran konyol itu.
Selanjutnya, aku melangkah menuju jalan raya di mana lalu lintas sedang ramai. Aku tidak membawa tas, jadi kubawa Federico begitu saja seolah sedang memeluk boneka beruang. Toh, penampilannya yang lucu mungkin akan membuatnya dikira boneka biasa, meski dengan sayap gargoyle-nya yang mungil itu. Aku menghampiri sebuah taksi di pinggir jalan dan bertanya apakah aku bisa membayar ongkos sesampainya di tempat tujuan saja, dan sang supir bilang bisa. Sesampainya di kantor kedutaan, aku baru bisa membayar ongkos taksi itu setelah mengarang cerita bahwa aku baru mengalami perampokan ketika berkendaraan dan aku tidak punya apa-apa sekarang (sebenarnya ini juga bukan bohong, karena aku memang dirampok oleh sekumpulan gargoyle terbang). Untungnya, pihak kantor percaya dan bersedia mengganti ongkos taksi tersebut. Selain itu, pihak kantor kedutaan juga berjanji bahwa mereka akan memberiku bantuan, termasuk bantuan pulang ke negaraku.
Untuk menutup cerita yang sangat panjang ini, aku ingin mengatakan bahwa aku bersumpah tidak akan pernah bepergian ke luar negeri sendirian lagi. Meski begitu, kurasa kalau bukan karena itu, aku tidak akan bertemu Federico. Dia dikira hanya boneka biasa saat aku memasuki bagian pemeriksaan barang di bandara, karena ketika melalui deteksi sinar X, tidak ada apa-apa di dalam tubuh bonekanya itu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, apalagi dengan diikuti monster serba bisa yang ajaib ini, tetapi biarlah itu kupikirkan lagi nanti. Aku tidak sabar ingin melihat ke mana hubungan baru yang unik ini akan membawa kami berdua.
.
