Work Text:
“Untung banget ya, suami saya pergi dinas bareng kamu, Shua, saya percaya banget kalau dia ga bakal macam-macam, apalagi kamu lagi hamil besar gitu.”
Tangan Shua bergetar, berusaha tetap fokus pada suara di seberang sana; bajunya sudah dilucuti sebelum ia mengangkat telepon itu. Kini di dadanya ada lidah seorang pria yang tengah mengulum, menjilat, dan menghisap putingnya hingga membengkak. Menyusu padanya yang kini tengah mengandung sembilan bulan. Perutnya yang besar bahkan tak menjadi penghalang untuk pria ini menggigit dan mengulum putingnya sampai puas.
“Eumh… iya, Bu. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk mengawal Bapak.”
Belum selesai dengan puting, kini celana dalam Shua diturunkan, menunjukkan memek merah mudanya yang sudah basah merekah; berdenyut-denyut seolah meminta untuk disentuh. Shua sengaja membiarkan pria itu mendominasinya, menggerakkan jemarinya di sana sambil menghisap putingnya. Kepalanya terasa begitu ringan saat putingnya digigit kencang, membuat susunya muncrat keluar dan tanpa ragu dihisap oleh bayi besar itu.
“Bener, bener, jangan lupa ingatkan Bapak untuk minum obat migrainnya, ya, biasanya kalau lagi banyak kerjaan gini suka kambuh.”
Migrain apanya? Pria yang dimaksud malah sedang ‘berobat’ padanya dengan menjamah Shua sampai puas begini, padahal ia sedang hamil besar. Tubuh Shua meremang, mulai gemetaran tatkala dua jari masuk ke dalam memeknya. Kepala menengadah, beruntung isinya masih bisa diajak kerjasama untuk melanjutkan konversasi yang dimulai beberapa menit lalu.
“Baik, Bu… hhahh~ a-ada lagi yang bisa saya bant–uhuk… bantu?”
“Sudah sudah, kamu pasti lagi ngerasain perut kram, kan? Istirahat, ya! Segera ambil cuti melahirkan kalau sudah bulannya.”
Bukan bulannya lagi, ini bahkan sudah memasuki minggu akhir untuknya melahirkan; Shua bahkan bersumpah, jika pria dominannya kini menyetubuhinya dengan kasar, mungkin ketubannya bisa pecah malam ini juga. Membayangkannya bukan membuat Shua ngeri, malah membuat memeknya semakin basah, persis seperti pelacur yang tengah dimabuk kenikmatan.
“Ibu paling ngerti saya. Awwhh! Ssssh… maaf bu, bayi saya semangat banget ini.”
Tiga jari, mata Shua menjuling, pinggulnya terangkat sementara memeknya berdenyut tak karuan, siap memuntahkan pelepasannya yang pertama. Satu tangannya yang bebas meremas rambut pria dominan, tanda bahwa sebentar lagi ia akan mencapai puncak kenikmatannya.
“Hahaha. Sehat-sehat, ya! Kabarin saya kegiatan Bapak besok pagi. Malam.”
“M-Malam…” telepon dimatikan, Shua melebarkan kedua kakinya dan membiarkan cairan hangat menyembur dari lubang memeknya, “AAHHGGHH! Fffuuh… hhahh… hhhahh…”
Bermandikan keringat, kini badannya yang tak tertutup sehelai benangpun terkapar tak berdaya di atas tempat tidur suami dari wanita yang baru saja meneleponnya. Adalah Dokyeom, seorang pengusaha sukses yang juga ternyata adalah breeder , merekrutnya tanpa tahu bahwa dirinya adalah seorang carrier .
“Kamu sempat squirt , bahkan saat ditelepon oleh Ibu? Wow…” tersenyum miring, Dokyeom meletakkan ponsel Shua di atas nakas, tidak membiarkan submisifnya berkutat lebih lama lagi dengan benda besi itu.
Shua mendengus, mengusap pipi dan rahang tegas sang breeder usai kembali menindihnya, lantas tersenyum tipis, “Bapak kan yang paling tahu, bagaimana sensitifnya badan saya setelah hamil?”
Dokyeom tersenyum, mengecup tulang selangka Shua yang menonjol di atas dadanya, menggigit dan menghisap kecil untuk meninggalkan tanda di sana. Tangannya dengan sayang mengelusi perut besar Shua sebelum beranjak ke bawah, menekan tepat di klitorisnya, membuat bulu kuduk Shua meremang dan badannya membusur, mengeluarkan cairannya lagi tanpa kesulitan.
“F-Fuck!” gemetar, ia tak menyangka bahwa akan sesensitif itu; hanya disentuh setelah keluar dan dengan mudahnya cairannya kembali menyembur.
“Pintar.”
Shua memejamkan matanya, lantas menutupi dengan punggung tangannya sebelum menarik nafas panjang, mengatur nafasnya yang terengah.
Sementara itu Dokyeom tanpa ragu melepaskan kain terakhir yang menutupi tubuhnya; celana boxer yang kini terasa sempit sejak mendengar deru desah ditambah pemandangan memek merekah milik Shua. Oh, betapa ia sangat menyukai tiap kali mereka harus dinas keluar kota seperti ini.
Ketika celana diturunkan, Shua menepikan tangannya, melihat bagaimana kontol besar itu bahkan tak pernah berhenti membuatnya kagum sejak pertama kali mereka melakukannya. Kini bahkan setelah hampir setahun melakukan dan membuahkan benih di perutnya, Shua belum berhenti kagum. Ia yakin malam ini ia akan menjerit-jerit sampai gila karena disentak dengan penuh gairah.
Tersenyum mendapatkan respons positif dari Shua, Dokyeom kemudian menindihnya lagi, mengecupi perut besar Shua dan mengusalinya dengan ujung hidungnya. Tersenyum tipis, ia kemudian mengecup lembut pusar Shua yang menonjol di ujung perutnya. Tangannya melebarkan kedua kaki Shua sebelum akhirnya mengarahkan kontol besarnya ke memek Shua yang sudah basah, sengaja ia lumuri langsung dengan cairan squirt dari sana.
“Pakh… hhhahhh… jangan… digesek… itil Shua… gatel…” merengek, Shua berusaha meremas sprei, menahan desah kenikmatan.
“Jangan? Tapi kayaknya Shua suka, kan? Di sini~? Ya kan?” Dokyeom kesenangan, ia malah dengan sengaja menggesek ke itil submisifnya yang sudah berdenyut lagi usai dua kali pelepasan tadi. Ujung kontolnya ia gesek kencang ke sana, membuat tubuh Shua kembali gemetaran; seolah siap mencapai pelepasannya yang ketiga.
Tapi sayangnya, ia tak langsung membiarkannya. Kontol besar itu malah merangsek masuk ke dalam memek Shua, membuat sang carrier menjerit kencang, tidak peduli kalau rekan kerja mereka di kamar lain bisa mendengar desah dan jerit kenikmatannya malam ini. Ia seolah dibawa terbang ke langit ketika ujung kontol Dokyeom menyentak tepat ke mulut rahimnya. Sejauh itu; sedalam itu.
“AHGGGH! FUCK! FUCK! Memek… memek Shua… penuh! PENUH! NNNGGHH!” squirt ketiga, kali ini membasahi sampai ke perut Dokyeom, melumuri kontolnya yang baru saja masuk. Shua lemas.
Namun, alih-alih memberikan kesempatan Shua untuk bernafas, Dokyeom malah mulai menggerakkan pinggulnya, mengeluar masukkan batang kontol besarnya yang sudah menegang sejak tadi, mengejar kenikmatannya di lubang memek Shua yang sempit dan basah. Tangannya mencengkram rambut Shua, menjambaknya sambil menggerakkan pinggul kencang. Sentakan demi sentakan ia lancarkan ke sweet spot Shua membuat submisifnya kembali menjuling.
“Ahhh ahh~ nngghh~ memek Shua penuh, Daddy~ ahhh~ mmnhh~ memek Shua~ keenakan… mmhh~” menjulurkan lidah sambil menjulingkan matanya, Shua sudah tidak peduli lagi akan penampilannya sekarang, bukan cuma Dokyeom yang merasa nikmat di persetubuhan kali ini, namun juga dirinya.
Ralat, bukan hanya kali ini, tapi setiap kali mereka bercinta .
Shua pasrah ketika kedua tangannya ditarik dan pinggul Dokyeom bergerak makin cepat. Kontol besar itu menyentak-nyentak kencang dan intens, tepat menuju ke mulut rahimnya. Tangannya meremas lengan besar Dokyeom sementara pinggulnya ikut bergerak berlawanan arah, membuat kontol besar itu menancap semakin dalam di bawah sana.
“Mnnhh~! Ahhh! Ahhh! Daddy… ampunhh! AAAHHGGHH! FUCK!”
Gemetaran, ini sudah pelepasannya yang ke empat, tapi Dokyeom belum juga menunjukkan tanda ia akan sampai di puncaknya. Badan Shua kembali membusur; kali ini karena Dokyeom menurunkan badannya dan mulai menjilati putingnya, membuat benda mungil itu menyemburkan susu. Perutnya mengkilat karena banjir susu sejak tadi, membuat Shua yakin, kalau bayinya lahir nanti, anak itu tak akan kelaparan karena susunya begitu melimpah.
“Shua… Shua… sungguh, kamu cantik sekali kalau udah kacau begini, hn? Enak dikontolin? Enak dientotin waktu bunting gede gini? Hnn? Mau peju?”
“Mau! MAU! Ahhhghh ahh ahhh~ nnhh~! Pejuin… pejuin Shua yang banyak, sayang, hamilin Shua lagi, mau dihamilin terus sampe memeknya cuma muat buat kontol Pak Dokyeom. AHHGGHH! PAKKHH!”
Mendengar ucapan kotor dari mulut Shua, Dokyeom makin bersemangat; dipegangnya pinggul Shua dan digerakannya pinggulnya semakin brutal, tak peduli bisa berakibat fatal pada kandungan Shua yang sudah memasukin bulan bersalinnya itu.
“Ohh ohh ohh~! AAHHGHH FUCK! Memek Shua mentok, Pak~ ampunnnh! Amp–AHHGGHH!”
“Ssssh… nnhh~ shit shit shit! Dasar perek! Dientotin gini malah makin teler!”
Satu tamparan melesat ke itil Shua, bersamaan dengan squirt -nya yang ke sekian kali malam itu, peju mulai mengisi penuh memek sang carrier . Dokyeom yakin, jika tidak sedang hamil, mungkin Shua sekarang akan kembali terisi dengan bayinya.
Gemetaran dan lemas, Shua memejamkan matanya, merasakan rembes peju yang keluar dari celah memeknya yang tersumpal kontol atasannya. Matanya sayu memandang Dokyeom, sementara tangannya kini meremas lengan kekar sang adam.
“ Good boy ,” dibisikannya ucapan pelan itu ke telinga Shua, sebelum akhirnya memiringkan tubuh sang adam; enggan melepaskan tancapan kontolnya dari memek sempit itu.
Merebahkan diri di belakang Shua, Dokyeom memeluk tubuh sekretaris pribadinya itu dengan lembut, mengelusi perut besarnya. Satu tangan lain dengan jahil bergerak ke puting Shua; memilinnya pelan dan membuat pria itu bergidik kegelian.
“Pak! Ihh… masih aja.”
“Hehe… kamu nagih, sih.”
Shua mengelusi lengan kekar Dokyeom di perutnya, lantas memejamkan mata, mengisi tenaganya karena ia yakin, besok pagi akan kembali menghadapi gempuran atasannya ini.
