Chapter Text
Kaveh tidak yakin bagaimana ia tak pernah menyadari.
Untuk orang secerdas dirinya, agaknya memalukan jika tidak bisa menyimpulkan lebih cepat. Jelas, masa studinya di Kshahrewar tidak mengajarkannya apa pun—lebih-lebih tentang kemampuan observasinya.
Ia seorang arsitek, harusnya mampu mengamati semua detail yang membentang di hadapannya. Matanya terlatih menguliti setiap elemen yang tersembunyi di depan mata. Ia mampu membedakan setiap motif bunga ubin Ashvattha yang rumit. Beragam jenis kain dan tekstil tak dapat disandingkan dengan selera uniknya, tapi untuk yang ini entah bagaimana luput dari perhatiannya.
Alhaitham itu tunarungu.
Selama bertahun-tahun mengenal lelaki itu, dan sebagai teman serumahnya, Kaveh tidak percaya ia bisa tak menyadari bahwa Alhaitham memiliki gangguan pendengaran. Bahkan lebih memalukan lagi sekarang, semenjak mereka tinggal bersama. Ia ingin sekali marah—marah pada Alhaitham yang tidak memberitahunya lebih awal (malahan tidak pernah)—tapi ia jauh lebih marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa meraih kesimpulan itu lebih awal.
Perlu setahun penuh Kaveh tinggal seatap dengan si bodoh berotot itu untuk menyadarinya.
Sebagai pembelaannya, Alhaitham memang lihai menyembunyikan keterbatasan pendengarannya. Caranya bertutur bahasa tidak terhambat dan ia berbicara lancar selayaknya orang yang bisa mendengar. Ia juga bereaksi terhadap suara serta mampu mengikuti percakapan meski sambil membelakangi lawan bicara (fakta yang dialami Kaveh sendiri, dalam berbagai kesempatan). Dia tuli, bukan tidak mampu.
Ia tidak tahu seberapa tuli tepatnya tingkat pendengaran Alhaitham. Itu dapat berkisar mulai dari gangguan pendengaran sedang hingga kehilangan pendengaran total, tetapi faktanya sama saja. Kini setelah Kaveh cermati, sebetulnya ada tanda-tanda jelas:
1.) Alhaitham memiliki tatapan yang sangat intens. Dia mengamati hingga terlalu berlebihan.
Alhaitham senantiasa sadar akan sekitarnya. Dia punya kecenderungan mengamati segala hal yang ditemuinya dengan tatapan menganalisa. Matanya akan terpicing pada setiap pintu yang membuka, terlepas apakah engselnya berbunyi atau tidak. Ia akan mengingat setiap orang yang memasuki ruangan dan menghafal perilaku mereka baik-baik setelah mengobrol sekali saja.
Tingkat kerincian yang dia amati sangatlah luar biasa, dan menurut Kaveh dia cukup mumpuni untuk menjadi arsitek handal jika saja dia tak sepenuh hati mengabaikan seni.
Waktu pertama kali mereka bertemu, Kaveh merasa terintimidasi oleh betapa tajam pupil hijau dan merah Alhaitham mengikuti setiap gerak-gerik, pergeseran, kedutan otot, dan hembusan napasnya dengan perhatian penuh.
Jujur saja, itu membuatnya sedikit ilfil. Kaveh merasa terekspos secara tak perlu di bawah tatapan tajam Alhaitham, dan ia menjadi sangat sadar akan setiap gerakan yang dibuatnya di sekitar pemuda itu.
Ini sungguhan terlebih setiap Kaveh berbicara langsung padanya.
Bulan-bulan awal pertemanan mereka diisi oleh Kaveh yang bicara pada Alhaitham, bukan dengannya, dan meski kebanyakan orang akan menganggap itu tak sopan, nyatanya cuma itu satu-satunya cara agar keduanya dapat berkomunikasi. (Kaveh memakai istilah komunikasi... dengan longgar.) Ia dengan cepat mengerti bahwa Alhaitham tidak pintar mengobrol dan lebih suka menjadi pendengar yang baik, tapi ya Archon, caranya mendengarkan sungguh satu tabiat paling pretensius dan menyebalkan yang pernah ada.
Kaveh akan berbicara layaknya kereta dan kali ini pun Alhaitham tak akan menoleh sama sekali dari buku tempat dia membenamkan hidungnya.
Itu membuat Kaveh tak habis kesal. Ia adalah tipe orang yang senang dengan curahan perhatian (sebagaimana dinyatakan teman-teman sejurusannya, ia suka audiens yang tertarik), dan kurangnya respons visual itu membuat Kaveh merasa ucapannya hanya masuk ke telinga kanan dan keluar dari telinga kiri.
Pada akhirnya, setelah hampir sebulan lamanya mengoceh secara sepihak, Kaveh berhenti menggembar-gemborkan pujian tentang konstruksi Pardis Dhyai dan berteriak ketus, “Brengsek, Alhaitham! Lihat aku kalau sedang bicara padamu! Kamu mendengarkanku tidak, sih?“
Kalimat itu membuat tubuh Alhaitham membeku, dan untuk beberapa saat yang lama dan mengerikan, Kaveh takut kalau-kalau ia sudah kelewatan. Ia menunggu Alhaitham mengatakan sesuatu, apa pun, dan ketika ahli bahasa itu tetap membisu, Kaveh pun semakin ciut.
Udara di sekitar mereka mendingin, dan Kaveh dapat merasakan kegusaran terpancar dari Alhaitham. Bukan rahasia bila Alhaitham bukanlah orang paling supel di Akademiya, tapi Kaveh tahu bahwa dia adalah teman yang baik. Ya tentu, dia pasti mendengarkan.
Kata-kata maaf menggantung di ujung bibirnya, tetapi ia menahan lidahnya, lalu memutuskan untuk membereskan saja barang-barangnya. Jelas sekali Alhaitham tak menginginkan kehadirannya di sana, dan alangkah lebih baik pergi saja.
Dengan perasaan jatuh di perut, dan rasa bersalah atas ucapannya sendiri membebani dadanya, Kaveh menundukkan pandangan seraya menjejalkan semua kertas perancangan dan pensil arang ke dalam tasnya. Matanya mulai terasa panas dan ia merasa jahat.
Lalu, Alhaitham bertanya, “Kamu mau ke mana?”
Kaveh membeku di tengah-tengah mengangkat penutup tas ranselnya. Nada penuh tanya terlepas dari tenggorokannya dan ia melirik sekilas ke arah Alhaitham.
Alhaitham telah meletakkan bukunya, sehelai pembatas terselip di antara lembaran-lembarannya, dan sepasang bola mata hijau terarah kepadanya.
“A-aku, eh,” kata Kaveh dengan cerdas, tidak kuat menahan beban tatapan Alhaitham.
Alhaitham berdecih, mengambil inisiatif, “Kamu tadi bicara tentang bagaimana desain Pardis Dhyai terinspirasi oleh flora alam sekitarnya 'kan,” dia memutar mata, membentuk tanda kutip, lalu mengulangi dalam cemoohan suara Kaveh, “konsep ruang terbuka ini benar-benar mengingatkan pada Nilotpala Lotus yang mekar di tengah malam. Ini maha karya jenius!”
Kaveh mengerang, “Suaraku tidak begitu!” Ia mengabaikan rasa sesak di dadanya saat mengetahui bahwa Alhaitham memang mendengarkan.
Alhaitham melipat kedua tangan dan membenahi posisinya di kursi, kini tubuhnya menghadap ke arah Kaveh. “Masa sih, mirip banget lho. Tapi silakan lanjutkan.”
Kaveh melempar sepuntung pensil arang ke arahnya sebelum kembali melanjutkan monolognya, berusaha meredakan perasaan hangat dalam dadanya.
Cara Alhaitham memperhatikan bibirnya dengan tekun selagi bicara mengirimkan getaran di sepanjang tulang punggung Kaveh. (Rona merah pun menjalar hingga ke lehernya, tetapi ia tak sudi memikirkannya. Ia cukup akan berkata bahwa dirinya terlengah oleh betapa intens Alhaitham menyimak saat itu.)
Kaveh tidak pernah lagi meragukan apakah Alhaitham mendengarkan atau tidak setelah itu.
Namun sekarang ia paham bahwa waktu itu Alhaitham membaca bibirnya karena dia tidak bisa mendengar, bukan untuk memandanginya.
2.) Alhaitham terkadang membuat isyarat untuk diri sendiri.
Gelagat itu sudah jauh lebih tersembunyi sekarang, tapi waktu masih di Akademiya dulu, adakalanya Kaveh mendapati tangan pemuda itu bergerak gelisah saat sedang mempelajari tugas. Awalnya, ia mengira itu semacam tic di saat gugup, namun terkadang pemahaman baru muncul setelah terjadi. Tangan Alhaitham dengan perlahan akan membuat suatu isyarat saat membaca cepat buku teks, meski tampaknya dia sendiri tidak menyadarinya. Kaveh tidak paham arti isyarat yang dibuatnya, tapi kemungkinan itu semacam trik menghafal, sama halnya dengan mengucapkan kembali suatu gagasan akan membantunya melekat di pikiran.
Kebiasaan itu kembali terlihat saat berada di rumah, setiap kali Alhaitham memeriksa beberapa dokumen untuk pekerjaannya sebagai Panitera, atau setiap kali dia terburu-buru menghafal catatan misi dan harus mengingat informasi itu secepatnya.
Kaveh tidak pernah mengomentari gelagat itu sebab ditakutkan Alhaitham akan berhenti karena malu, jadilah itu suatu momen kecil tersembunyi yang dijaga Kaveh dekat di hati setiap kali mendapati Alhaitham melakukannya.
Belakangan ini, Alhaitham mulai senang melipat tangan saat berbicara dengan orang lain. Katanya itu berfungsi sebagai taktik intimidasi, dan terbukti berguna kapan pun dia menginterogasi atau berusaha menggali informasi dari seseorang. Menurut Kaveh itu omong kosong belaka, ia yakin betul pemuda itu cuma ingin memamerkan lengan berotot yang menyebalkan itu karena diam-diam senang diperhatikan. Namun, ia bisa melihat bagaimana jari Alhaitham berkedut di atas bisepnya, jari-jari yang membentuk suatu kata di tengah percakapan.
3.) Dia memakai alat bantu pendengaran sepanjang waktu.
Kaveh tidak pernah melihat Alhaitham tanpanya. Aksen hijau dan emas pada alat itu terlihat kontras dengan rambut abu-abu miliknya, dan secara praktis meneriakkan 'Hei, lihat aku!' .
Ia tidak pernah terpikir untuk menanyakan Alhaitham soal itu karena, kalau boleh jujur, Kaveh pikir itu hanya aksesoris nyeleneh yang sudah biasa dipakainya setiap hari. Itu bukan benda teraneh yang pernah ia lihat orang-orang kenakan di Akademiya. Salah satu tradisi para pelajarnya adalah memodifikasi seragam mereka hingga tidak bisa dikenali. Ia sendiri mengenakan sejumlah aksesoris dalam busana kesehariannya.
Ia seharusnya bisa cepat menyadarinya setelah pindahan. Alhaitham tidak pernah melepaskannya, bahkan di saat menanggalkan busana tak masuk akal dan ketat gila yang dia pakai setiap hari sebelum berganti ke pakaian santai yang lebih longgar.
Satu-satunya momen yang Kaveh ingat melihatnya tanpa penyuara telinga itu ialah saat ia tak sengaja berpapasan dengan Alhaitham yang baru selesai mandi dan meninggalkan kamar mandi.
Barang-barangnya tergulung di tangan dan selembar handuk terikat di pinggang, seluruh tubuh bagian atasnya terekspos. Di bawah pendar hangat lampu minyak yang tersebar di sepenjuru rumah, Kaveh dapat melihat bagaimana bulir air dari rambut Alhaitham yang terburu-buru dikeringkan mengalir ke leher hingga jatuh ke pahatan dadanya. Kaveh perlu waktu terlalu lama untuk menyadari apa yang sedang terjadi sebelum berbalik dan menggumamkan sesuatu tentang ketidaksenonohan dan menghargai orang lain.
Bisa dibilang, Kaveh terlalu terdistraksi oleh hal lain untuk menyadari bahwa dia belum mengenakan kembali alat bantu dengarnya.
Alhaitham memperhatikan figur Kaveh dalam diam, sekilas senyum tipis menghiasi bibirnya. Dia tak mendengar jelas apa yang diucapkan Kaveh, tetapi dia bisa menebaknya. Dia berjalan melewati Kaveh, dengan menyebalkan tampak tak terpengaruh, dan butuh segenap daya upaya bagi sang arsitek untuk tidak ambruk di tempat.
3.5.) Alhaitham selalu menyesuaikan alat bantu dengarnya.
Menambahkan pada poin sebelumnya, Kaveh menyadari bahwa Alhaitham punya kebiasaan meraih alat bantu pendengarannya dan menyesuaikan pengaturan di sana. Awalnya Kaveh kira dia hanya sedang menggaruk bagian yang gatal atau menyapu helai rambut membandel dari wajahnya, tapi setelah beberapa pengamatan kecil (ini pengamatan, untuk memuaskan jiwa seorang peneliti, bukan jatuh hati, sebab gagasan konyol macam apa itu?), ia menyadari ada beberapa tombol dan penggeser yang nyaris tak terlihat di bagian samping alat itu.
Setiap kali berada di lingkungan ramai seperti kafe yang sibuk, atau waktu para pelajar Akademiya jadi terlalu berisik, Alhaitham akan menyentuhkan ujung jarinya ke samping alat itu dan menyesuaikan tingkat volumenya. Atau setidaknya itu dugaan Kaveh, ia masih belum berani menanyakan langsung padanya bagaimana cara alat itu bekerja. Ini masalah harga diri.
Ia ingat Alhaitham pernah berkata sekali bahwa alat itu dapat memutus suara, dan ia bertanya-tanya apakah itu semacam gurauan halus tentang gangguan pendengarannya atau memang kenyataan yang sebenarnya. Sulit memastikan dengan tabiatnya yang setenang batu karang.
Alhaitham senang memanfaatkan fiturnya, terutama dalam perselisihannya dengan Kaveh, karena dia senang memutus suara Kaveh sepenuhnya dengan mematikan alat sialan itu.
Kaveh sempat mengira bahwa Alhaitham telah menguasai seni bersikap bodo amat padanya. Pemuda itu akan tetap tenang sambil lanjut membaca buku usangnya "Asal Muasal Bahasa Enkanomiya", bahkan di saat Kaveh tinggal sejengkal napas dari memecahkan kaca-kaca jendela rumah mereka oleh betapa lantang suaranya.
Entah berapa banyak teriakan, ancaman untuk melempar barang, atau lambaian kencang di depan mukanya; tak ada yang mampu menghentikan rasa haus Alhaitham akan pengetahuan. Namun rupanya, Alhaitham hanya mematikan alat bantu dengarnya agar tidak harus mendengarkan Kaveh.
Untuk alasan inilah Kaveh memutuskan untuk mempelajari Sistem Isyarat Bahasa Sumeru.
...
Baiklah, mungkin bukan hanya itu alasannya. Jauh di lubuk hati, Kaveh percaya bahwa ini tugasnya sebagai teman serumah Alhaitham untuk mempelajari sesuatu yang secara teknis merupakan bahasa ibu Alhaitham, dan di sisi lain, ia juga menolak kalah argumen karena alasan yang begitu sepele.
Ia lelah saat perdebatan mereka terpotong karena Alhaitham tidak mau lagi mendengarkan. Di saat itulah ia menyusun rencana sempurna: ia akan menguasai SIBS hingga fasih, dan di lain waktu Alhaitham memutuskan dirinya diturunkan menjadi suara latar belakang, ia akan meneruskan percakapan itu tepat di mana mereka terhenti.
Ini rencana yang cukup lancang, ia akui, tapi bukan Kaveh namanya kalau tidak keras kepala. Ia akan jadi orang terakhir yang bicara, apa pun yang terjadi.
Maka, ia pun belajar. Besar kemungkinan, ini adalah hal terburuk yang pernah menimpanya.
Meski lulus dengan nilai tertinggi di kelas, Kaveh memang sejak lahir berbakat untuk dapat menguasai materi yang diberikan padanya dengan mudah. Yang ia butuhkan untuk memahami suatu konsep hanya satu kali penjelasan atau peragaan dan ia sudah akan mematrinya dalam ingatan. Ia tidak pernah harus belajar atau berlatih untuk suatu ujian.
Yang mana membuat belajar SIBS begitu sulit.
Mau bahasa apa pun itu, dasar pembelajarannya adalah pengulangan. Ini artinya melakukan hal yang sama berulang, ulang, ulang kali hingga menjadi kebiasaan.
Kaveh tidak pernah punya kesabaran untuk itu. Ia terlalu senang bergerak untuk bisa sekadar duduk manis dan mempelajari informasi yang sama dalam waktu yang panjang, ia selalu ingin mencoba hal baru, walau belum menguasai apa pun. “Orang yang serba bisa tidak menguasai apa pun, tapi seringkali lebih berguna daripada orang yang menguasai satu bidang“ atau semacamnya.
Itu bukan pembelajaran yang sangat kondusif.
“Ini buruk,” keluhnya seraya meletakkan dahi ke atas meja, kedua tangannya masih menggantung di udara, jari-jarinya terjebak untuk kelima belas kalinya mengeja namanya sendiri. “Apa kita benar-benar harus melakukan ini?”
Tighnari, yang dengan begitu baik hati menawarkan diri menjadi gurunya (Kaveh datang ke rumahnya dan memohon-mohon), memukul kepalanya dengan gulungan kertas. “Dilarang bicara, aku tuli dan tidak bisa mendengarmu. Dan lagi, duduk yang tegak. Setengah dari pembelajaran SIBS berakar pada ekspresi wajah. Berlatih dengan wajah bertumpu di meja itu sama saja seperti bicara menggumam.”
“Baiklah, baik,” gerutu Kaveh sebelum menegakkan punggung, “aku kira sudah kebiasaan bagi orang tuli memberikan nama julukan untuk seseorang, jadi kenapa aku masih harus mengejanya?”
Tighnari melipat tangan dan bersandar ke belakang kursi, satu alisnya naik mengoloknya, “Apa kau selalu mengajukan pertanyaan bodoh? Bagaimana caranya mereka bisa memberimu nama kalau mereka tidak tahu cara mengejanya?”
“Tahu tidak, kalau aku mau orang hijau yang bikin sebal mengajariku SIBS aku akan minta Alhaitham sendiri mengajariku.”
Tighnari memutar matanya. “Kau sendiri yang ingin belajar. Jangan melampiaskan padaku.”
Jari-jari Kaveh kram karena 'V' di dalam namanya dan ia putuskan bahwa istirahat sangatlah diperlukan. Ia pun duduk dan memijat persendiannya. Ia yakin betul tangannya tidak pernah selelah ini, bahkan di tahun ia mesti menggarap tugas akhir skripsinya sampai ia menempel ke kursi.
Hatinya pedih membayangkan Alhaitham kecil melalui hal yang sama.
“Aku penasaran, bagaimana ceritanya kau fasih menggunakan SIBS?”
Tighnari mengangkat bahu, “Ini matkul pilihan yang kuambil selama beberapa tahun di Amurta. Kupikir akan berguna kalau suatu hari aku mendapat pasien yang kurang pendengaran.”
Kaveh bergumam mengakui, “Memangnya itu sepadan? Sejauh yang kulihat, kau tidak banyak mendapat pasien tunarungu.”
Tighnari tersenyum simpul, “Sekarang aku mengajarimu, 'kan? Jadi bisa dibilang ini lumayan berguna.”
Kaveh membalasnya dengan tatapan maut.
Satu telinga Tighnari bergoyang, dan dia memukul serangga yang terbang memasuki pondok pribadinya. “Tapi untuk menjawab pertanyaanmu, ya, aku bisa bilang ini cukup sepadan. Meski sejauh ini hanya ada segelintir pasien tunarungu, tetap menyenangkan rasanya melihat mereka tersenyum saat menyadari bahwa mereka dapat berkomunikasi dengan nyaman. Itu bukanlah sesuatu yang sering mereka temui.”
Kaveh penasaran seperti apa reaksi Alhaitham nanti. Apakah dia akan seapresiatif itu? Sulit membayangkan wajah itu punya cukup otot untuk tersenyum, jadi ia buang jauh-jauh khayalan itu. Reaksi yang lebih tepat mungkin ialah mengejeknya gara-gara bahasa isyaratnya kikuk. Kaveh sama sekali tidak akan terkejut kalau dia sampai berani kurang ajar menutup mata demi menghindari percakapan.
Ia sangat menantikannya.
Tighnari, si pemimpin yang rajin, memukulnya sekali lagi dengan gulungan kertas. “Ayo lanjut, kau tidak akan pernah lancar kalau terus-terusan begini.”
Kaveh berlatih dalam setiap kesempatan yang ia miliki. Kapan pun ia pergi makan, ia akan menulis isyarat pesanannya di bawah meja selagi membaca menu. Ia membeli cermin kecil untuk ditaruh di kamar dan berlatih dengan ekspresi wajahnya. Bahkan di waktu-waktu panjang yang ia habiskan terkurung di studio demi merancang, ia menggunakan bahasa isyarat untuk mengutarakan seluruh proses pemikirannya. Ia jadi keasyikan berlatih sampai-sampai nyaris melupakan keberadaan Alhaitham di hidupnya. Pertukaran mereka menjadi begitu singkat di saat Kaveh selalu buru-buru berangkat kerja atau mengunjungi Tighnari. Tidak ada waktu untuk adu mulut seperti biasa.
Tentu saja, Kaveh tak bisa terus-terusan menyembunyikan hobi barunya. Akhir pekan yang kerap ia habiskan di luar saat tidak punya jadwal menjadi arsitek senior tentunya akan menimbulkan kecurigaan dan, pada akhirnya, Alhaitham mulai menyadari perubahan dalam rutinitas Kaveh serta berkurangnya kebencian dari sang arsitek. Hal ini mencuat dalam percakapan mereka pada suatu malam ketika ia pulang larut dari Desa Gandharva setelah sesi latihan yang panjang dengan Tighnari.
Alhaitham tengah berselonjor di kursi dipan ruang tamu, dan tak mendongak sedikit pun dari buku entah apa yang sedang dibacanya saat dia bertanya, “Senang ya, main di kota sampai malam-malam?”
Suaranya datar, dan satu alisnya yang naik tertuju pada tas bermalam Kaveh yang tersampir berantakan di pundaknya. Ia singgah di Desa Gandharva lebih lama dari perkiraan, dan saat mengecek jam, ternyata sudah lewat dari jadwalnya pulang. Ia pun menjejalkan semua barang bawaannya ke dalam tas dan tidak ambil pusing untuk menatanya sampai ia tiba di rumah.
Perjalanan dari Desa Gandharva bukanlah rute yang singkat, dan hujan mulai turun di sisa akhir perjalanan, sehingga ia tidak punya pilihan selain berlari menembus hujan menuju rumah.
Kaveh harus mengajukan rancangan pada dewan konstruksi keesokan paginya, sekarang sudah larut malam, dan ia kehujanan hingga membasahi lantai. Ia mencopot sepatu dan membiarkannya di pinggir pintu agar mengering. Ia menghela napas, “Bisa tidak jangan sekarang? Aku capek dan besok aku ada rapat proposal.” Ia tidak menginginkan apa pun selain istirahat.
Namun Alhaitham berbakat memicu amarahnya. “Tidak sebelum kamu beri tahu padaku ke mana saja dirimu setiap akhir pekan.”
Kaveh berjalan menuju rak linen mereka untuk mengambil handuk dan mengernyit. “Kamu siapa, bapakku?”
Alhaitham membalik selembar halaman, berpura tak acuh, “Bukan. Secara teknis, aku tuan tanahmu, dan sebagai salah satu penyewa, aku berhak tahu ke mana saja kamu pergi.”
Wajah Kaveh berkedut kesal. “Kita berdua sama-sama dewasa, memangnya aku tidak boleh punya privasi?”
Dia membalik selembar halaman lagi, dan itu membuat Kaveh jengkel, sebab mana mungkin dia menyelesaikan satu halaman secepat itu. Ia kenal Alhaitham, dan ia bisa melihat kekesalan mulai menghiasi ekspresi wajahnya. Entah apa alasannya, kepergiannya mengusik si ahli bahasa.
“Aku tidak bilang begitu, aku cuma tanya kamu ke mana saja.”
Komentarnya membuat Kaveh menyipitkan mata. “Lagipula apa 'sih urusannya denganmu? Sepanjang yang aku tahu, kamu ingin aku keluar secepatnya dari rumahmu.”
Selembar lagi halaman dibalik, dan Kaveh tahu betul kali ini Alhaitham melakukannya untuk mengomporinya semata. Tanggapan Alhaitham yang berikutnya bernada singkat dan lugas. “Tidak perlu defensif, aku cuma tanya kamu ke mana setiap minggunya. Kamu sering sekali keluyuran sampai-sampai aku heran apakah itu sepadan dengan uang sewa yang kaubayarkan.”
Mulut Kaveh terbuka lebar, “Apa maksudmu bilang begitu?”
Akhirnya Alhaitham menutup buku terkutuk itu dan meletakkannya di atas meja. Bola mata multiwarna miliknya terpusat pada Kaveh. (Ia masih basah kuyup sampai menetes ke lantai, tapi ia tak yakin apakah basah itu ataukah beban tatapan Alhaitham yang membuatnya gemetar).
“Maksudku hanya ... kalau kamu sudah menemukan tempat tinggal yang baru, tidak ada artinya lagi membayar sewa di sini, bukan? Dan dari kelihatannya, kamu dan Tighnari makin akrab saja di Desa Gandharva.”
Kaveh tersendat, sebab ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa. “Tighnari—apa hubungannya dengan dia?” kemudian, “dan bagaimana kau bisa tahu soal itu? Aku tidak pernah memberitahumu?!”
Alhaitham mengerucutkan bibir, “Aku punya sumber tersendi—”
Kaveh mendengus, “Apa sumbermu juga disertai penyalahgunaan wewenang?”
Dia melanjutkan tanpa terganggu, “—Dan dari bertanya ke sekitar aku menemukan bahwa kamu rutin menumpang karavan ke luar kota demi mengunjungi seorang lulusan Amurta. Kalau tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri, aku mungkin akan percaya kamu sedang berobat padanya untuk suatu penyakit rahasia. Tapi kurasa sesuatu yang lebih privat sedang terjadi.”
Sesuatu yang lebih privat...? Kaveh menggeleng-gelengkan kepala, percikan air beterbangan ke mana-mana. “Oke, sebentar, sebentar. Sekarang aku yang jadi bingung. Bisa tolong jelaskan? Karena kelihatannya kamu yang paling mengerti situasinya.”
Alhaitham hanya menyipitkan mata.
Kaveh menghela napas. “Oh, jadi sekarang kau tidak bisa berkata-kata? Kau tampak sudah sangat siap saat menuduhku sebagai perusak rumah tangga orang!” Situasi absurd ini benar-benar lucu, karena seumur-umur ia tak pernah membayangkan dirinya berada di antara Tighnari dan Cyno yang ... berpacaran? Sebetulnya ia tidak tahu apa status hubungan mereka, tapi di titik ini, ia tidak akan kaget kalau mereka sedang mempersiapkan ikatan resmi di suatu tempat.
“Aku tidak pernah bilang kau perusak rumah tangga, kalimat itu keluar dari mulutmu sendiri,” bantah Alhaitham dengan picik.
Kaveh mencapai puncak amarah, dan mulai berjalan hilir mudik di ruang tamu. “Aku tidak pernah melihat Tighnari secara romantis! Ya Archon, Alhaitham apa masalahmu!? Kau seakan sangat peduli dengan siapa aku––” Ucapannya terpotong oleh dengusan dari Alhaitham.
Sebaris “Apa lagi sekarang?” sudah di ujung lidahnya saat ia tiba-tiba menyadari. Apakah Alhaitham...? Ah mana mungkin, karena itu tak masuk akal.
Ia tertawa tidak percaya, “Kamu cemburu?”
Seketika Alhaitham mengalihkan pandangan darinya dan melihat ke arah lain. Tapi dia menyadari kesalahannya dan memaksa dirinya kembali menatap Kaveh.
Tindakannya sangat halus tapi dampaknya sudah terlanjur kena. Kaveh menjatuhkan tasnya hingga menabrak lantai dengan dentuman basah. “Begitu rupanya! Kamu cemburu dan khawatir jika aku pergi dan menemukan teman serumah yang baru!”
Alhaitham membuang muka dan menggumamkan sesuatu yang samar-samar terdengar seperti: “Aku tidak akan mengaitkan kecemburuan dengan hal yang begitu remeh seperti teman serumah.”
Kaveh tersenyum penuh kemenangan, “Apa itu barusan, Tuan Panitera? Aku tidak mendengarnya.” Ia bisa melihat bagaimana dirinya berhasil menyudutkan sang ahli bahasa. Perasaan jumawa oleh betapa dekat ia dari memenangkan argumen hampir menyamai sensasi kupu-kupu terbang yang muncul dan tumbuh di dalam dadanya. Implikasi bahwa ada hal lain yang mendasari perasaan cemburu itu membuat hatinya jungkir balik.
“Itu bukan urusanmu.”
“Menurutku, ini justru sepenuhnya urusanku.”
Alhaitham berdecih, dan mengalihkan pembicaraan. “Kamu membuat basah seluruh lantai, sana ganti baju dan bersihkan semua ulahmu ini.”
“Serius? Kamu mau berhenti di situ saja? Katakan padaku kenapa kamu cemburu, Alhaitham.”
Sang Panitera bahkan tidak menggubrisnya dengan jawaban apa pun. Malah sebaliknya, dia mengambil bukunya dari atas meja dan kembali ke posisi nyaman sebelumnya. Dia membuat gerakan berlebihan ketika membuka buku itu ke halaman yang tadi dia tinggalkan dan mengatur pandangannya seperti robot pada barisan kalimat. Sebelum Kaveh bisa menyampaikan sepatah dua patah kata, dia sudah mengangkat tangan dan memutus segala kontak suara.
“Oh tidak, kamu tidak boleh begitu.”
Jantung Kaveh berdetak kencang, karena ini dia. Ini saat yang telah ia tunggu-tunggu.
Ia mengangkat kaki Alhaitham begitu saja untuk memberi ruang bagi dirinya duduk di kursi dan merebut buku dari tangannya. Panitera itu mulai menggerutu, karena kehilangan buku bacaan berharganya, dan juga karena Kaveh mencipratkan air ke mana-mana.
Kaveh tidak memedulikannya dan justru memilih untuk menarik Alhaitham hingga ke posisi duduk. Ia memastikan mereka berhadap-hadapan saat ia membuat isyarat, “Aku belum selesai bicara denganmu.”
Alhaitham membelalakkan mata terkejut dan ia sangat yakin itu emosi terbesar yang pernah ia lihat dari pemuda itu.
'Apatis' adalah kata yang kerap digunakan orang untuk menggambarkan sosok Alhaitham. Kaveh lebih tahu, bahwa terkubur jauh di balik massa ototnya yang tidak perlu dan keras kepalanya itu, ada secercah hal yang menyerupai manusia dengan perasaan. Ia sendiri belum pernah melihatnya, tidak ketika nenek Alhaitham meninggal dunia, tidak ketika proyek penelitian pertamanya disetujui, tidak ketika dia berhasil lulus dari Haravatat, bahkan tidak ketika dia dipromosikan menjadi Panitera.
Ia belum pernah merasakan seluas apa jangkauan emosi Alhaitham, namun bila diizinkan menebak seperti apa rupanya, mungkin itu akan seperti sosok Alhaitham sekarang.
Dia membeku di tempat, bola mata kaleidoskopnya tenggelam dalam kekagetan murni dan mulutnya sedikit terbuka, seolah mengejar kata-kata untuk dilontarkan tetapi gagal untuk menangkapnya.
Dia terlihat begitu manusiawi.
Untuk sesaat lamanya, Kaveh cemas kalau ia telah membuat kesalahan. Ia berpikir keras mencari kesalahan penyusunan kata, Tighnari telah memberinya stempel persetujuan untuk mulai bertutur isyarat dengan Alhaitham. Walau belum selancar bahasa lisannya, ia cukup fasih untuk bisa mengemukakan maksudnya. 'Bisa diajak bicara,' itu julukan yang diberi Tighnari.
“Alhaitham? Kamu baik-baik saja?” Ia membuat isyarat lagi.
Masih tidak bergerak. Tiba-tiba ia jadi takut, hingga melambai-lambaikan tangan di depan muka Alhaitham. “Halo...? Ada orang tidak?” panggilnya. Ia terlambat menyadari bahwa dia tidak mungkin mendengar, tapi ia yakin Alhaitham bisa membaca bibirnya.
Nihilnya respons (atau tanda-tanda kehidupan) mulai membuat Kaveh stres dan ia pun meracau, “Aku tahu kamu bisa membaca bibirku, Alhaitham. Apa aku tidak peka memakai bahasa isyarat denganmu? Aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung kalau memang begitu, aku cuma mempelajarinya supaya bisa terus bertengkar denganmu, aku tidak menyangka kamu akan bereaksi sampai seperti ini. Aku akan berhenti kalau kamu mau—”
“Lakukan lagi,” bisik Alhaitham.
Kaveh nyaris tidak menangkapnya di antara racauan permintaan maafnya. “Hah?”
“Lakukan lagi,” kata Alhaitham; emosi yang tidak diketahui Kaveh mulai mewarnai kalimatnya. “Tolong buat isyarat lagi.”
Haluan yang berubah total ini membuat Kaveh pening. Apa dia marah? Sulit dipastikan, tapi dia belum mencoba membunuh Kaveh, jadi kemungkinan tidak.
Meskipun begitu, ia tidak yakin harus berkata apa, tapi cara Alhaitham menatapnya membuat ia berpikir keras mencari sesuatu untuk diisyaratkan. Ia memutuskan untuk kembali ke dasar dan memperkenalkan diri.
“Halo. Namaku K-A-V-E-H.”
Alhaitham menghirup napas dengan tajam, mengamati bagaimana jari-jari Kaveh membentuk kalimat yang hanya familiar baginya. Raut kekaguman tak terbendung lagi di wajahnya, seakan-akan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sendiri.
Kaveh baru membuat lima kata dengan isyarat, tapi ia bisa melihat bahwa itu bernilai jutaan kali lebih besar bagi sang Panitera.
“Halo Ka–” sebuah isyarat yang belum pernah dilihat Kaveh mengikuti sapaan itu. Alhaitham meraih kepala dan membuat gerakan menjepit, seolah-olah menarik setangkai bulu dari kepalanya. Perlu beberapa detik sebelum ia paham bahwa pasti inilah nama yang diberi Alhaitham untuknya, dan mungkin ditujukan pada setangkai bulu yang ia kenakan di rambutnya. Gerakan itu sangatlah akrab hingga nyaris terasa menyakitkan. “Namaku A-L-H-T-M.”
Sekarang giliran Kaveh yang jadi tersipu, karena ia hanya bisa membalas dengan lambaian tangan singkat dan malu. Ia tidak yakin harus berkata apa lagi setelahnya.
Beruntung, Alhaitham mengambil inisiatif. “Kamu mengerti SIBS?” dia bertanya.
“Ya, Tighnari mengajariku.”
“Kenapa?”
“Jelas, agar bisa berdebat denganmu.”
Tawa Alhaitham meletup, lalu dia mengangkat tangan untuk menyalakan kembali alat bantu pendengarannya. “Tentu saja, pasti itu alasanmu mempelajarinya.”
Ada sesuatu yang terbendung di matanya, dan Kaveh dapat merasakan dinding yang mulai terbangun kembali. Waktu singkat yang ia dapatkan mengintip ke dalam jiwa Alhaitham cukup untuk membuatnya ketagihan, dan ia rela melakukan apa pun untuk dapat selalu melihatnya.
“Itu bukan satu-satunya alasan,” ia menambahkan dengan terlalu cepat. Wajahnya memerah malu sebab ia terdengar putus asa. Ini sangat memalukan.
Tetapi harganya sepadan. Alhaitham memandangnya dengan hati-hati, dan Kaveh menelan harga dirinya untuk mengakui dengan suara pelan, “Aku mempelajarinya karena aku ingin kamu punya seseorang untuk diajak menggunakan bahasa isyarat. Meski kamu bisa berbicara normal, menurutku kamu berhak memiliki orang yang dapat diajak mengobrol dalam bahasa ibumu.“
Pernyataan itu sudah nyaris seperti pengakuan isi hatinya. Mana ada orang waras yang akan mempelajari bahasa lain hanya karena ingin berdebat dengan teman serumahnya. Komitmen seperti itu hanya diperuntukkan pada sejenis perasaan tertentu. Satu yang selama ini takut ia ungkapkan, namun sulit menyangkal cinta kala dia menatap padamu di depan mata.
Keinginan untuk melarikan diri itu besar, tetapi Kaveh memaksa dirinya untuk tetap diam, menunggu jawaban Alhaitham. Ia perlu tahu bagaimana perasaannya terhadap kalimat-nyaris-pengakuan Kaveh.
Alhaitham hanya mengangguk, memproses informasi tersebut. Kaveh dapat merasakan semangatnya mengempis. Ia sudah terlalu banyak bicara.
Setelah beberapa saat, Alhaitham membuat suatu isyarat. Isyarat itu masih asing bagi Kaveh, dan ia mengamatinya dengan teliti, berusaha menangkap maknanya.
Telapak tangan Alhaitham membuka, semua jarinya berdiri, kecuali jari tengah dan jari manis yang terlipat ke dalam. Itu terlihat menyerupai simbol rock 'n roll yang pernah ia lihat dibuat musisi aneh di sana-sini.
“Apa artinya?“ tanya Kaveh.
Senyum misterius yang tidak asing terulas di bibir Alhaitham. “Rahasia, aku yakin suatu hari nanti kamu akan tahu.“
Jawaban samar itu membuat Kaveh mendesah. Ya sudah, jika Alhaitham tidak mau memberitahunya, dia bisa simpan sendiri rahasianya. Kaveh menghargai privasi, beda dengan seorang Panitera berambut abu-abu.
Ia pikir itulah akhirnya, dan mulai bangkit hendak berganti dari pakaiannya yang masih basah. Bajunya mulai terasa lengket dan tidak enak di kulit, dan rasa menggigil di tubuhnya semakin tak tertahankan. Baru saja ia menjauh dari kursi berbahan kulit itu, Alhaitham menahan pergelangan tangannya.
Kaveh mengangkat sebelah alis ke arahnya penuh tanya.
“Aku akan memberimu petunjuk tentang arti isyarat itu, kalau kamu mengizinkan.“ Ada sekilas kegugupan yang terdengar.
“Baiklah, jawab rasa penasaranku.“
Alhaitham tidak mengatakan apa pun dan bangkit dari duduk, melangkah memasuki ruang personal Kaveh. Jarak yang membuatnya disorientasi, meskipun Kaveh sempat menaruh kaki Alhaitham di atasnya selama 20 menit ke belakang.
Ia dapat mencium aroma Kalpalata Lotus dan kertas tua dari jarak sedekat ini, dan sulit rasanya untuk tidak terpengaruh.
Kaveh khawatir jantungnya berdetak cukup keras hingga terdeteksi alat bantu pendengaran itu. “Kamu lumayan dekat untuk penjelasan ini, Alhaitham. Selukratif apa artinya sampai harus dibisikkan padaku?“
“Kamu terlalu banyak bicara,“ adalah yang dikatakan Alhaitham sebelum mengecup bibir Kaveh. Dengan efektif membungkamnya.
Setelahnya ia pun dapat memahami arti isyarat itu.
Beberapa saat kemudian, setelah Kaveh mandi air hangat dan akhirnya mengenakan baju yang hangat, Alhaitham mengundangnya bergabung dengan dirinya di kursi. Kaveh mengambil kesempatan itu untuk berbaring di atas sang Panitera, menempatkan dirinya di antara buku yang dipegang dan merebahkan kepala di dadanya. Kaveh menikmati bagaimana satu tangan Alhaitham menetap di punggungnya.
“Aku cuma punya satu permintaan untukmu, Kaveh.” Getaran suara rendah itu terdengar istimewa dari posisi ini.
“Apa itu, Alhaitham?”
“Demi segala hal sakral di dunia, berhentilah membuat mock-up di tengah malam. Bahkan setelah melepas alat bantu dengarku, aku bersumpah masih bisa mendengarmu mengetok palu di kamarmu. Akan kutendang ke jalan kalau kau tidak berhenti juga.“
Kaveh hanya tertawa dan memberikan ciuman menenangkan ke pundak Alhaitham. “Kreativitas tidak akan menunggu, sayang. Akan kuusahakan tapi aku tidak bisa janji.“
Alhaitham memutar mata, tapi tidak berusaha berdebat lebih jauh. Jika Kaveh sanggup belajar bahasa isyarat untuknya, dia sanggup belajar untuk mendengarnya.
