Actions

Work Header

Once Upon in Jail

Summary:

Suatu hari di penjara, tempat Lee Jeno baru saja ditahan, ia menemukan ranjang tingkatnya bergoyang pelan disertai rembesan hujan lokal. Ini pada ngapain sih?

Notes:

repost from wattpad biar akunku hidup. sekaligus kasih chapter 2 nya karena mendadak kangen bikin marknoren ngntd :((

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Malam Pertama

Chapter Text

"Ini selmu, sana masuk!"

'Santai aja kali' batin Jeno dalam hati tanpa meruntuhkan ekspresi masam ketika seorang sipir yang memimpin jalan sedikit mendorong tubuh bongsor ke dalam sebuah kurungan yang tidak terlalu kecil. Cukup untuk tiga orang dimana Jeno sekilas melihat ada satu ranjang bertingkat dan satu kasur tunggal berukuran serupa di seberangnya. Jadi dia punya teman sekamar nih, ceritanya?

Jeno masih menatapi sang Sipir yang membuka borgol di sekeliling pergelangan tangan, agak menghempas diselingi dengusan remeh sebelum mengunci pintu sel tersebut.

"Selamat bersenang-senang."

'Bersenang-senang apanya?' gerutu Jeno kembali lalu menggoyang-goyangkan kedua jemari agar lemas setelah sekian lama terborgol sejak sidang tadi pagi. Dia mengalihkan pandangan ke dua penghuni lain, diam-diam memperhatikan dari kasur masing-masing.

Belum ada percakapan mengalir, Jeno memutuskan menyeret langkah ke salah satu kasur yang tersedia yaitu ranjang bertingkat bagian bawah.

"Hai." sebuah kepala berambut hitam kepirangan muncul secara terbalik sehingga menampilkan kening yang menyilaukan mata sejauh memandang. "Nama kamu siapa?" lanjut pemuda itu mengajak berkenalan. Jeno menatapi manik rubah yang berkedip-kedip lucu, murni tidak punya maksud apapun selain menanyakan nama seorang.

"Jeno."

Si Rubah mengulum senyum, mencoba mengangguk walau agak susah dengan posisi seperti itu. "Namaku Renjun."

"Let him rest, Baby. Jangan ganggu dia dulu," Jeno sontak menoleh ke seberang ranjang, dimana lelaki lain berambut cokelat ikut menimbrung dengan intonasi menegur nan tajam. Sebetulnya dia cukup kaget saat mendengar panggilan yang terlontar, namun berusaha mengabaikan seraya kembali menaruh pandangan lekat-lekat ke manik rubah penasaran. Apa ya hubungan mereka berdua jadi sampai di tahap panggil 'Baby'?

Renjun menggembungkan pipi, berbalik ke posisi awal bila Jeno mendengar bunyi pergerakan serta decit ranjang di atas kepalanya. "Iya iya, selamat bobo Kak Mark."

"Hmm night too, Baby." jawab Mark setia memaku penglihatan ke kasur Renjun dengan tatapan sulit diartikan oleh si pendatang baru. Mereka tiba-tiba saling berpandangan dan lelaki yang disebut Kak Mark menggerakkan dagu sebagai isyarat Jeno dipersilakan rehat sejenak.

Lampu sel mendadak gelap, lebih tepatnya remang-remang diselingi bias cahaya bulan purnama melalui jendela tinggi di penjara. Jeno menatap langit-langit ranjang dimana Renjun nampak bergerak tak keruan tetapi diiringi dengkuran halus, ia juga menemukan Mark berbaring memunggungi dengan napas sangat teratur seolah mereka sudah terbiasa hidup mendekam di kurungan sempit untuk tiga orang seperti saat ini.

Sebuah hembusan napas terdengar meluncur dari lubang hidung Jeno. Pria itu menarik selimut tipis dekat kaki agar membaluti sekujur tubuh kekarnya sendiri. Hari pertama sejak dijebloskan ke penjara, mungkin akan sama saja baginya sampai masa hukuman berakhir.

***

.

.

.

SRAK.. SRAK..

"Hngh.. nghh.."

Entah pukul berapa Jeno terusik dari mimpi tetapi tidak ada keinginan membuka mata maupun memutuskan saluran alam bawah sadar kala telinga menangkap desisan halus. Suara itu terhenti sebentar, membuat suasana kembali hening, pertanda Jeno dapat melanjutkan alur mimpinya lagi. Dia mengecap-ngecapkan bibir, berbalik menelusuri imajinasi.

"Fuck.. nghh Kakak.."

"Pelankan suaramu, Dek." bisik Mark tidak mengacuhkan keadaan Renjun begitu ia menggenjot dalam-dalam. Liang kemerahan itu becek tidak terkira, menetes tak henti di atas seprei kasur tipis. Berapa banyak kubangan tercipta sejak mereka melakukan aksi menggebu-gebu di kasur tingkat, seolah-olah tak mengindahkan eksistensi penghuni baru yang terlelap pulas.

"Tapi... mmhh.. ini enak banget.." erang Renjun mencengkram kain kuat-kuat seraya menolehkan kepala, kedua lutut mulai terasa menyakitkan akibat gesekan setiap kali Mark maju mundur, menambah aliran listrik serasa menampar kelentit seorang. "he's so.. handsome.. I bet.. nghh he has.. a good dick."

Mark menghentikan tempo hingga tersendat, mengundang Renjun meredam desahan di bantal akan sensasi cenat-cenut liang kewanitaan pada sekujur batang keras. "Kurang ya?" lelaki tertua mundur perlahan-lahan sembari memberi tekanan kemudian menghentak kuat nyaris membuahkan kepala Renjun terantuk sisi depan ranjang. "burung Kakak kurang buat memek lober kamu hm?"

"Ngg-nggak. Nghh Kak ayo gerakk please.."

Sementara di kasur bawah, dahi Jeno mulai berkerut-kerut kebingungan pada getaran yang mengelilingi sekitaran. Kebetulan dia mimpi kena gempa, sibuk mencari tempat berlindung biar selamat dan tidak mati dalam bencana. Jeno masih menyerngit kala gempa mengguncang, beberapa orang saling berteriak menyelamatkan diri termasuk dirinya mengekor agar ada teman.

TES TES

"Nghhh!" Renjun menggigit bibir begitu gelombang klimaks datang menyeruak dari lubang kemih. Posisi dia terlalu maju melewati ranjang sehingga organ intim yang mengucur bak air hujan otomatis mendarat di seprai hingga ke kasur yang tak kalah tipis jua. Rupanya serapan tersebut entah bagaimana caranya berhasil menetes membasahi Jeno yang terlelap nyenyak.

"Rasain sendiri nih," gumam Mark melepaskan penyatuan, menontoni liang merah mangap-mangap setelah sejam disumpal penis tebal ditambah lendir bening mengalir tiada hambatan. Renjun mengarahkan lengan kiri ke belakang, meraba sekeliling kemaluan, mendesis keenakan ketika tiga jari lentik masuk merasakan dinding memijat sekujur digit. "lober kan?"

"Iya.. nghh iyaa.. mau lebih melar lagiii.." desah Renjun sengaja mengocok digit-digit lentik kemudian menambahkan ibu jari dan kelingking seakan tidak cukup sama sekali. Mark mendengus, melempar ludah mengenai area mana saja kemudian menggenggam dua pipi pantat nan montok tersebut buat dibuka lebar-lebar. "Kakakk aahh!"

Tidur Jeno mulai terusik. Guncangan gempa ditambah tetesan air hujan secara tidak mungkin menimpa dirinya yang kebingungan walau berada di mimpi. Alam sadar mengambil alih, bertepatan ia membuka kelopak pelan-pelan lalu terperanjat saat tetesan kembali mendarat tepat di hidung mancungnya.

"Apa nih." batinnya mencolek bekas itu untuk diendus. Tidak ada aroma, tidak ada rasa, tapi anehnya menetes berulang-ulang. Siapa yang bocor nih? Masa atap penjara sepayah ini jadi Jeno yang tidur di tingkat bawah kena juga? Di luar juga nggak ada suara hujan. Terus si Renjun gimana?

Mempekerjakan penglihatan di antara kegelapan, Jeno tidak mendapati sosok Mark di kasur seberang. Justru sewaktu dia setia dilanda kebingungan oleh kejadian tidak diakal, telinga tajam menangkap lirihan serta getaran ranjang tingkat lagi-lagi bergoyang pelan.

"Ahh! Kakak.. aahh!"

"Shhh.. Kakak belum keluar."

Jeno nggak polos ya. Jeno tahu pakai banget konteks lirihan yang sedang ia dengar. But, really? On his bed?! On his first night in prison? Benar-benar tidak bisa dipercaya. Manik sipit sayu itu terbelalak, membeku di posisi rebahan seraya merasakan ranjang makin bergoyang tak keruan. Sebisa mungkin Jeno memperbaiki letak suara kemudian berdehem keras-keras.

"Bisa nggak pikirin orang lagi tidur?" sebetulnya dia cuman kepingin menggertak sambal, tetapi tak menyangka respon Mark berhasil menampar pipi tirusnya bolak-balik secara tak kasat mata.

"Kenapa? Mau join juga?"

Muka Jeno merah padam dalam kegelapan, hidung mancung kembang-kempis, kembali disuguhi erangan Renjun yang semakin nyaring layaknya kucing kawin. Ranjang sudah pasti bergoyang mengikuti genjotan Mark diselingi bunyi plak.. plak.. plak.. dari kulit telanjang. Bah. Luar biasa malam pertama Jeno di sel sudah ditodong sama suara-suara erotis yang sayangnya membangkitkan syahwat sendiri.

Perlahan-lahan celana oranye membentuk tenda seiring kejantanan Jeno ikut terbangun seperti pemiliknya. Desahan Renjun bertambah volume, kini patah-patah serupa dengkingan anjing. Eung.. eung.. eung dilanjutkan BYURRR keras. Oh, tetesannya kembali bocor mengenai badan Jeno di bawah ranjang atas.

"Udah berapa kali kamu keluar, hmm? Tega ya ninggalin Kakak melulu," tegur Mark tidak senang melihat Renjun gemetaran dari paha sampai ke tungkai. Penyatuan mereka terus menerus lepas lantaran Renjun dilanda klimaks hebat. Si Cantik tersengal-sengal sembari membalikkan badan, capek rasanya menungging disaat lutut tergesek material seprei.

"Bentar Kak.. aku capek hnghh.."

"Baru segini kamu udah capek? Terus kalau Jeno ikut masuk kamu langsung pingsan gitu?" Mendengar nama dia disebut-sebut apa tidak merangsang burung di dalam celana. Jeno tuh bimbang mau ikut atau mempertahankan harga dirinya tapi mendengar Renjun merengek setelah Mark bertanya, kayaknya tidak masalah melampiaskan ketegangan sejenak.

"Mau nghh.. mau burung Mas Jeno."

Tiba-tiba Jeno telah menaiki tangga ke kasur atas, mendapat atensi dari kedua lelaki di sana terutama dari Mark yang tersenyum miring seakan mengatakan bahwa Jeno munafik bila menolak penawaran. Jeno setia memasang wajah datar agar tidak terlihat antusias, menurunkan celana menggembung tersebut hingga kejantanan di atas 15 centi menyapa udara.

Renjun menegak ludah, iya kan, apa dia kata, Jeno memang punya tytyd tak kalah menarik dari Mark. Tebal, panjang, penuh urat di sekeliling batang dengan kepala jamur bersunat warna ranum bila ditelisik lekat-lekat dalam keremangan cahaya bulan. "Fuckk please please!! Rusakin memek aku please!!"

Mark bergeser sedikit agar memberi ruang, mempersilakan Jeno merasai sarang yang sering menghangatkan burung seorang. "Be my guest."

Lelaki surai hitam menatap selangkangan mulus lamat-lamat, mengulurkan tangan demi mendaratkan jemari kasar maupun telapak di atasnya. Segala yang berada di sana sangat basah, entah karena anak mani Mark atau lendir pelumas alami milik Renjun yang berceceran.

"Sepong dulu." Jeno bersuara, tidak bermaksud membuat intonasi rendah tetapi sukses menggetarkan rambut-rambut halus di permukaan kulit polosan. Renjun tergesa-gesa bangun, menumpu badan pakai lutut seraya berhadapan sama barang raksasa penghuni baru. Keringat di kulit tak diindahkan, sibuk menjilati sekujuran batang.

Aroma maskulin sangat melekat di parasan, buat Renjun basah dan mabuk kepayang. Kelopak mata berkedip-kedip seiring benda lunak terbalur saliva mendarat tepat di gurat nadi bermunculan. Jeno mendesis tak sabar, meraih surai hitam kepirangan secara gamblang melesakkan kemaluan di atas lelaki normal melalui rongga makan.

"Ohhkkk!"

"Lambat amat, pakai dijilat-jilat segala." gerutu lelaki surai cepak sekalian meremat helaian rambut si Cantik dalam satu genggaman kuat. Pipi tembem tampak menggembung akan kepala jamur yang menonjol dari sana, menyebabkan seringaian lebar terpampang gagah di wajah Jeno. "kepenuhan? hmm? suka mulutnya dipenuhin kayak gini?"

Renjun mencoba mengangguk antusias, memainkan lidah di dalam, sebelum tersedak lagi akibat gerakan tiba-tiba Jeno yang mendorong pinggul lebih jauh. Air mata bercucuran di pelupuk, hidung kembang-kempis meraih oksigen sementara kepala seorang tak berdaya ditahan oleh pemuda di hadapan.

"Udah sering kalian gini?" tanya Jeno berbasa-basi ke arah Mark yang duduk santai mengocok kejantanan sendiri lambat-lambat, biar nggak keluar cepat. Lelaki lebih tua menyengir, menaik-turunkan alis sebagai jawaban. "emang sipir pada nggak tahu?"

"Kadang mereka ambil giliran," jawab Mark mengangkat pundak seolah-olah sudah terbiasa dengan aksi nyeleneh mereka saat ini. "Renjun suka dipake tapi anehnya dia selalu bersih."

"Bagus juga," sahut Jeno tanpa menghentikan gerakan pinggul buat menyodok dinding kerongkongan lelaki manis yang nakal tersebut, "used good, used good."

"Untung nggak bisa hamil," selagi Renjun mempertahankan posisi menungging, Mark berlutut tak jauh dari tangan kirinya, bak mengisyaratkan ingin dipuaskan jua. "sepong gantian, Dek."

Renjun mengangguk lalu melepaskan penyatuan sampai air liurnya terputus di palkon Jeno. Dia menarik napas panjang kemudian mengulum punya Mark dengan senang hati bersamaan tangan kanan mengurut penis Jeno naik turun.

"Mau langsung dua atau sendiri-sendiri?" Mark terdengar memberi penawaran.

"Dhuaa-" balas Renjun agak susah payah lantaran mulut mungilnya masih kesumpal organ gendut.

"Hmm," Jeno menggumam seraya berpikir sesuatu, "pantatnya bersih nggak?"

"Njir, kamu main belakang?"

Jeno mendelik sedikit sinis, "Kenapa memang? Aku bisex, nggak peduli depan belakang, yang penting cantik," jawabnya sembari menatap Renjun yang mendadak merona merah. Tersipu sebab dipuji oleh orang asing. Sekali lagi, Jeno nggak mengelak sewaktu disuguhi selangkangan Renjun, apalagi air muka lelaki itu ketika mengulumnya. A thousand out of ten kalau Jeno disuruh menilai.

"Santai, santai," pemuda tertua di sana cengengesan, melepaskan Renjun dari kejantanan, menyuruh submisifnya berbaring. "dia bersih aja kok, pakai dua-duanya nggak masalah,"

"Tapi mau disumpal dua!" protes Renjun mengerucutkan bibir sembari menyamankan posisi, kedua tungkai dilebarkan demi memamerkan liang kemerahan yang terbuka. Mark tega melayangkan tamparan tepat di klitoris yang menyembul tak tahu malu mengundang rengekan manja.

"Behave. Masih untung Kakak iyain maumu, Baby." lelaki surai cokelat lagi-lagi mempersilakan Jeno mengeksekusi duluan. Dia mah sudah tadi satu jam menghangatkan burung seorang tanpa keinginan keluar, palingan hanya ada anak mani di sela-sela dinding satin bercampur lendir basah milik Renjun sendiri.

Melihat bagaimana Jeno mulai mengurung tubuh kecil tak berdaya Renjun, membuahkan detakan jantung yang luar biasa cepat hingga mencapai gendang telinga si Cantik. Rona merah tidak berhenti berseliweran, menambah kemolekan Renjun begitu mereka saling beradu tatap. Jeno menunduk mendaratkan kecupan, dibalas tak kalah antusias oleh sang empunya ranum kenyal. Sekejap mereka memagut dengan tempo menggebu-gebu sekaligus Jeno menuntun adiknya masuk.

"Hngh!" Renjun tak sadar menggigit bibir bawah pria gagah itu, kepala jamur sedikit lebih gendut dari punya Mark berulang kali gagal masuk sehingga hanya menggesek di antara labia maupun kelentit keras. Renjun menggapai si batang, ikut membantu sampai palkon melesak sepenuhnya. "fuuuccccckkkkkk!" erangnya panjang kala liang kembali terasa berkedut.

"Not bad." gumam Jeno di bibir terbuka lalu menyeringai lebar. Organ basah yang ia masuki tidak sempit tidak juga melar meski tadinya disumpal, pijatannya sedap, nggak kalah dari cewek-cewek yang pernah digagahi, tapi mungkin milik Renjun terlalu becek akibat si Cantik sangat terangsang sejak menghangatkan tytyd Mark satu jam lalu. "sanggup kalau dua?"

"Sang-gup.. nghh.. sanggup.. fuck Mas Jeno gede hueee.."

Belum digenjot, belum separuh masuk, Renjun telah memohon agar Jeno bergegas menggaruk kemaluan yang bocor tidak tahu malu. Merasakan diameter setebal kaleng minuman soda meregangkan liang, nyaris mencairkan isi otak seorang. Ini baru Jeno, gimana kalau kombinasi Mark dan Jeno? Apakah lubang dia bakal kayak ibu-ibu melahirkan? Kayaknya nggak se-ekstrem itu sih, tapi layak buat dicoba.

"Genjot aja dulu sampe dia ngucur," celetuk Mark cukup tertarik kala menontoni Renjun gemetaran hampir seluruh badan padahal Jeno masih diam di posisi sekarang, segitunya Renjun pingin memeknya dirusak, sampai merem-melek mata rubah terhadap sensasi direnggangkan penis teman satu sel mereka. "ntar baru deh kita masukin bareng."

"Hm." itu saja balasan Jeno sebelum akhirnya anak orang digoyang brutal tanpa ampun. Tanpa babibubebo, kulit pinggul Jeno satset menabrak panggul Renjun. Bunyi plak, plak, plak, menggema di penjuru sel. Entah apakah akan membangunkan narapidana lain, Jeno nggak mau ambil pusing sebab air muka Renjun benar-benar menyita perhatiannya saat ini.

"Aah! Aahh! Mas Jeno! Nghh! Klit aku! Tarik! Mmhh!"

"Dia emang seribut ini ya?" tanya Jeno sedikit jengah namun tetap mempertahankan tempo pinggul sembari melayangkan cubitan di kelentit yang mulai memanjang, erangan lantang kembali berkumandang, bersamaan aliran bening menyembur kencang. "shit. Bilang-bilang dong kalau squirting,"

Mark terkekeh kecil, menjepit lipatan kenyal pemuda kesayangan biar lubang kemihnya tertutup meski masih kelihatan memancur, Renjun semakin gelisah, mendengking kecil sehingga menyembur sedikit-sedikit membasahi figur kekar Jeno yang menggoyang konstan. "Sensitif banget, belum juga dua menit."

"K-kan aku dah bilang anghh! Ah- ahh- nghh!" protesan Renjun tidak berlanjut lantaran Jeno setia maju mundur cepat tiada ampun. Lelaki rambut hitam menggeram rendah, menikmati pijatan demi pijatan yang membungkus organ besar, berhasil menyundul selaput rentan di dalam, belum lagi lendir melicinkan jalan keluar masuk, makin nyaring bunyi becek di liang.

Cukup lama Renjun diobok-obok, bibir dia membengkak senada sama daging rentan di bibir bawah. Lubangnya terasa dipercik api, panas akan gesekan benda tumpul nan padat. Jeno berhenti begitu bola kembar mengencang menandakan ingin keluar, mencabut adik kebanggaan, mundur memberi ruang kepada pria tertua di kanan.

"Bangun, Dek."

Renjun merengek pelan, tak mampu menggerakkan anggota badan usai digagahi secara brutal. Gila aja tenaga Jeno bener-bener nggak ada lawan, dia sudah kecapean menghadapi gelagat Mark, eh Jeno juga nggak main-main soal performa.

"B-bentar nghh memekku atit.."

Mark berdecak sebal, "Tadi katanya mau dua, giliran dikabulin malah ngeluh." Renjun mengerucutkan bibir, mencoba bangkit pelan-pelan meski tulang ekor dan organ di selangkangan berteriak kesakitan. Lelaki surai cokelat merebahkan badan, penis mengacung tegak seraya menarik Renjun dalam sekali hentakan agar berjongkok di atasnya. "nungging. Kasih liat Jeno."

Sambil menghembuskan napas panjang, Renjun menuruti perintah, mengukung Mark memakai dua lutut, menopang badan sendiri tepat di atas wajah tak kalah tampan. Ia terkesiap kaget begitu menemukan pantatnya diunyel kasar oleh telapak tangan besar.

Jeno bukan tipikal cowok yang berisik kalau lagi berhubungan, geraman di tenggorokan sudah jadi sinyal bila ia menikmati permainan. Menontoni kerutan merah muda berkedut-kedut kecil rupanya menarik perhatian dia buat meludah ke sana. Seuntai liur mendarat tepat, rakus dilahap bersamaan desahan kecil.

"Mas Jeno nggak mau masukin aku?"

"Mau dua-duanya," jawab Jeno pendek sewaktu Mark mulai membimbing burungnya masuk, tiada hambatan, mulus akibat renggangan serta pelumas yang tidak habis-habisnya menitik macam kran bocor. Mark berdiam sejenak, membiarkan Renjun menggelinjang keenakan setelah saluran depan dipenuhin lagi. "yakin bisa nih?" Jeno terdengar bertanya, sontak menyusupkan dua jari tebal dengan mudah di samping kejantanan, lalu perlahan mendorong dinding satin tersebut agar aksesnya lebih lebar.

"Ahh! Too much! Too muchh! Tapi enakkk fuckk!" jerit Renjun terhadap perlakuan, benar kan dugaan dia, apa liangnya bakal melar kalau Jeno beneran masuk? Ini baru dua jari sama-sama burung Mark, terus tadi pas punya Jeno udah sesak minta ampun. Renjun masih bisa mundur nggak ya?

"Kamu yang minta, Dek." tegur Mark melayangkan tamparan di pipi pantat hingga membekas telapak nan merah menyala, membungkam ringisan Renjun terutama saat mereka beradu tatap. "you asked for this, remember?"

Renjun manut-manut cepat, menoleh ke belakang dengan tatapan supaya Jeno lekas melakukan. "Please Mas.. masukin.. penuhin memek Injun.."

Jeno tidak menjauhkan dua jari, sebaliknya ia gunakan buat melebarkan ruang biar penisnya muat. Palkon mulai gelisah, Renjun seorang pun juga resah tak kunjung dimasukkan. Mark mengalihkan fokus dengan beradu bibir sesama bibir, menelan desahan sendiri kala kejantanan lain saling bergesekkan dengan miliknya.

Pemuda cantik itu tidak dapat menjelaskan sensasi dua batang hampir serupa memenuhi kemaluan sempitnya. Rasanya kayak disulut api, menjalar ke seluruh saraf, tapi di atas ambang kenikmatan. Lendir berbondong-bondong membasahi, mengalir di sekujur organ tebal yang belum ada keinginan bergerak gantian atau bersamaan.

"Sumpah.." desah Renjun mencengkram seprai di samping kepala Mark, ia mengatur napas, lebih cepat lewat mulut dibanding hidung, kelopak mata berkedip-kedip lucu, menerpa muka Mark dengan napas memburu. "kayaknya kalau kalian gerak aku udah ke surga deh."

"Mana ada surga nerima pelacur kayak kamu," sahut Mark mendengus, ia berusaha mempertahankan klimaks, daritadi paling sabar nunggu meledak di sarang kesayangan. "Tuhan pas liat kamu nungging kayak anjing birahi gini, langsung nyuruh malaikat catat namamu jadi penghuni neraka."

Jeno tertangkap tengah tertawa kecil, menyebabkan Renjun memasang air muka cemberut lalu menggigit bibir Mark lumayan keras walau tak sampai berdarah.

"Gini-gini juga lacurnya Kakak kan."

"Lacur semua orang kamu mah,"

"Ah berisik! Aku duluan." sambar Jeno gondok lama-lama mendengar adu argumen kedua napi, tanpa menunggu kemaslahatan Mark, dia sudah memundurkan pinggul baru menyodok dalam-dalam. Mark jadi bingung mau bergabung gimana sebab Renjun di atasnya telah tertandak-tandak mengikuti ritme Jeno di belakang. Susah cuk ternyata.

"Ah.. ahh.. Kak M-Mark.. kapan.. nghh.."

"Kakak gak bisa gerak, shit kenapa memekmu malah ketat, Ren, harusnya kan lober."

"Mau lober?" Jeno mendadak melepaskan penyatuan sehingga Renjun menjerit kecewa akan kekosongan, nggak lama kok, sehabis itu dia berteriak kaget pas Jeno masuk di lubang lain, sebuah listrik seolah menyambar tulang ekor Renjun, dan rasa terbakar itu kini hinggap di pantatnya sekarang. "gerak Mark." suruh si penghuni baru setelah berhasil menyusupkan puncak berbekal untaian liur sebelumnya.

Mark cengo dulu beberapa detik buat mencerna, baru paham konteks 'lober' yang dimaksud Jeno usai menemukan liang Renjun tidak sesempit waktu burung Jeno ikutan. Oh hooo. Kalau begini mah dia bisa leluasa menggenjot Renjun dari bawah.

Desahan terus-menerus lolos dari pita suara Renjun. Dua lubangnya dihujam bareng-bareng, menaikkan libido lelaki cantik itu. Tubuhnya bingung mau mengikuti hentakan yang mana, tapi berujung lemas di dekapan Mark sembari mengerang patah-patah.

"Oh Kak! Ohhh deket hnghhh dekeett.." peringatnya di tengah-tengah permainan, Jeno kembali mencabut sang adik di saluran belakang, menyemplung lagi di liang depan tanpa pemberitahuan, menyebabkan pinggul Renjun menegang disusul semburan hangat mengotori selangkangan.

"Sebanyak apa dia minum jadi kencing melulu?" komentar Jeno antara takjub sama heran beda-beda tipis. Pantat Renjun kena tampar, diganyang bak adonan roti, lalu Jeno bergerak lagi menyamakan ritme Mark, tidak mengacuhkan sesensitif apa Renjun setelah klimaks.

"Itulah bakatnya," sahut Mark sesekali mendesah kecil terhadap sempitnya sarang. Jeno sengaja menjebloskan dua jari di lubang belakang, mengocok si saluran senada gerakan penis seorang di kemaluan serakah.

Renjun nggak bisa protes pakai kalimat verbal, cuman ada silabel ah-ah-ah setiap kali dua pria gagah di sana menghujam bersamaan. Kepala mendadak kosong, mulut mungil terbuka diselingi untaian liur jatuh mengenai dagu Mark yang bodo amat, bola mata memutih, hanya merasakan kenikmatan serta kesakitan menjadi satu komponen utuh yang diserap oleh peredaran darah.

"Ouh shit, aku keluar duluan deh, capek juga nahanin dari tadi," gerakan Mark jadi lebih cepat hingga Jeno tak dapat mengimbangi. Lelaki tertua mencengkram pipi bokong yang bergoyang bak jeli agar Renjun tidak kemana-mana selagi dia mengejar pelepasan. Kali ini Jeno gantian bergeming, menikmati gesekan antarorgan dengan dua jari masih maju mundur syantik di anal, menaikkan intensitas teriakan Renjun, serta gelombang orgasme kesekian kalinya membasahi bagian bawah Mark.

Pinggul Mark jadi sendat sesaat ia klimaks, untaian putih yang lama tertunda sigap memenuhi setiap celah dinding satin yang berdenyut sangat cepat di sekujur dua batang. Renjun merasa benihnya tembus sampai ke tenggorokan walau tidak mungkin. Si Cantik mengerang panjang, gemetaran bagai diterpa gempa lokal di seluruh anggota gerak. Usai Mark selesai dan perlahan-lahan loyo, tautan mereka terlepas menyisakan punya Jeno setia menangkring di liang.

Tidak memberikan rehat bagi Renjun, Jeno sudah menariknya agar terduduk di pangkuan. Lelaki surai hitam kepirangan melolong keenakan terhadap kedalaman yang ia terima, refleks menyandarkan kepala di pundak kokoh pria yang memangkunya. "Mas Jeno ayooo keluar jugaa becekin memek Injun.."

Jeno mendengus pelan seusai dipinta, menempelkan dada terbalut seragam oranye pada punggung telanjang. Kedua tangan berurat nadi kebiruan mencengkram paha Renjun sembari menggenjot ke atas, sudah pasti pemuda binal itu berteriak lepas memanggil nama Jeno tiada henti layaknya sedang memanjatkan doa.

Sungguh, malam pertama yang ricuh dan mengherankan buat Jeno si anak baru. Seharusnya dia menggerutu kebosanan setelah divonis hukuman penjara selama 25 tahun, tetapi sepertinya hal tersebut tak mungkin terjadi apabila punya teman sekamar nggak waras macam Renjun dan Mark sekarang. Lihatlah pria rambut cokelat itu, baru juga keluar tumpah-tumpah, malah terangsang lagi melihat Jeno menghancurkan pelacurnya.

"Enak kan Jen?" Si Mark berani tertawa haus validasi, sedangkan Jeno tak langsung menjawab selain menggigit cuping telinga Renjun yang tertandak-tandak mengikuti genjotan. "kamu beruntung masuk sel ini, karena bisa nikmatin Injun sepuasnya."

"Ahh! Ahh! Mas Jen- mmhh!"

Beberapa kali tusukan maupun hentakan keras, Jeno mengisi ruang becek tersebut dengan mani seorang. Berapa lama ya dia nggak main sama lubang kalau keluarnya tak kalah banyak dari Mark? Renjun ditemukan menggelinjang dalam cengkraman sebelum mengompol hebat sekaligus mengeluarkan cairan yang ia tampung di saluran.

"Ya ampun, kamu kencing gini nggak mikir apa ranjangku gimana?" ketus Jeno berkerut-kerut kesal kemudian mendorong Renjun ke arah Mark, menyebabkan tautan mereka lepas serta ia mendapati kubangan urin mencetak di seprei kasur. Sudahlah, pasti rembes ini ke bawah.

"Besok palingan diberesin sama Sipir," ujar Mark sembari menguap, entah jam telah menunjukkan pukul berapa namun semestinya ini mendekati waktu fajar. "ya diomelin dikit lah."

"Orang gila." komentar Jeno lalu memasukkan adik besarnya ke dalam celana jingga, ia memandang Renjun yang terbaring pasrah di atas badan Mark kemudian bergegas menuruni tangga. "pinjem kasur."

"Lah sialan! Balik ke kasurmu sendiri woy!" protes Mark kala Jeno gesit meloncat ke ranjangnya. Pemuda surai cepak tak mengindahkan sumpah serapah, sebaliknya ia memberikan punggung pada dua orang di ranjang atas demi melanjutkan mimpi yang sempat terhenti akibat kebocoran lokal.

Malam pertama di penjara, nggak terlalu buruk juga ternyata.

***

Little Information

Catatan Kriminal

Mark : penjara seumur hidup, salah satu tersangka pembunuhan berencana

Renjun : penjara seumur hidup, termasuk dalam komplotan Mark, awalnya mereka pisah lapas, cuman Renjun berhasil nyogok sipir pakai badan biar sekamar sama Mark.

Jeno : 25 tahun bebas bersyarat, ketangkap merkosa cewek pakai obat-obatan terlarang (padahal kata Jeno, ceweknya yang mau kenapa dia yang dijebloskan ke penjara, heran).

©️Finn