Work Text:
Selimut tebal, minuman coklat hangat, dan tontonan drama yang sudah lama berjamur di ‘wishlist’; menjadi perpaduan yang sempurna bagi Euijoo khususnya di malam hujan lebat seperti saat ini. Boneka ponyo ia peluk erat sebagai pelampiasan emosinya supaya bisa ia remas, remuk, pukul, atau bahkan untuk menyembunyikan wajahnya setiap ada adegan yang romantis membuat gemas. Lampu kamarnya pun sengaja dibuat remang agar lebih syahdu seperti menonton di bioskop.
Dirinya tenggelam dalam drama yang ditontonnya seolah-olah ia menjadi orang ketiga di dalam sana. Namun, fokusnya terguncang ketika ia mencium aroma segar seperti orang yang baru selesai mandi. Ia melirik sedikit karena aromanya semakin kuat. Ah, nico udah pulang .
“Lagi nonton apa?” tanya yang berambut pirang, seenak jidat meraih salah satu earphone nirkabel Euijoo dan mengambil posisi nyaman dengan memeluk pinggang ramping pacarnya.
“Drama,” jawab Euijoo santai tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.
“Hm… aku pulang nggak disambut?” Nicholas, sosok yang berambut pirang, menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Euijoo dengan manja.
“Okaeri.”
“Udah gitu aja?”
Salah satu tangan Euijoo terangkat mengelus kepala Nicholas yang bertengger di bahunya. “Sugohaessoyo,” ucapnya datar.
Nicholas mendengus sebal, “Dingin banget. Udah aku keujanan terus punya pacar juga dingin kayak es batu. Lama-lama aku hipotermia.”
Euijoo hanya tertawa kecil. “Maaf, maaf… udah makan belum?” nadanya tulus, tapi lebih tulus tatapannya kepada aktor dan aktris di layar hadapannya.
Nicholas memutar dagu Euijoo supaya menatapnya. “Look at your opponent when you're talking, cutie.”
“Udah makan belum?” Euijoo mengulang pertanyaannya lagi sesuai permintaan pacar manjanya itu. Kali ini ditambah senyuman tipis.
“Belum~” Nicholas merajuk dibuat lucu, meskipun dia sendiri benci dibilang lucu. “Aku makan kamu aja gimana?” Nicholas mendekat ingin meninggalkan jejak di leher Euijoo sebelum empunya berhasil lebih dulu menepisnya.
“Apa sih ah.”
Nicholas cemberut tapi tetap kembali memeluk kesayangannya. “You’re so cruel to me.”
Euijoo menghela napas panjang, sangat panjang hingga ia harus menghentikan sebentar tontonannya.
“Aku pesenin makanan ya.” Euijoo meraih ponselnya dan membuka aplikasi pesan-antar makanan online. “Mau makan apa? Chicken? Pizza? Sup?”
Nicholas menatap lapar pacarnya yang sedang menggulirkan layar ponsel. Mulutnya ia dekatkan ke telinga Euijoo dan berbisik dengan suara rendah. “You, cutie. I want to eat you.”
Euijoo bergidik dalam diam. Berusaha tetap tenang. “Nggak boleh, besok pagi kita ada—mmhh!”
Sebelum Euijoo dapat menyelesaikan ucapannya, bibirnya lebih dulu dikuasai oleh Nicholas.
Nicholas menyesap bibir Euijoo dan menggigit bibir bawahnya yang membuat Euijoo merintih dan membuka mulutnya. Muncul kesempatan maka Nicholas menarik tengkuk leher Euijoo lalu membawa lidahnya untuk masuk ke rongga mulut pacarnya dan bermain-main di sana. Samar-samar Euijoo merasakan rasa mint di indera pengecapnya akibat Nicholas yang pasti habis sikat gigit saat mandi tadi.
“Eungh–” Euijoo melenguh belum siap dengan ritme permainan Nicholas yang cepat.
“Mmh~”
Nicholas menarik dirinya sejenak setelah menjilat bibir Euijoo yang belepotan akan saliva. “Chocolate ? I like it.”
“I-itu,” Euijoo buru-buru angkat bicara karena melihat tanda-tanda bibirnya akan diserang kembali. Ia membuka tangannya di depan dada Nicholas sebagai perisai untuk menghadangnya. “Itu minum aja langsung dari gelas—”
Barang siapa yang bersabar, maka itu bukan Nicholas. Belum ada 5 detik, ia kembali berlabuh di mulut Euijoo. Mengisap, mengemut, membawa lidahnya untuk merasakan setiap sisi di ruangan mulut Euijoo yang hangat dan manis. Suara decakan lidah dan lenguhan yang paling banyak diciptakan oleh Euijoo mengisi ruangan, mengalahkan suara hujan di luar.
Bergerak seperti profesional, seketika dirinya sudah di atas Euijoo dan mengurungnya tanpa memisahkan pagutan. Laptop Euijoo yang malang ia singkirkan pelan dengan kakinya, asalkan tidak jatoh, ia pastikan. Nicholas menekan tengkuk Euijoo dan mengubah posisi kepalanya ke kanan-kiri, mengeksplorasi sudut sensitif pacarnya.
Euijoo meremas bahu tegap Nicholas karena kelelahan akibat nafsu pacarnya seperti bocah baru memasuki pubertas. Ditambah, sudah bukan rahasia lagi kalau tenaga Nicholas berkali lipat lebih besar daripada dirinya.
“Eumh! Mmh!”
Erang Euijoo memohon oksigen di tengah cumbu panasnya. Ia memukul bahu Nicholas, membuat empunya membuka mata dari yang awalnya tertutup saking menikmatinya.
Tatapan Nicholas berkabut di tengah remangan cahaya melihat nanar kesayangannya berada di bawah kurungannya. Euijoo yang megap-megap, deru napasnya tidak karuan, bibirnya basah mengkilap, dan matanya yang kehilangan arah sedikit berair. Wajah kelelahannya sungguh menggoda superego Nicholas. Seketika dirinya semakin antusias seperti melihat dessert . Nicholas menjilat bibirnya sebelum menyatukan kembali dengan bibir Euijoo. Memilin lidahnya dengan punya Euijoo hingga terbuai.
Di sisi lain, Euijoo sudah mabuk. Bagi dirinya yang toleransi alkoholnya tinggi sekalipun, ciuman Nicholas tentu lebih memabukkan. Pikirannya melayang dan rasanya ia ingin menyerahkan diri sepenuhnya saja kepada Nicholas. Namun, masih ada sedikit kesadaran yang mengingatkannya akan aktivitas grupnya besok. Maka Euijoo memukul bahu Nicholas lagi dengan tenaga seadanya. “Mmhh! Semmhtar!”
Nicholas melepaskan tautan bibir mereka. Mengatur napas pelan-pelan dan menatap sayu yang berada di bawahnya. Nicholas menyeringai kala menatap Euijoo yang menutup mulut dengan telapak tangan terlihat engap-engap. Semburat merah bermekaran di wajah pacarnya sampai ke ujung telinga bagaikan buah stroberi favoritnya. Sungguh, semua yang dilakukan Euijoo itu gemas di mata nicholas. Namun, tetap saja, Euijoo yang menjadi lemah dan submisif dibawah kuasanya adalah hal yang menggemaskan nomor satu.
Tidak ada satupun orang yang tahu ekspresi Euijoo ketika di bawah dominansinya. Mengingat fakta tersebut kembali, membuatnya diam-diam senang karena merasa menang. Yah, pada dasarnya memang Nicholas benci kekalahan sehingga ia ingin selalu menang.
Punggung tangan Euijoo yang dipakai untuk menyembunyikan mulut, Nicholas bawa ke pipinya dan ia cium pelan sebelum ia mendusel di sana. “Oh, you’re so pretty, my Juju .” Penuh penekanan dan posesif ketika menyebutkan nama kesayangan yang diberikan olehnya untuk Euijoo.
Salah satu tangan Nicholas menyelinap tanpa permisi ke dalam kaos yang dikenakan Euijoo dan mencengkram pinggang ramping pacarnya. Jari-jarinya bergerak lihai mengelus kulit Euijoo dari bagian tubuh atas hingga bawah dengan pola tidak beraturan. Tubuh Euijoo berkedut merasakan sensasi gelitik di area perutnya.
Euijoo belum sempat mengumpulkan kesadaran sepenuhnya tetapi Nicholas sudah lebih dulu ‘memakan’nya lagi. Bisa-bisa ia dilahap habis betulan!
“Mmhh- Nico!” rintih Euijoo, memberontak sedikit meskipun tidak ada gunanya karena ia tidak memiliki banyak tenaga yang tersisa. Nicholas membawa kedua pergelangan tangan Euijoo ke atas kepala pacarnya itu dan memborgolnya hanya dengan satu tangannya. Kemudian, ia menjilati daun telinga pacarnya sebelum turun ke leher.
“Jangan- hah…hah… digigit…” Euijoo merintih.
Nicholas melihat Euijoo di bawahnya dengan mata sedikit terbuka sambil memohon seperti kelinci yang ketakutan akan dimakan serigala. Mata sayu Euijoo sangat menggoda, bibirnya yang membengkak akibat ulahnya juga sangat menggoda. Nicholas menggigit bibir bawahnya menahan sesak sesuatu dibalik celana dalamnya yang terbangun.
fuck.
Di sisi lain, Euijoo yang tidak berdaya, melirik kekasihnya dengan penglihatan yang agak buram. Matanya mendelik tajam menatapnya. Dahinya mengkerut seperti kekasihnya memasuki zone . Deru napasnya tidak berbeda dengan dirinya, namun alih-alih terlihat capek, kekasihnya itu justru terlihat membara. Euijoo bergidik ngeri.
Tak sengaja memori terlintas di pikirannya saat pertama kali ia melihat Nicholas. Saat itu tatapan Nicholas juga tajam, ditambah gaya berpakaiannya yang serba hitam dan hampir menutupi wajah, memberikan kesan misterius yang berbahaya. Perasaan takut dan was-was itu sama seperti yang ia rasakan sekarang. Nicholas-nya sedang dalam mode berbahaya.
Tapi meskipun takut, Nicholas tetap pacarnya yang baik dan paling bisa membuatnya nyaman. Ketika Nicholas memasukkan lidah ke dalam mulutnya, desahan lolos dari bibirnya karena ia tidak bisa berbohong kalau itu nyatanya memang nikmat.
Tangan Nicholas lainnya yang menganggur, menjelajahi punggung Euijoo dengan lembut. Memberi sentuhan-sentuhan yang mengejutkan. Lalu, dengan nakal, celana pajama Euijoo ia tarik pelan. Euijoo membelalak.
“Mhhm!”
Euijoo dibungkam dengan cumbu panas supaya tidak bisa menolak. Tapi jika Euijoo kalah sekarang, mau ditaruh di mana mukanya saat menghadap yang lain, menghadap membernya, menghadap manajernya, menghadap fansnya? Syukur-syukur masih bisa gerak bebas, tapi kekasihnya itu kalau sudah mode beringas bisa-bisa membuatnya susah jalan seharian. Tidak sudi ia kalau harus izin latihan hanya karena alasan sepele. Tanggung jawabnya sebagai leader tetap nomor satu!
Euijoo memberanikan diri. Dalam hati ia mengucapkan kata ‘gomenasai’ sebelum mengigit bibir pacarnya.
“Aw!” Nicholas mengadu kesakitan.
Euijoo mengatur napas dan membetulkan posisi duduknya menjadi bersender pada kepala ranjang. Kakinya selonjoran dengan lutut yang sedikit ditekuk, dan kedua lengannya ia istirahatkan di atas lutut.
“Kamu… hah… hah… pingin aku mati kehabisan napas kah…”
“Hngg, sakit…”
Euijoo menengadah dan menatap pacarnya yang sedang meringis sambil memegang bibir. “Sa-sakit banget kah? Coba sini aku lihat.” Euijoo mendekati Nicholas khawatir dan meraih lembut tangan pacarnya supaya ia dapat melihat bibir Nicholas dengan lebih jelas. Mata Euijoo membulat melihat bercak merah di sudut bibir Nicholas.
Euijoo segera mengambil tisu lalu menepuk-nepuk pelan bibir Nicholas.
“Hngg…” Nicholas merintih. Ia duduk bersimpuh dan menatap merana ke Euijoo.
Tadi aja kayak serigala. Sekarang malah kayak puppy.
“Maaf ya… aku gigitnya kekencengan, ya?” Euijoo masih mengusap-usap bibir Nicholas dengan lembut. Selembut senyuman yang terpatri di wajahnya sekarang. “Lagian kamunya kayak kesurupan.”
“Kok minta maafnya nggak niat gitu?”
Euijoo terkekeh. “Tapi kamu juga salah loh. Kalau aku nggak gigit, bekas cipokan kamu udah ada dimana-mana kali. Terus besoknya pasti aku jadi susah jalan.”
“Nggak bakal lah. Nggak sampe segitunya.”
“Dih, aku udah hapal tau. Emang kita ngelakuin ini baru sekali dua kali?” Euijoo meletakkan tisu yang dipenuhi bercak darah itu di atas meja. Kemudian mengecup singkat bibir Nicholas sebelum mengalungkan tangannya ke leher Nicholas.
“Sekarang kita bobo, ya? Besok pagi kan ada latihan, habis itu konser di dua tempat, terus lanjut fansigning, habis itu photoshoot, terus–”
Cup
Nicholas mengecup Euijoo. Lalu ia memeluk pinggang Euijoo dan menjatuhkan kepalanya di atas bahu Euijoo. “Terus kapan kita lanjutin ini lagi, hm?”
“Um…” Tatapan Euijoo menerawang ke sembarang arah.
Nicholas tertawa miris. “Huh, tuh kan , pasti ujung-ujungnya juga lupa atau nggak bakal sama sekali.”
“Nggak! Janji deh.” Euijoo menepuk-nepuk punggung Nicholas dengan tempo lambat. “Besok pagi kita kan ada latihan. Nah, kamu tuh sekalinya itu suka ninggalin bekas dimana-mana. Entar kalau dilihat sama yang lain gimana coba? Kamu kan juga susah banget dibangunin pagi-pagi, jadi harus tidur lebih cepet.”
“Iya, iya. Aku yang salah. Maaf.”
“Nggak… Aku juga salah. Maaf ya… Nanti kalau kita punya lebih banyak waktu luang, nggak papa deh dilanjut.”
“Beneran?”
“Iyaa.”
“10 ronde?”
“…kamu pingin aku mati, ya?”
Nicholas tertawa. Kali ini lebih tulus. Euijoo yang mendengarnya menjadi lega, seenggaknya mood Nicholas membaik.
Euijoo menjauh dan memegang pundak Nicholas. “Jaa, aku mau ambil es batu dulu buat luka kamu. Tiduran duluan aja ya, ouji-sama,” ucap Euijoo seraya bangkit dari tempat tidur.
Nicholas menahan tangannya. “How can I sleep without my princess beside me? ”
Euijoo memutar bola matanya malas. “Ck, manja banget sih.” Lalu, ia menuntun Nicholas untuk memposisikannya tidur, merapikan poni rambut pacar manjanya, kemudian membubuhkan kecupan singkat di jidatnya. “Tidur, ya. Aku cuma keluar bentar ambil es batu.”
Nicholas merajuk. Bukan karena kesal bibirnya digigit. Tapi karena pacarnya sangat manis sampai dia gemas sendiri dan tidak bisa marah. Akhirnya dia meraih selimut sampai ke ujung kepalanya dan membelakangi Euijoo. Euijoo melihat tingkahnya hanya heran dan menggelengkan kepala.
Euijoo berjalan menuju pintu kamar. Ketika dia sudah memegang kenop pintu, dirinya terhenti dan melirik ke samping. “Nico?”
“Hm?”
“Besok jangan ngomong yang aneh-aneh ya masalah bibirmu.”
“Iya. Kalau inget,” ucap Nicholas dengan suara diperkecil di akhir kalimat namun masih dapat terdengar oleh Euijoo.
“Honki de itteru ndakara!!”
“Hai hai, urusai na~”
Dari balik selimut, Nicholas dapat mendengar Euijoo sudah keluar kamar. Ia menyunggingkan senyuman miring.
“I am gonna surprise you on our Weverse Live, Juju. ”
.
.
.
