Chapter Text
Suara gemerisik angin pada dedaunan yang bergerak bersahutan dengan suara gesekan roda sepeda di jalanan. Suara menenangkan itu tertangkap berulang oleh telinga seorang pria yang tengah merawat tanamannya. Pria bermarga Yoon dengan rambut nyaris sebahu itu sesekali menatap ke arah karung usang yang ia letakkan bersandar di sisi dekat pagar pendek rumahnya. Itu adalah stroberi pemberian dari warga desa. Jeonghan masih memikirkan apakah ia akan membuat selai stroberi atau yoghurt menggunakan tumpukan stroberi itu. Biasanya setelah mengolah bahan makanan dari warga desa menjadi suatu hidangan yang lebih enak, Jeonghan akan membagikannya kepada warga desa ketika menghadiri pertemuan mingguan.
Sementara isi kepalanya asyik memikirkan stroberi tersebut, jari-jarinya bergerak memilah dan memangkas cabang serta daun yang mati menggunakan gunting. Pagi ini ia sudah melakukannya sejak 20 menit yang lalu. Itulah kegiatan rutin Jeonghan sehabis membuka mata dan mencuci muka. Jeonghan sudah melakukannya sejak datang ke desa ini, kurang lebih 4 tahun yang lalu. Sehingga tangannya semakin lihai merawat tanaman.
Beberapa menit kemudian, seorang pria yang sedikit lebih tua darinya berjalan dari dalam rumah. Kaus yang ia pakai tampak kusut, begitu pula dengan rambutnya. Ia menguap sambil mengusap matanya yang sepertinya masih enggan untuk terbuka. Apalagi ia langsung disambut sinar matahari pagi yang menyilaukan karena menghampiri Jeonghan yang sedang berada di pekarangan.
“Jeonghanna," panggil Seungcheol dari belakang dengan suara serak karena tidak berbicara selama tidur. “Sudah kubilang kau harus memakan sesuatu dulu sebelum sibuk dengan urusan pekarangan.”
Jeonghan merasakan punggungnya yang tidak terkena sinar matahari itu menghangat sebab Seungcheol mendekapnya dari belakang. Kedua tangan Seungcheol menyilang di antara perut kurus itu. Sementara dagunya diistirahatkan di pundak Jeonghan.
“Aku sudah menyiapkan kopi hangat untukmu di meja. Juga beberapa penekuk kentang,” sahut Jeonghan sambil menengok ke samping, membuat pipinya nyaris bersentuhan dengan bibir Seungcheol. Karena itulah, Seungcheol mengecupnya sekilas karena merasa gemas. Kecupan ringan itu membuat Jeonghan tersenyum dan memalingkan wajahnya ke depan, kembali fokus dengan kegiatannya yang sempat terganggu.
“Pipimu terasa dingin di bibirku. Kau kedinginan?”
Jeonghan menggeleng. “Sekarang pipi itu sudah menghangat karena tadi kau menciumnya.”
“Apa aku membuatmu malu?”
“Yaa,” jawab Jeonghan enggan, seolah bosan dengan pertanyaan itu.
“Padahal kita sudah menikah selama 30 tahun. Kau masih malu jika aku menciummu tiba-tiba seperti itu?”
Jeonghan tahu, Seungcheol sedang berusaha untuk menggodanya. Karena Jeonghan yang salah tingkah selalu menjadi hiburan bagi Seungcheol. Meski rasanya sudah tidak pantas jika di umur setengah abad ini Jeonghan masih juga tersipu oleh hal-hal kecil yang dilakukan Seungcheol untuknya. Ayolah, dia bukan seorang remaja yang sedang merasakan cinta monyet.
“Oh, diamlah. Cepat masuk ke dalam dan nikmati sarapan yang sudah kubuatkan.” Ucapan Jeonghan terdengar kesal dengan senyum yang masih terukir di bibirnya.
“Aku ingin menikmatinya denganmu. Kau juga belum sarapan, kan?”
“Ya.” Jeonghan menghela napas. “Aku menunggumu bangun sembari mengurusi tanaman.”
“Oh, jadi kau menungguku untuk sarapan bersama?” Nada ucapan Seungcheol meninggi karena semangat. Tangannya mengusapi perut Jeonghan yang dulu bersemayam bayi yang sekarang sudah hidup dewasa di kota.
“Karena kalau tidak, kau akan kecewa.” Jeonghan bergurau. “Kau selalu ingin bersamaku, bukan?”
“Benar.” Seungcheol mengeratkan pelukannya. “Sampai kapan pun dan bagaimanapun keadaannya, aku selalu ingin bersamamu.”
Jeonghan tergelak mendengar perkataan suaminya. “30 tahun lebih aku mengenalmu, dan mulut manismu tidak lekang akan waktu.” Ia melepaskan jari-jarinya pada batang tanaman, tanda pekerjaannya selesai. “Baiklah. Aku sudah selesai. Ayo kita masuk. Tak usah menawarkan diri untuk menggendongku seperti dulu, kau sudah tidak kuat melakukannya.”
Ucapan usil dari Jeonghan sama sekali tidak membuat Seungcheol jengkel. Ia justru mencuri satu kecupan lagi di pipi tirus Jeonghan ketika suaminya itu mencoba untuk melepas kaitan lengan Seungcheol pada tubuhnya.
Hampir 5 tahun sejak mereka pensiun dari pekerjaan masing-masing dan memutuskan untuk pindah ke sebuah tempat yang jauh dari perkotaan. Memang sudah menjadi rencana mereka dari bertahun-tahun lalu untuk memiliki rumah dan menghabiskan masa tuanya di desa. Keduanya kemudian memantapkan hati untuk beralih tinggal di Kabupaten Yangpyeong yang terletak di Provinsi Gyeonggi. Daerah yang terkenal dengan perkebunan stroberi dan peternakan dombanya. Di sana, mereka menempati salah satu desa, yaitu Seojong-myeon.
Seungcheol dan Jeonghan sudah menikah di pertengahan umur 20 tahun mereka. Ketika Seungcheol baru saja meniti karir sedangkan Jeonghan masih dalam masa pencarian kerja. Jatuh bangun sudah mereka rasakan karena keadaan rumah tangga yang belum stabil. Tapi mereka mampu bertahan hingga kini.
Dulu, Seungcheol bekerja sebagai pengacara perceraian, sedangkan Jeonghan disibukkan dengan pekerjaannya sebagai notaris. Mendekati umur 40 tahun, mereka mulai merasa lelah dengan pekerjaan dan hiruk pikuk perkotaan. Sehingga dari sanalah tercetus ide untuk tinggal di desa ketika pensiun. Setelah melakukan survey di desa itu, mereka membeli sebuah rumah. Sesekali, di hari libur, mereka berkunjung untuk melakukan bersih-bersih dan mengatur perabotan rumah. Terkadang mereka terlalu lelah untuk pulang sehingga akhirnya menginap di sana.
Dan begitulah, mereka hidup menetap menjadi warga Seojong-myeon hingga sekarang.
“Jangan lupa minum obat dan vitaminmu,” peringat Jeonghan ketika melihat Seungcheol berjalan menuju sebuah lemari yang menyimpan peralatan kolam.
“Sudah, Sayang. Aku sudah tua tapi ingatanku masih bagus.”
Sekarang sudah pukul 10 pagi, dan Seungcheol sedang bersiap-siap untuk membersihkan kolam. Kolam yang ditinggali ikan-ikan kecil dan juga kolam lain yang ditinggali seekor kura-kura besar. Seungcheol juga akan membersihkan cangkang kura-kura itu dari lumut dan kotoran lain. Kegiatan rutin itu ia lakukan sekali dalam seminggu. Seungcheol selalu bersemangat ketika akan merawat kolamnya.
"Baiklah," jawab Jeonghan setelah beberapa lama terdiam memperhatikan Seungcheol yang bersiap. "Kau lebih ingin selai atau yoghurt stroberi?"
Seungcheol menengok dan mengangkat alisnya sedikit bingung. Kemudian wajahnya berubah cerah seperti teringat sesuatu. "Oh, maksudnya kau masih bingung mau diapakan stroberi pemberian Pak Kim?"
Jeonghan bergumam mengiakan. Lalu Seungcheol menjawab yoghurt lebih baik karena melancarkan pencernaan. Seungcheol teringat beberapa hari yang lalu, para paruh baya mengeluhkan soal pencernaan mereka. Anak-anak juga sepertinya akan menyukainya.
Merasa sudah yakin dengan apa yang akan ia buat, Jeonghan bangkit dari kursi makan dan mulai menyiapkan bahan-bahan. Pertama, ia akan mencuci dulu stroberi-stroberi segar itu.
"Kalau kau butuh bantuan, panggil saja aku. Aku ada di pekarangan," ujar Seungcheol sebelum pergi ke luar. Ia sudah bersiap di dekat pintu sambil memakai topi sehingga rambut berubannya tak terlihat.
"Kau menawarkan bantuan karena tahu aku tidak mempercayaimu ketika bekerja di dapur. Sudahlah, kerjakan kolammu itu."
Seungcheol terkekeh karena itu kenyataan. "Pokoknya panggil namaku tiga kali dan aku akan muncul di hadapanmu."
"Tiga kali? Suami yang baik itu sekali dipanggil langsung datang."
"Kalau ingin hanya sekali, cukup panggil aku sayang."
"Kau ini...." Jeonghan menggerutu sembari terus mencuci stroberi.
Tidak sampai sejam Jeonghan menyelesaikan urusan yoghurtnya. Setelah menaruhnya di tempat kotak kedap udara, ia menyimpannya di kulkas selama 5 jam ke depan. Kemudian ia menyajikan stroberi yang sempat ia sisihkan di piring kecil. Jeonghan akan menikmatinya sambil menemani Seungcheol yang masih bekerja. Ia juga membagi beberapa stroberi untuk suaminya itu dan menyuapinya. Seungcheol hanya memakan beberapa buah saja, beralasan Jeonghan harus memakannya lebih banyak karena itu buah kesukaannya.
"Garlie.. Dia sedang berjemur." Jeonghan menatap kura-kura yang sedang menghangatkan diri di kotak besar transparan. Ia kemudian tersenyum tipis. "Kira-kira, umur Garlie sepanjang apa, ya? Siapa yang akan duluan meninggal? Kita atau Garlie?"
"Ini masih pagi. Jangan membicarakan kematian, Sayang."
"Aku hanya penasaran." Jeonghan menjawab seadanya dan masih melamun ke arah Garlie seraya menggigiti kecil stroberi di tangannya. Ia lalu mengubah tatapan melamunnya dan terperanjat seakan teringat sesuatu. "Ah! Sekarang hari libur. Apa lebih baik menelepon anak kita?"
"Boleh dicoba. Meski aku yakin anak itu masih tertidur karena semalaman minum-minum bersama rekan kerjanya."
Sementara Seungcheol berkata begitu, Jeonghan sudah menekan tombol telepon sehingga suara panggilan mulai terdengar ketika Seungcheol selesai berbicara.
"Halo!" Suara ceria dari anak mereka terdengar, begitu pula dengan wajahnya yang bersinar cerah. Ia tampaknya sudah bangun sejak tadi.
"Seungkwan! Kau sudah bangun rupanya," sapa Jeonghan dan melirik ke arah Seungcheol sekilas kemudian beralih tatap ke wajah Seungkwan. "Sedang apa?"
"Baru selesai jogging, Pap! Lihatlah keringatku ini." Seungkwan menyisir poninya ke belakang sehingga terlihat jelas buliran keringat di dahinya. "Papa dan Ayah juga jangan lupa berolahraga. Udara di desa sudah mendukung sekali untuk sekadar jalan pagi."
"Ayahmu sekarang sedang berolahraga," balas Jeonghan mengalihkan kameranya ke arah Seungcheol. "Olahraga tangan dengan menyikati kolam."
Tawa Seungkwan meledak. "Ia tidak mau otot tangannya mengecil?"
"Ya, dia terlalu lelah untuk pergi ke gym sekarang. Dia menjadi pria tua yang tidak mau olahraga—Ah!" Jeonghan menjerit di akhir ucapannya karena Seungcheol memberi cipratan air kepada Jeonghan sebagai bentuk protes.
"Jangan mengejekku!" katanya. Di balik telepon, Seungkwan terlihat menggeleng-geleng.
"Ya, setidaknya harga diri ayahmu tetap tinggi," ujar Jeonghan berusaha berbisik.
Seungkwan mengangguk sambil tertawa tanpa suara. Ia memposisikan jari telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan Jeonghan agar tidak membuat Seungcheol kesal.
"Papa sedang makan stroberi? Terlihat enak."
"Dari Pak Kim, seperti biasa." Ia memamerkan lima buah stroberi yang tersisa di piring kecil yang ia bawa tadi. "Segar karena langsung dari kebun. Papa baru saja membuat yoghurt stroberi untuk dibagikan ke warga nanti sore saat pertemuan."
Mendengar itu, Seungkwan langsung mengerang. Tampaknya ia juga menghentakkan kesal kakinya di sana. "Aku juga ingin! Ahh aku ingin tinggal di desa!"
"Sudahlah, kau hanya ingin memakan masakan enak papamu saja, kan?" sahut Seungcheol yang sudah berdiri di tepian kolam. Ia meraih selang yang mengaliri air untuk melarutkan sisa-sisa kotoran di sana. Kemudian ia melanjutkan, "Hari ini kau tidak bertemu dengan pacar bulemu itu?"
Seungkwan terlihat memutar bola matanya sebelum bergumam, "Ia sibuk."
"Sibuk itu hanya alasan. Mungkin dia bosan denganmu."
Jeonghan langsung melototi Seungcheol karena ucapannya.
"Dia sibuk! Dia bekerja untuk menikahiku."
"Ya.. Ya.. Kau berkata seperti itu seolah pacarmu sudah meminta izin kepada ayah dan papa untuk menikahimu."
Melihat anaknya yang cemberut, Jeonghan kemudian menenangkan. "Ayahmu hanya bercanda. Sebenarnya ia berkali-kali bertanya tentang Hansol. Ia seperti merindukan pacar bulemu itu."
Seungkwan langsung mengangkat sebelah bibirnya, seperti menyeringai. "Aku tahu ayah seperti apa."
Setelah beberapa saat, Jeonghan memutuskan panggilan telepon. Ia lalu sedikit berbincang dengan Seungcheol mengenai Hansol. Tentu mereka merestui hubungan anak mereka dengan pria itu. Mereka bahkan tidak sabar untuk menikahkan anak tunggal mereka.
"Sepertinya kita harus rutin berolahraga lagi. Bagaimana jika bersepeda setiap pagi?" usul Jeonghan. Kini Seungcheol sudah duduk di kursi teras yang terbuat dari rotan bersama Jeonghan.
"Agar sehat? Tapi kita memang sudah tidak sehat," jawab Seungcheol asal sembari mengurut-ngurut kakinya yang nyeri.
"Setidaknya agar meringankan penyakit kita. Kau tahu? Katanya bersepeda baik untuk penderita paru-paru."
Seungcheol mengembuskan napas sambil menatap kaki-kakinya. Berpikir apakah ia akan kuat mengayuh sepeda.
Jeonghan ikut menatap ke arah kaki Seungcheol. Mengerti kekhawatiran suaminya. "Oh, ayolah. Kau masih 56 tahun. Kau dari dulu adalah pria kuat. Bersepeda tidak akan membuat tulang-tulangmu retak."
"2 bulan lagi umurku 57 tahun."
Jeonghan berdecak. "Kau iniii..." Ia meraih kedua pipi Seungcheol menggunakan tangannya dan menekannya ke tengah sehingga bibir dari pria itu mengerucut. Jeonghan menilik wajah menua itu dengan kedua matanya. "Kau masih tampan, dan akan semakin tampan kalau kau mau bersepeda setiap pagi denganku."
Seungcheol menelengkan kepala tanpa menjawab.
"Jika kau mau bersepeda, usiamu akan terlihat seperti kita pertama kali bertemu."
Seungcheol terdiam sebentar sebelum menjawab. Setelah sedikit berpikir, ia lalu berkata, "Dan akan terlihat seperti remaja jika kau menciumku."
Jeonghan mendenguskan tawa ke samping. Lalu menatap Seungcheol kembali. "Rupanya kau tidak bosan dengan ciumanku."
Seungcheol tersenyum sambil mengangkat bahunya. Kemudian ia memejamkan mata ketika Jeonghan perlahan mendekatkan bibirnya untuk memenuhi permintaan pria itu. Jeonghan yang lebih dulu memberikan lumatan pelan, dan Seungcheol mengikuti irama gerak Jeonghan. Isi kepala mereka seakan kosong sebab keduanya hanyut ke dalam ciuman penuh kasih sayang itu sehingga tidak berpikir apa-apa. Asam manis dari stroberi yang sempat mereka makan tadi memberi rasa terhadap lumatan-lumatan itu.
Ciuman tersebut diakhiri oleh Jeonghan yang menjauhkan wajahnya. Ia segera memegangi pipinya yang terasa panas.
"Hei, kita masih pintar berciuman di umur setua ini," ucap Seungcheol lalu mengusap bibir Jeonghan yang basah.
"Kau ahlinya." Jeonghan menanggapi singkat. Ia sedang tidak bisa berbicara banyak karena malu.
Mata Seungcheol menyipit karena tertawa. "Baiklah. Karena aku sudah terlihat seperti remaja lagi, aku akan menerima ajakanmu."
Sudut bibir Jeonghan terangkat mengulas senyum. Dan senyum puas itu menulari Seungcheol.
Seungcheol kemudian melanjutkan, "Karena kita masih harus hidup ketika Seungkwan menikah, bukan?" Tangannya sudah hinggap di salah satu sisi pipi Jeonghan. Ia mengusap pelan pipi Jeonghan menggunakan ibu jarinya yang keriput.
"Ya, kita harus tetap sehat di hari bahagia itu." Jeonghan menyetujui.
Kemudian, keduanya masuk ke dalam rumah karena Jeonghan mulai merasakan sesak pada pernapasannya.
