Work Text:
Musim semi tahun ini Giyuu menerima surat yang dikirimkan oleh gagak kasugai miliknya, awalnya Giyuu pikir itu adalah misi lain yang perlu dia lakukan, tapi ternyata bukan. Hashira yang baru saja menyelesaikan misi diminta untuk kembali ke markas korps oleh Oyakata-sama.
Giyuu melipat kembali surat itu, kemudian memulai perjalanannya kembali ke markas, kebetulan misinya baru saja selesai.
Biasanya jika diminta untuk berkumpul seperti ini pasti ada pembahasan penting yang perlu dibahas, Giyuu tidak menunda-nunda perjalanannya dan tiba di markas pada keesokan paginya.
"Oh, Tomioka-san kamu tiba lebih awal." Shinobu Kochou datang menghampiri, tersenyum tipis sebagai kesopanan.
"Ya."
Itu saja responnya dan Shinobu sudah terbiasa dengannya, Giyuu memang dingin dan irit sekali dalam berbicara. Bagi Shinobu itulah alasan mengapa Giyuu tidak memiliki banyak teman.
Setelah menunggu beberapa waktu dupa dengan tenang dan obrolan Shinobu yang ditanggapi irit oleh Giyuu, akhirnya semua hashira telah berkumpul.
Oyakata-sama duduk tenang di hadapan mereka, di dampingi putri dan putranya di sisi kiri dan kanan. Kehadirannya yang lembut sekaligus berwibawa membawa kenyamanan dan ketegangan tersendiri bagi para hashira. Mereka semua serentak membungkuk hormat pada Oyakata-sama yang menjadi pemimpin korps sekaligus pack.
"Selamat datang di rumah, anak-anakku. Bersantai lah selagi di sini, perjalanan kembali dari misi berbahaya pasti melelahkan kalian semua," ujarnya diselingi senyum lembut.
Suaranya selalu menyimpan ketenangan dan kedamaian di hati siapapun, terutama bagi para hashira. Oyakata-sama selalu bertindak bagai figur ayah bagi para hashira, melihat mereka datang ke markas dalam keadaan hidup dan utuh membuatnya bersyukur setiap saat.
"Semoga kesehatan anda selalu terjaga, Oyakata-sama," ujar Gyomei, sang hashira batu yang mewakili harapan semua hashira.
"Terima kasih, Gyomei. Kesehatanku jauh lebih baik, tidak perlu mengkhawatirkannya," sahut Oyakata-sama. Pandangannya lurus ke depan dengan senyum yang tidak pudar. "Pertemuan kali ini akan membahas masa depan korps. Sudah waktunya kita memikirkannya, benar?"
"Banyak dari kalian adalah alpha yang berbakat dan berkekuatan besar. Namun, kekuatan besar perlu diwariskan. Iblis masih berkeliaran dan Muzan belum kita kalahkan yang artinya kita masih punya kewajiban."
Kata-kata itu disambut keheningan. Beberapa hashira saling berpandangan, Rengoku menegakkan punggungnya dengan wajah berseri-seri. Hampir semuanya tahu ke arah mana pembahasan ini berlanjut.
Sementara itu, Tomioka Giyuu duduk di baris tengah dengan diam. Bahunya tegak, tapi pandangannya kosong. Dia tidak terlalu tertarik dengan pembahasan ini, meski telinganya tulus mendengarkan setiap kalimat dari Oyakata-sama. Giyuu hanya menunggu hasil akhir.
"Ini bukan sebuah titah, melainkan sebuah tawaran yang perlu dipikirkan matang-matang oleh alpha hashira yang belum berpasangan. Kiriya memiliki daftar omega dari korps dan dari beberapa keluarga pendukung korps yang bersedia mengirimkan omega untuk menjadi pasangan kalian. Karena Muichiro masih dibawah umur, semua alpha yang mencoba mendaftar belum bisa diterima," ujar Oyakata-sama lagi. Kali ini dia membiarkan putranya maju untuk membacakan daftar nama omega saja.
Selama Kiriya memulai menyebutkan daftar nama beserta asal usul omega-omega itu, Giyuu bergeming dan hanya mendengarkan. Sampai tiba pada sebuah nama yang asal-usulnya terasa familiar.
"... Kamado Tanjiro, Omega dari gunung Kumotori."
Kumotori? Giyuu merasakan sekelebat ingatan datang memenuhi isi kepalanya. Tiga bulan lalu Giyuu pergi ke gunung Kumotori untuk membasmi iblis, saat itu di sana masih bersalju, namun di pegunungan masih ada satu keluarga yang tinggal dalam satu atap rumah yang dikelilingi obor.
Giyuu meskipun merasa dingin sampai membuat paru-parunya sesak tetap datang ke pegunungan itu untuk mencari iblis yang dilaporkan, tepat sekali saat Giyuu datang iblis itu memang sedang mendobrak pintu kayu satu-satunya rumah di tengah hutan.
Iblis kelas menengah, tanpa sempat melangkah masuk ke dalam rumah itu dia sudah terpenggal. Tubuh busuknya segera menjadi abu, hanya meninggalkan darah yang berceceran mengotori pintu.
Di ujung lain berdiri pemuda yang memegang kapak menggunakan kedua tangan, napasnya memburu, mata merah delimanya membesar dengan kepanikan. Giyuu menoleh ketika mencium feromon pohon pinus datang membelai hidungnya, kemudian pemuda itu yang menyadari iblis sudah dikalahkan menarik napas dalam-dalam dan menjatuhkan kapaknya.
"Syukurlah ... Syukurlah ...."
Feromonnya beraroma masam karena cemas dan takut, lalu tubuhnya terhuyung ke depan tanpa sadar. Giyuu menyarungkan kembali pedang nichirin miliknya dan mengayunkan kaki untuk melangkah cepat, bahu yang kecil namun kokoh berhasil dia raih, mencegahnya jatuh terjerembab pada tumpukan salju di halaman.
Kening yang terdapat bekas luka kemerahan itu menubruk dadanya, sepasang tangan mengais haori Giyuu selagi dia akhirnya mendongak. Menunjukan wajah sepenuhnya yang diterangi temaramnya cahaya obor. Wajah itu bulat, pipinya menekan dada Giyuu yang berdebar keras, rambutnya berwarna merah bata yang membingkai sempurna wajahnya, meski tampak berantakan karena bangun dari tidur dengan tergesa-gesa. Ada anting hanafuda yang terpasang di telinganya.
"Terima kasih, aku sangat khawatir iblis itu menyerang keluargaku. Mereka masih tidur nyenyak," ujarnya pelan. Jemari kasar yang meremas haorinya itu masih bergetar pelan.
Giyuu termenung sebentar, lalu berdiri tegak dan melepaskan pemuda itu yang terlalu dekat dengannya. Dia merasa tidak sopan menyentuh omega terlalu dekat seperti ini, meskipun tanpa disengaja.
"Sudah tugasku," ujarnya. Tanpa mengatakan apa-apa lagi mulai berbalik dan hendak pergi. "Kalau begitu permisi."
"T-tunggu! Sepertinya akan terjadi badai salju, kamu harus beristirahat di sini."
Giyuu merasakan tarikan lembut diujung haorinya, kemudian menatap ujung jemari dan naik menatap wajahnya lagi. Hujan salju memang turun dengan deras setelahnya, tapi justru karena itu dia perlu bergegas. Iblis masih ada yang berkeliaran dan memanfaatkan cuaca dingin ini. "Tidak perlu."
"A-ah--" pemuda itu sempat menahannya lebih keras. "Sebentar, setidaknya bawa syal tambahan!"
Dia berlari masuk ke dalam rumah, Giyuu tidak punya waktu untuk menunggu lebih lama, tapi akhirnya dia hanya diam sampai pemuda itu keluar lagi dengan syal sewarna rambutnya dan juga sesuatu yang lain.
"Pakailah ini dan aku masih ada onigiri miso, semoga kamu menyukainya!"
Giyuu menerima dua hal itu yang terasa hangat di tangannya, setelah itu dia bertemu pandang dengan mata delimanya lagi yang kali ini berbinar terang, diselingi senyum yang lebar sekali. Feromonnya halus memenuhi indera penciuman tajam Giyuu, sampai alphanya terusik.
"Terima kasih." Giyuu tidak ingin berlama-lama lagi, menekan sedalam mungkin keinginan alphanya yang tiba-tiba terbangun hanya karena feromon tipis yang menyebar dari pemuda dihadapan.
Itu adalah interaksi yang singkat, tapi Giyuu mengingatnya dengan segar dalam memorinya hingga saat ini. Dia bahkan tidak menanyakan namanya, jadi Giyuu tidak yakin apakah itu pemuda yang sama dengan yang disebutkan oleh Kiriya.
"Itu adalah daftar nama para omega yang bersedia mengikuti seleksi pasangan kalian, hakushi sudah membantu mereka bersiap sejak pagi ini. Temuilah mereka," ujar Kagaya Ubuyashiki menutup rapat singkat mereka.
"Oyakata-sama telah repot membawa mereka ke sini, aku merasa tersentuh dan akan melakukan apa yang anda inginkan! Jangan khawatir, tekad dan semua kekuatanku memang akan kuwariskan," seru Rengoku bersemangat.
"Namu abida butsu .... Tanpa kami sadari kami telah membuat anda khawatir, Oyakata-sama. Seperti yang Rengoku katakan, kami akan mewariskan semua kekuatan dan tekad agar korps semakin kuat." Airmata mengalir di pipi sang hashira batu.
"Seseorang yang akan menjadi istriku harus kuat, atau semua omong kosong ini tidak berguna." Sanemi bangkit berdiri dan melangkah keluar tepat setelah Ubuyashiki Kagaya pergi.
"Aku sangat bersemangat! Iguro-san, kita tidak boleh langsung pergi sekarang, aku ingin melihat para omega itu!" Mitsuri meraih lengan Obanai Iguro di sisinya, memeluknya sampai alpha yang telah menjadi pasangannya itu mengikuti keinginannya.
"Baiklah, kita lihat. Meskipun aku yakin tidak ada yang sesempurna dirimu," sahut Obanai.
"Hahah, aku penasaran. Terutama omega mana yang akan menjadi pasangan Tomioka kita?" Uzui tengen bersidekap dada sambil melirik Giyuu yang saat ini bangkit berdiri dengan wajah acuh tak acuh.
Shinobu terkekeh ringan. "Benar. Aku menantikannya juga."
Giyuu tidak berniat untuk menanggapi mereka, hanya berjalan dengan langkah ringan menuju ruangan luas yang dipersiapkan Ubuyashiki untuk pertemuan dengan omega. Hashira lain sudah di sana juga, termasuk Sanemi yang saat ini berdecak tidak puas.
"Jangan marah, Shinazugawa-san ... Aku di sini untuk bertemu mate yang tepat, kamu tidak mengharapkan aku bertemu mate di luar korps, 'kan? Heheh." Kochou Kanae terkekeh dengan manis, masih terhibur dengan bagaimana Sanemi terkejut melihatnya berada di barisan para omega.
"Kamu membuatku tidak memiliki pilihan sejak awal," dengus Sanemi kesal. Dia mendekat ke arah hashira bunga itu yang duduk di sisi omega lain.
"Tentu saja. Oh, Tomioka-saaaan! Kemarilah, di sini, di sini-- ada omega manis yang memiliki permintaan khusus hanya untukmu!" Kanae melambaikan tangannya, tersenyum ceria ke arah Giyuu yang berdiri di ujung ruangan lain. Shinobu yang penasaran malah menghampiri lebih dulu, diikuti Muichiro.
Omega yang terjebak di sisi Kanae semakin menunduk, bergerak dengan gelisah dan wajah memerah. "Uh, K-kanae-san tidak perlu memintanya datang ...."
"Apa ini? Ada omega yang tertarik pada si bodoh itu?" Sanemi berujar sinis, tidak menutupi ketidaksukaannya di hadapan omega lain. Dia duduk bersidekap dada di seberang Kanae sambil memandang omega yang semakin bersembunyi di sisinya.
"Ssh, tidak boleh begitu, Sanemi-san. Kamu membuat Tanjiro-kun takut." Kanae menegurnya sambil mengusap lembut rambut merah bata remaja yang lebih pendek.
Karena tidak ada tujuan lain maka Giyuu menghampiri, ikut duduk dengan sopan bersama mereka. Sedikit lebih berjarak dibandingkan Sanemi, tapi dia tetap bisa mencium feromon pohon pinus dan arang yang berasal dari remaja omega.
Ternyata memang remaja yang sama dengan yang Giyuu temui di gunung Kumotori. Tidak banyak yang berubah darinya, hanya rambutnya lebih panjang dan dikuncir lebih rapi, ada jepit rambut yang menjepit bagian poni, anting hanafuda yang bergoyang ketika dia bergerak, dan mata delima yang terlalu berkilau bagi Giyuu.
Muichiro sudah mengambil tempat di sisi Tanjiro, memiringkan kepala untuk menatapnya. "Hei ... Kamu tidak boleh bersama Tomioka-san, dia membosankan."
"Pftt--" Mitsuri di sisi lain tidak sengaja mendenguskan tawa yang ditahan, setelah itu ikut bergabung untuk duduk bersama mereka. Obanai mengikutinya.
"Mui-kun, meskipun aku setuju, tapi tidak boleh mengganggu perkenalan mereka," ujar Shinobu.
Muichiro mencibir diam-diam dengan wajah datar, dia lebih tertarik dengan anting-anting yang dikenakan oleh Tanjiro.
"Hashira-sama, sebuah kehormatan bisa bertemu kalian semua, namaku Kamado Tanjiro," ujar Tanjiro memulai perkenalan singkat yang gugup. Matanya tidak bisa lurus menatap Giyuu karena rasa sungkan. Hanya berani menatap haori yang memiliki warna yang berbeda di sisi kanan dan kiri.
Selama hashira lain sibuk memperkenalkan diri mereka padanya, Giyuu belum berkata apa-apa lagi. Sampai tiba bagiannya dan hanya menyebutkan nama, "Tomioka Giyuu."
Merah di wajah Tanjiro kentara sekali setelah mendengar Giyuu akhirnya bersuara, lalu tersenyum senang karena mendengar namanya. "Tomioka-sama, senang berkenalan denganmu."
Muichiro yang melihat nada cerah dan rona merah di wajah Tanjiro pun mengerti, dia menatap Giyuu dengan pandangan menghakimi, setelah itu bangkit berdiri. "Aku akan mencari Genya."
"Oh, sebaiknya aku juga pergi. Tanjiro-kun, lain kali kita akan bertemu lagi. Sampai jumpa." Shinobu tersenyum sayang, kemudian pergi.
Satu persatu mulai pergi, bahkan Gyomei yang sudah bersama omega yang dipilihkan sekarang sudah pergi. Tersisa Giyuu dan Tanjiro di dalam ruangan yang sama. Masih duduk dengan canggung dan hening, Tanjiro bahkan takut suara degup jantungnya terdengar karena terlalu hening. Dia memberanikan diri menatap wajah Giyuu dan hanyut dalam mata biru yang dalam.
... Tanjiro tahu, meski tatapannya sedingin es, tak tersentuh, tapi pria ini sangat baik dan tidak perlu diragukan lagi sangat kuat. Dia juga begitu sopan, dan wajahnya yang rupawan benar-benar tidak bisa diabaikan. Para hashira terutama Giyuu bagi Tanjiro sangat luar biasa.
Dia pikir yang jatuh cinta pada pandangan pertama pada pria ini pasti sudah banyak sekali dan dirinya hanya salah satu, meski begitu Tanjiro senang dirinya di sini sekarang. Entah apakah Giyuu akan menerimanya itu urusan nanti.
Giyuu tidak pandai bersosialisasi, jadi setelah perkenalan singkat dia malah bangun. "Kalau begitu permisi."
"Eh?"
Tanjiro kebingungan. Apa ini? Sudah akan pergi? Lalu bagaimana dengan dirinya?
Ini persis seperti terakhir kali mereka bertemu, Giyuu selalu tanpa basa-basi, dan pergi begitu saja. Tanjiro tidak ingin menyesal seperti tiga bulan lalu membiarkannya pergi, jadi dia bergegas ikut bangun dan mengejarnya.
"T-tomioka-sama, apa aku-- apa aku tidak cukup menarik?" tanya Tanjiro tanpa pikir panjang, langkahnya terlalu lebar-lebar ketika mengejar, dan Giyuu yang berhenti mendadak membuatnya menubruk punggungnya yang tegap. "Ow!"
Ujung hidungnya memerah sewarna pipi, diusap perlahan karena sakit. Giyuu terpaksa berbalik, meski tidak mengerti apa maksud pertanyaannya barusan, tapi Giyuu setidaknya punya jawaban. "Bukan, kamu cukup menarik."
Pupil mata delima Tanjiro melebar, dia berhenti mengusap hidung dan mendongak sedikit untuk menatap ekspresi wajah lurus sang hashira air. Jawabannya sangat spontan dan tanpa aba-aba sampai Tanjiro terkejut.
"... Kalau begitu apa kamu memiliki calon lain? Maaf, ini tidak sopan, tapi ... Jika kamu memiliki calon lain aku akan pulang, Tomioka-sama." Tanjiro berdiri lebih sopan dan mundur selangkah, matanya menatap lurus ke arah Giyuu tanpa goyah. Meski gugup, dia bertekad untuk mendengar jawabannya.
Jika Giyuu memang memiliki calon lain yang lebih pantas, maka Tanjiro tidak keberatan untuk mundur, meski sayang sekali usahanya selama tiga bulan ini akan sia-sia.
Oh. Giyuu mengingat Kanae mengatakan soal Tanjiro yang memiliki permintaan khusus, jadi sepertinya ini maksudnya. "Apa kamu datang hanya untuk menjadi calonku?"
Tanjiro terbakar rasa malu, merasa tertangkap basah karena maksudnya langsung diketahui. Dia melirik ke sisi lain dan memainkan jemarinya sendiri yang bertautan. "Uh, mm, benar! A-aku tidak ingin alpha lain-- maksudku, begini ... Ah maaf!"
Panas menjalar dari pipi hingga ke seluruh tubuh, Tanjiro mengutuk mulutnya sendiri yang malah dengan entengnya mengutarakan perasaan. Dia menutup seluruh wajah dan bergumam pelan, "... Ini memalukan."
Omega lain yang datang bersamanya sukarela ingin menjadi pasangan alpha hashira siapapun, tapi Tanjiro sejak awal sudah meminta permintaan tulus pada Oyakata-sama, dia hanya ingin dipilih Giyuu, jika tidak maka dia harus dipulangkan. Terdengar egois sekali, tapi Oyakata-sama memang memberikan pilihan pada setiap Omega yang mendaftar, dan kebetulan keluarganya sudah lama mengabdi untuk membantu korps pembasmi iblis.
Jadi, itu sebabnya jika Giyuu tidak tertarik padanya maka Tanjiro akan pulang, kembali ke gunung Kumotori.
... Itu agak membuat Giyuu tersentak diam, seolah napasnya tertahan sesuatu yang tak terlihat. Perlahan tubuhnya berbalik penuh ke arah Tanjiro, lalu jemarinya terangkat-- hampir menyentuh pipi yang semerah buah persik.
Sebelum ujung jarinya berhasil mendarat tanpa permisi di kulit halus yang kemerahan, Giyuu menarik diri dan mengepalkan tangannya. Tubuhnya bereaksi aneh sebelum dia berpikir, ini sangat tidak biasa, belum lagi bagaimana sisi alphanya menggeram kecewa karena sentuhannya tidak berhasil.
'Aneh.' gumamnya lirih dalam hati.
"Tomioka-sama?" Tanjiro memanggilnya, merasa heran dengan tingkah Giyuu yang banyak diamnya. "Aku--"
"Pertemuan hari ini sudah cukup."
Gantian Tanjiro yang tersentak diam, dia mengulum bibir bawahnya dan memaksakan senyum, kedua tangannya meremas kain kimono hijau yang dia kenakan hari ini. "Y-ya, maaf karena telah mengganggu waktumu, Tomioka-sama. Terima kasih karena telah menemuiku hari ini dan juga untuk pertolonganmu tiga bulan lalu. Setelah ini aku akan pulang."
Tanjiro menunduk sopan, menyampaikan permohonan maaf, terimakasih dan pamit yang singkat. Bibirnya tersenyum meski matanya agak bergetar. Tidak mengira jika seseorang yang begitu dia kagumi menolaknya begitu cepat, meski secara tidak langsung.
Melihat reaksi Tanjiro dan ujarannya membuat Giyuu merasa dia telah mengatakan sesuatu yang salah. "Mengapa pulang?"
"Eh? K-karena--" Tanjiro menatap wajahnya lagi dan sepertinya dia sudah salah sangka. Hashira air memang seperti yang dirumorkan, bicaranya irit dan tatapannya dingin, terkadang orang tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. "Kupikir Tomioka-sama tidak menginginkanku sebagai pasangan."
Mulut Giyuu terkatup rapat, dia tidak perlu menimang-nimang kalimat itu dan jelas mengerti maksudnya. Bagaimana pun itu tidak benar, bukan karena Giyuu tidak menginginkannya, malah reaksi tubuh dan alphanya adalah sebaliknya.
Omega ini satu-satunya yang membuat tangan Giyuu ingin menyentuh tanpa alasan di pertemuan singkat mereka, kehadirannya yang hangat menarik sisi gelap alphanya yang sudah lama tertidur. Itu jelas-jelas bukan sebuah penolakan. Giyuu sangat tertarik, alphanya tidak perlu dipertanyakan lagi.
Namun, ini hal baru. Banyak yang belum Giyuu pahami soal omega. Dia tidak bisa serta merta putus asa dan membiarkan insting naluriah mengambil alih.
Karena itu, Giyuu berbicara. "Tidak perlu pulang."
.
.
.
.
Untuk omega yang telah terpilih sudah resmi menjadi bagian dari korps, tinggal menunggu tanggal resmi pernikahan. Soal waktu pernikahan ini Ubuyashiki menyerahkan keputusan pada Hashira yang bersangkutan.
"Hashira yang telah memilih pasangan hari ini, aku percaya pada keputusan kalian. Ingatlah satu hal, mulai hari ini meskipun pernikahan belum diselenggarakan, tapi kalian bertanggung jawab penuh atas keamanan, kesehatan, dan kehormatan omega tersebut."
Itu adalah kalimat tegas yang Ubuyashiki katakan setelah dia menemui para hashira lagi pada sore hari, dia telah melihat semuanya sudah memilih pasangan, bahkan Giyuu-- Ubuyashiki tidak bisa menahan perasaan gembira dan syukur di hatinya melihat perkembangan ini.
"Perlakukan omega dengan baik." Ubuyashiki Kagaya tersenyum suka cita, tahu bahwa tidak perlu diingatkan pun para hashira memang akan memperlakukan pasangan mereka dengan baik. "Cintai dan hormati mereka sebagaimana yang kalian lakukan untukku selama ini."
Giyuu pulang ke perumahan hashira air, berjalan kaki dengan lambat untuk mengikuti ritme berjalan sosok di belakangnya. Tanjiro berjalan dengan normal, perlahan, dan bagi hashira yang terbiasa melesat ke sana ke mari dengan cepat sekarang hanya bisa berjalan santai.
Lagipula ini bukan hal buruk, sekalian saja Giyuu menganggap dirinya sedang patroli sepanjang perjalanan pulang, meskipun lebih lambat dari biasanya.
Tanjiro berjalan dengan patuh, tanpa membawa apa-apa karena katanya semua keperluan akan dibawakan oleh kakushi ke perumahan hashira air. Dia hanya perlu mengikuti Giyuu, dan itu yang sedang dia lakukan, berjalan selangkah di belakangnya dengan perasaan riang, Tanjiro bahkan tidak bisa menahan feromonnya yang bertebaran karena terlalu gembira.
Namun, perjalanan yang hening benar-benar membuat Tanjiro tidak betah. Dia mulai selangkah lebih dekat di sebelah Giyuu, memiringkan kepala ke samping dan bertanya, "Tomioka-sama, rumahmu masih jauh?"
"Lumayan, kita baru seperempat jalan."
Ternyata masih jauh sekali, Tanjiro tersenyum dan tidak keberatan. Berjalan kaki berdua seperti ini membuatnya senang. "Oh! Aku penasaran bagaimana suasana di sana?"
"Biasa saja."
Tanjiro mengintip ekspresi wajahnya, lalu bertanya lagi. "Apa ada orang lain yang tinggal bersamamu?"
"Tidak ada. Hanya aku."
Jawabannya memancing dengkuran senang omeganya, Tanjiro sangat lega karena Giyuu tidak tinggal dengan siapapun-- atau pasangan omega manapun.
Giyuu melirik ke arah Tanjiro tanpa banyak bersuara, merasakan hangat dan harum yang bertebaran di sekeliling omega ini, seolah-olah dia sedang diberi anugerah dan tampak bahagia di setiap langkah yang dia ambil hati-hati. Bibirnya sewarna kelopak sakura yang bermekaran, selalu terlihat tersenyum bahkan meski dia diam, dan matanya yang menangkap tatapan Giyuu berkilauan cerah di bawah sinar jingga matahari yang hendak terbenam-- tanpa noda.
Tanjiro tersenyum lebih lebar sampai matanya menyipit. "Aku senang mendengarnya!"
Itu hanya informasi mengenai dirinya yang tinggal sendiri di perumahan hashira air, tidak istimewa, tapi Tanjiro sungguh terlihat senang. Giyuu tidak mengerti, tapi bahunya rileks melihat Tanjiro tersenyum begitu mudahnya.
"Kita akan melewati jalan pintas agar sampai di rumah sebelum matahari terbenam," ujar Giyuu tiba-tiba.
"Oh, baik, Tomioka-sama," jawab Tanjiro patuh.
Mereka berbelok ke jalan setapak di hutan, meninggalkan jalanan utama yang ramai. Hutan itu sunyi, hanya terdengar derik serangga dan ranting patah di bawah langkah mereka, tapi Tanjiro terbiasa hidup di pegunungan yang memiliki hutan di sekelilingnya, dia bisa berjalan tanpa goyah.
Lima belas menit pertama berlalu sangat hening, Tanjiro hanya berusaha melangkah mengikuti Giyuu tanpa tersandung agar tidak merepotkannya. Tapi, rupanya perjalanan jauh dari markas sudah membuatnya lelah.
Lama-lama jaraknya dengan Giyuu semakin jauh, tapi selagi tidak tertinggal Tanjiro baik-baik saja. Dia hanya perlu mengikutinya, berjalan bersamanya menuju rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya juga. Tanjiro tidak sabar.
Suara 'Duk!' dari ujung kaki Tanjiro yang tersandung akar pohon membuat Giyuu lekas menoleh, tubuhnya refleks bergerak untuk meraih meski terlambat, Tanjiro sudah jatuh tersungkur di tanah dan hanya mengeluarkan suara memekik kecil.
... Giyuu tidak percaya ini. Oyakata-sama jelas mengatakan dengan tegas jika mulai hari ini omega yang dia pilih menjadi tanggung jawab penuhnya, tapi belum lama dari peringatan itu Giyuu sudah lalai-- meski hal kecil karena kecerobohan.
Dia mengulurkan kedua tangan, tanpa permisi menyelipkan tangan di bawah ketiak Tanjiro dan mengangkatnya agar bangun. Kimono hijau yang dikenakannya sekarang agak kotor terutama bagian lutut.
"Ah, Tomioka-sama, aku baik-baik saja! Maaf karena kecerobohanku--"
"Ini kelalaianku," potong Giyuu cepat. Dia menunduk untuk membersihkan debu dan tanah yang menempel di bagian kimono Tanjiro, setelah itu menatapnya.
Yang tidak Tanjiro duga adalah Giyuu yang mengulurkan kedua tangan lagi, memintanya lebih dekat. Bingung karena Giyuu tidak mengatakan apa-apa, tapi tubuh Tanjiro mempercayainya dan mendekat tanpa curiga.
Ternyata Giyuu menggendongnya. Di depan. Posisi ini terlalu dekat! Tanjiro dengan panik memegang bahunya. "Tomioka-sama, a-aku masih bisa berjalan! Aku tidak bisa merepotkanmu, jadi tolong turunkan!"
Suaranya melengking karena panik, tapi Giyuu sudah memegangnya dengan mantap. Di antara perasaan kecewa pada diri sendiri jantung Giyuu malah berdesir, alphanya benar-benar senang karena sekarang bisa mendekap erat Tanjiro, bisa menyentuh dan membauinya dari jarak paling dekat.
"Tanjiro, berpegangan dengan erat."
Itu pertama kalinya Giyuu menyebut namanya dan memberi titah halus.
.
.
.
.
Sampai di perumahan hashira air Tanjiro langsung Giyuu serahkan ke kakushi agar diurus, karena Tanjiro masih gemetar karena takut setelah merasa melayang selama di perjalanan. Giyuu sama sekali tidak membuang-buang waktu, dia berlari dan melompati pohon, melesat gesit seperti ombak di lautan.
Kakushi yang melihat kedatangan mereka benar-benar terkejut, menyayangkan tuan mereka yang sudah membuat omega kecil ketakutan sepanjang jalan. Meski begitu Tanjiro tersenyum lebar setelah mendarat dengan aman, berterima kasih pada Giyuu dan digandeng oleh kakushi menuju ruangannya yang sudah tersedia.
Giyuu berkedip, berjalan menuju ruangannya sendiri. Tiba-tiba merasa bersalah karena telah membawanya dengan cara seperti itu, dan juga merasa bersalah karena kedua tangannya sempat enggan melepaskannya.
Butuh waktu sepuluh menit bagi Tanjiro untuk menenangkan dirinya di tempat baru, dia duduk beristirahat di ruangan yang nyaman seorang diri. Kakushi menyediakan teh untuknya.
"Kamado-sama, saya telah menyiapkan bak mandinya." Kakushi muda di depan Shoji bersuara. Dia yang telah menggandengnya hati-hati dan menghidangkan teh untuknya.
Tanjiro menggeser pintu Shoji, lalu tersenyum. "Terima kasih! Aku akan mandi, dan kamu panggil aku Tanjiro saja. Kurasa kita seumuran."
Kakushi tersenyum dibalik kain putih bergaris yang menutupi area wajah dan mulutnya. "Baik, Tanjiro-sama."
Usai membersihkan diri Tanjiro tidak bisa berdiam diri, jadi dia keluar dan pergi menuju dapur utama yang luas. Ada kakushi lain yang bertugas memasak di sana, dia terkejut dengan kedatangan Tanjiro dan dengan panik memintanya untuk duduk saja.
Tapi, Tanjiro memang senang membantu orang lain. Dia juga terbiasa menyiapkan makan untuk keluarganya saat di rumah. "Tidak apa-apa, biarkan aku membantu ya!"
"Tanjiro-sama, tolong jangan mengotori tangan anda! Mari kita pergi ke ruang makan, Tomioka-sama sudah menunggu!"
Kakushi yang bertugas mengurus Tanjiro datang tergesa-gesa, meraih pisau dapur yang dipegang Tanjiro dan menuntunnya keluar dari dapur. Ini hari pertamanya bertugas mengurus omega dari tuannya, jadi kakushi tidak ingin membuat hashira air marah.
Mendengar nama Giyuu disebut membuat Tanjiro menurut, dia melambaikan tangan pada kakushi yang memasak. "Maaf! Aku akan membantumu lain kali!"
"S-sebaiknya tidak usah ...."
Tanjiro tidak bisa menahan diri untuk merapihkan dirinya sendiri sebelum bertemu Giyuu, memastikan dirinya tampak baik-baik saja, tidak berbau aneh karena baru saja mandi, pakaiannya baru dan bersih, jadi Tanjiro tersenyum manis ketika kakushi melaporkan kedatangannya pada Giyuu.
"Tomioka sama, Tanjiro-sama telah tiba."
Suara Giyuu terdengar dari dalam ruangan. "Masuklah, Tanjiro."
Mulai hari itu Giyuu tidak lagi makan sendirian dalam kesunyian, Tanjiro menemaninya hampir setiap saat ketika dirinya di rumah. Ketika Giyuu harus pergi menjalankan tugas, dia pikir langkahnya menjadi lebih berat ketika meninggalkan rumah.
Sejak Tanjiro bersamanya Giyuu yang selalu tanpa ragu pergi, sekarang perlu berbalik dua kali untuk menatap Tanjiro yang tersenyum sebelum benar-benar bisa pergi. Terkadang tanpa sengaja tangannya selalu bergerak impulsif untuk meraih Tanjiro, keinginan kuat untuk menandainya sebelum pergi-- yang untungnya bisa Giyuu tahan dengan wajah datarnya.
Tanjiro yang polos dan sabar selalu mengatakan, "Aku akan menunggumu pulang, Giyuu-san."
Sepertinya sudah berlalu dua Minggu sejak mereka tinggal bersama, Tanjiro lebih santai padanya-- dan lebih suka mencari-cari perhatiannya. Dia mulai memanggilnya 'Giyuu-san' yang ternyata lebih Giyuu sukai, dan Tanjiro semakin menempel padanya meski tidak benar-benar menyentuh. Jika Giyuu di rumah setelah kembali dari misi, Tanjiro akan berada di sekelilingnya, mengitarinya ke mana pun Giyuu melangkah, bahkan menemani ketika Giyuu berlatih teknik pedang di bawah sinar matahari.
Setelah satu bulan berlalu, Giyuu menyadari lebih sulit untuk meninggalkan Tanjiro sendirian ketika dia pergi menyelesaikan misi berat.
"Giyuu-san ... Hari ini akan pergi berapa lama?" tanya Tanjiro sambil meletakkan bekal yang sudah dia siapkan di depan Giyuu. Ini menjadi rutinitas sehari-harinya, Tanjiro selalu menyiapkan bekal yang harus dibawa Giyuu.
Pernah sekali Giyuu lupa membawanya, dan ketika dia kembali Tanjiro menyambutnya dengan cemberut di wajah, kakushi berkata bekal yang dia siapkan dia makan sendiri. Itu pertama kalinya Giyuu melihat Tanjiro sedikit merajuk.
Giyuu tidak pernah melupakan bekalnya lagi, dia meraihnya, kemudian menatap wajah Tanjiro yang kali ini agak murung. "Mungkin lima hari."
Lima hari sangat lama, Tanjiro dengan berat hati mengangguk dan tersenyum. "Baiklah, tolong berhati-hati. Pulanglah dengan aman, Giyuu-san."
"Mm," gumamnya. Belum berdiri untuk pergi, Giyuu malah menyodorkan surat pada Tanjiro. "Bukalah, ini surat dari Gyomei-san."
Tanjiro membukanya, membaca deretan kata dengan hati-hati dan matanya segera membuat besar dengan senyum di wajah. "Himejima-sama akan menikah Minggu ini! Apakah itu dengan omega pilihannya bulan lalu? Sepertinya itu adalah gadis omega yang datang lebih dulu dariku, dia sangat baik dan membantuku agar tenang saat pertama kali datang ke markas besar Oyakata-sama. Aku benar-benar turut senang sekali!"
Giyuu memperhatikan ekspresi cerah dan rona merah bahagia di wajah Tanjiro, pipinya mengembang bulat ketika senyumnya terukir. Tangannya selalu gatal ingin menyentuh, jadi Giyuu tanpa sadar sudah mengangkat tangan dan menyentuh pipinya-- sehangat dan selembut yang dia bayangkan selama ini.
"Eh?" Tanjiro lebih merah dari sebelumnya, tapi dia tidak ingin menjauh dari tangan besar yang sedang menempel di sebagian pipinya, meremas lembut dan jempolnya bergerak mengusap bagian bawah lingkar mata. Tatapan Giyuu bahkan melembut, hampir seperti dia sedang tidak sadar ketika melakukannya. "Tangan Giyuu-san hangat sekali!"
Barulah setelah itu jari Giyuu berkedut, dia menyadari tindakannya dan segera menarik diri. "Maaf."
Giyuu segera berdiri, meraih bekalnya dan berjalan hendak pergi. Tanjiro menggigit bibir bawahnya, setelah melihat Giyuu yang ekspresinya berubah menjadi dingin lagi dan mencoba kabur membuatnya dengan berani menyusul. Tanjiro mengangkat kimononya lebih tinggi dan berlari, kedua tangannya menyergap dada Giyuu dari belakang. "Giyuu-san! M-mengapa selalu minta maaf setelah menyentuhku? Padahal aku--"
Suaranya berubah menjadi sendu, Tanjiro menempelkan keningnya di punggung yang tetap, terlalu malu dan takut untuk melanjutkan kalimatnya. Yang dia yakini sama sekali tidak keberatan dengan setiap sentuhan ringan Giyuu padanya, itu hampir jarang terjadi, hanya sebuah sentuhan singkat tangannya saja selama ini, dan sentuhannya seringan bulu, sangat lembut dan berhati-hati. Tanjiro tidak mengerti mengapa Giyuu perlu menyesal sampai meminta maaf padanya.
"--Padahal aku menyukainya...."
"Aku sudah terlambat." Giyuu berujar datar, terpaksa membuat Tanjiro melepas pelukannya secepat yang dia bisa.
"Ah, maaf!"
Setelah itu Giyuu pergi tanpa menoleh lagi, padahal biasanya Giyuu kadang dengan kikuk membalas lambaian tangan Tanjiro. Kali ini Tanjiro menghela napas panjang dan jatuh terduduk di tanah, mengerang malu di balik kedua tangannya. "Aku telah melewati batas, tapi ... Giyuu-san ternyata sejuk sekali."
Kakushi dengan panik menghampirinya, berpikir jika Tanjiro sedang menangis karena perlakuan Giyuu, tapi rupanya tidak. Hanya merengek malu karena telah memeluk Giyuu secara spontan. Kakushi terkekeh geli, menghibur Tanjiro dengan membawanya ke halaman belakang, di sana sudah disiapkan camilan sore untuknya.
Para kakushi yang tinggal dan bekerja di perumahan hashira air telah begitu akrab dengan Tanjiro, tidak ada yang tidak menyayanginya karena sejak Tanjiro datang suasana di perumahan hashira air sudah tidak suram dan mencekam lagi. Seolah-olah sebulan lalu Giyuu telah membawa bola matahari tepat ke kediamannya dan menyinari segalanya.
Sementara itu, Giyuu dalam perjalanannya menahan diri untuk tidak membaui tangannya sendiri-- di mana feromon Tanjiro yang manis masih menempel. Giyuu mungkin berpikir dia tidak akan cuci tangan.
.
.
.
.
Sehari sebelum hari pernikahan Hashira batu; Himejima Gyomei dan pasangannya, Giyuu telah pulang. Sudah tepat lima hari berlalu dan Giyuu menyelesaikan tugasnya dengan baik seperti biasa, dia pulang ke rumah tanpa luka.
"Giyuu-san, selamat datang!" Suara cerah Tanjiro menjadi sambutan yang membuat alphanya menggeram senang, pupil matanya menyempit seperti garis lurus-- rasanya dia bisa merasakan alphanya sangat ingin mengambil alih reaksi tubuh untuk menerkam Tanjiro yang sedang berlari kecil ke arahnya.
'Bahaya.' gumam Giyuu dalam hati, dia sudah sering menekan keinginan naluriah yang berbahaya ini. Hampir setiap melihat Tanjiro dia memiliki keinginan seperti ini, yang semakin membuatnya merasa bersalah.
Tanjiro terlalu baik dan murni untuk disentuh tangannya yang kotor setelah pertempuran dengan iblis.
"Aku akan pergi mandi." Giyuu tidak membiarkan Tanjiro lebih dekat, dia segera berjalan, berbelok ke arah pemandian air panas pribadi miliknya yang berada di pekarangan belakang.
Tanjiro berkedip cepat, dia belum sempat melihatnya dengan benar untuk melepas rindu, tapi Giyuu sudah menghilang lagi. "Giyuu-san, aku bisa membantumu!"
Dia sangat bertekad, Tanjiro buru-buru menghampiri kakushi yang terbiasa mengurus perlengkapan pakaian Giyuu, mengambil alih pekerjaannya dan menyusul Giyuu. Lima detik setelah Tanjiro masuk ke bilik pemandian dia mulai menyesal-- karena Giyuu yang duduk di kolam dengan bertelanjang dada membuatnya terlalu malu untuk menghampiri.
Uap panas mengepul di sekeliling Giyuu, tapi tidak cukup menutupi dan dada bidang yang kokoh penuh luka dari hasil pertempuran, matanya menatap tajam ke arah Tanjiro. "Letakkan di samping."
"Y-ya!" Tanjiro dengan panik mengalihkan pandangan, buru-buru meletakkan satu set jubah mandi di meja batu, setelah itu bingung ingin melakukan apa lagi karena telinganya juga mengepulkan asap. Tanjiro bisa merasakan tatapan Giyuu di punggungnya. "Giyuu-san, aku akan membantumu mencuci rambut!"
Giyuu di tempatnya memejamkan mata sesaat, lalu menyerah. "Lakukan apa yang kamu mau."
Omega Tanjiro bersolek gembira, dia sudah mengambil tempat di belakang Giyuu. Duduk di kursi kayu dan menyiapkan sekotak sabun gel untuk membersihkan rambut. Dia berusaha fokus dan tidak mencuri-curi pandang ke mana pun, hanya berusaha mengurus rambut panjang Giyuu untuk dia basahi dengan perlahan.
Lain halnya dengan Giyuu yang sekarang memejamkan mata dan berusaha menenangkan alphanya yang bergemuruh hebat, Tanjiro di belakangnya dengan telaten membasahi rambutnya, memberinya sabun dan membuatnya bersih.
"Giyuu-san, aku akan memijat kepalamu. Adikku bilang pijatan ini membantunya lebih rileks dan menghilangkan sakit kepala," ujar Tanjiro lembut, dia menggunakan sepuluh jemarinya untuk memijat titik di kulit kepala Giyuu.
Sepuluh menit kemudian Giyuu memang tenang dan hampir tertidur, sampai Tanjiro membilas rambutnya barulah dia tersadar. Tanjiro di belakangnya terkekeh riang, merasa bersalah karena mengganggu ketenangan Giyuu, tapi ini sudah terlalu lama Giyuu berendam.
"Jika kamu menyukainya aku akan sering memijat kepalamu seperti ini, Giyuu-san. Sekarang kamu bisa lanjutkan mandinya, aku akan pergi mandi juga."
Giyuu merasa semua rasa lelahnya telah menguap bersama uap air panas setelah Tanjiro memijat kepalanya. "Mm, mandilah di sini."
Kalimat itu meluncur tanpa disadari, Giyuu bahkan terbelalak terkejut dengan kalimatnya sendiri, apalagi Tanjiro yang sekarang berbalik ke arahnya dengan wajah memerah total. "U-uh, baik, sebentar--"
Giyuu tidak percaya Tanjiro menyetujuinya, hampir seperti Tanjiro juga keceplosan tanpa sadar, tapi di sinilah mereka sekarang. Tanjiro sudah masuk ke dalam kolam air panas dan berendam bersamanya di seberang lain. Kolam ini dibuat lebih besar untuk dua orang, jadi cukup untuk mereka berdua. Hanya saja Giyuu tetap merasa sesak, dia sejak tadi mengalihkan pandangan, membiarkan Tanjiro memiliki privasi selama melepas pakaian dan masuk ke dalam kolam, dia sama sekali tidak mengintip.
Mandi bersama harusnya bukan masalah besar, tapi ini pertama kalinya Giyuu mandi bersama omega-- apalagi ini Tanjiro, dia tidak bisa bertahan selama lima menit dan memutuskan untuk pergi duluan. Meski berat hati meninggalkannya telanjang bulat di tengah kolam air panas, tapi Giyuu benar-benar perlu mandi lagi di tempat lain-- kali ini air dingin.
.
.
.
.
