Work Text:
Udara malam itu begitu berat. Bau debu, tanah lembap, dan darah samar yang menusuk penciuman siapapun yang lewat. Setelah bertransformasi ke wujud Hyde dan kembali menjadi manusia, Tyler tengah duduk menunggu di sebuah terowongan tak digunakan, tidak jauh dari kediaman rumah keluarga Gates yang telah lama ditinggalkan. Punggungnya bersandar pada beton dingin yang retak, sementara darah segar mengalir berasal dari cakaran Hyde di dadanya.
Dia tahu rasa sakit dan luka itu nyata. Tapi sebagian besar dari apa yang terjadi malam ini, hanya sandiwara yang dirancang dengan sempurna.
Marilyn Thornhill ingin dia bermain peran, dan Tyler seperti anjing yang kehilangan arah, begitu setia menuruti perintahnya.
Mengingatnya hanya membuat Tyler tertawa geli yang berubah menjadi desisan pelan. Menyesali tindakan itu membuatnya tersedak akan rasa sakit di dadanya yang menusuk. Suara rengekannya serak dan getir, nyaris tertelan oleh malam. Dadanya naik turun begitu cepat, antara nafas berat dan nyeri.
Tyler mengalihkan rasa sakitnya, menatap ke arah cahaya senter yang bergerak-gerak tidak teratur, bersama suara langkah cepat dan terengah mulai mendekat.
Yang dia tunggu telah datang.
Wednesday dengan tatapan dinginnya, menatap Tyler seolah sedang menilai mayat. Bersama Enid di belakangnya, wajahnya tegang penuh ketakutan, menatap ngeri keadaan Tyler.
"Tyler!" Seru gadis pirang itu panik, tapi tidak berani mendekat. "Kau... apa yang terjadi?"
Pertanyaan itu hampir membuat Tyler mendengus malas, tentu saja dia telah di serang.
"Monster itu menyerang ku." Jawab Tyler terengah-engah, meringis kesakitan. Suaranya terdengar pecah, tepat seperti yang dia inginkan untuk mendapatkan kepercayaan dari kedua gadis outcast.
Wednesday berjongkok di depannya, "Bisa jalan?" Tanyanya masih dengan wajah datar, tampak tidak terpengaruh. Tapi tangannya menekan dada Tyler yang terluka berusaha menghentikan pendarahan.
"Kau lihat wujudnya?" tanya Wednesday kembali tanpa ekspresi berarti, tapi nadanya begitu penasaran.
Tyler menatapnya lama. Ada sesuatu yang aneh dari cara Wednesday menatapnya yang tidak Tyler pahami.
"Tidak jelas. Tapi monster itu begitu besar dengan mata yang mengerikan." Katanya lirih, berharap gadis itu mempercayainya.
Wednesday terdiam sejenak seolah menimbang sesuatu. Memandangi luka di dada Tyler dengan perubahan ekspresi yang tampak... Jika Tyler tidak salah liat, ada ekspresi bersalah samar yang hampir terlihat di permukaan.
"Kita harus pergi dari sini sebelum monster itu kembali." Gumam Enid rendah ketakutan, memandang ke arah pepohonan gelap di sekeliling mereka.
Namun tentu saja hal tak terduga telah menghancurkan skenario Tyler. Kedatangan seorang siswa laki-laki Nevermore yang tidak pernah dia harapkan akan muncul di hadapan mereka, Xavier Thorpe.
Tyler memutar kepalanya untuk melihat sosok itu muncul terlalu halus dari kegelapan. Bernapas berat, rambut tergerai tertiup oleh angin malam, dengan wajah tegang bergantian menatapnya dan Wednesday.
Tatapan menuntut Xavier jatuh ke tangan Wednesday yang masih menekan dada Tyler. Darahnya merembes dari sela-sela jari pucat gadis itu.
Mengerti dengan keadaan Tyler, remaja tak diundang itu berinisiatif melepaskan syal miliknya. Wednesday menyingkir memberi ruang saat Xavier mendekat, menggunakan syal itu untuk membungkus dada Tyler. Gerakan remaja laki-laki itu penuh kehati-hatian, dengan mata yang menyiratkan kengerian dan simpati ditujukan pada Tyler.
"Apa yang terjadi?" Tanya Xavier, suaranya pelan berusaha memahami mengapa Tyler mendapat cakaran yang begitu dalam. Dengan mata yang tidak lepas memperhatikan luka segar Tyler meresap perlahan pada kain syalnya yang masih dia tekan di dada.
Tyler hampir saja menghancurkan ekspresi kesakitannya dengan tertawa, orang yang dia benci begitu berani mencemaskan dirinya. Namun, sebisa mungkin dia tahan, mengubahnya menjadi helaan napas panjang yang berat, terdengar seperti kesakitan. Tidak memberi jawaban yang dia yakin remaja itu telah ketahui.
Ada sesuatu yang halus bagaimana tangan Xavier berusaha menekan lukanya, perasaan yang bahkan remaja itu mungkin tak sadari. Rasa ingin menolong, menjadi orang baik untuk Tyler.
"Kita harus membawanya keluar dari sini." Kata Wednesday membuyarkan lamunan Tyler.
"Aku bisa berjalan." Kata Tyler, menahan diri agar tidak terdengar terlalu kuat. Berusaha berdiri dengan bantuan Wednesday dan Xavier. Nyeri di dadanya membuatnya meringis karena peran dan sebagian besar karena sakitnya sangat menusuk tak tertahankan.
Mereka berjalan meninggalkan kediaman keluarga Gates, Tyler sempat menoleh ke belakang. Rumah itu berdiri dalam bayangan, seolah menatapnya balik dengan mata yang tak terlihat.
Tahu Masternya pasti sedang mengamati.
Tyler kembali memfokuskan jalannya dengan bantuan Xavier yang membopong setengah tubuhnya. Mengekori kedua gadis di depan mereka yang berjalan sedikit di depan, menuju mobil Tyler yang terparkir di depan gerbang.
"Kau harus pulang." kata Wednesday menoleh singkat ke arah Tyler.
"Tidak!" potong Tyler sedikit terlalu cepat, tapi dengan nada ketakutan yang meyakinkan. "Aku... aku tak mau ayah ku tahu. Dia akan khawatir."
Dalam keadaannya seperti ini, Tyler tidak ingin terlalu dekat dengan ayahnya. Sangat tahu bahwa Ayahnya terlalu tajam dalam membaca ekspresi, satu gerak salah, bisa membongkar semuanya.
Xavier menatap Tyler sejenak seperti menimbang sesuatu, lalu beralih pada Wednesday. "Aku memiliki tempat."
Wednesday berhenti berjalan. "Tempat?"
"Studio tempat aku biasa melukis. " Jawab Xavier. "Tidak jauh dari sini. Aman."
Gadis itu berfikir bahwa tidak ada pilihan lain, mengangguk kecil sebagai persetujuan.
Enid menghela napas panjang seperti ingin menolak. "Aku ikut. Aku... aku tidak ingin kembali ke asrama sendirian."
Wednesday hanya menatapnya datar. "Pastikan kau tidak pingsan di tengah jalan." Mendapat anggukan pasrah dari gadis pirang itu.
Tyler menahan senyum kecil di balik rasa perihnya. Menyukai cara Wednesday memperlakukan dunia orang lain terlalu dingin, logis, tanpa belas kasihan. Tapi dia juga tahu, di balik mata hitam gadis itu, ada sedikit rasa penasaran ditujukan padanya. Dan Tyler memang berniat mempermainkan gadis itu lebih lama.
Bersyukur Xavier bisa mengemudikan mobilnya, mengingat Tyler tidak bisa menggenggam setir dengan benar sekarang. Butuh beberapa menit untuk sampai ke tujuan mereka, lalu memarkirkan mobil tak jauh dari gerbang sekolah Nevermore. Diperjalanan Tyler hampir beberapa kali diambang pingsan, akibat terlalu kehilangan banyak darah.
Sesampainya, kegelapan menyambut mereka. Xavier menyalakan lampu kecil yang menjadi alat satu-satunya penerangan di ruangan itu, menciptakan cahaya kuning yang redup. Tyler mengerutkan dahi, terganggu dengan aroma cat, kanvas dan kayu yang menyerbu penciumannya yang sensitif semenjak dirinya berubah menjadi Hyde.
Wednesday menggeser kursi dekat meja, menuntun Tyler untuk duduk tepat di bawah sinar lampu. Tubuh gadis itu sedikit membungkuk melepaskan syal untuk memeriksa luka. Sedangkan Xavier menyingkirkan semua barangnya, meletakkan kotak pertolongan pertama di atas meja, berdiri sedikit jauh memberi ruang. Tyler dengan linglung bertanya-tanya darimana dia mendapatkannya?
Semenjak mereka tiba, Enid tidak berhenti mondar-mandir tidak jauh dari ambang pintu. Jelas ingin segera pergi, tapi tetap menunggu dengan sabar pada Wednesday yang sibuk memberikan obat tetes merah di luka cakaran Tyler, lalu menambalnya dengan plaster.
Tyler berusaha bergerak tapi dihentikan oleh suara tidak setuju Wednesday, "Diam." katanya datar. "Beruntung aku tidak menjahit lukamu. Jika tidak, aku tidak akan bertanggung jawab jika jarum akan menusuk mu terlalu dalam."
Tyler hanya menatapnya dengan pandangan menyipit, menghembuskan nafas pelan melewati mulutnya saat sengatan tajam menusuk dadanya. "Kau bahkan tidak mencoba terdengar menenangkan, ya?" Godanya.
"Menenangkan orang bukan keahlianku." Jawab gadis itu singkat berhasil membuat Tyler terkekeh, "Tentu saja."
Enid berdiri di belakang Wednesday, sangat gelisah, memeluk dirinya sendiri dengan syal berwarna merah muda menutup hampir setengah wajahnya. "Aku tidak bermaksud egois, tapi sekarang aku hampir mengalami serangan panik. Ayo kembali sebelum Ny. Weems sadar kita belum kembali ke asrama."
"Kau bisa pergi lebih dulu." Kata Wednesday tanpa menoleh, memasang plester terakhir di luka Tyler.
Setelah selesai, Wednesday berdiri menghampiri Enid yang mengerucutkan bibir. Ekspresi gadis hiperaktif itu berubah menjadi kekhawatiran saat mengalihkan tatapannya pada Tyler. "Maaf Tyler, aku dan Wednesday harus segera pergi. Lekas sembuh, oke? Aku tidak ingin mendengar berita jika kau... Kau tau... Mati terinfeksi atau semacamnya."
Tyler tersenyum samar. "Aku baik-baik saja. Terimakasih." Gadis pirang itu mengangguk singkat sebagai jawaban, tangannya menarik lengan Wednesday terlalu terburu-buru.
Begitu kedua gadis itu pergi, pintu studio tertutup. Suara langkah keduanya menghilang di tengah malam, menyisakan hanya keheningan dan napas berat dirinya dan Xavier di ruangan itu.
Tyler menjatuhkan kepalanya sejenak pada meja, menutup matanya perlahan. Dia ingin duduk di lantai mengistirahatkan kaki-kakinya yang keram, tapi mengurungkan niatnya, tidak ingin pakaiannya bertambah kotor. Cukup tubuhnya dipenuhi darah kering lengket dan keringat.
Gudang itu sunyi, hanya terdengar desah angin yang menyusup melalui celah-celah kayu tua.
Mata Tyler terbuka mengamati dengan seksama sedari tadi Xavier hanya berdiri kaku di seberangnya. Tangan terselip di saku, matanya terus berpindah dari dada Tyler yang tertutup sobekan baju bekas cakaran, lalu ke wajahnya, dan kemudian ke lantai. Ada jarak di antara mereka, sebuah ketegangan yang terasa berat.
Bisa merasakan kebingungan dan rasa bersalah bercampur dengan kemarahan samar yang masih tersisa dari insiden dimana Tyler menghancurkan murahnya. Insiden yang membuat hubungan mereka merenggang.
Mata zaitun muda itu menatap langsung ke arah Tyler. Ekspresinya menggambarkan seolah ingin pergi, tapi tidak tega meninggalkannya sendirian.
"Tidak perlu repot-repot menemaniku. Kau bisa pergi." Tyler mengangkat kepalanya, suaranya pecah, terdengar terlalu lelah. Sejujurnya, dia memang sangat kelelahan. Bermain kejar-kejaran bersama dua gadis Nevermore, berubah menjadi monster yang haus darah, hingga menyakiti diri sendiri. Semua aktivitas itu sangat jelas menggambarkan kelelahannya.
Xavier menggelengkan kepala pelan tanda menolak, menatapnya dengan tatapan campur aduk antara kemarahan yang tersisa dan khawatir. "Aku tidak bisa meninggalkanmu. Kau masih sangat terluka." Sungguh pria yang terlalu baik dan perhatian, pikir Tyler.
Hyde bergemuruh setuju.
Kepalanya kembali di letakan di atas permukaan meja kayu. Memejamkan mata sejenak, mengatur nafasnya perlahan saat migrain mulai menyerang. Tyler menghela napas, lalu membuka matanya kembali dengan ekspresi wajah yang tampak rapuh, hampir tak berdaya menatap Xavier.
"Aku tidak ingin lebih merepotkan mu." Kalimat itu menimbulkan efek yang Tyler harapkan. Xavier berhenti sejenak, tatapannya melembut, napasnya seperti terhenti beberapa detik.
"Aku akan menemanimu." Kata Xavier akhirnya, walau terdengar sangat berat hati, terlalu dipaksakan.
Tyler menunduk, menahan rasa puas diri di balik topeng rapuhnya. "Terimakasih." ucapnya begitu lirih, semakin mengundang rasa simpati Xavier.
Hening memenuhi gudang, hanya suara napas teratur mereka yang terdengar. Tyler menatap dari sudut matanya mendengar kursi lain yang di seret. Xavier duduk tidak jauh darinya. Tyler memperhatikan setiap detail wajah remaja itu dalam diam. Kerutan dahi, tangan yang sedikit gemetar karena kecanggungan, dan cara Xavier menyesuaikan posisi agar lebih dekat, tapi tetap menjaga jarak.
Xavier akhirnya membuka suara terlebih dahulu, berbasa-basi memecahkan keheningan. "Kau menginginkan sesuatu? Minum?" Tyler memaksa menggelengkan kepalanya menolak sebagai jawaban. Tubuhnya merosot lebih dalam pada meja.
Mendapat jawaban singkat itu, Xavier kembali bersuara, "Kau mungkin harus mengabari ayahmu."
Kepalanya terangkat terlalu cepat hampir mengalami vertigo. "Sial." Tyler mengumpat pelan, dia hampir melupakannya.
Dia berusaha meraih ponsel di saku kanannya, tapi cakaran di dadanya membuat tangannya kaku hingga menghambat pergerakan.
Melihat kesusahannya, Xavier menggeser kursi lebih dekat menawarkan diri. Tyler bergumam pelan sebagai persetujuan saat tangan Xavier dengan ragu-ragu dan penuh kecanggungan meraba saku miliknya. Tyler bisa merasakan remaja itu menahan nafas, hampir membuatnya tertawa ingin mengejek.
Tapi rasa geli asing membuat tubuhnya kaku seketika.
Tidak pernah terpikirkan bahwa mengambil sebuah ponsel di sebuah saku akan begitu menyusahkannya. Tangan asing di pahanya menimbulkan sensasi geli yang membuat tubuhnya merinding tidak nyaman. Tanpa sadar berusaha menjauh dari sentuhan tersebut.
Suara decakan lidah Xavier menandakan ketidaksetujuan. "Jangan menjauh, aku tidak bisa meraihnya."
"Maaf." Tyler berkata lirih, kali ini tanpa harus berakting.
Merilekskan sebentar otot-ototnya, Xavier berdiri membuat Tyler bingung mengikuti. Tapi bahunya ditekan kembali sehingga pantatnya kembali duduk. Lalu Xavier berjalan ke belakang kursinya, tubuhnya condong ke depan, hampir seperti tengah memeluknya. Kali ini Tyler yang menjadi sangat gugup, hampir tersentak saat tangan kembali meraba paha atasnya.
Tyler berusaha untuk tidak tegang. Butuh beberapa detik Xavier berhasil mengambil ponselnya, menimbulkan helaan nafas lega dari Tyler.
Xavier duduk kembali di sampingnya. Tangan Tyler terulur ingin mengambil, tapi ditolak. "Aku yang akan mengirim pesan." Kata remaja itu.
Tidak ingin beradu mulut, Tyler mengangguk pasrah sebagai persetujuan. Jari-jari Xavier begitu lincah mengetikkan apa yang Tyler katakan untuk dikirim pada ayahnya.
Setelah menekan kirim, nada dering mengejutkan mereka. Nama ayah Tyler memanggil tertera di layar yang diterima oleh Xavier begitu cepat. Ponsel itu di dekatkan pada telinga Tyler, suara ayahnya di sebrang lebih terdengar kebingungan daripada kekhawatiran.
"Kau berada dimana, Tyler?" Tanya ayahnya penasaran, pertanda bahwa ayahnya masih terjaga mengingat sekarang sudah pukul 12 malam lewat.
"Menginap dirumah teman." Bohong Tyler, berharap kata-katanya meyakinkan.
Beberapa detik hanya keheningan, Tyler menunggu balasan sebelum suara hembusan nafas ayahnya yang menggantung.
"Besok kau ada shift kerja, bukan? Jangan tidur terlalu larut."
"Baik ayah." Setelah membalas, panggilan telpon terputus. Menghela nafas lega ayahnya tidak banyak bertanya. Mungkin terlalu lelah dengan semua kasus monster yang menyerang Jericho? Sungguh ironi bahwa Tyler lah penyebab ayahnya kelelahan.
"Ayo kita pergi." Kalimat itu berhasil membuyarkan lamunan Tyler. Pandangan bingung beralih pada Xavier yang sudah berdiri.
Tatapan itu kembali. Gelisah dan campur aduk antara khawatirkan melihat kondisi Tyler, seolah tidak bisa menahan rasa iba yang muncul perlahan.
"Kau tidak bisa tetap di sini. Aku bisa menyelundupkan mu masuk ke asrama." Xavier memberi saran, walau kalimat itu terdengar seperti paksaan.
Tyler menggeleng perlahan, menolak. "Tidak. Aku bisa tidur disini. Aku tidak ingin merepotkan mu. Akan masalah besar jika seseorang melihat ku."
Xavier mencondongkan tubuhnya lebih dekat, matanya menatap langsung ke mata Tyler penuh keyakinan dan sedikit keras kepala. "Kau tidak akan tidur di sini sendirian. Aku tidak bisa membiarkanmu tidur di lantai. Lagipula pakaian mu sangat kotor. Aku akan memberikan baju bersih, dan kau bisa menginap di kamarku malam ini."
Tyler menelan ludah kasar, berpikir sejenak untuk menimbang. Sangat tahu Xavier tidak akan mundur, dan lagipula dia juga merasa risih dengan pakaiannya yang lengket akan darah dan keringat.
Dengan sedikit keraguan dan perhitungan, akhirnya Tyler mengangguk samar. "Mungkin itu lebih baik."
Xavier tersenyum samar, melepas mantel hitamnya untuk di sampirkan di bahu Tyler yang bergidik terkejut, tapi tetap menerimanya tanpa berkomentar. Dia mulai kedinginan sekarang. Membimbingnya keluar saat udara malam terasa menusuk, bahkan tebalnya mantel tidak bisa menahan tubuhnya dari menggigil.
Aroma tanah basah dan daun kering mengiringi langkah mereka. Tyler berjalan di samping Xavier, kali ini rasa lelahnya benar-benar membuat tubuhnya kewalahan. Ditambah efek kekurangan darah yang membuat langkahnya lambat. Tapi dengan sabar Xavier membopongnya menyamai langkah mereka.
Perjalanan ke asrama Xavier menghabiskan banyak waktu. Tyler seperti di ambang kesadaran mengikuti kemana Xavier membawanya. Dan beruntung tidak ada hambatan yang menganggu perjalanan mereka.
Langit malam di luar kamar Xavier terlihat samar dari celah tirai. Studio seni sunyi kini tergantikan oleh kehangatan lampu kamar. Tyler merasa tubuhnya berat, lelah, dan kepalanya berputar perlahan. Efek dari transformasi menjadi Hyde, ditambah luka di dadanya dan kekurangan darah membuatnya nyaris kehilangan tenaga.
Xavier memimpin Tyler ke kasur empuk yang mengundang untuk berbaring. Tyler merasa sedikit pusing saat duduk, kepalanya nyaris menekuk sendiri. Menahan napas saat rasa kantuk menyeretnya semakin dalam.
Xavier menatapnya sejenak, membaca tanda-tanda ketidaknyamanan. Tanpa banyak bicara, Xavier menyingkirkan mantel, seketika tubuhnya menggigil kehilangan kehangatan.
"Tenang saja." Xavier berkata lembut menenangkan, lalu melenggang pergi ke arah kamar mandi. Tyler menutup matanya sejenak, membiarkan rasa kantuk menyeretnya perlahan.
Beberapa menit kemudian, Xavier kembali membawa baskom berisi air hangat. Dia menunduk, menatap Tyler yang duduk di tepi kasur. "Aku akan membersihkan mu sedikit, agar lebih nyaman." Kata Xavier.
Tyler menelan ludah kasar ingin menolak. Kepalanya hanya bisa mengangguk pelan, menyerahkan diri dibawah perhatian Xavier yang cekatan. Tidak pernah dia membayangkan Xavier akan sebaik ini, bahkan merepotkan diri merawatnya.
Xavier membantu menanggalkan kemeja dan baju kaos Tyler penuh kehati-hatian. Gerakannya terdiam, dahinya mengerut bingung, dengan mata tertuju pada beberapa luka lama yang menghiasi tubuhnya. Jelas sekali wajah Xavier menunjukkan rasa penasaran tinggi, ingin mengetahui berasal darimana luka lama memenuhi tubuh Tyler.
Kepala Tyler menunduk malu di bawah tatapan intens tersebut.
Seperti tersadar ketidaknyamanannya, tanpa banyak bertanya, Xavier melanjutkan apa yang dia lakukan. Kain kasa yang di rendam air hangat menyapu tubuhnya, membasuh darah dan kotoran yang menempel. Rasa hangat dan ketelitian Xavier mengendurkan ketegangan Tyler.
Setelah selesai, Xavier membantu menyiapkan sweater hitam. Tyler menatapnya, sadar bahwa dirinya terlalu lelah untuk menolak bantuan itu. Tangan Xavier yang hati-hati tapi tegas membantunya mengenakan sweater ke tubuhnya. Lehernya terasa panas mencium aroma tubuh Xavier bercampur deterjen pada pakaian tersebut.
Persetan dengan hidungnya yang sensitif.
"Apa kau ingin mengganti celana mu?"
"Tidak!" Tyler menjawab terlalu cepat, berdeham singkat mengalihkan tatapan ke arah lain. "Tidak perlu." Mengintip sekilas perubahan wajah remaja di seberangnya yang menahan tawa geli.
Tyler merasakan campuran frustasi dan ketidakberdayaan yang semakin nyata dibawah perhatian penuh Xavier yang sangat sulit untuk di lawan. Mulai menyadari betapa penuhnya kontrol Xavier atas ruang dan tubuhnya. Dan dia tidak memiliki kekuatan fisik untuk menentang.
Xavier menatap Tyler sebentar, memastikan semuanya nyaman. Mata zaitun muda itu penuh perhatian, tetapi juga ada ketegangan samar. Antara khawatir, bertanggung jawab saat mengamati reaksi Tyler. Tyler merasakan hal itu, dan walau lelah dia menyempatkan diri untuk berterimakasih dengan senyum samar, mengapresiasi remaja itu telah merawatnya.
"Tidurlah." Kata Xavier akhirnya, menarik selimut hangat menutupi Tyler.
Lampu kamar menguning lembut di wajah mereka. Kesunyian itu hangat, tenang. Hanya terdengar napas berat Tyler dan langkah-langkah tenang Xavier yang berusaha memastikan semuanya aman. Tyler menelan kantuk terakhirnya, membiarkan tubuhnya rileks. Ada rasa aman berada dibawah perhatian langsung Xavier yang membuat Tyler terhanyut dan tidak memikirkan apapun untuk menolak. Bahkan Hyde menggeram senang.
Beberapa jam kemudian, Tyler terbangun dari mimpi samar-samar yang tidak dia ingat. Sayup-sayup hembusan angin dingin musim gugur masuk melalui jendela. Sangat menganggu tidurnya, sehingga Tyler tidak bisa kembali tidur. Memaksa mata yang setengah terpejam menatap kegelapan remang kamar Xavier yang hanya diterangi lampu belajar di dekat kasur Xavier dan cahaya bulan yang masuk lewat tirai tipis. Kepalanya masih berat, tubuhnya lelah, tapi pikirannya mulai tajam kembali.
Tyler duduk di tepi kasur, matanya menelusuri ruangan dimana dia berada. Buku, tumpukan kertas, dan sketsa berserakan yang diatasnya terdapat gambar-gambar setengah jadi, seolah menunggu sentuhan terakhir.
Pandangannya menelusuri setiap detail ruangan yang dia tempati, merasa ada sesuatu yang akrab. Tidak jauh berbeda dari studio menggambar Xavier, tempat dimana Xavier menuangkan pikirannya ke atas kanvas.
Tatapannya beralih ke kasur seberang, menatap dalam diam Xavier yang tertidur dengan wajah damai dan napas stabil. Setiap detail wajah Xavier, dari alis yang sedikit mengerut, hingga bibir berbentuk garis lurus, tampak membuatnya sangat minat berlama-lama memperhatikan.
Untuk pertama kalinya, Tyler merasakan sesuatu yang berbeda, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Hatinya terasa diremas perlahan. Lupa mengapa dia berada di sini, lupa dengan rencana-rencana licik yang semula menggerakkan pikirannya. Semua yang Tyler bisa fokuskan hanyalah Xavier yang telah menolongnya, menempatkan dirinya di posisi aman jauh dari bahaya. Walau makhluk di dalam dirinya lah yang lebih bahaya.
Sakit itu datang perlahan, menusuk dada Tyler, bukan akibat cakaran Hyde. Tapi tempat di atas jantungnya. Perasaan yang asing, membingungkan.
Dia memutar pandangan lagi ke Xavier, memeriksa setiap tarikan napasnya, setiap gerakan ringan saat tidur. Dadanya sesak, sehingga Tyler menelan napas panjang, seolah mencoba menahan kepedihan yang tiba-tiba muncul.
Di dalam dirinya, sesuatu terasa mengganjal. Hyde, makhluk yang merupakan bagian dari tubuhnya, seolah ikut merasakan ketidaknyamanan itu. Ada dorongan yang tidak bisa Tyler kendalikan sepenuhnya. Hyde mendambakan sesuatu, kedekatan, sebuah kontrol, kehadiran. Tapi Tyler tidak mengerti bagaimana harus menafsirkan perasaan itu.
Tanpa sadar, kakinya menyentuh lantai dingin kamar. Berdiri bergerak, langkah demi langkah. Pandangannya tidak lepas dari Xavier yang masih dibawa mimpi. Setiap gerak Tyler terasa lambat, hati-hati, seolah mencoba menimbang akibat setiap langkah.
Rasa mengganjal di hatinya semakin intens. Tyler menahan napas, merasakan campuran frustrasi, sakit, dan rasa ingin tahu yang menekan. Hyde di dalam dirinya mendambakan kontak lebih dekat dengan Xavier, dan meski sadar akan dorongan itu, Tyler merasa mual oleh perasaan yang muncul, sekaligus muak karena tidak bisa sepenuhnya menahan diri.
Dia berdiri di tepi kasur Xavier, sedikit memiringkan kepala menatap wajah damai itu, ingin mempelajarinya. Tyler merasakan ketegangan bukan karena rencana atau permainan. Melainkan karena perasaan yang nyata, membingungkan, dan menyakitkan, sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Tyler mendudukkan diri di kasur Xavier, tubuhnya setengah menunduk, matanya menatap wajah Xavier yang matanya mulai bergerak-gerak di bawah kelopak mata. Pertanda remaja itu mulai terbangun.
Tyler menahan nafas, terkejut Xavier membuka mata yang tertuju ke arahnya, seolah mata itu berusaha membaca pikiran tergelapnya hanya dengan sebuah tatapan.
Xavier duduk perlahan di tepi kasur, wajah bingung mengantuk, namun tidak risih dengan kehadiran Tyler yang menganggu tidurnya. "Apa yang salah?" Tanyanya, suaranya lembut menahan rasa penasaran.
Tyler tetap diam. Matanya tidak berpaling dari Xavier, menatap dalam selama hampir satu menit penuh. Hening memenuhi kamar, napas mereka terdengar jelas.
Kemudian, dengan suara lirih Tyler berkata, "Aku... kedinginan." Jawabnya secara naluriah.
Kata-kata itu mengejutkan dirinya sendiri, namun sesuatu dalam dirinya, Hyde mengangguk setuju. Tubuh Tyler kaku, tapi ada dorongan samar membawanya ingin lebih dekat ke arah Xavier.
Membutuhkan kehangatan.
Kerutan dahi Xavier semakin dalam, ekspresinya penuh kebingungan. "Apa kau ingin selimut tambahan?" Tanyanya lagi, mencoba memahami niat Tyler yang tak jelas.
Kelembutan dari kalimat itu menggetarkan hatinya.
Tyler tetap diam. Tubuhnya bergerak seolah dituntun oleh sesuatu yang lebih kuat dari kehendaknya sendiri. Menaikan kakinya perlahan di atas kasur tanpa izin. Xavier terkejut, beringsut mundur memberi ruang.
Xavier sangat baik dibandingkan Masternya.
Mengambil posisi di kasur, merebahkan tubuhnya menghadap Xavier yang masih terdiam tanpa memutuskan kontak mereka, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
Ingin lebih dekat... Sangat dekat.
Dengan suara lirih Tyler membuka suara lagi, hampir berbisik, "Aku ingin tidur di sini. Bersamamu." Kata-kata itu meluncur begitu halus, rapuh, dan tidak terduga, seolah Tyler sendiri belum sepenuhnya memahami apa yang baru saja dia katakan.
Kerutan di dahi Xavier jelas berusaha mencoba memahami, bahkan mungkin ingin menolak keberadaan Tyler yang berhasil menghapus ruang pribadinya. Logika remaja itu seolah ingin mengatakan bahwa mereka terlalu dekat, aneh, ambiguitas.
Tyler memberikan tatapan paling menyedihkannya, rapuh, dan manusiawi. Yang tampaknya berhasil memaksa Xavier untuk menghentikan semua pikiran negatif yang tercetak jelas di wajahnya. Remaja itu menghela napas lelah, seolah menolak mungkin akan lebih menyakiti Tyler daripada sekadar membiarkan dia di sampingnya.
Tanpa berkata apa pun, Xavier ikut membaringkan tubuhnya di samping Tyler. Mereka terlalu dekat untuk kasur yang sempit. Keheningan yang tercipta terasa penuh perhatian, aman, hangat. Tyler menatap Xavier sekilas seperti mencari persetujuan sebelum merilekskan tubuh dan menutup mata berusaha untuk kembali tidur.
Xavier adalah kandidat yang baik untuk menjadi Masternya.
Namun kantuk tidak pernah datang, terlalu terganggu akan tatapan tanpa henti dari Xavier tertuju padanya. Masih penuh kebingungan, tapi juga dorongan untuk melindungi.
Tidak memukulnya, penuh perhatian, lembut tapi kuat. Tyler ingin lebih...
Mata Tyler terbuka sepenuhnya, membuyarkan semua apa yang dia pikirkan tentang anak laki-laki itu, merasakan tangan hangat Xavier menyentuh wajahnya.
Kontak fisik hampir membuat Tyler panik, menjadi lebih tenang bahwa sentuhan Xavier sangat menenangkan. "Xavier?" Tanyanya kebingungan mempertahankan kontak mata mereka berusaha mencari jawaban.
Jari jemari Xavier turun di garis rahangnya, berhenti di dagunya, mengangkatnya sedikit. Xavier bergeser, mengangkat setengah tubuhnya mengunakan tangan kiri sebagai tumpuan. Sedangkan tangan yang lain masih bertahan di dagu Tyler, memberikan usapan paling lembut yang berhasil membuat Tyler mendengkur rendah.
Rambut panjang Xavier menutupi setengah wajahnya, bayang-bayang cahaya tidak bisa memperlihatkan ekspresi remaja itu. Hingga Xavier mencondongkan kepalanya perlahan mendekat hingga bibir mereka bertabrakan tanpa bisa dia cegah.
Mata Tyler melebar penuh keterkejutan, nafasnya tertahan, reaksinya sangat lambat berusaha mencerna apa yang terjadi. Tapi Hyde menyuruhnya untuk tetap tenang, tidak panik, dan jangan mendorong atau menghentikan Xavier.
Merasakan penerimaan diamnya, bibir yang sebelumnya hanya menempel, berubah lebih berani. Gigi Xavier menggigit bibir bawahnya pelan. Memohon untuk akses memasuki mulutnya lebih dalam.
Lidah terampil itu melesat menyapu rongga mulutnya dengan sensual. Sengaja menggoda menghasilkan lenguhan dari Tyler. Xavier menarik diri beberapa detik kemudian, memberi jarak agar mereka bisa bernafas.
"Xavier?" Suara Tyler bergetar.
"Sstt.. Tenang. Aku akan membuatmu lebih hangat." Kalimat itu berhasil membuat Tyler memerah padam, jelas pernyataan tentang dirinya kedinginan telah disalahartikan.
Matanya terpejam, mengizinkan Xavier kembali untuk melumat pelan bibir bawah Tyler dan lidah menyapu rongga mulutnya. Tyler merengek tanpa sadar menyadari bahwa ini adalah pertama kalinya dia dicium, dan bahkan tidak pernah terpikirkan bahwa dia akan mencium seorang anak laki-laki.
Tangan Xavier berpindah di tengkuknya, berusaha memperdalam ciuman mereka. Tangan Tyler yang bebas mengalung indah di leher remaja di atasnya, menariknya kebawah hingga tubuh mereka menyatu. Jelas ini bukan ciuman pertama Xavier, bagaimana terampilnya lidah itu membuat Tyler semakin meleleh di bawahnya.
Hyde berdengung samar di belakang, begitu tenang dan pasrah, tubuh Tyler ikut melemas menerima.
Terima semuanya, sambut kehadirannya. Buat tubuh mu patuh di hadapannya.
Dadanya naik turun begitu cepat. Tyler tidak mengerti, kalimat itu terdengar sangat benar. Ingin menikmati lebih lama. Ingin patuh dan menyenangkan Xavier.
Ingin Xavier menjadi Master barunya.
Tyler mengerang rendah.
Nafas mereka bersahutan bagaimana Tyler berusaha mengikuti irama lidah Xavier yang membelit lidahnya. Dadanya sesak membutuhkan oksigen, tapi dia tidak ingin berhenti. Tapi Xavier berpikiran lain, lebih dulu menarik wajahnya memutuskan tautan bibir mereka. Mengakibatkan rengekan dari Tyler yang tidak bisa dia cegah, terdengar terlalu membutuhkan. Wajahnya memerah padam mendengar kekehan Xavier.
Elusan di pipinya lembut, terlalu lembut. "Pertama kali?" Pertanyaan itu berhasil membuat Tyler semakin malu berusaha memalingkan wajah.
Sial, kemana keberaniannya beberapa jam lalu? Mengapa sekarang dia begitu lemah di bawah dominasi Xavier? Memerah seperti seorang gadis ketika mendapatkan ciuman pertama. Parahnya dia tidak menolak, tidak kesal, yang ada hanya membuatnya tampak bingung dan menginginkan lebih.
"Apa kau masih kedinginan?" Xavier kembali bertanya.
Tyler terengah-engah, seperti ada maksud lain dari pertanyaan itu, sebuah janji untuk mendengarkan semua keinginannya.
Dia tidak merasa kedinginan lagi, tapi dia masih mendambakan sentuhan lain dari Xavier. Sehingga kepalanya tanpa sadar mengangguk sebagai jawaban.
Xavier terkekeh kembali, mengerti kegundahannya, menyeringai. "Kau ingin melanjutkannya?" Jelas remaja itu sedang menggodanya. Dan Tyler yang haus akan sentuhan mengangguk untuk kedua kalinya. Tidak berani membuka mulut, takut dia tidak bisa menyusun kalimat dengan benar.
Setelah diberi izin, Xavier kembali menyatukan bibir mereka. Rambut panjang remaja itu tergerai menyentuh pipi Tyler, menimbulkan rasa geli tetapi juga intens.
Bibirnya otomatis terbuka menyambut lidah Xavier. Matanya tertutup berat menikmati. Nafas hangat mereka menyatu.
Ciuman itu lebih seperti melahap, keras, terlalu menuntut. Membuatnya kewalahan berusaha mengimbangi hingga dadanya terasa begitu penuh akan gembira dan gairah.
Bibirnya di gigit dengan gemas, mulut dalam Tyler di jelajah dengan rakus, lidah mereka saling beradu merebut dominasi. Rengekan Tyler tertahan di sela-sela bibirnya.
Tangannya susah payah menggenggam erat bantal di bawahnya, membumikan dirinya yang hampir diluar kendali. Ditambah Hyde begitu gembira akan penyatuan mereka. Berseru senang, seolah menyoraki Xavier untuk semakin menundukkan nya. Dan seperti mengerti, remaja itu semakin gencar melumat bibirnya. Tyler tidak akan terkejut jika bibirnya memerah bengkak, bahkan mungkin berdarah.
Memikirkannya hanya menambah gairah.
Xavier melepas ciuman mereka sejenak, memberi ruang untuk bertanya di sela nafas beratnya, "Kau ingin lebih?"
"Ya."
"Kau ingin aku melakukan apa?"
Tyler menggigit bibir bawahnya, atas pertanyaan itu. "Apapun." Katanya terlalu linglung, tidak bisa mencerna apa yang keluar dari mulutnya.
Xavier berkedip terlalu cepat, nafasnya terengah-engah, matanya menatap dalam mata Tyler berusaha mencari persetujuan. "Kau ingin kita berhubungan seks?"
Nafas Tyler tercekat, merasakan wajahnya memerah mendengar pertanyaan frontal meluncur mulus dari mulut Xavier.
"A-aku tidak tahu... Maksudku aku tidak pernah melakukannya." Gumamnya rendah sedikit keraguan.
"Aku akan mengajarimu." Jawab Xavier penuh tekad. "Tapi sebelumnya, apa luka mu masih sakit? Aku tidak ingin menyakitimu." Ekspresi kekhawatiran tercetak jelas di wajahnya.
"Aku baik-baik saja. Tolong lanjutkan." Suara Tyler pecah, hampir tidak sabar.
"Tapi aku tidak memiliki pengaman."
"Oh-" Tyler mengerjapkan matanya bingung, tidak tahu bereaksi apa.
"Kau... Memilikinya?"
Tyler terkekeh berusaha menutupi kegugupannya, "Tentu saja tidak. Kau mengira aku berencana berkencan dengan Wednesday dan menyiapkan pengaman?"
"Kau berkencan?"
"Awalnya, tapi kencan yang seharusnya romantis, berubah menjadi bencana mengunjungi rumah horor. Bahkan parahnya Wednesday membawa gadis lain." Jelas Tyler, berpura-pura terdengar kecewa.
"Gadis itu memang aneh." Ada nada cemburu di balik kalimat itu yang Tyler tidak mengerti ditujukan pada siapa.
"Ya. Mari berhenti berbicara tentang Wednesday." Kali ini Tyler yang merasa kesal, "Jadi... Apakah kita melanjutkannya?"
"Apa kau tidak keberatan tanpa pengaman?" Tanya Xavier ragu.
"A-aku... Ya. Hm, mungkin?"
"Kau yakin?"
"Ya! Dan lakukan Xavier, sebelum aku berubah pikiran." Teriak Tyler terdengar seperti mengancam.
"Tenang, okay? Kemana Tyler yang manis dan lembut sebelumnya?" Xavier menyeringai bodoh.
Tyler menahan diri untuk tidak mengutuk. "Berhenti menggoda-"
Kalimat itu belum selesai terucap saat Xavier menciumnya kembali. Kali ini penuh ketidaksabaran, kasar, penuh lidah dan ludah. Seharusnya Tyler merasa jijik, tapi anehnya tidak.
Xavier menarik diri, melepas bajunya sendiri memperlihatkan tubuh kurus dengan massa otot kecil terbentuk di perutnya. Membuat Tyler membeku, menelan ludah kasar.
Seringai Xavier semakin lebar.
Tyler ikut menanggalkan sweater nya dengan canggung, mendesis kesakitan ketika tidak sengaja tangannya menekan dada yang terluka.
"Biar aku bantu." Xavier menarik perlahan sweater penuh kehati-hatian, lalu beralih membuka kancing celananya dan menarik, diikuti celana dalam. Memperlihatkan Tyler yang bertelanjang tanpa satu pun kain menutupi tubuhnya.
Jika sebelumnya Xavier melihat tubuh Tyler penuh kecanggungan, sekarang tatapan itu penuh nafsu baru, hingga membuat Tyler menggigil. Entah karena takut atau sesuatu yang lain.
Xavier beranjak meraih botol pelumas, meletakkannya di samping bantal.
Lalu tatapan itu kembali pada Tyler. Tatapan paling lembut walau nafsu remaja itu jelas menggebu-gebu seolah sedang memujanya. Hal itu hanya menambah rasa malu Tyler, bercampur gairah. Dan penisnya mulai ereksi di bawah tatapan intens itu.
Xavier mengetuk pelan lututnya, "Buka sedikit kaki mu." Tyler begitu patuh membuka kakinya hingga dia benar-benar di posisi rentan.
Begumam rendah sebagai persetujuan, Xavier memposisikan kembali tubuhnya mengurung Tyler, lalu menerkam kembali bibirnya lalu jatuh ke dagunya, turun hingga ke leher. Tindakan itu hampir membuat Tyler tidak bisa menahan diri untuk mendesah nikmat.
Awalnya hanya kecupan malas. Tanpa bisa dicegah mata Tyler membulat lebar, suaranya tercekat hampir berteriak merasakan sengatan tajam di perpotongan lehernya.
Tidak, sial Xavier menggigitnya. Terlalu keras, tajam, sakit.
Nafas Tyler memburu begitu cepat.
"Xavier! Tidak, jangan!" Tapi seperti tuli, gigitan Xavier berpindah ke bahunya yang berhasil membuat air mata menggenang di pelupuk mata, mengaburkan pandangan.
Dadanya bergemuruh, gigitan itu jelas tanda klaim di atas tubuhnya. Tyler seharusnya marah, menghentikan, tapi dia tidak melakukan apapun untuk menolak. Bahkan Hyde mendengkur, bersorak senang telah ditandai begitu kasar.
Apa yang salah dengan dirinya? Motif awalnya adalah berkencan dengan Wednesday. Namun harus gagal karena gadis itu membawanya kencan di rumah hantu bersama teman hiperaktif nya. Dan sekarang, Tyler malah bermesraan- Tidak! Lebih tepatnya berhubungan seks dengan anak laki-laki yang dia benci.
Sialnya, Tyler begitu menyukai apa yang Xavier lakukan padanya.
Xavier mengecup malas gigitan di bahunya, bibirnya berpindah ke dadanya memberikan ciuman basah, terus turun hingga ke perutnya memberi sensasi dingin dan geli di sepanjang kulit sensitifnya.
"Xavier..." Tyler mengutuk dirinya mendengar desahan nama itu di lidahnya. Tapi berhasil menghentikan gigitan tajam di pinggulnya.
Xavier menjauhkan diri sejenak meraih botol pelumas, menuangkan isinya sedikit ceroboh ke tangan, dengan tatapan tidak pernah lepas dari Tyler.
Tyler mati-matian bernafas lewat mulutnya, terlalu bingung dan bergairah. Namun mengantisipasi apa yang Xavier lakukan selanjutnya.
"Santai saja." Perintah itu memaksa tubuh Tyler untuk lebih rileks. Tapi menegang kembali saat sebuah jari berusaha mengelus paha terdalamnya, bergeser tepat di atas lubang kemaluannya.
"Santai, kau bersama ku. Aku akan melakukannya dengan baik dan pelan." Walau masih ada keraguan, Tyler mengangguk kepala mengerti. Entah mengapa dia mempercayai Xavier sepenuhnya, sehingga otot-ototnya mengendur dari ketegangan.
Merasa Tyler sudah siap, jari licin Xavier perlahan memasukinya. Tangannya yang tidak sakit berpegangan pada bahu Xavier, mencengkeramnya terlalu kuat, seolah menyalurkan ketidaknyamanannya.
"Ssst... Tidak apa. Kau sangat baik, Tyler." Setelah mengatakan itu Xavier dengan berani memasukkan jarinya lebih dalam hingga menelan dua buku jarinya.
Tyler terbelalak terkejut, merengek pelan ingin berteriak. "Jangan terlalu berisik. Kau tidak ingin ada yang memergoki kita, bukan?" Bisik Xavier tepat di telinganya yang sensitif.
Kepalanya menggeleng terlalu cepat takut, hampir melupakan dimana mereka berada. Walau asrama Nevermore tidak memiliki dinding tipis, tetap saja Tyler takut memikirkan siapapun akan melihat dirinya seperti ini. Rentan, tak berdaya di bawah kendali remaja yang tidak dia sukai.
Tanpa memberi peringatan Xavier menekan terlalu cepat hingga membuat Tyler berteriak kasar sebelum tangan membekap mulutnya. Air mata kenikmatan akhirnya jatuh saat tanpa sengaja jari itu menekan titik sensitifnya, yang hampir membuatnya gila.
"Aku akan menambahkan yang lain. Kau bisa mengigit tanganku, bahu, leher, atau apapun yang ada di dekatmu."
Tyler mengangguk singkat, tangan di mulutnya menjauh. Nafasnya semakin berat merasakan penambahan jari di bawahnya. Menimbulkan rintihan yang sekarang mulai terasa sedikit sakit.
Penetrasi itu membutuhkan waktu lebih banyak saat jari ketiga berhasil memasukinya. Jari-jari itu bergerak keluar masuk secara teratur dengan kecepatan lambat hingga sedang. Beberapa kali Xavier dengan sengaja menabrak prostatnya berhasil membuat Tyler menangis. Meredam teriakannya dengan menggigit bahu Xavier, atau bantal di bawah kepalanya untuk menyalurkan kenikmatan frustrasi.
Merasa Tyler cukup siap, Xavier mengeluarkan semua jarinya menimbulkan protes tidak setuju dari Tyler. Xavier terkekeh, mengecup bibirnya sejenak memberi perhatian.
Penis Tyler semakin keras mengantisipasi Xavier yang mengeluarkan penisnya sendiri. Menggigit bibir dengan mata hampir ketakutan memikirkan benda itu akan memasukinya. Tapi tidak, Tyler tidak ingin berhenti. Dia- sial Hyde seperti menginginkannya, membutuhkannya.
Xavier menggeser tubuhnya lebih dekat, mengangkat satu kaki Tyler ke pahanya mencari posisi yang nyaman. Nafas remaja itu memburu, jelas telah menahan diri sedari tadi. Penisnya sejajar dengan lubang kemaluannya, "Santai saja."
Tyler berusaha setenang mungkin saat kepala kemaluan berlumuran pelumas memasukinya. Masih terasa sakit, tapi dirinya percaya sakit itu akan segera hilang dan Xavier akan bergerak dengan lembut.
Penis itu semakin masuk, tubuh mereka semakin menempel, menyatu. Jantung Tyler berdetak sangat cepat hingga dia bisa mendengar setiap detaknya di telinga.
"Ah, sial... Sedikit lagi." Remaja di atasnya mengumpat masih mempertahankan kontak mata mereka. Dan beberapa kali dorongan, Tyler menahan nafas, rasa sakit dan kenikmatan bercampur menjadi satu merasakan penis itu telah berhasil masuk hingga ke pangkalnya.
"Sial, sial, sial... Terlalu ketat. Hangat." Racau Xavier yang menarik perlahan kemaluannya lalu dengan cepat mendorongnya kembali. Pinggul Tyler terangkat, mendesah dalam atau... dia berteriak? Tyler tidak peduli, merasa sangat penuh, panas dan... Nikmat hingga otaknya tidak bisa berpikir dengan jernih.
Kepalanya terasa pusing, pandangannya buram karena air mata.
Dan kembali Xavier melakukan dorongan berulang kali, keluar-masuk dengan kecepatan yang semakin keras, cepat, terlalu kasar hingga membuat mereka mendesah beriringan.
Xavier menyatukan bibir mereka, masih sibuk menggerakkan pinggulnya. Tangan Tyler tidak berdaya hanya bisa meremas sprei dibawahnya hingga kusut. Ciuman itu turun ke lehernya memberikan gigitan kasar, lalu naik ke telinganya merasakan nafas hangat berhembus pelan menimbulkan sensasi merinding.
Tyler berusaha sebisa mungkin menahan teriakannya, terlalu terstimulasi hingga penisnya bocor. Dia sudah sangat dekat.
"Apa kau sudah dekat?" Xavier bertanya masih mempertahankan kecepatan pinggulnya.
"Hmm.. Ya, aku-" Kata-kata nya terpotong satu kakinya ditekuk. Posisi itu semakin membuat Tyler menggeram rendah penuh kenikmatan. "Ya, disana. Kumohon ah, lebih cepat. Sangat- oh!"
"Sial, Tyler." Penyebutan namanya hanya menambah bahan bakar panas di rubuh Tyler. Oh, dia sangat menyukainya. Sangat nikmat, dan dia tidak ingin ini berhenti.
Pinggulnya melengkung, bergerak berlawanan dari dorongan Xavier. Matanya berkunang-kunang di ambang pelepasan. Tangannya turun menggosok penisnya sendiri naik turun. Sangat dekat...
"A-aku harus. Xavier kumohon aku harus keluar!" Serunya di sela-sela desahan.
"Ya, sayang... Kau bisa keluar sekarang." Tubuh Tyler menggigil mendengar panggilan tak terduga itu.
Hanya beberapa kali hentakan pada penis berkedut di tangannya dan beberapa kali gosokan, Tyler menggigit bahu Xavier mengosongkan semua pelepasannya.
Matanya terpejam mengatur nafas, merengek kemaluannya yang masih ejakulasi, mengakibatkan genangan sperma di perutnya.
Tubuh Tyler terkulai lemas di sisa-sisa orgasme, terlalu sensitif bagaimana Xavier tidak hentinya bergerak mencari pelepasannya sendiri.
"Aku dekat. Apa kau ingin aku mengeluarkannya di dalam?" Seperti di ambang kesadaran, Tyler hanya bisa mengangguk menyetujui. Xavier mendesis pelan, menggerakkan pinggulnya dengan tergagap. Benda di dalamnya berkedut membesar, dalam beberapa kali hentakan, akhirnya cairan hangat mengecat jauh di dalam. Tyler tanpa sadar merapatkan kakinya, memeras semua cairan memasukinya. Menyukai sensasi hangat dan penuh.
Hyde di dalam tubuhnya mendengkur rendah menikmati.
Udara di ruangan itu di penuhi bau keringat dan seks. Perlahan Xavier mengeluarkan penisnya, lalu merebahkan diri di samping. Mengatur nafas bersama dari aktivitas mereka.
Xavier menolehkan kepalanya, ekspresi kekhawatiran kembali lagi. "Apa aku menyakiti mu?"
Tyler balik menatapnya, mendengus. "Telat untuk bertanya seperti itu setelah kau benar-benar menghancurkan ku dengan seks yang terlalu intens."
"Oh, maaf aku hanya... Entah mengapa tidak bisa menahan diri."
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja." Tyler memberikan senyuman meyakinkan, walau bagian bawahnya mulai terasa sakit sekarang.
Xavier bergeser semakin dekat, tangannya terangkat mengelus pipinya. Mata Tyler hampir tertutup, bergumam rendah menikmati kelembutan tersebut.
"Jadi... Ini juga pertama kalinya untukmu?"
"Ya." Jawab Tyler, "Dan kau?"
"Aku pernah melakukannya dengan mantan pacar ku. Tapi bersama anak laki-laki, ini pertama kalinya." Jelas Xavier, kini jari-jarinya memainkan ikal Tyler.
"Seharusnya aku tidak kaget kau sangat berpengalaman." Bisik Tyler terlalu pelan di sela-sela kantuk yang mulai menyerang.
"Aku? Terimakasih aku rasa?" Jawab Xavier bingung.
"Itu bukan pujian." Keluh Tyler berusaha untuk tidak memutar matanya jengah. Tanggapan Xavier hanya tertawa.
Kantuknya semakin parah tapi dia tidak ingin beranjak membersihkan diri.
Hyde di dalam tubuhnya mulai mendesak, sebuah dorongan untuk lebih dekat, untuk merasakan. Matanya mengamati reaksi Xavier seperti berusaha mencari persetujuan. Perlahan tubuhnya beringsut mendekat mencari kehangatan.
"Berbalik lah." Walau bingung Tyler tetap menuruti perintah itu, menggeser tubuhnya berbalik. Tanpa diperintah, tangan panjang Xavier membungkus pinggangnya. Telapak tangan itu mengusap pelan perutnya dengan gerakan melingkar, berusaha menenangkan.
Sangat nyaman, aman...
Bibir lembut Xavier mengecup malas bahunya, naik ke leher, dan berhenti di telinganya.
"Xavier?" Ada sesuatu mengganjal mengapa Xavier melakukan hal itu.
"Tidurlah, aku akan memeluk mu agar tidak kedinginan." Seperti sebuah perintah tubuhnya semakin santai, matanya tertutup menikmati pelukan hangat.
Tyler sadar, dorongan itu bukan rencana awalnya. Tapi berada di sekitar Xavier membuatnya seperti terikat. Tidak pernah dia merasakan membutuhkan kedekatan pada Masternya, atau bahkan pada Wednesday yang diam-diam pernah dia sukai (walau rasa suka itu mulai memudar). Seperti sesuatu yang lebih liar, lebih gelap, dan lapar berasal dari keinginan tergelap Hyde yang hanya bisa dipadamkan oleh kehadiran Xavier seorang.
Apa karena tindakan Xavier yang sangat lembut, penuh perhatian dan kesabaran merawatnya, telah menggetarkan hati Hyde?
Memikirkan hal itu semua tidak membawanya kemana-mana. Di ambang kesadaran, Tyler mengerti bahwa Hyde benar-benar menginginkan Xavier untuk menjadi Masternya.
Namun pertanyaannya adalah. Apa yang harus dia lakukan untuk memutus rantai yang membelenggunya pada Marilyn Thornhill? Dan apa Xavier bersedia menjadi Master Tyler?
