Chapter Text
Kisah musim gugur itu dimulai kala Pete dibangkitkan kembali. Dari dasar gelap sumur yang menelan eksistensinya untuk kesekian kali, lalu melepehnya lagi. Doa pete masih tak berubah. Dia ingin mati. Dia mimpi akan kebebasan yang sejati dan lepas dari siksa yang merantai sukmanya ke permukaan bumi. Abadi bukanlah soal memenuhi segala nafsu dan puas diri. Memang sejak awal dia diciptakan oleh cecunguk bangsat itu, Pete tak pernah sedikitpun digelayuti ambisi untuk mengejar dunia. Tempatnya bukan disini, mau seberapa sering Pete meyakinkan dirinya bahwa berbaur dalam dunia manusia bukanlah sesuatu hal yang buruk.
Nyatanya, dia bukanlah manusia sesungguhnya. Dia adalah anak dari rumah mayat, yang dijahit dari reruntuhan dan disusun dari sampah serta mayat buangan, dipungut dari sekat-sekat binasa dan kehancuran. Dari segi biologis maupun filosofis, tak ada teori manapun yang bisa mengindahkan fakta bahwa Pete bukan seorang manusia. Dia makhluk keji yang datang dari tangan bengis seorang figur yang mati dilahap egonya sendiri. Kejam yang menusuk hati tatkala dia menolak mentah-mentah pinta pete untuk dibuatkan pendamping agar bisa menghibur keberadaannya yang tak berarti. Pete yang berlutut dan mengemis atas secercah afeksi diludahi bak dia makanan basi.
Kemudian yang tersisa hanyalah kesendirian yang abadi.
Mengapa manusia berhak mati sementara dirinya tidak? Amal apa yang mereka perbuat hingga mereka diberikan karunia untuk berhenti menjalani hidup sesuka mereka sedang Pete dipaksa untuk terseok-seok melewati hari demi hari digerogoti sengsara atas keabadian yang tak pernah dia inginkan.
Apa sebenarnya arti kelahiran dan sepenggal nyawa yang terabaikan?
Mendiang Pak Tua buta yang dahulu merupakan teman satu-satunya Pete bertuah bahwa pada setiap jalan yang dipenuhi kerikil derita, akan ada cinta yang menyambut di penghujung jalan. Bentuknya bisa bermacam-macam. Dari hewan, tumbuhan, seseorang, bahkan sekadar kedamaian yang membawa obat penawar bagi luka yang sudah Pete tanggung selama bertahun-tahun lamanya.
Betapa indahnya perjamuan harapan. Tak bohong, ada sedikit rakus yang bersemayam sejak peluang itu terbuka.
Lantas pada musim gugur itu pula, dia bertemu pemuda yang mampu mengubah seluruh kebiruannya menjadi kilau keemaasan yang agung.
-
Pete tak bermaksud mengintai gerak-gerik sosok misterius yang tengah terpekur di atas batu pinggir telaga dengan sembunyi-sembunyi. Sebab tak banyak orang tahu apalagi mampir ke bagian danau terpencil ini membuat Pete menatap heran pada kejutan yang tersaji tak jauh dari tempatnya berdiri. Biasanya hanya Pete dan desir angin dingin yang mengigit pori-pori kulitnya pada sore hari dia dapat menikmati sunyi selagi matahari terbenam di garis horizon.
Namun pemuda itu tampak khidmat bersenandung sendiri sambil sesekali membasuh air pada tungkai kakinya.
"Siapa disana?"
Pete sontak meringsut mundur, sebagian takut sang pemuda terbirit ketika dia menemukan sosok Pete menghantui ruang privasinya. Pete berlindung dibalik pohon besar yang berhasil menutupi setengah bayangannya.
"Kalau berani, keluar saja!"
Pete menelan ludah susah payah. Mulutnya bergetar untuk berbicara. Ada segenap kata-kata yang hendak melesak keluar, tetapi mustahil terucap tanpa terdengar mengerikan di telinga mereka.
"Kau."
Tiba-tiba saja, sang pemuda menunjuk pada pohon yang Pete remat erat batang tubuhnya. Gawat, dia ketahuan. Tak ada lagi alasan untuk tinggal lebih lama, kecuali–
"Jangan pergi! Aku bisa lihat kau dari sini kok. Tidak apa-apa. Aku tidak takut."
Pete bergeming.
Dahulu mungkin Pete akan terang-terangan menyetujui bahwa dia adalah makhluk pengecut yang selalu takluk di bawah kuasa tangan manusia. Gerak-geriknya penuh ragu, seperti bayi baru lahir walau notabenenya Pete memang tak lebih tua daripada beberapa tahun umur balita. Itu sebelum pete mempelajari arti kehidupan yang diturunkan padanya–setelah dia dijamah oleh akar-akar pengetahuan, lika-liku sejarah manusia yang penuh derai perang dan kekerasan, belum lagi kematian. Jiwa-jiwa tak bersalah yang menjadi korban kebrutalan. Pete akui, demikiannya hal tersebut mendorong naluri Pete untuk semakin mengerti bahwa dunia tak pernah berpihak padanya, yang tak dianggap manusia.
"Apakah kau masih disitu?"
Pete mengangguk pelan, walau dari jarak sejauh itu akan sulit bisa terlihat.
"Aku Patrick Stump. Maaf kalau aku masuk wilayahmu tanpa izin. Aku tidak berniat buruk apapun."
Suaranya lembut dan jauh dari nada menyentak yang mengingatkan Pete pada sosok mendiang pak Tua. Tangan ajaib pertama yang diulurkan padanya.
Pete terus mengamati pemuda yang berdiri memandangnya.
Kemudian dia berdehem pelan dan meraih topi fedora yang tergeletak di atas batu. Meski Pete belum begitu paham standar keindahan manusia umumnya, pemuda ini tampak bersinar. Wajahnya pucat dan pipinya sedikit tembam, bersurai sinar matahari sore di kaki cakrawala. Pakaian yang dia kenakan serba putih dengan bercak noda kotor menghasi beberapa titiknya.
"Baiklah kalau kau tak ingin bicara. Aku akan segera pergi. Maaf atas kecerobohanku, sekali lagi."
Pemuda itu akan pergi?
Tunggu dulu, dia tak boleh pergi. Pete belum selesai melantun kata-kata sepadan pada sosok yang memberkati pemandangannya tanpa aba-aba ini.
Pete menyeruak keluar dari sarang persembuyiannya, seraya berseru. "T-tunggu!"
Pemuda itu berpaling dan pete dapat melihat bagaimana ekspresi wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat dalam sepersekian detik. Sial. Pete bodoh. Pete naif. Pete yang keras kepala dan menolak belajar dari pengalaman buruknya dirajam manusia.
Alis yang menukik hebat disertai mulut yang terkatup rapat perlahan mengendur dan melembut, bersama langkah kaki yang mengikis jarak di antara mereka.
Pete mematung di tempatnya berdiri. Dia hendak beranjak, namun entah kenapa tanah di bawah kakinya menolak mengusirnya pergi.
"Kau...Apakah kau dewa?"
Pete itu dewa?
Tidak. Dia bukan dewa. Pete bahkan tidak tahu apa itu dewa. Dia belum mempelajari ilmu yang membicarakan pengertian dewa maupun definisinya.
Pete lantas menggeleng.
"Kau bisa bicara?"
Pete mengangguk pelan.
"Luar biasa..." Sang pemuda menghentikan langkah di hadapan Pete. Dia menelengkan kepala bingung sementara kedua obsidian biru laut terang itu berbinar terang. "Kau ini, siapa?"
Pete yang diselimuti rasa pesimis bahwa pemuda itu benar-benar siap untuk mendengar jawabannya, berujar singkat.
"Pete."
"Pete, huh." Si pemuda mengulas senyum lembut. "Pete. Nama yang bagus. Aku Patrick."
"Patrick." Ulangnya samar.
"Benar, Patrick. Halo, Pete. Senang berkenalan denganmu."
Ketika sang pemuda menyodorkan tangan untuk dijabat, Pete putuskan untuk menyambut, lantas meletakkan pada pucuk kepala, seraya mengarahkannya untuk menepuk pelan. Dia tertawa kecil dan mengulang geraknya lembut.
Mungkin jika ada satu hal yang Pete sukai pada jiwa manusia adalah sisi penuh kasih sayang mereka.
-
Patrick mengatakan bahwa dia buronan kerajaan–ralat, seorang pangeran. Patrick terbata-bata mengoreksi dan Pete berakhir mendengarkan Patrick bercerita sambil menghangatkan tubuh dekat api unggun yang Patrick nyalakan. Rupanya Patrick mahir dalam memantik api, berbeda dengan Pete yang hanya piawai memilih kayu bakar mana yang mudah dilahap api sekaligus paling tahan lama.
Patrick juga bilang dia urung dijodohkan oleh orang tuanya berdasar motif politik atau koalisi kerajaan–yang Pete tidak paham artinya–maka dia kabur begitu saja. Tak mudah meninggalkan kampung halaman dan tanah dia dilahirkan, tetapi Patrick merasa sejak dia tumbuh dewasa, afeksinya terhadap lingkungan yang mengekangnya untuk terbang pupus seketika.
Pete menelengkan kepala bingung. "Seperti burung?" Seraya membuat gestur terbang melalui kedua lengan dikepak ke samping.
Patrick tergelak melihatnya. Pete tidak tahu apa yang lucu dari hal itu.
"Kau tahu burung juga ternyata."
Pete mengangguk. "Aku berteman dengan semua hewan."
"Semua?"
"Semua."
"Menakjubkan." Patrick menyeru kagum dan Pete tersenyum menyambut hangat yang menyelinap masuk.
Pete belum pernah bertemu seseorang secerah Patrick. Berbanding terbalik dengan Pak Tua serupa bulan yang memancar rasa damai di musim dingin, Patrick seterang matahari. Jernih dan gembira. Suaranya seperti kicau burung di pagi hari. Di bawah bias rembulan pun Patrick ramah bercahaya dengan pesonanya.
Patrick tengah mengunyah bekal kudapan yang dia bawa di kantungnya. Pete tidak begitu lapar tetapi dia menerima tawaran Patrick dan berakhir hanya menusuk-nusuk dengan kukunya bingung. Pete belum pernah melihat makanan berbentuk mirip batu namun empuk itu.
Patrick tiba-tiba menyahut, "Namanya Ubi. Kau pernah makan Ubi?"
Pete menggeleng kaku.
"Cara makannya dikupas, seperti ini." Patrick mulai melepas kulit luar batu–Ubi dengan telaten sementara Pete memperhatikan seksama bagaimana pergerakannya serupa manusia yang melucuti pakaian mereka. Sungguh memukau. "Kalau bisa, dikupas sampai bersih, agar kau tidak kelepasan makan kulitnya. Tak jarang bisa mengandung racun."
"Racun?" Tanya Pete. Dia pernah meliputi kata itu tertuang dalam salah satu larik puisi yang sudah dia lupa siapa pengarangnya. Zat yang membahayakan tubuh manusia dan dapat membunuh jika dosisnya berlebihan.
Pete belum pernah menenggak racun. Dia tak begitu tertarik dengan prospek metode bunuh diri yang lambat dan merepotkan.
"Betul, racun. Buah-buahan liar juga tidak boleh sembarang dimakan, nanti kau bisa keracunan."
Satu hal yang langsung terbesit dalam benak Pete adalah Berry. Pengalaman buruk yang membuat tenggorokannya panas dan terbakar hampir seharian. Bahkan air telaga segar gagal meredakan dahaga yang menyiksa.
"A-aku pernah keracunan Berry."
"Oh, ya?" Muka Patrick mengerut dan Pete buru-buru menggeleng agar Patrick melepas raut sedih yang menggantung.
"Tidak parah. Cuma sebentar."
Patrick mengangguk lama, lalu berkata, "Apakah sakit?"
"Sakit sebentar. Sekarang tidak." Jelas Pete, menambahkan senyum tipis di akhir kalimat.
Patrick membalas dengan senyum menenangkan. Pete merasakan percikan sesuatu berdering dalam telinga, serta desir aneh menderu dalam sel-sel tubuhnya.
"Aku senang kau baik-baik saja. Nah, karena aku sudah menceritakan kisahku, bagaimana denganmu, Pete? Darimana kau berasal?"
Semua kata-kata yang semula tersendat di pangkal tenggorokan Pete menguap seketika. Mustahil bisa menceritakan runut cikal bakalnya yang tidak wajar. Fakta bahwa Patrick tak mati ketakutan pertama kali dia menjumpai sosok Pete memang sebuah keajaiban hasil tangan dermawan Tuhan, tetapi berbeda jika Pete mulai menaruh percaya, apalagi terbawa perasaan bahagia tiap kali Patrick tersenyum padanya, menganggap Pete sebangsa dia, mereka, para manusia.
"Pete, kau tidak apa-apa?"
Lamunan Pete pecah olehnya, dan Pete menyadari bahwa Patrick-lah yang lebih pantas disebut dewa. Jiwanya gemerlap tak ternoda, menonjol dalam celah pepohonan dan lembap rawa. Sementara Pete telah lama merasa disinilah tempat paling tepat dia berada. Pete memalingkan wajah, lantas tak berbicara sepatah kata apapun sampai larut malam menjelang.
