Actions

Work Header

TETANGGA POLOS

Summary:

“Mhhhh abang.. Posisinya emang harus begini ya abang?” Tanya Kiki yang sekarang sudah duduk di pangkuan Emil. “Kenapa emangnya?” Emil ingin tahu apa jawaban si kecil. “Kiki kok ngerasa ada yang ganjel kalo di pangku sama abang begini. Paha abang bengkak ya?” Tanya Kiki polos. Emil sudah ingin tertawa mendengar ucapan Kiki yang memang polos itu.

Chapter 1: Polosin Si Kecil

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Jn as Emil 

Jm as Kiki

 

Hidup Emil itu selalu di intili oleh seseorang yang tidak bisa jauh darinya, yaitu Kiki. Yang juga merupakan seseorang yang sudah disukai oleh Emil sejak lama. Sedari kecil mereka selalu bersama, Emil lebih tua darinya. Rumah mereka berdekatan dan orang tua mereka pun saling kenal satu sama lain.

 

Selalu di intili atau di ikuti oleh Kiki, membuat diri Emil semakin tamak ingin memiliki Kiki seutuhnya. Awalnya karena mereka selalu dalam satu lingkup dan ruangan yang sama, Emil mulai berani menyentuh Kiki, yang bermula dari menyentuh pipinya, lama-lama malah membuat diri Emil ingin sepenuhnya.

 

“Abangg Emiyyy.” Kalimat yang selalu di katakan oleh Kiki baik itu secara langsung maupun lewat chat. Tanda bahwa Kiki ingin main bersama Emil.

 

“Ngapa cil?” Emil mah malah senang kalau Kiki sudah mengajaknya bermain karena itulah kesempatan untuk dirinya.

 

“Abang main sama Kiki yuk?” Kiki yang dengan caranya sendiri pasti selalu mendapatkan jawaban “iya” dari Emil.

 

“Boleh, tapi kalo mau main lu harus jadi pacar gue dulu cil.” Emil selalu minta pada Kiki untuk menjadi pacarnya, kalau ditanya kenapa, itu karena Emil mau dirinya memiliki status dengan Kiki dan bisa melakukan apa saja yang dia inginkan. Padahal mah, tanpa status pun sebelumnya dirinya sudah lancang kepada Kiki.

 

“Kalo Kiki jadi pacar abang, abang ga gigit-gigit Kiki sampe merah lagi kan?” Lihatlah segimana Kiki mengingat hal senonoh yang Emil lakukan padanya.

 

“Justru bakal lebih sering gue lakuin malah.” Emil menyeringai. “Ih abang kenapa begitu? Kalo gitu Kiki gamau.” Kiki menolaknya.

 

“Yakin gamau? Bukannya kalo gue cium lu, lu suka ya? Yaudah kalo emang lu gamau gue mau cari orang lain aja.” Ancam Emil dan membuat Kiki berpikir.

 

“Nanti leher Kiki merah-merah lagi abang. Kalo main yang lain gimana abang?” Masuk sudah Kiki pada perangkap Emil.

 

“Nah, kalo gitu kita olahraga ranjang aja.” Emil malah semakin semangat. “Kiki kan gasuka olahraga abang..” Sempat berpikir sebentar, Kiki sebenarnya takut jika Emil akhirnya akan mencari orang lain yang lebih seru darinya. “Yaudah abang Kiki mau olahraga sama abang, abang mau main sama Kiki kan?” Kena deh. Emil tersenyum menang.

 

“Dijamin lu suka deh sama ini, gausah olahraga ranjang deh. Gue bisa lakuin yang lain dulu, remes dada dan emut pentil lu mungkin?" Emil menyeringai dan membayangkan adegan selanjutnya.

 

"Emut pentil? Remes dada? Emangnya boleh ya abang?" Kiki bingung. "Boleh, pokoknya kalo sama gue boleh lakuin semuanya. Tapi cuma sama gue ya cil, gaboleh sama orang lain." Kiki hanya bisa meng-iyakan karena dirinya juga tidak ingin jika Emil main dengan orang lain tanpa dirinya. “Ayok abang main.” Kiki mengikuti langkah Emil menuju kamarnya.

 

“Mhhhh abang.. Posisinya emang harus begini ya abang?” Tanya Kiki yang sekarang sudah duduk di pangkuan Emil. “Kenapa emangnya?” Emil ingin tahu apa jawaban si kecil. “Kiki kok ngerasa ada yang ganjel kalo di pangku sama abang begini. Paha abang bengkak ya?” Tanya Kiki polos. Emil sudah ingin tertawa mendengar ucapan Kiki yang memang polos itu.

 

“Bukan paha gue cil, tapi kontol gue. Udah ya lu cukup diem aja di pangkuan gue, biar gue yang gerak. Mau main sama gue kan?” Kiki menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

 

Tinggi sudah hasrat Emil yang sejak dulu ingin melakukan lebih pada sosok kecil yang sudah bersemanyam lama di hatinya, padahal mereka selalu bersama tetapi Kiki tidak pernah menerima cintanya. Jadilah egonya menguasai dirinya yang semula ingin memiliki status terlebih dahulu agar bisa melakukan apa saja, kini berubah menjadi, lakukan saja dulu soal di terima belakangan.

 

"Hmphhh..." Emil cium bibir Kiki. Di lumat bibir atas dan bawah Kiki secara bergantian. Sebelumnya dirinya hanya mengecup-ngecup bibir Kiki saja, tetapi untuk sekarang, Emil ingin mengusai seluruh tubuh bagian atas Kiki untuk hari ini.

 

"Nghhhh!" Emil gigit bibir bawah Kiki, meminta agar lidahnya dapat menyapa lidah Kiki. "Mmhhhhh!" Kiki bingung, ini pertama kalinya Emil mencoba memasukkan lidahnya. Ia hanya bisa diam dan tidak membalas ciuman yang dilakukan oleh Emil.

 

"Buka mulutnya cil." Emil memerintah. "Pinter. Sekarang ikutin abang ya? Kalo abang lumat bibir bawah lu, lu lumat bibir atas gue, begitu juga sebaliknya." Kiki mengangguk paham.

 

"Nghhhh!" Emil mencium bibir Kiki kembali, masih masa, berantakan dan terburu-buru serta Kiki tidak bisa mengimbanginya. Tapi Emil tersenyum karena Kiki mulai mengikuti arah dan temponya. Kiki pun mulai memejamkan matanya, menikmati ciuman itu diam-diam.

 

Ciuman mereka terlepas dan Emil mulai turun ke leher Kiki. “Nghhhh!” Lenguhan pertama Kiki karena Emil mulai memberikan kecupan-kecupan kecil pada lehernya. “Abang gelihhhh..” Emil hanya bisa tersenyum kecil melihat respon yang diberikan oleh tubuh Kiki, bokongnya berkali-kali menyentuh benda pusakanya yang sudah tegang.

 

“Ahhh! Abang.. Kenapa di gigit lagihhh.. Ahhh!” Emil mulai memberikan gigitan kecil pada leher Kiki. “Nanti juga lu suka.” Emil menyeringai. Nafsu pada tubuhnya mulai menyelimuti, hari ini ia ingin menyentuh lebih pada dua bongkahan yang sejak dulu ingin ia jamah.

 

“Ahhh! Abang ngapain?” Bingung Kiki, karena tangan Emil mulai merambat kebawah untuk menyentuh dan meremas-remas dadanya. “Ahhh! Abang kok rasanya aneh.. Hnghhhh abangggg!” Kiki mulai merasakan genyelar aneh pada tubuhnya, sedangkan Emil semakin kencang meremas kedua buah dadanya.

 

“Ahhhh!” Emil mulai berani menyentuh sesuatu yang sudah menonjol dari luar baju Kiki. “Sial! Empuk banget anjing! Harusnya dari dulu aja gue polosin. Muka lu itu cil, anjinglah bikin gue sange mau ngentotin lu sekarang juga!” Emil mengatakannya dalam hati.

 

“Ahhhh! Abangg anehhh.. Rasanya aneh.. Itu tadi apa abang? Ahhh!” Tubuh Kiki benar-benar terasa aneh dan beda. Emil hanya meremas-remas dua buah dadanya, tapi kenapa? Kenapa tubuhnya merasakan sesuatu yang aneh?

 

“Aneh atau enak cil?” Emil menyeringai. Emil terus menguleni dua buah dada Kiki yang empuk dan pas dengan ukuran tangannya. “Kok diem aja? Aneh atau enak cil kalo gue sentuh, hm?” Emil menggodanya.

 

“Nah enak ga kalo pentilnya gue sentuh gini, hm?” Emil sentuh tonjolan itu lagi yang mulai terceplak dari luar baju Kiki. Kiki memalingkan wajahnya, dirinya tidak ingin menjawab. “Enak kan? Tubuh lu pasti tau apa yang lu mau.”

 

“Nghhh! Abangggg.. Ahhh!” Tubuh Kiki naik saat Emil mencubit putingnya. “Suka ga pentilnya abang cubit, hm?” Emil bertanya. “Pentil?” Rasa penasaran Kiki. “Iya pentil. Ini nih pentil namanya.” Puting Kiki, Emil garuk dengan ujung kukunya.

 

“Ahhhh! Abangggg!” Kiki mulai memejamkan matanya dan menahan pelan tangan Emil untuk melakukannya. “Sialan! Makin sange gue.” Emil menggigit bibir bawahnya memandangi pemandangan raut wajah Kiki.

 

“Slurppphh!” Nafsunya sudah menguasai dirinya, Emil langsung menjilat puting kanan Kiki dari luar bajunya. “Ahhhh! Abanggg.. Hngghhhhh abang ngapain? Ahhh!”

 

“Slurppphh!” Tubuhnya terasa panas dan geli saat lidah Emil menyapa putingnya. Semakin gencar Emil melahap puting kanan Kiki dari luar bajunya hingga terceplak basah.

 

“Abang udah abang! Abang..” Tangan Kiki mencoba menahan kepala Emil, tapi tetap saja gagal.

 

“Anjinglah enak banget bangsat!” Tangan Emil mulai nakal masuk ke dalam baju Kiki dan meremas dada kirinya. “Ahhh abangg!” Tubuh Kiki terangkat kembali karena ini adalah pertama kalinya ia merasakan seperti ini. Kedua dadanya di jamah, yang kanan sedang di jilat dan yang kiri terus-terusan di remas. Aneh. Rasanya sungguh aneh dan asing.

 

“Nghhhh abangggg! Ahhhhh! Kok ahhhh.. Di gigit abanggg… Ahhhh.. Kok.. Ahhh..” Emil menggigit kecil puting kanan Kiki. “Mhhhh abang.. Baju Kiki basah. Ahhhh. Sakit abang!” Tubuhnya bergerak gelisah. Pasrah. Pasrah sudah Kiki biarkan Emil menyesap putingnya.

 

“Hnghhhh! Abanggg hikss..” Puting kanannya terasa sakit, tubuh dan pipinya terasa panas, lalu puting kirinya terasa gatal. Emil terus melahap puting kanannya hingga mengeras dan semakin terceplak dari luar bajunya.

 

“Hiksss.. Abang udah! Baju Kiki makin basah abang.. Hiksss..” Bagaikan telinganya yang tertutup sesuatu, Emil abaikan tangisan Kiki dan semakin dalam menyesap puting kanannya bersamaan dengan pilinan pada puting kirinya.

 

"Hikss.. Abangg.. Sakit.. Udah abang! Udah hiks.." Tangis Kiki semakin keras. "Udah abang hikss.. Baju Kiki jadi basah."

 

Emil sudahi aksi menyesap puting Kiki. “Kalo gamau basah, baju lu buka dulu cil.” Tanpa Kiki menjawabnya, Emil sudah mengangkat bajunya sebatas dada tapi Kiki menahannya.

 

“Jangan abang, Kiki malu.” Kiki memalingkan wajahnya dan menurunkan kembali bajunya. “Shit! Gue baru liat bentar doang padahal.” Emil dalam hati.

 

“Gapapa gausah malu sama gue, di buka aja ya cil?” Emil menyakinkan. “Gamau abang hikss..” Kiki mulai merengek. “Yang kirinya kan belum gue emut?”

 

“Gamau abang hiks.. Kenapa yang di gigit abang lebih besar?” Tanya Kiki saat melihat puting kanannya lebih menonjol sekarang. “Itu karena abis gue emut, nah sebelahnya kan belum. Jadi kalo mau sama ya harus gue emut dua-duanya.” 

 

“Hikss.. Gamau abang, sakit.” Kiki menolaknya.

 

“Ahhhh!” Tapi lagi-lagi Emil mengabaikannya. “Yaudah nih gue pilin aja pentilnya biar sama-sama gede.”

 

Emil memilin kedua pentil Kiki secara bersamaan. “Ahhhh…” Tubuh Kiki yang kaget mulai terangkat lagi dan berkali-kali menyentuh kembali benda pusaka milik Emil. “Shit!” Emil menggigit bibir bawahnya.

 

Emil pilin dan pelintir pelan hingga tubuh Kiki meliuk dan matanya semakin terpejam kaget. Pemandangan yang indah menurut Emil melihat Kiki yang menikmati sentuhannya.

 

“Abang udah abang! Hiksss..” Kiki sudah tidak kuat lagi. Akhirnya Emil lepaskan pilinannya pada puting Kiki. “Yaudah nih udah, jangan nangis dong cil.” Mau tidak mau Emil harus menyudahi aksinya.

 

“Sakit abang! Rasanya badan Kiki juga aneh.” Kiki mengatakan itu. “Bukan sakit, tapi lu sange itu namanya.” Emil menyeringai. “Dah nih, yupi buat lu. Besok lagi ya cil?” Emil menahan dirinya.

 

“Harus pelan-pelan, padahal bisa aja itu gue emut dua-duanya sekaligus.” Emil mengatakannya dalam hati. Sedangkan Kiki sendiri sedang bingung dengan tubuhnya yang tiba-tiba ingin pipis.

 

“Kenapa lu? Merah banget pipi lu cil.” Emil malah bertanya sedangkan jelas-jelas itu semua karena perbuatannya. “Kiki mau ke kamar mandi.” Kiki langsung melipir meninggalkan Emil.

 

“Haha pasti becek kan cil? Orang lu keenakan gitu kok. Padahal baru tete lu yang gue gituin. Gimana bool lu coba? Hahaha…” Emil malah membayangkan untuk kegiatan selanjutnya dan tersenyum bangga dengan perbuatannya.

 

"Hiksss.. Masa Kiki ngompol? Kok bisa Kiki begini huhu.. Ini kenapa hikss.."

 

Notes:

sorry ya ga jago di tags ewkwk. lanjut ga? ini udah ada di tele tapi nanti ada yang beda dikit yaw