Work Text:
“mingoo, can you help kakak to turn of the camera?”
mingyu menoleh, menatap jeonghan saat rungunya mendengar permintaan kekasihnya. “why?” he asked, but still doing it anyway. kakinya melangkah dengan tenang, menuju kamera yang dipasang di kamar mereka. it’s their nth night in italy, and finally mingyu got a chance to sleep with jeonghan. not that he doesn’t like his other boyfriends—mingyu juga suka saat bisa tidur dengan joshua, soonyoung, dan seokmin. suka juga saat bisa tidur dengan chan. but he definetely loves it the most saat mingyu bisa tidur dengan jeonghan.
bagian paling menyenangkan? semua pacar mingyu setuju mingyu terlihat senang saat tahu dia menjadi roommate jeonghan malam ini.
“gak apa-apa,” ucap jeonghan. “don’t you miss me, mingoo?” jeonghan says as he kiss mingyu, tangannya memeluk pinggang mingyu erat. matanya mengerling saat tahu mingyu berhasil matikan kamera mereka. “thank you, cantiknya kakak.”
“mmhmmm. mingyu kangenn,” balas mingyu. “but i had some fun sama yang lainnya jugaaa. mingoo sukaa naik balon udara, makan sama myungho, minum wine,” mingyu berceloteh, menarik jeonghan ke ranjang karena dia ingin tidur sekarang, “and turns out tonight mingyu bisa sleep sama kakak.” cup. he kissed jeonghan’s cheek.
*mingyu is sleepy, but jeonghan has been thinking about everything they can do tonight—*kecuali tidur. saat mingyu-nya yang cantik itu sudah membaringkan tubuh di sisinya, jeonghan punya kebiasaan untuk terus awasi kekasih cantiknya. the more he look at him, the prettier he is. matanya berbinar dengan indah—padahal kamar mereka sudah gelap, hanya ada cahaya dari rembulan yang masuk malu-malu melalui celah jendela yang tirainya tertutup itu.
“baby,” panggil jeonghan.
“umm?”
“kakak kangen,” tuturnya—dan jeonghan tersenyum senang ketika mingyu menangkap pesannya. lelaki itu mendekat, bibirnya sedikit terkuak selagi menunggu jeonghan menciumnya. “mmhmm, i missed you soo much,” kata jeonghan setelah kecupan pertamanya.
the kiss become a sloppy kiss. jeonghan melumat bibir mingyu dengan tenang, bergantian. dan setelah jeonghan pastikan bibir mingyu sedikit membengkak, dia lesakkan lidahnya selagi kekasihnya mencari napas. tangan mingyu memegang kaus jeonghan—sementara tangan jeonghan menyentuh tengkuk mingyu, mengusapnya pelan dan sensual. hal yang sudah jeonghan lakukan ratusan—bahkan mungkin ribuan kali, not only when they kiss like this, sometimes he had to do it so mingyu will listen to him.
“mingoo baby is tired?” tanya jeonghan.
mingyu menatap sayu. so menace of jeonghan to ask that question when they legs already intertwined under their blanket. dengan paha jeonghan yang mulai menekan selangkangan mingyu. menggodanya hingga mingyu melenguh manja.
“eungh?” gumam mingyu—just a sloppy kiss, and his brain start malfunctioning. “no … for kakak, is no ….”
“we don’t have lube,” kata jeonghan—dia tidak perlu berbasa-basi menjelaskan pada mingyu apa yang ingin dia lakukan setelah ini.
kekasihnya menatap panik. jeonghan tahu, mingyu benci jika harus bercinta tanpa pelumas. it’s painful as hell—jeonghan pernah rasakan itu, makanya dia beri opsi lain pada cantiknya.
“can baby cum first, so kakak can use your cum to prep your hole, cantik?”
lama mingyu menatap jeonghan, seperti sedang memikirkan keputusannya—it will change everything. jika mingyu tak mau, maka mereka hanya akan tidur. maka mingyu tidak akan merasakan bercinta di kota yang membuatnya jatuh cinta belakangan ini. so he nods, “i’ll try.”
jeonghan tersenyum, senang pada kekasihnya yang penurut itu. “kakak will help you.”
dipenuhinya janji itu. dengan catatan, “don’t be too loud, the others and the staff might still awake, sayang.”. jadi mingyu mencoba menahan segala desah dan erangan yang ingin dia keluarkan ketika tangan jeonghan menyapa tubuhnya. jemari lentik jeonghan mengusap milik mingyu—a little touch and mingyu’s body start trembling.
“ssshhh,” bisik jeonghan. “i’ll do it nice and slowly.”
tidak ada lagi dialog dari mingyu. poor baby, yang bisa dia lakukan hanya melenguh dan memanggil jeonghan;
“ahn—kakak … oohhh, fuck—kakak!”
seeing his lovers couldn’t keep it quite, jeonghan gunakan tangan kirinya untuk membungkam mingyu. dua jarinya dia berikan pada mingyu—untuk dikulum. senyumnya terbit ketika mingyu memenuhi inginnya. lidah hangat mingyu menjilat jemari jeonghan, lalu dikulum—semakin kencang seiring dengan gerak tangan jeonghan di tubuhnya yang perlahan membengkak—ingin keluarkan putihnya.
jeonghan just let him. justru dikulumnya noktah mingyu yang sejak tadi menganggur. biasanya ada pacarnya yang lain yang akan memainkan dada mingyu selagi jeonghan puaskan cantiknya. tapi malam ini hanya ada mereka. so jeonghan must give it all for mingyu, untuk mingyu raih kepuasan terlebih dahulu sebelum dirinya.
sengaja jeonghan tak terburu-buru—malam masih panjang. gerakannya di tubuh mingyu tetap pelan, terkontrol, konsisten dengan apa yang dia lakukan—memijatnya, naik turun, ibu jari sesekali menutupi lubangnya hingga mingyu sedikit mengejan. tangannya bekerja dengan telaten, sementara bibirnya turun, meninggalkan kecupan-kecupan lembut di dada mingyu, bahunya, garis rahangnya. sesekali, jeonghan akan menggigit ringan, cukup untuk tinggalkan tanda dan membuat mingyu tersentak tanpa suara.
“sshh, baby,” bisiknya lagi, ketika tubuh di bawahnya bergetar hebat.
mingyu—being the good boy he is, berusaha menurut. dua jari jeonghan masih berada di mulutnya, dikulum dengan patuh. napasnya mulai memburu, dan dwimaniknya terpejam—jeonghan bisa melihat air mata yang mulai terkumpul di sudut matanya. setiap kali jeonghan menggeser sentuhan, entah tangannya yang tiba-tiba memainkan testis mingyu—atau bibirnya yang menggigit gemas noktah mingyu yang mencuat, paha mingyu otomatis menegang—lalu kembali terbuka dengan napas yang lebih memburu.
kamar mereka terasa begitu sunyi—bahkan suara jeonghan yang menyibak selimut pun terdengar begitu keras di telinga mereka.
ketika jeonghan tak lagi bermain di dada mingyu, justru tangan kekasihnya itu yang memainkannya sendiri. mingyu gunakan tangannya untuk meremas dadanya, memelintir putingnya seperti yang jeonghan biasa lakukan.
good boy, pikir jeonghan. maka diciumnya mingyu—there was a gasp ketika jeonghan menarik jemarinya dari mulut mingyu. he shove his tongue, saling melilit dengan milik mingyu. bertukar saliva di ruang kecil yang hangat, selagi tangannya terus manjakan tubuh mingyu—dengan tangan mingyu yang terus mainkan dadanya sendiri. it look hot, so fucking hot. seeing the brain of the group slowly losing his own brain while jeonghan preparing him to get fucked.
jeonghan mempercepat geraknya—sedikit saja, dan itu cukup untuk membuat mingyu mengencang. jeonghan bisa merasakannya, tahu tanda-tanda bagaimana tubuh mingyu akan menyerah.
“that’s it, good boy,” gumamnya lembut, lalu kembali mencium mingyu.
mingyu menggigit bibir jeonghan saat sensasinya memuncak—untungnya, tidak sampai berdarah. tubuhnya melengkung, pinggangnya terangkat tanpa sadar. suara yang keluar teredam, tertahan di tenggorokan dan di sela cumbuan mereka.
and finally, dia capai putihnya. spermanya keluar, jeonghan tidak membiarkannya terbuang percuma.
“good boy,” puji jeonghan, lagi. dia tahu mingyu suka itu.
jeonghan menarik tangannya perlahan, napasnya sendiri mulai tidak stabil, tatapannya menggelap, sarat akan nafsu yang membara lantaran rindu yang dia punya baru bisa disampaikan malam ini.
“good job, cantiknya kakak,” bisiknya kali ini.
mingyu terengah, wajahnya memerah hingga telinga. “hngh—kakak …,” gumamnya pelan, malu sekaligus masih sensitif.
jeonghan tersenyum tipis. dengan hati-hati, digunakannya cairan mingyu sebagai pelumas. melumuri jemarinya hingga basah, lalu perlahan menyapa lubang mingyu yang sudah berkedut.
“mmhmm? udah pengen diisi kontol, ya?” tanya jeonghan.
mingyu merunduk malu—padahal apa yang dia lihat justru membuatnya semakin malu. kakinya yang mengangkang, kontolnya yang masih tegak, setelah baru saja semburkan spermanya, dan tangan jeonghan yang ada di antara selangkangannya.
dia mengejan saat jeonghan masukkan satu jarinya, menyiapkan mingyu untuk sesuatu yang lebih besar. “mhmm, sempit banget, sayang. jari kakak susah geraknya,” kata jeonghan. “kangen atau sange?”
“dua-duanya,” balas mingyu, alisnya mengerut seiring gerakan jeonghan di bawah—jemarinya menyapa dengan lembut, menusuk liangnya. baru satu jari, tapi bibir mingyu sudah terkuak terus menerus. hingga jeonghan harus ingatkan pacarnya untuk tetap diam.
saat jeonghan merasa milik mingyu melonggar, digit lain dimasukkan. jemarinya yang lentik—namun berurat itu menyapa milik mingyu yang malang. pinggulnya bahkan langsung terangkat—jadi jeonghan gunakan tangan yang lain untuk menahannya. jeonghan tidak sekadar mengeluar-masukkan jarinya, it curls inside him, jeonghan juga buat gerakan menggunting—karena lubang mingyu itu sempit, harus dilonggarkan agar bisa memuat kontolnya nanti.
“hngh—kakak—hurts … please,” protes mingyu. “ahn! mau kontolnya kakak aja,” pintanya.
“i must prep you, sayang,” balas jeonghan lembut, berkebalikan dengan bagaimana jemarinya bekerja. “biar gak sakit dan perih pas dikontolin nanti.”
mingyu ingin layangkan protes lagi, jadi jeonghan kembali menciumnya. he kissed him as long as he needs to prep him. dengan tangan mingyu yang sesekali menjambak rambut jeonghan karena tak sanggup menahan segala ekstasi yang jeonghan berikan padanya.
saat jeonghan rasakan liang mingyu sudah cukup untuknya mempenetrasi kekasihnya, jeonghan keluarkan jemarinya. sisa cum milik mingyu—yang ada di atas perut mingyu itu, dia lumurkan di kontolnya. jeonghan kini berada di antara kaki mingyu yang mengangkang lebar, dia merunduk, untuk bisa mencium kekasihnya.
“be quite, inget?” pesannya.
mingyu mengangguk. pinggulnya bergerak gelisah ketika kepala kontol jeonghan berjumpa dengan lubangnya yang berkerut—mingyu inginkan benda itu di dalamnya, menghujamnya dengan segala cinta dan kerinduan yang jeonghan miliki.
jeonghan arahkan miliknya, perlahan masuk ke tubuh mingyu—baru kepalanya saja, dan mingyu sudah mengejan, kembali keluarkan cairan putih yang tadi tak ikut keluar. “so sexy,” gumamnya. sengaja ditempelkannya kening mereka, jeonghan menatap mata mingyu yang menyayu, menyerahkan tubuhnya pada jeonghan untuk jeonghan nikmati malam ini. “relax, baby. i’m not gonna hurt you,” bisiknya. “i’ll take care of you.”
pinggul jeonghan bergerak perlahan, hingga tubuhnya dan mingyu menyatu seutuhnya. kali ini, jeonghan tak mencium bibir mingyu, justru dikecupnya kening mingyu penuh sayang. “good boy, good pup,” bisiknya—jeonghan tahu, mingyu gemetar di bawahnya. “princess taking kakak’s cock so well, huh?” goda jeonghan.
yang lebih tua menggeram ketika rasakan bagaimana liang mingyu manjakan kontolnya. hangat, sempit, memijatnya dengan lihai. mingyu pandai puaskan ego dan gairahnya yang selalu membara—terlebih dengan mingyu yang kesulitan bernapas karena jeonghan selalu pastikan kontolnya mentok setiap pinggulnya bergerak.
gerakannya tidak cepat, jeonghan memang sengaja. dia tidak mau terburu-buru. dia ingin menikmati malam ini dengan panjang, ingin manjakan mingyu yang juga merindukannya.
“ah- ah- ah—kak—ohh, enak banget,” kata mingyu—mencoba berbisik. “kontol—hngh! kontol kakak enak banget!”
jeonghan tertawa. dia suka melihat mingyu-nya rusak.
he keeps this pace for long time, mingyu beberapa kali bergetar di bawahnya—terlebih dengan tangan jeonghan yang mainkan dada mingyu. memelintirnya—meniru apa yang mingyu lakukan tadi. dia suka melihat mingyu. bagaimana cantiknya menggigit bibirnya sendiri karena jeonghan tidak menciumnya—untuk meredam desahnya yang biasanya keras. bagaimana tangan mingyu meremas sprei ranjang dengan kencang hingga uratnya menonjol. bagaimana kontol mingyu yang besar itu bergerak tak berguna seiring jeonghan penuhi liangnya.
untuk beberapa menit, sanggama mereka berjalan dengan lancar. namun telinga jeonghan yang sensitif itu mendengar langkah kaki mendekat. jadi jeonghan tarik selimut mereka, kepalanya merunduk—menempel di dada mingyu, sehingga selimut berhasil menutupi tubuhnya dengan rapi.
suara pintu diketuk menyusul setelahnya—tubuh mingyu menegang. and fuck, so his tight hole too, menjepit milik jeonghan dengan begitu erat—buat jeonghan ingin mengerang, but he couldn’t. so he kiss mingyu’s chest instead.
klik. pintu dibuka. jeonghan serahkan sisanya pada mingyu. he knows his good boy will make it up.
“ya?” tanya mingyu, suaranya terdengar stabil—mungkin hasil dari latihan vokal mereka setiap hari.
suara staf terdengar setelah itu, “jeonghan …?”
“oh, he’s asleep,” kata mingyu. “kameranya emang dimatiin tadi, soalnya kami capek. it’s fine, right?”
“ohh, ok,” balas staf itu. “all is fine, kok. cuma mau cek saja.”
mingyu hanya menggumam, lalu staf itu pergi.
begitu jeonghan mendengar suara pintu kembali tertutup, dia sengaja gerakkan pinggulnya lebih dalam—setelah sebelumnya menarik kontolnya, menyisakan kepalanya saja di dalam mingyu. menghentaknya perlahan, tapi sukses buat mingyu mengejan—bibirnya terkuak, keluarkan desahan ringan—mingyu dengan panik menutup bibirnya dengan tangan kanan—sementara tangan kirinya menjambak rambut jeonghan kencang.
disingkapnya selimut itu, jeonghan terkekeh kecil melihat mingyu berantakan di bawahnya. “jeonghan tidur, yaa?” godanya. “tidur apa nidurin mingyu?”
“hngh! kakak—ahnhhh!”
“ssshhh, nanti disamperin lagi, loh?”
mingyu menggeleng panik. dadanya ikut bergerak naik turun selagi jeonghan gerakkan pinggulnya di bawah. tangannya menangkup pipi jeonghan, matanya menatap memohon.
“cium, please, cium mingyu. i’ve been a good boy, always a good boy. good pup deserve a kiss,” pintanya.
jeonghan kabulkan itu, dicium—dilumatnya bibir mingyu untuk meredam segala suara yang ingin keluar, baik dari mingyu maupun jeonghan sendiri. his man feels so good, bagaimana bisa jeonghan menahan diri untuk tidak ikut mendesah?
jeonghan juga tak percepat ritmenya, geraknya selaras. lagi-lagi, karena jeonghan inginkan mereka lakukan ini sepanjang malam. jadi ciumannya pun bertahan sepanjang itu pula.
tangannya membantu mingyu, ketika dwimaniknya menangkap kontol mingyu beberapa kali muncratkan precum—some handjob wouldn’t hurt. toh liang mingyu justru memijatnya semakin giat, hingga jeonghan rasakan miliknya membengkak di dalam mingyu.
“can we cum together, sayang?” tanyanya.
mingyu mengangguk lalu kembali menuntut cium, lidahnya dia lesakkan ke dalam mulut jeonghan. cumbuan itu basah, saliva menetes hingga ke leher mingyu, basah hingga mengenai bantal yang dia kenakan.
“i’ll count,” kata jeonghan.
hitungan jeonghan itu lambat—mingyu benci itu, tapi malam ini, hitungan itu justru mingyu nantikan. tubuhnya membusur dengan cantik saat mulut jeonghan ucapkan kata ‘sepuluh’—bersamaan dengan jeonghan muncratkan spermanya di dalam mingyu, banyak, hangat, mingyu kembung rasanya.
tapi sialan yoon jeonghan itu, bukannya berhenti, dia justru bergerak—sedikit lebih cepat dari sebelumnya. buat mingyu jadi overstimulated, tubuhnya bergerak heboh, napasnya tersengal, dan bola matanya memutih—this is exactly what jeonghan wants to see tonight. mingyu yang kacau, yang berantakan, menurut di bawahnya selagi jeonghan kenakan tubuhnya untuk mencapai nikmat.
karena itu juga, jeonghan keluar lagi, semburkan spermanya untuk yang kedua kali di dalam mingyu—dengan jarak waktu yang begitu singkat. lalu tubuhnya ambruk di atas mingyu, yang kakinya masih bergetar. it’s all too much for him.
“sayang,” panggil jeonghan. “enak banget ngewenya tadi,” ujarnya. “you’re such a good boy, good pup, princess-nya kakak. selalu pinter kalau dikontolin kakak.”
mingyu tidak bisa lagi merespons. tapi ketika jeonghan ingin keluarkan kontolnya, kaki mingyu justru melilit pinggulnya.
“eh?” tanya jeonghan.
“mingyu … mau … kontolnya kakak … di dalem mingyu … sampai pagi ….”
napasnya terengah—tapi jeonghan jumpai itu jadi hal terseksi yang dia saksikan di sepanjang perjalanan mereka di italia.
jeonghan penuhi keinginan mingyu. tanpa mengeluarkan tubuhnya, dibawanya mingyu untuk tidur menyamping—dengan mingyu yang langsung menyamankan diri di pelukan jeonghan. kakinya memeluk pinggang jeonghan, sehingga kontol jeonghan bisa berada di dalam liangnya sepanjang durasi mereka tertidur.
“thank you, kakak,” bisik mingyu. “mingyu tired, i’m sleepy.”
“sshh, go sleep, sayang. you’re safe here,” gumam jeonghan. “kakak yang harusnya makasih sama princess, taking me so well. so behave, gak berisik seperti yang kakak minta tadi.”
“hmmmhhh.”
mingyu hanya menggumam. he is really tired, and sleepy too. jadi jeonghan habiskan waktu yang tersisa dengan mengecup kening mingyu—hingga dirinya ikut tertidur, dengan kontolnya dihangatkan liang mingyu yang masih berkedut.
in the morning, ketika jeonghan keluar dari kamar—setelah satu sesi seks cepat, karena kontolnya terlanjur mengeras di dalam mingyu, juga karena mingyu yang meminta. semua orang memandangnya heran.
katanya, jeonghan terlihat lebih fresh. katanya, tidur jeonghan semalam pasti memuaskan—yang ini memang, sangat memuaskan.
lalu ketika berjumpa dengan pacarnya yang lain, mereka mengernyit bersamaan. terlebih setelah mereka tanyakan di mana mingyu, dan jeonghan menjawab; mingyu masih tidur.
jihoon yang pertama kali mendekat, lalu berbisik bertanya;
“lo habis ngewe sama mingyu, ya?”
jeonghan tidak perlu menjawab, dia hanya perlu tersenyum, lalu mengedikkan bahu—dan semua pacarnya tahu apa jawabannya.
“what the helll, yoon jeonghaaannnn?”
sukses, suara itu menarik perhatian orang-orang. tapi jeonghan mana peduli, dia hanya datang untuk mengambil air—karena mingyu-nya pasti haus, setelah jeonghan mainkan sejak semalam, hingga pagi ini.
