Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-02-19
Words:
374
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
3
Hits:
40

Tipu Daya

Summary:

Rayhan sungguhan tak bermaksud mengintip, sampai ketika dia jatuh panik.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Rayhan sungguhan tak bermaksud mengintip, sampai ketika dia jatuh panik.

Dia lekas mengunci pintu rumahnya setelah yakin bahwa tidak ada yang membuntuti. Dengan keringat bercucuran, paras yang pucat pasi serta tungkai kaki yang gemetar hebat, dia merosot terduduk pada ubin kontrakannya. 

Sialan, apa yang baru saja dia lihat tadi? 

Anak pak Ustad ternama tahun ini tengah diciumi laki-laki lain yang berpeci senada. Meski dibalut pakaian kasual biasa, tak semata-mata mengelabuhi jarak pandang Rayhan dalam mengenali wajah siapa yang dilihat tatkala dia berencana memotong jalan lewat gang kecil yang tak berpenghuni. 

Mikail.

Dadanya bergemuruh cepat. Rayhan enggan menganalisa berlebih soal penemuan ini, baik implikasi maupun konklusi–bukan urusannya sama sekali. Boleh jadi dia tak tahu menahu banyak soal orientasi seksual, apalagi mililnya sendiri, tapu sungguh, dia berusaha sekeras mungkin untuk mengusir jauh segala curiga maupun risau yang mulai menggelayuti. 

Selepas terawih, seharusnya semua baik-baik saja seandainya Rayhan tak nekat mengikuti insting yang hanya membawa petaka bagi sepotong hati yang belum pulih.

Namun kini, gelenyar aneh itu kembali lagi, dalam bentuk kolase wajah dan rinai ekspresi–sepasang kelopak mata tertutup, mulut yang setengah terbuka mengeluarkan lenguh nista sementara kepala lawan mainnya tenggelam dalam ceruk leher yang Rayhan paham betul semerbak aromanya. 

Dia pernah berada disitu. Skenario persis yang akurasinya membuat bulu kuduk berdiri. Mencicipi secawan surga bak kesempatan emas yang cuma datang sekali bulan purnama. Malam yang selamanya menghantui mimpi-mimpi setelah itu terasa kosong, tak ada yang sebanding dengan candu yang dipicu oleh piawai Mikail meramu nikmat dunia. 

Rayhan pikir dia sudah gila dan hingga detik ini, dia masihlah pengecut yang tunduk di bawah keterbatasan cinta.

Lagipula jika dia mempersilakan realita yang berbicara; mereka berdiri dalam dua poros magnet yang bersinggungan, meski sama-sama terbujur kaku dalam belenggu agama. Apa mau dikata, Rayhan bukan sosok pembangkang yang hobi menantang nilai-nilai leluhur yang mengasihinya selama ini.

Urip Iku Urup.

Fakta ironis yang membubuh pedih itu selalu berhasil menempa disiplin pada diri Rayhan. 

Maka dia bangkit berdiri, seraya mengusap dahi yang telah lengket oleh keringat. Bayang-bayang wajah Mikail kian menyurut pada ambang kesadarannya.

Biarlah, semua ada waktunya.

Tiba-tiba denting ponsel dalam saku sarung Rayhan berbunyi. Sorot matanya melebar mendapati sederet teks singkat itu menatap balik–mencemoh seonggok gelisah yang tak sudi berlabuh pada rancu. 

Mikail

Aku tahu kamu disitu

Notes:

Selamat berpuasa <3