Actions

Work Header

(not!) a nonsense christmas

Summary:

Max dibuat patah hati oleh Charles tepat dua hari sebelum agenda liburan musim dingin yang telah direncanakan jauh-jauh hari bersama teman-teman dekat mereka. Menolak ikut secara mendadak sudah pasti akan mendapat omelan panjang dan amukan dari teman-temannya, di sisi lain ia akan terus dihantui oleh Charles jika ikut rencana awal.

Pada akhirnya Max memutuskan untuk tetap bertahan pada agenda mereka karena ia adalah cowok kuat.

Notes:

insomnia has led me to write a 16k words fic in one night ... semoga ga keliatan kalo ngelantur banget HUHUHU

edit: on editing karena aku telat nyadar ternyata BANYAK typo dan kalimat yang seharusnya italic TIDAK italic 💔

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Max ingin muntah, menenggelamkan wajah ke bak mandi selama mungkin, atau apa pun asal bukan menginjakkan kaki keluar dari kamar mandi ini. Max menatap pantulan diri di kaca, bahkan Jimmy dan Sassy yang basah kuyup setelah mandi saja lebih rapi daripada tampangnya saat ini.

“Kak Max, masih lama? Udah mau berangkat, nih!” Suara cowok cempreng terdengar dari balik pintu kamar mandi. Sialan, ia lupa kalau adik George dan teman-teman kecilnya ada di apartemen mereka dan bakal ikut agenda liburan empat hari ke depan.

Max mengusap hidungnya yang semerah tomat dan membasuh wajahnya, meresapi sensasi menggigit dari air keran yang jujur saja membuat tubuhnya berjengit. Saat mengangkat wajah, Max tidak dapat menahan erangan kala netranya bersitatap dengan iris biru keabuan miliknya sendiri.

Tampangnya saat ini; kulit semerah lobster, terutama di bagian hidung dan pipi; mata merah dan bengkak—belum ada tanda-tanda akan mengempis sejak ia selesai menangis hingga saat ini; lalu rambut lepek jelek yang helai-helainya mencuat di beberapa bagian.

Wow, dirinya terlihat mengenaskan.

Ketukan cepat di pintu menarik Max dari silat batin dengan dirinya sendiri, diikuti seruan dari suara yang lebih berat. “Max, buruan atau kita tinggal!”

Tinggal aja, Max ingin menjawab, namun tidak jadi. Tangannya menyambar handuk kecil untuk menggosok kering wajahnya sembari membalas seruan George, “Bentar lagi!”

Sekali lagi, ia memelototi raut sembabnya di kaca—berharap bisa meledakkan sosok itu—dan merasa kesal sendiri karena bayangannya masih ngotot menantangnya. Ia berbalik ke arah pintu setelah membuang handuk ke dinding—yang sebenarnya tidak perlu—dan menyaksikan kain itu memantul hingga jatuh mengenaskan di lantai kamar mandi sebelum memungutnya kembali untuk disampirkan di gantungan.

Saat keluar, keadaan ruang tengah sangat sibuk. George memelototinya dari sisi lain ruangan sebelum mengambil tas olahraganya. Max tidak peduli, masih ada hal lain yang lebih mengkhawatirkan untuk dipikirkan. Ia mengambil koper dan tas ranselnya sendiri saat Gabriel—Gabi muncul entah dari mana dan tersenyum padanya.

“Kak Max,” sapanya ramah, tampak tidak terpengaruh dengan tampang acak-acakan Max, tidak ada juga tatapan menghakimi dan semacamnya, hanya keramahan serta pengertian semata. Inilah alasannya mengapa Gabi adalah bocah favoritnya di antara Kimi dan temannya yang lain.

“Hey, Gab,” balas Max pendek sembari mengenakan topi.

So, mixed signal, huh? Kak Charles?” tanya Gabi, anehnya tampak bersemangat.

Astaga, bagaimana pula kisahnya diberi “mixed signal” oleh Charles sampai terendus anak ini? Max menghela napas. Well, jika dipikir-pikir lagi, justru lebih aneh jika yang terjadi adalah sebaliknya—penderitaannya tidak diketahui seluruh temannya mengingat Max menceritakan semua kepada George, Lando, dan Oscar! Itu sama saja tanda tangan surat izin penerbitan naskah novel untuk dikonsumsi audiens tercinta—teman, sahabat, bahkan Charles sendiri mungkin sudah dengar tentang ini.

Ya Tuhan.

Yup,” balas Max pendek, lagi, tidak berniat untuk mengelaborasi lebih jauh. Gabi di sampingnya memberi senyum simpati.

“Kalo gue lihat-lihat sih, Kak, sebenernya Kak Charles itu suka sama lo, tapi either malu atau bingung mengungkapkannya gimana,” ujar Gabi memberi pendapat. Sok tahu. Beberapa detik kemudian ia mengangkat kedua bahu. “Or both.”

Max mendenguskan tawa. Charles naksir dirinya? Si Charles dengan senyum secerah mentari, paras cantik nan rupawan, yang jago bermain piano, dan begitu sempurna layaknya perwujudan Dewa Apollo itu? (Max angkat tangan soal dewa-dewi Yunani namun seingatnya, dari novel fantasi yang ia curi dari rak buku Alex sewaktu SMA, Apollo itu dewa … musik?—Charles bisa bermain piano—dan ganteng-–itu Charles banget). Kendati tentu saja ia ingin Charles menyukainya seperti ia menyukai cowok itu, tetap saja jika diucapkan secara langsung begini, gagasan itu terdengar agak menakutkan dan mendebarkan. Di sisi lain hatinya ia berharap Charles membalas perasaannya, sementara di sisi lain Max merasa … tidak berhak. Entahlah. Golak batin semacam ini yang akan menggerogotimu dari dalam.

I know he is beautiful,” tiba-tiba suara Gabi terdengar lagi dan Max tersadar kalau mereka sudah mulai berjalan bersama. “But so are you! Gue harap Kak Max nggak pernah lupa akan hal itu. You deserve every good thing that happens to you.

Melalui jendela lorong gedung apartemennya, Max bisa melihat dunia masih terlelap. Bulan purnama di langit gelap ditemani cahaya kelap-kelip dari bangunan di bawahnya ikut menyumbang terang untuk memamerkan putih salju di tanah dan atap-atap bangunan. Ini masih pukul lima atau enam di pagi hari namun Gabi memutuskan bahwa inilah saat yang tepat untuk meluluhkan hati kecil Max dengan kata-kata manis dan membuatnya ingin mengusap air mata. You deserve every good thing that happens to you, katanya. Max sadar betul seringnya ia merasa dirinya tidak berhak untuk segala hal baik, hanya saat dirinya benar-benar melakukan hal besar dan signifikan. Terbiasa mengecilkan dirinya sendiri. Gue nggak deserve ini, gue nggak deserve itu.

Max akan mencoba untuk lebih baik pada dirinya sendiri. Yah, meskipun Charles–amit-amit–berakhir tidak membalas perasaannya, Max tidak akan mengecilkan diri.

Ia tersenyum, menepuk pelan bahu Gabi di sebelahnya. Sudahkah Max mengatakan kalau Gabi adalah anak favoritnya? “Makasih, Gab.”

Gabi membalas senyumnya. “Menurut pengalaman gue, tipe kayak Kak Charles itu minta dikejar,” ucapnya lagi tiba-tiba.

Max mengerutkan kening. Baiklah, sekarang ia kalah pengalaman dengan anak 18 tahun?

“Jadi, kuncinya cuma komunikasi, Kak. Lo datengin dia, ngomong ke dia—”

“Gampang, ya, Gab,” Max mencibir.

“Eits, jangan dipotong dulu omongan gue, Kak,” tegur Gabi seraya mengacungkan jari telunjuk ke depan wajahnya. Max menatap jari itu dengan tersinggung karena digurui oleh yang lebih muda. “Ngomong ke dia, ungkapin perasaan lo. Kedengerannya nakutin, I know, but it is worth it. Dijamin Kak Charles langsung lompat-lompat mengakui kalau dia ngerasain hal yang sama dan boom! Bobo bareng, deh.”

Max refleks menyentil kening cowok berambut ikal itu yang membuatnya memekik terkejut sekaligus kesakitan.

“Lo kalau ngomong disaring dulu,” tegur Max, diam-diam merasa menang karena kali ini gilirannya menegur Gabi. Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan dramatis. “Anak zaman sekarang …..”

Sorry, gue keceplosan, Kak! Jangan sentil gue lagi, please,” balas Gabi cepat sembari mengusap-usap keningnya yang sudah semerah cabai segar.

“Jangan berisik, anjing, masih pagi!” bisik Lando keras sebelum mereka semua masuk ke lift.

Max sedang tidak ingin menyetir dan mengobrol saat ini, jadi atas permintaannya, Oscar yang akan satu mobil dengan dirinya sekaligus yang bertugas memegang kemudi. Kenapa Oscar? Karena cowok itu yang paling bisa dipercaya dibanding George dan Lando. Dan paling tidak banyak omong. Sekian dan terima kasih.

Setelah meletakkan barang miliknya, Max menyusul si cowok Australia ke dalam mobil, menempatkan diri di kursi penumpang depan dan tak lama, pintu bagasi tertutup sebelum Gabi, Oliver, dan Liam menyusul di kursi belakang.

Liburan ini seharusnya hanya direncanakan untuk mereka berdua belas orang saja. Empat hari tiga malam sebelum mereka menghabiskan waktu bersamaan keluarga masing-masing untuk malam Natal. George sekeluarga akan berlibur ke rumah kakek dan nenek mereka di Inggris dan Kimi seharusnya ikut papa dan mama berangkat terlebih dahulu, sebelum George menyusul usai liburan empat hari mereka. Namun, orang tua George mendadak memiliki suatu urusan yang mengharuskan mereka untuk memajukan hari keberangkatan. Kimi yang masih ada kewajiban kampus–biasa, mahasiswa baru–tidak bisa ikut dan mau tak mau George menyanggupi permintaan orang tuanya untuk membawa serta adiknya berlibur. Mengajak Kimi artinya mengikutsertakan teman-teman kecilnya juga.

Dan di sinilah mereka.

“Kak, boleh nyetel lagu?” celetuk Oliver.

Oscar menoleh ke Max, dirinya yang tengah memerhatikan kegelapan dari jendela mobil menoleh pada Oscar dan mengerutkan kening bingung melihat cowok itu menatapnya lurus-lurus. Barulah beberapa detik kemudian Max mengerti kalau Oscar meminta pendapatnya.

Max berdeham sekali. “Boleh ….”

Max jarang mendengarkan musik, menurutnya musik tidak begitu signifikan bagi hidupnya. Tapi Charles suka musik, bisa memainkan alat musik, dan Max ingin mendengarkan banyak musik. Musik itu indah, sarat akan makna, menginspirasi, Max akan berusaha untuk lebih memerhatikan musik, mencari genre favoritnya, dan menikmatinya—

Max tersentak begitu musik trap menggelegar dari pelantang, ketukannya berdentum-dentum di seluruh penjuru mobil. Max menoleh ke arah Oscar yang juga menatapnya dengan tatapan kosong.

Ini akan menjadi perjalanan yang panjang.


Max menganggap dirinya beruntung bisa memiliki banyak teman di sekolah menengahnya. Di sekolah dasar, ia sudah terbiasa sendiri karena entah mengapa anak-anak lain menjauhinya. Di sisi lain, inisiatif untuk bersosialisasi juga tidak pernah tumbuh dari pihaknya, sih.

Suatu hari di sekolah menengah pertamanya, Max memergoki Lando, George, dan Alex merokok di belakang sekolah. Ia yang tidak peduli hendak melanjutkan langkah yang tertunda namun Lando memanggilnya, Max pun mau tak mau mendekat. Itu adalah kali pertama Max mengalami percakapan nyambung dengan anak sepantarannya. Mulai hari itu, Max tidak ke mana-mana sendirian lagi di sekolah.

Berteman dengan mereka mengantarkan Max pada Charles, cowok dari kelas lain yang sering menempel pada Alex dan suka diganggu Lando serta George. Max selalu merasa aneh setiap kali Charles ada di dekatnya.

Menginjak sekolah menengah atas, Max semakin baik dalam bersosialisasi, teman-temanya pun semakin banyak, bahkan ia juga berteman dengan dua orang kakak kelas yang keren, Sebastian dan Lewis, yang rupanya berpacaran sejak SMP.

Perbedaan peminatan membuat Max dan Charles tidak memiliki kesempatan untuk berada di satu kelas yang sama, namun mereka justru semakin akrab. Max banyak menghabiskan waktu memandangi wajah Charles setiap mereka bersama. Jantungnya akan berdebar-debar seperti hewan gila di tulang dadanya setiap netranya menangkap sosok Charles.

Max ingat di suatu sore di hari Minggu, di tengah dunia gelap dan basah, air hujan disertai angin kencang menampar-nampar jendela kaca raksasa tempat Max dan teman-temannya berteduh sembari makan siang, Max menemukan dirinya mengamati dua sejoli di depannya lebih lama dari biasanya. Sebastian yang terus mengoceh tentang segala hal, Lewis yang nyaris sepenuhnya duduk di pangkuannya tertawa lepas pada entah-apa-itu yang Sebastian ucapkan. Lewis yang menyuapi Sebastian dan jemari si pirang yang tanpa henti bergerak mengusap punggung tangan kekasihnya. Di kereta menuju jalan pulang, Max menyadari pakaian Lewis menjadi yang paling kering di antara mereka semua berkat Sebastian yang tidak main-main dalam melindunginya dari serbuan air hujan. Setelah itu, Max menjadi lebih sering memerhatikan mereka. Di waktu-waktu tertentu, Max harus mengucek matanya berkali-kali saat wajah Sebastian mengabur menjadi wajahnya sendiri dan Lewis tiba-tiba berubah menjadi Charles. Ia menceritakan hal itu pada George dan Lando, lalu apa respons mereka?

Lo jatuh cinta!


Sekitar lima belas menit kemudian, mobil yang dikendarai Oscar akhirnya sampai di depan gedung apartemen raksasa tempat Sebastian, Lewis, serta beberapa teman tinggal, yang tak lain tempat berkumpul mereka sebelum berangkat lagi bersama-sama menuju villa tujuan. Oscar menghentikan mobil di belakang mobil George sementara si pemilik mobil keluar dengan bersemangat menuju sosok Alex yang tengah mengobrol dengan … Max mengintip melalui jendela dan wah, wah, siapa cowok ganteng yang dibungkus sweter super besar dengan lesung pipi sedalam cinta Max padanya itu?

Cut it out! Max mengutuki diri sendiri. Itu cowok yang sama yang memberi harapan palsu kepadanya dan mengabaikannya keesokan harinya. Max menampar pelan pipinya sendiri untuk mengenyahkan kabut cinta dan kasih sayang terhadap Charles yang membuat mabuk kepayang itu. Tanpa menghakimi, Oscar memberinya tatapan maklum. Ini juga alasannya mengapa Max memilih satu mobil dengan Oscar.

Suara pekikan Alex dari kejauhan kembali membawa fokus Max ke luar jendela yang berembun. George rupanya mengendap-endap untuk memeluk cowok itu dari belakang dan mengangkatnya ke udara. Cih, lagaknya seperti tidak bertemu berminggu-minggu. (Alex baru saja bermalam di apartemen mereka kemarin).

Saat pandangan Max menemukan Charles lagi, cowok itu tengah tertawa terbahak—matanya nyaris hilang, pipinya merona akibat udara menggigit musim dingin, lesung pipi menawan itu membuat Max ingin berlari memeluknya—

Untunglah beberapa detik kemudian Sebastian dan Lewis muncul dengan tas mereka menuju Ferrari F40 yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berada. Dengan begitu, kerumunan kecil di depan beranda bangunan pun bubar. George kembali ke mobilnya setelah mencium pelipis Alex singkat, sementara si pemilik nama terakhir merangkul Charles menuju mobil yang Max kenali sebagai mobil Pierre. Menurut ramalan Max, satu mobil yang lain diisi oleh Carlos, Esteban, dan Yuki.

Pandangan Max tidak lepas dari sosok Charles yang hendak masuk ke dalam mobil saat tiba-tiba cowok itu menoleh ke arahnya—tepatnya pada mobil mereka. Max buru-buru membuang wajah. Idealnya, Charles tidak bisa melihatnya dari luar, namun entah mengapa sepasang iris zamrud itu seolah mampu menembus kaca dan secara khusus terarah padanya. Max mengalihkan pandangan pada kaca spion tengah mobil dan menemukan trio bocah—Liam, Gabi, dan Oliver tengah sibuk dengan ponsel masing-masing dan lucunya secara serempak mengangguk-anggukkan kepala mengikuti ketukan dari musik trap yang masih terputar.

Baru dua hari yang lalu ia diberi harapan palsu dan hari berikutnya diabaikan sepenuhnya oleh orang yang sama, Charles, si cowok dengan senyum secerah mentari, si pemain hati, si pencuri hati, lalu hari ini, cowok itu berada hanya dua mobil di depannya dan mengarah pada tujuan yang sama; pergi berlibur musim dingin bersama teman-teman sejak SMP dan SMA.

Max hanya bisa tertawa getir pada diri sendiri di kursi penumpang—menikmati penderitaannya ditemani musik trap berisik dari daftar putar Oliver. Di sampingnya, Oscar beberapa kali meringis mendengar lagu yang dentumannya bergema di seluruh penjuru mobil. Yah, setidaknya anak-anak itu tidak ribut.

Masih ada sekitar dua jam sebelum mereka sampai di tempat tujuan. Max berharap mereka kena tilang saja.


Mereka tiba di tempat tujuan tak sampai dua jam kemudian (hebat). Selagi mengambil barang-barangnya, Max melirik penasaran pada mobil Pierre. Charles, kini semakin tenggelam di dalam sweter jumbo dan syal tebal yang hampir menutupi bagian bawah wajah, berdiri di belakang mobil Pierre bersama Alex, semangat mengobrolnya masih belum pudar seperti sejak perhentian cepat mereka tadi. Apa, sih, yang mereka bicarakan? Rasa penasaran itu membuatnya kesal sendiri.

George muncul untuk membawakan seluruh barang milik Alex sehingga si empu protes aku bisa sendiri! dan akhirnya menyusul George masuk ke dalam villa hanya bersama tas tangan kecil miliknya. Melihat Charles ditinggal sendirian menurunkan barang-barangnya membuat jiwa penolong Max berkobar-kobar.

Baiklah, satu bantuan tidak menyakitkan, kan?

Belum sempat Max menyampirkan tas ransel di punggung, Pierre dan Carlos muncul entah dari mana, menghampiri Charles dengan segunung bawaannya. Hal ini membuat kekesalannya menggunung.

“Ah, you both are the best I could cry right now ….” Charles berseru riang sembari mengibaskan tas tangan—satu-satunya barang yang ada di tangannya saat ini karena yang lain sudah ada di tangan dua cowok lain.

Max menatap bengong tiga sosok itu melangkah beriringan ke dalam villa sembari mengobrol. Bajingan. Kemudian raut datar Oscar muncul di depannya, menghalangi tontonannya.

“Verstappen, Verstappen, mohon untuk stop bengong dan segera melapor kembali ke bumi.”

Max berdecak kesal, semakin berang melihat wajah Oscar. “Siapa yang bengong?” Ia menurunkan barang terakhir sembari melirik Oscar. “Lo ngapain balik? Kayanya barang lo udah diangkut semua.”

“Kacamata gue ketinggalan.”

Setelah membanting pintu bagasi, Max berjalan bersama Oscar menuju villa yang akan mereka tinggali selama empat hari tiga malam ke depan sembari membicarakan kegemaran baru Oscar; membaca buku sampai di titik ia memerlukan kacamata baca, serta tantangan membaca 365 buku dalam 365 hari alias satu tahun yang diikutinya yang, wah, cukup ekstrim bagi Max. Hari ini, tanggal 20 Desember, Oscar sudah berhasil menamatkan 81 buku dan akan memulai buku yang ke-82.

Iya, masih sangat jauh dari target tapi Max tetap mengapresiasinya. 81 buku itu banyak! Tepuk tangan untuk Oscar Piastri!

Max memilih kamar di lantai dua yang dekat dengan jendela raksasa yang menghadap barat, kamar itu yang akan menjadi yang pertama tersiram cahaya matahari sore. Charles menempati kamar di sisi lain ruangan, jauh di seberangnya.

Lewis, Alex, Esteban, dan Yuki memasak besar untuk sarapan sekaligus makan siang mereka. Max membawa makanannya ke balkon dan duduk di meja dengan empat kursi di samping Oscar yang sedang membaca Open Me Carefully: Emily Dickinson’s Intimate Letters to Susan Huntington Dickinson, sengaja memilih tempat yang jauh dari Charles.

Kegiatan hari pertama tidak banyak, lebih seperti eksplorasi, mengakrabkan diri dengan lingkungan yang akan mereka tinggali beberapa hari ke depan. Melihat-lihat keadaan di sekitar villa, mengunjungi pasar yang tak jauh dari sana, menemukan tempat-tempat seru untuk nongkrong lain waktu.

Semua baik-baik saja sebelum Sebastian mengumumkan bahwa Max bertugas sebagai tukang masak untuk makan malam hari ini. Sebenarnya, bukan bagian memasaknya yang menjadi masalah karena semua akan dapat jatah memasak selama berlibur dan Max suka masak. Cinta, malah. Masak untuk 18 anak kuliahan yang selalu lapar mungkin akan super melelahkan, namun Max tetap mau dan senang melakukan hal yang ia sukai. Masalahnya ada di rekan memasaknya.

Charles.

Dari tujuh belas orang lain, Sebastian memutuskan untuk memasangkan Max dengan Charles. Max tentu saja sudah mengambil peruntungan dengan merayu Sebastian diam-diam, namun cowok yang paling dicintai Lewis di dunia itu tidak bisa dibujuk. Semua sudah final.

Kini, Max berdiri di dapur, menggulir layar iPad milik Lewis pada sebuah blog kuliner di deret paling atas dari hasil pencarian Google-nya. Ia butuh inspirasi memasak. Setidaknya hanya ada dirinya di dalam villa saat ini, memberinya waktu untuk fokus. Batang hidung Charles belum terlihat dan sebagian diri Max bernapas lega akan itu.

Masak apa, ya? Max mengerucutkan bibir, menggulir dan terus menggulir layar sampai suara geseran pintu belakang terdengar. Tanpa melihat, Max tahu itu Charles. Dua detik kemudian Max baru menemukan keberanian untuk mengangkat pandangan, sebisa mungkin menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar. Iris zamrud yang berbinar-binar terasa mencolok matanya dan Max menurunkan kembali pandangannya ke layar.

“Hai,” suara lembut Charles terdengar bersamaan dengan derap kecil langkah kaki mendekat. “I am sorry, Carlos hampir ngubur gue di salju, so I got distracted.”

Max akan membunuh Carlos setelah makan malam.

“Nggak papa. Are you okay, though?” Suara Max terdengar serak bahkan untuk dirinya sendiri. Ia kembali menatap Charles yang saat ini tengah menarik-narik ujung lengan sweter merahnya. Max bersumpah untuk membunuh Carlos setelah makan malam.

Charles mengangkat wajah, menatap balik dirinya. Hijau cemerlang seperti batu giok. Jantung Max terlompat memantul di tulang dadanya, jatuh ke perut, dan terpilin bersama organ di sana. Reaksi alamiah. Tidak apa, dirinya mengalami reaksi alami dan tidak mencoba menahannya. Charles memang menyakitinya, tapi Max tidak menyalahkan reaksi tubuhnya. Ia akan baik dengan dirinya, ingat?

Senyum Charles sedikit menarik Max dari keadaan melayangnya. Masih dengan suara lembut, Charles membalas, “I am okay. I just needed some body heat, setidaknya Carlos mau own up to his bullshit and gave me some.”

Bangsat. Max buru-buru menjauhkan tangannya dari iPad Lewis atau benda itu akan berakhir mengenaskan di lantai dingin travertine di bawah kakinya. Carlos akan enyah malam ini juga.

Sebelum Max mampu memutuskan untuk membalas apa, suara Charles terdengar lagi, kali ini lebih dekat bahkan Max bisa merasakan hangat napas cowok itu di pipinya.

“Mau masak apa?” Max melihat kepala Charles mendekat pada iPad—terlalu dekat menurutnya. Max jadi teringat keponakannya yang sering menonton televisi terlalu dekat. “Pasta?”

“Pasta?”

Charles menunjuk layar tempat ia rupanya berhenti pada resep Creamy Garlic Pasta. Max menggulir layar selama beberapa saat untuk membaca cepat deskripsi, alat dan bahan, sampai instruksi pembuatannya dalam porsi besar. Boleh juga.

“Lo mau?” Tanpa bisa ditahan, pertanyaan itu muncul begitu saja dari mulut Max. Sial. Putus asa, ia melirik Charles yang saat ini mendongak menatapnya. Ugh, tatapan itu.

“Mau,” balasnya cepat. “I want, I mean—anything is fine for me.

Then pasta it is,” Max mendeklarasikan dengan senyum, menyembunyikan gemuruh badai di dalam tubuhnya.

Karena bagi Max, semua sederhana; jika Charles ingin, Charles akan dapat. Semua tentang Charles pada akhirnya. Selama jantungnya masih berdetak, Max akan selalu memberi dan memberi apa pun yang Charles inginkan darinya. Sekali pun itu Charles main-main dengan hatinya.

“—shall we?

Ia berkedip saat sesuatu yang lembut menyentuh lengannya. Cuma tangan Charles. Saat Max menoleh, sentuhan itu lenyap digantikan punggung Charles yang semakin menjauh darinya, melengkung dengan sepasang tangan Charles terulur ke belakang untuk mengikat tali apronnya. Terlalu cepat dan presisi, tali itu terikat sempurna, tidak memberi kesempatan bagi Max untuk melakukannya untuk Charles.

“Oke, yuk,” gumam Max, kehabisan kata-kata.

Well?” Charles berbalik.

What?

You are the boss, Max! Guide me, tell me what to do, gue bakal ngelakuin apa pun yang lo perintahin.”

Charles memang hobi memorak-porandakan hati orang begitu, ya?

Max berdeham, pipinya terasa luar biasa panas saat ini. Berusaha untuk tampil percaya diri, Max berharap Charles tidak menyadari pipinya yang merona akibat efek dari kata-katanya bagi otak mesum Max.

Setelah mengulur waktu dengan pura-pura membaca resep, Max memberanikan diri untuk bersuara, “L-Lo boleh bantu siapin bahan-bahannya, ya. Gue bikin kaldu ayamnya dulu.”

Bagai robot pelayan (maaf, hanya menggunakan hal pertama yang muncul di kepala Max sebagai perumpaan—salahkan otaknya yang mesum), dengan sigap Charles mulai bergerak ke sana dan ke mari mengambil bahan yang diperlukan, sesekali menatap layar iPad sebagai panduan. Max melirik Charles yang tengah menyusun mangkuk-mangkuk kecil untuk tempat bahan-bahan makanan dan segera mengalihkan pandangan saat Charles membalik badan.

Mereka bergerak bersama setelahnya bagai koreografi yang telah dilatih berkali-kali—natural, seolah mereka telah melewati ini setiap hari. Ada saat di mana Max membalik badan bersamaan dengan Charles dari sisi lain dapur hingga keduanya nyaris bertabrakan. Charles memekikkan oh keras dan mereka terkikik geli bersama.

Berpegang teguh pada omongannya, Charles melakukan semua yang Max perintahkan.

“Wow,” ucap Max sembari menonton Charles dengan hati-hati mengaduk saus yang baru dicampur keju parmesan di atas api kecil. “You are a natural, Charles.”

“Beneran?” tanya Charles tanpa mengangkat wajah dari sausnya. Max bergumam mengiyakan. Perlahan, kerutan di kening Charles berangsur-angsur pudar dan seulas senyum terbit di wajahnya yang tampak … senang dan lega. “Oh … Max, I am glad. You know … you are too good in this sementara gue nggak bisa masak, jadi gue takut justru nggak bisa ngapa-ngapain dan malah jadi gangguan. Gue seneng nggak cuma jadi penonton doang. All thanks to your guidance and instructions, Max. Lo guru yang hebat.”

Max semakin berdebar. Jantungnya terasa terlalu besar untuk ditempatkan di dalam dadanya. Ia mencoba tertawa, yang keluar dengan agak bergetar. “Nggak, nggak, you said it like it is all on me. You are a fast learner, Charles. Lagipula, ini tentang kerja sama, bener? Kita lakuin semua bareng-bareng.”

“Makasih,” ucap Charles tulus. “We make a good team, yeah?

Max bergumam setuju, tidak berani bersuara. Takut gemetar. Can we make a good couple too? Pertanyaan itu lebih baik disimpan untuk dirinya sendiri.

Sausnya tampak cukup kental, Max menilai setelah beberapa saat. “Kayaknya udah cukup. Icip dulu, deh.”

“Oh, on it!” Charles menghentikan kegiatan mengaduknya, meraih sendok lain, lalu menyendok sedikit saus pasta itu sebelum membawanya ke mulutnya. Charles sedikit melompat dan mendesah usai mencicipi saus itu. “Enak! Cobain, deh, Max.”

Max hanya bengong, telinganya berisik oleh gemuruh jantungnya sendiri. Ia membuka mulut saat Charles menyodorkan sendok ke arahnya. Charles benar, memang enak. Max mengangguk-angguk dan bergumam setuju,

“Enak banget, Chef,” pujinya dengan senyum.

Charles membalas dengan senyum riang. “Great teamwork, hm?”

Mereka melakukan sisa instruksi bersama dan akhirnya menyelesaikan menu makan malam mereka bertepatan dengan kembalinya teman-teman mereka.

Well, well,” suara lantang Lando bergema di ruang makan begitu menangkap sosok Max dan Charles di dapur.

Keakraban itu lenyap bersamaan dengan bertambahnya orang yang masuk. Max menatap Charles yang kini beradu mulut dengan Lando. Dan Max berusaha untuk biasa saja saat Pierre melepaskan tali apronnya. Dan Max berusaha tenang melihat si jangkung Oliver mengambil sisa piring di rak atas yang ada di luar batas jangkauan Charles.

Sebastian menepuk-nepuk bahunya pelan, Max tersenyum pada Lewis sebelum keluar ruangan.

Udara dingin senja menyambutnya. Max merapatkan jaket, memandang sekitar. Hari mulai gelap, matahari sudah hampir tenggelam di balik pegunungan. Ia menemukan kursi di balkon dan duduk di sana, menghirup napas dalam-dalam. Ia butuh waktu sendiri, bebas dari orang lain.

Max menghirup napas lagi, seolah baru ingat untuk bernapas dalam beberapa jam terakhir. Max sudah mengenal Charles sejak SMP, tahu terlalu banyak tentang cowok itu, mencintai cowok itu sejak SMA. Max selalu menganggap Charles seperti buku terbuka. Ia memang mudah dibaca, namun mendadak menjadi teka-teki paling sulit di dunia jika sudah menyangkut perasaannya terhadap Max.

Max memutar-mutar rokok elektrik yang sudah tidak pernah ia hirup dua bulan ini namun tetap ia bawa ke mana-mana. Charles yang membuatnya berhenti. Max tidak yakin kenapa ia masih membawa benda ini
bersamanya. Mungkin untuk mengingatkannya bahwa Charles pernah memintanya untuk berhenti, bahwa Charles peduli padanya. Bahwa di saat ia ingin menempelkan benda itu ke bibirnya, akan tebersit raut kecewa Charles di benaknya. Dan sekarang Charles pula yang membuat Max ingin menghirupnya lagi.

Max menarik ponsel dari kantong jaket untuk membuka aplikasi pemutar musik yang baru ia unduh siang tadi atas bantuan Gabi, bahkan anak itu mengajarinya cara berlangganan untuk mengakses fitur premiumnya.

Apakah … situasi yang ia alami sekarang adalah momen di mana orang-orang mendengarkan lagu galau?

Max merogoh kantong lain dan menemukan earphone pinjaman milik Oscar sebelum memasangnya di kedua telinga. Nah, lagu galau apa yang lagi hits sekarang? Max dengan asal memilih daftar putar berjudul “Probably Needed a Hug”. Max menyandarkan punggung dan menutup mata.

Satu lagu kemudian, Max merasa seseorang datang dan ia melihat Lewis berjalan mendekat.

Max melepas salah satu earphone. “Hey.”

“Hai,” balas Lewis lembut. “Nggak makan?”

Max mengangguk sembari tersenyum. “Habis ini.”

Lewis melangkah lebih dekat dan duduk di sebelah Max. “Maaf, ya, Seb harusnya nggak ngelakuin itu.”

Max mengernyit bingung. “Itu apa?”

“Charles.”

“Oh,” Max mengedipkan mata beberapa kali, agak terkejut dan bingung harus merespons apa. Max pikir itu ide buruk—menugaskannya memasak bersama Charles—dan ia sudah mencoba bernegosiasi dengan Seb untuk mengganti rekan yang ujungnya gagal, tapi … itu awalnya. Setelah bertemu Charles, berbicara dan bercanda dengannya, bekerja sama dengannya … Max berubah pikiran. Kendati pada akhirnya hatinya tetap tidak bisa dibohongi untuk tidak berdarah. Max tetap bersyukur atas waktu yang ia habiskan dengan Charles di dapur. Yah, lumayan untuk membiarkannya mencicipi secuil adegan domestik dengan cowok yang ia cintai. Jadi, Max menggeleng dan tersenyum, “It is fine, really. Gue cuma butuh waktu sendiri aja.”

Lewis tampak tidak percaya dengan ucapannya. “Butuh waktu sendiri?”

“Kak, lo kayak nggak tau gue aja, ah. Gue, kan, sering menyendiri gini.”

Except, I do know you, Max. Gue tau in every inconvenience lo suka tiba-tiba hilang, pura-pura semua baik-baik aja, dan pendam semuanya setiap lo sedih,” ucap Lewis.

Well … kena, deh.

Max cepat-cepat berkata lagi, “I am okay, I promise. Sejujurnya, I had fun with Charles tadi, Kak.”

Keadaan tidak menjadi lebih baik saat tiba-tiba Sebastian datang dan Max lagi-lagi berusaha sebisa mungkin menenangkan kedua orang tua itu dan meyakinkan mereka bahwa dirinya benar-benar baik-baik saja.

Yang terjadi akhirnya: perut Max berbunyi luar biasa nyaring—sumpah, ini kali pertama perutnya meraung sekeras ini—dan mereka bertiga terbahak bersama. Mau tak mau, Sebastian dan Lewis menjauhkan diri dari leher Max dan bersama-sama masuk ke villa.

Max melihat Charles masih duduk di meja makan, tampak serius mendengarkan Oscar menjelaskan sesuatu dari buku yang ia baca. Max memutuskan untuk duduk di samping Sebastian dan Lewis.

Seperti biasa, Max tidak bisa tidur pada malam pertama di tempat baru. Ia sudah mencoba berlari-lari kecil mengelilingi kamar supaya lelah, peregangan tubuh sebelum tidur yang ia lihat di YouTube, mendengarkan lagu-lagu lembut pengantar tidur, mendengarkan ASMR, tapi pikirannya terus bekerja.

Max berguling di kasur queen size itu dan mengerang. Kasur, bantal, guling, dan selimutnya sangat empuk padahal. Kamarnya pun sangat nyaman dan hangat. Apa lagi yang diperlukan otak rewel ini untuk tenang?

Apa gue ngocok aja, ya? Biasanya kalau habis orgasme tuh bakal ngantuk—

Tidak, tidak. Max buru-buru mengenyahkan pikiran kotor itu. Tidak, Max bersumpah demi kelancaran skripsi George dan Lando, ia tidak akan melakukan hal mesum di tempat asing.

Bangkit duduk, akhirnya ia memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Mungkin ia bisa membuat sesuatu di dapur. Teh, mungkin? Ah, teh terdengar enak.

Tidak ada siapa-siapa di luar kendati jam masih menunjukkan pukul 11. Terdengar bunyi gedebuk yang cukup nyaring sewaktu melewati kamar Sebastian dan Lewis. Max mengabaikannya.

Selama beberapa saat, Max berkutat dengan ponselnya untuk memilih lagu untuk mengisi sunyinya, lalu teringat obrolannya dengan Gabi siang tadi pada sesi tutoring Siptify Premium-nya.

Gabi mendorong layar ponsel Max ke wajahnya. “Ini profilnya Kak Charles. Dia banyak bikin playlist dan lagu-lagunya sedep parah. Nih, kalo Kak Max bingung mau dengerin apa, coba dengerin punya dia,” Gabi kemudian menyerahkan ponsel itu ke tangan Max. “Biar enak carinya, langsung follow aja akunnya.”

Max hanya bisa memandangi layar ponselnya yang tergeletak di meja. Ada foto Charles dari arah belakang di sana. “We can do that? Kok kaya Instagram bisa follow-follow?

Gabi memutar bola mata dan adegan bullying pun terjadi kepadanya.

Dengan mantap Max menekan profil Charles dan memilih daftar putar paling atas. Lagu pertama terputar dan Max memulai aksi membuat tehnya. Tanpa sadar kepalanya bergerak naik-turun mengikuti irama lagu. Wow, mendengarkan lagu ternyata seru juga, ya? Ia berpikir selagi bergumam mengikuti nada lagu yang sedang diputar.

Max tersenyum memandang cangkir tehnya, uap dari air panas mengepul lemah di udara dan Max menghirupnya dalam-dalam. Surga dunia. Menyesap pelan tehnya, Max menikmati sensasi hangat yang kini perlahan menyebar di dadanya.

Terlalu asyik mengamati uap yang mengepul, Max terlambat menyadari sepasang kaki yang dibungkus dengan kaos kaki putih bermotif anjing kecil dan sandal rumah berbulu berbentuk kelinci muncul di antara kepulan uap tehnya. Max segera mengangkat pandangan.

Charles tersenyum padanya sebelum melangkah mendekat. Suara langkah kaki yang menggema di malam yang sunyi masih kalah dengan suara detak jantungnya. Terkejut, Max refleks melepas earphone di telinga kirinya.

“Halo.”

“Hai. Pasti nggak bisa tidur, ya?”

Max menatap Charles yang kini duduk di hadapannya. Pikirannya yang tadi tenang kembali sibuk. “Kok tau?”

Tanpa disangka, Charles memutar bola mata seolah Max menanyakan sesuatu yang tidak bermutu. “Kita kenal udah berapa lama, sih, Max? Dari dulu tiap kita kemah atau ada acara nginep, lo pasti rusuh tiap malam pertama.”

Max tertawa geli karena Charles memang benar bahwa ia selalu gelisah tiap malam pertama di tempat selain rumahnya. Kenyataan bahwa Charles mengingat kebiasaan anehnya itu membuat tubuhnya menghangat.

Max menggigit bibir seraya menatap tehnya, kemudian menatap Charles. “Mau teh?”

Charles menegakkan punggung, menatap Max dengan sepasang mata almonnya. “Oh … yes, please.”

Max segera bangkit dari duduknya, merasa luar biasa bersemangat dan berkobar-kobar untuk menyeduh teh. Max sedang menuangkan air panas ke mug bergambar Miffy dan stroberi dan pita-pita—khusus ia pilih untuk Charles karena lucu—saat terdengar suara tawa kecil dari belakangnya. Ketika Max menoleh, Charles sudah mengenakan earphone pinjaman dari Oscar itu di telinga kanannya. Oh, ia lupa mematikan lagunya karena panik dan langsung melepas benda itu dari telinga.

“Ngetawain apa, tuh?” tanyanya penasaran. Kemudian … gawat, ia baru ingat kalau daftar putar buatan Charles yang sedang didengarkannya sekarang.

Charles mendongak masih dengan tawa. “Oh, nothing, cuma penasaran lo denger lagu apa. Turns out lo lagi nyetel playlist gue! Suka, nggak? Wait, let me follow you back!” Cowok itu dengan bersemangat mengetuk layar ponselnya sendiri beberapa kali. Kemudian, seolah tersadar, ia menggigit bibir seraya menunjuk telinga kanannya yang tersumpal. “Do you mind …?”

Max menggaruk leher belakangnya dengan gugup. “No, it is okay.” Usai mengaduk teh untuk Charles, Max membawa mug itu ke hadapan si cowok berambut cokelat.

“Ah, makasih banyak!” seru Charles riang, memegang mug dengan kedua tangan dan menarik napas panjang.

“Hati-hati, agak panas,” ujar Max memperingatkan.

Setelah meniup-niup beberapa kali yang membuat Max mengepalkan tangan untuk menahan diri agar tidak mencubit kedua pipinya, Charles menyesap tehnya pelan-pelan.

“Mmm! This is so good, Max. Apa, sih, yang lo nggak bisa?”

Milikin lo, Cha, namun Max hanya tersenyum dan alih-alih berkata, “Gue nggak bisa renang.”

Mereka tenggelam dalam percakapan ringan penuh tawa—kenangan masa kecil dan lagu. Kini earphone sebelah kiri terpasang di telinga Max sementara Charles menggunakan yang sebelah kanan.

Hey, want to check something out?” tanya Charles tiba-tiba setelah meneguk tehnya. “Ada ruangan di deket kamar gue, agak ke atas, naiknya harus pake tangga kayu. Kayaknya semacam loteng, deh.”

Sesuatu menyala di tubuh Max layaknya lampu di pohon natal. Charles mengajaknya melakukan sesuatu bersama? Max tidak mungkin menolak! Tapi—

“Kalo angker gimana?”

Charles menyemburkan tawa, cukup keras hingga Max merasa malu sekaligus takut akan memancing yang lain keluar kamar. Ia tidak ingin ada yang mengganggu momen berduaannya dengan Charles, maaf saja.

No way! Lo masih sepenakut dulu!” Charles kini terpingkal-pingkal.

Max saat ini? Tentu saja luar biasa malu, bagaimana bisa Charles masih memegang buku catatan daftar hal memalukan tentang dirinya hingga mereka berusia dua puluh saat ini? Di sisi lain dirinya yang cinta mati dengan cowok ini, Max senang melihat Charles tertawa selepas ini, apalagi sumbernya dari dirinya.

Iya, gue masih penakut sampe sekarang, Cha, jadi gimana kalo lo yang pemberani itu ada di sisi gue yang penakut ini dan kita bisa bekerja sama menjadi tim–

“Ayo, gue jalan di depan!” seru Charles lagi sebelum Max sempat berbicara apa-apa.

Dan di sinilah ia sekarang, satu tangan menstabilkan tangga dan tangan lain menenteng keranjang berisi snack (ide Charles) sementara cowok berambut cokelat itu memanjat tangga kayu menuju sebuah pintu yang juga terbuat dari kayu bercat putih gading. Max fokus mengamati kaki Charles, memastikannya memijak dengan benar, terlalu fokus agar konsentrasinya tidak buyar dan menatap bagian lain tubuhnya yang super mendistraksi.

Terlalu cepat, Charles berhasil naik sepenuhnya dan berdiri di depan pintu.

Huzzah!” ia bersorak kecil. “Ayo naik, gue pegangin,” perintahnya, memegang kedua sisi atas tangga yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat, tapi Max tersenyum dan mulai memanjat. Beberapa anak tangga kemudian, Charles membungkuk seraya mengulurkan tangan ke bawah. “Sini snack-nya!”

Max segera menyerahkan keranjang snack itu yang kemudian Charles letakkan di sampingnya.

“Kalo ternyata dalemnya serem, gimana?” bisik Max saat mereka berdua sudah berdiri di depan pintu, dirinya bersembunyi di balik tubuh Charles. Jika Charles ketakutan, ia akan tamat.

Then we get out of here,” balas Charles kelewat santai. Jika cowok ini sok berani, semoga akan tetap seperti itu jika ruangan tersebut berakhir menakutkan. “Siap?”

Tanpa jawaban Max, Charles perlahan memutar kenop pintu. Di dalam gelap, namun jendela raksasa yang menghadap ke depan villa memberi sedikit cahaya ke dalam ruangan. Max mengikuti Charles masuk, tangannya meraba-raba dinding di samping pintu dan sebuah bunyi klik samar menjadi awal dari terang yang membasuh ruangan itu.

“Wow.”

Di dalamnya … bagus, nyaman, kurang lebih berukuran 3x4 meter. Jendela raksasa yang langsung menghadap halaman depan villa membentang di satu sisi dinding dengan tirai yang tidak tertutup sempurna. Terdapat dua rak di sisi dinding lain; satu rak berisi buku dan rak lain yang lebih kecil menjajarkan piringan hitam. Di sisi dinding lain, tepat di samping pintu, terdapat pemutar piringan beserta speakernya, televisi, dan rak yang lebih kecil lagi di bawahnya berisi koleksi DVD dan diska film blu-ray yang tersusun rapi. Hampir di tengah ruangan—agak ke kiri, terhampar kasur lipat yang cukup tebal dan terlihat empuk.

“Ruangannya kedap suara. Max, liat ini, deh!” Charles mengibaskan tangan dari tempatnya berdiri di depan rak berisi piringan hitam.

Charles kemudian memutar Aretha Franklin, The Supremes, Bruce Springsteen, dan lainnya yang Max lupa siapa. Charles bahkan mencoba mengajaknya menari (dengan tubuh kakunya itu).

Beberapa saat kemudian, Max menyerah dan Charles hanya tertawa kecil, mereka kemudian berbincang-bincang tentang berbagai macam hal di depan jendela raksasa sembari mengunyah snack yang mereka bawa hingga Charles menguap dan Max merasa luar biasa mengantuk.

Should we sleep here? Gue males turun …,” gumam Charles yang sudah mulai merangkak ke arah kasur dan meregangkan tubuh di atasnya.

Dari tempatnya duduk, Max seolah habis tersetrum listrik, bengong. Should we … sleep here?!

“Bobo bareng?”

Bego, Max mengumpat dalam hati, merutuki mulutnya yang memuntahkan kata-kata tanpa seizinnya. Dari tempatnya berbaring, Charles tertawa kecil.

You made it sound like we are going to … you know, sleep together for real,” celetuk Charles santai yang sangat kontas dengam gemuruh di dalam tubuh Max. Ia mendadak gerah. “Just kidding! Sini, Max, atau kalau lo mau tidur di kamar lo juga nggak papa.”

Max mengangkat sebelah alis. “You sure? Karena senyaman-nyamannya ruangan ini, lo berani sendirian?”

“‘Ngapain takut, enak gini,” balas Charles, saat ini sudah menyusun bantal. “You want it or not? Bantal dan gulingnya empuk, selimutnya juga tebel.”

Max tanpa perlawanan menghampiri Charles dan duduk di kasur dengan jarak aman. Charles menatapnya dengan semangat.

“Ah, just like old times! Gue inget zaman kita sering nginep bareng."

Max tersenyum mengingatnya.

Tiba-tiba Charles bangun dan merangkak ke depan televisi. “Gimana kalau kita setel film? Biar nggak sepi,” Charles melihat-lihat film di rak kecil selama beberapa saat sebelum suaranya kembali terdengar. “Um, Max ….”

“Ya?”

“Ini … anehnya, film-film di sini horror semua ….”

Max memucat. Ia menduplikat posisi jongkok Charles di sebelahnya, ikut menunduk melihat-lihat koleksi film Criterion itu. House, Kuroneko, Carnival of Souls, Eyes without a Face ….

Wait, yang di bagian sini bukan horror,” Max menunjuk bagian bawah rak sebelum menarik sebuah film berjudul Ugetsu.

Well … gue pernah nonton itu, ceritanya sedih and it is quite creepy,” gumam Charles.

Max mendesah seraya menarik asal film lain di area itu, sebuah film berjudul Betty Blue. “Nih, ini bukan horror.”

Mereka berakhir memilih film berjudul Hiroshima Mon Amour.

Usai mematikan lampu dan mengatur penghangat ruangan, Max mendesah nyaman setelah berbaring dengan bantal empuknya. Charles di sebelahnya melakukan hal yang sama.

Kurang lebih enam belas menit pertama film hanya berisi monolog. Selama itu, Max merasa kesadarannya terus ditarik seiring berjalannya film dan akhirnya ia menyerah hingga semua menjadi gelap.


Max terbangun oleh tiupan angin kencang yang menerpa sekujur tubuhnya. Ia mengedipkan mata beberapa kali, memberi waktu bagi otaknya untuk mengenali situasi saat ini. Filmnya sudah selesai, hanya ada warna hitam di layar televisi itu, membuat ruangan ini semakin gelap kendati tidak lantas membuat ruangan gelap total.

Beberapa saat kemudian, penglihatan Max akhirnya mengadaptasi kegelapan ruangan hingga ia bisa melihat seisinya dengan baik. Beberapa album yang diambil Charles dari raknya masih bertumpuk di meja dan rak berisi film di bawah televisi tidak serapi saat mereka datang setelah sedikit diobrak-abrik isinya tadi.

Angin kencang kembali bertiup hingga Max otomatis menutup mata dan mengencangkan dekapannya pada guling. Bedanya, saat ini bukan guling yang ada di antara dua lengannya, namun Charles.

Gimana ceritanya ….

Tubuh Charles—hangat, lembut, bergerak lemah oleh setiap tarikan napas yang teratur—ada di dekapan Max saat ini. Pertama-tama, wow. Kedua, what the fuck. Ketiga, bagaimana caranya Max melepaskannya? (Memeluk Charles itu satu dari sekian banyak daftar keinginan esensialnya, tapi di hubungan yang hanya teman ini, spooning dengan teman sejak kecil itu canggung sekali!).

Max meneguk ludah, rambut Charles menggelitik sisi wajahnya. Max mencoba menarik napas dalam-dalam, seketika wangi stroberi dan lemon menyeruak ke indra penciumannya.

Ah, pukul berapa sekarang? Max mendongak pada jendela besar di atas kepala mereka. Dari sela tirai yang tidak tertutup sempurna dan dari balik jendela yang tertutup sepenuhnya, dunia masih gelap di luar sana.

Pikiran Max seketika mencapai level kesadaran maksimal. Jendela raksasa itu sebagai satu-satunya jendela di ruangan ini sudah tertutup rapat sejak mereka masuk hingga sekarang, idealnya memang seperti itu. Baik Max maupun Charles tidak memiliki niatan untuk membukanya mengingat cuaca dingin. Lalu, angin apa yang membangunkan Max tadi?

Ia menoleh ke arah pintu, tertutup. Ia ingat Charles memintanya untuk menguncinya sebelum tidur.

Bukan apa-apa, suara Charles dari saat Max selesai mengunci pintu terngiang di otaknya. Gue cuma takut ada yang masuk tiba-tiba, kayak misal besok kita belum bangun waktu yang lain udah dan mereka nyariin kita dan nemu ruangan ini … bakal berasa kayak digrebek, nggak, sih?

Dan Max menggut-manggut setuju. Sangat masuk akal.

Dengan keadaan melek level maksimal ini, Max jadi sadar tangan kanannya yang memeluk pinggang Charles rupanya bertaut dengan tangan kiri cowok itu—setiap jari di sela-sela setiap jari—dengan tangan Charles yang lain di atasnya. Dalam bahasa roti lapis, tangan Max adalah filling-nya sementara dua tangan Charles berperan sebagai roti.

Max mempererat genggamannya pada tangan Charles saat angin kembali berembus, kali ini tidak sekencang dua sebelumnya, dan hanya menyentuh bagian belakang tubuh Max, terutama leher belakangnya. Seketika bulu-bulu halus di sana meremang.

Ia harus menemukan ponselnya untuk melihat pukul berapa sekarang. Mengingat kedua tangannya terperangkap, Max mencoba-coba menoleh ke belakang. Sulit. Ia menggeliat sedikit dan saat itulah Max melihatnya.

Sesuatu—sesosok bayangan—berdiri di ujung ruangan yang kosong. Memang, ada satu sisi ruangan yang sepi dibanding sisi dinding lain—tidak ada rak, tidak ada meja. Dan saat ini Max memunggungi area itu.

Max segera kembali ke posisi semula. Menghirup wangi rambut Charles dalam-dalam sebagai penenang sebelum menoleh ke belakang lagi. Mungkin cuma halusinasinya, pasti.

Namun bayangan itu masih ada di tempat pertama kali Max melihatnya, tidak berkutik, dan justru semakin jelas. Seperti manusia, berdiri di ujung ruangan, kepalanya tampak miring.

Di ruangan ini tidak ada patung atau poster manusia atau semacamnya, kalau ada pun pasti tidak luput dari netra mereka.

Lagi-lagi, angin berembus, jauh lebih kencang, Max terkesiap dan kembali menghadap ke posisi semula. Charles masih aman di pelukannya.

Tapi, Max berpikir, sepertinya mereka harus pergi dari sini sekarang juga.

Jadi Max dengan lembut membisikkan nama cowok itu tepat di telinganya dan meremas tangannya sebagai pendukung.

“Charles,” panggilnya lagi, sedikit lebih keras, setelah cowok itu tak bergeming.

Akhirnya, tubuh Charles bergerak. Max buru-buru membisikkan shhh lembut mendengar rengekan dari cowok di dekapannya. Sepasang mata kebingungan yang baru terbuka itu menatap Max.

“Max …?”

“Hey,” balas Max lembut. “Balik ke kamar, yuk?”

Charles berkedip-kedip beberapa kali membuat bulu mata lentiknya menggores-gores pipinya. “Kenapa …?” Cowok itu menggeliat sedikit. “Dingin banget.”

Max mengangguk, memang dingin, entah apa yang terjadi dengan pemanas ruangannya. “Yes, it is cold here. Also we do not want them to catch us sleeping together, right?” Max menekankan “sleeping together” dengan gerakan kepala karena tangannya masih bertaut dengan tangan Charles untuk membuat tanda kutip. “Lebih dikit peluang kepergoknya kalau balik sekarang.”

Butuh waktu cukup lama bagi Max untuk mendapat respons dari Charles—maklum karena tampaknya cowok ini masih belum sepenuhnya sadar—namun akhirnya Charles menggumamkan oke lembut dan bersiap untuk bangkit dari posisi rebahnya.

Max ikut bangkit membersamai gerakan Charles, otomatis jalinan tangan mereka terlepas dan seketika tangan Max terasa luar biasa dingin. Charles tampaknya tidak sadar dengan posisi mereka sebelumnya dan Max bersyukur akan itu.

Nggak mau awkward, pikirnya.

Bulu-bulu halus di leher belakang Max kembali meremang dan ketika ia melihat Charles hendak berbalik badan menghadapnya, Max buru-buru mendekat dan memosisikan tubuhnya lebih tinggi, berusaha menutupi pandangan Charles pada dinding di belakangnya. Charles mungkin lebih berani darinya, tapi Max tidak yakin cowok itu tidak akan menjerit dan menangis ketakutan jika melihat apa pun itu yang menjulang di belakang tubuhnya saat ini.

Max menemukan ponsel dan earphone-nya serta ponsel milik Charles di dekat tumpukan bantal.

“Max, ruangannya berantakan, apa perlu kita rapiin dulu?” gumam Charles saat Max menuntunnya menuju pintu.

“Kita pikirin besok aja, ya.”

Charles menurut. Max turun lebih dulu lalu memegang tangga dari bawah untuk Charles. Kendati lama, untungnya cowok itu sudah cukup sadar untuk menuruni tangga. Max kerap melirik cemas pada pintu gading itu selama Charles turun. Tidak sabar dan takut kalau-kalau pintu itu tiba-tiba terbuka (jangan coba-coba, hantu!), Max menunggu hingga Charles sampai di jangkauan tangannya lalu mengangkat cowok itu turun hingga ke lantai. Charles hanya memekik kecil dan tidak berkomentar apa-apa lagi.

Sesampainya di depan kamar Charles, cowok berdarah Monako itu menoleh ke arah Max, efek mengantuk membuat sepasang iris zamrud itu berkaca-kaca.

“Makasih buat malem ini, Max,” ucapnya terdengar tulus. Good night, sleep tight.

“Makasih juga udah nemenin gue, Charles.Good night,” balas Max dengan senyum dan baru melangkah pergi setelah pintu kamar Charles tertutup.

Jam menunjukan pukul 3:33 dini hari ketika Max menyalakan ponsel di atas kasurnya. Karena usahanya untuk lanjut tidur tidak membuahkan hasil, Max menghabiskan waktu dengan bermain game di dalam kamar hingga yang lain bangun.

Pukul lima, Max keluar kamar ketika mendengar suara alat dapur dari bawah dan menemukan Sebastian dan Lewis di meja dapur sedang meminum kopi. Max tidak menyebut dirinya penggemar kopi, namun ada pengecualian untuk kopi buatan Lewis.

Pukul enam, Esteban dan Isack keluar kamar masing-masing. Berlima, mereka keluar untuk jalan-jalan pagi dan mampir ke pasar.

Saat mereka kembali, villa sudah ramai oleh kehidupan manusia-manusia kuliahan kelaparan, namun Max tidak melihat Charles. Pierre bilang ia belum bangun.

Sampai mereka makan, Charles belum juga muncul dan lagi-lagi Pierre bilang cowok itu memang belum bangun. Max mengunyah makanannya dalam diam sembari mendengarkan George bercerita tentang sesosok bayangan yang ia lihat di kamar mandi yang diaminkan oleh Alex karena ia mengaku juga melihatnya.


Hari itu, Max menghabiskan waktu di villa karena ia tidak sedang dalam kondisi mental untuk keluar. Ia menonton George bermain House Party yang tidak berlangsung lama karena Lewis menegurnya; mencoba bermain Grand Theft Auto V bersama Franco; kemudian nongkrong di kafe dekat pasar (George memaksanya untuk ikut) sebelum lanjut bermain bowling di lantai bawah kafe itu hingga sore.

Saat Max kembali ke villa, batang hidung Charles masih belum terlihat. Alex membuat kopi dan tak lama, akhirnya Max melihat Charles untuk pertama kali sejak pertemuan terakhir mereka dini hari tadi, dibopong oleh Calos dan Pierre sementara Sebastian, Lewis, dan Yuki mengikuti dari belakang.

“Sore-sore udah mabok?!” pekik George yang segera mendapat pelototan dari Sebastian.

Mereka membawa Charles ke kamar Carlos yang ada di lantai satu. Max menyaksikan semuanya dengan binging.

Apa-apaan yang terjadi?

Ia mengaduh saat Kimi menyikut tulang rusuknya karena Max tidak kunjung meresponsnya di dalamgame.


Malam harinya, mereka semua minus Charles berkumpul di ruang tengah untuk karaoke. Max duduk di sebelah Carlos di sofa yang disusun membentuk setengan lingkaran itu. Kali ini giliran Oscar dan Oliver yang berteriak ke mikrofon.

“Nggak bisa nyanyi, anjing,” Max mendengar suara Carlos di antara suara yang bersahut-sahutan.

Tiba-tiba, suara cempreng Kimi terdengar di tengah suara nyanyian sumbang Oscar.

“Kak Charles lepas!”

Mendengar nama Charles disebut-sebut, Max merasa seperti ada telinga anjing tak kasat mata yang bergerak naik di kepalanya.

Charles? Lepas?

Terdengar suara gaduh dari arah lorong, seperti sesuatu yang berat jatuh di lantai, kemudian langkah kaki yang tidak teratur.

Dan muncullah sosok Charles diikuti Kimi yang tampak panik di belakangnya. Semua bengong, lagu berakhir tanpa nyanyian sebab bait terakhir yang menjadi bagian Oscar sepenuhnya terlupakan karena cowok itu terlalu sibuk menatap Charles sebelum si rambut ikal merebut mic dari tangannya.

Lagu selanjutnya terputar dan Charles bersorak.

I fucking love this song! Santa, baby!

Dengan menggoda, Charles mendorong dada Oscar pelan, menuntun cowok itu mundur hingga lutut belakangnya terantuk sofa dan jatuh terduduk di sana.

I have been an awful good girl!Di bawah cahaya remang-remang, Max dapat melihat rona merah di pipi si cowok Piastri.Santa, baby, so hurry down the chimney tonight!

Charles melompat-lompat selama beberapa saat, sama sekali melewatkan bait kedua lagu itu sebelum mundur menjauh dari Oscar yang belum bergerak sejengkal pun. Max sudah lama curiga cowok itu naksir Charles, namun ia belum punya bukti.

Think of all the fun I have missed … think of all the fellas that I have not kissed ….

Charles menyanyikannya seraya membuat gestur memberi ciuman melayang ke seluruh penjuru ruangan, Max menangkap beberapa dari mereka tersenyum dan tertawa geli, Oscar menutup wajah—bingo!, lalu seseorang bersiul keras dari sisi lain ruangan.

“Hey!” seru Max marah, suaranya seolah menjadi alarm bangun tidur karena ruangan yang tadinya sunyi seketika heboh.

“Matiin lagunya!” suara Sebastian menggelegar dari arah depan. Kimi, Pierre, Yuki, dan Esteban bersama-sama mencoba merebut mic dari tangan Charles. Mereka tampak seperti mengejar anak kucing nakal.

Alih-alih berhenti, lagu justru berubah.

“Matiin, bukan diganti!”

“Salah pencet, Bang!” suara Liam terdengar.

“Siniin remote-nya!” kali ini suara Franco, Max melihatnya merebut remote dari Liam namun benda itu justru jatuh meluncur di lantai dan masuk ke bawah sofa di dekat kaki Isack yang sibuk merekam peristiwa ini.

"Anjing, Isack, remote-nya ke deket kaki lo.”

Oh my god,” komentar Carlos seraya terkikik geli, Max lupa ia duduk di sebelahnya.

“Oh, gue tau lagu ini!” teriakan melengking Charles semakin membuat suasana heboh. Esteban berhasil merebut mic dari tangan Charles dan mengangkat benda itu tinggi-tinggi jauh dari jangkauan Charles yang lebih pendek. Ujung-ujungnya percuma karena beberapa detik kemudian Charles mengambil mic dari tangan Oliver yang berdiri mematung.

Think I only want you under my mistletoe ….

Charles sangat berbakat dalam bermain alat musik, terutama piano. Tidak jarang, bahkan sering, Charles menampilkan permainan pianonya yang cemerlang di depan Max dan teman-teman yang lain, bahkan Charles pernah memenangkan kejuaraan lomba musik dan bahkan pernah menggubah lagunya sendiri. Meskipun tidak ia tekuni lagi setelah lulus sekolah, tapi Charles masih bermain, hanya saja tidak sesering dulu.

Max, sebagai seseorang yang jarang mendengarkan musik, mengaku bahwa permainan piano Charles berhasil mengetuk dan menyentuh hatinya. Membuatnya ingin duduk di samping jendela raksasa dan menatap hujan sembari menyesap teh hangat.

Tapi, jago bermain alat musik bukan berarti jago bernyanyi. Itulah Charles. Boro-boro jago, Charles sama sekali tidak bisa bernyanyi.

Sama sekali.

Max meringis saat suara mic melengking tinggi di tangan Charles yang berayun-ayun tidak menentu, menjauh dari tangan-tangan teman-teman yang mencoba menangkapnya.

“Aduhmight change your contact to has a huge north pole!Charles meneriakkan liriknya seraya melihat ke arah Max.

Max atau Carlos, ia tidak yakin, sebenarnya. Yah … tidak mungkin ke dirinya, kan …? Uhm, meskipun Max cukup percaya diri dengan ukurannya, tapi—

Boy, I have been a bad girl I guess I am getting coal—

Jadinyagood girl apa bad girl, daaah?” George berteriak dari arah siulan tadi muncul. Di sebelahnya, Lando dan Alex terkikik geli.

Charles membuat suarashhh sembari menempelkan telunjuk di bibirnya yang mengerucut. Max menatap semuanya dengan mulut terbuka, kini menonton Charles yang tengah berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Pierre dan yang lain.

I do not want Santa’s elves underneath this ol’ tree!Charles menyanyikan lirik itu sembari mendorong Pierre, Esteban, Yuki, dan Kimi satu per satu. Max melihat Kimi di lantai memegangi satu kaki yang terlipat di depan dadanya.

Lalu, Charles mendekat satu langkah dan lagi-lagi menunjuk ke arahnya—atau Carlos—dan meneriakkan, “You are my wishlist! Looking at you got me thinking Christmas!

Ya Tuhan.

Lalu Charles dengan dramatis menjatuhkan diri di lantai dan bergerak-gerak melakukan tarian lantai yang rumit, sepenuhnya melewatkan lirik sesudahnya. Max tidak yakin itu gerakan apa. Suara siulan dan sorakan heboh kembali memenuhi ruangan.

Holy shit, he can do that?!

“Ini anak kalo mabok suka susah ditangkep, anjir.”

“Gue baru tau Kak Charles lincah dan fleksibel gitu.”

Max melirik Gabi di sebelahnya, tiba-tiba merasa malu. “Uhm, yes, he is ….Cuma Max yang tahu Charles dulu punya mimpi untuk menjadi dancer. Sekarang ia lebih memilih bermusik. Tolong jangan sebarkan informasi ini ke siapa-siapa.

“Ini, nih, kenapa gue nggak setuju ngajak anak kecil ke sini,” gerutu Lewis dari meja bar.

Sorry, orang tua gue lebih milih potong uang jajan setahun gue daripada biarin tuh krucil main sendiri!” sahut George membela diri.

“Nggak usah hiperbola, Kak! Nggak pernah tuh gue liat Papa-Mama potong duit jajan lo. Untuk ukuran mahasiswa dua puluh tahun lo, tuh, masih dimanja banget!”

You will be Santa Claus and I will be Mrs!

“Cih, nggak tau aja lo di belakang layar gue diancem potong duit kalo nggak ngajak bocah delapan belas tahun main bareng!”

I will take you for a ride, I will be your Vixen!

“Bohong!”

I do not even know, I am talking Christmas!

“Ngapain gue bohong—“

I am talking, I am talking, ah-ah-ah-ah!

“Gue laporin ke Kak Alex kalau lo pernah minum susu dari botol bayi terus bilang kalau lo masih pengen nenen!At your big age! Have some shame, Kak.”

I am talking big snowballs, you got a new toy for me—

Oh my god, Babe! Beneran?” Suara tawa Alex membahana diikuti yang lain.

“Kimi, you are dead! You are fucking dead!seru George dari tempatnya duduk, hanya satu tangannya yang bergerak heboh untuk menunjuk-nunjuk marah pada Kimi, karena ada Alex di pangkuannya.No, Babe, jangan percaya dia—Charles diem!”

Kombinasi antara suara jelek Charles dan kegaduhan dari enam belas orang cowok di dalam satu ruangan pun tidak berhasil mengusik Max dari gelembungnya sendiri; ia dan Charles, terpaut jarak tiga meter, ia sebagai penonton taat dan setia seolah Charles sedang mempersembahkan penampilan terbaik di dunia.

“Charles, you can not fucking sing!

Bang, remote-nya belum ketemu ….”

“Kan bisa pake—”

“—let me come warm you up, you been out in the snow!” Charles masih meneriaki mic malang itu.

“Adeknya George sama temen-temennya mending balik ke kamar, deh.”

Dan tiba-tiba Charles sudah ada di depannya—dan Carlos. You are my wish list—Tiba-tiba lagi cowok itu jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk seperti di film kartun setelah Yuki menarik satu kakinya. Tangan Charles menggapai-gapai kaki Max dan … Carlos. “Tolongin gue ….”

Gelembung di sekitarnya pun pecah dan Max buru-buru berlutut untuk mencegah Charles mencium lantai dan kaki Max atau … Carlos—yang ngomong-ngomong juga ikut berjongkok di sampingnya.

Max menangkap Charles tepat saat cowok itu ambruk, pingsan. Mic terlepas dari genggamannya dan berkelotak di lantai.

Meninggalkan ruangan yang masih heboh, Max membawa Charles ke kamar Pierre yang ada di lantai satu—tempatnya ditidurkan sebelum bangun dan menghebohkan warga dengan penampilan karaokenya. Carlos membantunya dan pergi setelah Charles berbaring dengan aman di kasur. Selama beberapa saat, Max hanya duduk di ujung kasur sebelum menaikkan selimut lebih tinggi di tubuh Charles.

Tiba-tiba cowok itu menggeliat dan merengek dengan kening berkerut dan mata terpejam. Max terperanjat saat tangan Charles mencengkeram tangannya. Jantungnya melompat liar.

“Mmmh … Carlos ….”


“Ugh ….”

Max merasakan pening luar biasa di kepalanya. Dengan susah payah, ia membuka mata. Di sekitarnya gelap, Max tidak mengenali kamar siapa yang ia tempati saat ini, tapi yang jelas dan penting bagi Max adalah tirai jendela masih tertutup rapat. Menilai dari cahaya di sela-sela tirai itu, hari baru telah tiba.

Max mengernyit melihat pintu kamar terbuka lebar.

Apa yang terjadi dengannya?

Max memijat pangkal hidungnya sembari menghela napas panjang. Ia merasa luar biasa pusing tapi tetap memaksa otaknya untuk mengingat. Apa-apaan yang terjadi semalam? Mengapa ia bisa bangun dalam keadaan seperti ini di kamar yang entah milik siapa?

Yang ia ingat terakhir adalah … Charles.

Oh, tentu saja, dari segala hal penting yang dapat membantunya mengingat kejadian semalam, Charles-lah yang muncul pertama kali di benaknya.

Dan jika itu belum cukup, si pemilik nama baru saja melewati pintu kamar ini dan dua detik kemudian berjalan mundur ke depan pintu dan menatap Max sebelum tergesa-gesa masuk.

“Max, udah bangun dari tadi?”

Max lagi-lagi mengernyit bingung. Charles tampak … khawatir dan lega …? Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan sembari menggaruk belakang lehernya yang berkeringat.

“Baru aja ….”

Charles menyambar sebotol air minum di meja belajar dan menyerahkannya pada Max. “Minum dulu.”

Tanpa babibu, Max segera meneguknya dan mendesah panjang begitu cairan segar itu melewati kerongkongannya. Rasanya seperti tidak minum satu pekan. Ia terkesiap saat punggung tangan hangat Charles menyentuh lembut dahinya.

“Oh, thank god lo nggak demam. How are you feeling, Max?” tanyanya masih tampak khawatir. Sepasang iris zamrud itu bergerak-gerak gelisah.

“Gue pusing banget, haus … sama bingung,” Max mengaku. Ia kembali meneguk airnya. “Ini kamar siapa? Gue kenapa?”

Charles menatapnya seraya menggigit bibir bawah dan Max segera mengalihkan pandangan darinya. “Lo semalem minum banyak banget, Max. Gue nggak tau sebelumnya karena … gue kurang lebih dalam keadaan yang sama,” ucap Charles pelan. “Lewis cerita yang terjadi semalem … maaf, ya, gue beneran nggak inget, ternyata serusuh itu.”

Ia minum banyak?

Ah, bagaimana ia lupa. Charles mabuk, bernyanyi dan menari, ambruk di hadapannya, dan … menggumamkan nama Carlos tepat setelah Max membawanya ke kamar dan membaringkannya dengan aman semalam! Bisa-bisanya!

And oh, ini kamar Gabi! Dia tidur di kamar Oliver.”

Oh. Kamar Gabi. Bagus. Untunglah skenarionya tidak seperti ini:

“Oh, ini kamar Carlos! Dia tidur bareng gue.”

Amit-amit.

Tapi kemudian ia ingat kalau Charles tidur di kamar Pierre, jadi tidak mungkin, kan, mereka tidur bersama …?

“Oke,” Max berdeham. Charles hanya tersenyum dan selama beberapa saat mereka cuma diam. Max menggaruk-garuk rambut di sekitar telinganya. Ada hal yang ingin ia tanyakan.

Iya, Max mengulur waktu karena malu. Malu karena bangun dalam keadaan hangover di depan cowok yang ditaksirnya, malu karena kenungkinan besar Charles tahu hal-hal apa pun itu yang dilakukannya saat mabuk semalam—pasti ia melakukan hal memalukan, pasti—dan malu karena ada Charles.

Charles! Kenapa ia ada di sini?!

“Lo kenapa di sini?” tanyanya sebelum keberanian secuilnya hilang lagi selama Charles masih menatapnya.

Sepasang mata terindah yang pernah Max lihat itu berkedip-kedip dan bulu mata lentik di sana seperti mengepak-ngepak bagai sayap. Namun, cahaya di hijau jernih itu meredup. Mulut Charles terbuka membuat fokus Max turun ke sana. Selama beberapa saat, mulutnya menutup dan membuka. Charles tampak ragu, mungkin nada bicaranya terlalu dingin.

“Mereka cerita."

Max mengerutkan dahi. “Tentang semalem?”

“Iya, tapi nggak cuma itu. Semuanya.”

Mungkin jika Max adalah tokoh dalam komik, saat ini di sekitar kepalanya muncul banyak tanda tanya. Ia baru bangkit dari tidur dalam keadaan pengar dan Charles memutuskan untuk bertele-tele seperti ini?

“Charles, who told you what? Maaf, bisa langsung ke intinya? Gue pusing—“

I know you like me.”

Jantung Max akhirnya menemukan jalan keluar dari dadanya—berhasil meretakkan tulang dan melubangi dadanya setelah bertahun-tahun mencoba untuk keluar—menampakkan wujudnya hanya untuk Charles.

Charles melihatnya dan hidup ini tidak menyediakan tombol kembali untuk mencegah sesuatu terjadi. So, why back down? Toh, darahnya sudah tumpah ruah membasahi kaos tebalnya dengan warna merah.

“… Yes, I like you, I like you so much, Charles, I am sorry if it bothers you, but I do not feel sorry for liking you.”

Max merasakan tangannya lagi, putih karena terlalu erat mencengkeram sprei. Napasnya terengah-engah.

“Max ….”

Yang tidak cowok itu tahu, Max bukan sekadar suka. Max mencintai Charles.

“Maaf, gue nggak bisa—setidaknya belum bisa hilangin perasaan ini, gue … nggak tahu apa bakal bisa. Kenyataannya sampai saat ini, jantung ini selalu berdetak buat lo, Cha. It was always for you.”

Rasa panas menjalari tubuhnya, terutama tenggorokannya, matanya, dan dadanya. Saat ia menutup mata, bulir air mata jatuh bebas menggelitik pipinya, tapi Charles yang melihat jantungnya terpampang di dadanya lebih menggelitik lagi.

“Max, gue minta maaf—“

“Jangan minta maaf,I understand,” Max memotong. “Tapi please, Charles, jangan benci gue ….”

I do not hate you! I will not!” Suara nyaring Charles bergema di seisi ruangan yang sepi. Cowok itu kini berdiri dari duduknya, kedua tangan terkepal kencang di samping tubuhnya.

Max terkesiap, mendongak menatap Charles yang tampak marah.

“Marahin gue, Charles, kutuk jantung gue biar pendarnya hilang tiap lihat lo.”

Don’t you dare!” seru Charles lagi membuat Max tersentak.Don’t you fucking dare telling me to stop you for liking me, Max!”

Charles kini menangis dan Max tidak tahu harus berbuat apa. Namun, Charles berbicara lagi dengan suara gemetar.

“Gue marah sama diri gue sendiri, gue marah udah bikin lo minta maaf untuk sesuatu yang sama sekali bukan kesalahan lo. Gue marah sama diri gue sendiri karena nyakitin lo selama ini. Gue nyakitin lo, Max, gue udah semena-mena sama lo dan mainin hati lo. Gue bikin orang yang gue suka minta maaf karena ngebales perasaan gue.”

Tangis Max pecah. Charles juga menangis di sisi tempat tidurnya.

Max menangis, menangis, dan menangis hingga tubuhnya terasa terlalu berat baginya dan ia meraih bahu Charles, membawanya mendekat.

“Aku sayang kamu juga, Max. Aku sayang banget sama kamu. You are always kind to me. And everyone. Mungkin itu yang bikin aku nggak bisa lihat perasaan kamu ke aku,” Max menatap Charles yang saat ini menatap langit-langit, tampak menerawang, kemudian cowok itu meggelengkan kepala.No, kenapa aku malah nyalahin kebaikan kamu buat alasan kepekaanku? God, why am I such a fool?

Air mata Max sepenuhnya berhenti. Dadanya terasa menghangat, bukan hangat yang menenangkan, tapi hangat sebelum kebakaran seolah seseorang tengah menyulut api unggun yang nantinya akan membumbung tinggi dan meledak menjadi kebakaran hebat.

“Charles, boleh lihat aku?”

Aku. Kamu. Terasa ringan dan luar biasa menyenangkan keluar dari lidahnya. Terdengar indah saat keluar dari mulut Charles.

Saat Charles justru menutup wajah dengan kedua tangan, Max mencoba lagi, “Charlie.”

Ia menyaksikan secara langsung tubuh Charles terlonjak dan tangannya jatuh bebas menampakkan wajah meronanya, mulut terbuka menampakkan warna yang lebih merah. Max meneguk ludah sebelum Charles menutup mulutnya dan yang Max lihat selanjutnya adalah bibir merah muda Charles yang mengerucut.

Y-You stopped calling me that since our last year of high school.”

“Iya,” Max membenarkan seraya meneguk ludah. “Karena aku ngerasa panggilan itu terlalu intim, nggak ada yang manggil kamu Charlie selain aku di sekolah. Hal itu makin sulit seiring tumbuhnya perasaan aku ke kamu.”

Max memejamkan mata. Sudah terlalu lama dirinya memendam perasaan di depan Charles. Mungkin ini saatnya ia mengeluarkannya satu-satu, pelan-pelan. He will get there.Ia bisa melakukannya. Semoga Max bisa mencurahkan semua pada Charles, membuat cowok itu tahu betapa besar cinta Max padanya.

Sesuatu yang lembut dan hangat hinggap di pipinya. Tangan charles. Jari-jari lentik Charles di kulitnya. Max menggesekkan pipi di sepanjang telapak tangan Charles. Saat ia membuka mata, Charles tersenyum kepadanya.

Tangan itu bergerak turun melewati sisi leher Max dan berhenti di bahunya, kemudian Charles naik ke pangkuannya. Dan tak ada hal lain yang ingin Max lakukan selain mendekap si cowok berambut cokelat dan menenggelamkan wajah di ceruk lehernya.

“Aku suka banget tiap kamu panggil aku Charlie,” Max merasakan tangan Charles mengelus-elus dan bermain-main di rambut belakangnya.Actually?Aku suka tiap kali namaku keluar dari bibir kamu.”

Mereka bertahan di posisi itu selama entah berapa lama. Max masih setia menyembunyikan wajah di leher Charles yang ia yakin pasti panas oleh napasnya, sementara cowok itu tak henti-hentinya bermain-main dengan rambut Max.

Max bisa tertidur di situasi seperti ini, ditambah efek pengar yang dialaminya. Matanya hampir terpejam ketika Charles menggerutu di atas sana dan Max buru-buru keluar dari ceruk leher Charles untuk menatap cowok itu bingung.

Charles menatapnya dengan cemberut. Oh. Apa Max melakukan kesalahan?

“Kamu ngaceng.”

Max terkesiap, merasa seolah seseorang habis menarik paksa selimutnya saat ia tidur telanjang.

Charles mendengus seraya menggerakkan pinggul berkali-kali. Max refleks mengeluarkan suara tercekat seolah ulu hatinya habis ditinju telak.

“Kayak lagi dudukin batu,” keluh Charles.

“Charles, jangan gerak—“

Kalimatnya terpotong ketika Charles menciumnya dan mendorong bahunya hingga punggung Max terbaring lurus di atas kasur.

Dengan panik ia mendorong bahu Charles dengan kencang. “Mmmh, Charles, bentar—“


Mereka tidak berciuman. Mereka tidak berhubungan seks (apalagi). Beberapa menit sebelumnya, Max mendorong keras bahu Charles hingga si pemilik nama terakhir menatapnya dengan bingung dan Max hanya berkata, “Mulutku lagi menjijikan.”

Tentu saja ia menolak ciuman Charles di kondisinya yang baru bangun tidur dari malam penuh alkohol dan tanpa sikat gigi ini.

Setelah itu, Charles membimbing Max menuju dapur dengan menarik tangannya. Selama perjalanan dari kamar Carlos menuju dapur, Max tidak henti-hentinya menatap tangan mereka yang bertaut.

Kini, Max duduk santai di kitchen island seraya mengunyah bak tidak makan tiga hari. Jadi, seperti ini rencananya: Max sarapan, gosok gigi, bersih-bersih badan, lalu mereka akan berbicara lagi. Dari situ, biarkan semua mengalir apa adanya. Mungkin mereka akan melanjutkan ciuman yang tertunda sebelumnya (kemungkinan: 85%) lalu dari situ lagi, biarkan mengalir.

Di dekatnya, Charles berjalan ke sana-ke kemari menyiapkan kopi untuk mereka berdua. Max tidak terlalu suka kopi, tapi ia ingin mencicipi kopi buatan Charles.

Max mengikuti setiap pergerakan tangan Charles dengan matanya, bergumam-gumam di dalam hati. Apa sekarang gue udah boleh pegang tangan Charles kapan pun gue mau? Kalau gue pegang tangan Charles, rekasinya bakal kayak gimana, ya? Maka ia lakukan, memegang tangan Charles saat cowok itu lewat di depannya. Charles menghentikan langkah lalu menoleh ke arahnya. Ia merespons dengan meremas tangan Max lembut dan memberinya senyum terhangat.

I should finish this.

Max mengangguk dan melepas tangan Charles.

Kemudian Charles bersikeras untuk mencuci piring.

“Udah, ih, kamu naik aja, gosok gigi sama bersih-bersih,” perintah Charles seraya mendorong-dorong bahu Max agar mundur.

“Oke,” balas Max pendek seraya pergi menjauh. Charles melemparkan senyum lagi sebelum kembali berbalik menghadap bak cuci piring. Kalau gue peluk dia dari belakang, boleh, nggak….

Tanpa pikir panjang Max mendekati Charles lagi dan melingkarkan kedua lengan di pinggangnya. Charles menghela napas panjang, tanpa disangka menyandarkan punggungnya di dada Max. Debar jantungnya di punggung Charles.

Max menenggelamkan wajah di rambut ikal si cowok yang lebih muda. Ia tidak bisa menahan senyum menyadari bahwa wanginya masih sama, stroberi dan lemon.

Love you.”

Tubuh Charles berubah kaku sejenak Max mendapat jawaban melalui bisikan,I love you too, Max.”

Rambut Charles menggelitik di bawah hidungnya yang membuat Max tertawa kegelian dan perasaan lega membanjirinya. “Makasih.”

Charles menghentikan kegiatan mencuci piringnya selama beberapa saat. “Makasih kembali.” Cowok itu kembali menghela napas. “Sana bersih-bersih, aku agak kecewa since I can not kiss you earlier."

Right,” balas Max singkat, dengan enggan melepas pelukannya.Bye, Charles.”

I am going to miss you,” ujar Charles dengan suara sedih yang dibuat-buat dan bibir yang mengerucut.

Not for long.”

Tolong jangan lama-lama, I am a bit impatient, Maxie.”

Oke, aku—“ Max meneguk ludah, kepalanya yang mulai membaik kembali merasakan pening, namun pening yang lebih menggirangkan, kedua kakinya masih setia melangkah mundur namun tatapannya tidak goyah dari sosok Charles yang tampak seperti setan seks. Whatever that means . “—aku nggak akan lama. Aku cepet. Aku Flash, aku Quicksilver, aku … fuck, aku Max.”

Max cepat-cepat putar balik dan berlari kencang sebelum mulutnya semakin melantur ke mana-mana. Di belakangnya, Max mendengar tawa keras Charles keras dan teriakannya yang tak kalah nyaring,Oh my fucking god, Max, you are so cute!

Ah, mendengar Charles menertawakannya sudah biasa, tapi di situasi ini, situasi setelah mereka saling mengucapkan kata cinta, sungguh memalukan. Dengan langkah berderap Max mencapai tangga dan menapaki dua anak tangga sekaligus dalam tiap langkah.

Ia harus cepat. Ia Flash, ia Quicksilver, ia Makkari, ia—


Max mendesis kesakitan saat jari Charles kembali menyentuh tulang pipinya untuk mengoles salep, ia refleks menolehkan kepala ke samping untuk menghindar. Charles cepat-cepat membisikkan shhh lembut dan dengan hati-hati membawa pipi Max yang lain agar kembali menghadapnya.

“Bentar, ya, dikiiit lagi,” bisik Charles, kelembutan tidak pernah pergi dari suara merdunya.

Saat Max melihat jari Charles kembali mendekati wajahnya, ia cepat-cepat menutup mata rapat-rapat, bersiap untuk rasa sakit yang akan datang. Saat itu terjadi, Max menggigit bibir berusaha menahan perih namun erangan tetap lolos dari mulutnya. Ia tahu Charles sudah berhati-hati dan melakukannya sepelan mungkin untuk meminimalisasi nyeri di lebam baru di wajahnya, setidaknya hal itu memberi sedikit ketenangan bagi Max bahwa Charles tidak akan menyakitinya.

Oh, ngomong-ngomong soal lebam. Iya, Max tergelincir dari tangga beberapa menit lalu. Tidak perlu dibahas. Yang penting sekarang ia sudah mandi, gosok gigi, dan berbaring nyaman di sofa dengan berbantalkan pangkuan Charles. Setiap kemalangan ada hikmahnya.

Entah berapa lama kemudian, jari Charles menghilang dan digantikan oleh sesuatu yang lembut dan basah di keningnya. Saat Max membuka mata, wajah Charles begitu dekat di atasnya.

Lihat, kan? Ia dapat kecupan di kening! Hikmah!

“Jadi, dari kapan kamu suka aku?”

Wow, benar-benar langsung ke intinya, ya? Max tahu pada akhirnya ia akan dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini dihindarinya. Sesiap apa pun ia pikir dirinya dalam menghadapinya, kapan pun saat itu datang, rasanya pasti selalu terlalu cepat.

Max masih berbaring di sofa dengan kepala di pangkuan Charles sementara cowok yang lebih muda asyik memainkan rambutnya. Saat ini mereka berada di ruang keluarga di lantai dua, di dekat pintu kaca raksasa menuju balkon yang sedikit terbuka—sudah seperti itu sejak mereka menginjakkan kaki di sini. Suara televisi yang menayangkan saluran berita lokal sayup-sayup terdengar.

“SMP, kelas delapan tapi baru sadar di kelas sepuluh.”

Bagai bendungan air jebol, Max menceritakan perjalanannya dalam mencintai Charles. Sang objek cerita mendengarkan seraya menutup mulut dengan tangan setiap beberapa menit sekali (ia tidak menyangka Max sudah menyukainya selama itu).

Kalau kamu gimana? Suka aku dari kapan? Max bertanya usai merampungkan kisahnya. Dengan senyum malu, Charles menjawab,dari semester dua.

Pembicaraan berlanjut pada adegan mabuk-mabukan Max semalam.

Jangan hentikan gue! Jangan jauhkan gue dari alkohol!

Max meringis saat mengingat dirinya bertingkah seperti orang sinting saat mabuk semalam. Ia ingat dengan jelas sekarang; Charles melakukan karaoke sensual di depan tujuh belas cowok, Charles yang terus menunjuk dirinya atau Carlos (Charles telah memberi konfirmasi bahwa ia menunjuk Max), Charles pingsan di kakinya, Max mengantarnya ke kamar dan menggumamkan nama cowok lain, lalu Max yang patah hati. Menurut pengakuan Pierre (yang diaminkan Max karena ia juga mengingatnya kendati samar-samar), Max mengobrak-abrik lemari minuman dan minum banyak setelahnya.

Sebagai pembelaan diri, Charles merasa kemungkinan dirinya menyebut nama Carlos adalah karena tidak mengira bahwa Max yang akan membawanya ke kamar.

Sementara menurut pengakuan Charles, cowok itu terbangun pagi-pagi sekali tadi dan tak sengaja melihat Max mendengkur (astaga?) di kamar Gabi dan yang lain menceritakan seluruh kejadian semalam padanya. Termasuk perasaan Max untuknya.

“Euh … maaf kamu taunya dengan cara kayak gitu,” ucap Max sembari meringis.

Tangan Charles masih mengacak-acak rambutnya saat ia menjawab,I do not care, Max. Yang aku sayangkan cuma kenapa aku nggak tau lebih awal.” Ia tersenyum sedih.

Max meraih satu tangan Charles yang tidak berada di rambutnya dan menautkannya dengan tangannya sendiri. Me too.Aku tau kamu dari SMP. Aku tau saat kamu lagi kecewa, sakit hati, khawatir, you are like an open book to me. Tapi buku itu berubah jadi berbahasa yang sama sekali nggak aku tau saat aku coba buat tau apa kamu jatuh cinta. Why is that? Dan kamu … kamu inget segala hal tentang aku, bahkan hal terkecil sekalipun. Kamu bikin aku merasa diperhatiin.”

You are right. Tapi kamu juga misteri buat aku. Kamu sadar, nggak, aku selalu pengen bikin kamu cemburu? Tapi nggak ada yang berhasil … setidaknya aku kira begitu.”

“Selalu berhasil.”

Yes, tapi kamu selalu keliatan biasa aja. Aku nggak bisa baca kamu. Jadi, ini permintaanku I want to learn more about you, Max.”

I want that too. Let’s learn each other together, ya?”

Charles tampak berkaca-kaca, ia mengangguk berkali-kali.Yes, yes, ayo belajar bareng-bareng. Kita bisa jadi tim yang hebat, kan?”

"Of course.

Max tersenyum saat Charles dengan malu-malu mengecup kecil bibirnya.

“Charles, kita udah bahas tentang aku. Sekarang, aku mau nanya, boleh?” pinta Max. Charles mengusap dahi Max lembut menggunakan ibu jarinya dan mengangguk. What happened to you setelah malam kita di loteng?”

Bibir Charles sungguh lembut saat mereka bertemu di tengah-tengah. Manis, basah, dan lembut. Max bangkit dari posisi rebahnya, melakukan manuver tanpa melepaskan tautan ranum mereka yang Max tidak tahu ia bisa lakukan. Tubuh Charles patuh di tangannya dan kini giliran cowok itu yang ada di pangkuan Max.

Charles melenguh saat Max menggigit bibir bawahnya dan menggunakan kesempatan itu untuk memperdalam ciuman. Ia membawa lidahnya untuk mengeksplorasi mulut Charles, mempelajari setiap bagian, lengkung, dan sudut. Menyusuri langit-langit mulutnya, giginya, dan lidahnya. Menelan dan menelan setiap lenguhan, desahan, dan suara-suara manis yang Charles keluarkan. Rasanya basah di mana-mana.

Entah berapa lama mereka saling mencumbu, Max mengerang sewaktu Charles mendorong bahunya dan menjauhkan jarak mereka dengan wajah merona dan napas tersengal-sengal.

“Maxie,” Charles terengah, pupilnya mengalahkan hijau di sepasang iris indah itu. Cowok yang masih duduk di pangkuannya itu bergerak dan Max jadi sepenuhnya sadar kalau dirinya tegang lagi. Ia refleks mengaduh.

“Charles, jangan gerak dulu,” pintanya sembari menggenggam pinggul Charles yang membuat cowok itu cemberut.

“Aku lagi nyari posisi enak, nusuk banget,” keluh Charles. Tiba-tiba cowok itu berdiri, membuat Max mengerang dan ereksinya kini terpampang jelas di antara mereka. Cowok itu terkesiap sambil menutup mulut dengan kedua tangannya dengan dramatis. “Max!”

Max kembali mengerang, merebahkan kepalanya di sandaran sofa dan menutup mata dengan satu lengan, merasa luar biasa malu. Charles sudah memergokinya ereksi dua kali dan ia tidak tahu harus melakukan apa kecuali berharap lantai di bawah sofa yang ia duduki ambruk dan menelannya dalam lubang kegelapan, menyembunyikannya dari orang-orang, dari Charles.

Tapi kalau dipikir-dipikir, ditelan lubang terdengar mengerikan dan Max sedikit klaustrofobia. Ih. Tidak jadi, deh.

Dan, sebenarnya Charles memanggil-manggilnya dari tadi, hanya saja Max sedang memiliki kepercayaan diri setingkat kemampuan memasak Lando, yakni nol. Jadi ia mengabaikannya.

Sampai sesuatu yang basah dan lembut kembali hinggap di bibirnya bersamaan dengan ditariknya pelan lengannya. Max terkesiap namun tak pelak balik melumat ranum Charles. Terlalu cepat, cowok berambut cokelat itu melepas tautan bibir mereka.

Let’s go somewhere else,” bisiknya.

“Mau ke mana?”

“Kamu tadi tanya, kan, aku kenapa malam itu? Ayo ke loteng,” ajak Charles bersemangat. Kontra dengan senyum secerah mentarinya, Max merasa jantungnya mencelus.

Loteng … yang itu?

Sebelum ia sempat menjawab apa-apa, Charles menarik tangannya yang tadi menjadi penghalang wajanya. Max memekik terkejut, refleks melihat ke bawah dan menemukan dirinya masih menonjol di celana tidurnya. Fuck.

Kendati rasa takut menggerogotinya, Max berhasil memanjat tangga dan di sinilah dirinya, berdiri di balik tubuh Charles, menunggu cowok itu membuka pintu, pandangannya otomatis tertuju pada sudut ruangan tempat ia melihat sesuatu malam itu.

Namun, tidak ada apa-apa di sudut itu. Kosong, begitu pula seisi ruangan. Nyaris tidak ada barang, hanya beberapa rak berdebu tanpa barang. Ruangan mendadak terang setelah bunyi tik dan Max baru sadar Charles telah melangkah masuk dan menyalakan lampu.

Max, wha—Ia melihat Charles berdiri di tengah ruangan, memandang ke sekeliling ruangan dengan mulut terbuka.

Max ikut memandang seisi ruangan yang berdebu, ia ragu ruangan ini digunakan semalam. Namun, keranjang snack yang mereka bawa masih ada di atas meja kecil yang menjadi salah satu benda yang tersisa. Hanya keranjang snack itulah yang tidak berdebu, kontras dengan seisi ruangan. Charles menarik tirai dan membuat keduanya terbatuk-batuk oleh debu yang beterbangan.

“Uhuk, uhuk, anjir, berdebu banget,” keluh Max seraya menutup hidung dan mulut dengan tangan. Pandangannya menangkap sesuatu di jendela.

Kata-kata yang ditulis di atas jendela yang berdebu menarik perhatiannya.

HANG OR JUMP

Apa-apaan …?

Max otomatis mundur. Ia menoleh ke arah sudut tempat ia melihat sesuatu malam itu kemudian pandangannya berpindah kembali pada jendela.

Fuck! What the fuck?Charles merengek frustrasi. “Padahal ini tempat bagusto fuck.

Max yang masih bengong mendadak seperti disengat listrik.What? Jadi kita ke sini mau itu?”

Of course, we need to take care of that,” Charles menunjuk ke bawah perutnya. Saat Max mengikuti arah telunjuk Charles, ia kaget sendiri melihat dirinya masih keras di bawah sana.

I do not understand.

Max menoleh ke arah datangnya suara Charles dan menemukan cowok itu tengah bersimpuh di hadapan rak yang kemarin berisi piringan hitam dan DVD film.

“Charles—“

Charles mendongak menatapnya dari lantai dengan berkaca-kaca.But it was real, right?Malem itu?”

Yes,” balas Max sembari mengangguk cepat.Yes.”

I dreamt about you. About us.Kamu peluk aku hangat banget dari belakang di bawah selimut yang sama. Your hand on mine. Sampai kamu bangunin aku. Dan aku malu banget. Aku malu punya mimpi kayak gitu sama temen aku dari kecil.”

Max menggigit bibir. Jadi, Charles merasakan itu, namun lewat mimpi. Bagaimana Max meresponsnya?

“Charles, ini mungkin kedengeran aneh, but I promise you, semua yang kamu mimpiin itu nyata.” Saat dilihatnya Charles membuka mulut hendak membalas, Max buru-buru memotong. I do not think it is a good idea to be in this room any longer.Kita lanjutin ini di bawah, ya?” Max mengulurkan tangan yang segera Charles raih.

“Bentar,” Charles menarik tangan Max menuju jendela, dengan tangan yang lain ia menggosok jari telunjuknya di atas kaca berdebu itu tepat di tulisan horornya.

“Oke, yuk!”

Max melotot melihat tulisan di jendela sudah berubah, kemudian Charles menariknya ke pintu.

HANG OR JUMP

BANG OR HUMP!!!

Ya Tuhan, semoga perbuatan cowok yang paling ia sayangi di dunia ini tidak memancing amukan hantu di tempat ini, amin.


Max memekik terkejut sewaktu punggungnya menghantam pintu kamarnya yang baru tertutup dan disusul bibir Charles menghantam bibirnya sendiri. Ia membalas ciuman Charles yang menggebu-gebu, meremas pinggang cowok itu. Kemudian ia membawa satu tangan ke bahu Charles dan mendorong cowok itu mundur. Ada air liur yang membentang layaknya benang di antara mereka saat dua pasang ranum mereka menjauh.

“Charles,” gumam Max di tengah napasnya yang memburu. “Aku … pernah bikin sumpah di malam pertama kita di sini kalau … aku nggak bakal berbuat mesum di tempat asing.”

Charles hanya melongo. Matanya yang berkabut berkedip-kedip seperti sedang memproses kata-kata Max di otaknya. “… sumpah?”

Max menjilat bibirnya. “Demi kelancaran skripsinya Lando sama George.”

“Max!”

I know, I know …. I was so heartbroken that day. And the day after,” Max bergumam seraya mendongakkan kepala hingga membentur pintu. “Pas kamu tiba-tiba nggak keliatan setelah kita balik dari loteng.”

Ia teringat perkataan Charles tentang mimpinya saat mereka di loteng, bahwa ia malu telah bermimpi sedemikian rupa.

That was all real, Charles.”

“Oh, Maxie, aku minta maaf.” Charles mengalungkan kedua lengan di leher Max untuk membawanya mendekat, Max membiarkannya. Charles mengakui bahwa ia sengaja mengurung diri dan menghindari Max karena merasa bersalah. Max menatapnya sedih sepanjang waktu, perih mengetahui Charles sampai merasa sebersalah itu hanya karena memimpikan mereka berdua di kasur yang sama.

Max menggenggam kedua tangan Charles dan menciumi setiap buku jarinya, setelah itu wajahnya, terus menciumi setiap bagian dirinya, seolah sudah hal alami baginya untuk mencium Charles. Saat ia menjauhkan wajah, Max tersadar saat ini dirinya sudah menindih Charles di kasur, cowok di bawahnya tersengal dengan wajah merona.

“Charles, do not beat yourself up, ya … sesuatu kayak mimpi itu di luar kendali kamu. Aku tau rasanya malu, tapi aku harap kamu nggak akan nyakitin diri kamu karenanya.”

Charles menggigit bibir, menatapnya seolah tengah menyelami iris Max untuk mencari kebenaran di dalamnya. “Okay.

All good?

Charles mengangguk. “Yes, thank you, Max.”

“Oke,” Max nyengir.

Dan mereka hanya diam selama beberapa saat karena Max tidak tahu harus apa lagi.

You are so hot.

Max mengerjapkan mata pada Charles di bawahnya. Pernyataan tiba-tiba dari cowok itu membuatnya merasa konyol saat ini karena ia yakin dirinya tampak merona dan ngos-ngosan seperti sedang dihukum melakukan plank.

“Makasih,” ucap Max akhirnya. “You are perfect, Charles.”

"Thank you, you too,” balas Charles dengan senyum dan Max dibuat percaya oleh kata-katanya. Namun Max tidak percaya kata-kata yang diucapkan Charles selanjutnya. “Make love to me.

Max nyaris kehilangan keseimbangan dan menindih tubuh Charles di bawahnya, untungnya ia adalah cowok kuat, jadi ia mencengkeram sprei dan mencegah tubuhnya agar tidak goyah. “C-Charles, bentar, jadi sekarang kita … apa?”

“Oh, aku lupa. Okay, Max, mau jadi pacarku?”

Max memekik kaget entah untuk yang keberapa kalinya hari ini. Astaga, Charles Leclerc menembaknya duluan? Astaga, astaga.

“Charles, yes, of course yes,” balasnya sembari tertawa bahagia. Charles tampak lega dan ikut tertawa bersamanya. “Kamu nembak aku ….”

You do not mind, right?" Charles nyengir, Max buru-buru menggeleng. Ini sempurna. “Okay … we are boyfriends, then. I love you, Max.”

Astaga. “Yes, I love you too, Charles.” Astaga.

Now make love to me.

Max kembali membelalak. “I-I want that, but what about you? Do you want this? Maksudku, I do not want you to feel obligated for me. I mean, I can take care of myself, you know … kita bisa mulai pelan-pelan.”

Max hanya ingin memastikan Charles benar-benar mau melakukannya dan bukan semata karena merasa terbebani oleh dirinya yang tidak tahu diri ini (bahkan hingga detik ini penisnya masih berdiri, astaga). Max akan melakukan apa yang Charles inginkan, apa pun itu. Yang di balik celananya urusan belakangan. Kemudian ia merasakan telapak tangan dingin Charles menempel di kedua pipinya, tanpa menyentuh lebam yang ada di sana.

“Max, I want that too, of course,” tutur Charles sebelum memberi Max kecupan lembut dan manis di bibir. Max menatapnya seraya menggesekkan pipinya ke telapak tangan Charles, seulas senyum terukir di bibirnya. Charles yang melihat itu ikut tersenyum. “All good?

“Y-Ya,” balas Max buru-buru. Baiklah, mereka ada di satu panggung saat ini. Namun, kemudian …. “Terus sumpahnya gimana …?”

That is different, Max. We are going to do a love making! Bercinta itu atas dasar cinta dan bukan nafsu belaka. So, it should be fine,” ucap Charles enteng.

“Kayaknya cara kerjanya bukan gitu, deh, Cha, tapi …,” Max memiringkan kepala sejenak, menimbang-nimbang. Ia menatap Charles yang mengangkat bahu acuh tak acuh dan begitu percaya diri seolah dirinya adalah Si Maha Benar. Oh, setan seks ini. Mungkin Charles sedikit idiot, tapi Max lebih idiot lagi karena memercayainya. Max mencintai Charles dan Charles mencintai Max, jadi ….

Oke, persetan. Jika Charles salah … George, Lando, maaf.

Okay,” balas Max lembut, mengecup bibir Charles singkat. “Fuck, okay ….

Selama beberapa saat Max hanya menciumi Charles.

Fuck, aku nggak tau harus ngapain lagi. This is too much for me. Is this real? Oh my god, Charles Leclerc? Aku pacaran sama Charles Leclerc?”

Di bawahnya, Charles terbahak-bahak, kedua tangannya rebah di samping kanan dan kiri kepalanya dan Max bersyukur dirinya bukan pelukis andal di abad ke-19 yang harus berebut dengan pelukis lain dan bangsawan untuk mendapat sekelebat cowok itu. Bersaing dengan beberapa anak kuliahan sudah cukup berat baginya.

“Lebaaay!” gurau Charles seraya menutup wajah Max dengan kedua tangan.

“Aku serius,” rengek Max. Kedua matanya berkedip-kedip di antara jari-jari Charles. Lebay katanya. Semua orang juga akan seperti ini jika ada di posisi Max!

Charles bergumam, tampak menimbang-nimbang. “You want this?

Max mengangguk cepat, menahan urgensi untuk memutar bola mata. “Charles, duh.”

“Oh! Kamu submisif?” Charles bertanya riang, kontra dengan Max yang membelalak kaget. Charles melempar cengiran. “Want me to take the lead? I can switch!

Astaga. Max menutup mata, mengerang, dan menjatuhkan kepalanya ke dada Charles. Si pemilik nama terakhir merespons dengan meremas-remas rambutnya, seluruh tubuhnya bergetar oleh tawa.

How about this? Kamu tiduran aja nggak ngapa-ngapain and I will do the work,” ujar Charles santai. “Or … kalau kamu pengen yang lebih ngh,” Charles menekan kepalanya ke bantal dan melengkungkan punggungnya dengan membuat wajah cabul—Max ingin mengelus dada melihat kelakuannya. “—spicy, aku bisa iket kamu di tempat tidur dan pake kamu sampe aku puas. I will bounce on your face and co—

"God, Charles, kamu aneh banget,” Max menghela napas setelah memutus tautan bibir mereka tanpa menarik wajah.

Hypocrite.

Max tertawa geli. “Shut up, Freak.

Charles menjulurkan lidah. “Make me, Freak.

Max menghela napas, sisa-sisa tawa membuat napasnya terputus-putus. Ia membawa dua jari untuk menyingkirkan helai-helai rambut di dahi Charles.

Yes, he is a freak. Ia menginginkan Charles. Ia lapar untuk Charles. Dan ia tidak tahu harus berbuat apa.

"Just touch me,” ucap Charles lembut. “Touch me like you want me.

“Aku selalu mau kamu,” tukas Max cepat, sedikit protes dan ia yakin tampak kekanak-kanakan.

Then you know what to do, amour.

Max tidak tahu. Ia mengerang lagi dan Charles menangkap kepalanya sebelum ia menjatuhkannya lagi di dada Charles. Dengan kedua tangan, cowok itu menangkup wajah Max, mengusap bibir bawah Max menggunakan ibu jarinya yang membuat si pirang gemetar. Charles menatapnya selama beberapa saat seolah tengah mencoba mencari akar masalah dari suatu teka-teki. Max menyaksikan saat sesuatu terjadi di sepasang iris hijau itu pada akhirnya.

Charles memandunya dalam gairah mereka; Max mendengarkan dan melakukan setiap instruksi dari sang kekasih. Seolah ada api kecil terpantik di kedalaman yang Max tidak tahu di tubuhnya, ia menunduk untuk meraup bibir Charles dengan bibirnya sendiri, melumat, menggigit, menjilat, dan Charles hampir langsung menyerahkan seluruh kendali pada Max.

Kedua tangan Charles meraba-raba, mengembara tak menentu; bahu Max, punggung Max, naik ke leher Max, telinga Max, meremas rambut Max. Berulang kali.

Sementara tangan-tangan Max sudah menyusup di balik sweter Charles, merasakan hangatnya cowok itu di telapak tangannya, setiap detak dan denyut di bawah kulit halusnya, gigil tubuhnya setiap Max menjamah area sensitif di permukaan kecokelatannya.

Mengenyahkan pakaian Charles adalah koreografi mudah, dalam hitungan menit telapak tangan Max semakin leluasa merasakan suhu hangat dari tubuh polos di bawahnya, menyentuh kulit tidak berujung. Max tidak lagi melumat ranum bengkak dan basah itu, kini sibuk mengisap dan menggigit untuk menciptakan lebam di kulitnya—semakin mudah dan nyaring suara-suara Charles lolos dari mulut cantiknya. Melodi indah di telinga Max. Musik tidak ada apa-apanya.

Max terkesiap saat Charles membawa satu tangannya di antara kedua kakinya yang terbuka. Jari-jari Max bertemu dengan sesuatu yang lembut, hangat, dan basah di sana. Seluruh pasokan oksigen seketika lenyap saat sepasang mata Max menangkap rekahan merah di antara kaki Charles, semakin lebar seiring terbukanya kakinya. Merah. Seperti bunga mekar. Lotus cantik di kolam jernih. Klitoris Charles menyembul di antara bibir vagina yang merona seperti kedua pipinya saat ini. Cairan bening secara rutin keluar dari lubang indah tersebut layaknya nektar. Mulut Max berair.

Inikah yang tersembunyi di antara kaki Charles selama ini? Lubang cantik yang merona dan merekah ini, yang menjadi fantasi gelap Max di masa-masa remajanya?

Terpukau, Max membawa jari telunjuknya pada bundar cantik yang terlihat seperti mutiara dan Charles meresponsnya dengan indah. Seluruh tubuhnya tersentak oleh kontak kecil itu.

“Charles—”

Go on, Max.”

Max mengamati lubang becek itu. Cukup berapa jari, ya, di sini? Kecil banget!

Saat Max mendorong satu jari masuk—dengan lancar oleh cairan yang melimpah—ia mendesah, begitu pula Charles, tubuhnya gemetar hebat, namun Max dengan cekatan menahan kakinya agar tidak tertutup. Sensitif.

Satu jari berubah menjadi dua jari. Max berakhir menggempur lubang Charles dengan tiga jari dan tidak butuh waktu lama baginya untuk menyemburkan cairan bening ke tangan Max.

Ia mendekatkan wajah, menghirup aroma kenikmatan Charles, dan mulai menjilat. Cowok itu
kembali tersentak dan merengek oleh stimulasi baru—mulut Max. Tanpa mengeluarkan jarinya, Max mulai menjilat, menggigit, dan menghisap hingga Charles kembali menumpahkan cairan kenikmatan—tetesannya mendarat ke wajah Max.

Charles tampak berantakan di atas sana. Matanya tertutup rapat, rambut cokelatnya acak-acakan, wajah meronanya basah oleh air mata dan saliva. Charles tampak—

Beautiful. You are so beautiful, Charles,” gumam Max dengan napas terengah.

“Max, I need more,” desah Charles saat Max kembali memainkannya dengan jari-jarinya.

“Oh,” gumam Max bingung. Ia masih belum puas. “Sekali lagi.”

Charles tampak hendak protes namun gagal saat Max memutuskan untuk menekan titik yang sebelumnya membuat Charles menggeliat dengan liar. Max nyengir, senang mengetahui dirinya punya kuasa atas tubuh Charles dan mahir dalam hal ini.

Charles terengah saat mengatakan, “Keburu yang lain datang—“

Bagai film dramatis dengan alur yang mudah ditebak yang sering Max lihat ibu dan adiknya tonton. terdengar suara-suara berisik dari lantai bawah, disusul suara nyaring Lando yang menyenandungkan Iris yang luar biasa jelek, lalu beberapa suara yang memanggil nama mereka berdua.

Great,” Max mendesah kesal tanpa menghentikan gerakan jarinya di dalam kekasihnya. Kekasihnya! Wow. Hehehe.

“Tuh, kan, apa aku—ah-ahhh, mmmh!”

Panik, Max refleks menempelkan telapak tangan di mulut Charles guna membungkamnya, namun merasa ngeri sendiri melihat tangannya memakan terlalu banyak tempat di wajah Charles, nyaris menutup seluruh wajah cowok itu—hanya tersisa sepasang matanya yang berkaca-kaca yang menatapnya balik. Max menarik kembali tangannya, sebagai gantinya mendorong ibu jarinya ke dalam mulut Charles. Tidak sepenuhnya, tentu saja.

“Sekali lagi, please? Please?” pinta Max dengan memasang wajah memelas, sama sekali tidak mencerminkan kedua tangannya.

Mendapat lampu hijau setelah Charles bergumam di sekitar ibu jari Max, si pirang melanjutkan kegiatannya pada tubuh Charles. Satu tangan terbenam di antara kakinya sementara tangan yang satu masih memegang pipi Charles, lenguhannya teredam karena ibu jari Max di mulutnya.

Max menatapnya takjub hingga Charles kembali mencapai klimaksnya, bibirnya mengulum erat ibu jari Max tanpa sedikit pun menggigitnya. Lihat betapa sempurnanya kekasihnya ini. Max merasakan perih di tenggorokannya dan panas di kedua matanya.

Hal selanjutnya yang ia rasakan adalah sepasang tangan Charles membelai rambut dan wajahnya, ia berkedip dan merasakan sesuatu jatuh dari matanya dan turun ke pipinya.

Lalu suara Charles yang tampak khawatir samar-samar menyusup di telinganya. “Max? Sayang, kenapa? Is something wrong? Kita bisa berhenti sekarang—“

Dirinya mengernyit memandang wajah panik Charles di bawahnya. Tenggorokannya tercekat dan Max merasakan basah di kedua pipinya.

Oh, apa dirinya menangis?

Charles masih membelai wajahnya, mengusap bahunya, dan saat itulah ia sadar bahwa di saat Charles sepenuhnya telanjang, dirinya masih belum melepas sehelai pun pakaian.

“Max,” panggil Charles lirih, panik dan khawatir tergambar jelas di sepasang mata hijau keemasan itu. Ibu jarinya tak henti mengusap bagian bawah mata Max, pipi, dan rambut-rambut kasar di rahangnya—lagi-lagi tanpa sedikit pun menyentuh lebamnya.

Tuhan, melihat Charles membuatnya emosional. Kekasihnya begitu rupawan hingga dirinya merasa kewalahan. Ia sangat mencintai Charles. Max menggenggam pergelangan tangan cowok itu.

Nothing’s wrong, Charles,” ia tersenyum lembut, namun senyum itu semakin miring seiring dengan bergeraknya roda-roda di dalam kepalanya. “Kamu hot banget, aku sampe terharu dan nggak bisa ngapa-ngapain ….”

Charles menyemburkan tawa mendengar itu hingga tubuhnya berguncang-guncang.

“Hey, jangan ketawa! You are being rude to me,” rengek Max.

Oh, my sweet, sweet boy,” Charles mengalungkan lengan di leher Max. “Maafin aku, kamu imut banget soalnya. And waaay hotter.

Charles menciumnya lagi dan lagi sementara Max semakin pening dan kepalanya seolah berputar-putar seperti pusaran air laut. Sebelum ia menyadarinya, tangan-tangan Charles telah menyusup ke bawah kaos tebal yang ia gunakan, telapak tangan dingin membuat tubuh Max terlonjak membuatnya menggeram dan semakin menekan tubuh Charles ke kasur di bawahnya, memperdalam ciuman mereka. Ia membiarkan tangan Charles mengembara dan mengenyahkan kaos tersebut dari tubuhnya. Saat Max kembali menunduk untuk mempertemukan bibir mereka lagi, Charles menghentikannya dengan meletakkan jari telunjuk di bibir Max. Shit.

“Lepas.”

Barulah Max menyadari satu kaki Charles menggesek-gesek sisi celana tidurnya dengan sensual. Tuhan, bantu Max.

Max berhasil menanggalkan celananya usai mengeluarkan serangkaian erangan atas rasa ngilu oleh gesekan terkecil pada dirinya yang keras di balik boxer-nya. Charles menyaksikan dengan senyum selama momen menyulitkan dan menyakitkan bagi Max itu.

Ia mendengar pergerakan mendadak di atas sprei tak lama setelah dirinya bebas sepenuhnya dari kungkungan celana dalamnya. Saat Max mendongak, senyum Charles telah sirna dari wajahnya yang berubah melongo menatapnya dan kedua kaki yang tertutup rapat. Max ikut menatap dirinya sendiri. Wah, ia tidak pernah mengacung setinggi dan setegang ini seumur hidupnya.

I knew it!” seru Charles akhirnya seraya menjatuhkan kepalanya ke bantal dan menutup wajah dengan tangan.

Knew what?” Max bertanya dengan suara parau seraya menarik kedua tangan cowok itu yang digunakan untuk perisai wajah. “You have been fantasising about me?

Charles menolehkan kepala ke samping untuk menghindari tatapan Max. “Gitulah … I mean, aku suka kamu, so—emang kamu nggak?! Fuck, nggak usah dijawab.”

Max kembali ditarik untuk diciumi bertubi-tubi oleh Charles membuat tawanya teredam oleh bibir sang kekasih.

Rasanya seperti ada puluhan kembang api meletus-letus di dalam perut Max.

Ketika waktu itu tiba, tangan gemetar Max menyentuh dirinya sendiri dalam beberapa kali kocokan sebelum mengarahkannya ke antara kaki Charles dengan tangan yang semakin bergetar.

Emang muat, emang muat, emang muat …?

Tanpa bisa dicegah, sebuah lenguhan tinggi keluar dari mulutnya pada kontak pertama dengan Charles, cairan kenikmatan membuat semuanya menjadi licin dan lagi-lagi tanpa bisa dicegah, penisnya meleset dari tujuan dan justru mendarat di klitoris Charles dan terus menggelincir ke atas perut cowok itu. Charles terlonjak oleh kontak singkat tersebut.

Fuck, fuck, maaf—“

Fokus Max serta-merta buyar oleh pemandangan di bawahnya; bagaimana penisnya membentang di atas perut Charles, bagaimana panjangnya nyaris menyentuh pusar cowok itu.

Hal itu memberinya sebuah visualisasi bahwa akan sejauh itu dirinya masuk dan capai di dalam tubuh Charles.

Apa Charles memang semungil itu?

Kepala Max lagi-lagi terasa pening.

Lalu dunia Max berputar dan ia merasakan punggungnya rebah di permukaan empuk dan lembut. Butuh beberapa detik baginya untuk sadar bahwa Charles telah membalik posisi mereka, kini giliran cowok itu yang berada di atas sana, menduduki perut Max dan jika Charles tampak indah dilihat dari atas, Max tidak tahu kata sifat mana yang harus dipilihnya untuk menggambarkan pemandangan sosok Charles dari bawah.

Yang Max tahu hanyalah membawa kedua tangan gemetarnya untuk mencengkeram pinggang ramping Charles. Namun kemudian Max ingat dirinya diperbolehkan untuk menyentuh kekasihnya dan menurunkan tangan, meraba lekukan tubuh Charles hingga tangannya menemukan dua bongkahan sintal yang selama ini ia amati diam-diam setiap Charles ada di jangkauan pandangnya.

Tubuh Charles jatuh di atasnya dan bibir cowok itu kembali melumat bibir Max yang terbuka dan penuh hasrat untuk ciuman terpanas abad ini. Ia mengerang saat Charles menggigit bibir bawahnya dan menjilat bekasnya yang perih seolah mencoba mengurangi perihnya.

Hijau keemasan di sepasang mata Charles nyaris lenyap saat si rambut cokelat menjauhkan wajah. Helai-helai ikal yang jatuh sedikit memberikan efek teduh bagi wajahnya yang sepanas laptop gaming Oscar yang tidak sengaja ia sentuh tiga hari lalu. Yang Max tahu berikutnya hanyalah dirinya yang megap-megap sementara Charles mulai mengangkat tubuhnya dari Max, menciptakan jarak untuk meraih anggota tubuh yang tidak tahu malu milik Max itu dan mengarahkannya di antara kakinya sendiri.

Tanpa bisa ditahan, lenguhan nyaring lolos dari mulut Max saat pucuk sensitifnya menyentuh kehangatan di antara kaki Charles, beriringan dengan rengekan tertahan dari cowok itu. Max menyadari kekasihnya terengah-engah di atasnya namun kondisinya sendiri tidak lebih baik untuk menenangkannya, jadi ia lakukan yang bisa dilakukan; mengusap-usap telapak tangan dengan lembut di pinggang Charles.

Perlahan, Charles mulai menurunkan diri dan oh, oh, kehangatan level surgawi menyambut ujung kejantanannya yang telah masuk ke dalam kekasihnya.

Sempit membuat Max bagai diremas dan seluruh kontrol pada tubuhnya seketika menghilang bersamaan dengan pikirannya yang menghitam, tanpa sadar Max mendorong pinggulnya dengan kencang ke atas hingga dirinya terbenam sepenuhnya di tubuh Charles dalam sekali hentak.

Secepat hilangnya, tombol kontrol kembali menyala dan Max segera sadar akan apa yang telah ia lakukan.

Fuck, fuck, Charles, Sayang, maaf. Shit.” Cengkeraman kuku-kuku Charles di kulitnya semakin intens dan Max serta-merta menahan diri untuk tidak bergerak sedikit pun.

Tidak kunjung mendapat jawaban, Max panik. “Sayang, are you okay? Aku minta maaf, aku nggak bermaksud nyakitin kamu,” ucapnya sembari meremas-remas rambut belakang Charles dan tangannya yang lain mengelus pinggang cowok itu dengan lembut—kontra dengan gemuruh panik di dadanya.

Dari ceruk lehernya, Charles akhirnya bersuara setelah hening selama beberapa detik, “Nggak papa, I—I just need some time, Max. Is it okay? You are … mmmh, you sure have a huge northpole ….

Wah. Max menelan ludah, mendadak wajahnya jadi super panas. Ia yakin dirinya semerah lobster rebus sekarang.

It is totally okay, Sayang. Take all the time you need,” balasnya setenang mungkin sembari mengecup rambut Charles sebagai dukungan.

Take all the time you need. Justru Max yang tidak tahan sekarang. Sempit sekali. Astaga, ternyata sulit juga diam di dalam kekasihmu lama-lama. Ia hanya ingin menggerakkan pinggulnya naik dan turun.

Max menutup mata rapat-rapat dan menggigit bibir kuat-kuat, setengah mati menahan diri untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ia tidak ingin menyakiti Charles.

Max merasakan anyir di mulutnya saking kuatnya ia menggigit bibir, takut mengeluarkan suara-suara yang membuat Charles mau tak mau menyuruh Max bergerak di saat kekasihnya itu belum siap menerima intrusinya.

Yang mengejutkan, tidak butuh waktu lama bagi Charles untuk membiasakan diri dengan jalinan tubuh mereka. Usai satu kecupan di leher Max, Charles menjauh, meluruskan punggung—melengkungkan punggung yang membuatnya semakin indah dan seksi, dan telapak tangan menempel di dada Max.

“Aku gerak sekarang, ya.”


Max terbangun entah berapa lama kemudian dengan Charles di dekapannya, punggung sang kekasih menempel di dadanya yang masih berdenyut-denyut oleh debar jantung di dalamnya. Jantung yang kembali tersimpan dengan aman setelah Charles genggam dengan penuh sayang, letakkan hati-hati, dan jahit lukanya dengan penuh cinta.

Menghirup napas dalam-dalam, aroma shampo Charles dan seks yang memenuhi indra penciumannya. Hal itu mengundang senyum di wajah Max dan ia memeluk Charles lebih erat dan menyembunyikan wajah di antara leher dan bahu cowok itu, menghirup lebih banyak aroma sang kekasih. Senyumnya semakin lebar kala memori percintaan mereka kembali memenuhi kepalanya.Kendati … ia menggunakan porsi besar dari momen itu untuk menangis.

Max tidak ingat kapan terakhir kali dirinya benar-benar mengenyahkan kendali dirinya, meletakkannya di tangan orang lain, dan membuat mereka ambil kendali. Jelas di ingatannya bagaimana Charles membuat tempat untuknya, Charles yang menampung dirinya, mengizinkan dirinya untuk mengukir tempatnya sendiri di celah terdalam tubuhnya. Perasaan itu lebur menjadi satu dengan kenikmatan tiada tara yang meleburkan otaknya.

Mereka terus bergerak bersama, mengambil dan menerima. Tubuh mereka sangat cocok bagai kepingan puzzle yang saling melengkapi.

“Kenapa nangis?” Ia ingat saat Charles menyeka sudut luar matanya.

Balasan Max keluar dari mulutnya dengan terbata. “Because I think that you are so beautiful and you are mine.

Charles tersenyum dan pandangan Max beralih pada bengkak di perut bagian bawah Charles yang hilang dan timbul seiring dengan gerakan pinggulnya. “Yes, Max, I am yours and you are mine—

Charles juga menangis, seingatnya, sewaktu Max menekannya ke kasur setelah mengubah posisi mereka, kedua pergelangan tangannya di genggaman Max, isakan rintihnya saat Max tidak bisa berhenti mengecup dan menggigit telinga dan lehernya. Max yang tidak henti-hentinya mengucapkan aku sayang kamu berulang kali.

Hingga mereka selesai, Max masih terisak di bahu Charles dan mendekap tubuhnya erat-erat seolah takut sang kekasih akan pergi dari rengkuhannya.

Entah berapa lama mereka terlelap, kemungkinan tidak lama karena hari masih terang jika menilai dari kondisi di luar jendela. Setelah mengecek ponsel selama beberapa saat, Max memutuskan untuk mandi.

Charles terbangun sewaktu Max selesai, kedua mata lebar mengerjap berkali-kali dengan lucu.

“Halo.”

“Hai ….”

“Mau sesuatu? Makan? Minum? Aku mau ke bawah, sekalian aku ambilin,” tawar Max lembut, perlahan mendekat ke kasur. Charles bangkit untuk duduk dan mengecup bibirnya dengan malu-malu.

Non, aku ikut.”

Max mengangguk dan membantu Charles mengenakan sandal kelincinya, kemudian menemani cowok itu untuk bebersih di kamar mandi.

Tak lama, mereka turun dengan bergandengan tangan seraya berbincang pelan tentang berbagai hal. Mengira ruang makan dan dapur kosong, mereka terlambat menyadari bahwa seluruh penghuni villa ini tengah berkumpul di sana.

Iya, mampus.

Tentu saja Max dan Charles menjadi bulan-bulanan enam belas cowok laknat itu.

Koreksi, lima belas orang karena ada seseorang yang murung di pojok ruangan dengan setumpuk buku di depannya. Hanya sibuk membaca dan membaca, tidak terlibat dalam aksi perundungan pasangan baru ini.

Tubuh Oscar tampak kaku, sepasang netra cokelat itu menatap lurus pada komik lesbian milik Isack di tangannya, raut wajahnya datar—namun Max bukan temannya jika tidak tahu bahwa cowok itu sedang marah. Yep, Oscar memang menyukai Charles.

Max akan berbicara dengannya nanti.


Malam itu, mereka menyewa sebuah bar kecil untuk beberapa jam, menikmati malam terakhir liburan singkat ini. Yah, entah bagaimana teman-temannya bisa menyewa sebuah bar namun Max tidak ambil pusing. Ia menarik pinggang Charles hingga cowok itu terkesiap dan jatuh di pelukannya dan menciumnya di bawah lampu-lampu natal.

Dirinya telah melakukan percakapan perdamaian dengan Oscar. Awalnya cowok itu hanya menghela napas saat Max mencoba membangun percakapan dengannya hingga akhirnya satu embusan napas panjang terakhir menjadi kepingan jembatan terakhir bagi percakapan di antara mereka. Well, berjalan dengan lancar. Beberapa saat kemudian, dari kejauhan, Charles memanggil-manggil namanya dari depan papan dart dan itu menjadi sinyal bagi mereka untuk menyelesaikan obrolan. Oscar berdiri bersamanya, menepuk pundaknya satu kali, berbisik di telinga Max, menepuk pundaknya lagi dua kali, dan melangkah pergi.

Pacaran yang bener, ya, Max, soalnya kalo ada celah sekecil apa pun bakal gue terobos.

Max agak merinding mendengarnya. Ia cepat-cepat menghampiri Charles, rasanya ingin memeluk cowok itu erat-erat.

Menjelang larut malam, terdengar keributan dari arah bar. Max dan Charles mengamati dari kejauhan beberapa dari mereka tengah berbincang-bincang dengan serius dengan bertender dan petugas bar lain di sana. Yang Max ketahui dari Esteban; Bartender terkejut bahwa mereka menginap di villa itu. Konon katanya di sana berhantu. George dan Alex serta beberapa yang lain berteriak-teriak tuh, kan, beneran! dengan heboh.

Charles tertawa kecil di bahunya, Max mau tak mau ikut terkikik geli. Lalu mereka berciuman di bawah mistletoe dan menari lagi.


Mereka sampai di villa dini hari untuk tidur selama beberapa jam sebelum bersiap-siap untuk pulang. Sepertinya mereka semua lupa kalau villa ini berhantu. Atau memang tidak peduli, seperti Max dan Charles yang mengalami momen horor di loteng, langsung jatuh tertidur di kasur kamar Charles tanpa babibu.

Max bangun dengan Charles di pelukannya. Ia tersenyum. Siapa yang peduli dengan hantu kalau dirinya memiliki dan dimiliki oleh Charles Leclerc?

 

Notes:

that's it, teruntuk yang baca sampai akhir makasih banyak udah kuat baca! T__T kudos & comments would be appreciated <3 happy race week, china you better be nice to our boys maxie and charlie!