Work Text:
.
.
Kabut keemasan menggantung di atas Lembah Arken,
tempat reruntuhan kuno berdiri seperti tulang-belulang raksasa yang terkubur waktu.
Di antara tiang-tiang batu yang retak,
sekelompok petualang berkemah.
Mereka dikenal sebagai Party Kuning—kelompok penjelajah yang namanya dielu-elukan sekaligus ditakuti.
Di tengah api unggun,
duduk seorang pria berambut hitam pekat,
bermata tajam seperti bilah pedang terhunus.
Otot-ototnya terlukis jelas di balik pakaian tempur yang sederhana namun kokoh.
Dialah Yoo Joonghyuk, ketua Party Kuning.
Di sampingnya,
seorang healer berjubah putih duduk dengan tenang.
Tudungnya menutupi hampir seluruh wajahnya.
Suaranya lembut, geraknya tenang,
dan tatapannya selalu tertunduk.
Ia dipanggil Dokja.
Tak seorang pun tau bahwa healer sederhana itu adalah Kim Dokja—salah satu dari lima penyihir terkuat di dunia.
.
.
.
.
Api Unggun dan Rahasia
“Apa kau yakin reruntuhan itu aman?”
Tanya Yoo Sangah sambil merapikan rambutnya yang panjang.
“Energinya terasa… aneh.”
Han Sooyoung menyeringai.
“Energi aneh adalah makanan kita, Sangah.
Kalau tidak berbahaya,
kita tidak akan dibayar mahal.”
Lee Hyunsung mengangguk serius.
“Tetap saja, kita harus berhati-hati.
Aku merasakan aura yang berat.”
Kim Namwoon tertawa kecil.
“Ah, kalian terlalu tegang.
Selama Ketua ada,
tak ada yang perlu ditakuti.”
Yoo Joonghyuk hanya terdiam,
menatap api.
Lalu ia melirik Dokja.
“Bagaimana menurutmu?”
Suara itu dalam dan berat,
namun ada kelembutan samar di dalamnya.
Dokja mengangkat wajahnya sedikit.
“Energinya bukan sekadar sihir biasa.
Ada segel kuno. Jika dipaksa terbuka,
kemungkinan besar akan membangunkan sesuatu.”
“‘Sesuatu’ seperti apa?”
Tanya Sooyoung.
“Makhluk penjaga.”
Jawab Dokja pelan.
“Dan mungkin lebih dari satu.”
Joonghyuk berdiri.
“Baik. Kita masuk besok pagi.
Hyunsung di depan bersamaku.
Namwoon di sisi kanan.
Sangah dan Sooyoung di tengah. Dokja—”
Ia berhenti sejenak.
“Kau di belakangku. Jangan jauh.”
Jantung Dokja bergetar samar.
“Baik, Ketua.”
.
.
.
.
Reruntuhan yang Terbangun
Pagi berikutnya,
mereka memasuki reruntuhan.
Udara terasa berat,
seakan setiap napas mengandung serpihan sihir purba.
Begitu mereka melewati gerbang batu,
tanah bergetar.
Dari dinding-dinding retak,
makhluk berlapis batu bangkit,
mata mereka menyala merah.
“Formasi bertahan!”
Teriak Joonghyuk.
Pedangnya berkilat, membelah udara.
Satu golem runtuh dalam satu tebasan.
Namwoon tertawa liar.
“Akhirnya sedikit hiburan!”
Tapi jumlah makhluk itu terus bertambah.
Dokja mengangkat tangannya di balik jubahnya.
Cahaya biru samar memancar dari telapak tangannya—tersembunyi dari pandangan anggota lain.
“Perisai Aether.”
Seketika,
lapisan energi tak terlihat melindungi Sangah yang hampir tertimpa reruntuhan.
Sangah terkejut.
“Dokja-ssi, terima kasih!”
Dokja tersenyum tipis di balik tudungnya.
“Tugasku menjaga kalian.”
Joonghyuk melirik sekilas.
Ia tau perisai itu bukan sihir penyembuhan biasa.
Terlalu kuat. Terlalu halus.
Namun ia tak berkata apa-apa.
.
.
.
.
Hati yang Tak Diingat
Di ruang terdalam reruntuhan,
mereka menemukan altar kristal.
Di atasnya, simbol kuno berdenyut.
Joonghyuk menyentuhnya—dan dunia seolah retak.
Kilasan memori menyerbu benaknya.
Seorang anak kecil berdiri sendirian di padang salju.
Suara seseorang memanggilnya.
“Joonghyuk.”
Ia terhuyung.
“Ketua!”
Teriak Hyunsung.
Dokja bergerak lebih cepat dari siapapun.
Ia menopang tubuh Joonghyuk sebelum jatuh.
“Jangan sentuh altar itu lagi.”
Bisiknya.
Mata Joonghyuk terbuka perlahan.
Untuk sesaat,
tatapannya tidak tajam seperti biasa—melainkan kosong dan rapuh.
“Aku… melihat sesuatu.”
Gumamnya.
“Seorang anak. Itu aku.”
Dokja menahan napas.
“Kenangan masa kecilmu?”
Joonghyuk mengangguk lemah.
“Mengapa aku tidak mengingatnya sebelumnya?”
Karena ada segel yang menahannya.
Pikir Dokja.
Segel yang… mungkin berkaitan denganku.
.
.
.
.
Topeng yang Retak
Malam itu, setelah anggota lain tertidur,
Joonghyuk duduk sendirian di luar kemah.
Dokja mendekat.
“Kau tidak beristirahat?”
Tanya Dokja.
“Aku tidak bisa tidur.”
Jawab Joonghyuk.
“Dokja.”
Ia jarang menyebut nama itu tanpa embel-embel formal.
“Ada yang ingin kutanyakan.”
Dokja terdiam.
“Sihirmu… bukan sihir biasa, bukan?”
Keheningan merentang.
“Apa maksudmu, Ketua?”
Joonghyuk berdiri,
mendekat hingga jarak mereka hanya sejengkal.
Cahaya bulan menyinari wajah tampannya.
“Perisai tadi.
Itu bukan kemampuan healer biasa.”
Dokja bisa saja berbohong.
Ia sudah melakukannya berkali-kali.
Namun tatapan Joonghyuk malam itu…
berbeda. Hangat. Percaya.
“Aku bukan hanya healer.”
Ucapnya pelan.
Joonghyuk tidak terkejut.
“Siapa kau sebenarnya?”
Dokja mengangkat tangan,
menarik tudungnya perlahan.
Cahaya sihir berputar lembut,
menghapus ilusi yang selama ini menutupi wajahnya.
Wajah aslinya terungkap—lebih tegas,
lebih bercahaya,
mata yang dalam dan penuh rahasia.
“Aku Kim Dokja.
Penyihir peringkat lima dunia.”
Angin malam berdesir.
Joonghyuk menatapnya lama.
“Kau menyamar… untuk apa?”
“Untuk melindungimu.”
Jawaban itu keluar tanpa ragu.
Joonghyuk terdiam.
“Melindungiku?”
Suaranya lebih pelan.
“Segel pada memorimu… berkaitan dengan ramalan lama.
Kau akan menjadi kunci kehancuran atau keselamatan dunia.
Banyak pihak mengincarmu.”
“Dan kau memilih menjadi healer… hanya untuk mengawasiku?”
“Bukan mengawasi.”
Bisik Dokja.
“Menjaga.”
Sunyi kembali menyelimuti mereka.
Lalu Joonghyuk tertawa kecil—jarang dan hangat.
“Kau sangat aneh.”
Dokja tersenyum samar.
“Mungkin.”
“Tetapi… aku senang.”
Jantung Dokja berdegup cepat.
“Karena kau di sisiku.”
Lanjut Joonghyuk.
“Bukan di belakang.”
Ia mengulurkan tangan.
“Mulai sekarang, berdirilah di sampingku.
Bukan sebagai healer.
Bukan sebagai bayangan.
Tapi sebagai Kim Dokja.”
Dokja menatap tangan itu.
“Jika aku berdiri di sampingmu,
dunia mungkin akan lebih berbahaya.”
Joonghyuk menyeringai tipis.
“Dunia selalu berbahaya.
Aku hanya ingin kau ada di sana.”
Perlahan, Dokja menggenggam tangan itu.
Hangat. Kuat.
“Baiklah.”
Katanya pelan.
“Aku akan berdiri di sampingmu.”
.
.
.
.
Janji di Bawah Bulan
Keesokan paginya,
Sangah dan Sooyoung terkejut melihat perubahan aura Dokja.
“Kau terlihat… berbeda.”
Kata Sangah.
Sooyoung menyipitkan mata.
“Oh, jadi ini wajah aslimu?
Lumayan juga.”
Namwoon bersiul.
“Ketua punya selera yang menarik.”
Hyunsung tersenyum tulus.
“Selamat datang yang sesungguhnya.”
Joonghyuk berdeham.
“Dia tetap bagian dari Party Kuning.”
Dokja menoleh padanya.
“Dan kau tetap ketuanya.”
Ucap Dokja lembut.
Joonghyuk mendekat,
suaranya cukup pelan hanya untuk mereka berdua.
“Aku mungkin tidak mengingat masa kecilku…”
Katanya.
“Tetapi aku ingin mengingat setiap hari bersamamu mulai sekarang.”
Pipi Dokja menghangat.
“Kalau begitu,
jangan mati sebelum aku bosan denganmu.”
Joonghyuk tertawa—tawa penuh kehidupan.
“Mustahil.
Kau yang harus berusaha mengimbangiku.”
Mereka berjalan berdampingan meninggalkan reruntuhan,
sinar matahari pagi menyinari langkah mereka.
Di dunia yang penuh sihir dan bahaya,
seorang penyihir yang menyembunyikan wajahnya akhirnya menemukan alasan untuk membuka topengnya.
Dan seorang pendekar tanpa masa lalu akhirnya menemukan masa depan—di sisi pria yang memilih menjaganya,
bukan karena takdir,
melainkan karena cinta yang tumbuh perlahan,
manis, dan tak tergoyahkan.
.
.
.
.
.
.
Chapter Bonus: Malam Tanpa Topeng
Langit di atas Kota Asteria berkilau oleh cahaya lentera sihir yang menggantung di setiap sudut jalan.
Party Kuning baru saja menyelesaikan misi panjang dan untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan,
mereka mendapatkan waktu istirahat tanpa ancaman mendesak.
Han Sooyoung meregangkan tubuhnya.
“Ini pertama kalinya kita tidak dikejar makhluk purba atau organisasi gelap.
Rasanya aneh.”
Yoo Sangah tersenyum lembut.
“Bukankah ini kesempatan yang baik untuk menikmati kota?
Festival Cahaya sedang berlangsung.”
Kim Namwoon langsung berseru,
“Festival? Ada kompetisi?
Atau pertarungan?”
Lee Hyunsung tertawa pelan.
“Tidak semua hal harus berakhir dengan pertarungan, Namwoon.”
Di tengah percakapan itu,
Yoo Joonghyuk berdiri dengan tangan terlipat.
Kim Dokja berdiri di sampingnya—tanpa tudung, tanpa ilusi.
Wajah aslinya kini menjadi pemandangan yang biasa bagi mereka,
meski tetap memancarkan aura misterius.
“Apa rencananya, Ketua?”
Tanya Sangah.
Joonghyuk melirik Dokja sekilas sebelum menjawab,
“Kita berpisah sementara.
Kembali sebelum tengah malam.”
Sooyoung menyipitkan mata penuh arti.
“Berpisah?
Atau memberi kesempatan pada seseorang untuk berkencan?”
Dokja berdeham ringan.
“Sooyoung-ssi, imajinasimu terlalu aktif.”
Namwoon tertawa riuh.
“Ketua, jangan pulang terlalu larut.”
Joonghyuk hanya menghela napas pendek.
“Kalian terlalu banyak bicara.”
Namun sudut bibirnya terangkat tipis.
.
.
.
.
Lentera dan Pengakuan Kecil
Keramaian festival menyelimuti mereka.
Musik lembut dari alat musik sihir mengalun di udara.
Anak-anak berlarian membawa lentera kecil berbentuk bintang.
Dokja berjalan perlahan di samping Joonghyuk.
“Sudah lama kau tidak terlihat setenang ini.”
Ujar Dokja.
Joonghyuk memandang langit yang penuh cahaya.
“Karena untuk pertama kalinya,
aku tidak merasa dikejar masa lalu.”
Dokja terdiam sejenak.
“Apakah… ingatan itu masih muncul?”
“Kadang.”
Jawab Joonghyuk jujur.
“Tapi tidak lagi menyesakkan.
Anehnya, ketika aku bersamamu,
semuanya terasa lebih jelas dan tidak menakutkan.”
Langkah Dokja melambat.
“Apakah itu karena aku penyihir?”
Tanyanya ringan.
“Tidak.”
Joonghyuk menoleh.
“Karena kau Kim Dokja.”
Jawaban itu sederhana,
tapi membuat udara di sekitar mereka terasa hangat.
Di sebuah jembatan kecil yang melintasi sungai berkilau,
Joonghyuk berhenti.
“Dokja.”
“Ya?”
“Aku ingin tau sesuatu.”
Dokja menatapnya dengan sabar.
“Jika suatu hari aku benar-benar menjadi ancaman dunia seperti ramalan itu…
Apa yang akan kau lakukan?”
Pertanyaan itu berat,
tapi suara Joonghyuk tidak goyah.
Dokja tersenyum tipis.
“Aku akan berdiri di depanmu.”
“Untuk menghentikanku?”
“Untuk mengingatkanmu siapa dirimu sebenarnya.”
Joonghyuk terdiam.
“Aku percaya padamu.”
Lanjut Dokja.
“Lebih dari ramalan mana pun.”
Hening sejenak,
kemudian Joonghyuk tertawa pelan.
“Kau selalu mengatakan hal yang berbahaya dengan nada tenang.”
“Apakah itu membuatmu takut?”
“Tidak.”
Jawab Joonghyuk mantap.
“Itu membuatku ingin menjadi lebih kuat.”
.
.
.
.
Janji di Antara Cahaya
Di langit,
lentera-lentera sihir dilepaskan bersama-sama.
Ribuan cahaya naik perlahan,
menerangi wajah mereka.
Dokja memandang pemandangan itu dengan mata berbinar.
“Indah sekali.”
Joonghyuk tidak melihat langit.
Ia melihat Dokja.
“Ya.”
Katanya pelan.
Dokja menoleh.
“Kau tidak melihat ke atas?”
“Aku sudah melihat sesuatu yang lebih penting.”
Untuk sesaat, Dokja terdiam,
lalu tertawa lembut.
“Ketua Party Kuning ternyata pandai berkata manis.”
“Hanya jika diperlukan.”
“Dan ini diperlukan?”
Joonghyuk mendekat setapak.
“Ya.”
Tangannya terangkat,
menyentuh ujung jari Dokja dengan hati-hati—seakan meminta izin tanpa kata.
Dokja tidak menarik tangannya.
“Apakah ini juga bagian dari strategi?”
Tanya Dokja pelan.
“Tidak.”
Jawab Joonghyuk.
“Ini keinginanku sendiri.”
Sungai memantulkan cahaya lentera,
menciptakan bayangan emas di wajah mereka.
“Aku tidak ingat masa kecilku.”
Ujar Joonghyuk lirih.
“Tetapi aku ingin memiliki masa depan.
Dan aku ingin kau ada di dalamnya.”
Jantung Dokja berdetak cepat,
namun suaranya tetap tenang.
“Kalau begitu,
pastikan kau tetap hidup cukup lama untuk mewujudkannya.”
Joonghyuk tersenyum—senyum yang hanya muncul ketika ia benar-benar nyaman.
“Aku akan melakukannya. Bersamamu.”
Mereka berdiri berdampingan di jembatan itu,
tangan saling bertaut, bukan karena takdir,
bukan karena ramalan,
melainkan karena pilihan yang mereka ambil sendiri.
Di tengah dunia yang penuh sihir, bahaya,
dan misteri, malam itu terasa sederhana.
Hanya dua orang pria yang memilih untuk saling percaya.
Dan untuk pertama kalinya,
Kim Dokja tidak membutuhkan topeng apapun.
Karena di sisi Yoo Joonghyuk,
ia tidak perlu bersembunyi lagi.
.
.
SELESAI
