Actions

Work Header

Why, Brother?

Summary:

Berapa kalipun Louis mencari alasan logis atas perlakuan kakaknya terhadapnya, rasa sesak tak dapat hilang.

Notes:

Temen saya ada bikin headcanon versi William jadi setelah baca yang ini kalian harus mampir ke sana.
Judulnya "Segregasi"

Cek di collection!


Ini angst, tapi saya bakal tetap bilang :

Happy reading!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Setelah Sherlock Holmes selesai bercerita tentang kondisi William, Fred tak dapat menahan keterkejutannya, Herder berteriak bahagia, Bond tersenyum riang, Moneypenny menangis haru. Semuanya gembira, bereuforia, tapi, sungguh, Louis tak paham, di tengah sukacita itu, kenapa dadanya justru terasa sesak?

Mengapa dia tak bereaksi sebagaimana mestinya mendengar kabar bahagia ini? Bukankah dia memang ingin sang kakak selamat? Dan detektif ini mengabulkan permintaannya. Kakaknya, sosok yang paling dia puja, yang disayanginya, dicintainya, sosok paling berharga di hidupnya masih hidup. Harusnya dia ikut bersuka cita! Tapi kenapa Louis merasakan sesak yang teramat?

Kenapa dia justru kecewa?

Kenapa benaknya justru mengumbar tanya?

Kenapa, kabar sepenting itu, justru harus dia dapat dari sosok asing? Yang, walaupun telah menyelamatkan kakak tercintanya, masihlah orang lain. Kenapa?

Kenapa kenapa kenapa--kenapa Kakaknya tak memberitahukannya sendiri?

Apa mengirim sepucuk surat untuknya saja terlalu berat?

Apa William tak ada minat memberi tahu kondisinya sendiri?

Ah, benar juga. Memang tidak. Dia paham maksud kedatangan Sherlock.

Dia paham keinginan sang kakak. 

Bersama MI6, selamatkan Sebastian Moran, Louis. Sherlock akan membantumu.

Maka, saat Jack bersuka cita untuknya, hanya satu respon yang dia keluarkan.

"I see...."

Dia paham, kedatangan Sherlock Holmes di sini untuk menyampaikan permintaan kakaknya. Bukan ingin mengatakan Louis, aku masih hidup, jangan bersedih lagi. Bukan. Keinginan sang kakak mengirim Sherlock Holmes adalah menyelamatkan Sebastian Moran, dan Louis akan melaksanakannya.

Hanya saja, rasanya sesak.

Apa jika kasus Balmoral ini tidak ada, sang kakak masih bungkam akan keadaannya? Membiarkannya menelan pahit kesedihan karena ditinggalkan, dan terus menerka tentang kebenaran nasib kakaknya?

"Karena ceritanya sudah berakhir, mari kita fokus pada misi."

Louis sadar bahwa satu ruangan tertegun, tapi dia mengabaikannya. Benar, kakaknya masih hidup, dia tahu ini kabar gembira, tapi, sejak awal niat kakaknya mengirim Sherlock ke sini untuk membantu mereka menyelamatkan sang kolonel, kan? Bukannya untuk memberi kabar suka cita. Maka, Louis akan melaksanakannya.

Sakit.

Sesak.

Kakak, sebenarnya, bagimu, aku ini apa?


Setelah berterima kasih pada penyelamat sang kakak secara tulus--walau dulu Louis sempat menganggapnya ancaman dan tidak menyukainya, Sherlock berhak mendapat terima kasih itu--Fred menghampirinya. "Louis-san...."

Louis meliriknya.

"Kuharap kita bisa segera bertemu dengannya. Dengan Tuan William." Ucapnya. Fred, yang biasanya selalu datar, tampak begitu bahagia menghampiri. Senyuman di wajah terpatri tulus. 

Hanya saja, rasa sesak dan kekecewaan di dadanya masih begitu mengganggu. Otaknya mempat, bingung ingin menjawab apa, bagaimanapun Fred lah yang terus mendukungnya untuk menyelamatkan William, dia tidak bisa begitu dingin, kan? 

Dia benar-benar masih tak dapat merangkai kata, dia lega sang kakak selamat, tapi dia tak bisa bersuka cita, dadanya sesak, kecewa. Perasaan berkecamuk itu membuatnya hanya bisa merespon seadanya, hanya satu kata;

"Ya...." 

Beruntung senyum manis Fred menular pada Louis. Jadi wajahnya tak sedingin saat ingin membahas misi. Setelah itu dia pamit undur diri, karena jujur, dia masih tak tahu harus bereaksi bagaimana saat tahu sang kakak tak mati. 

Dia ingin menyendiri. 


Louis tahu, menyelamatkan Moran merupakan hal yang penting. Louis tahu, mereka berpotensi gagal jika Sherlock tak hadir karena bagaimanapun sang kolonel masihlah sangat hebat. Louis tahu duka Moran begitu dalam, dan pria itu begitu keras kepala. Akan sangat sulit menyadarkan pria itu jika William tak membantunya mengirimkan benda titipannya.

Tanpa benda itu peluang Moran untuk diselamatkan begitu minim. Mereka mungkin harus melukai rekannya yang jatuh ke kegelapan itu.

Louis tahu.

Ini begitu logis. Moran rekan mereka, dan dia perlu diselamatkan. Sungguh, Louis tahu. Kakaknya, seperti biasa, selalu mempertimbangkan langkah terbaik yang harus ditempuh. 

Tapi kenapa dia justru iri? Kenapa dadanya sesak? Kenapa rasanya justru begitu menyakitkan?

Dia tidak tahu, apa dia lebih sakit melihat hilangnya sang kakak, atau justru lebih sakit saat mendengar kabar hidupnya dari orang lain.

Dan oh, kenapa hanya Moran yang dititipkan pesan?

Ah ya, benar, Moran di jalan kegelapan. Dia butuh sesuatu. Moran kesakitan.

Tapi Louis juga sakit.

Apa--apa Louis harus ikut jatuh ke kegelapan dulu agar kakaknya memperhatikannya?

Kenapa pemikirannya begitu kekanakan? 

Kakakmu hidup, Louis! Dan seperti biasa, ini langkah terbaik! Ini logis!  Ini logis! Ini benar! Ini masuk akal!

Dia tahu

Sungguh Louis tahu!

Tapi, tapi---kenapa dia justru berpikir William begitu egois?

Sangat ingin dia bertanya, "Kak, kenapa kau tak memberitahuku bahwa kau masih hidup tiga tahun ini? Bahkan sepucuk surat pun tak sampai."

Louis menerka jawabannya, mungkin dia tidak ingin kabar Lord of Crime tersebar, dan itu bisa menggemparkan warga.

Mungkin, kakaknya ingin Louis berkembang tanpa dirinya. Dia ingin Louis dewasa. 

Tapi apa kakaknya tahu bahwa proses pendewasaannya begitu menyakitkan? Tanpa kakaknya, tanpa kak Albert. Dia harus memimpin kelompoknya, menjaga dunia ini demi kakaknya. 

Kak, kenapa hanya Moran yang kau titipkan sesuatu? Tak bisakah kau memberiku sesuatu juga? Aku iri. Astaga, apa aku bahkan berhak untuk iri?

Dia tahu Moran jatuh ke kegelapan! Sungguh dia tahu! Moran memang membutuhkan benda itu. Lagi, ini begitu masuk akal!

Kakaknya selalu logis seperti biasa. Selalu bertindak sebaik mungkin. Dia tahu. Dia tahu....

Tapi aku adikmu! 

Lalu kenapa jika Louis adiknya? Apa dia berhak diistimewakan? Dia bertanya lagi. Bukankah selama ini, hanya Louis yang beranggapan kakaknya saja cukup untuk membuatnya hidup? Tapi, kakaknya berbeda, dia perlu orang lain, bukan dirinya.

Louis sangat tahu, kakaknya menyayanginya, menghargainya, menjaganya. Dia harusnya tak marah, tak kecewa, tak bersikap kekanakan seperti ini. Perangainya tak boleh sedingin ini menanggapi kabar itu.

Kan?

Semua tindakan sang kakak masuk akal. Semua orang bisa menerimanya, ini yang terbaik, Moran membutuhkannya, Inggris membutuhkannya, perang dunia harus dicegah, Moran perlu diselamatkan.

Benar 'kan?

Kakaknya hanya mengambil jalan terbaik. 

Dia tak seharusnya marah kan? Louis tak boleh kecewa.... Semuanya masuk akal....

Ucapan Fred mendadak terngiang.

"Kuharap kita bisa segera bertemu dengannya. Dengan Tuan William."

Bagaimana caranya harus bersikap saat bertemu sang kakak? Dia harusnya tersenyum menyambutnya, kakanya hidup! Senyum Louis, kau harus tersenyum. Jangan begitu dingin! Lihat kan tatapan Fred dan Jack padamu? Kau membuat mereka khawatir Louis. Kau harusnya ikut senang!

Tapi kenapa matanya justru basah?

Sesak. Dia marah, kecewa. Harusnya tak begini! Besok ada misi penting! Ada satu teman yang harus diselamatkan.

Berhenti Louis! Tindakannya masuk akal!

Kenapa, semakin dia mencoba mengerti, rasa sakit semakin menggerogoti? Kenapa dia dengan lancangnya berpikir sang kakak begitu egois dan tak pernah mempertimbangkan perasaannya? Seperti saat mencoba menjauhkannya dari misi, di final problem, dan kali ini.

Kakak, aku paham alasannya, tapi kenapa rasanya semakin sesak?

Berapa kalipun dia mencari alasan logis akan tindakan kakaknya, kenapa rasa sesak itu tak dapat dihilangkan?

Sebenarnya, cara sang kakak memandangnya seperti apa? 

Pada akhirnya Louis menyerah. Dia biarkan rasa sesak menerkamnya, kekecewaan membelenggunya, setidaknya dia hanya sendiri di ruangan ini. Jadi, sebelum esok fokus pada misi, biarkan dia meratap seorang diri.

 

Notes:

Jujur ini tidak saya edit. Maafkan kalau banyak kalimat berulang atau bagaimana.

Saya gak tahu ya, nulis ini sakit banget. Tapi respon Louis di manga terlalu dingin, saya sakit hati. Saya gak tahu perasaan Louis gimana? Maaf saya bikin dia kayak gini.

Saya sayang Liam, tapi jika saya berada di posisi Louis, saya bakal kecewa dan marah banget. Jujur saya mau tau reaksi kalian membaca ini gimana. Maafkan saya.

Dan saya benar2 berharap pertemuan Moriarthree ini emosional dan memuaskan. Karena, bonding mereka bertiga fav saya di manga.

Thanks for reading!

Series this work belongs to: