Work Text:
Siapa bilang bahwa Albert dan Louis tidaklah dekat? Atau, rasa kasih Albert pada si bungsu itu tidak sama besarnya dengan si anak tengah? Sama halnya dengan William, tingkat keprotektifan dan kasih sayang sosok yang memposisikan dirinya sebagai kakak sulung itu sangatlah besar untuk adiknya. Apalagi rasa cintanya, Albert, begitu mencintai adik bungsunya.
Mendapatkan kepercayaan dan rasa sayang dari Louis cukup sulit, sekalipun Louis menghargainya sebagai seorang kakak--karena William menganggapnya demikian--sesungguhnya Louis di masa kecil begitu berjarak. Dia begitu sayang dengan kakak kandungnya, tapi masih segan terhadap Albert yang mengangkat mereka sebagai saudara. Maka Albert mencoba berbagai pendekatan, salah satunya adalah dengan merajut. Dia ingat saat mendapat buku tentang merajut, dan di sana tertulis 'Rajutan yang diberikan pada sosok yang spesial akan menumbuhkan rasa cinta dan meningkatkan ikatan.'
Tertarik, dia pun merajut di waktu luangnya yang begitu sedikit karena kesibukannya sendiri cukup padat demi mencapai ambisi. Jarum rajutan memang tak tajam, tapi rasa pegal yang dihasilkan cukup mengganggu karena, astaga, terkadang Albert sendiri sulit bahkan untuk menulis di awal-awal dia belajar merajut. Hanya saja, saat Albert menunjukkan rajutan pertamanya untuk kedua adiknya, untuk pertama kalinya Louis tersenyum begitu manis padanya. Syal yang dia buat dihargai, William tentu saja memberi reaksi yang diharapkan, tapi senyum manis Louis ... itu tak pernah dia kira!
"Kak Albert, terima kasih! Aku akan menjaganya." Ucap Louis dengan senyum lebar, wajahnya sedikit merona menunjukkan rasa senang. Senyumnya begitu tulus, begitu manis, dan detik itu Albert sadar alasan William begitu protektif dan mencintai adiknya. Louis, begitu mempesona, membuat Albert untuk pertama kalinya ingin melindungi seseorang dan tidak ingin siapapun mengganggunya.
Bersama William, Albert berjanji akan melindungi adik kecil mereka yang berharga.
Jika William adalah sosok kakak yang keprotektifannya tak terkira--percayalah, Louis begitu dikekang agar tidak melakukan hal yang berdampak buruk untuk dirinya sendiri, misalnya, tidak boleh merokok, tidak boleh melakukan hal yang begitu berbahaya, dan lain-lain. Maka, Albert sedikit memanfaatkan sifat William yang itu agar bisa lebih dekat dengan si bungsu.
Mengajarkan Louis tentang anggur dan mengajaknya minum bersama merupakan saat-saat yang cukup Albert nikmati. Selama masih batas wajar, William--walau awalnya enggan--pada akhirnya membiarkan Louis mencoba meminum cairan berkadar alkohol itu karena persetujuan Albert. Percayalah, adik kecilnya itu punya rasa ingin tahu yang besar--tapi tidak pernah berani meminta terlalu banyak jika sang kakak melarangnya. Menjadi kakak yang agak longgar selama masih dalam batas wajar merupakan cara Albert memperkuat ikatannya pada Louis.
William tidak minum, walau terkadang menemaninya, tapi lebih menyenangkan membahas jenis anggur bersama orang yang ikut minum bersama. Maka waktu-waktu yang dia lewati bersama Louis sambil meminum anggur dan membahas rasanya seringkali membuat Albert tidak dapat menahan senyum. Lagi, adiknya itu begitu cerdas, pengetahuannya terkait anggur luas sekali, dia bisa menyerap segala hal yang Albert utarakan, dan berbekal itu, seringkali sang adik membuatkan kudapan yang cocok untuk menemani waktu-waktu mereka minum bersama. Walau tentu saja, Albert masih memberi batasan terhadap jumlah anggur yang dapat diteguk sang adik.
"Kemampuanmu terhadap alkohol sudah semakin bagus, Louis. Tapi sudah cukup, aku tidak ingin kau jadi pencandu sepertiku."
"Tapi aku masih kuat, Kak."
Albert tersenyum, "Aku tau. Tapi aku tidak ingin kau menenggak cairan ini secara berlebihan." Albert selalu menghentikannya kala dirasa cukup, kecuali di saat tertentu, contohnya di masa depan nanti saat dia bertanding dengan Moran, itu kasus khusus. Walau ujung-ujungnya dia khawatir karena Louis tumbang--tapi, sesekali tak masalah, kan? Louis berhak diberi sedikit kebebasan.
"Kau juga harus mengurangi kebiasaan minummu. Aku khawatir tentang kebiasaan burukmu itu!" Louis sedikit cemberut, wajahnya memang lebih ekspresif saat di bawah pengaruh alkohol. Dan jujur, mendengar kata 'Aku khawatir tentang kebiasaan burukmu itu!' Membuat Albert berbunga. Ini artinya Louis benar-benar telah sayang terhadapnya. Senyum Albert terus terulas karena perkataan itu.
Ada cara lain bagi Albert untuk mendekatkan diri, yaitu dengan membantu Louis bersih-bersih. Dia memang perfeksionis terkait kebersihan, tapi ikut bersih-bersih bersama Louis sebenarnya adalah caranya menjalin ikatan dengan si bungsu. Jujur saja, dia terkadang masih iri karena bagaimanapun Albert berusaha, rasa sayang Louis terhadap William itu benar-benar tak mungkin didapatnya. Karenanya, dia akan berusaha meningkatkan kedekatannya pada si bungsu meski peningkatannya hanya sedikit dengan hal-hal kecil semacam ini. Setidaknya ada peningkatan, kan?
Jadi kala tahu Louis akan membersihkan kediaman di Durham, Albert sengaja menyelesaikan urusannya sehari sebelumnya agar bisa membantu si bungsu bersih-bersih berdua. Dia tahu William akan pulang terlambat, ini kesempatannya untuk meningkatkan ikatan pada adik kecilnya!
"Kak Albert? Kupikir kau sibuk?"
"Jadwalku hari ini kosong, Louis. Aku akan membantumu bersih-bersih." Yah, dia memang sengaja mengosongkannya.
"Kau pasti lelah, Kak. Aku sendiri sudah cukup untuk mengurusnya."
Albert tahu, tapi dia kan sengaja ingin membantu Louis sekaligus berbincang dan lebih dekat dengannya? "Ayolah, biarkan kakakmu ini membantu. Lagipula kau tahu bahwa aku cukup perfeksionis terhadap kebersihan."
Louis tersenyum kecil karenanya, "Baiklah, terima kasih. Aku aku akan memulainya dari kamar Kak William. Kak Albert mungkin bisa membersihkan tempat lain? Bebas saja."
"Aku akan ikut membantumu di sana."
"Eh?"
"Agar kau tidak bosan hanya bersih-bersih saja. Ayo."
Dan hari itu mereka habiskan dengan bersih-bersih bersama sambil berbincang banyak hal. Sungguh, itu menyenangkan. Albert senang sekali membantu Louis bersih-bersih untuk lebih dekat dengan adik kecilnya.
Tentu saja dia dan William sepakat bahwa di antara mereka, Louis lah yang harus hidup di dunia impian yang mereka ciptakan. Louis tak boleh terluka, jika sesuatu membahayakannya, maka sebisa mungkin Albert dan William menjauhkannya. Hanya saja sang adik seringkali kecewa dan begitu sedih saat ditinggal seorang diri. Kali ini pun, Louis--walau tidak menunjukkannya terang-terangan, tampak begitu kecewa.
Berarti dalam kasus yang mengharuskan William sebagai umpan yang diculik, si bungsu harus dibawa. Dia dan William sedang galau saat berdiskusi berdua.
"Bagaimana ini? Aku tidak ingin dia kenapa-kenapa...." William berucap sendu. Ekspresi tenang William itu akan begitu dramatis dan penuh kekhawatiran hanya saat menyangkut Louis.
"Tapi kalau kita tinggal lagi dia akan semakin marah...." Napas Albert terhela.
"Benar. Hhhh."
Mereka diam. Berpikir, hingga interupsi William memecah kehehingan. "Ayo kita kirimkan fotoku. Jadi penculik itu tidak akan salah orang!"
Mata Albert berbinar akan usul itu, "Aku juga akan membawa banyak pasukan agar nanti beberapa dari mereka memastikan bahwa Louis baik-baik saja saat aku menyusulmu."
"Bagus. Pastikan yang ditinggal untuk menjaganya merupakan anak buahmu yang terbaik, Kak."
"Tentu."
Mereka barangkali lupa bahwa kemampuan Louis sendiri jauh di atas pasukan Albert, tapi, yah, mau bagaimana lagi? Louis merupakan adik kesayangan keduanya.
"Louis harus tinggal di rumah. Aku tidak ingin dia kenapa-kenapa di sana." William berucap final. Bagaimanapun ini rencana besar.
"Aku setuju. Tapi dia mungkin akan kecewa...?" Albert menyesap anggur merahnya. Wajahnya kalut, adiknya pasti sedih, dia juga kecewa saat tak diajak menyelamatkan William di kasus sebelumnya, tapi--
"Aku tau. Tapi, aku tidak ingin dia kenapa-kenapa...."
Albert merenung. Dia tidak ingin adiknya sedih, tapi lebih tidak ingin si bungsu celaka. Maka, berbekal persiapan mental sifat Louis akan lebih dingin dalam kepulangan mereka, Albert berucap final. "...Oke. Dia tinggal."
Oleh karena itu Louis diminta menjaga kediaman seorang diri saat kasus Noahtic. Walau akibatnya sang adik akan kecewa, hal itu akan lebih aman bagi adik kecil mereka.
Dia sama kalutnya saat William bercerita tentang isi hati Louis, dan bahwa sang adik merasa ditinggalkan. Dia ingin bergabung dalam misi seperti yang lain. Mereka memang khawatir pada si bungsu, tapi mengetahui isi hati Louis semacam itu, sebagai seorang kakak yang begitu menyayanginya, jika adik mereka sudah mengutarakan kehendaknya mereka tak mungkin menolak, kan?
Pada akhirnya Louis tetap diikutkan dalam misi. Hanya saja, sadar atau tidak, mereka selalu memastikan bahwa keamanan Louis tetap terjaga, harus ada Moran, atau bahkan William sendiri yang bertarung bersama Louis. Adik kecilnya tak boleh pergi seorang diri. Dan jika ada sesuatu yang membuat Louis merasa diikutkan tapi tidak membahayakannya, mereka akan menyerahkannya pada Louis.
Contohnya saat Louis harus menjaga berbagai jenis ikan eksotis untuk mendapatkan kepercayaan seorang bangsawan. Pekerjaan itu penting, tapi tidak membahayakan. Saat Louis sibuk dengan ikan-ikannya, maka Albert dan William lebih leluasa dan merasa lebih aman karena itu artinya mereka tidak perlu mengikutkan Louis dalam hal yang lebih berbahaya.
Walau jujur, Albert cukup terpana pada kesungguhan Louis menjaga ikan-ikan itu, dia sampai membuat keadaan ruangan seperti hutan! Bayangkan! Bahkan kesehatannya ikut memburuk hanya karena satu ikan kecil sakit. Adiknya benar-benar menakjubkan kalau sudah bersungguh-sungguh. Begitu totalitas! Albert dan William hanya bisa gemas sendiri dengan hal itu.
Bagaimana ya jika Louis mencintai seseorang? Pasti ... orang itu akan beruntung. Albert jadi terbayang dan takut sendiri ditinggalkan oleh Louis yang jatuh cinta....
Pesta teh. Artinya akan banyak wanita bangsawan yang hadir ke kediaman mereka. Dia teringat akan ketakutannya tentang Louis yang jatuh cinta, pasti kesungguhannya tak main-main. Tapi bagaimana jika Louis justru menemukan wanita yang salah? Bagaimana jika orang yang dicintai Louis itu memiliki sifat yang buruk? Senyum manis adiknya pasti akan luntur.... Senyum yang begitu disukainya--dan William.
Ah, senyum Louis ya? Bagaimana jika ada wanita yang terpana dengan senyuman adik kecilnya? Dan wanita itu terobsesi? Lalu, lalu, dia justru meneror Louis? Bagaimana jika bangsawan yang jatuh cinta pada pesona adik kecilnya yang begitu berharga justru orang yang jahat? Kekhawatiran Albert meningkat.
Kemudian, dia semakin takut jika perasaan wanita bangsawan itu berbalas. Albert tidak siap jika Louis harus membagi kasih sayangnya pada orang lain lagi.... Dengan William saja dia sadar porsi kasih sayangnya tak adil! Albert lebih dari tahu bahwa Louis jauh lebih menyayangi William, padahal dia menyayangi keduanya sama rata--walau Albert tidak bisa protes juga, sih, dia paham. Tapi, masa dia harus ... berbagi lagi?
"Louis, kau akan menjaga mansion ya?"
"Eh? Aku tidak menemani para tamu bersama Kak William?" Louis terkejut.
"Hal itu akan kuserahkan pada Moran. Kau lebih cocok menjaga dan memastikan rahasia kita tetap aman."
"Baiklah, Kak. Akan kulakukan." Louis tersenyum kecil--Albert menangkapnya sebagai kekecewaan, tapi peduli setan, yang penting adiknya itu tidak bertemu wanita! Apalagi kalau punya pacar, dia belum siap....
Setelah pesta teh William menemuinya, Louis tidak ada di manapun, jadi Albert bertanya.
"Louis di kamarnya. Katanya ingin membersihkan diri dulu sebelum menyiapkan makan malam."
"Ah. Begitu."
"Oh iya, Kak Albert, Louis kecewa karena Moran yang ditugasi mendampingi aku."
Albert tidak terkejut, yah, setidaknya dia tahu kekecewaan Louis yang satu ini tidak bertahan lama. Jadi dia menjawab santai, "Yah, aku gak mau dia ketemu wanita jahat."
Itu memang salah satu alasannya. Tapi sebenarnya, Albert lebih tidak ingin ada wanita yang terpikat maupun memikat adiknya sehingga kasih sayang Louis harus terbagi.
"Kenapa Fred tetap ditugaskan menemani para tamu jika itu alasanmu, oy? Fred kan lebih muda dari Louis!" Moran menginterupsi. Wajahnya mengernyit heran. Interupsi itu menghancurkan wajah tenang Albert. Badannya kaku.
Moran sialan! Dia harus merangkai alasan lagi agar tidak ketahuan, kan? Mau ditaruh di mana wajahnya kalau mereka tahu alasan sebenarnya! Lihat saja, akan Albert beri pria itu pelajaran nanti.
Begitulah, Albert sayang sekali terhadap adik bungsunya. Dia dan William sepakat bahwa apapun yang terjadi, Louis harus tetap hidup di dunia kecilnya. Akan Albert pastikan bahwa Louis akan hidup di dunia yang ingin mereka cipta. Dia akan merekomendasikannya pada Mycroft nanti, agar nasib si bungsu tetap aman saat seluruh kekayaannya diberikan pada warga kelak.
Dia sepakat, walau William mengorbankan dirinya, dan Albert akan menebus dosanya, Louis, bagaimanapun harus tetap hidup dalam kebebasan, sesuai kehendaknya. Dia sudah membicarakan nasib Louis bersama William dengan matang, Louis harus hidup dengan baik di dunia ciptaan mereka. Dia tidak boleh bernasib mengenaskan seperti kedua kakaknya. Sampai akhir si bungsu akan terus mereka jaga dan hidup di dunia impian mereka.
William dan Albert akan memastikan hal itu karena bagaimanapun, Louis adalah adik mereka yang paling berharga.
