Actions

Work Header

Simulakra

Summary:

Biarkan Sherlock untuk menikmati sedikit keajaiban dari sihir sang ibu peri.

Notes:

Happy reading!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Kala dirinya menemukan sosok James Bond yang menyamar, Sherlock tak dapat menahan keterkejutan. Rasa rindu merebak saat dirinya menemukan kembali sesosok gadis yang dalam waktu singkat begitu dia pedulikan. Janji untuk bertemu kembali telah ditepati, Sherlock tidak dapat menahan kelegaan karena sosok itu baik-baik saja, dia menemukan keluarga setelah kematian dan kebangkitan kembalinya. Dia bersyukur, Irene Adler yang saat ini sudah berubah menjadi James Bond masihlah sama. Masih seperti sosok yang seringkali Sherlock kenang di tengah keheningan malam.

Di hadapannya, berdiri Irene Adler yang dulu dia ingat, dalam balutan gaun dan riasan yang membuatnya seperti manifestasi sang Cinderella dalam buku cerita. Begitu menawan, membuat napas tertahan.

"Aku lega kau tak berubah."

"Wah. Jangan salahkan aku lho. Sihir Cinderella bekerja dalam semalam saja."

Sherlock dalam sekejap ditampar kenyataan. Benar.

Irene Adler sudah mati, di hadapannya adalah James Bond yang menyamar. Maka, menahan kekecewaan, Sherlock mengalihkan pandang. "Iya iya, memang itu maksudku, kok."

Tapi tak masalah kan walau sebentar, dia menganggap Bond adalah Irene? Kali ini saja, dia beranggapan bahwa sosok di sampingnya adalah satu-satunya gadis yang mencuri hati Sherlock dengan lancang bersamaan dengan kepergiannya. Kali ini saja, biarkan dia berangan.

Dan Sherlock diterpa kesadaran, barangkali di sini sang gadis bukanlah manifestasi Cinderella, dialah sang ibu peri yang mengabulkan permintaan. Justru Sherlock lah sosok yang harapannya dikabulkan oleh sihir sang ibu peri. Sherlock sangat ingin memeluknya--tapi ditahan. Bukan waktu yang tepat, bukan.

Lalu bagaikan seorang ibu peri yang bisa telepati, Irene Adler mengabulkan harapnya. Sang gadis memeluk tangannya.

"Sebentar saja, biarkan aku melakukan ini." Irene berbisik lemah.

Sebentar saja, biarkan dia menikmati ini. Sherlock berucap dalam benak, menahan diri mati-matian untuk tidak kehilangan kendali, dia tahan tangannya yang gemetar untuk tidak menyentuh puncak kepala sang pujaan hati di saat jantungnya sendiri berdetak cepat, karena jika dia tak berjarak, Sherlock yakin pertahanan dirinya akan lepas kendali.

Kala Irene melepas pelukan, Sherlock merasa kehilangan. "Hei, Sherly, deg-degan ya?"

"Hah?! Enggak kok!"

Bohong.

"Ah~masa?"

"FOKUS SAJA PADA STRATEGI KITA, IRENE!" Ucapnya galak mencoba menyembunyikan kenyataan.

Irene Adler memang sudah 'mati', tapi karena kali ini ada sihir sang ibu peri, biarkan Sherlock untuk menikmati sedikit keajaiban. Senyuman Irene terukir manis, membuat jantung Sherlock lagi-lagi berdetak kencang, Irene Adler, baik dulu maupun sekarang, memang begitu menawan. Dia menahan kegugupan sambil mengomel pada si bungsu Moriarty. Ini hanya sihir semalam, Sherlock tidak ingin jatuh terlalu dalam.

Hanya saja, di perjalanan, dia menghela napas. Kapan lagi sang ibu peri mengabulkan harapannya, kan? Jadi, dia rengkuh tangan kecil Irene dalam gandengan, mata sang gadis sesaat membola, sebelum tersenyum lembut dan kembali memeluk di perjalanan menuju pesta.

Nyaman.

Sihir cinderella hanya semalam, jadi biarkan Sherlock menikmati waktu singkat yang penuh keajaiban.

Notes:

Simulakra bermakna dunia yang ditandai dengan pengambilalihan kebenaran oleh kebenaran yang bersifat fiktif, retoris, dan palsu; realitas semu.

Thanks for reading!