Actions

Work Header

Precious Little Brother (Holmes Brothers Version)

Summary:

Karena sejatinya Mycroft tak pernah berhasil mengungkap rasa, maka bentuk kepedulian dan cintanya pun hanya bisa dia berikan secara tersirat saja.

Notes:

Happy reading!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Mycroft Holmes tahu, sejak kecil dia berbeda. Kecerdasan di atas rata-rata yang dimilikinya, harus dibayar setara dengan rasa bosan yang tiada henti, ditambah ketidaktahuan dalam menyalurkan emosi. Dia bukanlah sosok yang perasa, perangainya pun beda dibanding anak seusianya. 

Hanya saja, saat memperhatikan seorang bayi mungil di dalam keranjang, begitu mempesona dengan kulit kemerahan dan surai biru malam yang mirip dengannya, saat sosok yang dia sebut sebagai adik itu pada akhirnya membuka matanya, menatapnya dengan netra biru malamnya begitu polos, tertawa senang seraya menggenggam jari Mycroft dengan tangan mungilnya untuk kali pertama, Mycroft merasakan sesuatu yang tidak biasa, sebuah sensasi hangat yang menimbulkan binar di mata, terpana.

Bayi kecil itu benar-benar mempesona.

Di usianya yang ke tujuh, untuk pertama kalinya, Mycroft tahu dia jatuh cinta, pada sosok mungil yang dia tahu adalah adiknya.

Adik kecilnya.


Sekalipun Mycroft tahu dia begitu menyayangi sang adik, bukan berarti dia tahu cara menunjukkannya. Dia tidak tahu bagaimana cara menjadi kakak yang baik dan membuat nyaman, menunjukkan rasa kasih sayang terasa membingungkan, menjadi sentimental untuknya  terasa ganjil, tidak jarang membuat geli. 

Sebagai eksistensi yang sulit mengungkap emosi, kala mengetahui sang adik mewarisi kapasitas otak yang sama, Mycroft memilih mengungkap kasih dalam bentuk berbagai tantangan. Selama bertahun-tahun dia terjebak dalam kebosanan, dia tahu rasa tersiksa karena menjadi begitu cerdas seorang diri. Baginya, semua orang membosankan. Dia yang paling mengerti, terjebak sendiri tanpa teman yang mengerti, dan tidak ingin sang adik terjebak dalam siksaan yang sama seorang diri.

Maka Mycroft memilih mencurahkan kasih sayang dengan mengajak Sherlock bermain game deduksi, sesekali bertarung bela diri, atau persaingan dalam berbagai hal remeh yang selalu membuat Sherlock berbinar--dan diakhiri raut kesal karena lagi-lagi dihadiahi kekalahan.

Mycroft tahu Sherlock kesal, menganggapnya kejam karena tak pernah mengalah barang sekali, tapi dia lebih dari tahu harga diri sang adik tidak akan sudi jika dia menahan diri. Lagipula, apa serunya menerima tantangan dari orang yang tidak sepenuh hati? Bukankah sejak awal dia tidak ingin Sherlock terjebak dalam kebosanan karena dikutuk sebuah kecerdasan?

"Aku menang lagi, Sherly. Ini yang ke-95 kali."

"AARRGGHH! SIALAN KAU MYCKY!"

Mycroft memberi senyum menyebalkan, momen-momen seperti ini akan selalu dia nikmati.


Karena terus dilanda kesibukan yang mengharuskannya meninggalkan sang adik seorang diri, Mycroft terpikir, bagaimana caranya agar sang adik tidak merasa kesepian? Dia tahu, Sherlock tidak memiliki banyak teman. Mulai dari karena mereka bukanlah bangsawan, ditambah perangai Sherlock yang pada dasarnya memang menyebalkan, Mycroft ingin memberi sesuatu untuk menemani. Andai saja adiknya perempuan, Mycroft yakin dia akan menghadiahi boneka. Tapi Sherlock seorang bocah lelaki. 

Lalu saat berada di laboratorium biologi, matanya mengamati tengkorak yang entah kenapa mengingatkannya pada boneka. Bukankah boneka anak gadis biasanya menyerupai manusia? Atau hewan, tapi teman bicara itu orang, kan? Maka tengkorak buatan itu tiada bedanya. Bentuknya seperti orang, tapi bukan orang sungguhan, seperti boneka, tapi tidak memalukan jika dimiliki seorang anak lelaki. Maka di perjalanan pulang Mycroft memilih membelikan sang adik sebuah tengkorak. Sherlock menatapnya garang saat Mycroft menghadiahkannya.

"MAKSUDMU MEMBERI INI APAAN SIH, MYCKY?"

"Sebagai teman bicara. Karena kau terlihat kesepian sejak aku begitu sibuk, Sherly. Bilang saja, kau merindukanku kan?"

"APA SIH! SIAPA PULA YANG RINDU PADA KAKAK MENYEBALKAN SEPERTIMU!" 

Mycroft hanya mengulum senyum, lalu mengamati jendela. "Sherly, ayo tebak apa pekerjaan orang yang di sana itu?" Dia memilih mengganti topik pembicaraan. Sherlock, walau cemberut, toh menurut juga. Dan tengkorak itu masih tidak dia lepas dari genggaman tangan saat matanya ikut mengamati jendela. 

Syukurlah dia suka.

Setelahnya, saat pulang dari kesibukan--seringkali dia menangkap sang adik yang berbicara seorang diri pada tengkorak yang Mycroft hadiahkan. Sering dia diam-diam mendengarkan sambil menahan senyuman.

"...menurutmu bagaimana Mycky? Siapa pelaku sebenarnya dalam kasus ini?"

Yah, benar, tengkorak itu diberi nama Mycky.


Lalu, beberapa tahun kemudian, Mycroft menemukan benda menarik lagi, sebuah cincin tengkorak yang mengingatkannya pada sang adik. Segera saja dia beli dan dia beri. Sherlock, seperti biasa memberi reaksi jengkel dengan teriakan. Toh tetap dicoba.

"Kebesaran!"

"Cukup untuk dipakai di ibu jari, aku yakin." Mycroft tidak mungkin memberi sesuatu yang tidak dapat terpakai untuk sang adik.

Sherlock mengangkat alis, lalu mencobanya dan menatap cincin dalam. "Aneh." Komentarnya.

"Sama sepertimu."

"Hei!"

Walau memberi komentar demikian, cincin tengkorak yang Mycroft hadiahi tidak pernah terpisah dari jemari sang adik sejak saat itu. Cincin yang awal mulanya terpasang di ibu jari, kini telah cukup pas terpasang di telunjuk dan selalu menemani.

Lagi, saat di luar, tidak jarang dia menangkap Sherlock berbicara sendiri sambil menatap jari, menatap cincin tengkorak yang Mycroft hadiahi.

Dan, uh, lagi-lagi cincin itu diberi nama Mycky.


Setelah dirasa cukup dewasa dan mengerti, dia diberi tahu tentang rahasia keluarga, mengenai dosa leluhur Holmes yang membuat mereka harus mengabdikan diri pada kerajaan. Mengetahuinya, Mycroft langsung teringat pada sang adik yang tingkahnya begitu bebas dan membenci kekangan. Terlihat dari pakaiannya yang seenaknya, atau ruangan yang berantakan tak terkira. Sherlock, akan tersiksa jika diwajibkan mengabdi pada kerajaan.

"Apa Sherlock juga harus ikut mengabdi?" Adalah pertanyaan pertama yang terlontar setelah mendengar cerita panjang lebar sang ayah.

"Itu tergantung, dari sejauh mana kau berguna pada kerajaan. Jika dirasa tak cukup, mungkin Sherlock juga diharuskan."

"Adikku tidak perlu tahu." Mycroft berucap tegas, "Aku saja cukup. Maka, jangan biarkan Sherlock tahu. Kau tahu bagaimana tingkahnya, dia tidak akan sekompeten aku untuk menanggung kewajiban semacam ini."

Dia tahu adik kecilnya mampu, tapi alasan itu dia lontarkan karena tidak ingin Sherlock terlibat di dalamnya. Sherlock akan tersiksa. Adik kecilnya, yang diam-diam begitu dia cinta, tidak akan merasa bahagia jika terbelenggu oleh kewajiban akibat dosa keluarga. Mycroft tidak ingin hal semacam itu menimpa sosok kesayangannya, jadi, biarkan dia mengambil pilihan untuk menanggung beban keluarga dalam diam. "Jangan biarkan Sherlock tahu." Ulangnya. Penuh penekanan.

Akan dia buktikan bahwa kemampuannya saja cukup untuk memuaskan kerajaan. Adiknya, yang seringkali kesal akan kehadirannya, merasakan iritasi jika berada di dekatnya, sebagai ganti kegagalannya menjadi figur kakak yang memberi rasa nyaman, akan dia hadiahi kebebasan.

Mycroft ingin Sherlock hidup leluasa, menjalani jenis kehidupan yang dia inginkan, bebas dari kekangan. Maka, akan dia pikul dosa keluarga dalam keheningan. Bukan karena keterpaksaan, tapi pilihan.

Karena Mycroft tak pernah berhasil mengungkap cinta, biarkan dia memberikan Sherlock kebahagiaan dalam bentuk tindakan di balik kebisuan.


Bentuk kasih sayang dan kepedulian Mycroft tidak pernah berhasil secara tersurat digambarkan, karena dia tidak bisa. Tapi bentuk cinta itu tergambar dalam berbagai tindakan. Dia sadar hubungannya dengan sang adik merenggang semenjak dia memutuskan untuk fokus meningkatkan kemampuan agar dapat mengabdi kepada kerajaan, dia sadar, Sherlock lebih sering ditinggal sendirian. 

Tapi tidak pernah sekalipun Mycroft melepas pengawasan, dia selalu mengamati kondisi sang adik setiap waktu, memastikan bahwa adik kecilnya baik-baik saja. Terkadang, Mycroft mendadak datang dengan sebuah tantangan--yang membuat Sherlock kesal--atau mengirimkan hadiah diam-diam. Misalnya menyampaikan kasus yang dirasa akan memuaskan adiknya, atau sekadar tiket perjalanan kapal tanpa nama.

Dalam diam, Sherlock selalu diperhatikan.

Setelah dokumen penting dicuri oleh Irene Adler, dia memanfaatkan hal ini untuk memberikan Albert yang baru menjabat sebagai pemimpin MI6 sebuah ujian. Irene bukan sosok yang mudah dikalahkan, Albert mungkin butuh sokongan, dan otaknya secara otomatis mengingat sang adik yang akhir-akhir ini menjadi terkenal. Bukan suatu kemustahilan detektif terkenal di kota dimintainya bantuan.

Albert, bisa saja melibatkan Sherlock dalam bahaya.

Maka Mycroft memilih memberi peringatan karena dilanda kekhawatiran.

"Jones, setelah sarapan di manor, aku ingin langsung ke Baker Street." 

"Baik, Tuan." Setelah kusir kuda itu menjawab, Mycroft tenggelam memikirkan cara bertemu adiknya. Dia amati pistol yang baru saja dibuat Herder di genggaman. Senyumnya terbit, kapan terakhir kali dia memberi tantangan?


Bentuk kasih itu juga tercurah setelah kasus Irene Adler terselesaikan, tidak ingin Sherlock dilanda rasa bosan, setelah memprediksi bahwa akan ada kasus di sebuah pedesaan, ditambah ada tempat tinggal kenalannya yang dikosongkan, Mycroft tidak dapat menahan diri untuk tidak menghampiri untuk membantu sang adik yang dia prediksi, tidak akan sudi. 

Tapi toh, pada akhirnya mereka menerima tawarannya, dan kasus itu terselesaikan dengan baik. Mycroft menghampiri saat mereka bersiap pulang ke Baker Street. Kala Sherlock secara mengejutkan menerima ajakannya minum bersama, lalu pergi dengan tergesa diikuti dua temannya yang tiada henti menegur tingkah kurang ajarnya, Mycroft mengamati punggung itu dari belakang dengan tatapan lembut mengantar kepergian. 

Adiknya memiliki teman-teman yang baik, yang mengajarkannya empati yang tidak pernah berhasil Mycroft beri. Melihat Sherlock hidup sesuai keinginan dengan teman-teman yang tak pernah menginggalkan, apa lagi yang dia harapkan?

"Kau punya teman-teman yang baik, Sherly."


Lalu kabar mengejutkan datang. Sherlock membunuh seseorang. Kabar itu membuatnya secara tergesa pergi ke kepolisian untuk membaca laporan. Dia tinggalkan segala kewajiban yang menghadang, Sherlock, adik kecilnya, telah melenyapkan nyawa. 

Apa yang telah kau lakukan, Sherly?

Benaknya dilanda kekhawatiran. Dia baca seluruh laporan. Segera dia hampiri sang adik di kantor polisi. Emosinya bergejolak, marah, kesal, khawatir, karena Sherlock dan tindakan bodohnya. Dia paham Milverton orang yang seperti apa, tapi membunuhnya? Mengotori tangannya?

Apa-apaan ekspresi santai yang menyambutnya itu? Amarah Mycroft semakin tak tertahan.

"Jadi kenapa kau ke sini Aniki? Aku tidak ingat telah memintamu membantuku."

BRAK

Sherlock sialan! Tidak sadarkah tindakan bodohnya membuat Mycroft jantungan?

"Jadi inikah sikap seorang pembunuh? Ini merupakan tindakan konyol, Sherlock Holmes." Ucapnya diliputi kemarahan. Penuh penekanan. 

Gebrakan di meja yang mendadak, ditambah dengan cara Mycroft menyebut nama lengkap sang adik, sukses membuat Sherlock terdiam, Mycroft menarik napas dalam, mencoba menenangkan pikiran, sungguh, ingin rasanya Mycroft mengamuk sekarang, tapi tidak bisa, tidak, karena ada hal yang lebih penting yang harus disampaikan. Beruntung, perasaannya mudah dikendalikan sehingga obrolan itu berjalan lancar. Hingga pada akhirnya John Watson mengamuk saat masuk ke ruangan.

Meja dibalikkan. John berteriak garang, mencurahkan perasaan yang entah kapan bisa Mycroft lakukan. Jadi dia hanya mengamati dalam diam sembari berterima kasih, karena tindakan dari sahabat adiknya itu telah mewakili emosi yang bergejolak di dalam dirinya.

Karena sungguh, dia pun diliputi kemarahan dan kekhawatiran.


Ada dilema tersendiri saat Mycroft menerima perintah untuk memanggil adik kecilnya ke kerajaan, tapi di satu sisi dia pun tahu bahwa menyelesaikan misi ini adalah keinginan Sherlock sendiri. Sherlock sudah terobsesi, maka Mycroft tidak bisa berbuat apapun lagi.

Sekalipun selama ini Mycroft mencoba menjauhkan Sherlock dari kerajaan, jika itu atas kehendak sang adik sendiri, akan tetap dia lakukan--Karena toh, adalah harapnya sendiri agar Sherlock hidup dengan jalan yang dia inginkan.

Dia perhatikan sang adik kecilnya berhadapan dengan ratu, memberi penawaran, sebagai syarat sebelum Sherlock menerima tawaran. Mycroft bangga, tapi juga dilema. Dia takut, tentang bagaimana dampak ini semua mungkin saja akan merenggut nyawa sang adik darinya.

Jadi, setelah pertemuan itu selesai dia panggil sang adik, mengajaknya berbincang. Melihat tekad di matanya, di mata adik kecilnya, membuat Mycroft benar-benar tidak berdaya. Ingin rasanya dia hentikan tindakan Sherlock, tapi tertahan.

Karena dia tahu, Sherlock akan melawan karena setelah selama ini, sang adik memang dianugerahi kebebasan. Ini adalah dampaknya, dampak dari hadiah yang diam-diam Mycroft berikan.

"Kalau terus seperti ini, negara ini akan menemui kehancurannya." Ucapan Sherlock terasa final, menambah kekhawatiran di dadanya. 

Tapi melihat tekad di sana, akhirnya dia pasrah. Membiarkan adiknya menyelesaikan kehendak. Mycroft terkekeh pelan seraya menjawab, "Berarti kau sudah memahami maksud tindakannya, ya?" 

Hanya ada keheningan. Dia menangkap ekspresi ganjil Sherlock menatapnya di hadapan, kemudian berbalik. Dia tidak mengerti, tapi seakan ada raut kekecewaan. Lalu, Sherlock memberinya ucapan perpisahan.

"Sampai jumpa."

Apa mereka akan kembali berjumpa?

Sesaat setelah Sherlock membelakanginya, dan John memberi gestur sopan, dadanya terasa sesak. Ingin dia hampiri sang adik dan memberi peringatan untuk berhati-hati, jangan lupa menjaga diri. Ingin dia bilang, bahwa eksistensi sang adik begitu berharga. Ingin dia peluk Sherlock ke dalam rengkuhan, ingin dia mengungkapkan perasaan, ingin dia ungkap kebanggan, hanya saja--

Badannya kaku. 

Ketidakberdayaannya dalam mengungkap rasa begitu membelenggu, jadi dia tatap sang adik yang pergi dengan raut sendu, seraya membisik harap, "Jangan mati, Sherly." Berharap, keesokan hari, dia bisa kembali menangkap raut menyebalkan adik kecilnya.

Yang Mycroft tidak pernah tahu, itu adalah percakapan terakhirnya dengan Sherlock. Membuatnya mempertanyakan tindakan ke belakang, mempertanyakan apa sikapnya memberi kebebasan adalah tindakan benar? Karena akibat dari kebebasannya, Sherlock, Sherly, telah tiada. Kebebasan itu membuat sang adik hilang bersamaan dengan fajar. 

Mycroft tidak pernah berhenti mencari, sembari meratapi diri.


Satu minggu.

Tidak ditemukan.


Tiga bulan.

Tak ada peningkatan.


Setahun.

Mycroft rasanya mulai kehilangan harapan. 


Dua tahun.

Oh Tuhan!

Sejak awal dia memang gila kerja, tapi rasanya kegilaannya pada pekerjaan semakin meningkat semenjak sang adik tiada.


Dua setengah tahun....

Hilangnya Sherlock memberinya sesal yang tidak berkesudahan, menyesal, karena merasa salah langkah akibat terlalu membebaskan, sesal, karena tidak pernah berhasil memberitahukan fakta bahwa Sherlock merupakan sosok yang berharga. 

Menyesal,  karena bahkan sampai akhir, Mycroft tidak pernah berhasil menjadi kakak yang dapat diandalkannya. Menyesal, karena bahkan barang sekali saja, Mycroft tidak pernah berhasil memeluknya.

Sesal, karena bahkan, sampai akhir, pesan penuh harapnya, pesan, "Jangan mati, Sherly." Tidak pernah sampai pada adik kecilnya.

Sherly, adikku, kau di mana? 

Di balik ketenangannya, Mycroft diliputi keputusasaan.


Lalu, keajaiban datang.

Mycroft tak dapat menahan gemetar saat menemukan Sherlock berbentuk utuh di hadapan. Dia hidup, bernyawa, terlihat baik-baik saja dalam penampilan berbeda dan astaga! Di mana ketenangan yang selalu dia jaga? Badannya tremor karena tak percaya, setelah tiga tahun pencarian ... tenggelam dalam penyesalan ... diliputi seribu pertanyaan, mendadak dia dikejutkan pada kemunculan eksistensi yang selalu dia rindukan.

Sherlock, Sherly, adik kecilnya, yang dia kira telah tiada ada di hadapan. Mycroft masih terlalu kaget hingga membuatnya harus menyeduh teh sambil menahan gemetar, dia minum teh itu dengan mata terpejam, takut-takut sosok Sherlock hanyalah khayal yang mendadak tercipta karena Mycroft merindukannya, membuatnya gila. Mycroft takut menatap.... dia takut, jika Sherlock tidaklah nyata.

Dia takut ... adik kecilnya hanya khayal semata.

Mycroft tidak takut menjadi gila.

Tidak.

Tapi jika Sherlock di hadapan hanyalah ilusi yang tercipta--

Dia takut. Mycroft tidak sanggup.

Dan Sherlock menepuk lengannya dengan kepalan tangan.

"Maafkan aku...."

Mycroft pun sadar bahwa Sherlock bukan khayalan.

"Maafkan aku, karena terus diam selama ini."

Adiknya benar-benar ada. Bernyawa. Adik kecilnya baik-baik saja.

"Aku benar-benar minta maaf..."

Sherly di sampingnya! Mycroft diliputi bahagia.

"...Aniki."

DEG

Mycroft tersentak dari lamunanya. Kapan terakhir kali sang adik memanggilnya begitu? Dia ... merindukannya.

"Sherly...." Mycroft mencoba mengeluarkan suara seraya mensugesti diri agar kembali tenang seperti biasa. "Fakta bahwa kau selamat ... dan masih hidup..."

Dia tidak mimpi kan? Mycroft masih mencoba percaya.

"...Mengetahui fakta itu saja benar-benar membuatku senang."

Dia bersungguh-sungguh akan ucapannya. Diliriknya sang adik yang ada di samping, yang menatapnya dengan penuh penyesalan, senyum lembut Mycroft terulas, mencoba menenangkan. 

"Maafkan aku untuk segalanya, aku bersungguh-sungguh." Sherlock mengulanginya tulus.

Jangan meminta maaf, Sherly. Fakta bahwa kau hidup--fakta itu saja, sungguh membuatku bahagia.

Mycroft tidak suka melihat ekspresi penyesalan itu di pertemuan mereka setelah sekian lama. Jadi, dia mencoba bersikap seperti biasa. "Sudah cukup, aku tidak masalah." Dia mencoba tenang. Ada banyak orang di ruangan, ada banyak yang kehilangan, jadi dia biarkan Sherlock untuk melayani rasa penasaran mereka. 

Mycroft tahu rasanya kehilangan. Dia tahu dihantui ketidak pastian. Meskipun belum puas melepas kerinduan, Mycroft tahu orang lain di ruangan perlu penjelasan. Dan Sherlock ke sini pun pasti bukanlah tanpa tujuan.

Maka dia biarkan Sherlock menyelesaikan urusan.


Saat dia mencoba kembali fokus bekerja setelah selesai mendiskusikan rencana--dengan suasana hati yang masih diliputi bahagia--pintu ruangan terbuka. Sherlock, berdiri di sana dengan canggung. Ekspresi Mycroft melembut.

"Ada apa, Sherly?" 

"Aniki." Sherlock menggaruk lehernya selagi berjalan mendekat. Mycroft berdiri dari kursi, berjalan mendekat menghampiri sang adik yang masih saja memasang raut penyesalan.

Melihatnya, Mycroft tersenyum, dia tersenyum, bukan senyum meremehkan atau senyum usil seperti biasa, Mycroft tersenyum, lembut, penuh kasih tepat di hadapan sang adik, senyuman yang selama ini hanya bisa dia lontarkan dari balik punggung Sherlock dalam keheningan. Senyum yang ... tak pernah mampu dia tunjukkan saat berhadapan dan saling bertatapan, membuat manik Sherlock sesaat membola karena heran, sebelum kembali sendu. "Maafkan aku, Aniki." 

Lagi?

Sungguh, dia memaafkan. Jadi Mycroft menggeleng, berucap, hentikan, dia tidak sanggup melihat sang adik diliputi duka akibat penyesalan, di balik wajah tenangnya, emosi Mycroft bergejolak hebat. Dia tidak pernah tahu cara menyalurkan perasaan, jadi saat sadar matanya sendiri berkaca-kaca, dengan bibir yang terus membentuk kurva, semuanya terasa aneh, asing, membuatnya heran.

Sherlock ada di hadapnya, menatapnya bukan dengan raut kesal yang begitu langka, tapi penuh penyesalan yang diliputi kerinduan, seakan--ini bukan adiknya? Pikiran itu membuat badannya kembali gemetar, lagi-lagi Mycroft takut ditampar kenyataan bahwa Sherlock hanyalah sebuah ilusi hingga bisa berekspresi sedemikian rupa.

Dilanda ketakutan, maka, maka, secara spontan, dia coba merengkuh Sherlock ke dalam pelukan. Suatu hal yang terasa mustahil dulu dia lalukan. Lalu--

Ini nyata.

Adiknya ada. Dia bisa merasakan kecanggungan Sherlock yang mendadak direngkuh ke dalam pelukan, memberi Mycroft kelegaan tak terkira. 

Kala merasakan ada tangan yang melingkar mencapai punggungnya, Mycroft tertegun. Sherlock, adiknya, adik kecilnya yang berharga, membalas pelukannya. Mycroft menarik napas dalam, diam, menikmati kehangatan, merasakan eksistensi adik kecilnya yang begitu dia rindukan. Rasanya, ini kali pertama mereka berpelukan, kan? Aneh, tapi nyaman. 

Tidak pernah dia tahu bahwa pelukan membuatnya segini nyaman, segala penyesalan di belakang menguap, meringankan dada, dan gemetarnya mereda. Mengetahui fakta bahwa segalanya nyata, bukan ilusi semata, Mycroft lagi-lagi diliputi bahagia. 

Dia biarkan untuk kali ini saja mereka bersikap tidak biasa, menyalurkan kasih dan kerinduan sebagaimana normalnya. 

Kali ini saja, biarkan Mycroft memeluk adik kecilnya.

Tolong.

Kecanggungan semakin kental terasa saat keduanya melepas pelukan, Mycroft masih kehilangan kata, tapi, sangat ingin dia jujur pada sang adik bahwa, "Sherly, adikku, aku menyayangimu. Merindukanmu." Tapi mulutnya terkunci rapat. Dia bukannya gengsi, tapi tidak tahu cara berekspresi.

Beruntungnya, saat menatap ekspresi lembut Sherlock kepadanya, menatapnya tepat di mata, Mycroft tahu bahwa tak perlu ada kata untuk mengungkapnya. Dia paham, bahwa Sherlock mengerti perasaan yang tidak terucap itu dalam sekejap saja, Sherlock memahaminya, tentang fakta bahwa ucapan sentimental bukanlah sesuatu yang bisa Mycroft tata. Dan dia lega. 

Jadi Mycroft memilih bertanya, "Kapan kau akan menemui mereka?"

Mereka, dua orang berjasa yang mengubah adiknya menjadi lebih perasa--hal yang tidak pernah berhasil Mycroft lakukan--pantas mengetahui fakta bahwa Sherlock masih hidup secepatnya. Keduanya adalah eksistensi yang menganggap adik kecilnya--yang awalnya begitu kekanakan--berharga, menerima segala sikap aneh, abstrak, bahkan tingkah kurang ajarnya dan masih mempedulikannya. 

Sherlock menatap jendela, "Secepatnya. Tepat setelah semua ini selesai." Ada raut kerinduan di sana, membuat Mycroft sadar sang adik pun sama tersiksa. Mycroft mengangguk kecil, dan hening. Kecanggungan dari tindakan spontan tadi masih tersisa membuat keduanya mati kutu karena tidak tahu harus berbuat apa. Menjadi saudara yang saling mencurahkan perasaan benar-benar bukan mereka, jadi Mycroft mendesah, napas Sherlock pun terhela, keduanya benar-benar kehilangan kata.

"Istirahatlah dulu, Sherly." Ucap Mycroft pada akhirnya. 

"Rasanya aneh melihatmu seperhatian ini, Mycky." Sherlock tertawa kecil, tawa canggung yang menular, membuat hati Mycroft sedikit menghangat karena suasana semacam ini begitu langka. Dia tatap Sherlock lagi dalam kelembutan setelah tawa itu reda, Sherlock lanjut bicara, "Kau juga, Mycky, kantung matamu semakin besar saja."

Mycroft mendengus karenanya. Bagaimana mungkin dia istirahat dengan kasus Balmoral di hadapan? Tapi toh, dia mengangguk saja. Saat Sherlock pamit undur diri dan berbalik, Mycroft memukul pundaknya pelan dengan punggung tangan, membuat Sherlock menoleh heran, "Aku benar-benar tidak masalah, Sherly, jadi berhentilah tenggelam dalam rasa bersalah." 

Sherlock tertegun sejenak, yang tidak begitu Mycroft pedulikan karena dia langsung kembali menuju meja kerja. Sudah cukup hari ini dia bersikap tidak biasa. Hanya saja, Kontak fisik baru mereka membuatnya merasakan kedekatan yang baru, Mycroft merasa ... dia suka memukul pundak sang adik dengan punggung tangan, dia suka pukulan kecil sang adik dengan kepalan, maka, saat melihat sang adik menyelesaikan tugas untuk menyelamatkan Sebastian Moran, dia tepuk lagi pundak sang adik kesayangan dengan gerakan serupa seraya memberi pujian, "Kerja bagus, Sherly." Ucapnya dengan tatapan penuh kebanggaan.

Sherlock sesaat heran, sebelum tersenyum kecil, lalu berucap, "Maaf Mycky, bisa kuserahkan sisanya padamu?" 

Ucapan itu mengejutkannya. Sherlock mengandalkannya. Adik kecilnya mengandalkannya. Fakta itu membuat bibir Mycroft lagi-lagi membentuk kurva.

"Tentu. Cepatlah pergi." Sherlock tersenyum senang, berterima kasih, lalu pergi dengan cepat menuju tempat yang Mycroft dapat terka ke mana.

Adik kecilnya, yang diam-diam selalu dia pedulikan, dia lindungi dalam diam, sekarang sudah dewasa, Sherlock yang begitu kekanakan, sekarang sudah tumbuh dengan begitu membanggakan, kembali hidup dengan hasil yang memuaskan karena sejauh yang Mycroft tahu, Sherlock berhasil menepati segala janji yang dia beri, pada Louis--tentang keselamatan William, kepada John, tentang menjaga diri dan tidak mati. Maka, saat Sherlock membelakanginya, berlari cepat menuju tempat tujuan, dia lepas kepergiaan sang adik dengan tatapan lembut penuh kebanggaan dan harapan.

Harapan bahwa, mungkin saja, setelah ini, Sherlock bisa menjalani hidup bebas sesuai keinginannya, seperti yang selama ini Mycroft harapkan. Karena sejatinya keinginan Mycroft masih sama, dia hanya ingin sang adik hidup tanpa kekang, dalam kebebasan yang membuat Mycroft memilih menanggung kewajiban keluarga dalam diam sebagai pilihan. Selama Sherlock bahagia, itu setara. Karena bagaimanapun, Sherlock Holmes, Sherly, baik dulu maupun sekarang, adalah adik kecilnya yang begitu berharga.

Notes:

1. Untuk masalah tengkorak, itu keinginan saya saja, karena Sherlock sendiri gak pernah melepas jadi kepikirannya ada sesuatu sentimentil di baliknya.

2. Sebenarnya untuk tengkorak kepala--bukan cincin--itu diambil dari referensi BBC. Hm yang nonton Sherlock Holmes versi BBC mungkin tahu dua hal lagi yang saya ambil dari sana.

3. Untuk penamaan Mycky kepada tengkorak itu juga hanya kehendak saya.

4. Saya nulis ini karena sedih banyak yang gak menangkap bonding Holmes kyoudai ini jadi ... ini kebikin. Mungkin belum memuaskan, tapi hanya sebatas ini kemampuan saya.

5. Saya menemukan plot hole yang tidak sesuai di versi Albert-Louis, jadi kalau kalian menemukannya juga di sini, maafkan saya?

6. Bolehkah saya tahu perasaan kalian setelah membacanya? Karena saya penasaran.

7. Kemungkinan, Kak Sen mau bikin versi Sherlocknya, kayak versi Louis dalam fanfic Albert yang udah ada di user Absen5. Jadi tunggu saja?

Thanks for reading!