Work Text:
Setelah ditinggalkan seorang diri, Louis berhenti memasak--setidaknya untuk orang lain. Seluruh urusan dapur dia serahkan kepada Jack karena selain disibukkan akan pekerjaan dan misi, absennya dua sosok yang ingin dia layani membuat memasak terasa tidak sama lagi.
Louis memasak untuk kakak, terlepas dari kewajiban, melihat raut kebahagiaan saudaranya saat menyantap masakan adalah sebuah cara bagi Louis untuk meyakinkan diri, bahwa dia bisa berguna, dengan memberi sedikit kebahagiaan dalam bentuk makanan.
Karenanya dia sering memikirkan jenis masakan yang tepat, misalnya kudapan yang sesuai dengan merk anggur merah Albert, atau makanan apa yang sesuai dengan kondisi William, demi melihat senyum yang terulas--tidak jarang pujian yang selalu Louis terima dengan senyuman.
Kedua kakaknya adalah alasan Louis bersungguh-sungguh untuk memasak, karena, dia lebih dari sadar keduanya melewati berbagai tekanan dan rasa sakit. Louis pun memilih sedikit meringankan. Maka setelah ditinggalkan, dia tidak lagi memiliki alasan.
"Setelah keduanya kembali, kau ingin apa?"
"Aku ingin menghajar mereka," jawab Louis sembari menutup berkas dokumennya. Sherlock, yang seenaknya saja masuk ke ruangan, memberi sorot geli akan jawaban Louis.
"Tidak kusangka jawabanmu seperti itu," jawabnya, tampak berpikir sejenak, lalu melanjutkan, "tapi, aku yakin kedua kakakmu akan menerimanya dengan lapang dada, maksudku, saat masih tinggal dengannya, Liam setiap hari berbicara tentangmu dan Albert, serta penyesalannya juga. Aku sampai seperti mengenal kalian. Jadi, setelah yang kau hadapi, memberi mereka sedikit hajaran tidak masalah. Aku juga mengharapkannya dari Myckie tapi dia hanya terdiam."
Dada Louis sedikit sesak mendengarnya, sedikit banyak, dia paham perasaan Mycroft. Dia menunduk, bohong kalau Louis tidak ingin menghajar mereka sedikitpun, tapi dia juga paham akan kesakitan keduanya, serta harapan mereka, jadi rasanya pikiran itu hanya jadi wacana. Terlebih dia masih sangat menyayangi kedua kakaknya, rasanya mustahil dia tega memukul dua sosok terpenting di hidupnya itu. Lagi, Louis ... merindukan mereka.
Louis rindu ekspresi senang kedua kakaknya setiap menyantap, Louis rindu pujian-pujian yang tidak jarang terlontar, Louis rindu dipusingkan akan kebimbangan 'Aku ingin memasak apa hari ini agar kakak senang?' Louis rindu kebersamaan mereka. Bertiga, atau bersama yang lain dengan berbagai kericuhan, di meja makan. Louis rindu.
"Aku ingin kembali memasak," ucapnya pelan seraya mendongak, menatap Sherlock tepat di mata. Iya, dia ingin memasak, dia ingin momen hangat di masa lalu tercipta kembali. "Karena sejak ditinggalkan, aku sudah kehilangan alasan untuk melakukannya, jadi aku ingin melakukannya lagi."
Tatapan Sherlock melembut, "Aku tahu kau tidak ingin dijelaskan soal Liam karena ingin mendengar segalanya dari kakakmu, tapi dia sangat merindukan makanan buatanmu, tidak jarang memujinya hingga aku penasaran ingin mencoba."
Louis tersenyum kecil mengetahui fakta bahwa sang kakak merindukannya. Kemudian, sebuah rencana mendadak tercipta. "Holmes-san, aku ingin mengundangmu makan siang bersama."
"Eh?"
"Sebagai bentuk bentuk terima kasih karena menyelamatkan kakak." Bagaimana mungkin Louis hanya berterima kasih dalam ucapan dan senyuman semata? "Kau bisa mengajak teman-temanmu di Baker Street juga."
"Kau yang memasak?"
Louis mengangguk. "Tapi jika kau sudah ada rencana, tidak masalah ditolak."
"Bagaimana mungkin kutolak? Sudah kubilang kan aku penasaran dengan rasa makanan yang selalu disinggung Liam! Beneran bisa kuajak juga teman-temanku?"
"Tentu."
Sherlock mengiyakan dengan semangat. Louis sendiri mulai tenggelam memikirkan berbagai resep masakan yang cocok disajikan, hingga diinterupsi oleh tawa Sherlock. "Lucu juga."
Louis mengernyit karena gelak tawa yang mendadak itu. "Apanya?"
"Ingat tidak saat di kereta kau mati-matian menghalangiku mengundang Liam makan bersama? Sekarang justru kau yang mengundangku."
Ah, Louis ingat hari itu. Dia mengulas senyum geli, "Karena aku menganggapmu ancaman, selain itu tingkahmu terlalu tidak sopan."
Tawa Sherlock kembali terdengar singkat, sebelum bersuara kembali, "Lucu ya waktu mengubah banyak hal." Louis mengangguk mengiyakan. "Akan kunantikan acara makan bersama itu, Louis," ucapnya tulus.
Ekspresi Louis melembut. "Aku juga menantikannya."
